NovelToon NovelToon

Cipher Conquest: The Ascendancy

Episode 1: Pengkhianatan & Ingatan Ganda!

Suasana malam yang begitu sepi di lantai teratas sebuah gedung, hanya suara rintikan hujan gerimis yang sedikit terdengar.

Rintik hujan membasahi wajah-wajah yang tegang, seolah-olah alam pun ikut berduka atas tragedi kemanusiaan yang akan terjadi.

Kevin berdiri di tengah lingkaran musuh, sosok fenomenal yang kehadirannya selalu menimbulkan kegemparan di kalangan dunia cyber.

Kevin: "Apa kau dapat menjelaskan kepadaku alasannya..?"

Albert: "Sebagai hacker nomer 1 di dunia, bounty untuk kepalamu sangat tinggi. Jangankan aku, bahkan sebuah negara maju sekalipun akan tergiur untuk membunuh demi kepalamu."

Kevin: "Aku selalu memperlakukanmu dengan baik, hanya demi uang apa semua ini layak?"

Albert: "Di hadapan uang yang begitu melimpah, persaudaraan kandung sekalipun tidak ada artinya bagiku."

...*Dor..*...

Suara tembakan Albert menembus paha kanan Kevin, membuatnya jatuh ke posisi jongkok dengan satu lututnya menempel tanah.

Albert: "Tembak dia.." ucapnya kepada para bawahannya sembari memalingkan badan.

Kevin: "Albert!!! Bajingan kau.." teriaknya dengan posisi tangan menggenggam pistol, mencoba mengarahkannya, hendak menembak Albert.

...*Dor.. Dor.. Dor..*...

Belum sempat Kevin menarik pelatuknya, serangan peluru bertubi-tubi dari para anak buah Albert telah menembus dan melubangi tubuhnya.

Albert: "Kematianmu memberikan manfaat yang jauh lebih besar padaku. Lagipula, tidak akan ada kedamaian jika terdapat dua harimau dalam satu gunung yang sama." ucap Albert dengan senyuman sinis.

...****************...

Di sebuah ruangan gelap berantakan, Kevin tiba-tiba terbangun dengan nafas terengah-engah.

"Huh.. Huh.. Huh.. Apakah semua itu hanya mimpi?"

Ucap Kevin sembari mengusap keringat yang mengucur di dahinya.

"Dimana ini..?? Kenapa tempat ini gelap dan udara disini sangat pengap.."

Setelah mengamati keadaan sekitarnya, samar-samar Kevin melihat sebuah ponsel yang tergeletak tidak jauh dari tubuhnya, ia lekas mengambil ponsel itu untuk menerangi sekitarnya.

"Dimana aku? Dan tubuh ini? Apa yang terjadi?" ucap Kevin dengan penuh kebingungan.

Setelah beberapa saat mengamati keadaan di sekitarnya, ia merasakan kepalanya sangat sakit dan beberapa ingatan yang bukan miliknya seolah memaksa masuk kedalam otaknya.

"Aaahhh.. Sakit sekali.. Aaahhh..."

Suara erangan Kevin menggambarkan tentang rasa sakit yang luar biasa.

Tak kuasa menahan sakit di kepalanya, ia lantas tergeletak tidak sadarkan diri.

...****************...

Beberapa jam kemudian Kevin kembali terbangun dan kini rasa sakit di kepalanya telah menghilang sepenuhnya.

"Sepertinya apa yang telah ku alami bukanlah sebuah mimpi, setelah di tembak mati aku malah hidup kembali di tubuh yang berbeda.."

Dean adalah nama pemuda ini, seorang pengangguran yang terlilit banyak hutang berusia 21 tahun dengan latar belakang keluarga sederhana.

Di tengah keputusasaannya, ia masih mencoba untuk menyelesaikan masalah-masalah hutang yang tengah menghimpitnya.

Namun di saat-saat terakhir mental dan kejiwaannya seolah tak kuasa membendung lagi apa yang ia rasakan, hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan meminum berbagai macam campuran pil.

Setelah overdosis, jantungnya seketika berhenti berdetak, tapi entah kenapa beberapa menit kemudian jantungnya berdetak kembali, dan saat itulah Kevin terbangun di tubuh ini.

*NB: Kevin dan Dean meninggal di saat yang bersamaan.

Kevin yang saat ini telah hidup kembali di tubuh Dean, tampak mengambil sepucuk surat wasiat yang di tulis Dean sebelum ia meminum pil.

................

...Ayah.. Ibu.. Maafkan anakmu.. Aku sungguh tak berbakti karena lebih memilih jalan ini.....

...Selama ini aku telah membohongi kalian, berpura-pura belajar di perguruan tinggi, berpura-pura bekerja di perusahaan.....

...Dan aku terus hidup dalam kebohongan demi kebohongan.....

...Demi terlihat mengesankan di hadapan seluruh keluarga, aku bahkan tak ragu untuk mengambil sejumlah uang pinjaman.....

...Bunga yang terlalu tinggi membuatku meminjam uang di tempat lainnya demi membayar hutangku di tempat awal, dan ceritanya terus menerus berputar di situ yang kian hari membuat nominal hutangku kian membengkak, hingga akhirnya membuatku tak mampu lagi membayar.....

...Paman dan istri barunya tak lain hanyalah orang yang tak tau malu, mereka bersikap baik hanya di depan keluarga.....

...Sudah lama mereka mengetahui kebenaran ceritaku, tapi mereka malah memerasku dengan ancaman jika aku tak memberi apa yang mereka minta, mereka akan membeberkan semua kebohonganku pada keluarga agar dapat mempermalukan kalian.....

...Semua yang kumiliki hanyalah kepalsuan, aku lelah berlari dari mereka, aku lelah di ancam dan di terror oleh para rentenir itu.....

...Aku muak dengan semuanya, aku muak dengan diriku sendiri, aku benar-benar sudah tidak tahan.....

...Aku merasa tak tega jika harus melihat kesedihan di wajah kalian, aku sayang kalian.. Ayah.. Ibu.. Maafkan anakmu yang durhaka ini ~ Dean.....

................

Di satu sisi Kevin mengingat tentang kehidupan masalalunya sebagai seorang hacker nomer 1 dunia, sedangkan di sisi lain Kevin mewarisi seluruh ingatan Dean.

Semua hal yang terjadi di kehidupan Dean sebelumnya seolah dapat di ingat dengan jelas oleh Kevin.

Kevin yang tampak menunjukkan ekspresi kemarahan bercampur kesedihan yang mendalam, dengan segera merobek kertas itu.

"Dean.. Kau telah memberiku kehidupan sekali lagi, sebagai rasa terima kasihku.. Aku akan memikul seluruh tanggung jawabmu, dan menyelesaikan semuanya hingga tak menyisakan suatu apapun.." gumam Kevin dalam hatinya.

Episode 2: Cipher

Dengan banyaknya beban yang seolah menumpuk di kepalanya, Kevin yang saat ini telah hidup kembali di tubuh Dean mencoba untuk melihat-lihat situasi di sekitarnya.

Nampak gambaran jelas di depan matanya, suasana malam yang redup di ruangan yang berantakan.

"Bagaimana bisa ada orang yang menjalani kehidupan di tempat sekotor ini..?? Melihatnya saja sudah membuatku merasakan perasaan tidak nyaman.." gumamnya melihat tumpukan sampah dan buku berserakan di lantai ruangan.

Tanpa ragu Kevin mulai membersihkan kamar tersebut, memungut sampah di setiap ruangan, memindahkan barang-barang yang berserakan dan membersihkan debu yang menempel di setiap sudut ruangan.

Sembari membersihkan ruangan, Kevin seolah terombang-ambing dalam kekacauan lautan pikirannya yang penuh dengan berbagai macam pikiran.

Tingkat kesulitan masalahnya seolah semakin berat di karenakan saat ini ia hidup dengan penuh keterbatasan.

Kevin memahami bahwa dia kini terjebak dalam dualitas ingatan yang membingungkan dengan memori yang sama-sama kuat.

Di satu sisi dia terobsesi dengan ambisi balas dendamnya, di sisi lain dia harus menjalani kehidupannya sebagai Dean yang dipenuhi dengan beban tanggung jawab.

Setelah menghabiskan waktu semalaman untuk membersihkan setiap ruangan, tempat itu kini telah sepenuhnya terlihat berbeda.

Dengan penataan yang cukup rapi, tempat itu seolah menciptakan atmosfer baru yang menyegarkan dan berbeda dari pemandangan sebelumnya.

...(Kamar kost Dean ~ Kota Malang)...

*NB: Mulai sekarang author akan menyebut Kevin sebagai Dean!

Setelah mendapatkan beberapa ide, tanpa berlama-lama Dean mulai mengambil tindakan.

Dia memahami bahwa hal pertama yang amat ia butuhkan adalah mencari uang untuk membeli beberapa peralatan sederhana yang dapat menunjang aktifitasnya sebagai seorang hacker.

Dipenuhi oleh gambaran ingatan yang menyakitkan tentang perlakuan dari paman dan istri barunya, Dean berencana menargetkan pamannya sebagai langkah pertama dalam aksi balas dendamnya.

Dengan kecerdasan dan keahlian hacking yang luar biasa, Dean memodifikasi sistem ponselnya untuk membuat virus dan mengirimkan virus tersebut ke ponsel pamannya.

Virus itu dirancang untuk meretas dan mengambil alih kontrol ponsel pamannya dari jarak jauh.

Setelah berhasil menginfeksi ponsel pamannya, Dean mulai meremotnya.

*Bip.. Bip.. Bip..* Suara notifikasi ponsel.

"Sekarang waktunya untuk membuat sedikit perhitungan.." gumamnya dalam hati.

Setelah memiliki akses penuh di ponsel pamannya, dia mulai memodifikasi sistem ponsel pamannya, mengakses kamera ponsel dan memanipulasi output tangkapan gambar dari kamera ponsel itu, dan melakukan beberapa hal lainnya dengan sangat teliti.

Setiap langkahnya dijalankan dengan penuh ketelitian, memastikan bahwa semua tindakannya tidak terdeteksi dan tidak meninggalkan bekas yang bisa dilacak oleh siapapun.

Tanpa kendala sedikitpun, Dean mulai menguraikan kode keamanan dan mengakses rekening bank pamannya.

"Mengacaukan kode keamanan bank..?? Ini bagaikan permainan anak-anak bagiku.." gumamnya dengan penuh percaya diri.

Dean mulai menguras habis saldo pamannya, melakukan pembelian crypto guna menutupi jejak pelarian uang, lalu memanipulasi gambar yang dihasilkan oleh kamera ponsel pamannya, membuatnya tampak seolah-olah pamannya sendiri yang sedang melakukan aktivitas pembelian aset crypto tersebut.

"Bersih dan tanpa jejak.. Semuanya akan terlihat seperti tindakan pamanku sendiri.." gumamnya dengan senyuman kecil.

Sebagai seorang hacker jenius, Dean tahu bahwa dia telah berhasil menjatuhkan pamannya dengan hanya jentikan beberapa jarinya saja.

Di saat yang sama, pamannya mungkin bahkan belum menyadari tentang apa yang sedang terjadi.

Setelah berhasil menguras saldo pamannya dengan keberhasilan yang gemilang, Dean segera mengalihkan fokusnya ke tahap berikutnya dari rencananya.

Dengan dana yang baru saja diperolehnya, dia memutuskan untuk menginvestasikan sebagian uangnya untuk membeli peralatan hacking dasar yang memadai.

"Pertama-tama, aku butuh alat-alat yang tepat untuk menunjang skillku.."

Dia mulai melakukan pencarian dengan ponselnya untuk membeli perangkat-perangkat yang dibutuhkannya.

Dia memilih dengan hati-hati, memastikan bahwa setiap barang yang ia beli dapat berguna untuk menunjang aktifitas hackingnya secara maksimal.

"Laptop yang handal, modem dengan koneksi yang stabil, dan beberapa alat tambahan untuk memperkuat keamanan.. Semua harus sempurna.."

Setelah menelusuri beberapa toko online dan menentukan berbagai pilihan barang, Dean akhirnya menyelesaikan pembelian barang-barang tersebut.

Dia mengatur pengiriman barang dengan cepat, tidak sabar ingin segera memulai aktifitasnya kembali sebagai seorang hacker dan menapaki langkah awal balas dendamnya.

"Meskipun tidak sebaik peralatan yang kumiliki di kehidupan sebelumnya, tapi beberapa benda ini lumayan membantuku saat ini.."

Dengan senyuman puas, barang-barang yang dipesannya satu persatu mulai berdatangan.

Ia merapikan dan meletakkan berbagai macam barang itu di kamar kostnya yang sempit.

"Dengan begini aku bisa mulai mencari beberapa informasi yang tidak ku ketahui sebelumnya.." gumam Dean seusai mengatur laptop, modem, dan beberapa peralatan barunya.

...----------------...

...-Top 10 hacker yang di ketahui saat ini-...

K3V_0N3 \= Kevin

V01D \= ?

Aldeath \= Albert

Ch@0t1cC0d3 \= ?

H4ck_M4tt3r \= ?

X3N0N \= ?

$p3ctr0 \= ?

Virus-Daddy \= ?

Phy5c4l_ \= ?

H3ll0W0rld! \= ?

...----------------...

"Sebaiknya aku menggunakan inisial baru dalam setiap aksiku kali ini guna menghindari kesalahan yang sama di masalalu.."

"Aku juga harus mencari beberapa informasi yang berguna mengenai Albert dan semua orang yang terlibat dengannya.." Dean menghela nafas dalam-dalam sembari merenung sejenak.

"Kali ini harus memikirkan nama yang bagus.." lanjutnya, berpikir sambil menggaruk kepalanya.

Dia memutuskan untuk menggunakan inisial baru sebagai langkah keamanan tambahan dalam menjalankan misinya.

Setelah beberapa saat berpikir, dia menemukan kombinasi inisial yang sempurna yang akan melindunginya dari kecurigaan siapa pun.

"Hmm.. "Cipher" Tidak terlalu mencolok tapi cukup kuat" pikir Dean.

Dalam pemikiran Dean, kata "Cipher" dapat diartikan sebagai singkatan dari:

"Cyber Intelligence Professional for Hacking, Encryption, and Reconnaissance".

Singkatan ini mencerminkan keahlian Dean dalam bidang intelejen cyber, hacking, enkripsi, dan rekognisi.

Sebagai seorang hacker, Dean memiliki pengetahuan luas tentang keamanan dan enkripsi data serta kemampuan untuk melakukan pengintaian cyber.

"Albert.. Aku kembali!!!" ucapnya dengan penuh semangat.

...****************...

Dean mulai menggali informasi seputar kematiannya yang disebabkan oleh pengkhianatan Albert.

Di tengah pencariannya, ia menemukan fakta mengejutkan bahwa Albert tidak bertindak sendirian dalam aksi pengkhianatannya tersebut.

Terdapat beberapa tokoh besar dunia yang namanya tercatut dalam informasi di layar laptop Dean.

Pengkhianatan Albert merupakan buah dari kolaborasi antara tokoh yang berpengaruh dalam tatanan pemerintahan dunia di Amerika, dengan salah satu pemimpin dari sepuluh mafia penjaga dunia bawah.

Julukan "Sepuluh mafia penjaga dunia bawah" terdiri dari sepuluh kelompok mafia dari berbagai negara yang terkenal kejam dan memiliki pengaruh paling besar di dunia bawah.

"Diam-diam ada kekuatan sebesar ini di balik kematianku.." gumam Dean sambil memikirkan seberapa banyak usaha yang ia perlukan untuk membalas dendam pada kekuatan-kekuatan sebesar itu.

Fakta ini membuat segala situasinya menjadi lebih rumit bagi Dean.

Tidak hanya menghadapi Albert, tetapi juga ada campur tangan keterlibatan pihak pemerintahan dunia dan salah satu dari sepuluh mafia penjaga dunia bawah yang bisa di bilang memiliki sumber daya, koneksi dan kekuatan yang tak terbatas.

"Dengan sepuluh mafia penjaga dunia bawah di belakangnya, Albert menjadi jauh lebih berbahaya dari yang aku bayangkan.." pikir Dean sambil menggigit bibir bawahnya dengan penuh ketegangan.

Berbekal informasi baru ini, Dean merasa bahwa ia memiliki pemahaman yang lebih baik tentang situasinya.

Hal ini cukup berbeda dari kehidupannya yang sebelumnya, di karenakan pada kehidupan Dean sebelumnya ia tidak terlalu ikut campur terhadap urusan para mafia.

Langkah selanjutnya adalah mematangkan strategi untuk menghadapi Albert, sambil merenungkan rencana terbaik dalam mengatasi campur tangan salah satu dari sepuluh mafia penjaga.

Episode 3: Menciptakan Identitas

"Ini akan menjadi perjalanan yang berat, tapi aku harus mempersiapkan diri sepenuhnya.." ucap Dean.

Dean mulai merencanakan setiap langkahnya dengan cermat, dia siap menapaki jalan yang sulit demi mencapai tujuannya.

Langkah awal yang ia ambil adalah merancang strategi untuk menghasilkan uang secepat mungkin.

Meskipun harus mempergunakan cara-cara yang tidak wajar sekalipun, ambisi balas dendamnya sangat mempengaruhi pemikirannya.

Dean memulai aksinya dengan meretas sistem keuangan gelap dan mencuri uang para pejabat korup di berbagai negara.

Hanya dalam hitungan beberapa minggu, banyak korban yang keuangannya telah di sikat habis oleh Dean.

Setelah berhasil mengumpulkan lebih dari 500 milyar rupiah dari kegiatan hackingnya, Dean kini berusaha memikirkan langkah selanjutnya.

Rencananya adalah menciptakan sebuah identitas baru yang berfungsi untuk menyamarkan identitas aslinya.

Hal ini merupakan tindakan antisipasi untuk menghindari hal-hal buruk yang di akibatkan dari pelacakan identitas.

Belajar dari pengalaman di kehidupan sebelumnya, Dean ingin mengambil setiap tindakan dengan rencana yang terstruktur dan matang.

"Sebagai hacker nomer 1 di dunia ini, aku masih bisa terjatuh dalam jurang keputusasaan di kehidupanku sebelumnya.. Kehidupan kali ini belum tentu bisa terulang kembali jika nantinya aku menghadapi kematian lagi.. Aku harus menjaga nyawa sebaik mungkin kali ini.." gumam Dean.

Dean memulai langkahnya dengan tujuan memperkuat finansial dan latar belakangnya.

Ia mencari banyak informasi terkait perusahaan yang sedang terombang-ambing di tepi jurang kebangkrutan.

Dengan teliti ia mencatat setiap langkah, menggali lebih dalam tentang sejarah, kepemilikan, dan masalah yang sedang di hadapi oleh perusahaan-perusahaan tersebut.

Setelah memilah-milah dari beberapa lusin perusahaan yang telah ia data, Dean akhirnya menemukan satu perusahaan yang menurutnya paling cocok untuk di ikut sertakan dalam rencananya.

"Perusahaan ini sepertinya yang paling memenuhi kriteriaku saat ini.. Latar belakang yang lumayan, sejarah perusahaan yang panjang dan masalah penciptaan identitas sangat cocok untuk mendukung rencanaku.." ucap Dean dengan senyum liciknya di depan layar laptop.

Perusahaan tersebut bernama SM Group, sebuah perusahaan dibidang teknologi yang berlokasi di tengah kota Surabaya.

SM Group dikenal karena fokusnya pada pembuatan dan penjualan ponsel lokal dengan harga terjangkau.

SM Group memiliki sejarah yang panjang, berdiri sejak tahun 2006 dan telah meluncurkan berbagai varian ponsel lokal dengan harga yang terjangkau.

Namun kejayaannya mulai tergeser seiring dengan melesatnya perkembangan rivalnya, yaitu Hypo Tech yang merupakan perusahaan sejenis dan berbasis di kota yang sama.

Hypo Tech telah menjadi pesaing utama SM Group dalam menyajikan inovasi-inovasi terbaru di bidang teknologi dengan harga yang terjangkau.

...****************...

Setelah melakukan beberapa penyelidikan, Dean menemukan informasi yang rinci tentang keluarga Hartono yang berada di balik berdirinya perusahaan SM Group.

Berbekal informasi lengkap yang telah diperolehnya, Dean mencoba menghubungi CEO perusahaan SM Group, Rudy Hartono, melalui nomor ponsel pribadinya.

...*Tlililit.. Tlililit..* (Bunyi telepon masuk)...

"Halo. Ini siapa?" ucap Rudy.

"Aku bukan siapa-siapa.. Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku dapat membantumu keluar dari semua permasalahanmu.." jawab Dean dengan misterius.

"Apa maksud Anda? Saya tidak tau dari mana Anda mendapatkan nomer telepon Saya, tapi jika Anda berniat untuk membuang waktu Sa.."

Belum sempat Rudy menyelesaikan apa yang ia bicarakan, Dean segera memotong pembicaraan.

"Pertimbangkan dengan bijak.. Ini terkait perusahaanmu, masalah hutang-hutangmu, dan keberlangsungan hidup keluargamu di masa depan.."

"Siapa Anda sebenarnya?"

"Aku akan mengatur tempat pertemuan kita besok dan aku akan memberikan penawaran yang menarik untukmu.."

...*Tuut... Tuut..* (Bunyi telepon ditutup)...

Belum sempat Rudy menjawab apapun, sambungan telepon langsung di matikan oleh Dean.

Tak berselang lama, Rudy segera menerima beberapa pesan dokumen di Whatsapp ponselnya.

Pesan dokumen tersebut berisi detail tentang data perusahaan, masalah keuangan SM Group, serta catatan keuangan pribadi dan hutang Rudy Hartono.

Selain itu terdapat juga beberapa rincian data lainnya yang berkenaan dengan keluarga Rudy Hartono dan masalah keuangan mereka.

Setelah menerima pesan-pesan dokumen tersebut, Rudy menyadari bahwa informasi yang dikirimkan oleh orang misterius ini sangat rinci dan sensitif.

Ia merasa terkejut dan sedikit khawatir tentang bagaimana informasi tersebut bisa dimiliki oleh orang lain dengan begitu akurat.

Rudy merasa sangat penasaran untuk mengetahui lebih lanjut tentang siapa yang mengirimkan informasi tersebut dan apa motif di baliknya.

"Orang ini! Siapa dia sebenarnya dan apa maksud dari tindakannya?" gumam Rudy dengan penuh rasa penasaran.

...****************...

Dean berpikir bahwa dalam waktu dekat, besar kemungkinan ia akan segera meninggalkan kota Malang.

Demi mengantisipasi beberapa hal, Dean berencana untuk menyelesaikan terlebih dahulu masalah kostnya.

Dean melangkah menuju rumah Ibu Kost yang terletak tidak jauh dari kamar kostnya, ia datang dengan niatan untuk melunasi pembayaran kost yang telah beberapa bulan menunggak.

Dean: "Selamat pagi Bu.. Aku ingin membicarakan tentang pembayaran kost.."

Ibu Kost (ekspresi marah terlihat sangat jelas pada raut wajahnya): "Bajingan tengik! Ku kira kau sudah mati membusuk."

Dean: "Aku minta maaf atas keterlambatannya bu. Ini uang untuk membayar 4 bulan kemarin."

Ibu Kost (langsung merebut uang di tangan Dean): "Nah gitu dong. Ini baru namanya saling pengertian."

Dean: "Aku berencana untuk tinggal lebih lama disini, jadi ingin memperpanjang sewa kostnya untuk lima tahun kedepan dengan sistem pembayaran di muka.."

Ibu Kost (matanya berbinar): "Lima tahun? Pembayaran di muka?"

Dean: "Jadi apakah bisa.. Bu?"

Ibu Kost (sambil tersenyum lebar): "Ya kalau pembayarannya di depan, apa yang tidak bisa? Ehm, karena lima tahun aku kasih potongan 5 bulan, jadi bayar 55 juta saja."

Dean: "Baik bu, aku akan transfer untuk pembayarannya."

Ibu Kost: "Oke.. Oke.. Nanti.. Bla..bla..bla.. (Ceramahnya terlalu panjang untuk di tulis)"

Setelah urusan pembayaran kostnya selesai, Dean berpamitan pada Ibu Kost seraya pergi meninggalkan rumah itu.

...****************...

Setelah beberapa persiapan, Dean menyewa jasa taksi online menuju stasiun untuk menaiki kereta jurusan Surabaya.

Sesampainya di Surabaya, Dean bergegas menuju apartemen yang telah ia sewa secara online di hari-hari sebelumnya.

Malam terlewati begitu cepat, keesokan harinya Dean kembali mengirimkan pesan pada Rudy yang berisi:

^^^(Datanglah ke Coffee Shop di daerah *****, duduklah di kursi dekat jendela dan aku akan menemuimu..) ^^^

Pesan singkat itu membuat pikiran Rudy kacau, berbagai pertanyaan seolah berputar-putar di kepalanya.

Di satu sisi pikiran Rudy di penuhi perasaan khawatir, tapi disisi lainnya ia melihat sebuah harapan dari penelepon misterius itu.

Setelah beberapa pertimbangan kecil dipikirannya, Rudy bersiap memacu mobilnya menuju lokasi yang tercantum dalam pesan tersebut.

Sesampainya di tempat itu, Rudy segera duduk di kursi kosong dekat jendela sesuai dengan isi pesan tersebut.

Sesaat kemudian seorang pemuda yang mengenakan kemeja putih menghampirinya, menarik kursi lalu duduk di depan Rudy.

Dean: "Pak Rudy, senang bisa bertatap muka denganmu.."

Ucap Dean dengan senyuman ringan sembari mengulurkan tangannya pertanda ingin menyalami Rudy.

Rudy: "Siapa sebenarnya Anda? Dan apa alasan Anda ingin menemui Saya?"

Jawab Rudy dengan penuh rasa penasaran.

Tanpa basa-basi Dean menyerahkan beberapa lembar dokumen yang berisi tentang perjanjian dan beberapa helai catatan.

Rudy yang masih merasa kebingungan bergegas membaca isi dokumen-dokumen tersebut dan mempelajarinya.

Rudy: "Ini mustahil. Saya tidak mungkin menyetujuinya."

Ucap Rudy dengan spontan.

Dean: "Aku tahu perusahaanmu sedang berada di ambang kebangkrutan.. Aku tidak berniat merampas perusahaanmu, tapi aku hanya ingin kamu meminjamkannya padaku dan mengakuiku sebagai anak harammu.."

Perkataan Dean seolah mempertegas maksud dan tujuannya, berusaha untuk meyakinkan Rudy.

Dean: "300 milyar ini ku anggap sebagai biaya sewa atas properti perusahaan dan imbalan atas jasa pengakuanmu sebagai ayahku.. Untuk setiap tahunnya aku akan memberimu 300 milyar.."

Dean menaruh kartu ATM dan secarik kertas catatan di atas meja.

Rudy: "Saya tetap tidak bisa menyetujuinya."

Dean: "Kamu tidak kehilangan apapun dan malah mendapatkan 300 milyar pertahun.. Aku hanya menginginkan posisi CEO perusahaanmu, apa kamu yakin menolak tawaranku?"

Rudy tampak kebingungan dengan situasi yang sedang ia hadapi saat ini, dia menyadari bahwa situasi perusahaannya saat ini memang sedang diambang kebangkrutan, dan nominal 300 milyar pertahun yang ditawarkan Dean dapat menjadi obat untuk mengatasi masalah keuangan pribadi dan keluarganya.

Berdasarkan perhitungan Rudy, kebangkrutan perusahaan mungkin akan terjadi dalam waktu kurang dari setahun jika perusahaan tersebut tidak mendapatkan suntikan dana modal.

Nominal uang yang di tawarkan Dean begitu tinggi baginya, bahkan jika ia bekerja tanpa libur selama setahun juga belum tentu bisa mendapatkan nominal tersebut di tengah kondisi perusahaannya saat ini.

Beberapa menit telah berjalan, Rudy tenggelam dalam pemikirannya sendiri, mempertimbangkan dan menimbang segala kemungkinan.

Rudy: "Perusahaan itu butuh modal yang besar agar tetap bisa bertahan. Meskipun Anda memiliki modal untuk memperbaiki masalah finansial perusahaan, produk perusahaan kami tetap tidak mungkin dapat bersaing dengan Hypo Tech."

Dean: "Yang kubutuhkan hanyalah posisi CEO dan pengakuan diriku sebagai anak harammu.. Selebihnya aku bisa mengatasinya sendiri.."

Perkataan Dean yang seolah penuh dengan rasa kepercayaan diri membuat Rudy tergerak.

Rudy: "Baiklah, Saya menerimanya."

Dean: "Bagus..! Aku akan memanggilmu Ayah mulai dari sekarang, dan kamu dapat memanggilku Haris.."

Rudy: "Saya akan membangun narasi dalam keluarga Saya sesuai dengan instruksi Anda. Tapi, Saya hanya dapat memberikan sebatas pengakuan dalam keluarga, bukan tempat tinggal."

Dean (tertawa): "Memang hanya itu yang kubutuhkan.."

Sesuai dengan isi dari perjanjian tersebut, kebenaran dari cerita ini hanya boleh diketahui oleh mereka berdua.

Setelah beberapa percakapan ringan terjadi diantara mereka dan perjanjian telah di sepakati bersama, Dean memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat itu.

"Latar belakang identitas ini masih tidak terlalu kuat, tapi ini sudah cukup untuk menutupi identitas utamaku sebagai Dean.." gumam Dean dalam hati.

*NB: Pada episode selanjutnya, Dean akan memainkan peran ganda sebagai Haris.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!