NovelToon NovelToon

Tepat Tujuh Belas

Bertahan [Satu]

"Maaf ya Nak Radhit jadi nunggu lama," ujar wanita paruh baya yang sedang bersiap membuka warung kecil-kecilan di muka rumahnya. Terlihat kedua tangannya masih cekatan membuka papan penutup warung dan mengaitkannya di bagian atas. Laki-laki berstelan putih abu-abu bernama Radhit itu dengan sigap ikut membantu membuka penutup sisi lainnya.

"Nggak apa-apa Bu. Wajar kalau cewek agak lama siap-siapnya," balas Radhit sambil tersenyum.

"Nah ini anaknya," pungkas Rukmi ketika putri semata wayangnya yang bernama Kamalla muncul dari dalam rumah.

Gadis berseragam putih abu-abu bernama lengkap Agni Kamalla Rembayang, atau yang lebih akrab dipanggil Malla atau Kamalla itu tersenyum kepada Ibu dan Radhit seperti pagi-pagi sebelumnya. Setelah selesai mengencangkan kuncir kuda di rambutnya, dia bergegas menyalami Ibunya untuk pamit berangkat ke sekolah begitu pula Radhit.

"Kami berangkat ya Bu. Sarapannya udah aku habisin, piringnya juga udah aku cuci. Habis buka warung, jangan lupa sarapan ya Bu," pesan Kamalla pada Ibunya.

Rukmi hanya mengangguk pelan seraya mengelus kepada putrinya itu. "Hati-hati. Nak Radhit bawa motornya jangan ngebut-ngebut ya."

"Siap Bu. Nggak akan ada yang kurang dari Kamalla," ujar Radhit sambil melirik pacarnya, Kamalla. "Senyumnya bakalan tetap sama sampai saya antar pulang nanti."

Kamalla melebarkan tatapanya ke Radhit karena malu. Rukmi hanya tersenyum mendengar ucapan Radhit barusan.

Setelah Kamalla naik ke boncengan, deru motor pun menyala dan melaju membelah dinginnya pagi. Sedangkan Rukmi masih terdiam memandangi punggung putrinya yang lambat laun hilang di ujung jalan.

Kehidupan Kamalla terbilang sederhana, apalagi sejak dia lahir sampai usianya hampir menginjak 17 tahun dia belum pernah mengenal sosok Ayahnya. Namun menurut Kamalla, memiliki Ibu dan Radhit sudah lebih dari cukup. Ibu hanya sering bercerita kalau Ayahnya adalah sosok laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Walau demikian, tetap ada tanda tanya besar terkait siapa Ayahnya dan dimana keberadaannya sekarang.

Setiap kali Kamalla menyinggung soal Ayahnya, Rukmi tidak pernah membahas terlalu jauh seolah ada rahasia yang dia simpan selama ini. Beruntungnya, Kamalla tidak sekalipun menekan Ibunya untuk berterus terang, karena menurutnya ada atau tidak adanya sosok Ayah semua itu sudah cukup karena adanya Ibu. Ditambah lagi tiga bulan belakangan ini Kamalla berpacaran dengan Radhit. Baginya Radhit bukan hanya menjadi sosok seorang pacar, namun sikap Radhit yang dewasa kadang bisa menjadi menggantikan figur Ayah serta Kakak laki-laki bagi Kamalla.

...****************...

Radhit dan Kamalla sudah sampai di parkiran sekolah dua puluh menit lebih awal sari bel masuk pelajaran pertama.

"Mulai besok sampai seminggu ke depan, aku nggak bisa antar kamu pulang dulu ya," ujar Radhit entah sudah yang ke berapa kali.

"Iya. Kamu mau latihan futsal buat kompetisi sekolah tahun ini," pungkas Kamalla seraya memberikan helm ke Radhit. "Satu lagi, kamu cuma bisa jemput aku aja 'kan? Kamu udah bilang ke aku lebih dari tiga kali."

"Abisnya aku takut kamu ngambek, terus nggak mau lagi aku antar jemput."

"Emang ngambek kok."

"Tuh 'kan."

"Sedikit," ujar Kamalla sambil menyipitkan kedua matanya dan mendekatkan ibu jarinya dengan telunjuk.

"Cuma satu minggu aja. Nggak sampai berbulan-bulan Kok. Masa gitu aja ngambek!?"

"Bercanda. Aku nggak ngambek kok," ujar Kamalla sambil tersenyum. "Lagian aku 'kan nggak pernah minta kamu buat selalu antar jemput aku. Kamu pacar aku, bukan tukang ojek."

"Kalau merangkap jadi tukang ojek juga emang boleh?"

"Boleh. Berapa tarifnya Pak Radhitya Herlambang?"

"Dua puluh ribu aja sekali jalan Neng."

Radhit tersenyum geli memandangi Kamalla.

"Sebentar ya," ujar Kamalla sambil merogoh saku bajunya. Dia mengeluarkan selembar uang dua ribu dari sakunya. "Yah, adanya dua ribu Pak."

"Dua ribu cuma cukup buat parkir aja Neng."

"Terus gimana dong Pak?"

Radhit menoleh ke kanan dan ke kiri seolah memastikan hanya ada mereka disana kemudian menunjuk pipi kanannya sendiri. Padahal jelas pada saat itu parkiran sudah mulai ramai dipenuhi para siswa yang baru datang.

"Kenapa pipinya? Sakit gigi Pak?" tanya Kamalla.

"Cium." kata Radhit agak berbisik. Kamalla spontan membelalakan kedua bola matanya.

"Mallaaa!" teriakan seorang siswi dari arah koridor kelas memecah percakapan kedua pasangan muda itu. Kamalla menoleh ke arah sumber suara kemudian melambaikan tangan ke arahnya. Disana Jenny dan Kia sudah menunggunya.

"Udah dulu ya Pak. Nanti kita lanjut lagi." Ujar Kamalla pada Radhit. Gadis menis dengan kuncir kuda itu berjalan cepat ke arah kedua sahabatnya.

Radhit mendengus kesal. "Saya anggap hutang ya!" ujarnya kemudian sambil sedikit berteriak.

"La, ada gosip baru nih. Masih anget banget baru keluar dari kukusan!" Ujar Kia. Kamalla yang baru sampai di hadapan kedua sahabatnya itu hanya mengangkat dagu ke arah Jenny. Kia terlihat bersemangat ingin menyampaikan berita yang sedang santer disekolahnya itu.

"Si monyet jadian sama Satrio," sahut Jenny dengan nada datar.

Mereka berjalan menyusuri koridor menuju ruang dua belas IPA 1 kelas mereka.

"Sekarang jangan panggil dia monyet lagi. Panggil dia Mo-Nik! Sesuai namanya," tegas Kia. "Karena sekarang dia udah punya pacar, otomatis dia bakalan jinak dan nggak akan ganggu hubungan lo dan Radhit lagi."

"Hidup nggak semulus yang lo kira Ki. Ingat, mati satu tumbuh seribu," Kata Jenny. "Radhit itu cukup populer, pasti selain si mon-"

"Monik!" sanggah Kia sebelum julukan itu kembali disebut.

"Iya Monik!" ujar Jenny akhirnya. "Selain dia, gue yakin pasti masih banyak cewek di sekolah ini yang naksir Radhit."

"Siapa? Sejauh ini yang terang-terangan rese ya cuma Monik aja."

"Itu yang lo tahu. Mungkin ada yang lain."

"Hah? Siapa emang?" Kia menghentikan langkahnya sebelum sampai ambang pintu kelas. "Jangan-jangan lo ya Jen!?"

Jenny memutar kedua bola matanya. "Yang jelas bukan Bu Damayanti!"

Kamalla hanya tersenyum mendengar perdebatan kedua sahabatnya.

"Lagian mau si Monik punya pacar atau nggak, gue nggak pernah merasa terganggu kok. Monik cuma masa lalunya Radhit, yang ada sekarang cuma gue."

Monika Adrian atau yang lebih dikenal dengan sapaan Monik--atau bisa jadi 'monyet' seperti yang Jenny katakan-- merupakan siswi kelas sebelas IPA 3. Gadis cantik itu tidak bisa dibilang saingan Kamalla, walaupun menurut Kia demikian. Dari segi fisik, Kamalla tidak kalah cantik dengan Monik. Terdapat plus dan minus di antara mereka. Kamalla punya kulit kuning langsat, mata bulat terang berwarna coklat, lesung pipit dan satu tahi lalat kecil di pelipis kirinya. Sedangkan Monik memiliki postur tubuh yang lebih tinggi sedikit dibanding Kamalla. Selain itu, soal keluarga dan keuangan Monik jauh lebih unggul dari Kamalla.

"Wow Malla! Yang kayak begini nih baru teman gue," Seru Kia seraya merangkul pundak kedua sahabatnya itu dan menggiring mereka masuk ke dalam kelas.

Selalu ada perdebatan di antara mereka bertiga. Terutama di antara kedua sahabat Kamalla. Jenny yang cenderung dingin dan mudah tersulut, sedangkan Kia rasa ingin tahunya lebih tinggi dan bawel membuat hidup Kamalla terasa lebih ramai jika bertemu mereka.

...****************...

Bel tanda istirahat pertama berbunyi sepuluh menit yang lalu, membuat deretan kelas menjadi senyap karena penghuninya sudah beralih tempat ke kantin menyisakan beberapa siswa yang asik bergosip atau sekedar bercanda di koridor.

Tepat di depan kelas sebelas IPA Satu, seorang siswi tengah duduk di beton pembatas koridor sambil menyandarkan sisi kanan tubuhnya ke tiang penyangga bangunan sekolah. Kedua manik matanya lurus ke arah beberapa siswa yang sedang bermain bola di lapangan. Sesekali dia menyipitkan kedua matanya ketika angin menerpa wajah dan memainkan anak rambut di dahinya. Sampai satu suara membuyarkan fokusnya.

"Gue salut sama kepercayaan diri lo."

Kamalla mengarahkan ekor matanya ke sumber suara barusan. Dia kenal betul dengan suara gadis itu. Tubuhnya yang semula bersandar terpaksa dia tegapkan.

Monika. Gadis berambut hitam ikal itu duduk tepat di samping Kamalla.

"Tapi ketinggian kayaknya. Saking tingginya, sampai lupa sekeliling lo," ucap Monika tanpa menatap lawan bicara di sampingnya.

"Kalau lo datang kesini cuma mau ngasih gue wejangan, lo salah sasaran. Tuh! Mimbar Kepsek kosong," pungkas Kamalla sambil menunjuk beton setinggi tiga puluh senti di ujung sana.

Kamalla memang gadis cerdas yang terbilang cukup pendiam dan tidak banyak bicara. Namun dia tahu harus melakukan apa ketika berhadapan dengan orang yang semena-mena terhadapnya, sahabatnya, kekasihnya, terutama kepada Ibunya. Dibesarkan tanpa sosok seorang Ayah membuat Kamalla justru tumbuh menjadi gadis yang kuat, yang bisa berdiri di atas kakinya sendiri.

Monika tersenyum tipis mendengar ucapan Kamalla barusan. Kini wajahnya memandang Kamalla dengan ekspresi menyebalkan.

"Selain percaya diri, gue tahu lo ini cewek pinter. Penerima beasiswa, sang juara kelas, dan pemenang di hatinya Radhit."

Kamalla memutar kedua bola matanya. "Langsung ke intinya aja, Nik. Mau lo apa sekarang?"

"Tinggalin Radhit."

"Kalau hubungan gue sama Radhit hasil dari menghancurkan hubungan lo berdua, gue pasti udah ninggalin dia dari awal."

"Lo nggak ngerti," kata Monika seraya meletakkan telapak tangan kanannya di pundak Kamalla.

Untuk kali pertama semenjak Kamalla jadian dengan Radhit, baru hari ini Monika dengan gamblang menitahnya untuk meninggalkan Radhit dan untuk kali pertama juga tangan itu berani menyentuh bagian tubuhnya.

Kamalla mengalihkan pandangannya ke lengan putih itu dengan tatapan risih. Menyadari akan hal itu, Monika dengan santai melepas sentuhannya.

Sejauh ini memang hanya Monika mantan Radhit yang secara terang-terangan berusaha menghancurkan hubungan Kamalla dan Radhit. Namun Kamalla tidak pernah sekalipun membenci Monika. Sikap dingin Kamalla kepada Monika semata-mata hanya tameng agar dia tidak dipandang sebelah mata.

"Nik, mungkin lo belum sepenuhnya bisa melepas Radhit. Tapi sekarang udah ada Satrio. Gue tahu dari Kia. Harusnya lo hargain pasangan lo."

Monika hanya tersenyum tipis. "Kamalla, lo benar-benar naif. Lo nggak tahu Radhit gimana. Lo tuh cuma-"

"Apa Nik? Cuma mikirin diri gue sendiri?" Potong Kamalla. "Terus sikap lo ke gue selama ini apa kalau bukan egois!?"

Napas Kamalla mulai tidak beraturan kali ini. Dia tidak terima mendengar ucapan Monika yang seolah menyudutkan dirinya.

"Ada apa nih?" Suara Jenny tiba-tiba memecah ketegangan. Kia yang sedari tadi mengekor di belakang Jenny terkejut melihat sosok Monika. Hampir saja siomay yang ia kunyah menyumbat saluran pernapasannya.

Monika bangkit dari duduknya seraya menyapu pandangannya ke arah Kia dan Jenny dengan tatapan bengis.

"Urusan kita belum selesai," kata Monika sebelum akhirnya meninggalkan mereka bertiga di koridor.

"Lo nggak apa-apa La?" tanya Jenny seraya duduk menggantikan posisi Monika.

"Lo nggak diapa-apain 'kan La?" tanya Kia lagi sambil memeriksa wajah sahabatnya itu. "Nih siomay Mang Dian, biar nggak bete lagi."

"Gue nggak apa-apa," ujar Kamalla. "Udah nggak lapar sekarang."

"Oh pasti Monik udah ngasih lo makanan buat pajak jadian 'kan?"

"Kia!" bentak Jenny.

"Apa? Dia ngasih apa La?" tanya Kia lagi.

Jenny hanya memutar kedua bola matanya kali ini. Sementara Kamalla hanya tertawa kecil melihat tingkah kedua sahabatnya itu. Meski ada tawa, isi kepalanya masih terngiang ucapan Monika tadi. Kendati demikian, Kamalla akan tetap bertahan untuk tak melepas Radhit.

Bersambung...

Menaruh Curiga [Dua]

Pukul tiga sore. Waktu yang dinantikan para siswa SMA Pelita Bangsa. Tiap-tiap kelas riuh ketika bell yang menandakan usainya pelajaran hari ini berbunyi, kecuali kelas sebelas IPA 1.

"Bagi yang mau pulang, silahkan pulang," ujar Bu Dhamayanti dengan lantang ketika mendapati beberapa siswa mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Tentu saja mereka iri dengan siswa atau siswi lain yang berbondong-bondong memadati aula parkir dan gerbang sekolah untuk pulang. "Tapi jangan ada yang protes kalau nama kalian tidak ada dalam daftar ujian semester ini!" tambahnya.

Beberapa siswi dan siswa tampak menggerutu dan berbisik-bisik ke kawan sebangkunya lantaran kesal.

"Kita datang terlambat dihukum, tapi pulang nggak bisa tepat waktu!" Seru salah satu siswa yang duduk di sudut kelas. Sontak seisi kelas menjadi gaduh bak pasar malam. Mereka saling melempar pendapat membenarkan ucapan Dani barusan, beberapa siswa lain ada yang bersorak dan memukul-mukul meja.

"Diam!" Bentak guru matematika yang terbilang cukup senior dengan julukan guru killer di sekolah itu. Kini ruangan itu seketika menjadi hening, hanya menyisakan suara jarum jam yang sudah menunjukkan pukul tiga lewat sepuluh menit.

"Yang masih mau protes silahkan keluar!" Bu Dhamayanti menunjuk pintu kelas yang setengah terbuka dengan suara bergetar. "Dani! Keluar kamu!"

Mendengar perintah itu, tanpa ragu Dani menata buku yang ada di hadapannya dan memasukkan ke dalam tas. Sedetik kemudian dia berjalan ke luar kelas tanpa sepatah kata.

Bu Dhamayanti kembali duduk di kursinya. "Siapa lagi yang mau nyusul Dani?"

"Gila ya si Dani," bisik Kamalla pada Jenny yang duduk di sebelahnya. Jenny tak menggubris ucapan Kamalla barusan, dia malah menyodorkan bola kertas ke arah Kia yang duduk tepat di belakangnya. Hal itu tidak Kamalla sadari, namun tidak dengan Bu Dhamayanti.

"Jenny!"

"I-iya Bu."

Seketika jantung Jenny berdegup kencang. Beberapa pasang mata siswa mendadak tertuju padanya. Mimik wajahnya pun tidak kalah tegang dengan siswa lain. Bagaimana tidak, selama ini Jenny dikenal sebagai siswi yang pendiam dan memiliki kemampuan akademik cukup bagus. Jadi mendapat teguran dari guru yang ditakutkan adalah hal yang mengejutkan bagi mereka, kecuali Kia saat itu. Kia sedang fokus membuka bola kertas dengan perlahan.

"Tolong kamu pimpin doa pulang ya Jen, Ibu mendadak pusing. Materinya dilanjut besok saja."

Jenny menghembuskan napas lega.

"Sip! Sip!" Seru Kia setelah membaca pesan bertuliskan 'Seperti rencana awal' dari secarik kertas lusuh itu.

"Apanya yang 'sip', Kia?"

"Ah nggak Bu. Maksudnya.. Iya! Jenny pimpin doa." Jawab Kia kikuk.

Seisi kelas menjadi ramai dengan tawa. Suasa kembali mencair kala itu. Sementara Bu Dhamayanti hanya tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya perlahan.

Setelah doa yang dipimpin oleh Jenny selesai, para siswa bergegas mengosongkan ruangan kelas yang merupakan kelas terakhir yang baru diperbolehkan pulang sore itu. Sebetulnya ada untungnya juga pulang lebih lambat dibanding kelas lain karena aula sekolah menjadi lebih lengang, tidak dipenuhi oleh motor atau siswa yang berebut untuk keluar dari gerbang sekolah.

Sore itu mentari sudah bersiap pergi ke peraduan, menyisakan cahaya keemasan yang hangat menyentuh kulit Kamalla yang saat itu sedang menunggu angkutan umum di trotoar depan sekolah.

"Daaah!" seru Kamalla sambil melambaikan tangan ke arah Jenny yang berada tepat di seberang jalan. Sedetik kemudian Jenny sudah hilang bersama laju angkutan berwarna putih itu.

Tidak seperti janjinya pagi tadi, sore ini Radhit mengirimkan pesan singkat pada Kamalla melalui whatsapp bahwa dia tidak bisa mengantarnya pulang karena ada keperluan mendesak. Tentu Kamalla tidak mempermasalahkannya, karena dia tahu bahwa hal itu bukan merupakan kewajiban Radhit sebagai pacar. Lagi pula sejauh ini Radhit sudah cukup menjadi pasangan yang baik untuknya.

"Malla, gue duluan ya. Malam ini gue sama Jenny pasti datang," ujar Kia yang baru saja menghentikan laju motor maticnya di hadapan Kamalla.

"Awas aja kalau nggak datang! Ntar Ibu gue nggak ngebolehin lo main lagi ke rumah gue."

"Ih! Itu mah aturan dari lo ya! Ibu lo nggak mungkin begitu."

Kamalla hanya tekekeh geli. "Ya udah sana gih."

"Eh gue tungguin sampe lo dapat angkot deh, baru lanjut jalan," ujar Kia kemudian memutar kunci sampai deru motor biru itu berhenti.

"Nggak usah Ki. Paling sebentar lagi juga datang angkotnya."

"Beneran nih? Lo nggak apa-apa gue tinggal sendiri?"

"Iya Helkia. Gue udah gede. Lagian ini juga masih sore kok."

"Hmm.. Ya udah kalau gitu, gue duluan ya. Daaah Kamalla!"

Kia memutar kunci itu lagi, menstarter, kemudian tancap gas dari hadapan Kamalla. Kini Kamalla sendiri lagi menunggu angkutan umum yang tak kunjung datang. Sampai pada akhirnya dia dihampiri seekor kucing hitam jantan yang bermain-main di kedua kakinya.

"Hey! Gembul banget kamu," ujar Kamalla sambil merendahkan tubuhnya kemudian mengelus punggung hewan menggemaskan itu.

Kucing itu berkali-kali mengitari kaki Kamalla seolah berharap diajak main. Kamalla masih terus mengelus punggung kucing itu sambil sesekali memainkan dagunya dengan jari. Sejurus kemudian kucing itu menggeram ketika sebuah mobil sedan berwarna silver berhenti tepat di hadapan Kamalla. Kamalla tahu betul siapa pemilik mobil itu. Ya, Monika Adrian.

Kamalla kembali menegakkan tubuhnya ketika jendela mobil itu terbuka.

"Ngapain lo di situ?" tanya Monika dengan nada suara agak ditinggikan agar lawan bicaranya dapat menangkap. Kamalla menoleh ke kanan dan kiri.

"Lo ngomong sama gue?"

"Iya lah! Masa sama kucing itu."

Kucing hitam yang sedari tadi tidak berhenti menggeram itu kini berdiri tepat di depan Kamalla. Kali ini hewan itu mendesis seolah sedang menghadapi musuh. Monika yang menyaksikan tingkah aneh kucing itu hanya menautkan alisnya ngeri. Sementara langit yang tadinya cerah mendadak mendung.

"Kucing aja takut sama lo Nik," ujar Kamalla sambil tersenyum.

"Gue lagi nggak pengen berdebat. Ayo naik, udah mau hujan tuh!"

Kamalla terdiam. Dia berusaha mencerna situasi yang ada. Entah kesurupan malaikat dari mana sampai Monika yang biasanya menyebalkan itu mendadak baik dan menawarinya tumpangan. Namun kali ini tidak ada pilihan lain, karena langit perlahan mulai menitikkan air hujan satu demi satu. Pada akhirnya Kamalla berhasil mengalahkan egonya untuk tidak menuruti ajakan Monika. Dia merangsek masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Monika. Sementara di luar sana hujan turun dengan derasnya.

Sebelum mobil itu melaju, Kamalla sempat menoleh ke arah jendela untuk memastikan kucing hitam itu. Namun kucing itu sudah tidak ada di sana.

...****************...

"Happy birthday ya La," ujar Monika memecah keheningan. Kamalla yang mendengar itu hanya mengarahkan ekor matanya ke gadis di sampingnya yang sedang mengendalikan stir.

"Thanks nik. Tapi ulang tahun gue masih besok," Kata Kamalla akhirnya.

"Ini kanan atau kiri ya?" tanya Monika.

"Kiri. Nanti pas perempatan, ambil kanan ya."

Monika hanya mengangguk paham kemudian melanjutkan laju mobilnya sesuai arahan Kamalla.

"Tadi gue ketemu teman lo di parkiran sekolah. Dia yang ngasih tahu gue kalau lo ulang tahun. Gue kira hari ini."

"Siapa? Kia maksud lo?"

"Yang pakai jepit rambut bulu-bulu warna pink."

"Namanya Kia," jawab Kamalla. Bukankah harusnya kelas Monika sudah pulang lebih awal? Lagi pula letak parkiran mobil dan motor terpisah. Mana mungkin mereka bisa bertemu di satu tempat parkir kalau bukan salah satu dari mereka yang memang sengaja untuk bertemu. Benak Kamalla.

"Oh iya, La. Soal tadi siang, sebenarnya masih ada yang mau gue omongin sama lo."

"Kalau masih soal Radhit, kayaknya sekarang bukan waktu yang tepat buat bahas itu," pungkas Kamalla. Jelas dia tahu arah obrolan itu, pasti akan berujung pada perdebatan sengit. Dia tidak mau kalau akhirnya sampai diturunkan dipinggir jalan hanya karena masalah Radhit. Mengingat hujan di luar sana turun cukup deras.

"Nah, di ujung jalan itu belok kanan ya nik. Rumah gue ada di sebelah kiri," ujar Kamalla berusaha mengalihkan topik obrolan.

Bersambung...

Terror [Tiga]

Malam telah melepas layar. Hujan yang disertai kilat sudah berhenti sejak satu jam yang lalu, hanya menyisakan beberapa genangan air di atas aspal. Saat ini waktu sudah hampir menunjukkan pukul tujuh, namun tamu yang dinantikan Kamalla belum ada yang menampakkan batang hidungnya.

Malam itu Ibu yang dibantu oleh Kamalla dan Monika sedang sibuk menata makanan di atas meja. Sampai pada akhirnya terdengar suara ketukan pintu dari arah luar.

Tok! Tok! Tok!

"Permisi," suara teriakan Kia terdengar jelas di telinga Kamalla. "Malla."

Kamalla menghentikan kesibukannya dan bergegas menuju sumber suara tanpa menghiraukan dua orang yang ada di dekatnya. Monika dan Rukmi saling melempar pandangan, kemudian kembali melanjutkan kegiatannya.

Alih-alih menjamu Kia, justru Kamalla tak menemukan seorangpun di luar sana. Dia menautkan kedua alisnya kemudian kembali berjalan ke arah dapur, membiarkan posisi pintu dalam keadaan setengah terbuka. Namun belum begitu jauh kakinya melangkah, suara ketukan pintu itu kembali terdengar diiringi dengan suara khas Kia. Sama seperti sebelumnya.

Gadis itu memutar kedua bola matanya. Pasti tadi Kia bersembunyi, benak Kamalla. Saat Kamalla memutar kembali tubuhnya ke arah pintu, jantungnya nyaris copot karena mendapati sosok kepala perempuan menyeringai dari celah pintu.

"Nungguin gue ya?" sosok itu kemudian membuka pintu dan menunjukkan tubuhnya masih dengan cengiran khasnya barusan.

"Ih Kiaaaa!"

"Apa? Kanapa?" tanya Kia dengan polosnya.

"Untung bukan Ibu gue yang bukain pintu. Bikin kaget aja!"

Kia hanya terkekeh geli melihat raut wajah Kamalla yang masih diselimuti ketakutan.

"Muka lo pucat La," ujar Kia, masih dengan tawanya. Sejurus kemudian Kamalla melayangkan cubitan ke arah pinggul gadis di hadapannya, namun serangan itu berhasil dihalau.

"Eh Nak Kia sudah datang. Ayo masuk, itu temannya sudah nunggu loh," ujar Ibu Kamalla. Seketika Kia berhenti tertawa dan lanjut menyalami Rukmi. "Kamu ini La, bukannya disuruh masuk temannya."

"Biarin aja Bu dia di luar, biar ditemanin demit pohon jambu!" seru Kamalla.

"Hush! Kamu ini," Rukmi menepis udara di hadapannya. "Ayo Nak Kia, makanannya sudah siap semua."

Rukmi kembali berjalan ke arah dapur.

"Jenny udah datang La?" tanya Kia sambil meletakkan tas selempangnya ke atas kursi kayu jati di ruang tamu. "Dia bawa mobil?"

Kamalla hanya menggelengkan kepalanya. Sejak kapan Jenny punya mobil pribadi.

"Terus?"

"Monik."

"Hah!?"

"Iya Monik! Biasa aja dong mangapnya."

"Sorry, ini gue shock parah sih. Setelah sekian lama, akhirnya kalian damai. Benar 'kan apa kata gue, dia sekarang udah jinak."

Kamalla menaikkan kedua bahunya. "Tadi dia ngasih gue tumpangan pas hujan, gue jadi nggak enak kalau nggak ngajak dia ke acara gue malam ini."

Kia hanya ber-oh panjang sambil menganggukan kepala.

"Ya semoga aja dia benaran tulus nolong gue," ujar Kamalla akhirnnya. Meskipun jauh di lubuk hatinya tersimpan keraguan mengingat kejadian siang tadi di koridor sekolah.

****************

Beberapa kilo meter dari kediaman Kamalla, seorang pemuda berstelan kaos hitam dan dibalut jaket berwarna abu-abu tengah mengendarai Kawasaki biru miliknya dengan kecepatan tiga puluh meter per-jam.

"Lo udah gila ya?" tanya Radhit pada gadis yang tengah duduk di bagian belakang motornya.

"Lo yang udah gila, Dhit. Harusnya dari awal gue jujur ke Malla tentang ini."

"Terus mau lo apa Jen?"

"Gue mau lo jujur soal semuanya. Gue nggak bisa terus-terusan dihantui rasa bersalah."

"Nggak. Waktunya nggak tepat."

Radhit perlahan menurunkan laju motor dan memarkirkannya tepat dibelakang mobil milik Monika. Tanpa aba-aba, Jenny turun dari boncengan.

"Terus harus sampai kapan gue pura-pura. Dia sahabat gue, Dhit. Teman sebangku gue," ujar Jenny sedikit berbisik. Jemarinya meremas pegangan paper bag berisikan tart yang sedari tadi dia tenteng.

Radhit melepas helm full facenya kemudian menghela napas panjang.

"Gue belum bisa Jen."

"Oke. Pilihannya cuma satu, lo sendiri yang jujur atau gue?"

Radhit hanya diam. Dia benar-benar bingung sekarang.

"Jen, masuk!" teriak Kia dari ambang pintu.

Sebelum mengikuti panggilan itu, Jenny sempat menatap tajam ke arah Radhit. Beberapa detik kemudian laki-laki itu mengekor sambil melirik mobil berwarna silver yang tak asing baginya.

Saat sampai ke dalam rumah, Jenny tampak tak percaya dengan apa yang dia lihat saat itu. Namun tak kalah terkejutnya dengan Jenny, Radhit tidak bisa berkata-kata ketika melihat Monika menjadi bagian dari acara malam itu. Monika hanya tersenyum menyambut kedatangan dua tamu terakhir itu.

"Karena semuanya sudah kumpul, yuk kita makan dulu. Maaf ya makanannya nggak ada yang wah."

"Nggak apa-apa Bu, yang paling penting niatnya bisa syukuran buat ulang tahun Kamalla," ujar Monika.

Jenny spontan memutar kedua bola matanya ketika mendengar ucapan Monika barusan.

"Iya betul, apalagi tadi masaknya dibantu Nak Monik dan Kamalla. Pasti rasanya lebih enak."

"Gue curiga dia naruh sesuatu di makanan ini," ujar Jenny berbisik pada Kia.

Kia yang tak sadar akan ucapan Jenny, justru sudah melahap potongan ayam goreng dari piringnya. Jenny kembali memutar kedua bola matanya.

Sepuluh menit pertama tak ada satu katapun yang keluar dari mulut mereka. Sesekali hanya terdengar suara piring yang beradu dengan sendok. Merasakan hal yang aneh, Rukmi mengambil dua buah perkedel kemudian meletakkannya di atas piring Radhit.

"Nak Radhit, perkedelnya mau?" tanya Ibu pada memecah keheningan. Radhit hanya mengangguk tanda setuju.

Sementara itu baru beberapa suapan, Kamalla merasakan mual dan pusing. Jenny yang sedari tadi menyadari gelagat aneh dari sahabatnya tidak bisa menahan dirinya lagi untuk bertanya. "La, lo nggak apa-apa?"

Semua yang ada di sana sontak menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arah Kamalla.

Kamalla menggelengkan kepalanya pelan. Wajahnya kini pucat pasi. Beberapa bulir peluh keluar dari dahi dan mengalir sampai dagunya.

"Kamu kenapa Nak?" tanya Ibu panik lalu menghampiri kursi tempat Kamalla duduk, disusul Radhit dan Jenny. Ibu mengusap peluh yang keluar dari dahi anak semata wayangnya itu. Sementara Jenny melempar tatapan tajam ke arah Monika.

****************

"Lo masih pucat banget La," ujar Jenny sambil membereskan sisa makan di meja.

Acara makan malam itu selesai dengan terpaksa, mengingat kondisi Kamalla pada saat itu. Bahkan tart yang sudah dibawa oleh Jenny masih tersimpan rapih di dalam papper bag.

Monika, Kia dan Radhit berpamitan setengah jam yang lalu. Rencana awal Jenny untuk pulang bersama Radhit urung karena ingin menginap dan menemani Kamalla malam itu.

"Kayaknya ini efek kena hujan sore tadi deh Jen," kata Kamalla seraya meletakkan piring terakhir ke dalam sink.

Jenny mengangguk pelan.

"Sebaiknya kalian istirahat di kamar, biar Ibu yang melanjutkan," kata Ibu Kamalla.

Setelah menuruti perintah Ibu, Kamalla dan Jenny masuk ke dalam kamar. Sekarang mereka sudah berbaring di atas kasur dengan motif sprei berwarna biru langit. Hampir setengah jam Jenny terlihat terjaga, kedua matanya menatap lurus ke arah plafon sesekali dia melirik gadis di sebelahnya. Kamalla terlihat sudah tertidur dengan posisi memunggungi Jenny.

Suasana malam itu begitu hening. Sampai tiba-tiba suara ketukan terdengar dari arah jendela yang posisinya tepat di samping Jenny. Gadis itu tahu betul kalau di luar sana merupakan lahan luas berisikan tanaman singkong entah milik siapa. Orang jahil mana yang malam-malam begini berada di tempat seperti itu.

Tek! Tek! Tek!

Jenny yang mendengar suara itu berusaha tenang dan memejamkan matanya.

Tek! Tek! Tek!

Suara kuku yang mengetuk kaca itu terdengar lagi.

"Malla," panggil Jenny setengah berbisik. "Lo udah tidur?"

"Diam aja Jen."

Jenny menghela napas lega ketika menyadari sahabatnya itu ternyata masih terjaga.

"Lo dengar juga?" tanya Jenny memastikan. Manik matanya melirik ke arah tirai yang menutupi jendela kaca di sampingnya. Namun suara ketukan itu tidak terdengar lagi.

Kamalla menggerakkan tubuhnya dan berbaring menghadap plafon juga. Gadis itu menghela napas panjang.

"Gue ngerasa ada yang aneh deh, Jen."

Jenny menolehkan pandangannya ke arah Kamalla. "Aneh gimana La?"

"Mulai dari kucing hitam yang aneh pas gue dijemput Monik sore tadi, ketukan pintu sebelum Kia datang, ketukan barusan," Kamalla terdiam sejenak lalu menoleh ke arah Jenny. "Pas di meja makan tadi, gue nggak tau apa yang gue rasain, Jen."

Kini Jenny bangkit dari posisinya kemudian bersandar pada kepala dipan kayu. "Maksud lo gimana La? Gue nggak ngerti."

"Gue ngeliat bayangan hitam di belakang Monik pas acara makan tadi. Tapi cuma sekelebatan aja. Seumur hidup, gue nggak pernah ngalamin hal kayak gini."

Jenny menautkan kedua alis tebalnya. "Nggak mungkin 'kan kalau semua ini ulah Monik?"

"Gue nggak tahu Jen. Tapi gue emang ngerasa ada yang beda dari Monik."

"Masa iya sih Monik? Gue tahu dia rada gila soal Radhit, tapi kayaknya nggak mungkin seorang Monika main-main sama hal kayak gini."

"Iya juga sih Jen."

"Tapi tunggu deh," Jenny menatap ke arah Kamalla dengan ekspresi menelisik. "Pas jam istirahat tadi siang, lo ngomongin apa sama dia di koridor kelas?"

"Dia cuma minta gue supaya ninggalin Radhit."

"Dia ngasih lo sesuatu nggak? Makanan atau apapun kayak yang dibilang Kia?"

Kamalla menggelengkan kepalanya dengan mantap. Tapi sejurus kemudian kedua manik matanya menoleh ke arah lain. Dia ingat sesuatu.

"Tapi mungkin nggak sih!?" gumam Kamalla.

"Apa La?"

"Lo sadar nggak Jen, selama ini gua nggak pernah bersentuhan fisik sama Monik!? Sekalipun dia lagi ngelabrak gue. Mungkin lihat gue aja jijik."

Jenny mengangguk beberapa kali tanda setuju. "Terus?"

"Siang itu dia pegang pundak gue. Agak lama."

"Wah gila sih kalau emang benar dia ngelakuin ini. Nekad namanya!" seru Jenny kesal.

"Tapi gue masih nggak yakin, Jen."

"Tadinya gue juga nggak yakin, La. Si monyet itu yang ngelakuin ini."

Sekarang Kamalla duduk di atas kasur miliknya. Dia memandang wajah kesal sahabatnya.

"Lo pernah dengar pelet atau santet yang dikirim lewat perantara liur atau rambut dari korbannya?" tanya Jenny.

"Gue pernah baca soal itu. Tapi gue nggak sepenuhnya percaya sih."

"Berkaca dari apa yang lo alamin, harusnya lo percaya!"

Kamalla menatap wajah Jenny yang sudah tak terkontrol emosi. Pikirannya menerawang jauh dan berusaha meyakinkan diri bahwa Monika tidak mungkin segila itu.

Bersambung...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!