NovelToon NovelToon

Bapaknya Galak

1. Tidak Berani Tapi Berharap

Seorang pemuda nampak mengamati sebuah rumah yang di depannya ada warungnya. Senyuman nampak menyungging di bibirnya saat melihat seorang gadis tercantik di kampungnya menjaga warung. Setelah merasa aman, pemuda itupun bergegas berjalan ke arah warung.

"Khaira cantik, ayang beb. Apa kabar hari ini?" sapa, sekaligus rayu Jimin yang tampangnya bisa di bilang lumayan tampan. Kulit tidak terlalu hitam, tapi juga tidak putih.

"Kakak mau beli apa?" tanya Khaira sang gadis cantik tersenyum tipis, tidak menanggapi rayuan Jimin.

"Mau beli hati kamu boleh, nggak?" tanya pemuda itu sambil mengedipkan sebelah matanya genit.

"Prak"

"Auwh!" pekik Jimin saat penyapu lidi tiba-tiba melayang tepat mengenai wajahnya.

"Berani-beraninya menggoda putri ku! Kemari kamu! Akan aku hajar kamu!" teriak seorang pria paruh baya yang tiba-tiba muncul entah dari mana.

"Eh, buset! Ada Bulldog...!" teriak Jimin langsung mengambil langkah seribu meninggalkan warung itu.

"Kurang ajar! Dasar kutu kampret! Berani-beraninya mengatai aku!" umpat Buntala, pria paruh baya yang masih terlihat muda dan tampan di usianya yang menginjak empat puluh tiga tahun itu. Pria itu mengambil sebatang bambu di dekatnya yang panjangnya sekitar dua meter. Dengan cepat pria itu mengejar Jimin yang baru saja menggoda putrinya.

"Berhenti kamu!" teriak Buntala.

"Berhenti? Memangnya aku mau jadi samsak tinjunya apa?" gerutu Jimin seraya berlari secepat kilat menghindari Buntala yang membawa sebatang bambu runcing itu.

Khaira hanya bisa menghela napas panjang melihat bapaknya yang mengejar-ngejar Jimin. Bukan sekali dua kali Jimin di kejar-kejar Buntala, karena terpergok merayu Khaira, namun Jimin tidak pernah jera.

Sedangkan Nawang hanya bisa menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya pelan melihat kelakuan suaminya.

"Bisa-bisa anakku jadi perawan tua, jika bapaknya seperti itu terus," gumam Nawang lagi-lagi hanya bisa menghela napas panjang.

"Sini, lawan aku, kalau berani! Jangan kabur! Dasar kutu kampret!" teriak Buntala geram.

"Jleb"

"Eh, copot! Buset dah! Sudah macam kera sakti saja," ujar Jimin yang terkejut, karena tiba-tiba bambu yang dibawa Buntala sudah menancap di samping dirinya yang sedang berlari. Hampir saja mengenai dirinya.

"Awas saja kalau berani menggoda putri ku lagi!" teriak Buntala terlihat geram. Menatap Jimin yang sudah keluar dari area pekarangan rumahnya.

"Kalau aku sudah sukses aku bakal balik lagi melamar Khaira, bapak mertua," teriak Jimin membuat Buntala semakin geram.

"Siapa bapak mertuamu?! Jangan mimpi bisa menikahi putriku!" teriak Buntala menatap tajam Jimin yang sudah jauh. Pria paruh baya itu tidak lagi mengejar Jimin, karena pemuda itu sudah keluar dari area pekarangan rumahnya.

"Hosh..hosh..hosh..."

Jimin berhenti berlari setelah jauh dari rumah Khaira. Pemuda itu membungkuk seraya memegang kedua lututnya. Mencoba mengatur napasnya yang rasanya sudah tinggal di tenggorokan.

"Kalau nggak ingat anaknya cantik.. sudah aku santet online, tuh, si bulldog," gerutu Jimin anak sang kepala desa sekaligus orang paling kaya di kampung itu.

"Lama-lama kamu bakal jadi atlet pelari nasional, kalau terus mendekati Khaira. Mendekati anaknya, tapi selalu berakhir di kejar-kejar bapaknya," ujar Toyo sahabat Jimin terkekeh kecil.

"Tidak apa-apa. Demi ayang beb Khaira, aku akan melakukan segalanya. Jangankan cuma bapaknya yang galak, lautan akan aku seberangi, gunung pun akan aku daki. Asalkan ayang beb Khaira bisa aku miliki," ucap Jimin dengan gaya puitis.

"Prett! Kayak mana kamu bisa mendapatkan Khaira, kalau menghadapi bapaknya saja tidak berani?" cibir Toyo meremehkan. Karena Jimin tidak berani menghadapi Buntala, tapi mengharapkan putrinya.

"Jika tidak ada pemuda yang berani mendekati putrinya lagi, mau tak mau, dia akan menyerah dan menerima aku sebagai menantunya. Mana mungkin dia akan membiarkan putrinya menjadi perawan tua? Apalagi aku anak kepala desa satu-satunya dan paling kaya di kampung ini," ucap Jimin penuh percaya diri.

"Sak karep mu lah! ( Terserah kamu lah!)" ucap Toyo dalam bahasa Jawa menghembuskan napas kasar meninggalkan Jimin.

Khaira adalah gadis tercantik di kampungnya, namun sayangnya, bapaknya galak. Buntala terlalu menyayangi Khaira. Tidak seorang pemuda pun yang di izinkan mendekati putrinya. Ingin putrinya fokus belajar hingga bisa mencapai gelar sarjana. Tapi, akan mempertimbangkan dan mengizinkan Khaira pacaran, jika ada pemuda yang sesuai dengan kriterianya.

Buntala memang galak pada semua pemuda yang mendekati putri semata wayangnya. Apalagi jika sampai berani menggoda putrinya itu. Hal semacam ini sudah biasa terjadi.

Buntala akan mengejar, bahkan akan menghajar siapa saja yang berani menyentuh putrinya. Posesif atau protektif? Sepertinya dua-duanya.

Sudah pernah ada pemuda yang di hajar Buntala karena kepergok menyentuh putrinya. Padahal hanya menyentuh saja. Banyak pemuda yang datang ke rumahnya meminta izin untuk berpacaran dengan putrinya, tapi ditolak Buntala dengan alasan tidak sesuai kriterianya. Entah apa kriteria calon menantu pria paruh baya yang tubuhnya sudah seperti tubuh pria yang biasa di jadikan model iklan pakaian dalam pria itu.

*

Pagi telah tiba. Khaira sudah bersiap untuk berangkat sekolah. Buntala pun sudah bersiap dengan motor jadul tunggangan Rambo nya. Yaitu motor Yamaha XT250 yang di produksi tahun delapan puluhan. Motor jadul yang masih terawat dengan baik.

Yamaha XT250

Setiap hari Buntala selalu mengantar dan menjemput putri semata wayangnya. Tidak memberikan kesempatan kepada siapapun untuk mendekati putrinya, apalagi menggoda putrinya.

"Khaira, ingat jangan biarkan ada pria yang mendekati kamu!" pesan Buntala seraya memakaikan helm pada putrinya.

"Iya, Pak. Tenang saja," sahut Khaira tersenyum manis.

"Putri bapak adalah wanita berkualitas, jadi hanya cocok dengan pria yang berkelas," ujar Buntala yang hanya tersenyum manis dan hangat pada istri dan putrinya saja.

*

Di sebuah rumah mewah. Zayn, seorang pemuda rupawan bertubuh atletis nampak menggendong tas ranselnya. Pemuda itu menghampiri kedua orang tuanya yang sedang duduk di ruang keluarga.

"Kamu sudah mau berangkat, kak?" tanya Aurora sang ibu yang memanggil putra sulungnya dengan panggilan 'kakak'.

"Iya, ma," sahut Zayn dengan seulas senyuman.

"Kamu yakin ingin sekolah di kota itu?" tanya Rayyan sang ayah.

"Yakin, pa," sahut Zayn penuh keyakinan.

"Zayn, ada yang perlu kamu ketahui. Kehidupan di luar sana sangat keras, tidak semudah seperti saat kamu bersama papa dan mama. Apalagi kalau kamu menyamar menjadi orang biasa. Bukan papa tidak mendukung kamu dan menakut-nakuti kamu. Papa hanya memperingati kamu agar tidak terkejut saja," ujar Rayyan yang tidak pernah menghalangi apapun keinginan putranya. Asalkan keinginan putranya itu positif dan putranya dapat mempertanggung jawabkan apapun yang dilakukannya.

"Iya, pa. Aku mengerti. Sebelum aku berkecimpung di dunia bisnis sepenuhnya, aku ingin merasakan kehidupan orang biasa di luar sana. Aku mohon papa jangan menyuruh orang untuk mengawasi aku. Tolong berikan kepercayaan padaku!" pinta Zayn bersungguh-sungguh.

"Baiklah kalau itu maumu. Tapi, pastikan kamu bisa menjaga dirimu dengan baik. Jangan bertindak tanpa berpikir panjang. Satu tindakan kamu saat ini, bisa saja berpengaruh besar pada kehidupan kamu di masa depan," ujar Rayyan memutuskan sekaligus menasehati.

"Terimakasih, pa. Aku pasti menjaga diriku dengan baik dan akan tetap membantu papa dalam bisnis. Papa bisa menghubungi aku kapan saja, jika papa ingin aku melakukan sesuatu," ucap Zayn tersenyum tipis.

"Tentu saja, kamu harus membantu papa. Papa akan mengirimkan file-file yang harus kamu periksa," ujar Rayyan tersenyum lembut pada putra sulungnya itu.

"Iya, pa. Baiklah, kalau begitu, aku pergi sekarang, ma, pa," pamit Zayn memeluk Rayyan, kemudian memeluk Aurora, wanita yang telah melahirkan dirinya.

"Jaga dirimu baik-baik, kak!" pinta Aurora seraya mengusap lembut lengan putranya itu.

"Iya, ma," sahut Zayn.

Rayyan dan Aurora menatap putra mereka yang melangkah keluar dari rumah itu, hingga masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh seorang pelayan. Mobil itupun melaju meninggalkan rumah mewah dan megah itu.

"Sayang..kamu benar-benar tidak akan menyuruh seorang pun untuk mengawasi putra kita?" tanya Aurora pada suaminya yang sebenarnya agak keberatan dengan keputusan suaminya itu.

"Sayang, aku percaya pada putra kita. Selama ini Zayn sudah banyak belajar dan menuruti apapun keinginan kita. Biarkan kali ini dia melakukan apa yang dia inginkan. Menikmati masa remajanya seperti para remaja yang seusia dengan dia. Kita tidak boleh terlalu mengekang dan mendikte hidupnya. Jika kita terlalu mendikte hidupnya, dia tidak akan bisa berpikir dewasa. Kita tidak boleh menentukan apa yang harus dan tidak boleh dia lakukan,"

"Lagipula, selama ini Zayn tidak pernah bertindak gegabah dalam hal apapun. Di usianya saat ini, aku malah merasa dia lebih dewasa dari aku saat seumuran dengan dia dulu. Dia lebih tenang dan teliti dalam melakukan segala hal," ujar Rayyan panjang lebar untuk meyakinkan istrinya bahwa putranya akan baik-baik saja di luar sana.

"Baiklah, aku percaya padamu," sahut Aurora menghela napas panjang yang mau tak mau harus menerima keputusan suaminya.

...🌟Ingin bebas, tapi bukan berarti tak tahu batas. Tak ingin dikekang, tapi bukan berarti suka membangkang. Ingin mandiri, berarti harus bisa menjaga diri sendiri.🌟...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

2. Penuh Percaya Diri

Setelah beberapa jam menempuh perjalanan, akhirnya mobil yang ditumpangi Zayn berhenti di pinggir jalan yang tidak terlalu ramai. Zayn memakai kawat gigi dan kacamata yang lumayan tebal, rambutnya disisir biasa tanpa menggunakan minyak rambut. Mengenakan kemeja dan celana panjang yang biasa digunakan kalangan menengah ke bawah. Tak lupa handphone Android yang harganya di bawah dua juta dan sepatu kets yang harganya hanya berkisar seratus limapuluh ribuan.

"Tuan muda ingin turun di sini?" tanya supir pribadi Zayn menatap penampilan baru majikannya.

"Iya, pak. Terimakasih, ya, pak, sudah di antar," ucap Zayn seraya keluar dari dalam mobil.

"Hati-hati, Tuan muda!" pesan sang supir.

"Iya, pak," sahut Zayn tersenyum ramah.

Setelah mobil itu pergi, Zayn mulai melangkah menuju pangkalan ojek yang tidak jauh dari tempat itu. Menunjukkan alamat yang ada di handphonenya pada sang tukang ojek. Selama di dalam mobil tadi, Zayn memang mencari kontrakan yang ada di sekitar tempat dirinya akan bersekolah.

Zayn menatap sebuah rumah kontrakkan kecil di depannya setelah selesai membayar uang sewa rumah itu. Pemuda itu masuk ke rumah itu dan melihat isi di dalamnya. Rumah itu hanya memiliki satu kamar tidur, ruang tamu, dapur dan satu kamar mandi.

"Aku akan mulai hidup mandiri," gumam Zayn penuh senyuman.

*

Buntala melepaskan helm putri kesayangannya dan merapikan rambut putrinya yang panjang sepinggang itu. Para siswa melirik anak dan bapak itu. Sang bapak yang masih tampan dan terlihat muda dan sang anak yang cantik serta cerdas.

Khaira berpamitan pada bapaknya, lalu bergegas masuk ke gedung sekolahnya. Di dalam kelasnya, Khaira menghampiri Cempaka, teman sebangkunya.

"Tumben kamu sudah datang duluan?" tanya Khaira tersenyum lembut pada Cempaka.

"Hari ini aku piket, Ra," sahut Cempaka.

"Sejak kapan kamu berangkat pagi karena mau piket?" tanya Khaira terkekeh kecil.

"Aku lagi insaf," sahut cempaka menyengir tanpa dosa.

"Beneran insaf, nih?" tanya Khaira nampak tidak percaya

"Ye ilee.. nggak percaya amat! Amat aja percaya. By the way anyway busway, contekkin PR matematika, dong! Kamu cantik, deh," ujar Cempaka merayu Khaira.

"Ohh..ternyata ini alasannya berangkat pagi?" ujar Khaira menggelengkan kepala dengan senyuman prihatin. Sedangkan Cempaka malah kembali menyengir tanpa dosa.

Tak lama kemudian, bel tanda jam pelajaran dimulai pun berbunyi. Seorang guru pun masuk ke dalam kelas bersama seorang siswa berkacamata dengan baju yang terlihat longgar. Semua murid pun memperhatikan pemuda itu.

"Selamat pagi semuanya!" sapa sang guru.

"Pagi, Bu!" sahut para murid.

"Hari ini kalian kedatangan teman baru," ucap sang guru lalu menatap pada siswa yang datang bersama dengan dirinya, "perkenalkan dirimu," pinta sang guru.

"Baik, Bu," sahut siswa itu, lalu menghadap ke arah semua murid, "perkenalkan, aku Zayn. Mulai hari ini, aku akan belajar bersama kalian di kelas ini. Semoga kita semua bisa berteman baik," ucap Zayn tersenyum ramah.

"Baiklah, kalau begitu kamu boleh duduk di kursi yang masih kosong," ucap sang guru.

"Terimakasih, Bu," sahut Zayn, kemudian mencari bangku yang kosong.

Zayn duduk di sebelah siswi yang duduk sendiri di pojok ruangan. Gadis sederhana yang tersenyum canggung padanya. Zayn pun tersenyum tipis membalas senyuman gadis itu, lalu mulai membuka bukunya.

"Nama kamu siapa?" tanya Zayn pelan.

"Indah," sahut gadis itu singkat.

"Senang berkenalan dengan mu," sahut Zayn kembali tersenyum tipis, lalu mulai mengikuti pelajaran.

Beberapa jam kemudian, bel tanda istirahat pun berbunyi. Para siswa pun menyimpan kembali buku mereka di dalam tas.

"Teman-teman, sebelum istirahat, mohon sumbangannya untuk siswa dari kelas sebelah yang ayahnya meninggal," ucap ketua kelas seraya membalikkan topinya untuk menerima uang sumbangan dari para siswa yang mulai keluar kelas untuk pergi ke kantin.

Zayn melirik Indah yang tidak membereskan buku-bukunya dan terlihat tidak ada niat untuk keluar dari kelas.

"Kamu tidak istirahat di luar atau pergi ke kantin?" tanya Zayn.

"Tidak. Aku akan mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru tadi," sahut Indah tersenyum tipis.

"Indah memang tidak pernah istirahat, Zayn. Perkenalkan, namaku Yoga. Ayo, aku tunjukkan kantinnya padamu," ujar Yoga seraya merangkul pundak Zayn.

Zayn melirik Indah saat akan keluar dari kelas itu. Entah mengapa Zayn melihat kesedihan di mata gadis itu.

"Kamu bilang, si Indah itu tidak pernah istirahat. Apa dia tidak bosan dengan buku-buku itu?" tanya Zayn penasaran.

"Aku juga tidak tahu. Dia itu kayak kuper gitu. Setiap jam istirahat cuma berada di kelas mengerjakan tugas atau membaca buku di perpustakaan. Nggak pernah pergi ke kantin. Btw, kenapa kamu nggak nanya soal Khaira saja? Dia itu gadis tercantik di sekolah kita. Kamu lihat nggak tadi? Gadis yang duduk di bangku di depan kamu," jelas Yoga.

"Iya, aku lihat," sahut Zayn yang memang melihat ada gadis yang menurutnya memang sangat cantik.

"Sampai sekarang, belum ada yang bisa menjadi pacarnya. Dia itu sulit di dekati. Apalagi, bapaknya galak setengah mati. Aku pernah datang ke rumah dia, tapi aku ditanyai bapaknya seperti diinterogasi," ujar Yoga mengingat bagaimana dirinya bertemu dengan ayah dari gadis tercantik di sekolahnya itu.

"Oh, ya? Tapi, kamu niat sekolah apa pacaran?" tanya Zayn tersenyum tipis.

"Dua-duanya. Biar lebih semangat masuk sekolah," sahut Yoga terkekeh kecil, "btw, kok, kamu kayaknya biasa aja lihat gadis secantik Khaira? Padahal semua cowok yang baru pertama kali melihat dia, pasti langsung suka sama dia," tanya Yoga penasaran yang melihat Zayn tidak antusias sama sekali membahas tentang Khaira.

"Aku sudah banyak menemui gadis cantik dalam hidup ku. Banyak juga yang mendekati aku. Tapi..mereka hanya punya outer beauty dan minim inner beauty. Aku nggak suka cewek kayak gitu," ujar Zayn tanpa berbohong sedikitpun.

Inner beauty mengacu pada pikiran dan kepribadian seseorang. Sedangkan outer beauty (kecantikan luar) mengacu pada penampilan seseorang.

"Woahh..benarkah? Tapi..kalau di lihat-lihat, sebenarnya kamu ini ganteng. Kalau nggak pakai kacamata dan kawat gigi, aku yakin kamu pasti ganteng banget. Kamu bakal jadi pangeran di sekolah ini," ucap Yoga menelisik wajah Zayn.

"Aku ke sini untuk belajar, bukan untuk tebar pesona," sahut Zayn tersenyum tipis menggelengkan kepalanya pelan.

"Sambil menyelam minum air, bro," sahut Yoga terkekeh.

Dua orang yang baru menjadi teman itu makan di kantin sekolah. Yoga nampak cepat akrab dengan Zayn. Sedangkan Zayn juga nampak nyaman-nyaman saja dengan Yoga.

"Hei, cantik!" sapa seorang siswa bersama dua orang siswa lainnya seraya duduk di depan Khaira.

Zayn dan Yoga pun menatap tiga cowok itu, karena meja mereka tepat di belakang Khaira.

"Kenalkan, aku murid baru di sekolah ini. Namaku Antonio. Aku anak Bupati baru di kota ini," ucap cowok itu penuh percaya diri mengulurkan tangannya.

"Aku Khaira," ucap Khaira tersenyum tipis tanpa menyambut uluran tangan Antonio.

Antonio tersenyum masam menarik tangannya kembali. Sedangkan dua siswa yang bersama Antonio nampak terkejut melihat Khaira tidak menyambut uluran tangan Antonio.

"Gimana kalau pulang sekolah jalan-jalan sama aku?" tawar Antonio.

Khaira tersenyum tipis mendengar ajakan Antonio, "Aku pulang di jemput bapakku," sahut Khaira masih tersenyum tipis.

Sudah banyak pemuda yang mendekati dirinya, tapi tak satupun yang lanjut mendekati dirinya. Semuanya mundur, tidak berani menghadapi bapaknya. Kecuali Jimin yang tetap berani mendekat, tapi langsung kabur juga saat kepergok bapaknya.

"Nanti aku minta izin sama bapak kamu," ucap Antonio penuh percaya diri.

"Silahkan saja," sahut Khaira kembali tersenyum tipis.

"Aku pengen lihat, gimana kamu meminta izin sama bapaknya Khaira," celetuk Cempaka yang duduk di sebelah Khaira. Gadis itu tersenyum remeh, karena tahu benar sifat bapaknya Khaira.

Sedangkan Zayn yang mendengar pembicaraan mereka, sejenak melirik ekspresi Yoga yang tertawa tanpa suara mendengar pembicaraan Khaira dan murid baru itu.

"Kenapa ekspresi kamu seperti itu?" tanya Zayn pada Yoga pelan.

"Kita akan menonton pertunjukan saat pulang sekolah nanti," ucap Yoga seraya menepuk pundak Zayn.

"Pertunjukan?" tanya Zayn dengan kening yang berkerut.

Bel tanda pelajaran berakhir sudah berbunyi. Murid-murid pun mengemasi peralatan belajar mereka. Dengan penuh semangat Yoga menarik Zayn untuk pergi ke pinggir pagar sekolah. Di balik pagar itu Yoga dan Zayn melihat seorang pria yang terlihat gagah dan tampan. Pria itu duduk di motor kesayangannya.

"Yang duduk di atas motor jadul itu bapaknya Khaira," bisik Yoga pada Zayn.

Zayn mengamati pria yang yang dikatakan oleh Yoga itu dengan teliti. Pria yang terlihat masih muda.

"Orang ini terlihat tegas dan berwibawa. Tubuhnya tegap dan gagah. Melihat bentuk tubuh dan auranya, sepertinya dia rajin berolahraga dan memiliki ilmu beladiri," gumam Zayn dalam hati.

"Bapak!" panggil Khaira dengan wajah ceria.

Pria yang duduk di atas motor itu tersenyum hangat pada putrinya. Namun, raut wajahnya berubah saat melihat seorang siswa nampak berjalan di samping putrinya dan dua orang siswa mengekor di belakang siswa itu.

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

3. Tes

Zayn dan Yoga masih berada di tempat persembunyian mereka. Keduanya terus mengamati pria paruh baya yang duduk di atas motor itu.

"Pertunjukan akan segera dimulai. Tiga cecunguk yang baru pindah itu tidak tahu, dengan siapa mereka sedang berhadapan," bisik Yoga pada Zayn dengan senyuman penuh arti di bibirnya..

Sedangkan Zayn hanya mengernyitkan keningnya. Entah mengapa dirinya mengikuti Yoga dan bersembunyi seperti penguntit seperti saat ini.

"Bapak," panggil Khaira dengan wajah ceria.

Antonio menatap ke arah mana pandangan mata Khaira. Tatapan mata Antonio tertuju pada pria paruh baya yang duduk di atas motor jadul, namun motor itu terlihat masih terawat.

"Itu bapaknya Khaira? Wajahnya terlihat tegas. Tapi senyumannya hangat pada Khaira," gumam Antonio dalam hati.

"Bapaknya Khaira masih terlihat muda, ya?" bisik si Kribo pada si Jabrik.

"Iya. Orangnya terlihat hangat, sekaligus tegas saat menatap Khaira. Tapi tatapan matanya langsung datar saat melihat kita," sahut si Jabrik.

Si Kribo dan si Jabrik selalu mengekor di belakang Antonio. Mengikuti kemanapun Antonio pergi. Dua orang itu sudah seperti pelayan yang mengikuti majikannya.

"Halo, Om! Perkenalkan, aku Antonio. Putra bupati yang sedang menjabat saat ini," sapa Antonio memperkenalkan diri dengan penuh kebanggaan. Pemuda itu mengulurkan tangannya pada Buntala yang menatapnya dengan tatapan datar.

"Aku Buntala, bapaknya Khaira," ucap Buntala masih dengan tatapan datarnya. Pria paruh baya itu menyambut uluran tangan Antonio dan sedikit melirik dua pemuda yang berdiri di belakang Antonio.

Namun ada yang aneh, karena wajah Antonio terlihat seperti menahan sesuatu. Sedangkan Buntala masih setia dengan ekspresi datarnya. Khaira sendiri memalingkan wajahnya menahan tawa setelah melirik ekspresi wajah Antonio yang berusaha melepaskan tangannya dari pegangan tangan Buntala.

"Sialan! Apa orang ini ingin meremukkan jemari tangan ku," gerutu Antonio yang akhirnya berhasil menarik tangannya dari pegangan Buntala.

Pemuda itu langsung menyembunyikan tangan kanannya di belakang punggungnya dan mengelusnya dengan tangan kirinya.

Si Kribo dan si Jabrik saling menatap setelah melihat tangan Antonio yang memerah. Dua orang teman itu meringis membayangkan apa yang terjadi pada tangan Antonio saat bersalaman dengan bapaknya Khaira tadi.

Sedangkan Yoga nampak mengulum senyum menahan tawa, "Tangannya pasti sakit karena diremas bapaknya Khaira," bisik Yoga pada Zayn.

"Darimana kamu tahu?" tanya Zayn pelan.

"Aku pernah mengalaminya," sahut Yoga menyengir bodoh.

"Berarti kamu pernah mendekati Khaira dan menemui bapaknya Khaira seperti siswa itu?" tanya Zayn pelan

"Iya," sahut Yoga menyengir kuda, membuat Zayn menghela napas panjang seraya menggelengkan kepalanya pelan.

"Kenapa kamu memperkenalkan diri padaku?" tanya Buntala menarik salah satu sudut bibirnya menampilkan senyuman miring. Pria paruh baya itu melipat kedua tangannya di depan dada.

"Aku ingin mengajak anak Om jalan-jalan," ucap Antonio tersenyum ramah, walaupun masih merasakan sakit di jemari tangannya.

"Ingin mengajak putriku jalan-jalan?" tanya Buntala masih dengan senyuman miringnya.

Buntala menatap Antonio dari ujung rambut hingga ujung kaki. Pemuda yang tubuhnya biasa saja menurut Buntala. Tinggi dan bentuk tubuh Antonio memang cukup ideal, tapi sama sekali tidak terlihat kekar. Wajah lumayan tampan, tapi tidak terlihat tegas.

"Iya," sahut Antonio, yang sebenarnya nyalinya terasa ciut melihat senyuman pria paruh baya di depannya itu. Tentunya salaman yang menyakitkan tadi menjadi salah satu alasannya. Apalagi ditatap dari atas hingga ke bawah seperti itu oleh Buntala.

"Boleh saja," sahut Buntala tersenyum ramah terdengar santai.

"Terimakasih, Om," ucap Antonio tersenyum lebar.

Si Kribo dan si Jabrix pun ikut tersenyum lebar. Sedangkan Khaira menghela napas panjang. Cempaka yang dari jauh membuntuti Khaira pun tersenyum remeh.

"Aku mau lihat, seberapa hebat anak bupati yang baru pindah sekolah ini. Gayanya sok banget," gumam Cempaka yang entah mengapa dari awal bertemu dengan Antonio sudah tidak suka dengan cowok itu.

"Jangan kedipkan matamu! Kita akan menyaksikan pertunjukan inti," bisik Yoga pada Zayn dengan mata yang tetap tertuju pada Buntala dan Antonio.

Zayn hanya diam dan tetap menatap ke arah Buntala dan Antonio. Zayn juga menatap sekilas ke arah Khaira.

"Kalau begitu, aku akan mengajak Khaira pergi sekarang," ucap Antonio bergegas meraih tangan Khaira.

"Greb"

Sebelum sempat tangan Antonio menyentuh tangan Khaira, Buntala lebih dulu memegang tangan Antonio. Pemuda itu menatap Buntala dengan tatapan penuh tanda tanya.

"Sebelum kamu mengajak pergi putriku, apalagi menyentuhnya, kamu harus aku tes dulu," ucap Buntala yang tiba-tiba auranya berubah menjadi dingin. Pria itu paling tidak suka putrinya di sentuh pria selain dirinya.

"Maksudnya?" tanya Antonio yang tiba-tiba merasakan aura dingin di sekitarnya. Padahal cuaca saat ini sedang panas.

"Jika kamu bisa menjatuhkan aku dalam tiga pukulan, aku akan mengizinkan kamu mengajak pergi putriku. Tapi..jika tidak bisa.. lebih baik mulai saat ini kamu jauhi putriku dan jangan pernah berharap menjadi pacar, apalagi suami putri kesayanganku," ucap Buntala dengan suara datar yang terkesan dingin.

"Om, yakin ingin aku pukul? Aku paling jago berkelahi," ucap Antonio penuh percaya diri.

"Tentu saja aku yakin. Sampai saat ini, belum ada satu orang pun yang bisa merobohkan aku dalam tiga pukulan," sahut Buntala dengan ekspresi serius.

"Bro, kalau kamu bisa membuat bapaknya Khaira jatuh, aku berjanji akan menjadi kacung mu," cetus Cempaka memprovokasi Antonio. Entah sejak kapan gadis itu sudah berada di samping Khaira.

"Baik, aku tidak akan sungkan lagi pada, Om," ucap Antonio tersenyum miring.

Ini adalah kesempatan bagi dirinya untuk membalas Buntala yang telah meremas jemari tangannya. Tentu saja pemuda itu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Apalagi setelah mendengar perkataan Cempaka, siswi yang sedari tadi terlihat meremehkan dirinya.

Dengan santai Buntala yang sedari tadi duduk di atas motornya itu berdiri. Pria paruh baya itu berdiri dengan tegak menghadap Antonio, siap menerima pukulan dari siswa yang sering pindah sekolah karena suka tawuran itu. Antonio mundur beberapa langkah dari Buntala untuk bersiap menyerang

Khaira menjauh dari bapaknya diikuti Cempaka, sedangkan Yoga dan Zayn nampak serius memperhatikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Tanpa disadari, tempat itu telah ramai oleh para siswa yang penasaran dengan siswa baru yang ingin mendekati Khaira. Yoga dan Zayn akhirnya keluar dari tempat persembunyian mereka dan melihat apa yang akan terjadi secara terang-terangan.

Sudah menjadi rahasia umum, siapapun yang ingin mendekati Khaira harus menghadapi bapaknya Khaira. Dan sejauh ini, belum ada satupun yang bisa mendapatkan restu dari pria paruh baya yang masih terlihat muda, tampan, gagah, berkharisma dan berwibawa itu.

"Hiyaaa.." pekik Antonio berlari dengan tangan terkepal kearah Buntala.

"Bugh"

Antonio meninju ulu hati Buntala dengan sekuat tenaga. Namun, pria paruh baya itu masih bergeming di tempatnya berdiri, tanpa bergeser sedikitpun. Wajah pria itu terlihat biasa saja, seperti tidak terjadi apa-apa pada dirinya. Padahal tangan Antonio terasa kebas dan memerah setelah meninju ulu hati Buntala.

"Buset! Aku seperti meninju tembok. Apa orang ini memakai baju besi?" gumam Antonio dalam hati dengan wajah memerah menahan sakit di tangannya.

"Gila! Bos sudah meninju dengan kuat, tapi orang itu masih bergeming di tempatnya," celetuk si Jabrik.

"Sepertinya si Bos kesakitan," sahut si Kribo.

"Baru satu pukulan. Kamu masih punya dua pukulan lagi untuk menjatuhkan aku," ucap Buntala dengan senyuman miring.

"Baik," sahut Antonio kembali bersiap memukul Buntala.

"Dia hanya akan mempermalukan dirinya sendiri," gumam Yoga lirih, tertawa tanpa suara.

"Brugh"

Kali ini dengan sekuat tenaga Antonio meninju wajah Buntala. Namun wajah pria paruh baya itu hanya sedikit menoleh ke samping. Masih terlihat santai dan tetap bergeming di tempatnya berdiri. Seolah pukulan di wajahnya tidak berarti sama sekali dan tidak terjadi apa-apa padanya.

"Cuma segini kekuatan kamu?" tanya Buntala tersenyum remeh.

"Sial! Orang ini manusia apa bukan, sih?!" gerutu Antonio yang merasa malu, karena tidak sedikitpun bisa membuat pria paruh baya di depannya itu goyah dari tempatnya berdiri, apalagi terjatuh.

Sedangkan semua orang yang ada di sekitar tempat itu mulai bercuit.

"Belum ada yang bisa membuat bapaknya Khaira tumbang,"

"Sudah dua pukulan, tapi nggak ada efek,"

"Aku bertaruh, dia tidak akan bisa menumbangkan bapaknya Khaira,"

"Kalau dia bisa menumbangkan bapaknya Khaira, aku akan lari lapangan bola sepuluh kali putaran,"

"Kalau hari ini bapaknya Khaira bisa ditumbangkan, besok akan aku borong semua makanan di kantin sekolah untuk semua siswa,"

Cuitan semua orang di sekitar tempat itu membuat darah Antonio terasa terbakar dan jiwanya tertantang. Karena nada bicara mereka terdengar meremehkan Antonio.

Antonio mundur beberapa langkah. Pemuda itu nampak kembali bersiap mengambil ancang-ancang untuk menyerang Buntala.

"Semangat, Bos!" ucap si Jabrik memberi semangat.

"Serang sepenuh tenaga, Bos!" si Kribo ikut memberi semangat.

"Bos pasti bisa menumbangkan orang itu," si Jabrik terus memberi semangat.

"Tap! Tap! Tap!"

"Hiyaa.."

"Brugh"

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!