NovelToon NovelToon

Laki-laki Yang Kupanggil Ayah Itu Suamiku

Bab 1

" Ibu, mas toni! Apa yang kalian lakukan? " Mataku membelalak kala aku masuk kamar dan mendapati suami dan ibuku tengah melakukan hubungan badan dengan posisi ibuku berada tepat diatas tubuh suamiku.

Didalam kamarku dan diatas kasur yang sama aku biasa melakukannya dengan suamiku.

Aku bahkan merasa malu sendiri melihat mereka tanpa sehelai benangpun menutupi tubuh mereka.

" Feby! Ka-kamu kapan datang? Ini tak seprti yang kamu lihat sayang. Aku, aku dan ibu.. "

Suamiku tergagap melihat aku berdiri diambang pintu.

" Sudahlah sayang, udah ketauan juga. Kita jujur aja sama feby ya. " Tanpa ada rasa bersalah ibuku justru terang-terangan mengatakan itu padaku.

" Apa maksud ibu? Mas tolong jelaskan, ada apa ini! " Aku berteriak tak perduli jika suaraku terdengar hingga ketelinga para tetangga.

" Ibu akan jelasin sama kamu, tapi apa kamu bisa keluar dulu. Kamu tau kedatangan kamu mengganggu ritual ibu. Ibu hampir sampai tapi kamu datang, sungguh waktunya tidak tepat. Ibu belum puas feby,ayo sayang kita lanjutkan lagi. Atau kamu mau tetap disni dan melihat betapa dahsyatnya goyangan ibu sampai suami kamu selalu ketagihan main sama ibu. Ayo feby, kamu harus belajar banyak dari ibu. " Ucap ibuku sembari bersiap naik keatas tubuh suamiku.

" Biadab kalian, kalian ini benar-benar bukan manusia! Kalian ini tak lebih baik dari hewan, pergi kamu mas pergi! " Aku meraung sejadinya sampai suaraku terdengar ketetangga dan beberapa orang yang kebetulan lewat didepan rumahku.

Semua orang tampak masuk karna bahkan aku belum sempat menutup pintu.

" Feby ada apa nak apa yang terjadi. " para tetangga berbondong-bondong datang karna mendengar teriakanku.

Sementara ibu dan suamiku sibuk menutupi tubuhnya dengan selimut lantaran pakaian mereka berserakan dimana-mana. Bahkan sprei dan selimut pun berhamburan dilantai.

" Astaga asti toni! Kalian? " Teriak salah satu tetanggaku.

Flashback

pov 1

Namaku adalah feby fatma wijaya. Nama wijaya adalah nama almarhum ayahku. Ayaku bernama Seto wijaya, ayah meninggal karna serangan jantung saat aku masih duduk dibangku sltp. Ibuku menjadi orangtua tunggal dan mengasuhku seorang diri.

Ibu memutuskan untuk tidak menikah lagi dengan alasan ingin fokus mengurusku. Ibuku memiliki usaha sendiri semenjak ayahku meninggal. Ibu bekerja disalah satu pabrik yang ada didesaku. Dari hasil kerja kerasnya sebagai orangtua tunggal ibu sukses menyekolahkanku hingga kejenjang perguruan tinggi. Berbekal ijazah D3 yang aku miliki aku bisa diterima kerja disalah satu pabrik sebagai staf.

Tepat diusia 25 tahun aku dipersunting oleh mas Toni, kami sudah menikah selama kurang lebih satu tahun, namun kami belum dikaruniai momongan.

Selama ini aku menyangka pernikahanku baik-baik saja. Aku dan suamiku hidup bahagia tanpa ada masalah ataupun yang lainnya.

Ibuku selalu bersikap baik pada suamiku, mereka selalu akrab dan kompak. Namun sama sekli tak terlintas dalam benakku mereka mencurangiku dan bermain api dibelakangku.

Petaka ini dimulai saat aku terpaksa harus menghadiri undangan pernikahan salah satu temanku dipabrik.

Seperti biasa aku pergi setelah berpamitan dengan Ibuku. Suamiku belum bangun karna dia baru saja pulang sif malam. Aku bekerja ditempat yang sama bersama suamiku.

" Bu feby mau kekondangan,feby gak tau akan keluar seberapa lama. Nanti kalau mas toni bangun tolong sampaikan sama mas toni ya bu. " Ucapku saat berpamitan dengan ibuku.

" Kamu gak usah hawatir sayang, nanti ibu sampaikan. Cepat gih, hari ini acaranya kan nanti kamu terlambat. " Ucap ibuku.

Setelah berpamitan aku lantas pergi dengan mengendarai sepeda motorku. Sesampainya diacara aku masih merasa tenang,namun ditengah acara entah mengapa hatiku begitu gelisah.

Aku memutuskn untuk pulang sebelum acara selesai.

Disepanjang jalan hatiku terus diliputi rasa kegelisahan, entah apa tapi rasanya ada yang hilang dari dalam jiwaku. Aku mengendarai sepeda motorku dengan kecepatan tinggi hingg tak butuh waktu lama aku sampai kerumah.

Setelah sampai dihalaman rumah jantungku semakin berdetak tak karuan, dadaku semakin berdebar dan aku merasa ada yang janggal karna rumah terasa sangat sepi .

" Ibu sama mas toni kemana ya? " Gumamku seorang diri sambil berusha membuka pintu karna seprtinya pintu dikunci dari dalam. Untung saja aku terbiasa membobol pintu rumah karna dulu setiap aku pulang terlambat dan ibu sudah tidur aku membobol pintu dari luar.

Setelah aku masuk aku mendengar suara-suara erangan yang berasal dari dalam kamarku.

" Kamu pintar sekali membuatku melayang-layang bu, ahh ibu trus bu aku hampir sampai. " Racau seseorang yang aku sangat paham suara siapa itu.

" Ahh jangan dulu keluar, ibu mau pindah keatas. Kamu harus ibu goyang dulu biar kamu gak pernah melupakan kenikmatan ini. Ibu sudah lama menunggu saat saat seprti ini. Ibu kesepian ibu uuh aah aah, ibu ah ah ehh ahh, toni milikmu begitu besar dan panjang. Enak sekali feby yang menikmatinya setiap hari. Kamu tau ibu tersiksa mendengar suara ranjang kalian berdecit setiap malam, ibu uh ah ah ah, ibu mendengar jeritan kenikmatan feby setiap malam." Racau ibuku, hatiku semakin terbakar dan aku sama sekali tak menduga semua itu.

Perlahan aku mendorong pintu kamar yang tak sepenuhnya tertutup dan benar saja.

" Ibuuu, mas toni! "

Flashback off.

" Ayo kita arak mereka keliling kampung. " Ujar tetanggaku yang lain.

" Jangan kita panggil saja pak kades, biar dia yang putuskan mau dipakan dua manusia ini. " Usul warga lainnya.

Lututku terasa sangat lemas, pandanganku gelap ,tubuhku limbung aku tak mampu lagi menahannya dan aku tak tau lagi apa yang terjadi setelah itu.

Aku tersadar saat ada aroma minyak oles dihidungku.

" Kenapa dirumahku ramai sekali, apa tadi itu hanya mimpi? Bu anis, kenapa ibu disini mana suami dan ibuku, kenapa ramai sekali, kenapa ada pak kades disni? " Aku masih merasa pusing dan setengah sadar. Aku beranggapan jika apa yang aku lihat tadi hanya mimpi. Namun satu hal yang membuatku semakin bingung. Rumahku ramai dan aku tak melihat keberdaan suami dan ibuku.

" Feby, kamu yang sabar ya nak. Mari ikut ibu kamu sudah ditunggu. " Ucap bu anis, aku semakin bingung saat aku dibawa kesalah satu ruangan yang ada dirumahku. Disana ada suami dan ibuku yang duduk bersandingan. Ada pak penghulu yang dulu menikahkanku ada pak kades pak rt dan pak rw.

" Naah itu feby sudah datang, kemari nak. " Ucap pak rw.

Hatiku semakin berdebar, ada apa ini? aku terus bertanya-tanya dalam hati. Aku melihat pak kades menatap suamiku dan suamiku menganggukan kepalanya.

" Feby fatma wijaya, mulai hari ini menit ini dan detik ini juga aku talak kamu, aku bebaskan kamu dari segala tanggungjawab atas diriku. Kamu bukan lagi istriku lagi sekali lagi aku katakan feby fatma wijaya aku talak kamu talak talak talak. "

Ucapan mas toni bagai belati yang menghunus kejantungku.

bab 2

Tubuhku limbung,kakiku terasa lemas dan tubuhku bergetar hebat.

" Ce-cerai mas? Kamu lebih memilih ibuku dibandingkan aku? " Aku tergagap, sama sekali tak percaya dan tak menduga semua ini akan terjadi padaku.

Pernikahanku hancur oleh ibuku sendiri, hatiku dibantai habis-habisan oleh suami dan ibuku sendiri.

" Iya feb kita cerai, sebenarnya sejak aku tinggal disini bersama kamu dan ibu kamu aku sedikit menaruh rasa pada ibu kamu. Meskipun dia sudah tua tapi pesonanya begitu memikat hatiku. Terlebih lagi dia lebih sexy dari kamu. Awalnya aku berniat mengubur rasa ini, tapi ternyata gayung bersambut. Ibu pun merasakan hal yang sama denganku. Selama ini kami sering bermesraan dan bertemu diam-diam. Namun baru kali ini kami melakukannya. Sungguh tubuh ibumu membuatku candu. " ucap toni tanpa memperdulikan didalam ruangan itu ada banyak pasang mata dan telinga yang menyaksikan dan mendengarkannya.

" Iy feb maaf ya, ibu juga udah kepencut sama suami kamu. Kamu tau kan ibu menjanda sudah sangat lama, maaf ya feb. Kamu masih muda kamu bisa ko cari suami lain. Yang lebih muda sekalian pun bisa, tomy buat ibu ya. " Ucap ibuku sembari mengedipkan salah satu matanya kearah mas tomy.

Sungguh aku sama sekali tak menduga ibuku dengan tega menghancurkan pernikahanku. Bahkan tanpa rasa berdosa ibu memintanya langsung dari ku .

" Silahkan,silahkan kalian menikah dan menikmati hasrat binatang kalian. Aku jiji dan aku malu punya suami dan ibu seprti kalian. Menikahlah diatas penderitaanku bu, kebahagiaan ibu tidaklah kan kekal. " Setelah mengatakan itu aku masuk kekamar ku.

Sementara diluar aku mendengar mereka mulai melaksanakan ijab qobul.

Pak rt dan pak rw sebagai saksi,mereka menikah disaksikan oleh semua tetangga dan warga yang kebetulan menyaksikan lagsung kejadian dirumahku.

Betapa sakit dan terlukanya hatiku, hari ini aku pergi menghadiri pernikahan sahabatku dan saat aku pulang aku dipaksa menghadiri pernikahan ibu dan suamiku.

Ijab qobul berlangsung dengan cepat, tanpa mahar dan dengan mas kawin cincin pernikahan yang ibu rebut paksa dari jariku sebel aku masuk kamar.

Semua orang mulai meninggalkan rumahku, suasana rumah mulai terdengar hening. Hanya ada suara tawa bahagia ibu dan bekas suamiku dikamarnya.

Laki-laki yang datang kerumahku berstatus sebagai suamiku kini sudah berubah status menjadi ayahku.

Entahlah aku harus memanggilnya apa.Tapi aku sama sekali tak sudi memanggilnya ayah. Aku menyesali pernikahanku, aku menyesali.

Aku sama sekali tak mau keluar bahkan untuk makan malam. Ibuku pun sama sekali tak memanggilku untuk makan malam. Hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu yang beradu.

Menjelang malam suasana semakin hening dan sunyi, aku diam dan hanya bisa meratapi kemalanganku. Aku menatap lekat bantal disebelahku. Biasanya suamiku ada disampingku, menatapku penuh cinta.

Namun sekarang aku baru menyadarinya jika cintanya palsu, kasih sayangnya semu. Ungkapan cinta yang selama ini diucapkan hanyalah buaian semata.

Mahligai rumah tangga yang ku bangun hancur tak bersisa bersamaan dengan hancurnya kepercayaanku terhadap ibu dan suamiku.

"Mengapa bu, mengapa harus suamiku? Tidakkah ada laki-laki lain lagi selain dia, tidakkah ada wanita lain selain ibuku? " aku tersadar dari lamunanku saat aku mendengar desahan dan rintihan dari kamar ibuku.

Kamarku dan kamar ibuku memang bersebelahan, tanpa melihat aku bisa menebak apa yang tengah mereka lakukan didalam sana.

Sesaat aku kembali teringat kebersamanku bersama suamiku, dikamar ini dan dikamar yang sama aku melihat dan menyaksikan sendiri penghianatannya.

Aku merasa jiji, aku lantas turun dari atas ranjang. Aku pindah kesofa. Aku berusaha menutup mata dan telinga agar tak mendengar jerit kenikmatan ibuku yang sedang mendapatkan hujaman-hujaman dari mantan suamiku.

Bayangan kebersamaan mereka menari -nari dipelupuk mata, rintihan kenikmatan ibuku menggema ditelingaku.

Aku ingin sekali berteriak dan meluapkan semuanya. Merasa tak tahan aku lalu keluar dari kamar dan aku memutuskan pergi keluar dan mencari udara segar.

Dikeheningan malam aku berjalan seorang diri, tatapan mataku kosong entah kemana kaki ini akan membawaku pergi. Aku hanya ingin menjauh dari manusia-manusia berhati iblis yang ada dirumahku.

Aku tersadar kala aku mendengar riak air didepan sana, dengan langkah cepat aku menuju kejembatan yang dibawahnya terdapat sungai berarus deras.

Aakhhhh

"Tuhaan, apa salahku! " Sekilas terlintas dalam benakku untuk mengahiri hidupku.

Saat kaki ini mulai menaiki pembatas jembatan, tiba-tiba ada yang menarikku dari belakang. Aku terjatuh dan tersungkur kejalanan. Tak kurasakan lagi sakitnya tubuhku menghantam kerasnya aspal jalanan.

" Hei apa kamu gila nona? " Ucap seorang pemuda yang entah siapa aku sama sekali tak mengenalnya.

" Hiks, untuk apa aku hidup. Aku sudah hancur, hatiku tercabik tak bersisa. Aku ingin mati saja. " Aku berlari menuju batas jembatan lagi. Namun kali ini laki-laki itu membiarkanku.

" Aku sudah berdiri dibibir jembatan dan siap untuk menjatuhkan diriku. Namun saat aku melihat gelapnya dibawah sana dan suara air yang menakutkan akal sehatku tersadar .

" Ayo turun, kenapa gk jadi mati? Bukankah kamu ingin mati, apa jika kamu mati nanti orang-orang yang sudah menyakitimu akan menyadari kesalahannya dan mencarimu? Meratapi kepergianmu? Tidak nona! Jangan bodoh dan jangan selemah itu. Dunia ini luas, aku yakin apapun yang terjadi pada kamu dan maslah yang kamu hadapi ada jalan keluarnya. " Ucapnya sembari menyodorkan sebotol air mineral untukku.

Aku mengulurkan tanganku dan mengambil air itu dari tangannya, setelah meminum air itu aku merasa sedikit tenang. Aku duduk disamping laki-laki itu dikegelapan malam. Bahkan aku sama sekali tak memiliki rasa takut jika dia orang baik atau jahat. Aku sudah pasrah akan hidupku.

" Te-terima ka-kasih. " Ucapku dengan suara bergetar.

" Reza, panggil aku reza. Kamu pasti belum mengenalku kan? Aku keponakan pak kades, aku datang dari kota. Aku tau apa masalah kamu, aku tau semuanya karna tadi siang aku jug datang kerumahmu bersama pamanku. " Ucap laki-laki yang mengaku bernama reza itu.

" Reza terimakasih, aku feby. Jika tidak ada kamu mungkin aku sudah hanyut dan tenggelam dikegelapan. Mungkin jazadku akan menjadi makanan ikan dan hewan lain, sementara ibuku dan suminya berbahagia diatas kematianku.

" Sama-sama,ayo aku antar pulang. Tidak baik jika kamu teruas disini. Aku juga tidak mungkin menamanimu jika kamu mau tetap disni. Itu akan timbul fitnah. Naiklah mari aku antar pulang, ini sudah larut. Kita bisa bicara lagi besok. " Ucap reza kemudian tanpa ragu aku naik ketas motor reza dan sesuai janji reza mengantarku pulang sampai rumah. Karna sudah larut aku tidak menawarkan reza untuk mampir karna aku juga tak mau timbul fitnah nantinya.

💕💕💕💕

Haai gais, bantu suport dengan like dan komen sebanyak-banyaknya ya. Jangan lupa kasih bunga atau secangkir Kopinya. Apalah arti tulisanku tanpa dukungan kalian. Terimakasih 🙏🙏🙏

bab 3

Sepanjang malam aku bahkan sama sekali tak bisa memejamkan mataku. Pagi tiba suara nyanyian burung terdengar begitu riangnya dipagi yang cerah ini.

Namun tidak dengan suasana hatiku yang mendung.

Aku keluar dari kamarku dan langsung mandi, aku sengaja mandi lebih awal agar aku tak bertemu dengan ibuku dan suami barunya.

Tapi memang ketidak beruntungan selalu mengikutiku, saat aku hendak masuk kekamar mandi sudah ada yang terlebih dulu masuk. Ya mungkin ibuku karna dia memang terbiasa mandi. Aku berusha duduk dimeja makan yang memang letaknya tak jauh dari kamar mandi. Namun saat aku baru saja hendak duduk aku mendengr suara tawa ibuku didalam kamar mandi.

Awalnya aku merasa aneh, apa yang membuat ibuku tertawa seorang diri didalam kamar mandi, akupun lantas mendekat dan ingin menanyakan hal itu pada ibuku.

Baru saja aku hendak mengetuk pintu, hal yang sama aku dengar lagi. Suara tawanya bercampur dengan desahan nikmat. Aku semakin penasaran, mungkinkah ibuku melakukan sesuatu disana sendiri? Tapi untuk apa, dia kan sudah punya suami. Aku semakin merasa penasaran. Hingga sesuatu yang kudengar membuatku merasa semakin jiji dan malu. Bagaimana tidak ibuku tengah melakukan sesuatu bersama suaminya didalam kamar mandi.

" Ah sudah mas, kita kan sudah puas melakukannya semalaman dikamar. Ini sudah cukup mas, ah ah ah mas aku hampir sampai, percepat sedikit mas ahh empt uh ah ah ah. " racau ibuku.

" Sabar sayang aku juga hampir sampai, tubuhmu yang basah membuatku tergoda sayang. Kenapa ini selalu menjadi candu untukku. Ah ah aku hampir sampai sayang. " suara toni terdengar begitu berat, seakan dia begitu meniknati permainannya didalam sana.

Tak selang lama terdengar jeritan nikmat dari keduanya dan bersamaan dengan itu terdengar suara gemericik air.

" Aku bisa gila kalau terus-terusan tinggal bersam mereka, baru genap sehari saja kepalaku sudah hampir pecah. Telingaku ternoda, Astaga tega sekali mereka. " Tubuhku yang bersandar dinding merosot hingga aku terduduk dilantai.

Air mataku luruh tak terkendali, aku bingung harus bagaimana aku menyikapi semua ini. Mereka seolah tak menganggapku ada tan tak memikirkan bagaimana perasaanku.

Aku bangkit dan mengusap air mataku, lalu aku lari menuju kamarku saat aku mendengr mereka selesai dan hampir keluar.

Aku berpura-pura baru keluar dari kamar, namun sialnya lagi-lagi aku harus berpapasan dengan mereka.

Ibuku dengan tubuhnya yang dililih tanduk dan suaminya pun melakukan hal yang sama, hanya melilitkan handuk sebatas pinggang saja. Yang membuatku semakin muak adalah tomy menggendong ibuku dari kamar mandi menuju kamarnya.

Hal yang tek pernah dia lakukan selama pernikahan kami. Aku sama sekali tak ada niat menyapa ibuku atau suaminya. Aku berjalan melewatinya begitu saja dan pura-pura tak melihatnya.

Lagi-lagi airmataku luruh seketika, bagaimana tidak selama menikah denganku aku tak pernah diperlakukan seromantis itu oleh suamiku. Namun dengan ibuku dia bersikap dan berperan menjadi suami yang paling manis dan romantis.

Tak sampai disitu, hatiku terasa sakit saat aku masuk kedalam kamar mandi. Selama menikah denganku kami hanya melakukannya diatas tempat tidur bahkan itupun tak setiap malam kami lakukan. Kami hanya melakukannya saat mas toni menginginkannya. Namun dengan ibuku bahkan mas toni melakukannya dikamar mandi. Aku merasa sedih sekaligus marah dengan diriku sendiri.

Aku menatap pantulan wajahku dicermin yang ada dikamar mandi, lalu aku menatap tubuhku sendiri sedikit lebih lama.

" Apa ada yang salah dengan tubuku, apa yang tidak aku miliki tapi ada pada ibu? Mengapa mas toni terlihat begitu mencintai ibu dan memperlakukan ibu dengan lembut. " Hiks hiks

Semakin lama aku meratapi itu semakin sakit hatiku. Karna tak mau semakin tersiksa oleh bayang-bayang itu aku lantas mandi dengan cepat dan setelah mandi aku lansung bersiap dan berangkat kerja.

" Feb, kamu tidak sarapan nak? semalam kamu melewatkan makan malammu dan sekarang kamu mau melewatkan sarapan juga. Nanti kamu sakit feb! " Ucap ibuku.

" Mengapa ibu tak menghawatirkan hati dan jiwaku saat kalian melakukan kebejadan kalian? Lalu kenapa sekarang mesti menghawatirkan kesehatanku. Biarlah aku sakit dan mati perlahan agar kalian bebas melakukannya dimanapun kalian mau dan agar kalian puas. Dari pada aku hidup tapi hatiku mati dan hampir gila karna ulah kalian! "ucapku tanpa menoleh karna disana ada mantan suamiku.

Aku pergi begitu saja dan membanting pintu dengan keras.

Didepan rumah tampak beberapa tetangga tengah berkumpul menggunjing kami. Beberapa diantara mereka merasa kasihan dan iba terhadapku. Namun ada juga yang mengejekku dan mentertawakanku.

" Hem, mungkin milik feby udah longgar jadi toni milih ibunya yang seret karna udah lama gak dipake. Secara ibunya kan janda. Pftt " Ucap salah satu ibu yang sedang ngerumpi itu.

Dikampung memang selalu seprti iti, setiap ada hal yang memang asik diperbincangkan mereka akan duduk bergerombol dan membuat presepsi sendiri.

" Hei bu jangan begitu, itu mah dasar ibunya aja yang gatel. Milik anaknya aja dia embat, gak menutup kemungkinan kan besok-besok dia embat suami-suami kita. Kalau gatal kan memang begitu. " ucap salah satunya lagi sambil mengedikan bahunya.

" Ih bu irma benar, mulai sekarang jaga suami kita dengan ketat. Bukan hanya ibunya anaknya juga pasti bahaya, diusinya kan dia lagi butuh-butuhnya kasih sayang dan belaian laki-laki. Nah sekarang suaminya udah sama ibunya. Dia pasti kan butuh sosok laki-laki pengganti. Waspada ibu-ibu, kalau ibunya begitu anaknya pasti sama. " Ucap bu hesti.

Lagi-lagi ucapan mereka begitu menyakitkan.

Aku yang memang sudah sedikit terlambat langsung pergi begitu saja melewati ibu-ibu yang tengah duduk diserambi rumahnya.

Aku melajukan sepeda motorku dengan kecepatan tinggi aku tak perduli lagi jika aku terjatuh atau kecelakaan. Hatiku begitu sakit, begitu malangnya diri ini.

Tak butuh waktu lama aku sampai kepabrik karna mungkin dengan bekerja aku bisa melupakan kesedihan dan kemalanganku.

Namun baru saja aku parkir sepeda motorku hal yang serupa terjadi padaku.

Rupanya berita tentang suami dan ibuku menyebar secepat angin berhembus. Hampir semua pasang mata menatapku seakan mereka tengah mengulitiku, sesaat setelahnya terdengar tawa dari beberapa diantara mereka.

" Ciye yang punya ayah baru. "

" Eh bentar lagi punya adek pasti. hahaha"

" Hei ibunya gesit juga ya, pasti punya susuk tuh. "

" Em pasti dia gak bisa goyang jadi suaminya pindah keibunya, atau mungkin punya dia udah longgar. Hahaha "

" Pantes si kalau si suaminya lebih pilih ibunya secara anunya ibunya lebih gede kali, lebih empuk, lebih emm pokoknya. Hahaha

Dan masih banyak lagi hal yang mereka katakan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!