NovelToon NovelToon

LEON'S SECRET GIRLFRIEND

KALAH TARUHAN

Becca berjalan menuju kelas dengan kepala tertunduk, berusaha berjalan lebih cepat untuk menghindari pandangan orang-orang di koridor sekolah.

Dengan mengenakan cardigan oversized, gadis berbadan besar ini tampaknya sedang berusaha menyembunyikan sesuatu di tubuhnya hasil dari karya sang ayah, yang memukulnya pagi tadi saat dia terlambat bangun.

Sebelum masuk ke kelasnya, Becca berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Dia selalu merasa gugup setiap kali akan memasuki kelas, terlebih lagi saat teman-temannya menatapnya dengan ekspresi tak menyenangkan.

"Hei, gendut, buang sampah lo itu, jangan menumpuknya! Lo pikir kelas kita ini tempat pembuangan sampah?" ucap salah satu teman sekelasnya dengan nada kasar.

Tanpa mengeluarkan suara, Becca berjalan menuju meja dan kursinya yang sudah berantakan, dengan sampah-sampah di atasnya.

Gadis itu mengambil sapu dan sekop untuk membersihkan semua kekacauan ini. Dengan sabar, Becca membersihkannya meski caci maki terdengar jelas di telinganya.

"Sabar, Becca, kamu harus sabar," ucapnya, mencoba menguatkan hatinya sendiri.

Saat Becca sedang membersihkan kekacauan yang ada, Nasya, Belle, dan Maria datang menghampirinya.

"Si gendut benar-benar rajin banget membersihkan kelas," ejek Nasya sambil tertawa.

"Haha, setelah ini kelas gue yang lo bersihkan ya Becca," tambah Maria sambil tertawa.

Sementara itu, Belle menendang tong sampah yang ada di dekat Becca, membuat sampah berhamburan ke seragam sekolah Becca.

"Ups, sorry," ucap Belle sambil menatap Becca.

Becca melihat ke arah Belle yang menatapnya dengan pandangan tajam, kemudian Becca memutuskan untuk menghindari kontak mata diantara mereka.

Becca memilih untuk mengabaikan mereka bertiga, karena bel sekolah akan berbunyi sebentar lagi dan dia harus segera menyelesaikan kekacauan yang telah terjadi.

Di tempat lain, seorang pria sedang duduk di depan televisi dan memainkan PlayStation. Dia tampak tegang dan berusaha memenangkan permainan yang sedang dia mainkan bersama sahabatnya.

"Sial, lo curang, Nath!" umpat Leon dengan kesal.

Nathan tertawa sumringah ketika dia menang dalam permainan PlayStation yang mereka mainkan.

"Gue menang taruhan, dan lo harus mengikuti semua perintah gue," ucapnya sambil tersenyum jahil.

"Gak mau! Gak sudi gue," tolak Leon.

"Gak bisa begitu, taruhan tetap taruhan," sahut Daniel.

Nathan mengangguk setuju dengan ucapan Daniel.

Sementara itu, Stefano tampak malas untuk ikut campur dalam permainan mereka bertiga.

Leon, yang merasa kesal, beranjak ingin pergi dari apartemen milik Stefano, salah satu sahabatnya.

"Mau kemana lo, Leon?" tanya Nathan.

"Pulang, lo main curang!" jawab Leon dengan nada kesal.

"Curang? Gue yang menang, lo aja yang sial, Leon," balas Nathan.

"Ih, gak asik lo, Leon," ucap Daniel, tampak sedikit kesal melihat Leon ingin pergi.

"Bagaimana kalau kita main sekali lagi? Jika gue menang, lo gak boleh menghindari taruhan kita, tapi jika gue kalah, lo bisa minta apa saja dari gue. Gimana, lo setuju?" tawar Nathan.

Leon tampak berpikir sejenak, lalu mengangguk setuju.

"Oke, gue terima penawaran lo," jawab Leon.

Nathan dan Leon pun kembali bermain PlayStation.

Leon tampak sangat berambisi untuk menang, karena dia tidak mau kalah taruhan dari Nathan.

Setelah bermain selama satu jam, akhirnya Nathan lagi-lagi menjadi pemenangnya.

Leon tampak kesal dengan hari sialnya dan dengan terpaksa menerima kekalahannya.

"Cepat katakan, apa yang lo mau?" tanya Leon dengan tidak sabar.

Nathan tertawa mendengar ucapan Leon.

"Lo gak sabaran banget," ejeknya.

Leon tampak kesal pada Nathan. Jika Nathan bukan sahabatnya, dia mungkin sudah menghajar pria itu sejak tadi.

"Oke, oke. Gue akan memberitahu apa yang gue mau," ucap Nathan sambil menahan tawa.

"Gue pengen lo pacari Rebecca, siswi kelas 11 IPS 5. Keren, kan, permintaan gue?"

Semua orang di sana menatap Nathan dengan heran, terutama Leon. Dia menggeleng, tidak bisa percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.

"Apa gue gak salah dengar?" tanya Leon, memastikan.

"Lo gak salah dengar, Leon. Lo harus pacari gadis gemuk itu sampai masa sekolah kita selesai!" ucap Nathan, memperjelas semuanya.

Stefano menatap kedua sahabatnya dengan waspada, khawatir Leon dan Nathan akan membuat keributan di rumahnya.

"Gue gak mau!" tolak Leon dengan tegas.

"Ya, jika lo gak mau, gak apa-apa. Tapi itu sama saja dengan mengakui bahwa lo adalah pecundang. Lo gak mau menerima kekalahan sejak awal," ejek Nathan.

Daniel, yang sejak tadi berdiri di antara mereka, siap mengambil langkah jika Leon dan Nathan mulai bertengkar.

"Oke, Fine! Gue terima tantangan lo!" ucap Leon dengan suara tinggi.

Pria itu mengambil tasnya dan pergi dari rumah Stefano, sementara yang lainnya menatap heran ke arah Nathan.

"Permintaan lo itu gila, menurut gue, Nath," ucap Daniel yang duduk dan menggantikan Leon bermain PlayStation.

"Gue gak mau persahabatan kita hancur hanya karena taruhan konyol kalian," sahut Stefano.

"Gak akan. Gue yakin Leon cukup berani terima tantangan ini," ucap Nathan dengan yakin.

Di dalam mobilnya, Leon tampak menunggu seseorang di depan sekolahnya. Dia ingin membuktikan kepada ketiga sahabatnya bahwa dia bukan pecundang.

Sambil menunggu bel pulang sekolah berbunyi, Leon mengambil sebatang rokok dari dasbor mobilnya.

Dia menyalakan rokok itu dan menghisapnya. Dia merasa sangat kesal hari ini dan satu-satunya cara untuk mengusir rasa kesalnya adalah dengan menghisap sebatang rokok.

Setelah menunggu selama satu jam, akhirnya pagar tinggi itu terbuka lebar. Siswa-siswi SMA Mulia berhamburan keluar dan pulang.

Setelah sekolah tampak agak sepi, barulah gadis yang ditunggu-tunggu Leon muncul. Dengan wajah tertunduk, Becca berjalan kaki keluar dari gerbang sekolah.

Leon pun keluar dari mobil dan menghampiri Becca yang berjalan di depannya.

"Hei, gendut, tunggu!" teriak Leon.

Merasa dipanggil, Becca menoleh ke belakang dan melihat Leon menghampirinya.

"Ada apa, Leon?" tanya Becca dengan suara pelan.

"Ikut gue!" perintah Leon, menarik lengan Becca.

Cengkraman tangan Leon membuat Becca meringis, karena Leon mencengkram lengan Becca yang memar.

"Lepaskan tanganmu, Leon," ucap Becca, menahan tangis.

Leon menghempas lengan Becca dengan kuat, saat mereka sudah berada di tempat yang sepi.

"Gue gak mau basa-basi dengan lo. Mulai hari ini sampai lulus SMA, kita pacaran! Tidak ada protes apa pun dari lo karena gue gak peduli,"

"Dan satu lagi, jangan biarkan semua orang di sekolah tahu bahwa kita pacaran! Jika mereka tahu, itu berarti karena lo," ucap Leon, mencengkram wajah Becca dengan kuat.

Setelah itu, Leon menghempas wajah Becca hingga tertoleh ke samping.

"Pergi sana, gue muak melihat wajah jelek lo!" ucap Leon, mengusir Becca.

Leon mendorong Becca untuk segera menjauh darinya. Becca tidak bisa menolak karena Leon tidak mau mendengarnya.

"Apa yang salah dengannya, sangat tidak jelas," gumam gadis itu sambil berjalan menuju rumahnya yang sangat jauh dari sekolah.

Dia harus berjalan selama sekitar satu jam untuk sampai ke rumah orangtuanya.

Rebecca, tidak pernah menyangka bahwa menjadi pacar Leon akan membuat hidupnya semakin hancur di masa mendatang.

DITUDUH TEBAR PESONA

Rebecca bangun lebih awal dari yang lainnya dan segera bergegas ke dapur untuk membantu Bi Asih menyiapkan sarapan untuk ayah, ibu, dan saudara tirinya.

"Tumben bangun lebih awal, Non Becca," ucap Bi Asih saat menyadari kehadiran Rebecca di sampingnya.

"Kalau terlambat, ayah akan marah lagi, Bi," balasnya sambil tersenyum.

Bi Asih menepuk pundak Rebecca dengan lembut, memberinya semangat.

"Sabar ya, Non. Bibi yakin suatu saat nanti tuan pasti akan sayang sama non Becca," ucap Bi Asih.

Rebecca hanya mengangguk pelan sambil tersenyum pahit. Dia tidak yakin ayahnya akan mencintainya, karena hingga sekarang pun dia tidak merasa memiliki tempat di hati ayahnya.

Saat Rebecca menyiapkan sarapan di meja, Beni turun dari tangga dan berjalan menuju meja makan. Pria itu duduk dan tidak menyapa putri kandungnya sama sekali, bahkan tidak melirik Rebecca.

"Selamat pagi, Ayah," sapa Rebecca sambil tersenyum.

Beni hanya melirik sebentar lalu kembali fokus pada tablet yang dia genggam.

Rebecca tersenyum pahit saat Beni tidak membalas sapaannya.

"Selamat pagi, Ayah," sapa Nayla, mengecup singkat pipi Beni.

Lalu Anne menyusul mengecup pipi suaminya, yang lebih dulu berada di ruang makan.

"Selamat pagi, Sayang," sapa Anne pada Beni.

"Selamat pagi juga, Sayang," balas Beni sambil tersenyum ke arah istrinya.

Rebecca, yang masih berada di sana, tersenyum pahit melihat ayahnya hanya tersenyum pada ibu dan adik tirinya.

Tidak ingin merasa semakin sakit hati, Rebecca bergegas kembali ke dapur untuk sarapan bersama Bi Asih.

Dia mengambil piring makanannya dan cepat-cepat bergabung bersama Bi Asih di dapur.

"Ini, Non, ambil saja ayamnya," ucap Bi Asih, menyodorkan ayam goreng miliknya.

"Tidak usah, Bi. Itu kan milik Bibi, jadi Bibi makan saja," tolak Rebecca dengan sopan.

Namun Bi Asih tetap meletakkan ayam goreng itu di atas nasi milik Rebecca. Dia tidak tega melihat Rebecca hanya makan nasi dan penyedap rasa saja tanpa lauk seperti yang lainnya.

"Non masih muda, dan harus makan makanan yang bergizi," ucap Bi Asih.

"Tapi aku takut kalau Ayah melihatnya, Bi," ucapnya pelan.

"Makanya cepat dimakan, Non. Jangan sampai Tuan melihatnya," balas Bi Asih, menyuruh Rebecca segera menghabisi makanannya.

Setelah selesai sarapan, Rebecca bergegas ke kamarnya, lalu keluar lagi dengan tas butut yang sudah pudar dan berjahitan di beberapa sisinya.

Sambil menggendong tasnya, Rebecca berjalan menghampiri ayah dan ibunya di ruang makan.

"Ayah, Ibu, Becca mau berangkat sekolah dulu ya," ucap Rebecca, hendak menyalami Beni dan Anne. Tapi saat Rebecca mengulurkan tangan, tidak seorang pun yang menyambut uluran tangannya.

"Ibu, lihat kaos kaki Nayla gak?" teriak Nayla dari lantai atas.

"Tunggu sebentar, Sayang, Ibu akan mencarinya," jawab Anne.

Setelah itu, Anne pergi dan menyisakan Beni dan Rebecca di sana. Saat Rebecca ingin melangkahkan kakinya pergi, Beni memanggilnya.

"Tunggu," serunya.

"Ada apa Ayah?" tanya Rebecca.

Beni merogoh dompetnya di saku celana, lalu membukanya dan memberikan uang tunai sebesar lima puluh ribu kepada putri kandungnya.

"Ini uang bulananmu!" ucap Beni, meletakkan uang selembar lima puluh ribuan di atas meja.

"Terima kasih, Ayah," ucap Rebecca tersenyum.

Rebecca selalu mensyukuri pemberian yang diberikan oleh Beni, Karena Rebecca sangat membutuhkan uang di saat seperti ini, dimana biaya sekolah memerlukan banyak pengeluaran.

Rebecca pergi ke sekolah dengan terburu karena dia harus berjalan kaki dari rumah ke sekolahnya. Melewati jalanan ibukota yang padat, gadis bertubuh gemuk itu tampak tergesa-gesa untuk bisa sampai di sekolahnya.

Namun, naas baginya, saat tiba di depan sekolah, gerbang itu sudah tertutup rapat. Itu berarti dia terlambat lagi masuk ke sekolahnya.

"Sial, banget kamu Becc? Lalu, sekarang harus bagaimana? Kalau aku membolos, pasti Ayah tahu. Nanti pasti Ayah akan memukulku," ucapnya dengan kebingungan.

"Hei, kenapa kamu masih berdiri di sana! Cepat masuk!" teriak satpam pada Rebecca.

Dengan cepat, Rebecca pun masuk kedalam halaman sekolahnya.

Rebecca berjalan mengikuti satpam tersebut menuju tengah lapangan. Setelah itu, satpam menginstruksikan Rebecca untuk berdiri di depan tiang bendera hingga jam istirahat pertama selesai.

"Sesuai instruksi dari Pak Steve, silakan kamu menghormat bendera hingga jam istirahat selesai. Kamu mengerti?" tanya satpam itu dengan tegas.

"Mengerti, Pak," jawab Rebecca dengan suara pelan.

Setelah itu, satpam tersebut pergi, dan hanya menyisakan Rebecca yang berdiri di lapangan.

Rebecca menghela napas dengan rasa pasrah, "Kamu pasti bisa, Rebecca," ucapnya, menguatkan hatinya sendiri.

Rebecca berdiri menghormat tiang bendera sudah lebih dari tiga jam. Tubuhnya yang gemuk tampak berkeringat banyak dan dia terlihat sangat kelelahan.

Hingga bel sekolah berbunyi, semua siswa berhamburan keluar dari kelas dan menyaksikan dirinya sebagai tontonan mereka.

"Najis banget si gajah keringatan,"

"Badak lagi berjemur tuh,"

Samar-samar, Rebecca mendengar ejekan dari teman-teman sekolahnya tentang fisiknya. Gadis itu hanya bisa diam, menatap ke atas tiang bendera sambil berharap air matanya tidak jatuh membasahi wajahnya.

Sebuah bola mendarat tepat di kepala Rebecca, hingga gadis itu mengaduh kesakitan karena kerasnya hantaman bola itu.

"Eh, sorry. Astaga, hidung lo berdarah," ucap Stefano dengan panik.

Lelaki itu membuka baju seragamnya, lalu dengan sigap membantu Rebecca untuk menghentikan pendarahannya.

Leon, Daniel, dan Nathan tampak berdiri tanpa bergerak, melihat kesigapan Stefano menolong Rebecca.

"Lo gak mau bantu dia, Leon? Itu kan pacar lo" tanya Daniel yang berdiri tepat di samping Leon.

"Najis gue bantuin dia!" jawab Leon dengan ketus.

"Lo masih ingat sama taruhan kita kan?" ucap Nathan, menatap sahabatnya itu.

Leon membalas tatapan Nathan dengan kesal, "Persetan?!" ucapnya kesal, lalu dia pergi meninggalkan lapangan.

Sementara itu, Stefano sudah pergi membawa Rebecca ke ruang UKS.

Di ruang UKS, Stefano membantu Rebecca berbaring di atas tempat tidur. Setelah itu, seorang adik kelas yang bertugas menghampiri Rebecca dan Stefano, dan dengan cepat melakukan tindakan penanganan untuk Rebecca.

Stefano menatap Rebecca dengan rasa bersalah, karena dialah yang telah menendang bola itu tanpa sengaja.

"Maafin gue ya, gue gak sengaja," ucap Stefano dengan rasa penyesalan.

"Tidak apa-apa, terima kasih sudah membawa ku ke ruang UKS," jawab Rebecca, tersenyum ke Stefano.

"Kalau begitu, gue kembali ke kelas dulu ya. Sebentar lagi bel akan berbunyi," ucap Stefano sambil berpamitan.

Rebecca mengangguk dengan lembut. Dia juga berencana untuk kembali ke kelas dan melanjutkan pelajaran berikutnya.

Stefano pergi lebih dulu, lalu disusul oleh Rebecca yang juga ingin meninggalkan UKS.

Saat Rebecca keluar, seseorang mencegahnya dengan mencengkram lengannya begitu kuat hingga gadis itu terkejut.

"Lepaskan tanganmu itu, Leon," ucap Rebecca, berusaha melepaskan diri.

"Gue bilang diam!" bentak Leon dengan kesal.

Lelaki itu membawa Rebecca menjauh dari ruang UKS.

"Kamu ingin membawaku kemana, Leon? Sebentar lagi jam pelajaran berikutnya akan dimulai," ucap Rebecca, meminta untuk dilepaskan.

Leon pun menghempas lengan Rebecca dengan kuat saat mereka tiba dibelakang halaman sekolah, setelah itu dia mencengkram wajah Rebecca hingga gadis itu sulit membuka mulutnya.

"Sekarang lo memang pacar gue, tapi lo harus tahu bahwa gue gak sudi membantu lo. Dan satu lagi, jangan sok nebar pesona deh sama sahabat-sahabat gue, karena lo gak pantas untuk siapa pun!" ucap Leon dengan tajam.

Setelah itu, Leon melepaskan cengkramannya dan pergi meninggalkan Rebecca sendirian di halaman belakang sekolah.

Rebecca menangis setelah mendapat perlakuan seperti itu. Dia ingin melawan tapi tidak berani mengingat Leon adalah anak pemilik sekolah ini.

"Kamu wanita lemah, Rebecca, sungguh lemah. Kenapa kamu mau diinjak-injak oleh mereka?" ucapnya, menangis terisak.

LEON JAHAT

Hari ini, Leon dan keluarganya pindah ke rumah baru karena kediaman lama mereka akan segera direnovasi. Lelaki itu dengan santainya pergi ke kamar barunya dan tidak tertarik untuk membantu yang lainnya memindahkan barang-barang.

Leon, menutup pintu kamar dan berbaring di tempat tidur. Memang jarak tempuh dari kediaman lama tidak jauh dari kediaman barunya, tetapi ada sedikit hal yang membuatnya keberatan untuk pindah ke rumah baru. Karena Leon baru saja tahu jika tetangga di depan kediaman barunya adalah rumah Rebecca, gadis gemuk yang telah menjadi kekasihnya.

Tok! Tok! Tok! 

"Leon, cepat turun, kita makan siang," ucap Sisilia di balik pintu kamar anaknya.

"Nanti aja, Ma. Leon belum lapar!" jawab Leon.

"Ya sudah, Mama dan Papa makan duluan ya?"

"Iya, Ma," jawab Leon.

Sisilia pun pergi, meninggalkan Leon yang masih berada di kamarnya

Leon berjalan menuju pintu balkon, dia membukanya dan berjalan keluar balkon

Leon menyalakan rokoknya dan menghisapnya, sambil memandang kawasan sekitar tempat tinggal barunya.

Saat asyik memandang sekitar, Leon terkejut dengan jeritan memilukan dari suara yang sangat dia kenali.

Leon mencoba mencari asal sumber suara, dan ternyata suara jeritan itu berasal dari Rebecca, yang terlihat menangis karena sedang dipukuli oleh ayahnya.

"Buset, besar banget suaranya si badak menangis," celetuk Leon sambil terkekeh.

Leon masih memperhatikan bagaimana Beni memukul putrinya. Dia tidak berminat menjadi pahlawan kesiangan dengan membela Rebecca, walaupun gadis itu adalah kekasihnya.

Keesokan harinya, dari balik jendela, Leon melihat Rebecca pergi ke sekolah sangat pagi. Bahkan, lelaki itu baru saja bangun tidur dan belum mandi, tapi Rebecca sudah pergi dengan berjalan kaki.

"Siswi paling rajin, tapi selalu masuk di kelas buangan," cibir Leon, menatap kepergian Rebecca.

Setelah Rebecca pergi, Leon pun bergegas ke kamar mandi dan bersiap-siap untuk menuju sekolahnya yang jaraknya agak jauh dari rumahnya.

Dengan kaki terpincang, Rebecca berjalan menuju sekolahnya. Gadis itu tampak lelah berjalan kaki dengan kondisi kaki yang sakit seperti ini.

"Tuhan, sakit sekali kaki ku," ucapnya meringis kesakitan, duduk di atas trotoar.

Dia menurunkan kaos kakinya yang panjang, dan melihat kondisi kulit kakinya yang lebam.

Gadis itu menitikkan air mata, mengingat Beni memukulnya kemarin hanya karena kesalahan kecil, yaitu tidak sengaja menumpahkan air dan membuat gelas kesayangan Ibu Anne pecah di meja makan.

"Ternyata gelas milik Ibu Anne lebih berarti daripada aku," ucapnya dengan nada sedih.

Rebecca kembali bangkit dari duduknya, dia berjalan lagi agar sampai di sekolah tepat waktu. Dia tidak ingin sampai terlambat lagi masuk ke sekolah.

Di tengah perjalanan, seseorang menghentikan motornya di samping Rebecca.

Gadis itu melirik dan menemukan Leon tengah duduk di atas motornya dan menatap rendah gadis gemuk itu.

"Lambat banget jalan lo. Berat banget ya bawa badan?" ucapnya dengan nada mengejek.

Rebecca hanya dapat tersenyum singkat, lalu melanjutkan jalannya menuju sekolah.

Dia tidak ingin berdebat dan meladeni Leon, yang menatapnya dengan tatapan hina.

"Sialan, lo gendut! Awas saja nanti!" maki Leon dengan kesal.

Leon menyalakan mesin motornya dan mengejar Rebecca yang sudah berjalan jauh.

Saat tiba di dekat Rebecca, Leon menendang tubuh gadis itu hingga jatuh tersungkur diatas tanah.

Leon berhenti dan tertawa melihat Rebecca yang meringis kesakitan.

"Itu balasannya karena lo sok kecantikan!" ucap Leon, menatap Rebecca dengan hina.

Kemudian, Leon kembali menjalankan motornya dan pergi tanpa memperdulikan Rebecca yang masih meringis dengan luka di keningnya karena terkena benturan batu.

"Lo kenapa?" tanya seseorang yang menghampiri Rebecca.

Rebecca menatap sebentar sebelum semuanya menjadi gelap, dan dia pingsan di depan lelaki yang menghampirinya.

"Gila, gadis ini pingsan lagi," ucapnya dengan bingung.

Dengan cepat, dia membawa Rebecca yang bertubuh besar ke dalam mobilnya.

Sepertinya dia akan menunda untuk datang ke sekolah barunya.

Dia akan mengantar gadis yang dia temui ini ke rumah sakit, untuk mendapatkan penanganan yang serius.

Dengan tergesa, Justin meminta beberapa Perawat membantunya saat tiba di UGD.

"Tolong bantu saya, teman saya kecelakaan!" ucap Justin meminta bantuan.

Seorang wanita pun, menghampiri lelaki yang sangat dia kenali.

"Ini siapa, Justin? Kenapa dia bersamamu Nak?" tanya Melani, seorang Dokter dan sekaligus ibu dari Justin.

"Aku tidak tahu dia siapa, Ma, tapi sepertinya dia akan satu sekolah denganku. Terlihat dari baju seragam kita yang sama." jawab Justin.

Rebecca pun dibawa ke ruang UGD oleh beberapa Perawat, Justin dan Melani pun mengikuti mereka dari belakang. Kemudian, salah satu rekan Melani yang juga seorang Dokter di UGD mencoba memeriksa Rebecca.

"Kamu menemukan gadis malang itu di mana, Nak?" tanya Melani pada putranya.

"Saat aku ingin ke sekolah, aku menemukan dia tersungkur dengan luka di dahinya, Ma. Aku tidak tahu apa penyebabnya dia menjadi seperti ini," jelas Justin menceritakan kronologinya.

"Melani, apakah putramu mengetahui keluarganya? Gadis ini harus ditangani dengan serius, di tubuhnya banyak sekali luka lebam yang sepertinya baru saja dia dapatkan dan ada beberapa yang sudah mengering. Dan dibagian kaki kirinya sedikit mengalami retak Melani," ucap dokter itu, menjelaskan kondisi Rebecca pada Melani dan Justin.

Justin menggeleng lemah, dia tidak tahu siapa keluarga gadis yang dia temui barusan.

"Luka?" tanya Melani, memastikan.

"Benar, Melani. Luka lebam yang sepertinya baru saja dia dapatkan. Sepertinya gadis itu sering mendapatkan kekerasan fisik dari seseorang, dan orang tuanya harus tahu ini," jawab rekan Melani.

Melani pun segera menghubungi sekolah tempat Justin akan bersekolah, dia akan memberitahu pihak sekolah agar bisa dilanjutkan ke pihak keluarga Rebecca.

Sambil menunggu keluarga Rebecca datang, Justin yang menjaga menjaganya.

"Rebecca Alisa, sepertinya lo bakal jadi teman pertama gue disekolah." ucap Justin menatap Rebecca dengan intens.

Lelaki itu memperhatikan Rebecca yang tampak tertidur pulas, dia melihat Rebecca seperti sangat kelelahan.

"Entah siapapun yang melakukan hal ini ke lo, gue bakal mengutuknya." gumamnya pelan.

Justin sangat kesal melihat fakta yang ada, bahwa gadis di depannya memiliki banyak sekali luka di tubuhnya, bahkan kedua orangtua Rebecca pun belum kunjung datang juga padahal gadis ini sudah berada di UGD lebih dari enam jam.

"Justin, apa orangtua gadis ini sudah datang?" tanya Melani yang menjenguk Rebecca.

Justin menggeleng lemah,"Belum Ma,"

Melani menghembuskan napas panjang, wanita itu mendekati Rebecca dan membelai lembut surai panjang gadis gemuk itu.

"Apa orangtuamu nak yang membuatmu seperti ini?" tanya Melani bergumam pelan.

Wanita itu mulai merasakan kejanggalan, kepada orangtua Rebecca. Jika orangtua normal

Mengetahui anaknya sakit pasti akan terburu-buru untuk menghampiri anaknya, tapi mengapa orangtua Rebecca berbeda tidak seperti orangtua lainnya yang malah terkesan santai saja mendengar putrinya masuk ke rumah sakit.

"Kalo orangtuanya gak datang bagaimana Ma?" tanya Justin cemas.

"Teruslah berdoa Justin, semoga Mama dan Papanya segera datang." jawab Melani yang masih berharap kehadiran orangtua Rebecca.

Apa yang diucapkan oleh sang Mama ada benarnya, dan dia pun terus berdoa agar kedua orangtua Rebecca segera datang dan melihat kondisi gadis yang terbaring lemah itu.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!