NovelToon NovelToon

Terjerat Cinta Laura

Awal Baru Untuk Laura

Angin musim panas berembus kencang, membawa kesejukan di musim yang paling disukai oleh penduduk Spanyol. Musim panas merupakan musim paling ramai di Kota Barcelona. Terdapat banyak sekali wisatawan lokal maupun mancanegara yang memenuhi setiap sisi jalanan Barcelona untuk menikmati berbagai hiburan yang disuguhkan.

Di saat yang sama, seorang gadis dengan penuh ambisi baru saja memulai kembali lembar kehidupannya di Kota Barcelona. Gadis tersebut bernama Laura Nieva, seorang gadis kelahiran Santiago de Compostela yang baru tujuh hari lalu pindah ke Barcelona untuk memulai hidupnya dari nol lagi.

Gadis itu bersenandung pelan sembari menyusuri bangunan gotik yang mewarnai setiap sudut kota. Selama satu minggu hidup di Barcelona, Laura selalu merasa senang karena ada banyak sekali hal-hal yang mampu mendistraksinya dari kerinduan dengan orang tua yang tinggal nun jauh di sana.

Langkah Laura terus melaju hingga ia tiba di sebuah toko bunga bernama Secret Garden. Sudah dua hari ini dia bekerja di sana dan dia merasa sangat senang dengan pekerjaannya. Apalagi atasan dan anak atasannya sangatlah ramah dan baik hati kepadanya.

“Selamat pagi, Lola,” sapa Laura pada Lola yang tampak sedang sibuk mencatat pesanan bunga yang masuk.

Lola adalah seorang janda yang tak lain adalah pemilik toko bunga di mana Laura bekerja. Wanita paruh baya itu membalas sapaan Laura dengan senyuman hangat lalu mengisyaratkan Laura jika mereka akan bicara nanti saja karena dia sedang menjawab telepon.

Laura yang memahami maksud Lola lantas masuk ke dalam toko bunga tersebut. Jika dari luar, mungkin toko bunga itu tampak seperti dua bangunan bertingkat saja. Namun, jika sudah masuk ke dalam maka akan terlihat bagaimana luasnya toko bunga tersebut. Bahkan, di dalam toko bunga itu terdapat sebuah taman berbentuk vertikal yang memudahkan pengunjung yang lewat untuk memetik bunga kesukaan mereka. Tak heran jika Secret Garden disebut sebagai toko bunga terbesar di Barcelona.

“Hai, Laura,” sapa Reyna, putri Lola yang juga ikut membantu pekerjaan di toko bunga tersebut.

“Hai, Reyna,” balas Laura.

“Bisakah kau membantuku untuk mengambil beberapa flower wrapping?” tanya Reyna.

Laura mengangguk. “Tentu saja, aku akan mengambilnya untukmu,” jawab Laura lalu pergi menuju lantai dua di mana tempat penyimpanan bahan-bahan untuk membuat buket bunga berada. Setelah mendapatkan apa yang diminta Reyna, Laura segera membawa kardus berisi flower wrapping kepada Reyna.

“Apakah ini cukup?” tanya Laura pada Reyna.

“Cukup. Ayo, bantu aku membuat beberapa buket bunga,” ucap Reyna yang dihadiahi Laura dengan anggukan kepala.

Setiap pagi sebelum toko dibuka, mereka akan membuat beberapa buket bunga untuk dipajang di depan toko bunga. Hal tersebut untuk memudahkan orang-orang yang sedang buru-buru dan tidak sempat untuk memesan terlebih dahulu. Mereka membuat buket mulai dari yang jenisnya sama, hingga yang dirangkai untuk beberapa jenis buka. Setelah selesai, mereka membawa buket-buket itu dan menatanya di sebuah rak susun yang terdapat di depan toko bunga.

Laura merasa sangat senang sebab dia bisa bekerja sembari menikmati aroma bunga yang sangat menyejukkan hatinya. Dia selalu menyukai bunga dan berbagai tanaman sehingga pekerjaan ini benar-benar cocok untuk dirinya.

“Apakah kau suka tinggal di kota ini, Laura?” tanya Reyna ketika Laura sedang membersihkan tangkai bunga dari dedaunan.

Tanpa menghentikan aktivitasnya Laura menjawab, “Aku suka tinggal di sini. Banyak sekali hal yang bisa aku lakukan selama di sini. Apalagi di sini sangat ramai dan banyak hiburan.”

Reyna terkekeh. “Di Barcelona memang selalu ramai dan banyak atraksi hubungan di jalanan saat musim panas. Bisa dibilang musim panas adalah musim yang paling disukai oleh orang-orang di sini,” jelas Reyna.

Di saat dua gadis itu sibuk bertukar cerita mengenai tempat kelahiran masing-masing, tiba-tiba saja panggilan dari Lola menginterupsi obrolan mereka berdua.

“Laura, ada pesanan untuk mendekor kamar Bryan Lorenzo. Pegawai yang bisanya aku tugaskan untuk mendekor kamar sedang tidak berangkat dan aku tidak mungkin menyuruh Reyna karena dia tidak terlalu mahir untuk mendekor kamar. Bisakah kau melakukannya?” tanya Lola.

Dengan cepat Laura mengangguk. “Aku bisa,” jawab Laura.

“Baiklah kalau begitu aku akan segera menyiapkan bunga-bunga yang diminta Bryan Lorenzo. Nanti aku akan memberikan alamatnya kepadamu,” ucap Lola kemudian berlalu pergi untuk menyiapkan bunga-bunga yang akan Laura bawa ke rumah Bryan nantinya.

“Siapa Bryan Lorenzo?” tanya Laura kepada Reyna setelah Lola pergi. Dia merasa kalau dia pernah mendengar nama itu di suatu tempat tapi dia tidak ingat.

“Dia adalah pria kaya raya yang usianya bisa dibilang cukup muda. Dia adalah tamu loyal di Secret Garden. Hampir setiap kali dia berkencan, dia selalu meminta kamarnya didekorasi dengan bunga,” jelas Reyna.

“Kudengar dia juga sangat tampan,” sambungnya sambil terkikik geli.

“Apakah dia terkenal?” tanya Laura lagi. Dia masih penasaran dengan pria itu. Kalau saja pria itu memang terkenal, mungkin saja Laura pernah mendengar namanya dari berita di televisi, bukan?

Reyna mengangguk dengan antusias. “Dia adalah salah satu pengusaha muda yang sangat sukses. Jadi, memang dia sering menjadi topik pembicaraan di televisi karena orang-orang kagum dengannya,” jelas Reyna.

“Oh, jadi begitu,” balas Laura sambil mengangguk-anggukkan kepala.

“Kalau kau bertemu dengan dia nanti, tolong katakan padaku apakah dia setampan foto-fotonya atau dia aslinya biasa saja, oke?”

“Memangnya pegawai toko bunga yang biasanya mendekor kamarnya tidak pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya?”

Reyna menggeleng. “Biasanya dia kembali ke sini sebelum pria itu datang bersama teman kencannya,” jawab Reyna.

Siang itu, Laura pun pergi ke alamat yang diberikan oleh Lola dengan mengendarai mobil yang biasa digunakan untuk mengirim barang dari toko bunga. Gadis itu menatap rumah yang berdiri di hadapannya dengan takjub. Rumah mewah yang berdiri di pinggir Kota Barcelona tentu menjadi sebuah hal yang menakjubkan bagi Laura mengingat bahwa pemiliknya pasti benar-benar orang kaya. Rasa lelah yang Laura rasakan akibat menempuh perjalanan jauh seolah hilang saat dia melihat rumah itu.

‘Pria itu pasti benar-benar kaya,’ gumam Laura dalam hati.

Gadis itu lantas turun dari mobil dan berjalan menuju ke pintu rumah dan menekan bel. Tak berselang lama kemudian, seorang asisten rumah tangga datang menemuinya.

“Apakah ada yang bisa kubantu, Nona?” tanya ART tersebut sambil memicingkan matanya saat mendapati wajah asing berdiri di depannya.

“Aku Laura dari Secret Garden. Pegawai yang biasa ditugaskan untuk mendekor kamar Tuan Bryan Lorenzo tidak berangkat jadi aku ditugaskan untuk menggantikannya,” jelas Laura.

“Maaf, Nona. Tapi Tuan Bryan tidak suka dengan pekerjaan yang hasilnya berbeda. Lebih baik Anda pulang saja,” ucap ART itu.

“Ah, baiklah. Aku pulang dulu,” ucap Laura.

Baru saja Laura hendak kembali menuju mobil, suara seorang pria menginterupsi dan membuat Laura menghentikan langkahnya.

"Biarkan dia masuk!"

Hasrat yang Menggebu

“Biarkan dia masuk,” ujar seorang pria yang tak lain adalah Bryan Lorenzo, seorang pria kaya raya yang ketampanannya mampu membuat para wanita takluk dengannya.

“Nona, Tuan Bryan ingin Anda masuk,” ucap ART, mengulangi perkataan Bryan.

Ucapan ART tersebut cukup mengejutkan Laura pasalnya tadi Reyna berkata kalau biasanya pegawai yang mendekorasi kamar Bryan tidak pernah bertemu dengan Bryan sebelumnya karena dia langsung pergi sebelum Bryan datang.

Laura berusaha memasang wajah datar, kemudian menoleh ke arah wanita paruh baya tadi.

“Aku akan mengambil barang-barang yang akan digunakan untuk mendekorasi dulu sebentar,” ucap Laura lalu bergegas menuju ke mobil dan mengambil sebuah kardus berukuran cukup besar yang berisi bunga dan barang lain untuk mendekor. Setelah mengambil barang-barang itu barulah Laura kembali menghampiri ART tadi.

ART itu mengajak Laura untuk berjalan mengikutinya menuju ke ruang tamu di mana bosnya berada. Di sana, Bryan tampak berdiri membelakangi Laura. Meskipun berdiri membelakangi Laura, entah kenapa Laura bisa merasakan ketegasan dan tensi dari cara pria itu berdiri tegap di depannya.

“Kau bisa pergi, Melisa,” ucap pria itu, menyuruh asisten rumah tangganya untuk meninggalkan mereka berdua.

Melisa pun mengangguk dengan patuh lalu pergi untuk melanjutkan pekerjaannya. Sementara Laura yang merasa kikuk berusaha untuk menjelaskan perihal kedatangannya ke rumah Bryan.

“Selamat siang, Tuan. Aku Laura dari Secret Garden dan ditugaskan untuk menggantikan temanku yang biasanya mendekor kamar Anda,” ucap Laura memperkenalkan diri.

Mendengar suara Laura yang terdengar menggelitik di telinganya, Bryan pun membalik tubuhnya. Detik di mana tatapan mereka bertemu, keduanya tak bisa saling mengalihkan pandangan.

Bryan terkagum-kagum dengan kecantikan yang dimiliki oleh Laura. Gadis berambut panjang itu memiliki kecantikan bak primadona, benar-benar sangat memukau. Sementara Laura merasa terpesona dengan ketampanan Bryan. Tak hanya tampan, pria itu juga memiliki tubuh atletis yang tampak tercetak dari balik kemeja yang dia kenakan. Pantas saja banyak wanita yang berlomba-lomba ingin berdekatan dengan pria itu. Lagi pula wanita mana yang tidak akan tergila-gila dengan pria tampan, kaya, dan memiliki tubuh kekar?

“Ikut aku,” ucap Bryan, membuat Laura tersadar dari lamunannya dan memutus kontak mata di antara mereka berdua.

Gadis itu menundukkan kepalanya kemudian berjalan mengekori Bryan meniti anak tangga menuju ke lantai dua. Dia berusaha untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu. Bagaimana dia tidak malu jika dia dengan terang-terangan tampak seperti sedang terpesona dengan ketampanan Bryan? Ya, memang betul Laura sempat terpesona. Tapi, seharusnya dia tidak menunjukkan hal tersebut secara terang-terangan.

Laura berjalan masuk mengikuti pria itu ke kamarnya. Gadis itu ternganga mendapati kamar yang ukurannya dua kali lipat jauh lebih besar dari apartemen yang dia tinggali.

‘Apakah bunga yang aku bawa cukup untuk mendekorasi kamar sebesar ini?’ tanya Laura dalam hati. Tapi, jika semua bunga itu sudah sesuai pesanan dan telah diperhitungkan oleh Lola, maka bunga itu tidak mungkin kurang.

“Aku sebenarnya tidak suka hasil pekerjaan dari orang-orang baru. Tapi, aku tidak mungkin membatalkan janjiku,” ujar Bryan kemudian membalik tubuhnya untuk menghadap ke arah Laura. “Aku ingin melihat bagaimana hasil pekerjaanmu. Kalau cocok dengan apa yang aku inginkan, maka aku akan memberikan bonus untukmu.”

Mendengar kata ‘bonus’ membuat Laura semakin bersemangat untuk melakukan pekerjaannya. Meskipun di kota kelahirannya Laura hidup serba berkecukupan, di Barcelona dia harus bekerja keras untuk dapat bertahan hidup. Maka dari itu dia merasa bersemangat senang untuk mendapatkan bonus. Lumayan, bisa untuk menambah penghasilannya.

“Dekorasi seperti apa yang Anda inginkan, Tuan?” tanya Laura kepada Bryan.

Bryan mengusap-usap dagunya. “Cukup ciptakan saja suasana yang romantis dari bunga-bunga yang kau bawa,” balas Bryan yang langsung dihadiahi Laura dengan anggukan kepala.

“Baik, Tuan,” ucap Laura dengan patuh seraya menganggukkan kepalanya.

Laura pun mulai mengambil beberapa tangkai bunga kemudian merangkainya dan menatanya di sekitar tempat tidur. Jika untuk dekorasi romantis, Laura tidak perlu mendekor seluruh kamar ini, bukan? Laura berpikir kalau nanti dia akan memfokuskan dekorasi romantis di tempat tidur lalu akan memberikan dekorasi bunga juga di sekitarnya. Nanti, dia akan menambahkan lampu kelap-kelip dan juga lilin-lilin untuk menambah keromantisan kamar tersebut.

Laura berusaha untuk tetap bersikap tenang saat melakukan pekerjaannya meskipun dia bisa merasakan kalau tubuhnya terasa panas akibat tatapan Bryan. Dia tahu kalau Bryan memerhatikan tubuhnya saat ini, bukan memerhatikan gerak-geriknya. Laura mati-matian berusaha untuk tidak memedulikan hal tersebut karena yang ada di pikirannya saat ini adalah fokus untuk melakukan pekerjaan.

‘Kenapa dia terus melihatku? Atau ini hanya perasaanku saja?’ tanya Laura dalam hati.

Di sisi lain, Bryan terus memerhatikan tubuh Laura. Gadis itu bukanlah tipe wanita yang memiliki tubuh indah seperti wanita-wanita yang selalu mendekatinya. Namun, ada daya tarik tersendiri dari gadis itu yang membuat Bryan menginginkannya.

Memiliki kemampuan untuk menaklukkan hati wanita bukanlah hal yang sulit untuk Bryan. Apalagi dengan reputasinya sebagai pria kaya raya yang sangat disegani, banyak sekali wanita yang datang kepadanya tanpa dia perlu meminta.

Tentu saja hal itu bukan satu-satunya reputasi yang melekat pada diri Bryan. Karena reputasi sebagai seorang playboy juga melekat padanya. Kerap kali tertangkap paparazi tengah menghabiskan waktu bersama dengan wanita yang berbeda-beda membuat banyak orang berpikir kalau dia bukanlah pria yang setia meskipun sebetulnya Bryan pun tak pernah menganggap wanita-wanita itu sebagai kekasihnya. Bagi Bryan, mereka hanyalah teman kencan butanya saja.

Namun entah kenapa, dia merasa sangat tertarik saat melihat Laura. Biasanya dia harus bertemu dengan seorang wanita beberapa kali baru dia akan memutuskan jika dia menginginkan mereka. Akan tetapi, Laura berbeda. Bryan bahkan merasa aneh dengan dirinya karena untuk pertama kalinya dia merasa sangat berhasrat pada wanita yang baru pertama kali dia temui.

‘Sial! Kenapa aku jadi menginginkan gadis ini?’ tanya Bryan dalam hati.

Pria itu meneguk salivanya, berusaha menahan hasratnya yang menggebu-gebu. Tubuh Bryan terasa sangat panas saat dia melihat bagaimana lekuk tubuh Laura. Apalagi cara Laura bergerak dan bekerja membuat gadis itu tampak semakin seksi di mata Bryan. Ditambah lagi saat Laura mengelap keringatnya. Hal itu membuat Bryan semakin tidak kuat untuk menahan gejolak di dadanya.

‘Apakah aku harus membatalkan janji kencanku dan meniduri gadis ini saja?’ tanya Bryan lagi dalam hati.

Tiba-tiba saja dia tidak berhasrat dengan gadis yang akan menjadi teman kencannya malam ini. Karena hasratnya sudah berpindah kepada Laura. Terdengar konyol, memang. Tapi, begitulah keadaannya.

‘Sial! Apa yang telah gadis ini lakukan padaku sampai aku merasa seperti ini?’ gerutu Bryan tanpa mengalihkan tatapannya dari tubuh Laura.

Tertarik Pada Laura

Meski merasa tidak nyaman dengan tatapan Bryan yang seolah sedang mengulitinya saat ini, Laura tetap mengerjakan pekerjaannya secara profesional. Gadis itu memilih untuk menghindar dari tatapan Bryan supaya tidak merasa semakin gugup.

Seumur hidup Laura, tidak pernah ada seorang pria pun yang menatapnya seperti itu. Bahkan pria-pria di masa lalu yang ingin menjadikan Laura sebagai pacar pun tidak ada yang menatap Laura dengan tatapan intens seperti Bryan. Hal tersebut tentu menjadi alasan kuat kenapa Laura sangat gugup dan salah tingkah.

‘Apakah dia selalu menatap orang-orang dengan tatapan seperti ini?’ tanya Laura dalam hati. Gadis itu tidak mau terlalu percaya diri untuk berpikir kalau Bryan hanya menatap seperti itu kepadanya. Mereka baru saja bertemu hari ini jadi mustahil kalau Bryan tertarik pada Laura. Setidaknya hal itulah yang ada di pikiran Laura saat ini.

Tiga puluh menit kemudian, Laura akhirnya selesai dengan pekerjaannya. Gadis itu kembali membereskan perlengkapannya dan memasukkannya ke dalam kardus kemudian membalik badannya.

Tepat saat Laura membalik badannya, lagi-lagi tatapan mereka bertemu. Bryan yang tertangkap basah sedang memerhatikan Laura dengan canggung mengalihkan pandangannya. Pria itu mencoba untuk bersikap tenang sembari menatap pada hasil pekerjaan Laura.

“Bagaimana dengan hasil pekerjaanku, Tuan? Apakah Anda menyukainya?” tanya Laura kepada Bryan.

Bryan memerhatikan hasil pekerjaan Laura. Seperti perintah Bryan tadi, Laura benar-benar menjadikan kamar Bryan tampak dua kali lebih romantis dari biasanya. Tempat tidur Bryan dibiarkan kosong dengan seprai putih supaya warna bunga tampak mencolok. Bunga yang dipilih oleh Laura juga merupakan bunga yang sangat romantis seperti mawar merah, putih, dan merah muda. Tak lupa Laura juga menambahkan lampu kelap-kelip di bagian atas ranjang dan kelambu untuk memberikan suasana yang lebih intim dan privat.

Melihat bagaimana suasana di kamarnya membuat Bryan kian berhasrat dan ingin menyerang Laura sekarang juga.

“Ya, hasilnya bagus. Jauh lebih bagus dari apa yang ada di bayanganku tadi saat kau datang,” jawab Bryan jujur.

Laura tersenyum lebar kemudian mengangguk. “Terima kasih, Tuan.” Begitu katanya. Saat gadis itu kembali menatap Bryan dia membuka suaranya, “Apakah aku sudah boleh pulang sekarang, Tuan?”

“Kau pasti lelah setelah melakukan pekerjaanmu, kita duduk dulu,” ucap Bryan kemudian mengajak Laura untuk duduk di sofa yang terdapat di dalam kamarnya.

Hal itu tentu membuat Laura terkejut bukan main. Laura yang tak sabar ingin segera pulang mau tak mau harus menuruti permintaan Bryan. Tadi, sebelum Laura berangkat ke rumah Bryan, Lola sempat mengatakan pada Laura untuk tidak menyinggung perasaan Bryan sebab Bryan adalah salah satu pelanggan tetap di Secret Garden. Ditambah lagi, pengaruh Bryan di dunia bisnis sangatlah besar. Lola takut jika ada karyawannya yang menyinggung perasaan Bryan, maka hal itu bisa mempengaruhi reputasi toko bunganya.

Laura mengangguk patuh lalu duduk di salah satu sofa sementara Bryan pergi ke salah satu sisi tempat tidur di mana sebuah lemari kaca berisi beberapa botol minuman berada.

“Apakah kau ingin minum sesuatu? Aku punya anggur, sampanye, rose dan yang lainnya kalau kau mau minum,” tawar Bryan sambil menatap penuh harap ke arah Laura.

“Tidak perlu, Tuan. Aku tidak terbiasa minum alkohol. Apalagi di jam kerja,” jawab Laura dengan sopan. “Tapi, terima kasih atas tawarannya.”

“Apakah kau yakin?” tanya Bryan sambil memiringkan kepalanya.

Laura mengangguk cepat. “Aku yakin, Tuan. Lagi pula tidak sopan rasanya jika aku minum di rumah customer toko bunga tempatku bekerja,” balas Laura.

“Air mineral saja kalau begitu,” gumam Bryan kemudian mengambil satu botol air mineral kemudian memberikannya kepada Laura.

Setelah menolak suguhan Bryan untuk minum bersama, Laura merasa tidak enak kalau harus menolak lagi sehingga kali ini dia menerima uluran botol mineral dari Bryan. Laura sungguh tak mengerti dengan orang kaya yang memberikan minuman seperti sampanye atau anggur kepada tamunya karena baginya itu sangat mahal. Tapi, melihat bagaimana mewahnya kehidupan Bryan, Laura berpikir kalau mungkin uang bukanlah hal yang perlu dipusingkan oleh Bryan.

“Terima kasih, Tuan,” ucap Laura lalu menegak minumannya.

Bryan terus menatap Laura dan memerhatikan bagaimana cara gadis itu minum. Setelah Laura selesai minum, Bryan lantas duduk di sofa berhadapan dengan Laura tanpa mengalihkan tatapannya sedikit pun dari Laura.

“Apakah kau sudah lama bekerja di Secret Garden? Aku sudah lama berlangganan untuk memesan bunga dan meminta Secret Garden untuk mendekorasi kamarku namun aku tidak pernah melihat dirimu,” ucap Bryan.

Meski tak pernah bertemu langsung dengan karyawan yang biasanya bertugas untuk mendekorasi kamarnya, Bryan tahu siapa yang melakukannya dan bagaimana wajah orang itu. Lagi pula, selain memesan bunga melalui telepon, Bryan juga pernah beberapa kali menyempatkan diri untuk mampir ke Secret Garden dan dia tidak pernah melihat Laura sebelumnya.

“Aku memang baru mulai bekerja di Secret Garden dua hari ini, Tuan,” jawab Laura sambil menundukkan kepalanya. Tatapan Bryan yang terlalu intens membuat Laura tidak kuasa untuk menatap pria itu. Jadi, dia lebih memilih untuk menundukkan kepalanya saja.

“Oh, benarkah? Pantas saja aku tidak pernah melihatmu,” balas Bryan, mencoba untuk bersikap ramah kepada Laura.

Pria itu tersenyum miring tatkala menyadari kalau Laura merasa terintimidasi oleh tatapannya. Bagi Bryan, gadis yang berada di dekatnya harus merasa seperti itu karena hal itu akan semakin membangkitkan gairah Bryan untuk melakukan hal-hal menyenangkan di atas ranjangnya yang membara.

‘Aduh, kalau dia terus menatapku seperti ini sepertinya aku bisa mati kutu di sini,’ gerutu Laura dalam hati sambil melirik ke arah Bryan yang masih belum mengalihkan tatapan dari dirinya. ‘Tidak bisakah dia mengalihkan tatapannya sebentar saja?’

“Kalau boleh tahu, apa alasan kau bekerja di Secret Garden? Kalau dilihat-lihat kau sepertinya gadis dengan latar pendidikan yang bagus. Selain itu, kau juga cantik dan memiliki tubuh yang indah. Kau pasti bisa mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik dari menjadi pegawai toko bunga,” tanya Bryan.

“Ceritanya panjang, Tuan. Maaf, tapi aku tidak bisa menceritakan kehidupan pribadiku kepada customer toko bunga,” jawab Laura.

“Aku punya waktu untuk mendengarkan cerita panjangmu itu,” ujar Bryan tak mau kalah.

Laura mengangkat kepalanya kemudian tersenyum tipis. “Tapi, sepertinya aku yang tidak punya banyak waktu, Tuan. Aku harus segera kembali ke toko bunga. Jadi, mana bonus yang sudah kau janjikan tadi, Tuan?” balas Laura.

Bryan mengambil dompetnya kemudian mengambil beberapa lembar uang dan memberikannya kepada Laura. Setelah mendapatkan bonusnya, Laura lantas berpamitan dan keluar dari rumah mewah itu.

Laura kini dapat bernapas lega setelah keluar dari kamar Bryan.

Namun tanpa Laura sadari, Bryan masih memerhatikannya melalui kaca jendela dan pria itu bergumam pada dirinya jika dia akan mendapatkan Laura

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!