NovelToon NovelToon

Fallin To Cousin

Hari Bahagia

Haii welcome to my second novel. Semoga novel ini tidak kalah ratingnya dengan novel ku sebelum nya. Happy reading!

"Satu.. Dua.. Tiga!" Ujar seorang pemuda tampan yang berusia 20 tahun memberikan aba-aba sebelum mengambil gambar untuk kesekian kali dengan kamera miliknya

Sementara yang kini menjadi objek adalah 3 orang yang disayanginya yaitu Ayah, ibu, dan sang kakak

"Bagaimana hasil gambarnya?" Tanya Sheza seolah meragukan kemampuan sang adik dalam membidik foto

"Sudah kakak tenang saja, aku jamin hasilnya tidak akan mengecewakan" Balas Javier 

"Awas saja kalau tidak sesuai dengan perkataanmu"

"Iya iya, dasar cerewet"

"Sudah sini kamu ikut juga. Berikan kameranya pada mereka" Ajak Sheza kepada sang adik

Mereka memang sudah menghadirkan fotografer untuk mengabadikan momen bahagianya hari ini, namun sang adik yang sangat tertarik dengan dunia fotografi meminta izin untuk mengambil beberapa foto. 

Hari ini adalah hari dimana dia bisa menyandang gelarnya secara resmi sebagai dokter anak. Sheza menempuh pendidikan di luar negeri sehingga mengharuskan anggota keluarganya datang ke negara ini untuk menghadiri prosesi wisudanya

Setelah mengikuti serangkaian kegiatan prosesi wisuda serta mengabadikan semua momen bahagianya, keluarga Sheza pun pulang ke apartemen yang menjadi tempat tinggal Sheza selama disini

"Mama dan Papa tidak bisa berlama-lama disini, jadi kemungkinan lusa kami sudah harus pulang. Apa kamu akan ikut pulang bersama kami?" tanya mama Vika kepada sang anak

"Pengennya sih begitu ma, tapi masih ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan dulu. Nanti biar aku pulangnya menyusul saja" 

"Baiklah kalau begitu. Sekali lagi selamat ya, sayang. Kamu sudah resmi menjadi dokter Sheza" Ujar sang mama tersenyum lembut

"Terimakasih mama dan papa" Ujar Sheza sambil mencium pipi kedua orangtuanya

"Hanya mama dan papa?" Tanya pemuda tampan yang tengah asik melihat-lihat hasil foto mereka melalui laptopnya

"Tentu saja. Memangnya apa peranmu semasa aku kuliah?" 

"Apa kakak tidak tau kalau dibalik kelulusan kakak ini ada doaku yang dikabulkan Tuhan" 

"Mungkin karena Tuhan terlalu kaget mendengar doamu yang hanya bisa dihitung jari itu" Sheza berkata sambil terkekeh

"Terserah kakak saja" Balas Javier kesal

2 hari kemudian

"Kami pulang duluan ya, cepat selesaikan semua urusanmu. Kami menunggumu disana" Ujar mama Vika sambil memeluk tubuh ramping nan proporsional anak gadisnya itu

"Iya ma, mungkin sekitar 2 minggu lagi aku akan pulang" Balas Sheza

"Hati-hati disini ya, sayang. Kalau ada apa-apa kabari kami" Itu petuah yang tidak pernah lupa diucapkan oleh papa Rega kepada putri tercintanya itu

"Iya papaku tersayang"

Tak lama kemudian terdengar berita panggilan untuk seluruh penumpang pesawat. Keluarga Sheza pun mulai berjalan meninggalkan gadis cantik itu

Setelah memastikan keluarganya sudah masuk, Sheza langsung memilih pulang ke apartemennya

2 minggu kemudian

"We will miss you, Se" ujar Steffy memeluk Sheza

Saat ini dia sedang berkumpul untuk yang terakhir kalinya sebelum Sheza kembali ke Indonesia esok pagi

"Kau harus datang sesekali kesini, jangan sampai melupakan kami" Kali ini Grace yang bersuara

Mereka adalah teman sekaligus sahabat Sheza selama menempuh pendidikan di negara ini

"Tentu saja. Aku akan mengundang kalian ke pernikahanku nanti" Canda Sheza

"Itu berarti masih sangat lama kita akan bertemu" ujar Steffy polos

"Hei apa maksudmu? Kau mengataiku masih lama menikah?"

"Tentu saja. Kau kan tidak punya kekasih"

Sheza menoyor pelan kepala sang sahabat. Tentu saja dalam hatinya belum ada niat untuk menikah, tapi mendengar kejujuran sang sahabat membuatnya geram juga

"Sudahlah, kita masih muda. Nikmati masa muda kita sebelum menjadi istri orang" Ujar Grace menengahi

Mereka pun melanjutkan sisa waktu mereka bersama sebelum perpisahan itu tiba. 

Sheza telah tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Hari ini adalah hari dimana dia menginjakkan kakinya kembali di tanah kelahiran setelah menyelesaikan pendidikannya. 

Dia menghirup napas dalam untuk merasakan udara di tanah air tercinta. Senyum manis terpampang di wajah cantiknya

"Kakak masih waras, kan? Apa karena terlalu bahagia sampai-sampai kakak menjadi gila seperti ini?" Celetukan kurang ajar itu mengalihkan pandangan Sheza

Disana sudah berdiri sang adik yang terlihat tampan dengan celana selutut dan kaos putih polos serta dipadukan jaket jeans berwarna biru muda. Pria tampan itu datang untuk menjemput Sheza

"Jangan merusak mood ku di hari pertamaku pulang" Ketus Sheza

"Lalu kenapa kakak senyum-senyum begitu? Aku pikir kakak sudah tidak waras" Javier semakin menggoda sang kakak

"Tutup mulutmu itu. Lebih baik kau membawa koperku ini, adikku tersayang" Sheza berlalu meninggalkan 2 buah koper berukuran besar tepat di depan sang adik

Tak lupa dia mengecup singkat pipi adik tampannya itu. Kemudian berjalan cepat karena yakin sang adik akan mengamuk setelah ini

"Kak Sheza!! Jangan menciumku!!" Sheza yang sudah berjarak 20 meter dari sang adik tertawa puas karena sudah membuat adiknya kesal 

Dangan sedikit kasar Javier mulai menarik kedua koper sang kakak. Wajah tampan itu kini terlihat tidak bersahabat

"Jangan mengajakku berbicara. Aku sedang ingin beristirahat" Ujar Sheza sesaat setelah mobil mulai melaju 

"Jangan kepedean, siapa juga ingin mengajak mu berbicara" Sewot Javier 

Setibanya di rumah, Sheza disambut hangat oleh kedua orangtuanya. Setelah melepas rindu, dia kemudian melangkah menuju kamar yang sudah lama tidak dia huni. Suasana di kamar ini masih sama, tetap rapi dan bersih karena dibersihkan setiap hari oleh para pelayan di rumahnya. 

Setelah membersihkan tubuhnya, Sheza pun berbaring di kasur empuk dengan sprei berwarna biru muda itu

"Ah nyamannya"

Tak terasa kantuk pun menghampiri dan membawanya berlayar ke alam mimpi

Saat makan malam tiba, keluarga Sheza tampak berkumpul di meja makan

"Akhirnya kita bisa berkumpul lengkap lagi" ujar mama Vika tersenyum cerah

"Iya ma, sudah lama rasanya kita hanya makan bertiga saja" sambung papa Rega

"Aku tau kehadiranku akan membahagiakan semua orang" canda Sheza yang membuat sang adik memasang muka jijik di sampingnya

"Kelewat PD itu tidak baik kak, nanti jodohmu jauh" ucap Javier asal

"Tidak ada hubungannya, dasar aneh!"

"Sudahlah, ayo makan dulu" mama Vika berujar sambil Menyendokkan sayur ke piring sang suami

Setelah selesai makan malam, kini mereka sedang berkumpul di ruang tengah

"Apa rencanamu selanjutnya, Se?" tanya papa Rega menatap anak gadisnya

"Yang pasti aku akan mencari pekerjaan, Pa. Tapi tidak sekarang hehe"

"Aku masih ingin istirahat dulu dan bermalasan di rumah" balas Sheza

"Baiklah kalau begitu. Kamu butuh bantuan? Papa bisa minta tolong teman Papa agar menerimamu bekerja di rumah sakit miliknya"

"No no no. Aku tidak mau, Pa. Biar aku sendiri yang mencari rumah sakit tempatku bekerja. Aku ingin dikenal sebagai dokter Sheza, bukan anak pak Rega" balas Sheza cepat

Mama Vika dan papa Rega tersenyum mendengar ketegasan sang anak

"Baiklah, nikmati waktu liburmu dokter Sheza. Semoga setelah ini kau cepat mendapatkan pekerjaan" ujar papa Rega terkekeh

Dia cukup bangga dengan prinsip sang putri. Dan tentu saja dia akan mengikuti keinginan sang anak, dengan tidak ikut campur dalam urusan pekerjaan nya. Papa Rega akan membiarkan Sheza berjuang sendirinya.

Sosok Keenan

"Selamat pagi pak" sapa seluruh karyawan yang berpapasan di lobi kantor. Namun sosok yang disapa hanya memberikan senyum tipis serta sedikit menganggukkan kepalanya

Langkah tegap penuh percaya diri itu terus melaju menuju lift khusus petinggi perusahaan yang membawanya ke lantai tertinggi dari bangunan mewah ini tempat dimana ruangannya berada

"Kapan pertemuan dengan perusahaan bodong itu akan dilakukan?" tanya pria tampan yang saat ini sedang duduk di kursi kebesarannya

"Jam 2 siang ini, tuan" balas sang sekretaris lugas

"Baiklah. Jangan bersikap mencurigakan sampai kita bertemu dengan mereka nanti siang. Saya tidak sabar ingin memberikan pelajaran kepada orang-orang seperti mereka"

"Baik tuan Keenan" ucap Raisa, sekretaris Keenan

Keenan Arsenio Abraham, adalah seorang laki-laki tampan dengan tubuh atletis yang merupakan CEO dari sebuah perusahaan terkenal yang bergerak di bidang investasi. Pria yang berusia 28 tahun itu adalah sosok yang cukup diperhitungkan di dunia bisnis

Ketegasan serta karismanya sudah tersohor di seluruh penjuru negeri. Dia tidak akan segan-segan memberikan sanksi kepada perusahaan yang ketahuan menipunya. Tentu saja berkat tim internal yang hebat dia bisa mengetahui informasi tentang sebuah perusahaan bahkan sampai ke akar-akarnya. Jadi sudah dipastikan mustahil bisa menipu seorang Keenan

Hari ini dia akan mengadakan pertemuan dengan salah satu kolega bisnis yang diketahuinya sedang berusaha memanfaatkan perusahaan investasi seperti miliknya. Pertemuannya kali ini tentu saja bukan untuk menandatangani kontrak kerjasama, melainkan untuk memberikan pelajaran kepada oknum-oknum seperti mereka.

Keenan tidak keberatan jika terus dihadapkan dengan para penipu seperti orang yang akan dia temui siang ini, karena sudah pasti dia bisa mengatasinya. Namun bagaimana jika orang-orang itu justru berusaha menipu perusahaan investasi kecil yang tentu saja minim pengalaman dan informasi. Keenan tentu saja tidak akan membiarkan itu terjadi

Siang hari,

Tampak dua orang pria yang sedang duduk mematung di hadapan dua orang pria lainnya. Bedanya mereka tampak pucat dengan dahi yang dipenuhi oleh keringat. Sedangkan kedua pria di hadapannya terlihat santai dan menikmati ekspresi yang mereka tunjukkan

Keenan meminum kopinya dengan tatapan yang tenang namun mematikan

"Seperti inilah kira-kira ekspresi para pemilik perusahaan investasi kecil yang sudah berhasil kalian tipu" Keenan berujar tenang sambil menatap bergantian dua orang di hadapannya

"Bedanya kalian takut akan segera dihukum, sedangkan mereka takut akan segera bangkrut" ketenangan Keenan nyatanya semakin menakutkan untuk kedua orang itu

"Bagaimana anda bisa mendapatkan semua itu? Bisa saja itu informasi palsu yang dibuat oleh orang yang tidak bertanggung jawab" bahkan di titik darah penghabisan pun salah satu di antara mereka masih mencoba untuk mengelak

"Sejak kapan informasi palsu mampu membuat orang menjadi ketakutan seperti kalian saat ini?"

"Lagipula sepertinya kalian tidak mengenalku dengan baik. Kalian salah dalam memilih lawan kali ini" smirk yang ditunjukkan Keenan membuat mereka menelan ludah dengan susah payah

Saat keheningan itu tiba-tiba terdengar notifikasi pesan masuk ke ponsel Keenan yang terletak di atas meja

Dia berusaha tidak tersenyum saat membaca pesan itu. Keenan berdehem sebentar menetralisir suasana hatinya. Tidak mungkin sosoknya yang dingin dan menakutkan tadi tiba-tiba berubah layaknya remaja yang sedang jatuh cinta

Pesan itu berasal dari kontak yang dia beri nama 'Mine'

"Tolong urus mereka, saya harus pergi sekarang" perintah Keenan kepada Arya, asisten yang selalu mendampingi Keenan ketika mengurusi pekerjaan di luar kantor

"Baik Pak" balas pria bertubuh tegap itu

Dengan langkah ringan, Keenan kemudian menuju mobil dan menancap gas menjauh dari restauran tempat mereka mengadakan pertemuan

"Kau sudah datang" sapa seorang perempuan cantik ketika melihat Keenan berjalan ke arahnya

"Tentu saja, mana bisa aku mengabaikan kekasihku ini" balas Keenan sambil memeluk singkat wanitanya

"Duduklah, aku sudah memesankan minuman kesukaanmu"

"Terimakasih, sayang" ucap Keenan tulus

Itulah yang membuat Keenan sangat mencintai sosok Indira. Sikap perhatian serta pengertiannya membuat sosok yang keras seperti Keenan jadi bertekuk lutut

"Jadi kenapa tadi kekasihku ini mengatakan bahwa ingin sekali bertemu denganku, hm?" tanya Keenan menatap lembut ke manik mata Indira

"Aku merindukanmu. Memangnya tidak boleh?"

"Tentu saja boleh, aku senang mendengarnya. Kau tahu, tadi pesan darimu itu hampir saja membuatku tersenyum di waktu yang tidak tepat" Keenan terkekeh pelan

"Apa tadi kau sedang meeting? "

"Hm tidak, sih. Hanya bertemu klien"

"Maaf ya, aku tidak tahu"

"It's okay" Keenan tersenyum sambil menggenggam tangan Indira lembut

"Ah sudahlah, aku malas membicarakan orang lain ketika kita sedang berdua. Lebih baik bicarakan tentang kita" lanjut Keenan

"Hehe baiklah"

"Oh iya apa agendamu untuk besok?" tanya Keenan kepada sang kekasih

"Besok mungkin aku akan melakukan pemotretan dan juga mengisi acara di stasiun televisi"

Indira adalah seorang chef sekaligus model terkenal. Dia biasa melakukan pemotretan layaknya model dan terkadang mengisi acara dengan tema memasak di televisi. Indira merupakan executive chef di sebuah hotel bintang lima yang terkenal di kota ini

"Semoga semuanya besok berjalan lancar" ucap Keenan

Mereka lalu hanyut dalam obrolan yang kian mengalir, menghanyutkan rindu yang tersimpan selama seminggu ini. Kesibukan keduanya membuat mereka tak bisa saling bertemu bahkan selama seminggu

Di tempat lain,

"Lihatlah pengangguran yang satu ini, sejak pagi tidak berhenti makan" sindir Javier saat melewati ruang tengah dimana Sheza sedang menonton sambil memakan camilan

"Cukup katakan kalau kamu iri kepadaku, tidak perlu sok menyindir begitu"

"Siapa juga yang iri, aku lebih senang seperti ini. Pergi keluar dan bertemu teman. Tidak menimbun lemak di rumah"

"Hei! sebaiknya kau segera menghilang dari hadapanku sebelum aku membanting kamera kesayanganmu itu" ancaman itu tentu saja terdengar horor di telinga laki-laki yang masih duduk di bangku kuliah itu

"Awas saja kalau kakak berani" namun Javier langsung melangkah setelah itu. Takut ancaman sang kakak menjadi kenyataan. Lagipula kelasnya akan dimulai 30 menit lagi

Setelah kepergian sang adik, Sheza kembali melanjutkan kegiatannya. Hari ini adalah hari pertama dia menjalankan misi 'istirahat '. Stres pasca kuliah menjadi alasannya untuk menghabiskan waktu dengan bersantai di rumah.

Hari-hari terus berjalan hingga tak terasa seminggu sudah Sheza di rumah. Dia menghabiskan waktu dengan menonton di rumah, pergi keluar sendiri, dan melakukan apapun sendirinya. Kebebasan benar-benar dia rasakan

Saat ini keluarga Sheza sedang makan malam bersama

"Se, tante Cindy katanya kangen kamu" ujar mama Vika memecah keheningan di meja makan

"Oh iya ma? Sheza juga merindukan tante Cindy dan om Fadhil"

"Iya, kemungkinan besok malam mereka akan datang kesini. Sudah lama kita tidak berkumpul bersama"

"Yeayy, Sheza bisa ketemu tante Cindy"

Bukan tanpa alasan Sheza sangat menyayangi tante Cindy, karena adik dari papanya itu juga sangat menyayanginya layaknya anak kandungnya sendiri. Bahkan Sheza ingat dengan jelas bahwa sewaktu masih kecil dia sering dibawa oleh tante Cindy keluar kota

Namun saat semakin dewasa, intensitas mereka bertemu semakin berkurang. Itulah yang membuat Sheza begitu antusias ketika akan bertemu dengan keluarga tante Cindy.

Melepas Rindu

Dering ponsel di atas meja mengalihkan tatapan seorang pria tampan dari layar datar yang berisi deretan angka. Keenan, lelaki itu sebelumnya tengah fokus dengan komputernya

"Halo Bun" sapa Keenan saat mengetahui sang ibu lah yang menghubunginya

"Lagi sibuk, Ken?"

"Tidak bun, ada apa?"

"Bunda cuma mau mengingatkan kalau nanti malam kita akan ke rumah Om Rega. Jadi usahakan cepat pulang ya"

"Oh iya hampir saja aku lupa. Oke bunda"

"Baiklah, bunda cuman mau mengingatkan itu saja. Takutnya kamu lupa. Bunda tutup telfonnya ya"

"Iya bunda"

Keenan terlihat serius melanjutkan pekerjaan yang tadi sempat tertunda

Di malam hari,

Keenan menuruni tangga menuju ruang tengah, dia sudah terlihat tampan dengan setelan celana jeans hitam yang dipadukan dengan baju kaos polos berwarna krem, serta kemeja jaket berwarna cokelat. Sangat jauh berbeda dengan setelan formal yang biasa digunakannya ke kantor

Sambil menunggu kedua orangtuanya, pria itu lalu duduk di sofa sambil memainkan ponsel, bertukar pesan dengan sang kekasih tercinta

"Kamu sudah siap, Ken?" tanya bunda Cindy saat mendapati sang anak sudah duduk santai di sofa ruang tengah

"Sudah bunda"

"Gantengnya anak bunda" goda Cindy yang membuat Keenan tersenyum tipis

"Aku tahu bun" balasnya narsis

"Kalau sudah siap ayo kita jalan" ajak Ayah Fadhil

"Biar aku saja yang nyetir, Yah"

"Yasudah, ayo"

Mobil yang dikendarai oleh Keenan telah memasuki pekarangan rumah keluarga mama Vika dan papa Rega. Mereka sudah lama tidak berkunjung secara khusus seperti ini, karena kesibukan masing-masing membuat kedua keluarga itu jarang bisa saling berkumpul bersama

"Bunda sudah tidak sabar ingin bertemu Sheza" binar bahagia menambah kecantikan di wajah bunda Cindy

Nama Sheza sudah sering kali keluar dari mulut bunda Cindy, setidaknya seminggu belakangan ini setiap hari Keenan mendengar sang bunda menyebut nama itu. Dia tahu bundanya sangat menyayangi keponakannya itu. Mungkin karena Keenan adalah anak tunggal dan tidak memiliki adik, sehingga bunda Cindy sangat menyayangi Sheza.

Setelah keluar dari mobil mereka kemudian dipersilahkan masuk dan disambut hangat oleh mama Vika dan papa Rega

"Haii long time no see" kehebohan itu berasal dari bunda Cindy dan mama Vika

"Kalian ini tidak berubah ya" celetuk papa Rega melihat kelakuan sang adik dan juga istrinya.

bunda Cindy dan dan mama Vika adalah sahabat sejak dulu, dan karena hubungan mereka itu pula lah yang membuat papa Rega bisa mengenal bahkan sampai menikahi mama Vika, sahabat adiknya

"Abang seperti tidak tau saja bagaimana kami kalau sudah bertemu" ujar bunda Cindy

"Ayo silahkan masuk" ajak mama Vika

"Hai om, tante" sapa Javier saat melihat keluarga bunda Cindy sudah tiba, pria jangkung itu kemudian menyalami keduanya

"Kak Keenan semakin tampan saja" Javier dengan jahil menggoda Keenan

"Ini modus mu kan supaya aku juga bilang kamu tampan" ucap Keenan membalas candaan sang adik sepupu.

Mereka memang jarang bertemu, tapi jika sudah bertemu mereka bisa terlihat begitu dekat dan akrab, begitulah keluarga

"Ah kak Keenan tidak asik, bisa menebak pikiranku"

"Kau sudah tampan, tidak perlu validasi dari siapapun" Keenan terkekeh sambil menepuk pelan pundak Javier

"Kalau sudah kak Keenan yang mengatakan aku tampan, maka aku tidak butuh validasi dari siapapun lagi. Sudah sangat valid" ujar Javier tersenyum lebar yang mengundang gelak tawa semua orang.

"Tante Cindy! Om Fadhil!" suara yang cukup nyaring itu seketika mengalihkan pandangan semua orang ke arah tangga

Pasalnya disana tampak Sheza sedang bergegas menuruni tangga menuju mereka semua

Sheza merentangkan kedua tangannya memeluk sepasang suami istri yang tak kalah dia rindukan. Mereka layaknya orangtua kedua bagi Sheza. Sedari kecil mereka selalu memperlakukan Sheza seperti anak bungsu mereka sendiri

"Tante kangen kamu, sayang" Bunda Cindy sampai meneteskan air mata saking bahagianya saat bertemu Sheza

"Sheza juga sangat merindukan tante dan om" balas gadis itu

"Sheza sehat?" kini sosok om yang sudah terasa seperti ayahnya itu yang bersuara

"Sangat sehat om" tanpa sengaja Sheza mengencangkan pelukannya

Beginilah kalau sudah bertemu dengan anak bungsunya

Batin Keenan melihat pemandangan di depannya

"Boleh kita makan sekarang? Sepertinya kak Keenan sudah kelaparan. Iya kan, kak?" Keenan memicingkan matanya menatap pelaku yang sudah memfitnah dirinya. Sementara Javier, ditatap seperti itu hanya tersenyum sambil menampakkan deretan giginya yang rapi

"Oh iya, ayo kita makan dulu. Nanti dilanjutkan lagi melepas rindunya" ajak mama Vika

"Ayo dimakan, kak. Tadi kakak bilang kakak sudah lapar" ternyata Javier masih terus menggoda kakak sepupunya itu

Sosok Keenan yang cool membuatnya terhibur ketika menggoda pria itu

"Jangan memfitnahku, Jav" Keenan mendorong pelan bahu Javier yang duduk di sampingnya

"Oh iya Sheza, Keenan, kalian sudah lama tidak bertemu. Tidak ingin saling menyapa?" Tiba-tiba bunda Cindy bersuara

"Ya ampun Sheza sampai lupa. Hai kak Ken, maaf ya tadi Sheza terlalu merindukan om dan tante" ujar Sheza tersenyum malu

"Tidak apa-apa Sheza"

Mereka terlibat kontak mata untuk beberapa saat

"Bagaimana kabar kakak?"

"Baik, seperti yang kamu lihat" Keenan tersenyum tipis

"Aku lihat kamu tumbuh dewasa dengan baik" tambah pria tampan itu. Dia menyadari bahwa Sheza telah tumbuh menjadi gadis yang cantik dan manis

"Terimakasih kak"

Sheza memang tidak terlalu dekat dengan kakak sepupunya ini. Karena sikap Keenan yang tidak sehangat Javier menurutnya

Setelah berbasa basi, kini dua orang itu tidak lagi saling menatap

Makan malam itu pun terasa menyenangkan dengan diselingi obrolan ringan

"Dia pintar, tampan, baik, dan juga terlihat cool. Kekurangannya cuma satu"

"Apa itu?" tanya bunda Cindy merasa tertarik

"Dia tidak menyukaiku balik" Sheza tertawa cukup kencang, lebih tepatnya menertawakan kisah cintanya yang bertepuk sebelah tangan

Saat ini mereka sedang membicarakan tentang laki-laki yang pernah disukai Sheza dulu di kampusnya

"Yahh apa matanya itu rabun sehingga tidak bisa menatap kamu yang bening begini" komentar bunda Cindy

"Kan selera orang beda-beda, tante. Lagipula dia mungkin tidak tau kalau Sheza menyukainya"

"Dia pasti sangat menyesal tidak membalas perasaanmu. Sabar ya sayang, Tuhan sudah mempersiapkan jodoh yang terbaik untukmu" bunda Cindy menepuk pelan bahu Sheza seakan memberi kekuatan pada gadis itu

"Sheza tidak apa-apa, tante. Serius"

"Tapi syukurlah, jika dia membalas perasaanmu maka sudah pasti kamu akan menetap disana" tampak bunda Cindy tidak rela jika hal itu terjadi

"Sudahlah, sekarang Sheza tidak ingin memikirkan itu dulu. Berkarir jauh lebih menyenangkan"

ujar Sheza membayangkan dia yang sedang memakai jas dokter dan bertemu dengan pasien-pasien kecilnya

Para lelaki pun tampak asik dengan topik obrolan mereka yang tidak jauh dari seputaran masalah kantor

Javier yang merasa tidak tertarik dengan obrolan kedua kelompok itu memilih duduk sendiri sambil memainkan ponselnya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!