NovelToon NovelToon

Benih Tuan Arogan

Bab 1 - Pergi sejauh mungkin

"Terimakasih untuk makan malamnya."

Alea mengangguk sambil menatap wajah sang suami yang selalu saja terlihat sangat tampan. Sampai saat ini dia dan suaminya masih saja pisah rumah karena permintaannya sendiri saat pertama kali menikah dengan alasan membenci suaminya.

Namun, seiring berjalannya waktu, Alea mulai luluh dengan sikap penuh tanggung jawab Rocky, pria yang dulunya adalah majikannya sebelum tragedi pria itu merebut kesuciannya secara paksa dan mengumamkan wanita lain.

Alea pernah kabur sebelumnya, tetapi ditemukan hingga terpaksa harus menikahi pria arogan dan tutur katanya kasar hingga menembus jantung.

"Apa malam ini kamu tidur di sini seperti sebelumnya?" tanya Alea memastikan. Pasalnya beberapa bulan terakhir, Rocky selalu saja tidur dengannya dengan alasan nyeyak tanpa harus kehausan tengah malam.

Mungkin karena afek kehamillanya, Rocky mengalami ngidam simpatik yang aneh. Hanya makan jika makanan itu di buat dari tangan Alea langsung. Jika dari orang lain, suaminya akan merasakan mual berlebihan dan lemas sendiri.

"Malam ini tidak, saya kedatangan tamu di apartemen." Rocky beranjak dari duduknya kemudian meninggalkan apartemen sang istri yang kebetulan berseberangan dengan apartemennya.

"Baiklah."

Alea bergegas memberaskan bekas makan suaminya dan berniat istirahat sejenak, terlebih perutnya yang membesar membuat dia kesulitan melakukan sesuatu, tetapi untuk menyiapkan makanan untuk Rocky dia selalu siaga karena tidak tega melihat wajah pucat suaminya. Suami yang telah berhasil mengambil hatinya sejak beberapa minggu yang lalu, hanya saja belum berani berterus terang, terlebih Rocky pun seakan tidak peduli akan keadaanya.

Pergerakan Alea terhenti ketika melihat benda cukup tebal tergeletak di samping kursi yang di duduki Rocky tadi. Ia mengambilnya dan memperhatikan secara seksama.

"Dasar ceroboh, dompet saja dia lupa," gumam Alea.

Wanita ber perut besar itu segera menyusul suaminya ke apartemen sebelah. Mengetikkan sandi sebelum akhirnya menerobos masuk dan mendapati ruangan luas tersebut cukup sunyi seperti biasanya.

Awalnya Alea akan meletakkan dompet tersebut di atas meja ruang tamu, tetapi urung mendengar pembicaraan seseorang di sebuah kamar. Ia berjalan mendekat dan menempelkan telinganya pada daun pintu sehingga mendengar obrolan di dalam sana.

"Apa kamu benar mencintaiku, Rocky? Kalau begitu nikahi aku secepatnya atau aku akan benar-benar pergi dari hidupmu! Kau mencariku, memancingku untuk mendekat dan sekarang kembali mengabaikanku!"

"Aku akan menikahimu, Rumi. Tapi tidak sekarang. Tunggu tiga bulan lagi, setelahnya kita akan hidup bahagia."

Alea menitikkan air mata mendengar pembicaraan dua pasang manusia di dalam kamar suaminya. "Rumi? Apa dia Arumi yang terus dia sebut saat mengambil kesucianku? Dia kembali?" batin Alea terus saja bertanya-tanya.

Dia bergegas meninggalkan apartemen suaminya dan kembali ke apartemennya sendiri. Ia duduk di balik pintu, menangis sambil mengelus perutnya yang membesar, kata dokter, sisa satu bulan lagi dia akan melahirkan.

"Kenapa rasanya sakit mendengar pembicaraan Rocky? Bukankah aku yang meminta perjanjian ini sebelum menikah? Cerai setelah melahirkan dan hak asuh jatuh kepadanya."

"Tidak, aku tidak akan memberikan anakku pada siapapun bahkan papanya sekalipun!" Alea mengusap air matanya yang terus berjatuhan.

Meski sebelum menikah ada perjanjian di mana setelah melahirkan dia akan pergi, tetap saja Alea tidak bisa melakukannya lagi, terlebih dia adalah calon ibu.

"Aku harus pergi."

...

Alea menyiapkan segala sesuatunya di apartemen seperti biasa. Membuat sarapan untuk Rocky karena yakin pria itu akan berkunjung sebelum berangkat ke kantor. Dalam diamnya, Alea sedang memikirkan akan pergi ke mana agar Rocky tidak menemukannya seperti sebelumnya.

Lamunan Alea buyar ketika mendegar suara pintu terbuka.

"Hari ini saya akan ke luar kota, jadi tidak perlu menyiapkan makan malam atau pun siang."

"Hm."

"Arumi. Apa dia belum bangun?" tanya Rocky lagi.

Alea tampak diam sejenak. Hampir saja dia lupa bahwa Rocky memiliki putri angkat bernama Arumi, persis seperti perempuan di masa lalu pria itu.

"Dia masih tidur. Makanlah, aku akan ke kamar sebentar." Alea beranjak karena tidak kuasa melihat wajah Rocky. Wajah itu hanya akan mengingatkannya pada pembicaraan semalam.

Hingga Rocky meninggalan rumah pun, Alea masih saja berada di dalam kamar. Bukan menangis, melainkan memeriksa semua barang-barangnya agar tidak ada satupun yang ketinggalan.

Jam 9 pagi, barulah Alea meninggalkan apartemen bersama Arumi, anak angkat Rocky yang akan dia titipkan pada adik Rocky sebelum benar-benar pergi dari hidup pria yang tidak punya perasaan tersebut. Kedatangan Alea di rumah adik iparnya di sambut ramah oleh wanita berhijab besar yang sedang menyiram bunga di depan rumah.

"Alea, apa kabar? Lama tidak bertemu?" sapa Rahma, istri dari adik Rocky.

"Baik."

"Ayo masuk dulu!"

"Tidak perlu, saya datang cuma mau menitipkan Arumi sebentar. Nanti bakal dijemput sama Rocky, saya ada urusan."

"Oh begitu, ya udah. Hati-hati ya, kabarin kalau ada apa-apa soalnya kamu lagi hamil tua."

Alea hanya membalas anggukan setiap perkataanya iparnya. Dia bergegas meninggalkan rumah mewah tersebut. Perasaanya cukup lega lantaran tidak ada yang mencurigai gerak-geriknya.

Sepanjang perjalanan, Alea terus mengusap perutnya, terlebih saat merasakan gerakan-gerakan kecil dari dalam sana. Dia tersenyum meski hatinya sedang sakit.

"Maaf karena akan membawamu pergi dan hidup menderita, Nak. Ibu hanya tidak ingin ayahmu nanti akan memisahkan kita. Cintanya yang hilang telah kembali, cinta ibu tidak berarti untuknya," batin Alea terus mengusap perutnya.

Ia turun dari taksi setelah sampai di terminal yang akan menuju sebuah desa kelahirannya dulu. Hanya itu satu-satunya tempat teraman yang dia tahu agar tidak ditemukan oleh siapapun. Alea sengaja menonaktifkan ponselnya juga mengganti kartu.

Wanita berusia 22 tahun itu berjalan tertatih sambil menarik kopernya juga menenteng tas cukup besar.

"Tujuan ke mana, Mbak?" tanya salah satu sopir bus.

"Terminal ...." Alea menyebutkan terminal yang paling dekat dengan desanya.

"Kalau begitu naiklah, kita akan segera berangkat."

Tanpa pikir panjang akhirnya Alea naik ke bus yang hampir penuh tersebut. Duduk dengan nyaman di kursi penumpang sambil menatap lalu lalang orang-orang di luar sana.

Alea tahu tindakannya ini hanya akan membuat Rocky murka seperti kejadian beberapa bulan yang lalu, di mana pria itu menyuruhnya melompat dari tebing hanya karena dia ingin membunuh janin dalam kandungannya. Tetapi apa boleh buat, Alea tidak ingin dipisahkan oleh anaknya.

Wanita berambut sedikit gelombang itu mulai memejamkan matanya ketika bus mulai melaju perlahan-lahan hingga meninggalkan terminal. Sesekali Alea mengambil napas panjang karena merasakan sesak di dadanya akibat memikirkan pembicaraan Rocky.

"Kenapa aku harus mendengarnya setelah aku mencintainya? Kenapa, kenapa dia bersikap manis padaku padahal dia telah menemukan wanita yang dia cintai? Apa karena benih yang aku kandung?"

.

.

.

.

Huhuhuu, akhirnya author balik lagi setelah beberapa bulan nggak buat karya baru. Semoga kali ini ramai biar author semangat up gila-gilaan hehehe.

Bab 2 ~ Hidup sendiri-sendiri

Bekerja tanpa kenal lelah untuk mendapatkan hasil yang memuaskan, membuatnya lupa waktu hingga tidak terasa hari telah gelap dan dia baru saja sampai di hotel yang dia pesan tadi pagi. Rocky duduk di sofa sambil meneguk sebotol air. Rasa haus itu kembali melanda dirinya lantaran jauh dari sang istri.

Atensinya teralihkan pada benda pipih yang berdering sesekali. Ia segera menjawab dan menempelkan ponsel itu di telinganya.

"Kak Rocky ke mana? Sejak tadi Arumi menangis. Sepertinya dia mencarimu," ujar Eril. Adiknya di seberang telepon.

"Saya ada di luar kota mengurus pekerjaan. Lagi pula kenapa Arumi bersamamu, di mana Alea?" Kening Rocky mengerut.

"Aku tidak tahu ke mana dia. Yang aku tahu, dia menitipkan Arumi karena ada keperluan penting."

"Aku pulang sekarang!"

Rocky segera bergegas menuju bandara tanpa mengidahkan rasa lelah bekerja seharian. Rencananya dia akan pulang besok dan istirahat malam ini, tetapi Arumi dan keberdaaan calon ibu dari anaknya jauh lebih penting.

Sepanjang jalan, Rocky terus mencoba menghubungi Alea, tetapi jawabannya tetap sama, nomor yang dia tuju sedang berada di luar jangkauan. Ia memejamkan matanya. "Aku harap dia tidak bertidak bodoh lagi," gumamnya dengan tenang.

Entah kesalahan apa lagi yang ia lakukan sehingga Alea menghilang tanpa kabar. Padahal tadi malam hingga pagi harinya dia melihat Alea tampak biasa-biasa saja. Selalu tidak ada emosi jika bicara dan enggang menatapnya secara berlebihan.

Rocky mengerti akan kebencian wanita itu terdahapnya, tetapi tidak harus bertingkah ke kanak-kanakan saat hamil besar bukan?

...

Jam sebelas malam, barulah Rocky sampai di rumah adiknya setelah menempuh perjalanan cukup jauh. Untung saja masih ada penerbangan terakhir menuju ibu kota.

"Apa dia masih menangis?" tanya Rocky duduk di ruang tamu.

"Sudah tidur, bermalamlah, Kak."

"Tidak, aku harus pulang. Aku harus memastikan Alea ada di rumah atau tidak. Sejak tadi dia susah dihubungi." Rocky kembali beranjak meski tempat duduknya belum panas.

Dia kembali menitipkan Arumi kecil pada adiknya karena tidak tahu akan membawanya seperti apa. Pria itu melajukan mobilnya cukup ugal-ugalan guna sampai di apartemen dengan cepat.

Di bukanya apartemen tepat di depan apartemennya. Tempat tinggal itu sengaja dia belikan untuk Alea setelah menikah lantaran wanita itu tidak ingin tinggal di kediamannya, dengan alasan trauma akan kejadian tidak terduga saat dia mabuk, beberapa bulan lalu.

Rocky menghela napas panjang mendapati apartemen yang biasanya hidup dan selalu hangat, terasa sangat dingin. Kecurigaannya benar, Alea pergi, terbukti pakaian dan berkas-berkas penting istrinya tidak ada di lemari.

Ia merogoh saku jasnya, kemudian menghubungi seseorang.

"Cari keberadaan istri saya sekarang!"

"Bukannya Nona Alea ...."

"Dia kabur lagi entah ke mana, padahal hampir melahirkan."

"Baik, Tuan."

Rocky meletakkan ponselnya di atas meja. Kembali meneguk sebotol air hingga tandas lantaran haus berlebihan. Bagaimana ini? Ia selalu sulit makan jika bukan buatan dari Alea. Ia akan tersiksa seperti sebelum-sebelumnya. Haus berlebihan dan muntah jika memakan sesuatu.

"Entah apa yang ada dipikiranmu Alea. Aku kira di usia 22 tahun, kau bisa berpikir dewasa. Tidak egois seperti ini."

...

Jam 6 pagi hari, seorang wanita menarik kopernya memasuki sebuah rumah sangat kumuh setelah berjalan cukup jauh. Ia mendorong pintu rapuh itu hingga terdengar decitan kecil.

Rumah penuh akan debu dan kenangan, Alea kembali ke sana karena bersembunyi. Ia menghela napas panjang karena lelah. Duduk di kursi rotang usai melap debunya dengan tisu.

"Ini rumah kita, Nak. Kita akan tinggal di sini. Ibu akan berusaha untuk mencukupi kebutuhan kalian," gumamnya sambil mengelus perut yang bergerak cukup aktif, terlebih ada dua nyawa di dalam sana.

Matahari yang menyingsing dari jendela, membuat mata Alea terpejam sejenak. Ia bangkit dari duduknya setelah rasa lelahnya cukup hilang. Ia bergegas beres-beres rumah agar bisa tidur dengan tenang di rumah peninggalan orang tuanya.

Kehadirannya di rumah itu mengambil perhatian beberapa warga yang memang selalu kepo dengan kehidupan tetangga yang lainnya.

"Aduh-aduh, anaknya pak Wawan bukan sih? Udah besar aja dan hamil besar. Suaminya mana?" tanya salah satu tengga ketika melihat Alea menyapu di depan rumah.

"Pergi pas usia tujuh belas tahun, eh sekarang udah hamil aja."

"Suaminya mana, Neng?"

"Apa jangan-jangan pulang karena nggak punya suami ya?"

Pertanyaan serta todongan terus saja terdengar di telinga Alea, padahal ia datang ke sini untuk menenangkan diri.

"Saya ke dalam dulu ya, Bu." Izin Alea lantaran tidak ingin mendengar ocehan yang akan membuatnya hilang kendali.

Wanita itu hanya akan fokus pada kehamilannya saja tanpa mengidahkan siapapun, termasuk para tetangga kepo yang tidak punya kerjaan.

...

Tidak ingin berdiam diri saja dan hidup lontang-lantung di desa peninggalan orang tuanya. Hari ini Alea memutuskan untuk mengunjungi salah satu puskesmas yang tidak sengaja dia lewati saat akan ke rumahnya naik gojek. Di sana ada kertas tertempel sedang mencari staff administrasi. Kebetulan dia lulusan Admistrasi saat di kota dulu.

Setelah bertanya-tanya dan dialihkan pada pihak yang berwenang, akhirnya Alea diterima bekerja, karena puskesmas pemerintah itu sangat membutuhkan staff, terlebih Alea salah satu lulusan terbaik saat di kota.

"Kamu bisa mulai kerja hari ini. Tapi kamu harus tahu kalau gajinya tidak sebesar di kota."

"Tidak masalah, Pak. Saya akan melakukan yang terbaik," ucapnya penuh semangat.

Akhirnya setelah tinggal hampir satu minggu di desanya, ia mendapatkan pekerjaan yang akan membuatnya tidak terlalu sengsara. Alea terus menekuni pekerjaanya tanpa peduli kejulitan para tetangga yang selalu mencari-cari kesalahan, terutama memfitnahnya hamil di luar nikah dan aib desa.

Bahkan beberapa warga mempengaruhi kepala Desa untuk mengusirnya dari kampung. Bukan karena dia hamil, tetapi iri Alea bisa langsung bekerja di puskesmas padahal beberapa anak-anak mereka hanya lulusan SMA saja.

"Kirain nggak bakal jadi orang kamu. Sok-sok an pengen kuliah di kota sampai bapak kamu menjual kebun dan motornya. Untung nggak jual rumah," celetukan ibu-ibu saat Alea melintas sepulang dari puskesmas.

"Alhamdulillah sekarang udah punya pekerjaan, Bu. Bapak saya nggak sia-sia jual kebun."

"Halah baru kerja di puskesmas kecil aja udah belagu. Urus tuh anak kamu yang nggak punya bapak. Kalau pak Wawan dan istrinya hidup, pasti malu banget anaknya hamil di luar nikah."

Tangan Alea terkepal, ia memejamkan mata sejenak hanya untuk mengatur emosinya agar tidak meledak di depan ibu-ibu pengosip tersebut.

"Urus saja hidup ibu. Jaga anak perempuannya baik-baik. Nasib sial nggak ada dalam kalender. Jangan sampai sibuk ngawasin anak gadis orang yang nakal, malah anaknya yang ke bablasan." Keluar sudah kata-kata mutiara dari mulut Alea.

Bab 3 - Korban Kecelakaan

"Rocky?" panggil seorang gadis yang baru saja keluar dari lift.

Langkah Rocky terhenti, ia membalik tubuhnya dan memasang wajah datar seperti biasanya. Meski di depan sana ada perempuan yang ia cintai, hatinya malah gundah tidak kunjung menemukan istri dan calon anaknya.

"Kenapa?" tanya Rocky.

"Kenapa bertanya? Aku ke sini karena mau membuatkan kamu makan malam. Sudah hampir dua minggu kamu malas makan dan sedikit tidak bersemangat," ujar Arumi. Gadis yang pernah hilang dalam hidup Rocky, tetapi kembali karena sebuah alasan.

"Hm." Rocky hanya bergumam, ia masuk ke apartemennya setelah menyempatkan diri melirik ke pintu apartemen sang istri, berharap seseorang keluar dari sana.

"Aku akan bersabar menunggu selama tiga bulan. Tapi kalau boleh tahu, kenapa aku harus menunggu?" tanya Arumi sambil menyiapkan bahan-bahan di dapur.

"Karena banyak alasan yang tidak perlu kamu ketahui." Alih-alih menunggu Arumi memasak seperti yang sering ia lakukan pada Alea. Rocky malah masuk ke kamarnya untuk menyegarkan diri sekaligus menghubungi seseorang.

"Apa kau sudah menemukan keberadaanya?" tanya Rocky setelah sambungan telepon terhubung dengan orang kepercayannya di seberang telepon.

"Terakhir saya menemukan jejak nona Alea di sebuah terminal menuju sebuah desa, tetapi ...."

"Katakan!"

"Bus yang ditumpangi nona Alea terjatuh ke jurang di hari keberangkatan. Setelah saya selidiki, terdapat banyak nyawa yang melayang, salah satunya seorang wanita muda yang sedang hamil kembar."

"Kau pasti salah, selidiki lebih jauh lagi!"

Rocky meletakkan ponselnya di atas meja. Ia tidak ingin percaya bahwa wanita yang selama dua minggu ini dia cari telah tiada begitu saja.

"Pasti ada sebuah kesalahan," gumam Rocky.

Merasa jauh lebih segar, Rocky kembali menemui Arumi yang telah berhasil menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Ia duduk berhadapan tanpa mengeluarkan satu katapun. Awalnya semuanya berjalan lancar, tetapi begitu suapan ketiga, perutnya mulai beraksi berlebihan. Rasa mual kembali melanda tanpa diminta.

"Kenapa berhenti?"

"Saya sudah kenyang, makanlah sendirian." Rocky beranjak menuju kamar mandi. Saat kembali, Arumi tiba-tiba memeluknya tanpa alasan padahal dia tidak suka itu meski mencintai Arumi.

"Lepaskan, kau tidak sepantasnya seperti ini!"

"Bukankah kamu mencintaiku, Rocky? Apa salahnya memperlihatkan cinta itu padaku. Apa kamu mau aku pergi lagi karena sikapmu yang dingin?" Arumi mendongak menatap Rocky tanpa melepaskan lingkaran lengan di pinggang.

"Bukan begitu, hanya saja saya kurang enak badan." Mendorong tubuh Arumi agar menjauh, bertepatan deringan ponsel terdengar.

Rocky bergegas menjawab panggilan yang masuk ke ponselnya.

"Ada apa?"

"Maaf Tuan, karena menganggu waktunya sebentar. Ada orang yang ingin bertemu dengan Anda. Sepertinya dia membutuhkan dana dalam sebuah proyek."

"Atur pertemuannya, saya ke sana sekarang!"

"Baik."

"Siapa? Apa kamu akan pergi lagi? Tidak bisakah hari ini saja kita diam di rumah dan menikamati waktu berdua?" Arumi terus mengikuti langkah Rocky saat tahu pria itu akan menemui seseorang. Ia hanya ingin waktu bersama Rocky yang selalu sibuk hampir 24 jam, apa itu salah?

"Kau tahu saya sangat sibuk." Memasang jas ditubuhnya.

Rocky meninggalkan apartemen tanpa mengidahkan semua ucapan Arumi. Aneh bukan? Padahal saat Arumi menghilang, ia sangat merindukan gadis itu, tetapi kenapa semuanya terasa hambar? Terlebih setelah kepergian istri dan calon anknya.

Rocky sampai di cafe tempat yang telah di atur oleh orang kepercayaannya bernama Adrian. Ia langsung duduk di hadapan pria paruh baya penuh wibawa.

"Tidak perlu basa-basi, Tuan, saya banyak urusan," ujar Rocky.

"Dari iformasi yang saya dapatkan, anda sering berinvestasi pada perusahaan. Saya hanya ingin menawarkan sebuah proyek masa depan. Membangun sebuah yayasan yang menjembatani generasi-generasi penerus untuk sukses. Yayasan ini akan digunakan oleh semua orang yang mempunyai kemampuan akademik tanpa pandang kasta. Saya berharap Tuan bersedia untuk mewujudkannya."

"Dari perusahaan apa? Proposal lengkap dan sebuah kontrak. Kau bisa mengirimkannya melalui surel. Jika setuju, saya akan mengabari Anda dan melakukan pertemuan kedua."

"Terimasih sudah memberi saya kesempatan, Tuan. Semoga ada pertemuan untuk kedua kalinya." Pria paruh baya itu berdiri dan mengulurkan tangannya pada Rocky. Ia tidak terlalu berbasa-basi karena tahu bagaimana sikap Rocky pada siapapun. Meski hanya asisten pribadi seorang CEO di perusahaan ternama. Rocky mempunyai kekayaan cukup banyak, terlebih telah berinvestasi di beberapa perusahaan besar, dan menjadi pemegang saham terbanyak Z Group usai menjatuhkan pemimpin sebelumnya.

...

Di puskesmas ....

Kelahiran semakin dekat, kontraksi kecilpun mulai sering Alea rasakan dan melewatinya dengan mudah. Tetapi tidak untuk sekarang. Berkali-kali ia menarik napas dan menghembuskannya perlahan guna menghilangkan rasa sakit. Nyeri itu semaki mendominas pinggangnya hingga keringat dingin membasahi tubuh.

"Aduh dek, kayaknya kamu mau melahirkan. Ayo kita periksa!" ajak teman kerja Alea yang kebetulan satu ruangan dengannya.

"Tidak apa-apa, saya masih bisa bertahan."

"Tidak-tidak, sepertinya kamu sudah mengalami pembukaan. Ayo masuk!" Wanita yang lebih tua dari Alea, memapahnya keluar dari ruangan administrasi dan membawa ke dokter yang bertugas.

"Jangan panik ya, atur saja napasnya!"

Alea mengangguk dan berusaha menahan agar tidak berteriak padahal ia merasakan sesuatu ingin keluar di bawah sana. Rasanya sakit, air matanya berjatuhan tanpa bisa dicegah. Anehnya tidak ada suara isakan sedikitpun yang terdengar di telinga.

....

Keluar masuk kamar mandi adalah hal yang Rocky lakukan sejak pulang dari pertemuannya di cafe. Pria itu merasakan mulas dan pinggangnya terasa sakit. Tetapi saat masuk ke kamar mandi, tidak ada yang keluar.

Rocky mengusap keningnya yang dibanjiri keringat dingin. Semuanya terasa aneh tetapi nyata. Ia tidak terlalu merasakan sakit, tetapi keringatnya terus keluar.

"Apa yang terjadi padaku?" gumamnya. Ia meraih ponsel disampingnya, hendak menghubungi adiknya, tetapi panggilan lebih dulu masuk.

"Kau menemukan sesuatu?" tanya Rocky ketika menjawab panggilan dari Adrian.

"Salah satu korban yang meninggal dunia di bus tersebut benar nona Alea, Tuan. Anda bisa memeriksanya melalui surel yang saya kirimkan."

"Hm."

Tubuh Rocky semakin lemas, matanya memanas padahal tidak ada niatan untuk menangis. Dadanya terasa sesak mendengar kabar itu, tetapi hatinya menolak mengakui bahwa ia terpukul.

"Apa yang aku lakukan? Aku gagal menjaga darah dagingku sendiri. Seharusnya hari itu aku tidak keluar kota." Rocky meremas ponsel ditangannya, seiring rasa sakit di tubuhnya menjadi-jadi seakan ingin melahirkan saja.

"Sialan, kau membunuh kedua calon anakku Alea! Kenapa kau melakukan ini jika hanya membenciku? Harusnya sejak awal aku tidak memberikan kebebasan untukmu."

Rocky melempar gelas yang ada di atas meja sebagai bentuk pelampiasan rasa sakitnya. Di pikirannya, ia merasakan sakit mendengar kecelakaan itu, tetapi hatinya berkata lain. Ia seakan kehilangan seseorang yang baru mengisinya beberapa bulan terakhir.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!