NovelToon NovelToon

The Key To Disaster

Prolog : Awal Dari Kehancuran

Di zaman yang telah terlupakan, di dunia yang disebut "Losslurse," ras-ras yang berbeda hidup berdampingan dalam harmoni yang rapuh. Pada suatu masa, ketenangan itu remuk oleh gema perang kuno yang menggelegar di seluruh negeri.

Selama berabad-abad, manusia, elf, beastman, iblis, dan makhluk-makhluk lainnya terlibat dalam konflik tak terhitung yang disebut "Perang Rantai Bintang." Puncaknya terjadi ketika dua kekuatan terbesar di Losslurse, Kerajaan Faeris dari kaum elf dan Kekaisaran Loxis dari kaum manusia, bertabrakan dalam kehausan akan kekuasaan.

Namun, di balik kemegahan peperangan, terselip rahasia kuno yang mengubah takdir ras-ras tersebut. Sebuah ramalan yang menyebutkan tentang "Anak Langit" yang akan muncul di tengah kekacauan, membawa kedamaian atau kehancuran.

Dalam perang yang menggemparkan, seorang prajurit misterius muncul. Diapit oleh rambut berwarna api dan mata yang menyala seperti bintang, dia membawa senjata yang terlihat seakan-akan diciptakan oleh dewa-dewa sendiri. Nama dan tujuan prajurit ini terbungkus dalam misteri, memunculkan pertanyaan tentang apakah dia benar-benar "Anak Langit" yang dijanjikan dalam ramalan kuno.

Losslurse terperangkap dalam ketegangan yang melibatkan takdir, peperangan kuno, dan harapan yang menggantung di tengah-tengah dunia yang terancam oleh kegelapan.

Namun, prajurit misterius ini tidak segera mengungkapkan identitas atau maksudnya. Dia bergerak dengan lincah di medan perang, menunjukkan keterampilan tempur yang luar biasa dan kebijaksanaan yang melebihi pemimpin paling bijak sekalipun.

Masyarakat Losslurse terbelah antara menganggapnya sebagai penyelamat yang dijanjikan atau ancaman yang harus diwaspadai. Ketidakpastian ini menciptakan lapisan ketegangan yang tak terhindarkan di antara ras-ras Losslurse. Pertemanan yang telah terbina selama berabad-abad terguncang, dan persepsi tentang persatuan mereka merosot.

Yang lain lebih memilih menggenggam erat keyakinan masa lalu mereka, bahkan jika itu berarti menolak cahaya yang dibawa oleh pemimpin-pemimpin baru.

Sementara itu, rahasia-rahasia terpendam di antara ras-ras Losslurse mulai terkuak. Artefak kuno muncul dari dalam goa yang terlupakan, memberikan petunjuk-petunjuk yang mengarah pada kebenaran yang mengguncangkan.Ternyata, perang ini dipicu oleh hasrat menghancurkan dari kegelapan dan konspirasi yang telah tertanam dalam sejarah mereka.

Dan artefak-arte­fak kuno yang ditemukan tersebut mengungkap keberadaan suatu kekuatan lama yang terbangun. Kekuatan ini tidak hanya mempengaruhi individu, tetapi juga memancarkan getaran mistis yang meresapi tanah Losslurse. Tanda-tanda pertemuan antara dunia nyata dan kegelapan kuno semakin nyata.

Pahlawan dan penjahat terjalin dalam pertempuran sengit, dan pada setiap langkah yang diambil para individu, takdir semakin terkait erat dengan masa depan Losslurse. Dalam keadaan genting, pemimpin ras-ras berbeda terpaksa berunding untuk menentukan nasib mereka. Apakah mereka mampu mengatasi perpecahan masa lalu demi menyelamatkan dunia mereka dari ancaman yang semakin membesar?

Tokoh-tokoh terhormat dan ahli strategi bersitegang di istana-istana mereka, memperebutkan persepsi publik dan mengambil posisi yang sesuai dengan kepentingan mereka. Sementara para pemuda terpesona oleh keberanian sang "anak langit", para tetua terperangkap dalam pertimbangan yang dalam tentang masa depan yang masih tanda tanya.

Dengan setiap pertempuran, pertanyaan semakin bertumpuk. Apakah prajurit misterius ini benar-benar membawa harapan atau malah bencana yang lebih besar? Apa yang sebenarnya terjadi di balik perang kuno yang terjadi di Losslurse? Dan dapatkah ras-ras yang pernah berseteru ini bersatu untuk menghadapi ancaman yang lebih besar yang mengintai?

Saat matahari terbenam di ufuk, dan peperangan menjalar, Losslurse merentangkan sejarah yang penuh misteri, tantangan, dan takdir yang belum terungkap sepenuhnya.

Kunci akhir... Akan segera membuka segel malapetaka...

Ch 01 : Pekerjaan Kecil Di Hari Yang Membosankan

"ahh... bosan..."

"mengapa cuaca juga panas akhir-akhir ini?..."

...

"aku benci hari-hari seperti ini..."

Ucap seorang pemuda yang bersandar di padang rerumputan, terik panas matahari terasa menyengat, tetapi pemuda itu masih rela bersandar di sana sembari angin yang sesekali menerpa wajahnya.

Pemuda itu terasa sangat bosan, hari ini kebetulan ia tidak menerima permintaan dari guild, dan hasilnya? Ia sama sekali tak melakukan kegiatan apa pun dan memilih untuk bersantai di padang rumput dekat kota.

"hidup rasanya begini-begini saja ya?... kenapa coba aku tak sekaya wali kota... dan memiliki harem seperti ksatria besar Zudram... tapi diingat-diingat pak tua itu terlihat jelek... kenapa gadis-gadis seksi selalu menempel kepadanya ya?... keparat..."

Pemuda itu terus bergumam dan mengutuk sesekali, sembari surai jabrik abu-abunya bergerak mengikuti angin.

Langit hari ini sangat cerah dan terlihat biru sampai-sampai ia tak bisa melepas pandangannya dari kanvas indah buatan tuhan tersebut.

Dan entah mengapa ia mendadak merasa nostalgia, rindu akan hari-hari di masa kecil di panti asuhannya, suasana cerah nan asri ini meningkatkan memori-memori yang sedikit terlupakan olehnya, membuatnya tak kuasa untuk tersenyum kecil dalam diam.

"June... Lynda..."

Tak apa... Kamu tak usah khawatir... Anggap saja Kami mengorbankan nyawa untuk seorang sahabat terbaik kami...

Ia memejamkan matanya sejenak, merenungi kenangan yang membawa senyum manis ke wajahnya. "Kita selalu bersama... melewati hari-hari sulit di panti itu dengan kebahagiaan," gumamnya lirih.

Namun, dalam kehangatan nostalgia, juga muncul rasa kehilangan. Tetesan air mata yang tak terduga menyelinap di pipinya, meresapi kenangan manis dan getir yang pernah mereka bagikan. tapi dia bersyukur akan ikatan batin yang tak bisa dilupakan, meskipun waktu telah merenggutnya.

"Mereka pergi terlalu cepat, meninggalkanku sendiri di dunia yang terus berubah..." bisiknya, mengingat betul kenangan-kenangan itu dalam hatinya.

...

Tak lama kemudian pemuda itu perlahan beranjak duduk, lalu mengusap air matanya kasar

'sial, malah kepikiran yang tidak-tidak...'

Ia perlahan bangkit, seraya membopong pedang besarnya yang tergeletak di tanah,

"kira-kira tuan Belfort ada di rumah tidak ya?... lebih baik aku kesana untuk memastikan"

Dan pemuda bersurai jabrik abu-abu itu pun beranjak pergi dari lokasi tak lupa meletakkan pedang besarnya pada sarung dipunggungnya, menuju kota—

...>>>...

Sesampainya di sana, terlihat Kota sangat padat seperti biasanya, banyak pedagang dan pendatang baru saling melakukan jual beli, dan adapun juga para penghibur jalanan melakukan aksinya untuk sepeser uang dari pejalan kaki yang lewat.

Sedangkan pemuda itu berjalan menuju tujuannya untuk menuju kekediaman tuan Belfort yang ia maksud sebelumnya, berniat untuk mencari pekerjaan sampingan.

Pemuda itu melangkah dengan hati-hati melewati hiruk pikuk kota, matanya terus memantau setiap sudut yang mungkin mengarahkannya pada kesempatan yang bisa ia ambil, di tengah jalan yang dipenuhi warna-warni tenda dan aroma rempah, memberikan sentuhan hidup pada kesibukan kota.

Tiba di depan kediaman tuan Belfort, sebuah bangunan megah dengan detail arsitektur klasik yang memesona, pemuda itu menarik napas dalam-dalam sebelum mengetuk pintu. Saat pintu terbuka, seorang pelayan tua yang bersikap ramah menyambutnya.

"permisi paman, apa tuan Belfort ada?"

"beliau sedang merapikan koleksinya, pergi ke ruang tunggu, tuan Belfort akan segera menyambut Anda," kata pelayan tua itu dengan senyum hangat.

Pemuda itu mengangguk paham lalu duduk di tempat yang pelayan itu sediakan sembari memeriksa sekeliling ruangan yang penuh dengan barang-barang antik dan lukisan indah.

Tak lama kemudian, Belfort, seorang pria tua berwibawa, kemudian menyambutnya dengan ramah. "Rome? Apa yang membawamu ke sini, anak muda?"

Rome "Uxas" Regist, 21 tahun

"Mencari pekerjaan tuan. Saya siap melakukan apapun yang tuan butuhkan hari ini"

Belfort tertawa kecil, "sepertinya hari ini guild tidak memberimu pekerjaan ya?"

Pemuda yang dipanggil Rome tersebut tersenyum gugup sembari menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal, "sayangnya begitu tuan, bosan melanda, dan uang tak kunjung datang, kemarilah saya akhirnya"

"hmm... begitu ya?... Kebetulan, sebenarnya ada sesuatu yang bisa kamu lakukan hari ini, tapi lebih baik kita bicarakan sambil minum teh terlebih dulu."

...

Mereka duduk di ruang tamu yang elegan, sementara pembicaraan berjalan, Rome menyadari bahwa cucu semata wayang Tuan Belfort sedang mencari party untuk membasmi para Imp yang meneror desa perbatasan setempat.

"jadi begitulah, Tessa sedang kesulitan untuk mencari seseorang yang mau membantunya membasmi para Imp itu... jika kau tidak keberatan aku akan memberimu 4500 austral setelahnya"

Dengan sumringah setelah pak tua itu membicarakan imbalannya, Rome dengan segera menerima tawaran pekerjaan tersebut.

Ia kemudian perlahan berdiri dari sofa empuk milik tuan rumah "tentu tuan, itu bisa saya lakukan, nona Tessa benar? Saya akan segera kesana untuk memberitahunya"

Belfort tersenyum senang saat mendengar jawaban dari pemuda itu, "bagus, sebaiknya kau membawa persiapan sebelum menemui cucuku"

"tentu, jadi... Dimana lokasi nona Tessa saat ini?"

"dia tadi pagi mengatakan kalau dia menunggu seseorang yang mau membantunya di perempatan jalan balai kota seperti akhir-akhir ini"

"baik, terima kasih sekali lagi tuan Belfort, maaf selalu merepotkan anda." Rome kemudian sedikit menunduk hormat pada pemilik rumah didepannya

"apa yang kamu bicarakan? jika kita tidak bertemu di hari itu... Aku pasti tidak hidup sampai sekarang," ucap pria tua itu sembari tertawa kecil

Seraya Belfort beranjak dari sofanya, orang tua itu menyadari sesuatu pada punggung Rome "kau tahu?... aku selalu penasaran dengan pedang yang kamu bawa itu anak muda, penampilannya sedikit unik, buatan timur bukan begitu?"

Rome yang paham apa yang dimaksud sang pemilik rumah, mengeluarkan pedang besarnya itu dari sarungnya "benar tuan, ini imbalan dari permintaan salah satu klien saya dua tahun lalu"

Sebagai kolektor barang berharga, pria tua itu mengamati pedang dari Rome tersebut dengan antusias serta menganalisis dan menebak bahan dari pedang tersebut,

"ini... Logam yang sangat tangguh... tak kusangka kualitasnya lebih bagus dari baja yang biasanya dipakai para penempa di sini, dan sepertinya kamu merawatnya dengan baik" pria itu perlahan tersenyum kecil entah kenapa

"dimana tepatnya kamu mendapatkan pedang ini?"

"kalau tidak salah... Daerah bersalju bernama Yukimi di kepulauan Yamato tuan"

"Yukimi ya?... Tapi kulihat kamu selalu memakai pedang ini sejak pertama kali kita bertemu, apa kamu lebih suka pedang buatan timur, anak muda?"

"tidak juga, saya sudah menyukainya sejak lama, jadi saya selalu memilih pedang ini dari yang lain" pria tua itu lalu mengangguk paham mendengar jawaban dari Rome.

...

"ah, maafkan aku menahanmu disini Rome, seperti inilah jadinya jika seorang kolektor melihat sesuatu yang menarik baginya" ucap pria tua itu yang tersadar, seraya tertawa kecil

Rome memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarungnya sembari ikut tertawa kecil, "tidak apa, kalau begitu saya akan berangkat tuan, permisi" pemuda itu menunduk hormat sekali lagi sebelum beranjak dari ruang tamu

"jaga dirimu baik-baik, dan sekalian juga jaga cucuku ya!"

"serahkan padaku tuan" Rome kemudian beranjak keluar dari mansion megah milik Belfort, menuju apartemen murahnya di jantung kota untuk bersiap-siap.

...>>>...

Setelah sekiranya ia siap dengan perlengkapan bertempurnya, Rome yang tak mau membuang waktu, langsung menuju balai kota untuk menemui cucu Belfort, seraya ia sesekali bertegur sapa dengan para tetangganya di tengah jalan,

Ia sedikit beruntung karena warga yang menghuni di wilayah pusat kota sangat ramah, hal itu jugalah yang sedikit menambah rasa semangatnya untuk tetap hidup walaupun hidupnya... berantakan.

Sesampainya di balai kota, ia mulai mencari sesosok gadis yang berciri-ciri bersurai merah, cucu dari tuan Belfort, sembari ia menanyai para pejalan kaki yang lewat, serta memanggil namanya sedikit keras

Sampai seorang gadis yang duduk bersandar di salah satu kursi panjang balai kota menoleh kearahnya,

"nona Tessa, benar?"

Tessa Danamark, 17 tahun

"... ah iya itu aku... Ada apa ya?"

Rome tersenyum kecil, akhirnya ia menemukannya, "saya utusan tuan Belfort, katanya nona mencari seseorang untuk membantu membasmi para Imp di desa perbatasan, benar?"

Gadis itu tiba-tiba tersenyum sumringah, "iya benar sekali, jadi kamu bersedia?... Terima kasih banyak, Aku akan sangat terbantu sekali"

"tidak masalah, jadi... Bisa nona beritahu saya apa yang terjadi di sana?"

Gadis bersurai merah itu mengangguk "bagaimana jika kita melakukan briefing sembari berjalan menuju kesana?"

"ide bagus, kalau begitu pimpin jalannya"

Mereka berdua kemudian berjalan menuju lokasi, dengan senyum kecil di wajah Rome, mereka melangkah bersama menuju desa perbatasan. Gadis itu, Tessa, memulai ceritanya dengan penuh antusias.

"Situasinya semakin genting di desa itu. Para Imp ini terus meresahkan penduduk. Mereka merampok dan menyerang tanpa ampun. Kepala desa memohon bantuan, dan Kakek sepertinya menemukan orang yang tepat untuk membantuku mengakhiri teror ini," ujar Tessa seraya melangkah dengan hati-hati.

Rome mendengarkan dengan serius, kemudian tertawa kecil, "jangan berasumsi terlebih dahulu nona, saya belum melakukan apapun"

"lalu? bagaimana kondisi desa itu sekarang?" tanyanya.

Tessa menghela nafas, "Mereka hidup dalam ketakutan, beberapa penduduk bahkan telah meninggalkan rumah mereka, dan pergi entah kemana. Kita perlu menyingkirkan para Imp segera dan mengembalikan kondisi desa itu semula"

"sungguh, aku baru dengar hal ini... Sejak kapan ini terjadi? Dan bagaimana nona tahu soal ini?"

Gadis itu tersenyum kecil, "sebut saja informan Kakekku yang memberitahuku"

"..."

"... jika seperti itu bukankah aneh ksatria kerajaan tak menyelesaikan kasus ini segera? Mereka seharusnya bisa mengatasinya dengan cepat bukan?"

Tessa menatap Rome dengan raut wajah yang penuh keprihatinan. "Sayangnya, ksatria kerajaan terlalu sibuk dengan ancaman dari luar. Desa perbatasan ini mungkin dianggap terlalu kecil untuk mendapatkan perhatian mereka."

"alasan yang klise... para bedebah itu seharusnya bekerja selayaknya gaji yang diberikan kepada mereka..."

Tessa sedikit kaget mendengar ucapan pemuda disampingnya itu, "... b-begitu ya?... ngomong-ngomong kamu tak usah terlalu formal denganku, err..."

"Rome..."

"a-ah iya, Rome..."

...

"Rome?... ah, jadi kamu yang selalu dibicarakan oleh Kakek, pahlawan muda yang menolongnya saat ia hampir jatuh dalam jurang?"

Dengan cepat Tessa menunduk, ia sangat berterima kasih karena kakeknya selamat hari itu, "terima kasih banyak sudah menolong Kakekku, mungkin rasa terima kasih pun tidak cukup dibandingkan apa yang telah kamu lakukan Rome"

Pemuda itu seketika merasa tidak enak karena Tessa yang tiba-tiba saja menunduk kearahnya. "sudah sudah, tuan Belfort juga telah membantuku banyak selama ini, jadi kamu tak perlu berterima kasih lagi padaku"

"Meskipun begitu aku harus berterima kasih padamu Rome" ucap Tessa yang mengangkat kepalanya seraya tersenyum, membuat Rome menghela nafasnya,

Ia lalu memperhatikan sejenak gadis itu. "yang kudengar dari tuan Belfort, tak ada seorang pun yang mau membantumu menghabisi para Imp itu, padahal dengan imbalan yang diberikan tuan Belfort sepertinya itu hal yang tidak wajar..."

"Apa kemungkinan alasannya sama karena sibuk dengan ancaman dari luar?" lanjutnya, dengan sedikit nada sarkastik.

Tessa tersenyum kecut, "aku... Tidak sepenuhnya tahu soal itu, tapi aku yakin mereka sedang sibuk dengan ancaman luar dari kerajaan lain pada Loxis" ujarnya, suaranya bergetar namun penuh tekad.

Rome mengerutkan kening, mencoba memahami kompleksitas situasi yang ia hadapi saat ini. "..."

"lalu, kenapa kamu sendiri yakin bisa mengatasi masalah ini?" tanyanya skeptis.

Tessa tersenyum lebih lebar kali ini, wajahnya memancarkan keyakinan. "Karena aku yakin aku bisa, sesimpel itu, bukankah sia-sia jadinya latihanku selama ini jika tidak kugunakan dengan benar?"

Rome merenung sejenak, mencerna kata-kata Tessa. Setelah beberapa saat, ia menatap gadis itu dengan serius. "Aku perlu tahu lebih banyak tentang kemampuanmu. maaf saja tapi takkan ada pertarungan yang dimenangkan dengan keyakinan semata," ucapnya datar.

Tessa mengangguk, memahami kebutuhan Rome untuk mendapatkan kejelasan. "Aku diberkahi dengan kemampuan manipulasi tumbuhan yang terpatri dalam diriku. Latihan memberiku kendali, dan aku yakin bisa menghadapi para Imp dengan kekuatan ini, tak lupa juga dengan bantuanmu tentu saja" jelasnya mantap.

Rome sedikit terkejut mendengar informasi yang ia dengar "manipulasi... Tumbuhan?... Aku tahu itu bukan sihir normal... jadi kamu keturunan darah khusus?"

"ya, bisa dibilang seperti itu"

"tapi seingatku tuan Belfort pernah berkata ia tidak bisa melakukan sihir?... Dan katanya arus saraf dari mananya rusak saat ia masih anak-anak"

"aku mewarisinya dari darah ibuku, bukan dari darah ayah"

"jadi begitu..."

Rome menimbang-nimbang informasi itu dalam benaknya sejenak. "menarik... kemampuanmu akan membuat operasi ini jadi semakin mudah bukan begitu?" gadis itu mengangguk serta tersenyum kecil,

"yap, kamu benar sekali"

"..."

Tessa kemudian menatap mata Rome penuh kejujuran. "Ada hal yang harus kamu tahu Rome, aku lebih memilih untuk bertarung demi melindungi, itulah yang diajarkan oleh orang tua serta kakekku" ucapnya tegas.

"bagus untukmu... tapi kamu harus ingat ini... Dunia tidak sebaik yang kamu pikirkan, terkadang melindungi juga berarti harus menghadapi sisi gelap dunia... menurutmu kamu bisa?"

"tak apa, aku yakin bisa melewati semuanya" gadis itu tersenyum tipis, merasakan sedikit dukungan dari Rome.

...

Sesampainya di desa, suasana tiba-tiba memunculkan sarat ketegangan, mereka berdua pun tak membuang waktu lebih lama dan mulai merencanakan strategi untuk menghadapi para Imp,

Rome memandang sekeliling desa yang sunyi, sosok para Imp mungkin bersembunyi di setiap sudut. "Bagaimana kita memulai?" tanyanya.

Tessa mengeluarkan peta desa. "Kita harus menyusuri area yang sering menjadi target para Imp itu. Kita bisa memulai dari sana dan bekerja menuju inti masalahnya."

Dengan peta desa sebagai panduan, mereka melangkah dengan hati-hati ke jalanan sempit desa. Kabut tipis mulai menyelimuti sekitar, menciptakan aura misterius di udara.

Saat mereka mencapai pertigaan, Tessa merasa adanya kehadiran yang mengintai. Rome yang waspada segera menarik pedangnya, siap untuk menghadapi ancaman yang mungkin muncul. Tessa memandang sekelilingnya dengan mata tajam, mencoba mendeteksi keberadaan musuh.

Tanpa aba-aba, serangan tiba-tiba terjadi. Para Imp muncul dari bayang-bayang, memenuhi udara dengan suara desingan besi. Rome dan Tessa bergerak bersama, saling melindungi satu sama lain dalam pertempuran sengit.

Dalam sorot mata yang penuh determinasi, mereka mulai melihat sosok dari penyerang,

...

'oi oi... bukankah yang meneror desa para Imp?... Apa-apaan ini?'

"Tessa... Bukankah makhluk-makhluk ini terlalu besar untuk disebut Imp?"

Sedangkan gadis yang diajak berbicara tersebut terdiam serta membelalakkan matanya terkejut,

"Tessa?..."

...

'sial...'

Ch 02 : Pertempuran Di Desa Perbatasan

Sosok-sosok yang muncul dari kabut itu ternyata memiliki perawakan besar dan tinggi, jauh dari ekspektasi sosok Imp yang bertubuh kecil, para makhluk tersebut bertubuh kekar berwarna dominan hijau dengan tanduk runcing menyeramkan, membopong gadah-gadah tajam mereka yang terlihat menyeramkan,

Rome dan Tessa perlahan saling bertukar pandang, menyadari bahwa pertarungan ini telah mencapai tingkat keseriusan yang baru.

Salah satu makhluk yang terlihat seperti pemimpin mereka melangkah kedepan seraya tersenyum merendahkan kepada Rome dan Tessa, "sepertinya kalian telah menapakkan kaki pada wilayah yang salah" ujarnya dengan nada mencemooh, disertai suara beratnya yang bergetar di udara.

'jelas-jelas para bedebah ini adalah bangsa Ogre... Mana mungkin Imp berukuran sebesar ini...'

"Tessa, kita bicarakan ini nanti, kita urus mereka dulu" Rome menggenggam pedangnya dengan erat, bersiap untuk menghadapi pergerakan musuh-musuhnya.

Tersadar dari keterkejutannya, gadis itu perlahan memalingkan pandangannya "y-ya maaf, aku juga baru tahu soal ini"

Dua Ogre dari kelompoknya tiba-tiba mendekati Rome dengan gadah-gadah tajam mereka, mereka melambungkan aura keganasan di sekeliling.

Pemuda itu masih berdiri teguh, ia selalu siap menghadapi serangan dua Ogre yang ingin menyerangnya tersebut. Gadah-gadah tajam mereka mulai berayun melalui udara, mencoba menemui sasaran pada setiap serangannya. Rome, yang tak gentar, menyiapkan pedangnya dengan penuh kehati-hatian,

Gadah pertama meluncur cepat ke arahnya, dan dengan gerakan lincah, Rome berhasil menangkisnya dengan tepat menggunakan pedangnya yang terampil. Percikan api meloncat saat logam bersentuhan, menciptakan suasana yang semakin memanas. Rome, dengan pandangan tajamnya, mengukur waktu dan jarak untuk menanggapi serangan selanjutnya.

"sial! kenapa kau tidak bisa diam keparat!" teriak kesal salah satu Ogre yang gagal menyerang pemuda itu, yang dijawab senyuman simpul darinya

Sementara itu, Ogre yang lain dengan licik mencoba menyerang dari belakang.

Rome, seolah merasakan keberadaannya, berputar dengan gesit dan menghadapi serangan itu dengan sikap waspada. "Cascade!"

"a-apa!?"

Dalam kecepatan kilat, pedangnya meluncur, kemudian ia membuat tebasan diatas kepala yang berhasil mengenai Ogre tersebut.

"AARGH!!"

"beraninya kau menyerang adikku!!"

Sementara itu, satu Ogre lainnya kembali menyerang dengan penuh kemarahan. Rome, yang kini tengah berada dalam pertarungan ganda, menghadapi tantangan dengan ketenangan yang luar biasa. Ia menggunakan keterampilan bertarungnya untuk mengelabui dan menyerang, menciptakan gerakan yang membingungkan bagi Ogre yang berusaha menghabisinya.

"Dia... Ternyata kuat..." Tessa yang sedari tadi diam, terkejut akan kemampuan partner barunya, gadis itu tidak percaya kalau Rome seorang pendekar pedang yang sangat ahli,

"a-apa-apaan gaya bertarungnya itu?... Dia menggunakan seluruh tubuhnya untuk bertarung, sebaliknya dia tidak berfokus dengan hanya gaya berpedangnya..." ujar Ogre yang lain di kerumunan yang memperhatikan pertarungan sengit itu

"dengan pedang sebesar itu... Dia bisa bergerak sangat cepat serta mampu menyerang dengan akurat... normalnya itu mustahil kan?..." sahut Ogre lain, tak luput Tessa yang masih terdiam membisu setelah melihat Rome bertarung, tak kuasa untuk kagum pada kemampuannya.

Rome, masih dengan rasa haus pertarungannya yang membara, berhadapan dengan kedua Ogre yang ia lawan. Setiap gerakan pedangnya disertai dengan kecerdikan dan kekuatan, menciptakan tarian mematikan di medan pertempuran.

Ogre yang sebelumnya diserang oleh Pemuda tersebut, meski terkena tebasan kuatnya, tetap bertahan dengan kegigihan luar biasa. Mereka saling berpandangan, mengamati setiap gerakan, mencari celah untuk menyerang atau menghindar. Tarian pedang yang intens melibatkan kedua belah pihak, menciptakan serangkaian percikan api dan cahaya di tengah kegelapan desa yang dipenuhi kabut.

Rome menggabungkan seni bela diri serta ilmu berpedangnya, dan terus mengelabui kedua Ogre itu dengan serangkaian gerakan yang sulit diprediksi, dalam serangkaian serangan dan pertahanan yang semakin kompleks, kekuatan dan kebijaksanaan Rome menjadi kunci untuk memenangkan pertarungan sengit tersebut.

Tetapi Tessa, yang tak mau hanya diam, mulai menyiapkan kemampuan manipulasi tumbuhannya, yang juga bisa dilihat akar-akar dari pohon mulai menjalar panjang seraya mendekati gadis itu. Keduanya kemudian mulai menyatu dalam keinginan kuat,

Akar-akar pohon perlahan memeluknya erat, memberikan kekuatan luar biasa pada kemampuan manipulasinya. Semangatnya yang penuh tekad bersatu dengan kehendak alam, menghasilkan energi melimpah yang melingkupi mereka,

Menjadikan pertarungan sengit Rome dan kedua Ogre dibuat terhenti akan hal itu, Rome dan para Ogre seketika menoleh kearah sumber penyebab bergeraknya akar-akar tersebut.

"a-apa itu!?"

"sepertinya ini ulah gadis itu!

"apa yang kau coba lakukan, bocah!?"

"a-akarnya bergerak sendiri!"

Sedangkan Rome dibuat kagum akan kemampuan gadis itu lewat mata kepalanya sendiri, 'jadi ini... Manipulasi tumbuhannya?... entah mengapa aku bisa merasakan luapan energi alam yang pesat berkumpul pada gadis itu...'

"l-leader! Apa yang harus kita lakukan!?"

Pemimpin para Ogre yang masih belum memahami kemampuan apa yang dimiliki Tessa masih menganggapnya remeh, "tenang! Dia hanya seorang druid, kalian tak perlu khawatir, kita akan memfokuskan serangan pada gadis itu, lalu kemudian si pria abu-abu itu, akan sangat efektif jika kita menyerang seorang healer terlebih dulu, pria itu pasti akan kerepotan nantinya"

"baik leader!" sahut para bawahannya

Para makhluk peneror desa itu pun dengan segera menargetkan serangan mereka pada Tessa, tetapi gadis itu sama sekali tak gentar. Dengan gerakan ringan, dia mengangkat tangannya, dan daun-daun yang indah berputar di sekitarnya, menciptakan kilatan cahaya hijau yang memukau. Di dalam cahaya tersebut, dia melihat ke dalam jiwa pohon-pohon yang tumbuh di sekitarnya,

Tak sempat Rome bertindak, Tessa mendahuluinya dengan membuat dedaunan itu perlahan berubah menjadi tajam dan dilapisi oleh energi alam, lalu dengan cepat memotong kulit para Ogre yang hampir menyerang Tessa, tanpa ampun,

'sangat efektif... Dia pandai menggunakan kemampuannya' ucap Rome dalam hati yang melihat kemampuan dari gadis itu

Tessa tetap teguh di tempatnya, wajah cantiknya masih memancarkan keberanian. Dia melangkah maju, melibatkan para Ogre dalam pertarungan yang melibatkan kekuatan alam.

Dalam serangan baliknya, Tessa memanfaatkan kekuatan tumbuhan lain di sekitarnya. Akar-akar yang awalnya diam kini menjelma menjadi tali berduri yang kuat, menjebak para Ogre dalam kebingungan. Dengan gerakan cekatan, dia membentuk ikatan yang melibatkan makhluk-makhluk itu, membuat mereka tak berdaya seketika.

Para Ogre yang semula yakin dengan serangan mereka, kini terkejut. Tessa, dengan kehadiran alam yang menjadi sekutunya, berhasil mengubah dinamika pertarungan, menjadikan momen keheningan singkat.

Tessa, yang masih menahan para Ogre dengan akar berduri, memandang tajam ke arah mereka, seolah ingin mendapatkan jawaban pasti dari para peneror desa ini. Perlahan Ikatan dari akar berduri itu semakin menguat.

...

"... Aku ingin tanya satu hal kepada kalian... apa alasan kalian meneror desa ini?" tanyanya tegas, sembari menyipitkan matanya dengan penuh amarah.

'wah... cucu tuan Belfort sedikit seram rupanya...' sebulir keringat seketika jatuh di pelipis Rome saat melihat tingkah gadis itu.

Sedangkan para Ogre kebingungan atas pertanyaan Tessa, dan pemimpin mereka lah yang paling bingung diantara mereka,

...

"apa yang kau bicarakan? Bukannya kalian berdua yang ingin menjarah desa ini?"

'ha?...'

Tessa dan Rome, mendengar pernyataan tersebut, seketika terlihat bingung. Jawaban dari pemimpin Ogre tersebut terasa sedikit tidak masuk akal bagi mereka.

"Hah!? Malahan kami yang ingin menyelamatkan desa ini! Jangan memutarbalikkan fakta!" ujar Tessa dengan geram, sedangkan Rome masih memahami situasi yang kompleks ini.

"Dan di mana para Imp itu bersembunyi!? Jangan coba-coba membohongi kami ya!" lanjut gadis itu dengan nada tegas, mencerminkan keraguan dan ketidakpercayaannya terhadap jawaban sang pemimpin Ogre tersebut.

...

Pemimpin Ogre seketika tertawa dengan nada seram, "rupanya kalian tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi di balik tirai hijau desa ini. Kami datang bukan sebagai penyerang, melainkan sebagai bantuan keamanan untuk desa ini."

Tessa dan Rome semakin bingung, mencoba memahami makna dari pernyataan aneh tersebut. Sementara itu, akar-akar yang mengikat para Ogre perlahan mereda, menunjukkan bahwa Tessa masih memiliki kendali atas elemen alam.

"Kepala desa generasi terdahulu, pernah membuat perjanjian dengan kami ras Ogre, untuk membuat sebuah aliansi kecil diantara kami desa-desa pinggiran, dan kebetulan Mereka meminta bantuan seminggu yang lalu, dan kami pun dengan segera datang ke desa ini," ujar pemimpin Ogre dengan suara gemuruh.

"benar apa kata leader"

"kemungkinan ada kesalahan informasi dipihak kalian berdua?"

Tessa dan Rome saling pandang, menyadari bahwa mungkin ada sesuatu kekeliruan diantara mereka. Dalam keheningan, pertanyaan mereka pun beralih dari serangan fisik menjadi pencarian kebenaran yang lebih dalam.

"ah ya, dan para Imp... mereka juga anggota aliansi kami, mereka biasanya bertugas menjaga hutan perbatasan, bisa dibilang mereka sangat ahli dalam mengintai dan menyusup, jadi mereka biasanya berseliweran diantara desa-desa" jelas salah satu Ogre

"jadi... siapa yang memberi informasi palsu seperti itu padamu nona kecil?"

Tessa menjadi semakin gusar mendengar pernyataan para Ogre. Dalam hati, ia memikirkan apakah ada penyusup yang masuk ke jajaran informan kakeknya? Atau mungkin informannya salah kaprah melihat situasi di desa ini? Ia tidak tahu pasti, tetapi yang pasti desa ini tidak diserang oleh siapapun.

"i-itu... Salah satu Informan dari Kakekku..."

"begitu ya?..."

Dengan kebingungan yang merayap di pikirannya, Tessa mencoba merenung lebih dalam. Ia ingat kata-kata bijak kakeknya tentang keseimbangan dan kebenaran yang tersembunyi di balik tirai ketidakpastian.

Rome, yang juga masih merasakan keragu-raguan dalam udara, menyampaikan pikirannya, "kamu tahu... bisa jadi itu penyusup... Sangat fatal bila seorang informan memberikan informasi yang tidak akurat pada kliennya, bukan begitu? Terlebih lagi dia dikontrak oleh seseorang ternama, atau... dia memang benar-benar sengaja memberikanmu info palsu itu..."

"itu... mungkin saja benar, kamu membaca pikiranku Rome..."

Sebelum Rome membalas perkataan gadis itu, pemimpin dari Ogre tersebut memotong, "sudahlah, lupakan apa yang terjadi, intinya kalian berdua berada disini hanya karena kesalahpahaman bukan? Sebaiknya kalian mampir dulu ke desa, kepala desa yang akan memberitahu kalian lebih lanjut konflik yang dihadapi desa ini"

Rome dan Tessa saling pandang, mencoba membaca ekspresi satu sama lain. Pemimpin Ogre yang seakan-akan berubah sikap membuat mereka masih merasa waspada, tetapi keingintahuan mereka untuk memahami konflik yang terjadi membuat mereka setuju untuk mendengarkan kepala desa.

"Baiklah, sesuai dengan saranmu," kata Rome akhirnya dengan sopan, "kami akan mampir ke desa dan mencoba memahami situasi ini lebih lanjut."

Pemimpin Ogre hanya mengangguk, dan dengan gerakan tangan yang simpel, Tessa membebaskan para Ogre yang lain dari ikatan akar berduri. Tessa dan Rome melihat para Ogre meninggalkan tempat tersebut dengan langkah yang berat kembali ke pos mereka masing-masing, dan ada juga yang masih terluka karena pertempuran yang mereka lakukan, meninggalkan pemimpin mereka dan suasana pintu masuk desa yang hening.

"mari ikut aku... oh, dan tenang saja, kabut ini hanya sihir ilusi milik salah satu anak buahku di desa"

Setelah mendengar ucapan dari pemimpin Ogre tersebut, Mereka berdua pun mulai mengikutinya untuk menuju desa, sembari menyimpan pertanyaan-pertanyaan yang mengganjal di dalam hati. Kepala desa akan menjadi kunci untuk membuka tabir misteri yang menyelimuti desa ini.

Saat mereka memasuki desa, suasana terasa hening. Warga desa yang melihat kedatangan mereka memandang dengan campuran rasa kecurigaan dan kekhawatiran. Tessa mencoba tersenyum pada warga setempat, sedangkan Rome tak menghiraukan mereka sama sekali.

Mereka berdua kemudian diarahkan ke kediaman kepala desa, tempat di mana kebijakan dan keputusan desa dibuat. Kepala desa, seorang pria tua yang bijaksana dan penuh pengalaman, menyambut mereka dengan senyum ramah namun terlihat khawatir.

"permisi..." ucap Rome dan Tessa saat memasuki kediaman kepala desa,

"siapa gerangan kedua pemuda-pemudi ini, Fredrick?..." tanya sang kepala desa pada pemimpin Ogre yang ternyata bernama Fredrick,

"saya kira mereka penyusup dan ingin menjarah desa ini, tetapi ada kesalahpahaman diantara kami tadi, jadi saya bawa kemari agar mereka tahu soal konflik desa-desa kita..."

Kepala desa itu terdiam sejenak, sebelum membuka mulutnya kembali, "jadi begitu... Mari, duduklah, saya ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya" ujar pria tua itu dengan tenang

Rome dan Tessa memandang satu sama lain sejenak, kemudian duduk ditempat yang pria tua itu sediakan, sebuah tikar sederhana tapi nyaman, mereka berdua pun mulai menceritakan misi utama mereka dan pertemuan dengan para Ogre. Kepala desa mendengarkan dengan serius, dan di matanya terpancar kebijaksanaan yang mendalam. Setelah mendengarkan sepenuhnya, ia mengangguk pelan.

"... memang... Desa ini tak diserang, tetapi... Bukan berarti aman sepenuhnya..." ujar Kepala desa

Rome dan Tessa menatap kepala desa dengan pandangan yang penuh tanya. Ruangan itu terasa sepi, namun beban rahasia dan konflik di dalamnya terasa semakin berat.

"Dalam usaha saya melindungi desa ini, saya mempererat tali persahabatan diantara aliansi kami, diantaranya desa Fredrick disini, yaitu para Ogre, Imp, lalu Beastman, kami menjaga satu sama lain sebagai desa terpencil dari kerajaan Loxis..." ujar kepala desa sambil menatap kosong ke luar jendela.

Rome mengerti akan hal ini, desa-desa terpencil di perbatasan kekaisaran Loxis memang selalu dikucilkan oleh yang tinggal di ibukota, lebih parahnya lagi mereka sebenarnya dianggap tidak ada dipeta, jadi sudah seharusnya mereka membuat aliansi untuk melindungi satu sama lain dari bandit atau bahaya yang lain.

Tessa semakin ingin tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi pada desa-desa perbatasan, "Maaf sebelumnya jika ini termasuk ikut campur, tapi saya ingin tahu kebenarannya..."

Kepala desa menghela napas panjang, "sebenarnya... Ancaman terbesar kami adalah... Loxis itu sendiri"

...

'firasatku benar... masalah ini tambah rumit...'

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!