NovelToon NovelToon

Arya, Ben & Mita The Trio ABC

MR - VG - Kecelakaan di Paris

Charusmita 'Mita' , 22 tahun, Paris Perancis...

Charusmita atau biasa dipanggil Mita, perlahan membuka matanya dan pemandangan yang dilihatnya adalah ruangan yang serba putih dan bau obat-obatan. Mita menoleh ke kiri dan ke kanan, tidak ada orang lain, hanya ada dirinya. Ketika dirinya hendak bangun, terasa semua anggota tubuhnya sakit semua dan yang paling sakit adalah kakinya.

Mita melihat kaki kanannya sudah terbalut gips dari betis hingga telapak kaki sedangkan kaki kirinya hanya telapak kakinya yang mendapatkan gips. Mita juga melihat tangan kanannya terbungkus gips dan membuat dirinya sadar kalau berada di rumah sakit!

Rasa panik pun mulai melanda gadis cantik itu dan berusaha mencari tas dan ponselnya tapi tidak menemukannya. Mita pun mencari-cari red button untuk memanggil perawat dan berhasil menemukan nya. Gadis itu lalu memencet dengan berulang pertanda dia gugup.

Tak lama, perawat pun datang menghampiri Mita.

"Êtes-vous réveillée mademoiselle ( anda sudah sadar, nona )?" sapa perawat wanita itu ramah.

"Où suis-je ( dimana aku )?" tanya Mita dengan menggunakan bahasa Perancis.

"Lariboisière Hospital AP-HP..." jawab perawat itu sambil memeriksa kondisi Mita.

"Que se passe-t-il ( apa yang terjadi )?" tanya Mita bingung. "Où est mon sac et mon téléphone( dimana tas dan ponsel aku )?"

"Je vais appeler le docteur Gupta. C'est ton médecin ( saya akan panggil dokter Gupta, beliau dokter anda )" senyum perawat itu.

"Wait!" panggil Mita tapi perawat itu sudah pergi dari kamar gadis itu. Hatinya merasa jengkel karena tidak ada yang memberitahukan apa yang terjadi dan menimpa dirinya.

Mita hanya bisa manyun sambil menunggu kedatangan si dokter Gupta. Kok namanya macam orang India? Mita merasakan frustasi teramat sangat karena tidak bisa mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Yang dia ingat, dia naik bis menuju tempat audisi balet Paris tadi pagi. Tapi kenapa aku bisa terdampar di rumah sakit?

Suara ketukan pelan membuat Mita menoleh dan tak lama pintu kamarnya terbuka. Tampak seorang pria berdarah India mengenakan baju hitam tanpa sneli masuk ke dalam ruangannya.

"Nona Rao, mau bahasa Inggris atau Perancis?" tanya pria itu.

"Inggris please. Kamu siapa?" tanya Mita ke pria dengan brewok di wajahnya, mengingatkan dirinya akan ayahnya Raj dan dua saudara kembarnya, Arya dan Ben.

Introducing Vikram Gupta

"Doctor Vikram Gupta. Maaf saya tidak memakai sneli karena baru saja selesai acara dan suster mengatakan anda sadar Nona Rao." Dokter Vikram Gupta lalu memeriksa semua panca indera dan kondisi tubuh Mita.

"Saya kenapa Dokter Gupta?" tanya Mita bingung.

"Anda tidak ingat?"

"Saya hanya ingat saya naik bis untuk audisi balet di gedung Paris Balet... Apakah saya masih bisa balet?" Mita menatap dokter itu. "Apa yang terjadi Dokter?! Apakah saya masih bisa balet?" teriak Mita histeris mengingat kakinya dua-duanya diberi gips.

"Nona Rao....anda mengalami kecelakaan maut di Arc de Triomphe... Anda selamat tapi kaki anda mengalami patah dan retak di berbagai tempat. Dan saya sudah berusaha keras untuk membuatnya normal kembali... tapi untuk bisa balet... dengan berat hati saya katakan, maaf... Anda akan mengalami kesulitan untuk kembali seperti semula..."

Tangis Mita meledak mendengar dirinya akan kesulitan mengembalikan kemampuan baletnya. Dokter Vikram Gupta yang melihat gadis itu menangis tersedu-sedu, harus melepaskan sikap profesional nya dengan memeluk Charusmita.

"I'm sorry miss Rao. Maaf saya harus mengatakan apa adanya..." bisik Dokter Vikram Gupta yang tidak mempedulikan baju mahalnya basah terkena air mata Charusmita

***

Charusmita menatap kosong ke jendela kamar ruang rawat inapnya. Hatinya hancur sehancur-hancurnya karena sebagai seorang balerina, atau pun atlet manapun yang menggunakan kaki sebagai tumpuan, jika sudah mengalami operasi patah tulang, sudah bisa dipastikan tidak akan bisa maksimal.

"Miss Rao..."

Mita menoleh ke arah suara dan tampak dokter Vikram Gupta datang membawakan croissant dan hot choco untuknya. "Dokter Gupta..."

"Tenang, ini croissant halal. Aku juga sama denganmu, Miss Rao. Kita sesama muslim" senyum pria India itu. "Mau makan ya?" Vikram mengambil kursi dan meja pasien lalu meletakkan roti dan hot choco diatasnya. "Sayang aku tidak bisa membelikan kopi karena kamu masih harus minum obat."

Mita tersenyum. "Jangan khawatir, aku bukan manusia kopi tapi lebih menjurus ke teh. Terutama teh wasgitel yang sepat dan pekat atau teh tarik..." ucapnya sambil menggigit croissant nya. "Enak..."

Vikram tersenyum. "Akhirnya kamu bisa tersenyum juga setelah dua hari ini mendung..."

"Bagaimana tidak... Aku tidak bisa balet lagi. Padahal aku sangat menyukainya..."

"Setidaknya nyawamu masih ada, Miss Rao. Kamu salah satu dari sepuluh orang yang selamat dari 22 penumpang..." ucap Vikram yang membuat Mita melongo.

"12 orang tewas?" bisik Mita.

Dokter Vikram Gupta mengangguk. "Aapako abhee bhee surakshit rahane ke lie aabhaaree hona chaahie ( anda seharusnya bersyukur masih selamat )."

"Sorry dokter Gupta, bahasa Hindiku berantakan meskipun ayahku orang India" kekeh Mita.

"Really?" Dokter Vikram Gupta menatap geli ke gadis yang tidak terlalu terlihat darah India nya.

"Main bhale hee aadha bhaarateey hoon lekin meree bhaasha gadabad hai ( aku mungkin separo India tapi bahasaku kacau balau ). Dan aku tidak bisa baca tulisan hanacaraka nya" jawab Mita sambil menyesap hot choconya.

"Hanacaraka?" Wajah Dokter Vikram Gupta tampak geli mendengar ucapan random gadis cantik itu. "Aksara Dewanagari, Miss Rao."

Mita hanya mengangguk. "Ya itulah ..."

"Kalau kamu memang separo India, kenapa tidak mempelajari bahasa ayahmu?"

"Karena, aku tidak terlalu tertarik dengan budaya dari ayahku. So many upacara,festival dan berbagai hal lainnya. Beruntung kami tinggal di Brussels jadi aku tidak diributkan dengan segala macam acara ... Aku sempat liburan sebulan di Mumbai dan no way Jose... Homesick ku kumat..." ucap Mita panjang lebar.

Vikram tertawa kecil melihat wajah manyun gadis itu. "Kamu tidak suka budaya India ?"

Mita menggelengkan kepalanya. "Aku sering mendapatkan tatapan rasis karena ayahku orang India dan ibuku kulit putih ditambah dua saudara kembar aku sangat India tapi aku lebih mirip ke mommyku..."

"Mitttaaa !!"

Mita menoleh dan tampak kedua orangtuanya datang bersama dengan pamannya, Krisna Rao yang kebetulan berada di Paris untuk urusan pekerjaan. Krisna lah yang membantu semua administrasi Mita. Vikram Gupta membantu Krisna saat mencari keponakannya yang tahu menjadi korban kecelakaan bis.

Gemintang langsung memeluk putri bungsunya sedangkan Raj dan Krisna bersalaman dengan Vikram Gupta.

"Oh ya Allah, kalian kembar? " kekeh Vikram Gupta.

"Kami kembar, dan Mita pun kembar, triplets. Dua kakaknya laki-laki sedang menyelesaikan kuliah kedokterannya di Swiss dan Jerman" jawab Raj. "So bagaimana kondisi Mita? Apakah dia bisa balet lagi?"

Vikram menoleh ke arah Mita yang sedang ditenangkan oleh Gemintang. "Maaf dokter Rao, tapi Miss Rao, sudah tidak bisa balet lagi..."

Raj dan Krisna Rao tampak lemas. Ya Allah.

***

Yuhuuuu giliran triplet Rao yaaaa.

Thank you for reading and support author

Don't forget to like vote and gift

Tararengkyu ❤️🙂❤️

MR - VG - Menemani Mita

"Berikan hasil Rontgen saat Mita kecelakaan dan usai kamu operasi" pinta Raj Rao ke Vikram Gupta.

"Tapi Dokter Rao... Apakah anda yakin?" Vikram Gupta menatap Raj dan Krisna Rao bergantian. Dokter spesialis Ortopedi dan Traumatologi itu tampak tidak tega memperlihatkan kaki Mita yang berantakan pasca kecelakaan.

"Dokter Gupta, aku dokter bedah dan juga ayah Mita. Aku bisa menanganinya..." jawab Raj dengan wajah tegas.

Vikram menoleh ke arah Mita yang masih menceritakan peristiwa kecelakaan pada Gemintang, akhirnya mengangguk. "Mari ikut saya."

"Kamu mau ikut Krisna?" tanya Raj ke saudara kembarnya.

"Aku ikut. Takut Mintang tidak nyaman..." senyum Krisna.

"Astaghfirullah... Gemintang sudah tidak memikirkan soal itu. Sudah lewat, Krisna. Kamu dan aku sudah berkeluarga dan bukanya kamu menjadi ipar profesional?" balas Raj.

"Ya... Kamu benar. Ipar profesional."

Kedua saudara kembar Rao itu lalu keluar mengikuti Vikram Gupta.

Gemintang dan Mita yang melihat itu, tampak bertanya - tanya. "Daddymu mau kemana itu?" tanya Gemintang.

"Mungkin konsultasi dengan dokter Gupta" jawab Mita.

"Dia baik lho. Maaf ya sayang, kami terlambat sehari kemari. Daddymu ada operasi penting jadi tidak bisa ditinggal dan tidak mau mommy berangkat sendiri..." Gemintang merasa bersalah karena terlambat menjenguk putrinya dan bersyukur Krisna ada di Paris.

"Aku tahu. Daddy ada jadwal operasi Mentri Keuangan Belgia jadi aku bisa paham karena jadwalnya sudah dari dua Minggu lalu kan?" senyum Mita yang awalnya kecewa kedua orangtuanya tidak datang saat itu juga tapi dia juga ingat kalau Raj ada jadwal operasi penting. "Apalagi setelah itu, Daddy harus menunggu sampai masa kritisnya lewat."

Sejak kecil Charusmita sudah terbiasa melihat ayahnya lebih memilih pasiennya tapi meski begitu, Raj pasti akan mengganti waktunya ke ketiga anak-anaknya. Hubungan Mita, Ararya dan Benoit dengan kedua orangtuanya sangatlah dekat. Bahkan dua saudara kembarnya memilih kuliah di kedokteran. Ararya atau Arya memilih kuliah di Technical University of Munich sedangkan Benoit di Ludwig Maximilian Universitats Muenchen. Kedua saudara kembarnya bersama dengan Alano Bianchi menjadi wali bagi trio huru hara yang kuliah di Swiss dan Jerman, yaitu Raihanun Park di ETH Zürich mengambil teknik sipil dan lingkungan, Alaska Al Jordan yang mengambil jurusan ilmu history and art dan Aspen Al Jordan yang mengambil jurusan matematika, informatif dan statistik di kampus yang sama dengan Benoit.

"Benar sayang. Maafkan kami, Mita... Sekarang, apa rencana kamu ? Mau mommy bawa pulang ke Brussels? Atau kita disini dulu sampai kamu bisa ke Brussels? Atau..."

"Mom... Kita disini dulu saja. Kakiku berantakan jika tidak bisa dibilang sedikit hancur sana sini. Aku sudah lihat hasil Rontgen nya dan aku tidak bisa kemana-mana..." potong Mita.

***

Ruang Praktek Vikram Gupta

Raj Rao mengusap wajahnya saat melihat hasil Rontgen pasca kecelakaan dan pasca operasi kaki Mita. Metatarsal bone putrinya retak, sedangkan tulang Tibia nya patah dan dari sisi manapun, Mita tidak bisa balet lagi dengan sempurna.

"Ya Allah..." ucap Raj Rao yang merasa menyesal mengijinkan putrinya naik bis menuju gedung balet.

"Maafkan saya Dokter Rao. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin dan meskipun Miss Rao sembuh total tapi untuk balet, saya tidak menganjurkan..." Dokter Vikram Gupta menatap ayah yang tampak shock itu.

"Yang penting Mita masih hidup..." Raj Rao menoleh ke dokter tulang berdarah India itu. "Apa saran anda ke Mita? Apakah bisa kita bawa ke Brussels?"

Dokter Vikram Gupta terdiam. "Itu bukan ide yang bagus, dokter Rao. Kondisi kaki Mita masih sangat delicate pasca operasi penyambungan tulang yang patah dan retak dan saya rasa lebih baik Mita dirawat disini sampai benar-benar saya nyatakan oke. Bisa sekitar empat Minggu, mengingat parahnya cidera Miss Rao dan itu pun untuk bisa dibawa pulang ke Brussels."

"Gemintang biar disini, Raj. Lagipula aku juga harus kembali ke Mumbai besok" ucap Krisna.

Raj mengangguk. "Jadwal operasi akan aku tunda. Putriku jauh lebih penting."

***

Mita melongo saat mendengar harus tinggal di rumah sakit selama sebulan. Gadis itu membayangkan bagaimana bosannya dia di rumah sakit ditambah makanannya sering tidak enak.

"Harus di rumah sakit?" tanya gadis jutek itu ke Vikram Gupta.

"Harus di rumah sakit" senyum Vikram.

"Nggak bisa di hotel? Atau cuma seminggu disini terus sisanya di hotel?" Mita mencoba bernegosiasi.

Vikram menggelengkan kepalanya.

Mita pun memajukan bibirnya pertanda dia sebal. "Aku benci rumah sakit."

"Sayang, mommy dan Daddy akan disini bergantian sampai kamu dinyatakan bisa pulang. Apalagi kereta dari Paris ke Brussels cuma satu setengah jam jadi kamu jangan khawatir ya." Geminta mengusap rambut pirang kecoklatan putrinya yang mewarisi semua darinya sedangkan kedua putranya sangat kental darah India nya.

"Boring banget aku ..." sungutnya sebal.

"Sudah, sabar dulu. Anggap saja kamu menjadi kaum rebahan setelah selama ini selalu rush and rush ..." senyum Raj Rao yang tahu putrinya sangat ambisius menjadi prima balerina hingga semua audisi dia ikuti.

"Haaaahhh... Nasib ... " keluh Mita.

***

Sore harinya Charusmita tampak bosan apalagi kedua orangtuanya berada di hotel untuk beristirahat sebentar sebelum Raj dan Gemintang akan datang menginap menemani putrinya. Kedua dokter itu sudah mengirimkan kasur lipat untuk mereka tidur malam nanti.

"Senang kan kedua orang tua datang" senyum Vikram yang hendak pulang ke apartemennya karena shiftnya sudah selesai.

"Yeah ... Tapi aku lebih suka pulang ke rumah..." Mita menatap dokter tampan itu.

Vikram duduk di pinggir tempat tidur Mita. "Bersabarlah... Kata ayahmu, kamu tidak pernah istirahat dan selalu mengejar semuanya. Mungkin ini cara Tuhan meminta kamu untuk beristirahat..."

"Dokter Gupta, berapa lama aku bisa sembuh total?" tanya Mita penuh harap.

"Kamu ingin balet lagi?"

Mita mengangguk. "Balet adalah hidupku dan aku yakin, meskipun kamu menyatakan aku tidak bisa balet lagi, tapi aku akan mematahkan pernyataan kamu. Aku adalah gadis yang keras kepala dan bagiku jika belum dicoba, kita belum tahu kan?"

Vikram menggenggam tangan Mita. "Untuk menyembuhkan semuanya secara total, kamu akan butuh setahun... Apakah kamu sanggup menunggu selama itu? Setahun untuk sembuh total dan kamu harus mengulang lagi latihan kamu dari nol dan kemungkinan butuh waktu ... Bagaimana?"

Mita melongo. Setahun untuk sembuh total, mengulangi kembali paling tidak sekitar setahun untuk bisa balet seperti sedia kala... Waktu aku untuk menjadi prima balerina akan sangat sempit. Tapi akan aku buktikan aku bisa !

"Miss Rao..."

"Panggil Mita saja" potong Mita.

"Mita... Jika kamu memang ingin segera sembuh total, kita harus berkerja sama. Oke?" Mata hazel Vikram menatap serius ke Mita. "Aku akan membantumu karena aku melihat kamu sangat ingin bisa balet lagi meskipun aku sudah mendiagnosis akan sulit."

Mita tersenyum. "Thanks dokter Gupta."

Charusmita Rao

***

Yuhuuuu Up Malam Yaaaaaa

Thank you for reading and support author

Don't forget to like vote and gift

Tararengkyu ❤️🙂❤️

MR - VG - Sendirian di Paris

Mita tampak tenang saat kedua orangtuanya datang menemani dirinya di ruang rawat inapnya apalagi kakinya terkadang terasa sakit. Mita paham dengan kondisi seperti ini, akan semakin membuat dirinya berkompromi dengan rasa sakit, ngilu maupun tidak nyaman.

"Kamu nggak tidur?" tanya Gemintang sambil menata tempat tidur lipat yang dibelinya secara mendadak demi bisa menemani putri bungsunya.

"Cuma mau memastikan mommy dan Daddy benar-benar datang dan menemani Mita..." jawab Mita yang memang membutuhkan seseorang disisi nya dan dukungan kedua orangtuanya adalah yang dia butuhkan.

"Kami disini kok Mita" senyum Raj sambil mencium kening putrinya.

"Arjun, mau tidur dulu? Sudah aku siapkan..." Gemintang sudah selesai menata tempat tidur lipat itu dengan seprai dan selimut. Dia sengaja membeli yang bisa dua orang.

"Iya Gemintang... Terima kasih... Mita, Daddy tidur dulu..." pamit Raj yang kemudian naik ke atas tempat tidur lipatnya.

"Iya Dad..." Mita bisa melihat wajah lelah Raj disana karena tahu ayahnya sangat kepikiran kondisi kakinya.

"Kamu sudah minum obat?" tanya Gemintang.

"Sudah mommy."

"Ya sudah, bobok ya Mita. Besok akan lebih baik." Gemintang mengusap kepala putrinya dan memberikan ciuman di kening Mita.

***

Hampir dua Minggu Raj dan Gemintang bergantian menemani putrinya begitu juga dengan dua saudara kembar Mita, Arya dan Ben yang datang membesuknya. Kedua dokter itu pun terlibat pembicaraan serius dengan Vikram Gupta tentang kondisi kaki saudara bungsu mereka. Mereka berdua sepakat jika kemungkinan saudara bungsu mereka akan kesulitan dalam kembali kondisi prima untuk balet. Namun Vikram memastikan bahwa Mita akan mematahkan anggapan semua orang.

Mita sendiri belum diijinkan pulang ke Brussels dan harus menunggu dua Minggu lagi namun Raj dan Gemintang harus kembali bekerja setelah sebelumnya pulang pergi Paris Brussels yang juga membuat keteteran pekerjaan utama mereka.

Setelah berunding, Raj dan Gemintang akan datang saat weekend dan selama mereka masih di Brussels, Mita akan ditemani oleh Vikram Gupta.

"Apakah tidak merepotkan kamu?" tanya Raj saat dokter Vikram Gupta meminta ijin menemani Mita selama kedua orangtuanya di Brussels.

"Tidak sama sekali dokter Rao. Mita tahu kemungkinan untuk bisa balet lagi kecil tapi putri anda sangat keras kepala. Dia ingin membuktikan bahwa dia bisa dan mampu mematahkan diagnosis saya jadi ijinkan saya bisa membantu dan menjaga Mita melewati masa-masa pemulihan selama disini" jawab Vikram serius.

Raj menoleh ke arah Mita yang sedang makan siang dengan disuapi Gemintang. Meskipun sudah dewasa, tapi tetap saja putrinya manja ke ibunya dan sudah menjadi kebiasaannya, kalau Gemintang atau Mita pergi, dia akan minta disuapi Gemintang.

"Aku sebenarnya sedikit khawatir karena Mita tidak dalam kondisi prima tapi karena kamu bersikeras bisa menjaga Mita, aku minta tolong padamu. Jaga putriku selama aku dan ibunya belum ke Paris." Raj menatap serius ke pria yang memiliki tinggi hampir sama dengannya.

"Anda bisa memegang kata-kata saya, Dokter Rao."

***

Sepeninggal kedua orangtuanya, Mita pun kembali merasa kesepian tapi gadis itu maklum kalau mereka harus kembali bekerja. Nanti bayar biaya rumah sakit darimana meskipun ada asuransi.

Ponselnya memang tidak sepi karena semua saudaranya juga pada heboh menanyakan kondisinya tapi yang di Paris, tidak ada. Elfesya memang di London tapi sibuk dengan restaurannya, Ashley di Skotlandia sudah disibukkan dengan suaminya Gavin dan putra mereka Kenneth dan putri mereka Kenna yang berarti cantik dalam bahasa Skotlandia.

Kakaknya Galena juga sibuk bersama dengan suaminya Alex Darling di London. Mita pun manyun karena harus kecelakaan di kota yang tidak ada saudara tinggal.

"Haaaahhh... Salah cari lokasi buat kecelakaan..." keluhnya.

"Apa maksudmu?"

Mita menoleh dan tampak Vikram sudah berganti kaos santai dan celana jeans.

"Kok sudah santai? Memang sudah tidak ada pekerjaan?" tanya Mita bingung.

"Shift aku sudah selesai, Mita. Jadi aku ada waktu untuk menemani kamu" senyum Vikram. "Apa maksudmu kecelakaan di lokasi yang salah?" Vikram mendekati tempat tidur Mita dan duduk di pinggirnya.

"Aku. Kecelakaan kok di Paris... "

"Memang kenapa? Yang namanya musibah, kita tidak ada yang tahu, Mita." Mata hazel Vikram menatap dalam ke Mita.

"Sejujurnya aku tidak mau kena musibah dokter Gupta ..."

"Itu pernyataan yang benar, Mita. Siapapun tidak ada yang mau mendapatkan musibah atau mengalami kecelakaan, bukan?" senyum Vikram. "Tapi karena kamu sudah tercetus, maka aku ingin tahu. Kenapa kamu bisa bilang begitu?"

"Karena di Paris, aku tidak ada keluarga. Oom Krisna bisa mencari tahu soal aku karena kebetulan ada urusan bisnis disini. Kalau tidak, kan akan sedikit lama mencari tahu soal aku..." jawab Mita apa adanya.

"Jadi karena tidak ada anggota keluarga kamu yang tinggal di Paris atau Perancis jadi kamu merasa kesepian? Padahal kamu sendiri tinggal di Paris sendiri ..."

Mita menggelengkan kepalanya. "Bukan begitu. Aku dalam posisi hendak audisi balet disini jadi aku belum tinggal di Paris ... Aku malah tinggal di hotel sebelumnya. Jika aku lolos, aku baru tinggal di Paris..."

Vikram memandang wajah cantik yang nyaris tidak terlihat darah Indianya karena sangat mirip dengan ibunya, Gemintang, yang memang berdarah bule.

"Aku kira kamu sudah tinggal di Paris lama..."

Mita menggelengkan kepalanya. "Belum. Aku sebelumnya di Jerman dan karena mengincar prima balerina, audisi di Paris adalah menjadi batu loncatan bagiku... "

Vikram memegang tangan gadis yang tujuh tahun lebih muda darinya. "Jika kamu tidak berhasil menjadi prima balerina?"

"Aku banting setir untuk kuliah di bidang lain ..."

"Kamu kuliah kah?"

"Aku sarjana menari dari jurusan Art and Culture di University of Heidelberg" jawab Mita membuat Vikram melongo.

"Wow..." bisik Vikram.

"Jelek-jelek begini, aku punya gelar sarjana lho..." senyum Mita.

"Kamu tidak jelek Mita" ucap Vikram serius.

"Eh?!" Mata hijau Mita tampak mengerjap-ngerjap tanda dia bingung.

"Kamu itu cantik."

Pipi Mita merona mendengar pujian dokter Ortopedi dan Traumatologi itu.

***

Yuhuuuu Up Malam Yaaaaaa

Thank you for reading and support author

don't forget to like vote and gift

Tararengkyu ❤️🙂❤️

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!