NovelToon NovelToon

Menikah Dengan Casanova.

Situasi yang menuntut.

"Suster Mita, saran saya sebelum kanker serviks yang di derita ibu anda semakin bertambah parah, sebaiknya ibu anda segera mendapatkan tindakan operasi." seorang dokter spesialis yang baru saja keluar dari kamar perawatan ibu Romlah terlihat menjelaskan tentang kondisi Bu Romlah pada Mita selaku keluarga tunggal dari pasien.

"Baik dokter." jawab Mita. Meski dalam hatinya gadis itu merasa bingung harus mendapatkan uang dari mana untuk biaya operasi ibunya, apalagi untuk biaya operasi tentunya nominal yang tidak sedikit.

"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu."

Setelah kepergian dokter, Mita segera masuk ke dalam kamar perawatan ibunya. Seperti biasa jika berada di hadapan ibunya, Mita akan menampilkan wajah tegar.

"Apa tidak sebaiknya kita kembali ke kampung saja, nak???."

"Ibu ngomong apa sih, kita tidak akan kemana mana sebelum ibu kembali sehat seperti semula."

"Tapi biaya operasi ibu tidaklah murah, bagaimana kamu bisa mendapatkan uang sebanyak itu, Nak??." setelah sekian lama memendamnya kini Bu Romlah akhirnya mengungkapkan kekhawatirannya itu dihadapan putrinya.

Mita tersenyum di hadapan ibunya seakan ingin memperlihatkan jika semuanya akan baik-baik saja.

"Ibu tidak perlu mencemaskan hal itu, ibu hanya cukup istirahat dan jangan pernah memikirkan tentang itu lagi, biarkan untuk semua biaya rumah sakit serta biaya operasi menjadi urusan Mita, Bu!!!." Mita mengelus lembut kedua tangan ibunya yang tampak lemah.

"Baiklah jika Begitu keinginan kamu, tapi sungguh ibu tidak ingin melihat kamu dalam kondisi kesulitan, nak." Mita menggelengkan kepalanya sebagai pertanda jika ibunya jangan lagi membahas tentang hal itu.

Tak berselang lama, hembusan napas Bu Romlah terdengar mulai teratur pertanda wanita paru baya tersebut telah terlelap dalam tidurnya.

Setelah merapikan selimut yang menutupi tubuh ibunya, Mita pun beranjak keluar dari kamar perawatan tersebut. entah kemana tujuan Mita siang ini, yang jelas ia harus berhasil mendapatkan sejumlah uang untuk biaya operasi ibunya.

Sudah dua Minggu ibunya terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit akibat penyakit kanker serviks yang dideritanya, membuat Paramita atau gadis yang akrab di sapa Mita tersebut harus memutar otak untuk mencari uang yang jumlahnya tidak sedikit agar sang ibu tercinta bisa segera mendapatkan tindakan operasi.

*

"Mita." ia yang baru saja keluar dari kamar perawatan ibunya lantas menoleh ke sumber suara ketika mendengar seseorang menyerukan namanya.

Cukup lama Mita terdiam seraya menatap intens wajah gadis yang kini berdiri di hadapannya itu, seperti sedang mencoba mengingat ingat sosok wanita dihadapannya saat ini.

"Sari??." tebak Mita setelah berhasil Mengingat Sosok gadis cantik yang berdiri dihadapannya itu.

"Iya Ta, ini aku sari masa kamu sudah lupa sih sama aku." cetus Sari seakan tak suka jika Mita telah melupakan dirinya, yang notabenenya adalah sahabatnya ketika duduk di bangku SLTP sewaktu di kampung dulu.

"Ya ampun Sar, kamu makin cantik aja makanya aku jadi pangling sama kamu." kata Mita apa adanya.

"Eh... ngomong Ngomong kamu lagi Ngapain di sini??." lanjut tutur Mita.

"Aku baru saja menjenguk temanku yang sedang sakit." jawab Sari sebelum kemudian melontarkan pertanyaan yang sama pada Mita.

"Kamu sendiri ngapain di sini???."

"Ibuku sedang dirawat di dalam." jawab Mita seraya memandang ke arah pintu kamar perawatan ibunya.

"Ya ampun Ta, memangnya ibu kamu sakit apa???." tanya Sari.

Berhubung waktu berkunjung telah usai Sari lantas mengajak Mita untuk mengobrol di cafe yang letaknya di depan kawasan rumah sakit.

Setibanya di cafe, Sari lantas memesan dua gelas jus yang akan menemani obrolan mereka siang ini.

Setelah mendengar cerita Mita tentang kondisi ibunya saat ini sari turut merasa prihatin mendengarnya, apalagi setelah tahu jika operasi ibunya Mita belum juga terlaksana dikarenakan biaya yang belum terlunasi.

Sebagai seseorang yang cukup dekat dengan Mita tentunya Sari sangat tidak tega melihat Mita dalam situasi seperti ini, namun ia pun bingung harus membantu Mita dengan cara apa sedangkan dirinya sendiri tidak memiliki uang sebanyak itu.

"Sar, apa di tempat kerja kamu tidak membutuhkan karyawan baru???." pertanyaan Mita membuat Sari terkesiap mendengarnya.

"Butuh sih tapi..." Sari seakan ragu melanjutkan kalimatnya.

"Tapi apa???." Mita terlihat senang sekaligus penasaran setelah mendengar Sari mengatakan jika tempat kerjanya membutuhkan karyawan baru, namun ia pun merasa penasaran karena sari sengaja menggantung kalimatnya.

"Tapi aku tidak yakin kamu mau bekerja di sana." Sari pun melanjutkan kalimatnya setelah cukup lama terdiam.

"Club malam???." ulang Mita setelah mendengar semua cerita Sari tanpa sadar Mita mengeraskan suaranya sehingga membuat Sari melebarkan kelopak matanya ke arah Mita.

"Kecilkan suaramu!!!."

Mita sontak menutup mulutnya dengan telapak tangannya."Maaf." ucapnya.

"Sudah kuduga kau pasti tidak akan mau bekerja di tempatku bekerja." tebak Sari setelah melihat reaksi Mita saat mendengar cerita darinya.

"Bukan begitu, aku hanya terkejut saja." kata Mita apa adanya.

Sejenak Mita terlihat diam seperti sedang berpikir. Kini ia benar-benar merasa dilema antara bersedia bekerja di club malam bersama Sari atau membiarkan ajal tiba untuk menjemput ibunya.

"Aku bersedia bekerja denganmu." kata Mita setelah cukup lama berpikir. apalagi gaji yang akan di dapatkannya dengan bekerja di club malam tersebut cukup besar Dengan begitu ia bisa mengumpulkan uang untuk membayar biaya operasi ibunya.

Setelah percakapan mereka usai, Mita pamit pada Sari untuk kembali ke rumah sakit. Namun sebelum itu tentu saja Mita meminta nomor ponsel milik Sari, karena malam ini ia akan ikut bersama sari untuk menemui bosnya.

Kini Mita telah kembali ke kamar perawatan ibunya.

Mita mengayunkan langkahnya mendekat ke arah tempat tidur ibunya di mana saat ini ibunya masih terlelap.

"Semoga keputusan yang Mita ambil ini adalah keputusan yang tepat, bu." lirih Mita. Dalam hati Mita merasa bersalah karena akan bekerja di tempat yang paling tidak disenangi ibunya.

Perlahan Mita mendaratkan bokongnya di kursi yang berada di samping tempat tidur ibunya, kemudian di pegangnya tangan lemah wanita yang telah melahirkan serta merawatnya hingga dewasa tersebut.

"Ibu pasti akan sembuh seperti sedia kala. Mita akan melakukan apapun untuk kesembuhan ibu." lirih Mita dalam hati, tanpa sadar sudut matanya kini mulai basah.

Menyadari pergerakan ibunya, Mita sontak mengusap sudut matanya yang basah karena air mata kemudian mengukir senyum indah di bibirnya.

"Ibu sudah bangun." ucapnya ketika melihat kedua kelopak mata ibunya mulai terbuka.

Bu Romlah merespon ucapan putrinya dengan menarik salah satu sudut bibirnya ke samping.

Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Mita kembali membuka percakapan di antara ia dan ibunya.

"Bu.... malam ini Mita akan mulai bekerja, apa tidak masalah jika Mita meninggalkan ibu selama Mita bekerja???." ucap Mita.

"Kerja??? bukankah kamu sudah mengundurkan diri dari rumah sakit ini, nak???." dengan dahi sedikit berkerut ibunya berucap.

"Mita tidak bekerja di rumah sakit ini Bu tapi....."

"Tapi apa???."

"Tapi Mita bekerja di sebuah restoran, Bu." Mita terpaksa berdusta pada ibunya, sebab jika ia berterus terang sudah pasti ibunya tidak akan mengizinkannya bekerja di Club malam.

Selamat datang di karya recehku yang baru sayang sayangku.....😘😘😘😘😘

Mendapat Tatapan merendahkan dari seseorang.

Malam harinya.

Dengan menumpangi ojek online Mita menuju alamat yang baru saja di kirimkan Sari lewat pesan singkat melalui aplikasi hijau miliknya.

Dua puluh menit berada di atas ojek Online akhirnya Mita menemukan alamat kost kosan milik Sari.

"Ayo cepatlah!!! Aku bisa dapat teguran jika datang terlambat." kata Sari ketika Mita baru saja turun dari ojek Online.

"Iya ...iya...." dengan gerakan cepat Mita membayar ongkos Ojek online yang tadi ia tumpangi, sebelum kemudian naik ke atas motor matic yang dikendarai Sari.

Sari yang mengendarai motornya dengan kecepatan di atas rata-rata membuat jantung Mita seperti ingin keluar dari tempatnya karena ketakutan.

Barulah Mita dapat menghela napas lega setelah mereka tiba di sebuah Club malam yang cukup terkenal di kota itu.

"Ayo masuk!!!." Ajak Sari ketika melihat Mita masih diam terpaku.

"Iy_Iya." suara Mita terdengar terbata.

Kelap kelip lampu yang begitu khas dengan sisi gelap dunia malam menyambut kedatangan Mita dan Sari di club malam tersebut. sejujurnya Mita merasa berat sekaligus takut melangkahkan kakinya memasuki tempat itu, namun demi menyelamatkan nyawa sang ibu tercinta Mita melawan semua rasa itu.

Kini Sari mengajak Mita untuk masuk ke dalam sebuah ruangan khusus yang berada di dalam club malam tersebut.

Mita tak langsung mengikuti langkah Sari memasuki ruangan itu, Mita cukup lama berdiri terpaku di ambang pintu seraya menyapu pandangan ke dalam ruangan.

"Masuklah !!!." kata Sari. sari bisa melihat raut wajah ketakutan di wajah Mita saat ini, raut wajah yang tidak jauh berbeda ketika pertama kali ia mendatangi tempat itu.

Mita menganggukkan kepalanya lalu kemudian melanjutkan langkahnya menyusul langkah Sari.

"Duduklah!!! Aku akan ke dalam sebentar untuk bertemu dengan bosku." pamit Sari. Di dalam ruangan yang cukup minim cahaya tersebut ternyata masih ada lagi ruangan pribadi di dalamnya.

Entah apa yang tengah di bicarakan Sari bersama bosnya di dalam sana Mita sendiri tidak tahu. Namun tak berselang lama, Sari tampak keluar dari ruangan tersebut bersama dengan seorang pria yang berpenampilan kemayu.

Pria itu menatap Mita dari ujung kaki hingga ujung rambut sehingga membuat Mita merasa tak nyaman dibuatnya.

"Siapa namamu dan berapa usiamu saat ini???." tanya pria berpenampilan kemayu tersebut pada Mita.

"Nama saya Mita Om dan usia saya saat ini dia puluh satu tahun."

Pria itu mendengus kesal ketika mendengar Mita memanggilnya dengan sebutan Om.

"Panggil Mami saja, Ta." saran Sari dan Mita pun mengangguk paham.

"Baiklah malam ini kamu sudah boleh mulai bekerja!!!." kata pria itu dengan khas kemayu nya.

Kini ia beralih memandang ke arah Sari "antarkan dia untuk mengganti pakaian udiknya ini!!." titahnya dan sari pun mengangguk paham.

*

"Ada apa denganmu??." tanya Sari ketika melihat Mita seperti tak nyaman dengan pakaian yang kini ia kenakan, pakaian yang menurut Mita sangatlah minim bahan. Atasan model satu jari serta panjang bawahannya hanya sebatas p*ha.

"Aku tahu kau pasti tidak nyaman berpakaian seperti ini, tapi percayalah itu hanya sementara saja setelahnya kau pasti akan terbiasa." kata Sari seakan paham dengan apa yang ada di benak Mita saat ini.

Sejujurnya Dari juga tidak tega melihat Mita mengenakan pakaian serba minim seperti ini mengingat Mita tidak pernah berpenampilan seperti itu, namun demi menyelamatkan nyawa ibunya seperti Mita tidak punya pilihan lain selain menerima tawaran untuk menjadi pelayan di club malam bersama dengannya.

"Sari...Sari....mana anak baru itu???." pria kemayu yang merupakan pemilik Club malam tersebut terlihat menghampiri Sari dan Mita.

"Iya... Saya mami." Paham jika yang dimaksud pria itu dirinya, Mita lantas menjawab.

"Cepat pergi ke room dua puluh, saya tidak ingin tamu sampai marah karena terlambat mendapatkan pelayanan!!." titah pria itu sebelum kemudian berlalu begitu saja Meninggalkan Sari dan juga Mita.

"Baik mi." Kini Sari yang menjawab mengingat Mita masih terlihat diam saja.

"Aku takut, Sar." Mita layaknya anak kecil yang tengah mengadu pada kakak perempuannya di saat merasa ketakutan.

"Tenanglah !!! Cukup layani mereka dengan menuangkan minuman ke dalam gelas, jika mereka bertindak kurang sopan padamu maka pintar pintarlah mencari alasan untuk menghindarinya." pesan Sari pada Mita.

Masih dengan perasaan Dengan ragu Mita mulai mengayunkan langkahnya menuju room yang dimaksud. Mungkin karena tidak bisa mengontrol kecemasannya Mita sampai tidak sengaja menabrak tubuh tegap seseorang.

"Maafkan saya tuan, sungguh saya tidak sengaja." Mita menyatukan kedua tangannya di dada berharap pria itu memaafkan dirinya dan tidak melaporkan kejadian itu pada bosnya.

Bukannya menjawab, pria itu justru menyaksikan penampilan Mita dari ujung kaki hingga ujung rambut, sampai kemudian terdengarlah suara decakan dari bibir pria itu, decakan yang terdengar begitu merendahkan.

Mita yang mendengarnya seperti tidak punya harga diri di hadapan pria itu padahal kenyataannya mereka tidak saling mengenal satu sama lain.

"Maaf tuan, saya permisi." kata Mita, sengaja ingin menghindari tatapan merendahkan dari pria itu.

"Apa kau tidak punya pekerjaan lain selain menjual t*buhmu pada pria hidung belang." ucapan tajam pria itu sontak menghentikan langkah Mita.

"Saya tidak mengenal anda dan begitu pun sebaiknya, jadi saya rasa tidak ada alasan bagi saya untuk mendengarkan ocehan anda, tuan." Sekuat hati Mita mengucapkan kalimat tersebut padahal kenyataannya jantungnya seperti di tusuk ribuan jarum ketika mendengar kalimat merendahkan dari pria itu untuk dirinya.

Tidak ingin membuat hatinya semakin terluka mendengar ucapan pria itu Mita pun segera melanjutkan langkahnya menuju room dua puluh. Setelah beberapa kali mengetuk pintu, Mita pun memutar handle pintu room. pemandangan pertama yang disaksikan Mita adalah seorang pria bertubuh buntal yang nampak menjentikkan jarinya seakan meminta Mita untuk segera mendekat padanya.

Seperti pesan Sari padanya tadi, Mita mulai melayani pria itu dengan menuangkan minuman ke dalam gelas, namun setelah wine di botol tersisa tinggal setengahnya tangan pria itu mulai tidak bisa di kondisikan ia mulai meletakkan telapak tangannya di atas p*ha Mita, untungnya dengan cepat Mita menepis tangan pria buntal itu.

"Beraninya kau menepis tangan saya..." pria itu seperti tidak terima ketika Mita menepis tangannya dengan sedikit kasar.

"Tolong bersikaplah dengan sopan tuan, jika anda ingin saya menghargai anda maka saya pun begitu." kata Mita dengan nada yang masih terdengar sopan, padahal dalam hati ingin sekali ia menghajar pria kurang ajar itu.

Bukannya mengindahkan peringatan dari Mita, pria itu justru menarik tangan Mita agar mendekat padanya. kesabaran Mita yang kini Hanya tersisa setipis tissue tersebut akhirnya tak sanggup lagi untuk tidak melayangkan kepalan tangannya ke wajah pria itu.

Bug.

"Argh.....dasar wanita j*lang sok jual mahal, kamu pikir saya tidak mampu untuk membayar tubuhmu hah????." merasakan sakit pada wajahnya membuat pria itu spontan meninggikan suaranya.

"Jangankan uang anda tuan, nyawa anda sekalipun tidak akan sanggup membayar harga diri saya." kata Mita saking kesalnya Mita pun turut meninggikan suaranya.

Selamat datang di karya recehku yang baru sayang sayangku......

Seakan mendapatkan angin segar.

"Hei... kusut amat tuh muka kayak cucian belum disetrika aja." seloroh salah seorang kawannya ketika Damar baru saja memasuki salah satu private room di club malam XXX dengan wajah kusutnya.

Kesal mengingat perdebatannya dengan sang ayah akhirnya membuat Damar menerima ajakan kawan lamanya untuk bersenang-senang di club, malam ini. Sudah beberapa bulan terakhir Damar sering kali terlibat perdebatan dengan sang ayah yang menginginkan ia untuk segera menikah.

Pernah merasakan kecewa dikhianati oleh cinta pertamanya membuat Damar berubah menjadi seorang Casanova yang tidak lagi percaya dengan adanya cinta sejati. meskipun sering bergonta-ganti pasangan namun tidak serta Merta membuat Damar melakukan h*ving s*x sebelum menikah, Bagi Damar cukup dengan berc*uman saja.

Malam itu Damar kembali menenggak alkohol, satu kegiatan yang telah lama ditinggalkannya.

*

"Kamu benar benar tidak tahu di Untung, baru juga sehari bekerja sudah membuat masalah dengan tamu." bukannya memberikan pembelaan pada Mita atas tindakan tidak sopan dari tamu, bosnya justru mempersalahkan Mita dalam hal itu.

"Tapi Momi pria itu yang sudah bertindak kurang ajar duluan pada saya." bukannya ingin membela diri namun Mita hanya berusaha mengungkapkan fakta yang terjadi, akan tetapi pria kemayu yang akrab dipanggil momi tersebut seakan tak memberi kesempatan bagi Mita memberikan pembelaan atas dirinya. Sementara Sari yang tidak bisa berbuat apa apa hanya terlihat diam seraya mengusap punggung Mita seakan meminta temannya itu untuk diam dan tak lagi berdebat.

"Sudah berani membantah kamu ya. Apa kamu mau saya pecat???." mendengar ancaman dari momi Mita bukannya takut ia justru terlihat menyeringai.

"Tanpa anda pecat sekali pun saya juga akan berhenti bekerja di tempat anda." dengan lantang tanpa keraguan Mita berucap lalu kemudian mengayunkan langkahnya meninggalkan tempat h*ram itu begitu saja.

Dengan langkah cepat Sari menyusul Mita hingga ke depan club.

"Ta." seruan Sari akhirnya menghentikan langkah Mita untuk sejenak. setelah mengusap air matanya yang jatuh tanpa permisi, Mita lantas menoleh pada Sari.

Sari melangkah mendekati Mita kemudian ia memeluk tubuh sahabatnya itu. "Maafkan aku karena tidak bisa berbuat banyak untukmu, Ta." sesal Sari.

Mita tersenyum, lebih tepatnya memaksakan bibirnya untuk bisa tersenyum di saat hatinya tak sanggup untuk melakukannya. "Tidak perlu minta maaf karena kamu tidak salah." Mita membalas pelukan Sari, lalu kembali melerai pelukannya setelah beberapa saat kemudian.

"Masuklah, lanjutkan pekerjaanmu !! Aku harus segera pergi ibu pasti sedang menungguku." ucapnya seraya mengulas senyum di sudut bibirnya. Seolah ingin memperlihatkan pada Sari jika saat ini ia baik baik saja.

Sari mengangguk lalu kemudian dengan berat hati ia kembali ke dalam club, sementara Mita segera melanjutkan langkahnya entah kemana ia sendiri bingung terlebih saat ini ia tengah mengenakan pakaian minim bahan.

Beberapa saat menyusuri jalanan sorot lampu mobil tiba tiba menyilaukan pandangan Mita sehingga membuatnya menutupi pandangannya dengan tangannya.

Betapa terkejut serta malunya Mita ketika melihat siapa yang kini baru saja turun dari mobil tersebut.

"Tuan Anggara." lirih Mita.

Saking malunya Mita sampai tertunduk malu seakan tak sanggup menatap wajah pria paru baya yang saat ini telah berdiri di hadapannya.

Melihat keberadaan Mita yang tak jauh dari lokasi hiburan malam, apalagi dengan penampilan Mita saat ini pria paru baya tersebut dapat menyimpulkan jika Mita baru saja dari tempat hiburan m*lam tersebut.

"Masuklah ke mobil, saya akan mengantarkan mu ke rumah sakit." Tidak ingin menyinggung perasaan Mita, tuan Anggara tidak mempertanyakan praduganya pada Mita, pria itu justru merasa iba dan meminta Mita untuk segera masuk ke dalam mobilnya.

Namun sebelum beranjak ke mobil, tuan Anggara membuka jasnya kemudian memberikannya pada Mita untuk menutupi bagian tubuhnya yang nampak terbuka akibat baju minim bahan yang dikenakannya.

Di perlakukan layaknya seorang anak oleh pria paru baya itu membuat Mita merasa terharu hingga tanpa sadar kedua kelopak matanya berkaca-kaca.

Setelah Mita dan tuan Anggara telah berada di dalam mobil, sopir pribadi pria itu pun segera melajukan mobil dengan kecepatan sedang meninggalkan kawasan tersebut.

Kini Mita duduk tertunduk di samping pria yang hampir sebaya dengan almarhum ayahnya tersebut.

"Apa yang membuatmu sampai bertindak gegabah seperti itu???." pertanyaan tuan Anggara seakan tahu dengan apa yang terjadi pada Mita.

Sementara Mita yang mendapat pertanyaan demikian tak sanggup menjawabnya.

"Katakanlah, anggap saja malam ini aku seorang ayah yang tengah bertanya pada putrinya!!!." kalimat tuan Anggara sungguh menyentuh hati Mita sehingga membuat gadis itu menangis tanpa suara.

"Apa kau melakukan semua itu demi ibumu???." tebak tuan Anggara ketika melihat Mita masih menangis tanpa suara.

"Hanya ibu satu satunya yang aku miliki di dunia ini, tuan, dan aku tidak ingin sampai kehilangan ibuku."

Dari kalimat Mita, tuan Anggara sudah bisa mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.

"Kenapa kau tidak mencari cara yang lain?? mencari pinjaman pada orang lain misalnya." kalimat pria paru baya tersebut sontak membuat Mita menoleh padanya.

"Di zaman sekarang mana ada orang yang mau meminjamkan uang dengan jumlahnya tidak sedikit pada orang lain tanpa imbalan, tuan." tutur Mita. Dari wajahnya tersirat kesedihan yang mendalam.

"Seperti yang kau katakan, tidak ada orang yang mau memberikan pinjaman tanpa imbalan. Lalu bagaimana jika saya bersedia membayar biaya operasi ibu kamu apakah kamu bersedia memberikan imbalan pada saya????."

Mita yang mendengarnya sontak menyilangkan kedua tangannya pada bagian d*danya dan itu mampu menciptakan senyum di bibir tuan Anggara.

"Jangan khawatir, saya bukan pria hidung belang dan saya sangat mencintai ibu dari anak anak saya." tutur tuan Anggara seakan paham dengan isi kepala Mita saat ini.

"Lalu apa maksud ucapan anda, tuan." tanya Mita dengan wajah bingung.

"Menikahlah dengan putraku dengan begitu saya akan membayar biaya operasi ibu kamu. bukan hanya itu saya juga akan membayar semua biaya pengobatan ibu kamu sampai beliau sembuh seperti sedia kala."

Deg.

Mita seperti sedang bermimpi ketika mendengar penawaran dari tuan Anggara padanya.

"Anda jangan bercanda, tuan." Mita terlihat meragu.

"Apa kau melihat gurat canda di wajah saya??." setelah cukup lama memperhatikan guratan di wajah tuan Anggara, Mita lantas menggelengkan kepalanya.

"Jika kau bersedia menikah dengan putraku maka saya pastikan ibumu akan segera mendapatkan tindakan operasi secepatnya."

Kalimat tuan Anggara seperti angin segar yang kini menerpa Mita.

Demi keselamatan ibunya, Mita pun tak butuh waktu untuk berpikir terlalu lama.

"Saya bersedia menikah dengan putra anda, tuan." jawaban Mita membuat senyum sempurna tercipta di wajah tuan Anggara.

"Besok saya pastikan ibumu akan segera mendapatkan tindakan operasi dengan begitu saya berharap kamu tidak akan mengingkari janjimu padaku."

"Saya berjanji tuan, dan saya tidak akan mengkhianati janji saya pada anda, apapun yang terjadi saya akan tetap bersedia menikah dengan anak anda." saat ini bagi Mita kesehatan ibunya nomor satu, untuk kebahagiaannya sendiri itu akan menjadi nomor kesekian di kamus Mita.

Untuk mendukung karya recehku jangan lupa like, koment, vote, give and subscribe ya sayang sayangku 😘😘😘😘😘 dan jangan lupa untuk memberikan ulasan 🥰🥰🥰🥰🥰

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!