NovelToon NovelToon

Revenge : Luna

1. Kehidupan Pertama

Di sebuah panti asuhan, anak-anak bermain kejar-kejaran dengan tawa yang menghiasai. Walau pakaian mereka terlihat lusuh dan kekecilan, mereka tidak peduli dan hanya fokus bermain.

Di antara semua anak itu, ada satu gadis yang memperhatikan agar anak-anak tidak bertengkar atau terjatuh saat bermain, gadis itu bernama Lunaria. Walau memakai pakaian lusuh, dan wajahnya sedikit kucel, gadis itu masih terlihat cantik, apalagi dengan rambut hitam pekat dan mata birunya yang mencolok.

Luna adalah gadis yang sangat di sukai di panti asuhan, selain karena penampilannya yang sedikit lebih cantik dari anak-anak yang lain, dia juga memiliki pribadi yang baik. Luna sering membantu ibu panti mengurus anak-anak, atau mengerjakan pekerjaan rumah.

Usia gadis itu kini berada di angka lima belas, ia sekolah di sekolah negeri dengan beasiswa penuh, walau memiliki keterbatasan ekonomi, tidak sedikitpun menggoyahkan tekadnya untuk belajar. Dan ibu panti juga mendukung keinginannya dan membantu sekuat yang dia bisa.

Terlalu asyik dengan kegiatannya, Luna tidak menyadari kedatangan ibu panti bersama beberapa orang asing, baru setelah di panggil, Luna akhirnya menyadarinya.

"Luna." Ibu panti memanggil dengan lembut, membuat Luna lantas menoleh dan menjawab dengan lembut juga. "Iya, Ibu?"

Ibu panti tersenyum dan mendekat pada Luna, di ambilnya tangan gadis itu yang terlihat kasar dan kapalan, karena seing membantunya untuk mengerjakan pekerjaan kasar. "Nak, kamu bisa pulang sekarang."

Luna tak mengerti, dan Ibu panti lantas membawa Luna pada orang-orag asing yang sendari tadi menunngu tak jauh dari mereka. "Luna, mereka adalah keluargamu, keluarga kandungmu." Ucapan ibu panti membuat Luna terkejut. Tentu saja, setelah selama ini, akhirnya dia bertemu dengan keluarga kandungnya.

Tapi Luna tidak bisa percaya begitu saja, dia meminta bukti jika memang dirinya adalah anak kandung dari dua orang yang sekarang berada di hadapannya, yang mengaku sebagai Ayah dan Ibunya. Pria yang mengaku Ayahnya lalu memberikan hasil tes DNA yang di ambil beberapa hari lalu, dengan bantuan ibu panti untuk mengambil sempel rambut Luna. Dan tes itu menyatakan jika Luna memang benar-benar anak mereka.

Kemudian terjadilah reuni yang sangat membahagiakan di anatara mereka, Luna menangis dan mengtakan jika dia selalu menunggu mereka untuk menjemputnya. Kedua orang tua Luna juga meminta maaf karena baru menjemput gadis itu setelah banyak waktu berlalu.

*****

"Ingat, nak. Kamu adalah anak yang baik dan kuat, kamu pasti akan bahagia." Ibu panti berkata dengan lembut dan penuh dengan perhatian.

Luna menagngguk, dia lalu masuk ke dalam mobil mewah yang sekarang akan berjalan menuju rumahnya, rumah keluarga Bellomre. Luna duduk bersama dengan sang Ibu, Isabella Chayu Bellmore. Sedangkan Ayahnya duduk di depan, bersama sopir, nama Ayahnya adalah Darius Bellmore.

Luna tidak pernah bermimpi jika ternyata keluarganya adalah orang yang sangat berpengaruh di negara ini, dia dulu hanya membayngkan jika keluarganya adalah keluarga biasa saja, karena mereka bahkan tidak menemukannya selama lima belas tahun ini.

Isabella mengatakan jika Luna memiliki tiga kakak laki-laki, dan satu adik laki-laki. Luna tentu saja senang, karena akhirnya dia memiliki seorang kakak, di panti, dia adalah yang paling besar, dan hanya ada tiga anak kecil yang menjadi adiknya.

Tapi, saat sampai di tempat yang katanya adalah rumah barunya itu, dia malah mendapati hal yang menyakitkan hatinya. Saat tiba di ruang keluarga untuk bertemu dengan keluarga yang lain, dirinya malah mendapati seorang gadis yang duduk di antara orang-orang yang adalah kakak dan adiknya. Gadis itu tidak ada dalam daftar keluarga yang tadi di katakan Ibunya.

Kakak-kakaknya tertawa dan bercanda ria, tidak menyadari keberadaannya. Luna hanya bisa tersenyum miris, bahkan saat orang tuanya mengenalkan jika dirinya dalah adik dan kakak kandung mereaka, respon mereka hanya biasa saja. Luna bagaikan orang asing yang tidak di terima di keluarganya sendiri, sedangkan gadis asing itu di perlakukan bagaikan keluraga kandung mereka.

Gadis itu, namanya Sabrina, Sabrina Bellmore. Anak angkat keluarga Bellmore yang telah kehilangan putrei mereka setelah dua tahun. Jadi selama dua tahun awal Luna hilang, keluarga Bellmore malah mengangkat anak yang tidak tahu asal usulnya dari mana dan menjadikannya sebagai pengganti putri yang hilang itu.

Hari-harinya di mansion Bellmore selalu suram, mereka memang memenuhi semua kebutuhan dan keinginananya, tapi tidak pernah memberikan perhatian dan atensi padanya. Semua selalu memprioritaskan Sabrina, hingga Luna sendiri merasa muak.

Bahkan setelah dua tahun tinggal bersama, tidak ada perbuahan yang berarti, beberapa dari mereka bahkan sering salah memanggil namanya, dan selalu mengacuhkan keberadaannya. Yang lebih menyakitkan lagi, saat mereka menuduhnya mencelakai Sabrina karena iri pad gadis itu. Yang berakhir Luna di hukum di kurung di dalam kamarnya selama seharian penuh, dan saat kebenaran jika bukan dirinya yang mencelakai Sabrina, mereka bahkan tidak meminta maaf dan bersikap bodo amat.

Luna yang muak karena selalu di fitnah tanpa bukti, akhirnya Luna benar-benar mengganggu dan mencelakai Sabrina, membut citranya semakin buruk di depan semua orang. Orang-orang yang tadinya dekat dengannya, mulai menjauhinya, di sekolah dia di bully karena berasal dari panti asuhan, selama dua tahun bersama keluarga Bellmore, mereka tidak mengubah statusnya.

Yah, katakanlah Luna menjadi egois dan kejam, dia sudah tidak peduli sengan semua hal, baik kasih sayang keluarga, ststus, kehormatan, atau bahkan rasa sakit dari semua penderitaannya. Bahkan sampai saat ini, saat dirinya terkurung di basement, dengan luka di sekujur tubuhnya, Luna tetap tenang saat orang yang menyebabkan penderitannya datang.

"Bagaimana kabarmu, Luna?"

Luna tersenyum dan menatap mata orang itu, "Entahlah." Jawabnya tak acuh.

Orang itu, Sabrina. Dia menatap tajam pada Luna yang masih saja bersikap tenang, bahkan saat dirinya di ujung kematian. Tapi setelahnya dia tersenyum, menunjukkan sebuah artikel yang telah di cetak dan membiakan Luna membacanya sendiri. "Aku baik bukan? Aku telah menghancurkan keluarga yang mengabaikanmu." Ucapnya dengan santai.

"Ha! Kau gila?! Kau menghancurkan keluarga yang telah membesarkan dan mengurusmu?!" Luna berteriak murka, dia membaca jika keluarga Bellmore telah hancur, semua anggota keluarganya mati terbunuh dalam penyerangan dadakan yang di lakukan musush keluarga Bellmore. Di katakan jika ada pengkhianat dari dalam, membuat Bellmore semakin kesulitan serangan dadakan itu. Tidak ada yang tersisa dari Bellmore, hanya tersisa nama dan sejarahnya saja.

Sabrina tertawa dengan keras, dia menatap Luna dengan tatapan kasihan dan terkesan mengejek. "Kau pikir, aku peduli dengan semua kasih sayang tidak berguna itu?" Luna semakin marah, dia mencoba berdiri dan hendak menerjang Sabrina, tapi langsung di tahan dan di bekuk dengan kuat oleh orang-orang berbaju hitam yang di bawa gadis itu.

"Baj*ngan kau!!" Luna semakin berteriak dengan murka.

Sabrina menulikan pendengarannya dan memerintahkan orang-orang itu untuk membawa Luna, bahkan mata gadis itu di tutup oleh kain hitam dengan kuat.

Luna tidak tahu dia akan di bawa kemana, dan dia juga sudah tidak peduli, setelah mengetahui kebenaran jika ternyata Sabrina hanya memanfaatkan keluarganya, dan kebenaran jika ternyata gadis itu adalah anak dari musuh terbesar keluarganya.

Luna tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika keluarganya mengetahui kebenaran itu, apa mereka akan membenci dan menyalahkan anak yang telah mereka rawat dengan sepenuh hati?

Entahlah, Luna tidak tahu, dan dia juga tidak akan mengetahuinya, karena keluarganya telah musnah. Semuanya hancur dan tak bersisa, jadi, apa lagi yang bisa di harapkan dari hidupnya?

Selama ini Luna hidup untuk bertemu keluarganya, tapi setelah bertemu, dia malah mendapatkan rasa sakit yang tidak seharusnya ia dapatkan. Rasanya sangat menyakitkan, hingga Luna merasa mati lebih baik daripada hidup seperti ini.

Di tengah pemikirannya, ia tiba-tiba di seret dengan kasar dan di jatuhkan, kain di matanya di buka, dan hal pertama yang dia lihat adalah hamparan lautan yang luas.

Ah, apakah Sabrina akan membuangnya ke dalam laut? Fikiran itu terlintas begitu saja, dan seprtinya memang benar.

Wajah Luna di tarik dan di pakas untuk mendongak menatap Sabrina yang menyeringai, "Mau tau sesuatu yang lebih menyenangkan?" Tanyanya dengan mata menyipit menyeramkan, tidak cocok dengan wajahnya yang cantik.

"Apa lagi? Memangnya ada yang lebih mengejutkan lagi? Dibanding dengan dirimu yang menghancurkan keluarga yang mencintai dan menyayangimu?" Tanya balik Luna dengan wajah yang sudah pasrah.

"Kuyakin jika ini akan lebih mengejutkanmu."

Sabrina mendekatkan wajahnya pada telinga Luna, dan mengatakan sesuatu, yang membuat wajah tak berekspresi Luna hancur begitu saja, di gantikan dengan wajah tak percaya sekaligus marah.

"Kau!!" Luna memberontak saat orang-orang berbaju hitam kembali memeganginya, tatapan matanya benar-benar tidak bisa menyembunyikan perasaan marah, sakit, dan juga kekecewaan yang sangat besar.

"Lempar dia!"

Setelah mengatakan itu, tubuh Luna melayang dan dengan cepat menghantam air laut. Karena air laut mengandung kadar garam, luka yang sebelumnya menganga menjadi berkali-kali lipat perih. Tangan dan kakinya terikat, dia tidak bisa melakukan apapun.

Di kedalam laut, Luna dengan putus asa mengutuk atas semua kekejaman yang di lakukan Sabrina.

‘Ini tidak adil! Kenapa harus aku yang menderita?! Tuhan! Jika kau memang peduli pada hambamu! Tolong! Balas perbuatan gadis jahat itu!’

Luna benar-benar putus asa, dia hanya bisa pasrah saat pandangannya mulai menggelap, dan pasokan udara di paru-parunya telah habis, dia hanya berharap agar semua rasa sakit dan penderitannya di balas dengan setimpal.

Bersambung ...

2. Kembali

'Tuhan, aku hanya berharap agar mereka yang telah berbuat jahat padaku, mendapat balasan yang setimpal. Dan tolong, tempatkan keluargaku di sisimu.'

Setelah do'a yang ia ucapkan dalam hati dengan sungguh-sungguh dan putus asa, sebuah tarikan kuat membuatnya yang telah menutup mata dengan pasrah, harus kembali membukanya dengan nafas terengah-engah.

Bukan air laut atau basement gelap yang kini ia tempati, tapi belantara hutan dengan cahaya siang hari, bahkan tubuhnya kering, dan tidak ada luka mengerikan yang di sebebkan penyiksaan yang di lakukan Sabrina.

Luna lantas langsung meriah bajunya, baju kusut dan kotor. Juga, tubuhnya terasa lebih kecil dan lebih kurus.

"Bagaimana mungkin? Bukankah harusnya aku mati di dasar laut?" Monolognya tak percaya, tangannya terangkat dan mengusap wajahnya, ia tidak bisa melihat pantulan dirinya karena tidak ada cermin.

Kakinya lantas dengan cepat berdiri dan berlari menuju sebuah danau tak jauh dari tempatnya tadi, ia tidak tahu jika disini ada danau, hanya saja, kakinya sepertinya mengingatnya.

Di lihatnya pantulan dirinya dari air danau, lantas kakinya terasa melepas dan dia jatuh terduduk, dengan tangan gemetar meraih wajahnya yang sedikit berbeda.

Ia mengenali wajah ini, terasa berbeda karena sebelumnya wajahnya tidak kumal dan bersih, sejak tinggal di kediaman Bellmore, wajahnya menjadi lebih teramat dan lebih cantik. Tapi wajah ini, jelas Luna mengenalnya, ini wajahnya, lebih tepatnya wajahnya sebelum ia melakukan perawatan di keluarga Bellmore dulu.

"Ibu!"

Dengan pikiran kalut, Luna berlari dari danau dan keluar dari hutan, menuju sebuah rumah kayu yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, dia melihat anak-anak yang tengah bermain, dan seorang wanita paruh baya yang sedang memperhatikan di teras.

"Ibu... "

Dengan cepat, Luna berlari dan melewati anak-anak yang antusias saat melihatnya, Luna memeluk orang yang ia sebut Ibu dan menangis.

"Ibu! Ibu!"

Tangisannya begitu menyayat hati, Ibu panti bahkan tidak bisa bereaksi dan hanya bisa mengelus punggung bergetar anak yang telah ia besarkan itu.

Melihat Luna yang menangis, anak-anak lantas ikut menangis dan berhembur memeluk Luna dan Ibu panti. Ibu panti menjadi panik dan kelabakan, ia tidak tahu apa yang menyebabkan anak pertamanya menangis histeris.

"Sudah, ada apa? Kenapa menangis?" Suara lembut itu bukannya membuat Luna berhenti menangis, malah semakin menjadi.Ibu panti setelahnya hanya bisa menghela nafas dan tersenyum, menenangkan anak pertamanya dan mengelusnya dengan lembut.

Beberapa menit kemudian, barulah Luna berhenti menangis, matanya sembap dan merah, membuat Ibu panti menatap khawatir, sebelumnya Luna tidak pernah menangis hingga histeris seperti ini, anak itu selalu terlihat tenang.

“Kenapa hm? Mau kan cerita sama Ibu?” Tanya Ibu panti dengan hati-hati.

Luna mengangguk, dia lalu menatap pada anak-anak yang juga ikut menangis, memeluk mereka dan meminta maaf karena membuat mereka ikut menangis.

Malam tiba, Luna membaringkan tubuhnya di ranjang tipis yang hanya di lapisan selimut tipis juga, dia menemukan fakta jika dirinya memang tampaknya telah kembali ke masa lalu, lebih tepatnya ke waktu sebelum orang tuanya menemukannya, dan itu terjadi sekitar beberapa bulan lagi.

Ibu panti juga tampaknya belum bertemu dengan orang tuanya, karena Luna ingat, satu minggu sebelum kedatangan orang tua kandungnya, Ibu panti meminta agar dia bisa menyisir rambutnya, dengan alasan dia rindu masa-masa ketika Luna kecil dulu.

Ngomong-ngomong tentang Ibu panti, Luna pernah di beri tahu jika Ibu panti menemukannya di tengah hutan dekat rumahnya, itu adalah hutan tempat Luna tadi terbangun. Dan ibu panti menemukannya saat Luna masih bayi, dan sepertinya belum terlalu lama di tinggalkan karena tubuh Luna masih terasa hangat, walau setelahnya Luna sakit karena udara dingin.

Dan Ibu panti juga mengatakan jika saat itu Luna seperti baru berumur satu atau dua minggu, karena Luna masih terlihat sedikit merah. Ibu panti bernama Yunita Pertiwi, dan nama Luna adalah pemberian dari Yuni, nama lengkapnya adalah Lunaria, yang berarti bulan.

Sekarang juga jika di pikir lagi, ada satu hal yang menjadi tanda jika dirinya adalah bagian dari keluarga Bellmore, itu adalah sebuah tanda di leher bagian belakangnya. Sebuah tanda lahir dengan bentuk menyerupai bunga.

Tok. Tok. Tok.

Pintu kamar Luna di ketuk, dan si pemilik kamar lantas dengan cepat membuka pintu, karena dia tahu siapa yang telah mengetuk pintu.

“Belum tidur?” Tanya Yuni setelah Luna membuka pintunya.

Luna hanya menggelengkan kepalanya, lalu mempersilahkan Yuni untuk masuk. Yuni menutup pintu dan duduk di sebelah anak pertamanya yang hanya diam duduk di sisi kasur.

“Mau cerita, sayang? Kamu kenapa kelihatan sangat gelisah? Dan kenapa tadi menangis sangat histeris? Ada yang mengganggu kamu?” Pertanyaan beruntun dari Yuni tak ada yang mendapat tanggapan dari Luna, membuat Yuni hanya bisa menunggu.

“Ibu... “

Yuni tidak pernah mengharapkan jawaban, jika itu memang akan membuat anaknya menjadi sedih dan sentimental seperti ini. Dengan lembut wanita itu lantas membawa Luna pada pelukannya, di tenangkannya anak yang kembali menangis itu.

“Ibu... mereka jahat! Aku gak mau sama mereka lagi! Ibu aku gak sanggup! Aku menderita!”

Yuni mendengarkan dengan baik keluhan putrinya, tangannya tak berhenti mengelus dengan lembut punggung yang bergetar itu. Walau sebenarnya Yuni penasaran, siapa orang yang di maksud oleh Luna?

Kali ini gadis itu menangis sangat lama, hingga gadis itu lelah dan tertidur dalam pelukan Yuni, wanita itu diam-diam juga menahan air matanya, hatinya sakit melihat anak yang telah ia besaran menangis dengan putus asa seperti itu, seolah dia telah mengalami masa yang sangat sulit dan menyakitkan.

“Apapun yang terjadi, Ibu selalu bersama kamu, di setiap do'a Ibu, kamu selalu menjadi salah satu hal yang selalu Ibu utamakan.” Yuni mengusap dengan sayang kepala putrinya yang tertidur, ia ingin bertanya besok, tapi sepertinya hanya akan membuat putrinya semakin terpuruk, jadi lebih baik Yuni diam hingga Luna sendiri yang memberitahunya.

♡♡♡

Pagi harinya, Yuni benar-benar tidak bertanya apapun, dan Luna menyadari jika Ibunya penasaran dengan alasan sikap dirinya kemarin. Tapi untuk saat ini, Luna tidak bisa memberi tahu Yuni tentang hal itu, bukan dia tidak percaya, malah dia sangat percaya dan yakin jika Yuni akan berada di pihaknya. Hanya saja, dia khawatir setelah Yuni mengethui hal itu, maka dia akan melakukan apapun agar orang tua Luna tidak bisa menemuinya. Dan itu akan menghalangi balas dendamnya.

Hari-hari berjalan seperti biasanya, hanya saja kali ini ada sedikit hal yang berbeda. Yaitu Luna yang selalu pulang sekolah lebih lambat dari pada biasanya, dan saat di tanya alasannya, gadis itu menjawab jika dia memiiki urusan dengan temannya.

Seperti saat ini, Luna tengah duduk di salah satu kursi cafe, bersama seorang pria yang tampak berumur dua puluhan. Gadis itu berbincang beberapa hal dengan si pria, dia juga memberikan beberapa lembar kertas beserta foto pada pria itu. Si pria membaca dengan tenang kertas yang di sodorkan gadis di hadapannya. Gadis yang beberapa hari lalu sering ia temui dan berdiskusi bersama, padahal dia yakin, jika dirinya selalu merasa tidak nyaman saat berdekatan dengan seorang gadis, tapi entah kenapa, tidak ada penolakan pada gadis itu, makah dia merasa nyaman dan ingin lebih lama bersama si gadis.

Awalnya pertemuan mereka terjadi di sebuah gang, dia terluka dan tak sengaja bertemu dengan gadis di hadapannya ini, gadis itu membantunya bersembunyi dari orang-orang yang mengejarnya, bahkan juga mengobati lukanya dengan terampil. Saat di tanya apa imbalan yang di inginkan gadis itu, si gadis hanya menjawab jika dia tidak sengaja lewat, dan tidak membutuhkan imbalan apapun.

Setelahnya mereka berpisah, tapi entah kebetulan dari mana, mereka kembali bertemu di tempat yang tidak terduga, di sebuah bar. Gadis itu menggunakan penyamaran, dan tampak membuntuti seseorang.

"Apa yang gadis di bawah umur lakukan di sini?"

Gadis itu tentu saja terkejut ada seseorang yang mengenalinya, dan lagi, ternyata dia juga mengenali pria yang barusan bertanya padanya. Luna, gadis itu tidak tahu harus memberikan alasan apa, dan dia terlalu takut untuk terlibat degan pria ini.

Memangnya siapa yang tidak mengenali pria ini? Dia adalah anak pertama keluarga Rodriguez, yang akan menjadi calon penerus selanjutnya kelurga itu. Di kehidupannya sebelumnya, Luna memang tidak pernah bertemu atau terlibat dengan salah satu keluarga Rodriguez, dia hanya tahu jika keluarga itu sangat terpandang, dan tidak semua orang bisa dengan mudah bertemu dengan salah satu dari mereka.

Tapi... kenpa kali ini Luna malah bisa dengan mudah bertemu dengannya? Walau kebetulan juga sih, dan hanya dua kali, di tempat yang tak terduga pula.

"Hei, nona?"

Luna tersentak dan menatap kembali pada pria itu, dia terlalu hanyut dalam lamunannya tadi, dan kali ini sepertinya pria itu sangat menuntut jawabannya. "Ah, itu... saya hanya tersesat..." Ucapnya dengan memelan di akhir kata.

Terdengar suara tawa tertahan dari pria di hadapannya, dan itu membuatnya semakin malu. Sial! Sungguh alasan yang sangat tidak masuk akal!

"Baiklah, terserah padamu saja, toh itu urusanmu."

Luna sedikit menghela nafas, dia hendak pergi, tapi pria Rodriguez itu malah menahannya, "Setidaknya beri tahu aku siapa namamu, nona." Ucapnya dengan nada menuntut.

"Luna."

Setelah mengatakan itu, Luna berlari keluar bar, lagi pula tujuannya sudah tercapai, dan dia sudah tidak punya urusan lagi di sana. Tapi, ia penasaran, bagaimana pria itu bisa mengenalinya? Padahal dia sudah memakai seftlens dan wig, bahkan memakai masker juga.

"Albert Ashborne Rodriguez, pria yang sangat misterius."

****

Beberapa minggu berlalu, Luna telah menyelesaikan semua urusan dan persiapannya, persiapan untuk apa? Tentu saja untuk balas dendam dan menemui keluarga kandungnya. Tidak, bukan dia yang akan menemui mereka, tapi merekalah yang akan menemuinya.

Dan untuk mewujukan semua itu, Luna berusaha keras menyusun sekenario selama beberapa minggu ini, dia juga telah membuat rencana cadangan jika rencananya kali ini gagal. Tapi sepertinya tidak perlu rencana cadangan, karena ikan yang di inginkan telah memakan umpannya.

Bersambung ...

3. Membuat Sekenario

Luna tetap pada kegiatannya, sekolah dan bekerja paruh waktu di sebuah cafe dekat sekolahnya, ia pindah sekolah dari sekolah sebelumnya, lebih tepatnya mengikuti kelas akselerasi satu kali, jadi sekarang ia sekarang berada di kelas satu SMA. Seperti yang telah di prediksinya, keluarga Bellmore telah menemukan keberadaannya, dan mereka telah mulai mengumpulkan data tentangnya.

Kelas akselerasi, bekerja paruh waktu, dan beberapa hal yang di lakukannya selama beberapa minggu ini di tujukan untuk itu. Sebelum dirinya kembali ke masa lalu, dirinya pernah di beri tahu jika keluarga Bellmore pertama kali menemukannya saat dia pulang sekolah, mereka mengatakan jika saat itu Luna menggulung rambutnya ke atas, hingga terlihat tanda lahir yang menjadi ciri keluarga Bellmore.

Seharusnya kejadian itu terjadi sekitar satu bulan lagi, tapi jika ia mengikuti waktu yang sama, maka semua akan berjalan seperti sebelumnya juga. Luna tidak akan membiarkan musuh memiliki waktu untuk bersiap, dia akan terus membuat sekenario dan rencana untuk membuat musuh lengah dan selalu tertinggal satu langkah di belakangnya, karena Luna mengetahui masa depan.

Apalagi Luna mengetahui, jika sebenarnya, semua hal yang terjadi di masa lalu adalah ulah dari orang yang berada di belakang Sabrina, gadis itu sendiri yang memberitahunya. Dia mengatakan jika pencilikan Luna saat masih bayi adalah ulah mereka, mereka awalnya tidak menyangka jika Luna masih hidup, jadi mereka membuat rencana lain, membuat Sabrina menjadi pengganti Luna dan mempengaruhi keluarga Bellmore untuk menyayanginya dan melupakan putri kandung mereka.

Dan yang paling di sesali Luna adalah, kenyataan jika ternyata keluarganya menjauhinya untuk melindunginya. Kenyataan itu ia ketahui ketika Sabrina membisikkan sesuatu di telinganya sesaat sebelum dirinya di lempar ke lautan.

Luna sekarang semakin yakin untuk menyelamatkan keluarganya, walau tetap saja, perasaan kecewa masih menggenang di hatinya. Rasa sakit yang dia rasakan tidak bisa di obati hanya dengan obat biasa, bukan hanya fisik, tapi juga batin.

Tapi sekarang Luna mencoba untuk tidak terlarut dalam masa lalunya, dia mencoba untuk menekan perasaannya sedalam mungkin agar tidak ada siapapun yang bisa melihatnya.

Sore hari seperti biasa di rumah panti milik Yuni, wanita itu memperhatikan anak-anak yang saling bermain mengejar satu sama lain, senyumnya tidak pernah luntur dan selalu bersyukur dia masih bisa melihat mereka tumbuh.

Yuni lantas menjatuhkan tatapannya pada Luna, anak pertamanya yang ia temukan bersama suaminya, anak malang yang selalu menunggu kedatangan keluarga yang sebenarnya.

Diam-diam Yuni juga tak rela, jika suatu saat anak itu akan kembali pada keluarganya, ia telah mendedikasikan hidupnya untuk anak itu, dan bagaimana bisa mereka mengambilnya darinya begitu saja? Yuni tidak akan rela.

Tapi apa mau di kata? Luna berhak untuk bahagia, gadis itu harus memiliki masa depan cerah, dibanding berakhir di pinggiran kota dan tanpa uang seperti ini. Dan sepertinya, hal itu tidak akan lama lagi akan terwujud.

Yuni lantas menoleh pada suara kendaraan yang mendekat ke arah rumahnya, ada sekitar lima mobil, dan itu terhitung banyak untuk Yuni, karena selama ini, rumahnya tidak pernah kedatangan tamu dengan rombongan sebanyak itu.

Di panggilan anak-anak beserta Luna, mereka berdiri berjejer menghadap orang-orang yang baru saja datang. Orang-orang yang tampaknya penting dan memiliki kekuasaan, anak-anak kecil di bawah sepuluh tahun saling ketakutan dan bersembunyi di belakang Luna yang menjadi tameng mereka.

“Tuan dan Nyonya dan juga Tuan muda.” Yuni menyapa dengan sopan pada orang-orang penting itu, dan di balas anggukan oleh mereka, tapi tatapan mereka bukan mengarah pada Yuni, malah mengarah pada Luna yang sekarang telah menggendong salah satu anak yang paling kecil.

“Nak.” Panggilan dari wanita yang baru saja datang terdengar bergetar.

“Iya?” Luna menjawab, dia menatap tak mengerti pada orang-orang itu.

“Kamu masih ingat saya?” Tanya pria yang berada di samping wanita tadi, seprtinya dia suaminya.

Luna lantas mengangguk. “Iya, tuan adalah pelanggan VVIP di kafe tempat saya bekerja.” Jawabnya dengan lugas.

Pria itu tersenyum lantas berjalan mendekat pada Luna, dia hendak mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala Luna, tapi gadis itu menghindar dan seolah ketakutan.

“Ah, maaf... “ Luna berujar dengan lirih, ia beringsut mendekati Yuni dan bersembunyi di belakang wanita itu.

Yuni tersenyum maklum, dia lantas memandu agar para tamu berkenan masuk ke dalam rumahnya agar lebih leluasa dalam mengobrol.

“Luna.” Yuni memegang tangan Luna dengan lembut, di tatapnya anak yang telah ia besarkan dengan sepenuh hati itu, lantas beralih menatap para tamu yang telah duduk di hadapan mereka.

“Mereka dari keluarga Bellmore, yang di sisi kiri namanya tuan Darius Bellmore, yang di tengah namanya nyonya Isabella Chayu Bellmore, dan yang di sisi nyonya Isabella adalah putranya dan tuan Darius, tuan muda Calvin Lewis Bellmore.”

Luna hanya mengangguk mendengar Yuni memperkenalkan nama dari para tamu.

“Lalu, nak, mereka adalah keluargamu.”

Tangan Luna tersentak dan bahkan gadis itu membulatkan matanya, dia menatap tak percaya pada Yuni dan tiga orang asing yang duduk di hadapannya, yang katanya adalah keluarganya.

“Ta-tqpi ibu, bagaimana ibu tau?” Tanya Luna dengan suara bergetar, dia menggenggam tangan Yuni dengan sedikit kuat, seolah menyiratkan jika dia takut.

Yuni menoleh pada para tamu dan mengangguk, mereka juga lantas mengangguk dan menyodorkan secara kertas pada Luna, yang di terima dengan tangan bergetar oleh gadis itu.

Matanya kembali membulat dengan sempurna, tangannya juga semakin bergetar, dia menutup mulutnya dengan tidak percaya dan menatap pada para tamu. “I-ini... “ Luna tidak bisa melanjutkan ucapannya, dia bahkan tidak bisa membendung air matanya.

“Iya nak, kamu adalah anak kami, keluarga kami.” Pria yang bernama Darius berujar dan mendekati Luna, dia berjongkok dan mengusap puncak kepala gadis itu.

Tapi Luna dengan pelan menurunkan tangan itu, dia menatap penuh dengan tatapan marah dan kecewa. “Kenapa baru sekarang? Kenapa kalian baru menemukanku?” Tanya gadis itu dengan sedikit menekan kata-katanya.

Darius itu terdiam, bahkan istri dan putanya juga terdiam, yang terdenga hanyalah suara jam yang berdenting dan udara yang terasa menipis.

Pria bernama Calvin kemudian ikut berjongkok dan mensejajarkan tingginya dengan Luna. “Kami tahu ini sulit untuk di percaya, setelah semua ini, kamu pasti sangat marah, karena kami baru menemukanmu.“ Ucapnya yang terdengar parau, mata pria itu sedikit memerah dan memantulkan cahaya.

“Tapi, yang harus kamu ketahui, kam tidak pernah sekalipun menyerah untuk menemukanmu. Tidak sekalipun dalam satu hari di hidup kami untuk berhenti memikirkanmu, bagaimana keadaanmu? Apakah kamu makan dengan baik? Apakah kamu hidup dengan baik? Kami selalu memikirkanmu.”

Luna menggelengkan kepalanya, dia lalu berdiri dengan tiba-tiba, lalu menatap tiga orang itu dengan tatapan marah. “Aku gak bisa.” Ucapnya dan langsung pergi begitu saja meninggalkan ruang tamu, menuju ke kamarnya.

“Tuan, tolong berikan waktu untuk anak itu sendiri.” Ucapan Yuni menghentikan Calvin yang hendak mengejar Luna.

“Nyonya, tolong bujuk putri saya, saya mohon.” Isabella memohon dengan putus asa, dia hendak berlutu di hadapan Yuni, tapi di hentikan oleh wanita itu.

“Saya akan membujuk sebisa saya, tapi keputusan tetap ada di tangan anak itu.”

Isabella hanya bisa mengangguk, setelah sekian lama berpisah dengan putrinya, dia tidak menyangka jika akan mendapat penolakan dari gadis itu.

Dengan tanpa hasil, keluarg Bellmore pulang dan mengatakan jika mereka akan datang lagi keesokan harinya, dan Yuni hanya bisa mengangguk setuju.

Bersambung...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!