NovelToon NovelToon

Nona Muda Jadi Pelayan?

Diusir dari rumah

"AAH!! Sial! Sial! Sial! Tega sekali papa melakukan ini padaku!" gerutu seorang gadis sambil menendang-nendang rumput di taman.

Cordelia Tia Tamara Klamer, nama gadis itu. Ia saat ini berada di bawah penerangan lampu taman. Bukan tanpa alasan ia ada disana pada malam hari dengan sebuah koper disebelahnya. Satu jam yang lalu ia baru saja bertengkar dengan papanya dan malah berakhir diusir dari rumah. Tia, panggil saja begitu menyandarkan tubuhnya di kursi taman sambil menghela nafas panjang.

"Hah... Tidak aku sangkah papa benar-benar akan mengusirku dari rumah kali ini, dan ibu tidak membantuku sama sekali. Hari ini sungguh sial."

Satu jam yang lalu. Abraham Klamer, sudah dibuat kesal karna kelakuan putrinya yang suka berfoya-foya. Setiap harinya Tia cuman tahu bersenang-senang saja, membeli barang-barang tak berarti dan pergi ke tempat-tempat hiburan. Dan kali ini kesabaran Abraham sudah sampai batasnya. Tia kedapatan menghabiskan dana hampir sebesar satu miliar hari ini. Entah apa yang Tia lakukan sampai menghabiskan uang begitu banyaknya dalam sehari. Tia juga ditanya tidak perna menjawab dengan benar dan selalu mencari alasan untuk menyangkalnya.

"Tia! Apa maksudnya semua ini? Kau menghabiskan uang hampir satu miliar dalam sehari!" bentak Abraham pada putri semata wayangnya.

"Memangnya kenapa?" jawab Tia acuh tak acuh.

"Kenapa kau tanya? Apa kau pikir uang itu tumbuh dari tanah apa?"

"Tentu saja. Uang terbuat dari kertas, sedangkan kertas terbuat dari kayu, kayu berasal dari pohon dan pohon tubuh dari tanah."

"Eh?!" Abraham hampir dibuat serangan jantung mendengar jawaban tersebut.

"Ada apa ini? Kenapa kalian ayah dan anak selalu ribut-ribut terus setiap harinya?" tanya Arianna Klamer, yang pusing mendengar pertengkaran tersebut.

"Kenapa tidak kau tanyakan saja pada putrimu ini," tunjuk Abraham pada Tia. "Apa kau tahu, hari ini ia menghabiskan uang hampir satu miliar hanya dalam sehari."

"Lalu? Biarkan saja ia mau membeli apa yang ia suka. Cuman uang segitu kau perhitungan sekali pada putrimu ini," kata Arianna membela Tia.

"Kau terlalu memanjakannya. Jadi inilah hasilnya. Ia tubuh menjadi gadis pemboros!"

"Tia, tidak usah dengarkan papamu. Apa uangmu kurang? Bilang saja pada mama berapapun yang kau inginkan. Mama akan memberi uangnya agar kau bisa membeli apapun yang kau suka."

"Wah... Terima kasih. Mama yang terbaik."

Abraham semakin dibuat kesal melihat tingkah istri dan anaknya yang malah mengabaikan dia. "Sudah cukup! Sebagai papamu, hari ini aku akan bertindak tegas! Aku akan mengusirmu dari kediaman jika kau tidak mau merubah sikapmu ini, Tia!"

"Sayang, kau tidak serius kan mengusir putri kita dari kediaman?" tanya Arianna tampak sangat terkejut.

"Aku sangat serius."

"Alah, papa. Cuman uang satu miliar saja papa tidak perlu marah sampai segitunya."

"He, kau pikir mudah mencari uang?"

"Memang sesulit apa itu?" Tia mengangkat kedua bahunya meremehkan.

"Ooh... Kalau kau mampu sangat, bagaimana jika papa menantang mu mengumpulkan uang sebanyak satu miliar? Apa kau sanggup?"

"Aku terima. Akan aku buktikan pada papa kalau mencari uang itu mudah," jawab Tia penuh keyakinan.

"Tidak! Mama tidak setuju hal ini! Tia, kau juga kenapa mau menerima tantangan konyol itu?" protes Arianna menentangnya.

"Jangan khawatir ma, Tia pasti bisa menyelesaikan tantangan ini dan membuktikan pada papa kalau aku bisa mendapatkan uang satu miliar itu. Percayalah pada putrimu ini," Tia berusaha menyakinkan mamanya.

"Baguslah jika kau memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Tapi ada satu syarat yang harus kau penuhi."

"Syarat apa itu?"

"Kau dilarang menggunakan marga keluarga kecuali saat dalam terdesak. Bagaimana?"

"Tidak masalah."

"Bagus. Pelayan, bawakan barang-barang nona muda kemari," perintah Abraham pada seorang pelayan.

"Apa?!" Tia dibuat sedikit terkejut dan bercampur bingung begitu mendengarnya.

Salah satu pelayan yang ada lekas pergi menuruti perintah. Tak lama ia kembali dengan sebuah koper. Tanpa basa-basi lagi Tia diseret keluar dari rumah tersebut, lalu pintu seketika dikunci.

"Papa! Buka pintunya! Aku memang menerima tantangan itu, tapi papa tidak sungguh-sungguh mengusir putri mu ini ke jalanan, 'kan?" teriak Tia sambil menggedur pintu.

"Kau boleh kembali setelah berhasil mendapatkan uangnya. Selamat malam."

"Papa setidaknya bisa besok saja, 'kan? Malam ini aku harus tidur dimana?"

"Itu urusanmu."

Tia mengeretakan giginya dengan kesal. "Baik! Lihat saja nanti, aku pasti akan mendapatkan uang itu tidak sampai sebulan!" Tia lalu menarik kopernya pergi meninggalkan halaman rumah sambil ngoceh marah-marah.

"Sayang, apa tidak mengapa menghukum Tia seperti ini? Hiks..." Ariana tampak begitu sedih melihat putrinya harus meninggalkan rumah. "Aku mengaku salah kalau aku terlalu memanjakannya, tapi dia... Dia masih terlalu naif dan minim pengetahuan bahaya diluar sana. Dimana dia akan tinggal? Bagaimana makanannya, bersih atau tidak? Aku tidak mau dia sakit. Belum lagi bahaya lain yang mengintai. Dia itu perempuan. Aku mohon padamu bujuk Tia kembali. Hiks... Hiks..."

"Tenangkan dulu dirimu, Arianna. Aku melakukan ini supaya dia belajar betapa sulitnya kehidupan disaat dia tidak memiliki apa-apa. Aku ingin dia sadar bahwa tidak ada yang mudah di dunia ini jika tidak mau berusaha. Dengan menjalani kehidupan sebagai rakyat biasa mungkin bisa membuat ia lebih menghargai usaha dan kerja keras. Selain mengajarkannya agar bisa mandiri, juga membuat ia mengerti arti kehidupan yang sebenarnya. Dalam hidup ini tidak hanya untuk mencari kesenangan semata, ada kalanya kita harus saling peduli dan berbagi pada sesama. Jika soal bahaya diluar sana aku tidak terlalu khawatir. Tidak ada yang berani mengganggu gadis itu."

"Apa maksudmu?" tanya Arianna sambil menaikan sebelah alisnya.

"Kau itu terlalu memanjakannya. Bahkan terkadang kau juga melarang ia melakukan ini itu dengan alasan demi menjaga keselamatannya."

"Wajar saja, bukan? Aku sangat menyayangi nya. Aku tidak mau ia kenapa-kenapa. Tia adalah putriku satu-satunya."

"Karna inilah dia tidak bisa melakukan hal yang ia sukai. Mungkin di depanmu ia terlihat senang berbelanja dan pergi liburan. Tapi aku tahu kalau sebenarnya ia sedang mempelajar ilmu bela diri."

"Apa?!" Arianna tersentak kaget mendengarnya. "Kenapa kau tidak memberitahu ku?!! Bagaimana jika nanti kulitnya lecet, kasar atau sampai kusam? Tia itu keturunan bangsawan!" geram Arianna seketika menarik dasi suaminya.

"Ada bagusnya dia bisa ilmu bela diri. Itu bisa menyelamatkan hidupnya."

"Bagus apanya? Jika ia ingin selamat, kau bisa menempatkan sejumlah pengawal untuk menjaganya. Ia tidak perlu sampai turun tangan langsung."

"Para pengawal tidak bisa terus menjaganya setiap saat. Tia butuh ruang privasi. Disaat ia sendirian, tidak ada yang bisa ia andalkan selain diri sendiri. Sudahlah, keputusanku sudah bulat. Sekarang tergantung pada Tia sendiri sanggup tidaknya."

"Tapi kenapa kau harus mengusirnya malam ini juga? Dimana dia akan tidur malam ini?"

"Paling juga dia pergi ke rumah temannya untuk menginap."

.

.

.

.

.

.

Kesialan bertambah

Ting!

Satu notifikasi masuk ke hp Tia, itu membuat lamunan Tia buyar. Ia mengeluarkan hpnya lalu mengecek notifikasi apa itu. Betapa terkejutnya ia begitu mengetahui notifikasi tersebut berasal dari akun kartu kerditnya.

"Apa?! Papa tidak sungguh-sungguh melakukan ini, 'kan?!!" teriak Tia sangking kaget nya. "Huhu... Nasifku sial sekali. Apa yang papa pikirkan? Tidak mengapa papa mengusirku tapi tidak perlu sampai memblokir akun kartu kredit ku juga. Padahal aku berencana mau menginap di hotel malam ini, namun sekarang aku sudah tidak punya uang. Huaaaah..... Dari nona muda terhormat malah berakhir jadi gelandangan. Hah... Sepertinya aku hanya bisa meminta bantuan Carol."

Tia mencoba menghubungi sahabatnya, Carol. Ia berharap sahabatnya itu dapat membantunya malam ini. Iya setidaknya seperti memberikan tumpangan untuk menginap. Baru hendak menelpon Carol, tiba-tiba datang tiga orang pria menghampiri Tia.

"Hallo cantik. Apa yang membuatmu ada di taman malam-malam begini?" sapa salah satu dari ketiga pria itu. Dia sepertinya bos dari kedua pria yang lain.

"Pergilah! Aku sedang sedih. Jangan menggaguku," usir Tia tanpa melirik ketiga pria itu sama sekali.

"Aduuh... Galak sekali," ujar salah satu dari mereka dengan nada mengejek.

"Jadi wanita itu jangan suka galak-galak, nanti cepat tua," sambung yang lain, lalu mereka berdua tertawa.

"Kalau bilang tadi sedang sedih. Bagaimana kalau kau ikut kami? Aku jamin kami akan membuatmu bahagia malam ini," kata bos preman tersebut.

"Oh, benarkah?" kali ini Tia menoleh pada para preman itu sambil tersenyum. Lalu Tia mengulurkan tangannya pada mereka sambil menggoda. "Tarik aku kalau begitu."

Melihat ekspresi Tia yang begitu menggoda tentu sangat disayangkan jika ditolak begitu saja. Bos preman tersebut segera mengapai tangan Tia yang lembut. Namun saat tangan mereka bersentuhan, Tia tiba-tiba menarik tangan pria tersebut dengan tangan yang lain bersiap meluncurkan satu pukulan. Tidak menduga kalau Tia akan memukul dengan tangan kiri membuat bos preman tersebut tidak dapat menghindari serangan itu. Tia berhasil menonjol wajah bos preman itu sampai terguling di tanah. Siapa menduga kalau gadis manis dihadapan mereka ini memiliki tenaga yang cukup kuat, melebih gadis pada umumnya. Bahkan kedua bawahan preman itu dibuat terkejut sampai mematung dan tidak tahu harus berbuat apa.

"Aw..." bos preman itu berusaha bangkit sambil menyekat darah di sudut bibirnya. "Kurang ajar! Kenapa kalian berdua diam saja? Tangkap gadis sialan itu!" perintah bos mereka.

"Majulah. Mumpung aku sedang kesal malam ini. Jangan salahkan aku melampiaskannya pada kalian," Tia mengeretakan kesepuluh jarinya sambil menyeringai.

Kedua bawahan bos preman itu lekas maju menyerang Tia. Pertarungan sengit terjadi diantara mereka. Berkat keahlian bela diri yang Tia kuasai, melawan para preman ini bukan masalah besar baginya. Para preman itu sama sekali tidak memiliki keahlian bela diri. Mereka cuman mengandalkan kekuatan saja. Setiap serangan yang mereka lakukan punya banyak celah yang membuat Tia semakin mudah melawan ketiganya. Tidak sampai satu jam ketiga pria tersebut telah tergeletak di tanah. Tubuh mereka dipenuhi rasa sakit akibat dihajar seorang wanita yang sempat mereka remehkan. Yang paling parah dari ketiganya adalah bos preman itu. Ia sampai muntah darah.

"Ayok bangun. Kita main lagi. Aku belum puas menghajar kalian bertiga," kata Tia dengan senyum jahat di wajahnya.

"Tidak. Aku mohon ampunilah kami."

"Kami mengaku salah."

"Maafkan kami."

"Kami janji tidak akan berani lagi mengganggu nona."

"Iya. Mulai sekarang nona adalah bos kami."

"Tolong jangan hajar kami lagi."

Ketiga preman itu terus memohon saling bergantian sambil bersudut di depan Tia. Baru kali ini mereka dihajar sampai babak belur oleh seorang wanita. Mereka benar-benar kapok dan mungkin tidak berani lagi mengganggu sembarang wanita. Mana tahu nanti mereka malah bertemu dengan wanita seperti Tia lagi.

"Pergilah. Aku malas berurusan dengan kalian lagi."

"Terima kasih. Terima kasih banyak," kata mereka bersamaan.

"Tapi ingat, jangan sampai aku melihat kalian bertiga lagi. Kalau tidak... Aku bisa pastikan kalian tidak akan aku ampuni," dengan jahilnya Tia malah mengambil kesempatan ini untuk menakut-nakuti mereka.

"Kami janji. Ayok kita pergi dari sini."

Bos preman itu lekas buru-buru mengajak bawahannya pergi dari taman tersebut. Dengan jalan terseok-seok mereka bergegas menjauh meninggalkan Tia sendirian.

"Dasar para preman payah!"

Sementara itu disisi lain taman ada seorang pria dengan setelan jas hitam lengkap sedang berjalan tertatih-tatih. Pria itu bernama Axton Bastian Robinson, seorang CEO muda dari kota tetangga. Maksud kedatangannya ke kota ini tak lain dan tak bukan hanya untuk urusan perkejaan. Axton baru saja kembali dari pesta perjamuan kerjasama antara dua perusahaan. Kenapa dia bisa ada di taman tersebut? Karna taman itu bersebrangan dengan gedung tempat dimana pesta berlangsung. Ia pergi kesana cuman sekedar mencari kesunyian semata dan menghirup udara segar. Kepalanya sedikit pusing disebabkan seteguk minuman beralkohol. Ia dilarang minum alkohol demi kesehatannya sendiri. Serasa rasa pusingnya sedikit membaik, ia mengeluarkan hpnya lalu mengirim pesan pada seseorang. setelah mendapat balasan balik, Axton menyimpan hpnya di saku jasnya. Saat itulah ia melihat Tia yang masih dilanda kekesalan.

"Em... Apa yang dilakukan gadis itu sendirian di taman pada malam hari seperti ini?" pikir Axton. Ia mencoba menghampiri Tia. "Nona..." sapa Axton sambil menepuk pundak Tia.

"Sudah aku bilang jangan mengganguku lagi! Apa kalian tidak kapok!" bentak Tia. Tanpa peringatan Tia refleks mencengkram tangan Axtol lalu membatingnya ke tanah.

"Argh!" pikik Axton menahan sakit di punggungnya.

"Hah?!" Tia menutup mulutnya mengangah sangking kaget nya kalau ternyata orang yang ia banting bukanlah para preman sebelumnya. "Maaf, maafkan aku. Aku pikir kau para preman itu. Aku sungguh tidak sengaja membantingmu."

Niat hati Tia mau membantu Axton berdiri namun apesnya Tia malah menyenggol kopernya sendiri yang membuat koper tersebut terbalik menghantam kaki kiri Axton dan sekalian Tia jatuh menimpah tubuhnya. Axton dibuat hampir kehilangan kesadaran akibat kejadian itu.

"Wanita kasar ini... Seharusnya aku tidak menyapanya tadi," batin Axton.

"Aduuh... Kepalaku sakit," rintih Tia sambil mengangkat tubuhnya tapi tidak lekas berdiri. "Apa kau tidak apa-apa?" tanyanya pada Axton

"Bisa, kau bangun dari tubuhku?"

"Ah?! Maafkan saya."

Tia segera bangun dari tubuh Axton. Melihat kopernya menimpa kaki Axton, ia bermaksud mengangkat koper tersebut. Tapi malangnya tangan Tia terlalu licin yang membuat koper tersebut terlepas dari genggamannya. Tak ayal kopernya kembali menimpa kaki kiri Axton yang membuat Axton berteriak kesakitan. Lalu tak lama Axton malah berakhir pingsan. Tia seketika panik bukan main.

.

.

.

.

.

.

ξκύαε

Menjadi pelayan pribadi

"Ah tuan, sadarlah! Jangan mati dulu."

Tia menampar pipi Axton berulang kali untuk menyadarkan nya. Namun mau sampai pipi Axton merah sekalipun, ia tidak mungkin bangun jika caranya seperti itu. Melihat Axton tidak kunjung sadar, Tia memutuskan memanggil taksi untuk membawa Axton ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit Tia membayar ongkos taksi menggunakan sisa uang yang ada di sakunya. Karna terlalu panik Tia tidak memikirkan bagaimana membayar biaya rumah sakit, yang terpenting memastikan keselamatan Axton terlebih dahulu. Walau sebenarnya ia tidak akan mati semudah itu. Axton segera mendapat perawatan. Beberapa menit kemudian dokter keluar dari ruangan tempat dimana Axton dirawat.

"Bagaimana keadaanya dok?" tanya Tia dengan nada khawatir.

"Nona tenang saja. Pacar nona dalam keadaan baik," jawab dokter itu salah sangka.

"Dia bukan pacar saya," ujar Tia berubah datar.

"Oh, apa mungkin dia kakak nona?" tanya dokter itu mencoba menebak untuk menyembunyikan rasa canggung nya.

"Bukan. Saya saja tidak mengenalnya."

"Yang benar saja kau mengkhawatirkan orang yang tidak kau kenal sampai segitunya," batin dokter tersebut. "Eh... Apa kau ingin menemuinya?"

"Iya."

Tia segera masuk ke ruangan yang ada di hadapannya. Di dalam ia mendapati Axton sudah sadar dan sedang menatap tajam ke arahnya. Kondisi Axton cukup memprihatinkan saat ini. Ia terbaring di ranjang rumah sakit dengan sebelah pipi ditempel perban dan yang paling parah adalah kaki kirinya, terpaksa harus digips akibat cedera yang cukup serius. Kemungkinan Axton diharuskan menggunakan kursi roda.

"Em... Apa kau baik-baik saja?" tanya Tia hati-hati.

"Apa menurutmu aku terlihat baik-baik saja?"

"Tidak."

"Apa masalah mu? Aku cuman sekedar ingin menyapamu tapi aku malah berakhir seperti ini. Benar-benar sial!"

"Maaf. Aku pikir kau para preman itu. Aku tidak bermaksud membantingmu, sungguh," Tia masih mencoba meluruskan kesalahpahaman ini namun mau bagaimanapun Tia twto salah.

"Kau pikir minta maaf saja sudah cukup? Lihat kondisiku sekarang. Aku tidak bisa berjalan untuk beberapa minggu kedepan karna ulahmu. Bagaimana caranya aku beraktifitas dalam kondisi seperti ini?"

"Jangan marah begitu. Aku akan tanggung jawab. Aku yang akan membayar biaya pengobatan mu," namun Tia baru teringat kalau akun banknya telah diblokir papanya. "Astaga bagaimana aku bisa lupa kalau saat ini aku tidak mempunyai uang? Bagaimana caranya aku membayar biaya rumah sakit ini?"

Tok! Tok! Tok!

Terdengar suara pintu diketuk dari luar yang seketika membuyarkan lamunan Tia. Seorang perawat masuk ke ruangan tersebut.

"Mohon maaf, nona. Bisa anda mengurus biaya administrasinya?" kata perawat itu pada Tia.

"Em... Soal itu... Boleh beri saya waktu sebentar?"

"Baiklah. Tapi mohon segera diurus, ya."

"Iya."

Perawat tersebut berlalu pergi. Tak lupa ia menutup kembali pintu.

"Ada apa? Apa kau tidak punya uang?" tanya Axton.

"Bukan begitu, aku..."

"Pakai ini." Axton menyodorkan kartu kredit miliknya ke Tia.

Tia dibuat cukup kebingungan. "Tapi, aku..."

"Sebaiknya kau segera mengurus biaya administrasinya. Sandinya, 146401."

"Baiklah. Aku akan segera kembali."

Tia menerima kartu kredit itu lalu segera keluar untuk mengurus biaya administrasinya. Saat ini Tia tidak punya pilihan lain. Dari pada pusing memikirkannya, lebih baik menggunakan apa yang sudah ada di depan mata. Mumpung pria tersebut sedang berbaik hati.

"Dia cukup manis juga," gumang Axton tanpa sadar.

Axton menghubungi bawahannya dan memberitahu mereka kalau ia ada dirumah sakit. Bawahan Axton yang mendapat kabar tersebut dibuat terkejut bercampur khawatir. Axton menjelaskan kalau ia baik-baik saja dan tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Ia meminta untuk menjemputnya di rumah sakit. Setelah memberitahu alamat rumah sakit dimana ia dirawat, Axton mematikan telpon. Beberapa menit kemudian Tia kembali setelah mengurus biaya rumah sakit. Ia mengembalikan kartu kredit milik Axton berserta tanda bukti pembayarannya. Axton menerima itu tanpa bicara sepata katapun.

Tidak ada percakapan diantara mereka. Tia merasa tidak enak hati karna telah membuat Axton terluka dan malah masih membuat dia membayar biaya rumah sakitnya sendiri. Tia mulai tahu bagaimana rasanya tidak memiliki apa-apa disaat tak terduga seperti ini. Tak berapa lama dua bawahan Axton datang. Mereka dibuat tak percaya atas apa yang menimpa tuan muda mereka. Baru sebentar lepas dari pengawasan, tuan muda mereka ini malah berakhir terluka. Bagaimana cara mereka menjelaskan pada tuan dan nyonya besar nanti? Mereka pasti dimarahi habis-habisan.

"Tuan muda, kami segera bergegas setelah mendapat kabar jika anda ada di rumah sakit. Apa yang terjadi?" tanya salah satu dari mereka.

"Bukan apa-apa. Cuman kecelakaan kecil."

"Apa mereka orang-orang mu? Baguslah kalau begitu. Aku bisa meninggalkanmu dengan tenang tanpa perlu mengkhawatirkan mu lagi. Maaf soal yang tadi dan terima kasih juga kau tidak terlalu mempersoalkan ini. Jika sudah punya uang nanti, aku pasti akan mengembalikannya. Sampai jumpa," setelah membungkukan badan ya minta maaf, Tia berbalik hendak pergi.

"Tunggu. Kau mau kemana?" panggil Axton membuat Tia menoleh.

"Em... Aku juga tidak tahu. Kembali ke taman tadi mungkin, sebab koperku masih ada disana."

"Hah... Begini saja. Aku punya cara yang lebih baik."

"Benarkah? Apa itu?"

"Karna kau sudah berhutang padaku, bagaimana kalau kau membayarnya dengan merawat ku sampai sembuh total?"

"Apa?! Maksudmu aku harus menjadi pelayanmu, gitu?"

"Kenapa? Tidak mau? Karna ulahmu kaki ku sampai cedera seperti ini. Aktifitas ku jadi terhambat karna aku terpaksa menggunakan kursi roda untuk beberapa minggu kedepan. Kau harus bertanggung jawab penuh atas kesembuhan ku."

"Lebih baik aku menerimanya. Setidaknya malam ini aku tidak akan tidur di jalanan. Hah... Bukannya mencari uang, aku malah dapat hutang," keluh Tia namun tidak ada pilihan lain. "Baiklah, baiklah. Aku cuman merawatmu sampai kaki mu sembuh saja, 'kan? Paling lama cuman seminggu."

"Bagus. Teo, pergilah ke taman yang berada di sebrang gedung pesta perjamuan tadi. Ambilkan koper milik nona..." kalimat Axton terhenti karna ia tidak tahu nama gadis di depannya ini.

"Tia. Panggil saja Tia."

"Tia? Itu namamu? Pendek sekali," kata Axton sedikit mengejek.

"Cordelia Tia Tamara, jika kau ingin memanggil ku dengan nama panjang ku. Itupun belum termasuk marga keluargaku," kata Tia merasa kesal dengan ejekan tersebut.

"Sekarang namamu panjang seperti kereta api."

"Ee...! Terserah kau mau memanggilku dengan sebutan apa."

"Okey. Aku akan memanggil mu, Kelinci."

"Kelinci? Kau mengangapku sebagai hewan pengerat?"

"Tidak, tapi peliharaan."

"Apa?! Kalau begitu kau itu adalah seekor rubah yang licik!"

"Rubah? Boleh juga. Rubah mempermainkan Kelinci kecil."

"Aah! Seharusnya aku membiarkan mu saja tergeletak di taman tadi."

.

.

.

.

.

.

ξκύαε

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!