NovelToon NovelToon

Terpikat Cinta Mas Duda

Rumah sakit

Hari ini sebenarnya Salwa akan kembali ke Turki. Dua minggu yang lalu ia pulang ke Indonesia karena ingin menghadiri acara aqiqah keponakan kembarnya. Ia sudah memesan tiket sejak dua hari yang lalu. Kontrak kerjanya di sana masih berjalan dua bulan. Untuk pendidikan S2 nya, hanya tinggal menunggu wisuda saja. Saat ini ia sedang mengemas barang-barang yang akan ia bawa balik ke Turki.

Tok

Tok

Tok

"Salwa..." Suara Bunda Raisya di balik pintu.

Salwa segera membukakan pintu untuk sang Bunda.

"Ada apa, Bun?"

"Segera siap-siap dan ikut Bunda!"

"Kemana?"

"Nanti kamu akan tahu!"

"Tapi aku sedang berkemas, Bun!"

"Tolong kali ini dengarkan Bunda!"

Melihat keseriusan di wajah Bundanya, Salwa terpaksa menurutinya.

"Baiklah tunggu sebentar, aku pakai cadar dulu!"

Setelah keduanya sudah siap, Bunda Raisya segera memanggil Mang Diri untuk mengantarkan mereka berdua.

Di sepanjang perjalanan, Bunda Raisya nampak gelisah. Tak jarang ia mengetik dan membalas chat di HP-nya. Salwa tidak mau banyak bertanya, karena dia tidak ingin menambah kekhawatiran Bundanya.

Tiga puluh menit kemudian, mobil mereka sudah sampai di salah satu rumah sakit terbesar di kotanya. Dalam benaknya, Salwa masih mengira-ngira siapa sebenarnya yang sedang sakit.

Mereka berdua turun dati mobil dan masuk ke dalam rumah sakit. Bunda Raisya berjalan dengan tergesa-gesa. Salwa mengikuti langkah Bundanya.

"Bun, Ayah baik-baik saja, kan?"

"Iya!"

"Lalu kita ke sini untuk melihat siapa?"

 Sebelum menjawab pertanyaan Salwa, Bunda Raisya menerima panggilan telpon.

"Hallo, Di kamar apa, Yah?"

"........."

"Oke, oke baiklah!"

Setelah panggilan ditutup, mereka berdua masuk ke dalam lift untuk menuju lantai 5.

"Teman Ayahmu yang sakit!" Jawab Bunda Raisya, singkat.

"Oh... tapi kenapa Bunda sangat khawatir? Aku pikir tadi ada apa-apa dengan Ayah."

Bunda Raisya tidak membalas lagi perkataan Salwa. Pikirannya saat ini sedang bingung. Sebenarnya ia juga tidak setuju suaminya memaksa untuk menjodohkan Salwa dengan anak dari temannya itu. Tapi Bunda,Raisya tidak bisa berbuat apa-apa. Karena teman suaminya itu sangat berjasa terhadap kehidupan suaminya.

Saat lift terbuka, mereka sudah disambut Ayah Haris.

"Bagaimana keadaan Bang Ferdi, Yah?"

"Kankernya sudah stadium akhir, kecil kemungkinan untuk dia panjang umur. Tapi kuasa Tuhan tidak ada yang tahu. Kita masih bisa berharap yang terbaik. Ayo kita masuk!"

Salwa mulai bisa menangkap keadaan. Ia masih bersikap santai.

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikum salam."

Nampak di dalam ruangan tersebut ada seorang wanita paruh baya, dan seorang perempuan seusia Salwa sedang duduk menjaga orang yang sakit.

"Ratna, ini istri dan anakku sudah datang!"

"Oh iya, Ris! Sini masuklah!"

"Apa kabar, Mbak Ratna?" Bunda Raisya menjabat tangan Ibu Ratna dan cipika-cipiki.

Salwa pun mencium punggung tangan Bu Ratna.

"Alhamdulillah saya sehat, ini pasti Salwa, iya kan?"

Salwa mengangguk dan tersenyum di balik cadarnya.

"Bang Ferdi tidur, Mbak?"

"Iya, Rai! Tadi ia sangat memaksa ingin bertemu dengan Salwa." Ujar Ibu Ratna.

deg

Hati Salwa tiba-tiba terusik

"Ada pa ini? Apa Bapak-bapak ini yang mau dijodohkan denganku? Yang benar saja!" Batin Salwa.

"Tita, kenalkan ini Salwa! Anaknya Om!" Ujar Haris kepada perempuan yang berada di samping Bu Ratna.

"Hai, Kak! Saya Tita." Tita mengulurkan tangannya. Salwa baru sadar dari lamunannya.

"Duduklah dulu, mungkin sebentar lagi Mas Ferdi bangun."

Ayah Haris, Bunda Raisya dan Salwa duduk di sofa ruangan itu. Sedangkan Bu Ratna duduk di kursi samping brangkar suaminya.

Dalam hati, Salwa masih menerka-nerka.

Sepuluh menit kemudian Pak Ferdi terbangun. Nama pertama yang ia sebut adalah sahabatnya.

"Haris."

Mendengar namanya dipanggil, Ayah Haris segera menghampiri brangkar Pak Ferdi.

"Ris!"

"Iya, Fer! Kamu jangan banyak bicara! Istirahatlah kembali!"

"Mana Salwa?"

"Ada, tapi kamu jangan memaksa untuk banyak bicara! Kamu masih lemah!"

Ayah Haris memberi kode kepada Salwa untuk mendekat kepadanya. Dengan hati yang bimbang, Salwa pun menuruti keinginan Ayahnya.

"Ini Salwa!" Ujar Ayah Haris.

"Apa kabar, Salwa? Kamu tidak ingat sama, Om?"

"Alhamdulillah, baik! Ma-af, saya tidak ingat!"

"Sudah Om duga! Padahal dulu waktu kita umroh bersama, Om yang gendong kamu! Tapi memang kamu masih kecil sekali!"

"Maaf saya, Om! Saya benar-benar lupa!"

"Ah iya, tidak masalah!" Ujar Pak Ferdi dengan senyum yang tak pernah luntur dari wajahnya, Meski ia sedang sakit parah.

"Duduklah, Wa! Om Ferdi mau bicara denganmu!" Perintah Ayah Haris.

Salwa pun duduk di kursi menggantikan Ayahnya.

"Kamu tumbuh menjadi wanita yang baik, yang menjaga marah, dan insyaallah akan menjadi calon istri yang solihah! Hidup Om sudah tidak lama lagi, Om hanya ingin minta sesuatu kepadamu, boleh?"

Salwa yang bingung akan menjawab apa, ia masih tak bergeming.

"Salwa!"

Salwa pun mendongak, dan melihat Pak Ferdi. Ada harapan besar di mata Pak Ferdi. Ia tidak tega untuk menolaknya.

"Insyaallah, Om!"

"Om mohon, menikahlah dengan anak Om!"

Deg

Hati Salwa semakin kalut. Kali ini dugaannya sedikit meleset. Namun dia tetap bersikap santai.

"Assalamu'alaikum!"

Seorang laki-laki yang gagah dan tampan masuk ke ruangan tersebut.

"Wa'alaikum salam." Jawab orang yang berada di ruangan itu serentak.

Salwa masih tak berkutik. Ia tidak menoleh ke sumber suara yang baru datang.

"Tristan... kemarilah!" Perintah Pak Ferdi kepada pria yang baru saja datang.

Tristan mendekat ke brangkar Abinya. Ia berdiri di sisi kiri brangkar. Sedangkan Salwa, duduk di sisi kanan brangkar.

"Salwa sudah ada di sini, Abi mau menagih janjimu!"

"Janji apa, Bi?"

"Untuk menikah dengan Salwa."

Deg

Sontak Salwa mendongak, dan tidak sengaja tatapannya bertemu dengan tatapan Tristan.Sejenak kemudian Salwa menundukkan pandangannya.

"Astaghfirullahal 'adim...sepertinya aku pernah bertemu dengan orang ini, tapi dimana? Ternyata aku salah menduga." Batin Salwa.

"Jangan memaksakan kehendak, Bi!"

"Anggap saja ini permintaan terakhir dari Abi, Tris! Abi mohon!"

Tristan diam dan berpikir. Ia bingung harus menjawab apa. Lalu ia menoleh ke arah Umminya. Dan Bu Ratna hanya menganggukkan kepala. Dari raut wajah kedua orang tuanya yang nampak sangat berharap, akhirnya Tristan memberi keputusan.

"Baiklah, aku akan memenuhi permintaan Abi!" Tegasnya.

"Alhamdulillah...! Kamu dengar Salwa? Tristan setuju untuk menikah denganmu! Om mohon, kalau perlu Om akan bersujud di kakimu!"

"Tidak-tidak! Om tidak perlu melakukan hal itu! Saya hanya perlu berpikir! Tolong kasih saya waktu!"

"Salwa, tidak ada waktu untuk berpikir! Percaya sama Ayah, ini adalah yang terbaik untuk kita semua!" Ujar Ayah Haris.

"Ya Tuhan, kenapa aku ditempatkan dalam posisi yang sesulit ini? Apa ini sudah menjadi jalanku?" Batin Salwa.

Bersambung....

...----------------...

Next ya kak....

Sah

"Saya terima nikah dan kawinnya Salwa Nanda Haris binti Haris Dwi Ahmad dengan mas kawin tersebut dibayar tu-nai!"

"Sah...!"

"Alhamdulillah..."

Senyum kebahagiaan terpancar dari wajah Oak Ferdi. Ia sangat senang, keinginan selama ini bisa tercapai.

Pagi ini juga Salwa sudah menjadi istri dari Tristan. Ia tidak menyangka takdir telah membawanya sejauh ini. Ia bahkan tidak pernah mengenal orang yang sudah menjadi suaminya saat ini.

Dengan gemetar, Salwa mencium punggung tangan suaminya. Tristan membaca do'a lalu ia tiupkan di ubun-ubun istrinya.

Mereka menikah di rumah sakit, karena Pak Ferdi belum bisa dibawa pulang. Hanya ada penghulu, keluarga inti Pak Ferdi, keluarga inti Ayah Haris, dan asisten Tristan yang menyaksikan pernikahan mereka.

Dengan gamis putih yang dihiasi sedikit aksen payet di bagian pergelangan tangan dan pinggang, serta tak lupa hijab dan cadar putihnya. Salwa nampak begitu anggun meski hanya matanya saja yang nampak.

Flash Back On

Ayah Haris, Bunda Raisya dan Salwa pulang dari rumah sakit. Salwa masih belum menjawab permintaan Pak Ferdi. Pak Ferdi mengerti perasaan Salwa. Ia pun memberi waktu kepada Salwa sampai malam ini.

Salwa dan kedua orang tuanya sudah sampai di rumah. Di sepanjang perjalanan tadi ia berpikir keras. Hatinya dilema, di sisi lain ia ingin kembali ke Turki untuk melanjutkan mimpinya. Di sisi lain, ia ingin membantu teman Ayahnya. Namun ia harus mengorbankan perasaannya.

Saat Salwa tengah melamun di atas tempat tidurnya, Bunda Raisya masuk ke kamarnya. Kebetulan Kamarnya terbuka sedikit, dan ia tidak tahu kalau ada orang yang masuk dan duduk di sampingnya.

"Wa...!" Bunda Raisya menyentuh bahu putrinya.

Sontak Salwa terkejut dan menoleh.

"Bunda...!"

"Nak, Bunda tahu kamu pasti bingung dengan semua ini! Kamu boleh berbagi dengan Bunda!"

"Bunda.... kenapa harus aku? Apa tidak ada orang lain?"

"Om Ferdi maunya kamu! Bunda juga tidak tahu kenapa dia sangat ingin kamu menjadi menantunya!"

"Tapi, kontrak kerjaku masih panjang! Aku bisa kena denda, Bun! Bukan hanya itu, aku tidak kenal dengan Mas Tristan!"

"Ayah bisa mengatasi masalah kerjaanmu! Cukup kamu menyetujui pernikahan ini! Ayah mohon, Ayah sangat berhutang budi kepada Om Ferdi! Dulu saat Ayah kuliah di Jepang, Ayah pernah kecelakaan dan perlu tranfusi darah. Akhirnya Om Ferdi lah yang mendonorkan darahnya kepada Ayah. Dari sejak itu Ayah berjanji akan membalas kebaikannya. Namun, sejak saat itu dia tidak pernah meminta bantuan Ayah. Justru Ayah yang selalu merepotkan. Bahkan saat kita berangkat umroh bersama, dia menggendongmu! Tristan dia biarkan dengan Umminya." Ujar Ayah Haris yang tiba-tiba datang ke kamar Salwa.Ayah Haris menjelaskan dengan Panjang lebar.

"Baiklah, katakan kepada Om Ferdi! Aku akan menikah dengan anaknya!" Ujar Salwa dengan mata yang berkaca-kaca."

Flash back off

"Selamat, Nak! kemarilah!" Ujar Pak Ferdi.

Salwa pun mencium punggung tangan mertuanya itu. Begitu pula dengan Tristan. Kemudian mereka beralih mencium punggung tangan Bu Ratna. Bu ratna mengusap lembut kepala menantunya.

Kini mereka beralih kepada kedua orang tua Salwa.

"Tristan, kamu sudah diberi kesempatan untuk melihat wajah dari calonmu sebelum kamu mengucap akad! Tapi kamu menolak! Sekarang Salwa sudah menjadi istrimu. Maka jangan menyesal jika ia tidak sesuai dengan yang kamu harapkan!" Ujar Ayah Haris kepada menantunya.

"Iya, Om!"

"Jangan panggil Om lagi! Aku ini sudah menjadi Ayahmu sekarang!"

"Eh iya! Baik, Ayah!"

Ayah haris menepuk punggung menantunya.

"Ayah titip Salwa, dia buah hati Ayah yang sangat berharga. Bahkan dulu untuk mendapatkannya, perlu perjuangan yang extra. Dia cinta pertama Ayah setelah Bundanya. Sekarang tugasku aku serahkan kepadamu! Dia sudah menjadi tanggung jawabmu!" Ucapnya lirih.

"Insyaallah, aku akan menerima dengan segala kelebihan dan kekurangannya, Yah!"

"Aku percaya, itu!"

Salwa memeluk erat sang Bunda. Hatinya masih bimbang, namun janjinya kepada Tuhan sudah ia ikrarkan. Matanya mulai berembun lagi, namun ia berusaha untuk menahannya.

"Wa, kamu sudah menjadi seorang istri sekaligus seorang Ibu. Bunda yakin kamu paham terhadap peranmu! Ada Bunda yang akan selalu mendukungmu."

Bunda Raisya mengelus punggung putrinya. Ia sebenarnya ragu untuk melepas Salwa. Putri sulungnya itu terlalu lama di negeri orang, dan kini ia harus menjadi milik orang.

Sesuai kesepakatan, setelah pernikahan Tristan dan Salwa Pak Ferdi akan menjalani pengobatan ke Singapura. Hari ini juga dia akan berangkat ke Singapura.

Saat ini mereka sudah berada di Bandara untuk mengantar Pak Ferdi.

"Bi, apa Abi yakin aku tidak usah ikut?"

"Yakin, biar Ummi dan adikmu yang menemani Abi!"

"Tapi Abi janji ya, Abi harus sembuh!"

"Setelah Abi melihat kamu menikah lagi, semangat Abi bangkit! Terima kasih sudah memenuhi permintaan Abi! Jangan lupa buatkan cucu yang baru! Abi tunggu kabar bahagianya!"

"Hem, insyaallah!"

Tidak lama kemudian mereka cek in. Tidak menunggu waktu lama, pesawat pun lepas landas.

Tristan dan keluarga Ayah Haris sudah meninggalkan bandara beberapa menit yang lalu.

Saat ini Salwa sedang berada di dalam mobil milik suaminya. Ia duduk di kursi tengah bersama suaminya. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut keduanya. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.

"Bos, kita kemana?"

"Langsung ke rumah, Yan!"

"Siap, Bos!"

Iyan mengamati bos dan istri barunya itu dari balik kaca depan.

"Fokus, Yan! Jangan melihat kemana-mana!"

Ujar Tristan, yang tahu dirinya diam-diam sedang diperhatikan asistennya.

"Eh, iya Bos!"

"Tahu aja nih sih, bos! Kalau aku sedang ngelirik mereka berdua." Batin Iyan.

Salwa hanya menunduk dan memainkan jari-jarinya. Salwa mendadak menjadi pendiam saat ini. Tristan sibuk dengan Handphone-nya. Ia mengabari sekretarisnya, bahwa hari ini ia tidak bisa datang ke kantor.

Beberapa menit kemudian, mereka memasuki gerbang sebuah rumah yang sangat megah. Bahkan lebih mewah dari rumah orang tua Salwa yang memang didesain sederhana.

"Ayo turun, kita sudah sampai di rumah!" Ucap Tristan, kaku.

Kata itu yang pertama kali Salwa dengar dari suaminya. Salwa pun turun tanpa menunggu dibukakan pintu.

"Ayo masuk!"

Tidak ada gandengan tangan atau rangkulan mesra dari suaminya. Mereka berjalan sejajar seperti orang yang baru kenal.

"Selamat siang, Den!"

"Siang, Bi! Kemana Ira?"

"Ada di kamarnya, tadi pulang sekolah dia menangis mencari orang-orang! Sekarang mungkin tidur, Den!Encusnya ada di belakang lagi makan siang."

"Oh, ya sudah! Bi, perkenalkan ini istriku!"

"Masyaallah, jadi beneran aden nikah? Bibi kira cuma isu!"

"Hem, tolong bilang kepada yang lain!"

"Ah iya, Den! Siap, laksanakan!"

Bi Eni enggan menjabat tangan nyonya barunya. Namun Salwa terlebih dahulu mengulurkan tangan.

"Salam kenal, Bi! Saya Salwa."

Dengan ragu Bi Eni menerima jabatan tangan Salwa.

"Masyaallah, suaranya nyonya muda begitu merdu! Pasti wajahnya secantik suaranya."

Salwa tersenyum di balik cadarnya.

Bi Eni pun memanggil asisten yang lain dan memperkenalkan mereka kepada nyonya barunya.

Bersambung....

...----------------...

Next ya kak....

Kanebo Kering

Di dalam benak Salwa masih ada pertanyaan besar. Ia belum bertemu dengan anak sambungnya.

Apakah anak sambungnya itu bisa menerimanya? Apa dia bisa menjadi Ibu yang baik? Belum lagi dia masih berpikir tentang perasaannya kepada suaminya, atau pun sebaliknya.

Di tengah kegelisahannya, ia dikejutkan dengan bariton suaminya.

"Ayo ke atas! Kamarku ada di atas!"

"Kenapa dia kaku sekali? Kayak kanebo kering! Ups dosa, Wa!" Batin Salwa.

Salwa mengikuti langkah suaminya. Mereka pun sampai di sebuah kamar yang sangat kuas. Lebih luas dari kamar Salwa di rumah orang tuanya. Kamar bernuansa putih dan gold dengan aksen mewah memanjakan penglihatan Salwa.

"Ini kamarku! Anggaplah kamar sendiri!"

"Iya, terima kasih!"

"Bos! Ini barang-barangnya Nyonya!" Ujar Iyan dari depan pintu kamar yang tidak tertutup.

"Bawa masuk, dan taruh di walk on closet!"

"Siap, Bos!"

Setelah menaruh barang Salwa, Iyan pun keluar dari kamar bosnya dan menutup pintu sesuai perintah bosnya.

Saat menoleh ke dinding di atas tempat tidur, mata Salwa menemukan gambar sepasang pengantin yang begitu bahagia.

Deg

"Itu pasti foto mendiang istrinya! Cantik sekali! Lihatlah Wa! Masih hitungan menit, kamu sudah merasa tersaingi! Ish, itu cuma foto wa! Tapi foto yang mengandung kenangan indah." Batin Salwa.

Salwa tidak merasa, bahwa sebenarnya ia cemburu. Meski dirinya belum merasakan cinta kepada suaminya.

"Silahkan kalau mau bersih-bersih! Bajumu bisa ditata di lemari yang kosong yang ada di sana! Atau kalau kamu butuh bantuan asisten, kamu tinggal pencet saja tombol ini!Kamar mandinya di sebelah sana! Aku akan keluar dulu!"

"Hem, terima kasih!"

"Sama-sama."

Tristan pun keluar dari kamarnya. Salwa masuk ke kamar mandi membersihkan diri. Saat akan shalat, ternyata ia datang bulan. Salwa pun masuk ke walk in closet menata baju-bajunya di lemari yang kosong sesuai petunjuk suaminya. Dan tidak terasa, adzan Ashar berkumandang.

Setelah selesai, ia keluar dari ruangan itu dengan masih memakai cadarnya. Ia belum terbiasa dengan tempat yang masih asing menurutnya.

Tok

Tok

Tok

"Ia masuklah!"

Ternyata Tristan yang mengetuk pintu. Salwa kagum terhadap sikap suaminya. Meski itu kamarnya sendiri, ia masih mengetuk pintu karena menghormati istrinya yang masih perlu beradaptasi.

"Apa kamu sudah Shalat?"

"Sa-saya sedang berhalangan!"

"Oh, ya sudah! Aku shalat dulu!"

Salwa sedang berkirim pesan dengan keluarganya. Ayah Haris mengirim foto pernikahan Salwa di grup WA keluarga. Saudara Salwa yang tidak bisa menyaksikan pernikahannya, memberikan selamat kepadanya.

Tristan sudah selesai shalat. Saat ini ia sedang mengenakan sarung dan kemeja putih lengan pendek. Aura ketampanannya bertambah dua kali lipat. Salwa baru menyadari itu. Dia tidak dapat berkedip saat memandangi suaminya yang sedang sibuk melipat sajadah.

"Masyaallah, indah sekali ciptaan-Mu! Batin Salwa.

Ia tersadar dari lamunannya saat mendengar pintu kamar diketuk.

Tok

Tok

Tok

"Biar aku yang buka!" Ujar Tristan.

Ia melangkah ke arah pintu dan membukanya.

"Abi... apa Ira boleh masuk?"

"Masuklah, sayang!"

Khumairah berlari masuk ke dalam kamar Abinya. Tadi ia mendengar dari Encusnya bahwa Abinya membawa seorang wanita yang diakuinya sebagai istrinya. Itu berarti ia memiliki Ibu baru. Khumaira tertegun saat melihat sosok wanita yang sedang duduk di tempat tidur. Dengan memakai gamis warna abu beserta dengan cadarnya.

Salwa tak kalah terkejutnya melihat Khumairah.

"Ira...!"

Mendengar duanya dipanggil, Khumairah mendekati wanita yang berada di depannya saat ini. Ia sepertinya mengenal suara itu.

"Ira masih ingat aunty?"

Khumairah masih mengingat-ingat. Namun tangan mungilnya tetap ia ulurkan untuk mencium punggung tangan Salwa.

"Aunty cantik? Ini benar aunty cantik?"

Salwa mengangguk.

Khumairah memeluk tubuh Salwa yang saat ini dalam posisi duduk.

"Kalau begitu, apa benar Aunty cantik sudah menikah dengan Abinya Ira?"

Salwa kembali mengangguk.

"Yeay... Ira senang sekali!"

Khumaira mengangkat tangannya layaknya anak kecil yang mendapatkan sesuatu yang ia inginkan.

Melihat pemandangan itu, Tristan menjadi lebih lega. Rupanya, putrinya itu sudah kenal dengan Salwa.

"Aunty cantik, bolehkah Ira panggil Aunty dengan panggilan Bunda?"

Hati Salwa terenyuh saat mendengar permintaan gadis kecil yang saat ini menjadi anak sambungnya. Ia menoleh ke arah Tristan untuk mendapat persetujuan. Tristan mengangguk, memberikan tanda setuju.

"Boleh, asal Ira senang!"

"Senang sekali, Bunda! Terima kasih sudah mau menjadi bundaku! Ternyata benar, Allah akan mendengarkan do'aku kalau aku mau shalat."

Salwa tertegun mendengar ucapan polos Khumaira. Ia pun merasa lega, karena apa yang ia hadapi tidak akan seburuk yang ia bayangkan. Anak sambungnya sangat baik dan bisa menerimanya.

"Tinggal Bapaknya! Ya Allah, semoga kulkas dua pintu itu segera mencair. Oh iya aku baru ingat sekarang! Jadi benar aku pernah bertemu satu kali dengan Mas Tristan." Batin Salwa.

Flash back on

Dua minggu yang lalu Tristan dan Khumairah datang ke acara aqiqah keponakan Salwa.

Ira nampak senang karena bisa bertemu dengan teman sepantaran. Ia mendekati si kembar Alya dn Ayla.

"Hai... boleh kenalan?" Ira mengulurkan tangannya.

"Boleh, Kak! Namaku Alya, dan ini adikku Ayla! Nama Kaka siapa?"

"Humairah! Panggil saja Ira! Kalian kembar?"

"Iya, kami kembar tiga!" Ujar keduanya.

"Wah... keren! Tapi yang satu mana?"

"Mas Arya pasti main sama anak laki-laki!" Jawab Ayla.

Lalu pandangan Humairah beralih pada wanita bercadar di samping si kembar. Entah kenapa, ia sangat penasaran.

"Ini aunty kami, Kak Ira! Namanya Aunty Salwa."

"Hai aunty!" Ujar Humaira dengan tersenyum. Ia mencium punggung tangan Salwa.

"Hai, cantik!" Salwa memegang dagu Humairah.

Humairah ikut bermain bersama mereka. Salwa menemani mereka menyusun puzzel huruf hijaiyah. Sesekali Humaira mengambil perhatian Salwa.

Beberapa menit kemudian, sebagian keluarga sudah berpamitan pulang.

"Kalian lanjutkan mainnya ya! Aunty mau ke kamar mandi dulu!"

Salwa pergi ke kamar mandi untuk membuang air kecil.

Saat keluar Salwa terkejut, karena ada seorang laki-laki yang menunggu di depan kamar mandi. Seperkian detik mata mereka saling berpandangan. Namun Salwa sadar dan menundukkan pandangannya.

"Astaghfirullah 'adzim." Batin Naila.

Ia langsung pergi meninggalkan kamar mandi. Laki-laki tersebut tersenyum saat melihat Salwa pergi tanpa satu kata pun.

Flash back off

Malam pun tiba

Saat ini Tristan, Salwa, dan Khumairah sedang makan malam di meja makan.

Peran Salwa baru dimulai, ia menuangkan nasi ke piring suaminya.

"Sudah cukup! Tolong ambilkan itu!" Tristan menuju ikan gurami bakar. Salwa pun mengambilkan untuk suaminya.

"Bunda, Ira mau Ayam goreng saja!"

"Ah, baiklah! Makan yang banyak ya! Biar sehat dan pintar!"

Mereka pun menikmati makan malam dengan penuh kehangatan layaknya keluarga yang harmonis.

Tristan melihat cara makan istrinya.

"Kenapa ia tidak merasa kesulitan, makan masih mengenakan cadarnya?" Batin Tristan.

Bersambung....

...----------------...

Next ya kak....

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!