NovelToon NovelToon

Sebatas Ibu Pengganti?

1. Cerai

"Apa? Cerai? Kamu serius?" tanya Raya pada Tatiana yang tengah mengaduk seblaknya tanpa minat. Raya memandang Tatiana lekat dengan mimik muka tak percaya. Bagaimana ia bisa percaya, sebab setahunya Tatiana begitu mencintai suaminya, Samudera. Seorang dokter spesialis penyakit dalam atau internis. Apalagi perempuan berlesung pipi itu sudah mencintai Samudera sejak 5 tahun yang lalu. Tepatnya saat ia baru bekerja sebagai perawat di rumah sakit tempat Samudera mengabdi beberapa tahun ini.

Tatiana mengangguk lemah, "ya," jawabnya singkat.

"Sudah kau pikirkan masak-masak?"

Lagi, Tatiana mengangguk, "keputusanku sudah final. Tak ada lagi yang perlu dipertimbangkan. Semua sudah jelas. Aku menyerah dengan cinta yang ku perjuangkan. Nyatanya perjuanganku hanya berakhir sia-sia. Di hati Mas Samudera hanya ada Triana, bukan Tatiana," sahut Tatiana nelangsa.

Rasanya sangat sakit bagi Tatiana untuk mengucapkan kata itu. Bagaikan ada sembilu yang menusuk tepat di relung kalbu. Sakit, perih, dan nyeri. Jantungnya bagai diremas tangan-tangan tak kasat mata. Sangat menyesakkan.

Sudah cukup perjuangannya selama hampir 2 tahun ini. Sekuat tenaga Tatiana mempertahankan rumah tangganya, nyatanya ia tetap saja kalah.

"Ibu dan ibu mertuamu sudah tahu?" tanya Raya lagi.

Tatiana mengangguk, "ibu mertuaku berharap aku bersabar dan terus mempertahankan rumah tangga ini, sedangkan ibu ... Ia menyerahkan semua keputusan di tanganku. Walaupun ia sedih, tapi ibu cukup bijak untuk tidak ikut campur. Hanya saja ia memintaku mempertimbangkannya lagi dan kalau memang sudah tidak ada yang bisa aku pertahankan, tak masalah. Ia hanya berharap keputusan ini yang terbaik," jelas Tatiana.

"Kalau suamimu?"

Tatiana tersenyum miris, "ia diam."

"Tidak mengatakan apapun?"

Tatiana mengangguk. Mau bagaimana lagi, pernikahan mereka memang tidak berlandaskan cinta, tapi kebutuhan. Samudera membutuhkan Tatiana untuk menjadi ibu bagi anaknya. Anaknya yang sudah terlanjur sayang pada Tatiana.

Ya, Tatiana hanya dibutuhkan 'sebatas ibu pengganti'.

...***...

Tatiana mengenal Samudera sejak 5 tahun yang lalu. Tatiana yang bekerja sebagai seorang perawat tentu saja sering berinteraksi dengan internis itu. Hal itu menumbuhkan benih-benih cinta di hati Tatiana. Meskipun sikap Samudera dingin dan datar, tapi hal itu justru membuat semua perempuan yang bekerja di rumah sakit itu penasaran. Khususnya para single seperti Tatiana. Samudra memang dokter idola di rumah sakit itu. Selain tampan, pekerjaannya sebagai internis membuatnya menjadi idola. Termasuk Tatiana.

Duda tampan, hot, dan dingin itu julukan Samudera. Para penggemarnya bukan hanya para perawat, koas, maupun dokter senior, tapi juga ada dari kalangan pasien. Tidak sedikit pasien yang mencoba mendekati Samudera dengan melakukan flirting bahkan mengirimkannya makanan, bunga, dan berbagai hadiah. Tapi namanya juga dokter dingin, ia tak pernah menanggapi semua itu. Sebab semua orang tahu, cinta Samudera hanya untuk Triana, mendiang istrinya.

Hingga suatu hari putri semata wayang Samudera mengalami muntaber membuatnya harus dirawat intensif di rumah sakit dan kebetulan perawat yang bertugas di bangsal putrinya dirawat adalah Tatiana. Tatiana yang lembut dan bersifat keibuan membuat putri semata wayang Samudera menyukainya.

"Sam, sepertinya Ariana sangat menyukai Tatiana," ujar ibu Samudra sambil melirik ke arah Tatiana yang sedang menyuapi Ariana, putri dari dokter Samudera. Sebenarnya sang nenek tadi ingin menyuapinya makan, tapi Ariana menolak keras. Ia hanya ingin makan asalkan Ariana yang menyuapinya.

Samudera yang juga sedang menyantap sarapannya melirik sekilas, kemudian fokusnya kembali ke nasi uduk yang tengah ia santap. Samudera bungkam. Ia tidak merespon perkataan ibunya sama sekali.

"Sepertinya ia calon ibu yang baik. Ariana pasti akan sangat bahagia bila Tatiana menjadi ibunya."

Samudera tetap diam. Ia tidak bergeming sama sekali. Samudera paham maksud dan tujuan ibunya mengatakan itu, tapi mau bagaimana lagi, Samudera seolah mati rasa. Hatinya seolah ikut mati. Rasanya membeku setelah kepergian sang istri untuk selamanya.

"Sam, sam-,"

"Ma, tolong jangan bahas ini di sini! Ini rumah sakit, bukan tempat untuk membahas hal pribadi," sergahnya dengan wajah masam. Samudera bahkan meletakkan sendoknya dengan kasar. Kemudian ia segera beranjak dari sana meninggalkan ruangan itu dengan segudang kekesalannya.

"Ayah," panggil Ariana, tapi Samudera yang kadung kesal dengan sang ibu membuatnya tak acuh pada putri semata wayangnya.

Melihat sang ayah pergi tanpa menoleh membuat wajah ceria Ariana mendung seketika. Tak lama kemudian, isakan kecil keluar dari bibir mungilnya membuat Tatiana dan neneknya panik.

"Ayah," cicit Ariana dengan bibir bergetar. Balita itu terisak-isak sambil menyebut nama sang ayah, membuat Tatiana iba.

"Eh, princess Tante kok nangis? Cup, cup, cup, jangan nangis ya, Sayang. Nanti matanya jadi kayak mata panda lho, memangnya Ana mau?" bujuk Tatiana sambil memangku balita itu.

"Kata tante Tiana betul, lho. Nanti matanya jadi gede terus menghitam kayak mata panda, ih masa' cucu nenek kayak panda sih?" timpal ibu Samudera mencoba membantu Tatiana membujuk Ariana.

Ariana terkekeh, "tapi panda kan lucu, Nek."

"Iya, lucu. Terus nanti pipi Ana dicubit-cubit orang karena lucu, mau?" Mama Samudera memasang wajah serius. Ariana memang paling tidak suka pipinya dicubit orang lain. Hanya Tatiana dan Samudera saja yang boleh mencubitnya, selainnya tidak. Bahkan kakek dan neneknya pun tidak boleh.

Ariana menggeleng dengan cepat sambil menutup kedua pipinya dengan telapak tangan.

"Nggak, Ana nggak mau."

"Nah, makanya, Ana jangan nangis lagi, oke?"

"Tapi ayah ... ayah malah sama Ana kan?"

"Siapa yang marah? Ayah itu lagi sariawan jadinya nggak bisa banyak ngomong. Kalo ngomong mulutnya sakit, makanya ayah diam aja. Bukan karena marah. Memangnya Ana salah? Nggak kan," tukas nenek Ariana membuat gadis kecil itu tersenyum kecil.

"Benelan, Nek? Kasian ayah dong. Apa ayah cakit kalena jagain Ana?" tanya bocah 3 tahun itu.

Sang nenek pun menggeleng, "bukan. Ayah hanya kekurangan vitamin C."

"Vitamin C? Vitamin C itu apa Tante?" tanya Ariana pada Tatiana.

"Vitamin C itu sesuatu yang tubuh kita perlukan untuk sehat. Nah vitamin C itu banyak terkandung di dalam buah-buahan yang sedikit asam seperti jeruk, mangga, stroberi, kayak gitu," jelas Tatiana membuat Ariana pun mengangguk meskipun ia tidak benar-benar paham.

...***...

Brakkk ...

"Mama apa-apaan sih, bikin kaget aja," omel Samudera saat sang mama masuk ke dalam ruangannya dan membanting pintu kasar. Untung saja sedang tidak ada pasien di ruangannya. Kalau ada, Samudera pasti akan merasa benar-benar malu.

"Kau itu yang apa-apaan, anak manggil-manggil malah melengos begitu aja. Kamu nggak mikir dampak sikap kamu ke psikis Ariana? Dia nangis sampai sesenggukan, ngirain kamu marah sama dia," omel sang mama membuat Samudera mencelos. Ia benar-benar tidak menyangka kalau sikapnya tadi membuat putri semata wayangnya itu bersedih. Lalu, tanpa memedulikan keberadaan sang ibu, Samudera pun gegas berlari ke ruangan sang anak yang tengah dirawat.

...***...

Yang baru, yang baru, yang baru, semoga aja banyak yang mampir. Tolong bacanya jangan lompat-lompat atau ditinggal-tinggal kak ya soalnya itu mempengaruhi retensi. Kalo retensi kecil, otomatis othor nggak dapat apa-apa. Entar othor malah kehilangan semangat nulis lho. Ini pun mau uji coba dulu, klo retensinya menyedihkan, terpaksa deh ceritanya othor gantung atau pindah. Tapi othor harap, othor tetap jadi penulis setia di sini. Menyuguhkan cerita gratis untuk kakak semua. Terima kasih.

...***...

...HAPPY READING ❤️❤️❤️...

2. Bukan ini

Samudera yang mengkhawatirkan keadaan anaknya pun segera berlari menuju ruangan sang anak. Namun saat pintu terbuka, yang terlihat adalah sang putri yang sedang tertidur dalam buaian Tatiana. Ia menggendong Ariana penuh kasih. Kepala Ariana tampak bersandar nyaman di dada Tatiana. Tak dapat Samudera pungkiri, memang sifat Tatiana begitu keibuan. Bahkan hanya dalam hitungan hari, putrinya sudah bisa begitu dekat dengan perawat tersebut.

"Ah, dokter Samudera. Ariana baru saja tertidur. Sebentar, saya akan membaringkannya," ujar Tatiana gelagapan saat melihat keberadaan Samudera yang sudah masuk kembali ke ruangan itu.

Dengan perlahan dan hati-hati, Tatiana mencoba membaringkan tubuh Ariana, namun tanpa diduga, Ariana kembali menangis saat tubuhnya hendak dibaringkan. Bahkan kedua tangannya tampak mencengkeram erat baju Tatiana.

Samudera lantas mencoba mengambil alih Ariana, tapi bukannya diam ataupun senang, balita itu justru makin mengencangkan tangsinya. Ibu Samudera yang kembali masuk ke ruangan itu pun sampai panik mendengar tangisan itu.

"Coba biarkan Tatiana menggendong Ana!" ujar ibu Samudera.

Dengan sedikit gugup, Tatiana kembali mencoba mengambil alih Ariana, dan benar saja, hanya dalam hitungan detik, tangis balita itupun mereda. Bahkan ia kembali tidur dengan nyenyak setelahnya.

"Maaf sudah merepotkan mu," ujar Samudera yang sebenarnya merasa tak enak hati. Padahal ini jam pulang Tatiana setelah berganti shift dengan sesama rekannya. Tapi karena Ariana yang tidak mau dirawat perawat lain membuat Tatiana terpaksa menunda kepulangannya.

"Ti-tidak masalah, dok," ujar Tatiana sambil mengulas senyum.

Ibu Samudera merasa takjub dengan apa yang dilihatnya. Hal itu menguatkan keinginannya untuk menjadikan Tatiana sebagai menantunya. Ia yakin, Tatiana bisa menjadi seorang istri sekaligus ibu yang baik bila menikah dengan Samudera.

Setelah bujukan demi bujukan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya, akhirnya sebulan kemudian Tatiana pun berhasil mereka nikahkan dengan Samudera.

Tatiana awalnya tidak menyangka dilamar orang tua Samudera, tapi karena ia sudah lama memendam cinta, ia pun menerima tanpa pikir panjang terlebih dahulu. Ia tak masalah Samudera belum mencintainya. Ia pun tak masalah kalau Samudera masih terpenjara dalam cinta mendiang istrinya. Sebab Tatiana yakin, perlahan tapi pasti, cinta itu akan tumbuh subur di kemudian hari.

...***...

Kembali ke masa kini, tanpa terasa dua tahun setelah Tatiana menikah dengan Samudera. Tatiana merasa hidupnya bahagia meskipun sikap Samudera masih sama dinginnya. Tapi setidaknya, Samudera mengacuhkannya. Bahkan Samudera mencukupi segala kebutuhannya.

Namun namanya perempuan, kadangkala selalu terbebani dengan rasa penasaran. Adakah Samudera mencintainya? Adakah Samudera mengasihi dirinya seperti dirinya yang bukan hanya mencintai, tapi juga begitu mengasihi Samudera dan putri sambungnya.

Di usia pernikahan kedua tahun ini, Tatiana belum juga dikaruniai seorang anak. Bukan karena ada gangguan dalam rahim, tapi ini atas permintaan Samudera sendiri.

"Minum obat ini!" Ujar Samudera setelah mereka melewati malam pertama.

"Ini," mata Tatiana terbelalak saat melihat apa yang Samudera berikan padanya.

"Iya. Ini pil kontrasepsi. Maaf, bukannya aku tidak mau memiliki anak darimu, hanya saja aku belum siap," ujar Samudera kala itu.

Sebenarnya hari Tatiana sedikit sakit. Tapi mengingat kalau Samudera akhirnya mau menyentuhnya setelah satu bulan pernikahan, Tatiana harus menepis rasa sakit itu.

Ya, Samudera baru menyentuh Tatiana setelah satu bulan pernikahan. Tatiana tidak menuntut pun memaksa hak batinnya tersebut. Ia sadar, Samudera belum mencintai dirinya. Ia maklum. Oleh sebab itu, saat ia mendengar Samudera belum mau memiliki anak darinya, ia berusaha menerima. Ia yakin, setelah Samudera mulai mencintainya, ia pun pasti mau memiliki anak darinya.

"Mas, mau langsung sarapan?" tanya Tatiana saat melihat Samudera turun dari lantai dua.

Samudera yang sedang membenahi dasinya pun menoleh, kemudian mengangguk.

Tatiana tersenyum kemudian ia pun segera melangkah ke meja makan. Di sana Ariana sudah duduk dengan manis menunggu kedua orang tuanya.

"Anak ayah sudah lapar?" tanya Samudera setelah melabuhkan kecupan di puncak kepalanya.

"Iya, ayah. Perut Aja udah kucuk-kucuk dari tadi," ujar Ariana yang kini sudah berusia 5 tahun lebih.

Samudera terkekeh. Kemudian matanya bersirobok dengan netra Tatiana yang terkesima dengan tawanya. Samudera pun segera menarik sudut bibirnya yang tadi merekah menjadi datar. Tatiana tersenyum miris, bahkan untuk menikmati tawa suaminya saja ia seakan tidak berhak.

'Benarkah aku bahagia? Apakah ini kebahagiaan yang ku cari?'

Tatiana tak ingin menunjukkan sisi rapuhnya pada anak dan suaminya. Jadi ia segera memperbaiki ekspresi wajahnya agar terlihat ceria.

"Mas mau makan pakai apa?"

Di meja terhidang nasi uduk, telur dadar, kering tempe, tumis bihun, dan opor ayam.

"Apa saja, terserah," ucapnya datar.

Entah mengapa, rasa bahagia yang dulu Tatiana gaung-gaungkan asal bisa hidup bersama Samudera kian terasa hambar.

Bukan ini. Bukan seperti ini bahagia yang ia cari. Tapi, ia sangat mencintai Samudera. Meskipun ia tak pernah ada di hati Samudera, tapi untuk kehilangannya, Tatiana lebih tak sanggup.

Membayangkan Samudera direnggut darinya saja membuat dadanya sesak, apalagi kalau ia benar-benar kehilangan. Mungkin Tatiana akan mati.

Dengan tetap mempertahankan senyumannya, Tatiana pun mulai menyendokkan nasi beserta lauk-pauknya ke atas piring Samudera. Setelahnya, ia juga menyendokkan nasi, telur dadar, bihun tumis, dan opor ayam untuk Ariana.

"Emmm ... Enak. Masakan bunda emang yang paling enak," puji Ariana dr tersenyum lebar. "Benarkan ayah?" ujarnya pada sang ayah.

Samudera terperanjat, kemudian ia mengangguk tanpa bersuara.

...***...

Ketiga orang itu akhirnya telah menyelesaikan sarapan paginya. Seperti biasa, Ariana akan pergi ke sekolah diantar Samudera sebelum pergi bekerja. Tatiana pun segera membantu Ariana bersiap, setelahnya ia segera beranjak ke depan.

"Mas," panggil Tatiana.

"Hmmm ... "

"Itu ... dasinya," ujar Tatiana gugup. Ia pun segera berdiri di hadapan Samudera untuk memperbaiki dasinya yang belum rapi.

Samudera memandangi wajah Tatiana. Saat Tatiana ingin mengangkat wajahnya, Samudera pun segera memalingkannya wajahnya ke arah lain.

"Terima kasih," ucap Samudera datar.

'Bahkan untuk memandang wajahku saja, kau tak mau, Mas.'

Setelah mobil Samudera menghilang dari pandangannya, pandangan Tatiana mengabur.

"Sudah dua tahun, sudah dua tahun aku menunggu, apakah di dalam hatimu belum juga ada namaku, Mas. Sampai kapan aku harus menunggu? Sampai kapan? Apa sampai aku merasa lelah? Lelah jiwa dan raga."

Tatiana tak dapat membendung air matanya lagi. Ia pun segera masuk ke dalam rumah, kemudian berjalan menuju kamar. Ia menutup pintu kamarnya, tubuhnya pun luruh seiring luruhnya rinai hujan dari pelupuk matanya.

Tatiana mencengkeram baju di dada kanannya. Sakit. Itu yang ia rasakan.

Tiba-tiba ponselnya berdering nyaring. Tatiana pun segera berjalan menuju nakas dan mengambil ponselnya.

"Halo, assalamu'alaikum, Bu," ucap Tatiana saat panggilan terhubung.

"Nduk, kamu kenapa? Kamu sakit?" tanya ibu Tatiana saat mendengar serak suara sang putri.

"I-iya, Bu. Tiana agak batuk ini," dusta Tatiana.

"Oh. Syukurlah. Ibu pikir kamu habis nangis, Nduk. Tapi yo ndak mungkin kan, secara kamu tuh bahagia banget bisa nikah sama nak Samudera," kekeh ibu Tatiana membuat Tatiana tersenyum miris.

"Oh, ya, ibu kenapa telepon Tiana?"

"Oh, Ndak apa-apa kok, Nduk. Ibu cuma kangen aja."

Tatiana tersenyum, "ya udah, nanti setelah jemput Ariana, Tiana ke sana ya, Bu. Tiana juga sudah kangen sama ibu. Tiana rasanya ingin banget cerita ke ibu bagaimana rumah tanggaku sebenarnya, tapi aku takut membebani ibu. Aku takut ibu sedih," ujarnya.

"Apa ndak merepotkan, Nduk?"

"Nggak kok, Bu."

"Ya udah, tapi hati-hati di jalan ya, Nduk. jangan lupa izin sama Nak Sam juga. Ingat, ridho istri itu ada dalam ridho suami."

"Iya, Bu. Tiana ingat kok."

Setelah bercakap-cakap sebentar, Tiana pun memutuskan panggilan itu.

...***...

...HAPPY READING ❤️❤️❤️...

3. Sandiwara belaka

"Assalamu'alaikum," ujar Tatiana dan Ariana serempak saat mereka telah berdiri di depan pintu sebuah rumah semi permanen yang cukup minimalis.

"Wa'alaikumussalam," jawab seseorang sambil melangkahkan kakinya menuju pintu.

"Nenek," seru Ariana saat melihat sang nenek, yaitu ibu Tatiana muncul.

Senyum merekah di bibir ketiga orang itu. Pun ibu Tatiana yang langsung membuka kedua tangannya lebar-lebar, menyambut kedatangan cucunya tersebut.

"Ana, wah, nenek kangen sekali sama Ana," ujar ibu Tatiana sambil mengecup seluruh wajah Ariana. Meskipun Ariana bukan cucu kandungnya, tapi ibu Ariana benar-benar memperlakukan Ariana seperti cucu kandungnya sendiri. Ia begitu menyayangi anak dari menantunya tersebut

"Ana juga kangen, Nenek," ujar Ariana dengan senyum lebar di bibirnya. "Oh ya, nenek, Ana bawain nenek bolu kojo kesukaan Nenek lho. Ini ... " Ariana segera mengambil paper bag dari tangan Tatiana dan dengan cepat memberikannya pada sang nenek. Ibu Ariana tak dapatkan menahan buncahan bahagianya. Meskipun dirinya bukan nenek kandung Ariana, tapi gadis kecil itu pun menyayanginya sama seperti ia menyayangi nenek kandungnya sendiri.

"Wah, makasih, Sayang! Ana memang paling tahu kesukaan nenek."

"Ana gitu lho!" serunya bangga membuat Tatiana dan ibunya terkekeh.

"Ayo, masuk! Kamu juga Tiana, kenapa malah berdiri di situ kayak patung. Kayak ini bukan rumahmu aja," omel ibu Tatiana saat melihat putrinya justru mematung di tempat.

"Eh, iya, Bu." Tatiana pun melangkah masuk kemudian mencium punggung tangan sang ibu. Sementara Ariana sudah lebih dulu melakukannya setelah pelukan sang nenek tadi terlepas.

"Kamu mau minum apa, Tiana?"

"Ibu ih, nggak perlu repot-repot. Kalau mau minum kan Tiana bisa ambil dan buat sendiri. Kan ibu sendiri yang bilang ini rumah Tiana, jadi Tiana bebas dong mau ngapain. Udah kayak tamu aja dibuatin minum," ujar Tatiana sambil duduk di samping Ariana.

Ibu Ariana terkekeh, "ya kan kamu jarang datang, Nduk, setelah menikah. Jadi wajar tho ibu mau buatin kamu minum. Siapa tahu, kamu kangen minuman buatan ibu."

Tatiana tampak berpikir, "ya udah kalau ibu emang mau buatin. Buatin Tiana wedang jahe kayak biasa aja, Bu. Udah kangen minum wedang jahe buatan ibu."

"Ya udah, ibu buatin ya. Kalau cucu nenek yang cantik, mau apa?"

"Ana mau minuman kayak bunda sebut tadi aja, Nenek."

"Tapi wedang jahe itu agak pedes lho, memangnya Ana tahan?"

Ariana tampak menimbang. Ia sudah seperti orang dewasa yang tengah berpikir serius. Tatiana dan ibunya sampai gemas sendiri.

"Ana, nenek buatin sirup aja mau nggak?"

"Ya udah, kalau nenek nggak repot, Ana mau," jawabnya meniru cara Tatiana berbicara tadi. Begitulah anak-anak, mereka memang benar-benar peniru yang ulung.

Tatiana dan sang ibu tak dapat menahan tawanya. Memang ada saja tingkah anak kecil itu yang mampu membuat tawa mereka meledak. Keberadaan Ariana lah yang selama ini menjadi penyemangat Tatiana. Meskipun hubungan suami istri antara ia dan Samudera terasa dingin, tapi keberadaan Ariana sanggup menghangatkan hari-harinya. Meski Tatiana akui, bisa menikah dengan Samudera pun memang ada andil gadis kecil itu. Tanpa Ariana, mungkin Tatiana takkan pernah merasakan menjadi istri seorang Samudera. Namun tanpa ia sadari, karena Ariana pula lah, ia akhirnya terbelenggu dalam sebuah hubungan yang dingin. Meskipun Samudera tidak pernah berlaku kasar baik secara verbal maupun fisik, tapi sikap dingin Samudera pun perlahan-lahan menggerus kesabaran Tatiana. Menyayat hati, meninggalkan perih, yang lama-kelamaan perih itu menjadi luka yang menganga, berdarah, bahkan bernanah.

Menyakiti seorang istri itu tidak melulu dengan melakukan kekerasan fisik maupun verbal. Bersikap dingin pun bisa melukai. Memang awalnya tampak biasa saja, tapi perlahan-lahan luka itu akan makin besar, lebar, dan dalam. Ada yang sanggup terus bertahan, tapi tak sedikit pula yang memilih melepaskan. Entah bagaimana sikap Tatiana ke depannya bila Samudera terus bersikap demikian.

...***...

"Kamu ada masalah, Nduk?" tanya sang ibu setelah Tatiana keluar dari kamar semasa gadisnya. Ia baru saja menidurkan Ariana di sana.

Tatiana mengerjapkan matanya sambil mengambil bantal sofa dan meletakkannya di pangkuannya.

"Masalah? Nggak ada kok, Bu," kilah Tatiana.

Tapi namanya seorang ibu, pastilah ia bisa merasakan kesedihan yang menggelayut di netra sang putri. Mau serapat apapun Tatiana mencoba menutupi, insting seorang ibu itu jauh lebih tajam. Sama seperti insting seorang istri pada sang suami.

"Bu, aku ... "

"Berhenti membohongi, ibu, Nduk. Ibu bisa melihat dari pancaran matamu kalau kau sedang tidak baik-baik saja. Sebenarnya ada apa? Cerita sama ibu? Atau kamu sudah tidak menganggap ibu ini sebagai ibumu lagi? Kamu sudah tidak memerlukan ibu lagi?" cerca ibu Tatiana membuat mata Tatiana ditutupi kabut seketika.

Ibunya ini memang begitu perasa. Tatiana maklum, sejak kecil ibunya membesarkannya seorang diri. Tepatnya setelah ayahnya ketahuan berselingkuh lalu mereka memilih berpisah. Bertahun-tahun ayahnya menelantarkan dirinya, hingga kabar berita pun tak pernah terdengar. Dan bila mereka mendengar berita tentang ayahnya, ternyata itu merupakan hari terakhir sang ayah. Ayahnya dan istri muda ayahnya mengalami kecelakaan hingga akhirnya meninggal di tempat.

Tatiana menjadi saksi bagaimana perjuangan ibunya membesarkan dirinya. Tatiana juga menjadi saksi bagaimana malam-malam sang ibu yang dilewati dengan tangis. Membesarkan dirinya seorang diri, tanpa bantuan orang lain. Bagaimana ibunya tidak bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan sang putri, bila hampir separuh usianya saja dihabiskan untuk membesarkannya dengan kedua tangannya sendiri.

"Bu ... " Tiba-tiba Tatiana terisak. Kemudian ia langsung menjatuhkan kepalanya di pundak sang ibu. Tatiana menangis. Tubuhnya bergetar. Untuk pertama kali setelah menikah, Tatiana menangis di hadapan sang ibu.

Selama dua tahun penuh, Tatiana mencoba menyembunyikan segala lara hatinya, tapi hari ini, pertahankannya runtuh. Ia tak sanggup lagi menahan gejolak di dalam dada. Ditumpahkannya tangsinya di pelukan sang ibu.

Sang ibu sampai ikut meneteskan air mata mendengar isakan tak biasa sang putri. Isakan pertanda kalau luka hatinya sungguh tak main-main. Apa yang diderita putrinya, bukanlah sekedar luka biasa. Ibunya bisa merasakan kalau luka hati putrinya itu pasti sangat luar biasa.

Tapi apa?

Apa penyebab putrinya terluka?

Bukankah ia bilang bahagia bisa menikah dengan Samudera.

Kalau ia bahagia, lantas apa yang membuat putri semata wayangnya itu terluka?

"Kamu kenapa, Nduk? Ada yang nyakitin kamu? Atau ada yang berbuat jahat sama kamu?" tanya sang ibu lembut sambil membelai puncak kepala Tatiana.

"Bu, Mas Samudera, Mas Samudera ... "

"Iya, Samudera. Samudera kenapa? Apa dia sudah menyakiti kamu? Apa dia sudah memukul kamu? Atau dia sudah ... "

Tatiana menggeleng, kemudian dengan berat hati, Tatiana pun menceritakan perlakuan Samudera selama ini padanya membuat mata sang ibu sampai mengerjap tak percaya. Di depannya, sikap Samudera terlihat hangat, tapi nyatanya semuanya hanya sandiwara belaka.

...***...

...HAPPY READING ❤️❤️❤️...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!