NovelToon NovelToon

Dendam Berakhir Cinta.

Sesuatu yang tidak diinginkan.

Pagi itu Di ruang instalasi kebidanan kedatangan seorang Pasien ibu hamil dengan usia kandungan yang telah memasuki tiga puluh enam Minggu. memiliki riwayat preeklamsia membuat wanita itu harus segera mendapatkan tindakan operasi Caesar secepatnya, jika tidak bukan hanya beresiko tinggi untuk ibunya namun juga bayinya.

"Cepat hubungi dokter Anis!!." Seorang bidan senior tampak memberikan instruksi pada salah seorang bidan lainnya untuk segera menghubungi dokter spesialis.

"Baik."

Tak berapa lama, Anis yang pagi itu bertugas memberi pelayanan di poli kandungan bergegas menuju ruang instalasi kebidanan setelah mendengar kabar darurat dari salah seorang bidan di sana.

"Bu dokter, saya mohon selamatkan anak saya, dia berhak lahir ke dunia ini!!." dengan berlinang air mata wanita itu bermohon pada Anis yang saat itu mulai memeriksa kondisinya.

"Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk itu Nyonya, tapi anda harus tetap tenang!! Jika anda dilanda kepanikan seperti ini, bisa saja tekanan darah anda tidak stabil." tutur Anis setelah memeriksa kondisi wanita itu.

Setelahnya Anis pun meninggalkan ruangan tersebut, namun sebelum itu ia seakan memberi isyarat melalui sorot mata agar bidan yang bertugas mengikuti dirinya.

"Menurut hasil pemeriksaan saya serta hasil pemeriksaan pasien Sebelumnya, beliau menderita preeklamsia, dan sepertinya sejak menderita preeklamsia pasien tidak mendapatkan penanganan yang tepat sehingga membuat preeklamsia yang diderita pasien semakin parah. Jika tidak segera mendapat tindakan operasi, kemungkinan terbesar ibu dan bayinya tidak dapat diselamatkan." terang Anis pada bidan yang bertugas.

"Di mana anggota keluarga pasien??." lanjut tanya Anis.

"Keluarga pasien menunggu di depan dokter, tapi_." Bu bidan ragu untuk melanjutkan kalimatnya.

"Tapi kenapa???" tanya Anis dengan wajah bingung.

"Tapi mereka tidak berani menandatangani persetujuan operasi, dokter. mereka ingin menunggu suami pasien yang sedang berada di perjalanan menuju ke sini." beritahu bidan pada Anis.

"Berapa lama lagi suami pasien akan tiba ??." tanya Anis lagi.

"Saya juga kurang tahu pasti, Dokter, yang jelas kata anggota keluarganya yang lain, suami dari pasien sedang berada di luar kota." lanjut beritahu bidan dan itu membuat Anis memijat pangkal hidungnya.

Meskipun menyayangkan hal itu, namun Anis tak dapat berbuat apa apa. Ia hanya bisa melakukan tindakan operasi jika ada anggota keluarga pasien yang bersedia menandatangani persetujuan tindakan operasi.

Sebelum meninggalkan ruangan instalasi kebidanan, Anis kembali menemui pasien.

"Maaf Nyonya, sepertinya untuk saat ini kami tidak bisa melakukan tindakan operasi pada anda, sebab sebagai tim medis kami juga membutuhkan persetujuan dari anggota keluarga pasien dan sampai saat ini kami belum mendapatkannya karena suami anda sedang berada di perjalanan dari luar kota." Anis mencoba memberi penjelasan pada pasien.

Wanita itu yang tadinya berbaring di atas tempat tidur pasien lantas merubah posisinya dengan duduk. Kini ia menatap Anis dengan wajah penuh harap.

"Saya mohon dokter, lakukan tindakan operasi secepatnya untuk menyelamatkan anak saya. tidak perlu menyembunyikan kenyataan dari saya, karena saya sudah tahu semuanya. Menderita preeklamsia parah, bisa saja membuat nyawa saya tidak bisa terselamatkan, tapi setidaknya tolong selamatkan nyawa anak saya!!." dengan wajah memelas wanita itu mengatupkan kedua tangannya di hadapan Anis sebagai ungkapan permohonannya.

Anis menghela napas dalam mendengarnya.

"Sungguh Nyonya, kami tidak bisa menyalahi aturan yang berlaku, karena itu bisa merusak nama baik saya dan juga nama baik rumah sakit, jika kami melakukan tindakan tanpa adanya persetujuan dari anggota keluarga anda." sesungguhnya Anis merasa tak tega namun mau bagaimana lagi, itu sudah menjadi aturan yang harus di taati olehnya sebagai tim medis. Apalagi saat ini suami pasien sedang tak ada di tempat, bisa jadi hal itu akan menjadi bumerang bagi Anis nantinya jika sesuatu yang tidak diinginkan sampai terjadi.

"Jika anggota keluarga saya tidak bersedia menandatangani persetujuan operasi maka saya sendiri yang akan menandatangani persetujuan tindakan operasi pada diri saya." tegas wanita itu pada akhirnya.

Setelah melalui percakapan yang cukup panjang, akhirnya wanita bernama Ananda tersebut menandatangani surat persetujuan tindakan operasi dengan di saksikan anggota keluarganya, termasuk kedua orang tuanya.

"Siapkan ruang operasi!!." titah Anis setelah semua persetujuan tindakan operasi selesai di tanda tangani.

Beberapa jam kemudian, suara tangisan bayi perempuan menggema di ruangan operasi. kondisi bayi perempuan tersebut dalam kondisi sehat. namun sayangnya setelah beberapa jam usai mendapat tindakan operasi, pasien di nyatakan Kritis. Mungkin preeklamsia parah dan tekanan darah tinggi yang di deritanya membuat wanita itu tak sadarkan diri usai mendapatkan tindakan operasi.

Sudah satu jam berlalu semenjak pasien di pindahkan ke ruang ICU, namun masih tak ada tanda-tanda wanita itu akan segera siuman. Justru kondisi organ vitalnya semakin menurun, baik jantung dan juga nadinya semakin berdetak lemah.

Sebagai tim medis yang bertanggung jawab penuh atas tindakan operasi tersebut, Anis sudah melakukan tugasnya semaksimal mungkin. Bahkan Anis tak meninggalkan pasien, ia tetap memantau perkembangan pasien hingga tepat pukul setengah delapan malam, seorang perawat dengan paniknya menyampaikan pada Anis yang saat itu baru saja usai melaksanakan sholat isya, jika detak jantung pasien semakin menurun.

Anis bergegas menuju ruang ICU, melihat kondisi jantung pasien nyaris tak berdetak, Anis lantas menggunakan alat pompa jantung sebagai usaha terakhir untuk menyelamatkan nyawa pasien. sebagai tim medis Anis yang didampingi oleh beberapa orang perawat telah berusaha semaksimal mungkin tetapi sepertinya tuhan berkehendak lain. Tepat pukul delapan malam wanita muda bernama Ananda akhirnya di nyatakan meninggal dunia.

Sebagai seorang dokter Anis paling pantang menitihkan air mata jika sedang bertugas, namun kali ini sepertinya ada pengecualian, Anis menitihkan air mata ketika mengingat ada seorang bayi perempuan yang baru saja lahir ke dunia namun sudah harus kehilangan sosok ibunya.

Secepatnya Anis mengusap sudut matanya yang basah. "Saya akan menyampaikan kabar ini pada keluarga pasien." Anis mulai mengayunkan langkahnya meninggalkan ruangan ICU, untuk menyampaikan kabar duka pada keluarga pasien.

***

Di bandara internasional Soekarno-Hatta, seorang pria tampan tampak berjalan dengan terburu buru keluar dari area Bandara. Pria tampan yang saat ini mengenakan stelan jas lengkapnya nampak merogoh saku jasnya ketika mendengar ponselnya berdering.

Pria itu adalah Ansenio Wiratama seorang pengusaha muda ternama di tanah air.

"Mama mertua." gumam Ansenio ketika ia melihat nama pemanggil di ponselnya.

perasaan Ansenio semakin tak tenang ketika melihat mama mertuanya kembali melakukan panggilan. Dengan perasaan tak menentu Ansenio menggeser ke atas ikon hijau pada ponselnya untuk menerima panggilan dari ibu mertuanya.

"Ansenio su_." Ansenio tak menuntaskan kalimatnya ketika mendengar ibu mertuanya yang kini menyampaikan kabar kematian sang istri tercinta.

"Tidak mungkin.... Ananda tidak mungkin meninggalkan Aku..." dengan air mata yang mulai berlinang, Ansenio nampak menolak kenyataan yang terjadi, istrinya telah meninggalkan ia dan juga putri mereka untuk selamanya.

Sayang sayangku selamat datang di karya recehku yang baru ya.....semoga suka dengan alur ceritanya, untuk kali ini alur ceritanya sedikit menguras air mata.

Kebencian Ansenio Wiratama.

Dengan aura wajah yang tampak merah padam Ansenio mendatangi rumah sakit.

Anis yang berada di ruang staf medis untuk memeriksa beberapa reka medik pasien, tiba tiba mendengar suara keributan yang berasal dari depan ruangan.

Penasaran dengan apa yang terjadi, Anis lantas beranjak keluar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di depan.

Baru saja membuka pintu ruangan, Anis sudah di buat terkejut ketika ibu dari Ananda menunjuk ke arahnya dengan tatapan tak bersahabat.

"Ada apa ini??." Anis yang merasa bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi lantas kembali mengayunkan langkahnya mendekat.

Baru beberapa langkah, tiba tiba Anis dikejutkan dengan tindakan seorang pria tampan yang menarik kerah bajunya layaknya seorang Lawan yang harus di enyahkan.

"Jadi anda yang telah membunuh istri saya??." dengan tatapan tajam bak elang yang hendak menerkam mangsanya, Ansenio menatap Anis.

Dengan sekuat tenaga Anis menepis cengkraman tangan kekar Ansenio pada kerah bajunya. Namun bobot tubuh Anis yang jauh lebih kecil dibanding tubuh atletis milik Ansenio, membuat usaha Anis berakhir sia sia. Untungnya ketika itu, Dr Atala yang tengah melintas segera membantunya untuk lepas dari cengkraman tangan kekar Ansenio.

"Apa yang anda lakukan, tuan ??? Apa anda tidak malu memperlakukan seorang wanita dengan kasar seperti itu??." tutur Atala setelah berhasil membantu Anis lepas dari cengkraman Ansenio.

"Selama dua puluh delapan tahun saya hidup di Dunia ini hal yang paling pantang saya lakukan adalah bertindak kasar pada seorang wanita, tetapi untuk kali ini sepertinya ada pengecualian untuk wanita ini." jawab Ansenio dengan aura wajah yang dipenuhi amarah.

Tidak sepenuhnya paham dengan maksud ucapan pria itu, Atala lantas meminta pria itu untuk menjelaskan secara detail tentang apa yang sebenarnya terjadi.

"Tidak mungkin, tuan Ansenio, sebagai tenaga medis kami tidak akan mungkin berani memberikan tindakan operasi tanpa adanya persetujuan tindakan dari pasien atau anggota keluarga yang lainnya." jawab Atala memberikan pembelaan pada Anis, setelah mendengar penjelasan dari Ansenio yang menurutnya mustahil di lakukan oleh Anis.

Permasalahan yang kini tengah di selesaikan di ruangan direktur utama rumah sakit tersebut , tak urung membuat penasaran para dokter dan juga perawat yang bertugas malam itu.

"Kali ini saya memberikan waktu pada anda untuk memberikan bukti jika memang anda tidak merasa melakukan kesalahan, dokter Danisha !!." tutur Dirut rumah sakit pada Anis.

Dengan cepat Anis menyerahkan bukti surat persetujuan tindakan operasi pada Dirut rumah sakit dan itu dilakukan Anis tepat di hadapan Ansenio.

Dirut rumah sakit menerima surat tersebut dari tangan Anis dan kemudian mulai membacanya dengan teliti.

Beberapa saat kemudian.

"Sepertinya tindakan operasi yang dilakukan dokter Danisha sudah memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku, serta mendapatkan persetujuan dari pihak yang bersangkutan. di sini tertera nama dan tanda tangan istri anda, tuan Ansenio Wiratama. Dengan begitu, sebagai direktur utama rumah sakit saya tidak bisa menindak lanjuti kasus ini sebab perangkat saya telah melakukan tindakan dengan syarat dan ketentuan yang berlaku di rumah sakit ini."

Mendengar penuturan dari Dirut rumah sakit membuat Ansenio semakin geram, karena menurutnya pria itu membela seorang dokter yang bersalah.

"Sebagai seorang dokter, seharusnya wanita itu menunggu persetujuan dari saya sebagai suami dari pasien sebelum melakukan tindakan pada pasien." sanggahan Ansenio mau tak mau membuat Anis harus melontarkan kalimat pembelaan.

"Maaf tuan Ansenio Wiratama, sekalipun saya menunggu kedatangan anda terlebih dahulu sebelum memberikan tindakan pada pasien, mungkin nyawa istri anda tetap tidak bisa lagi di selamatkan. Menderita preeklamsia parah membuat pasien kehilangan banyak darah pada saat operasi, apalagi kondisi tekanan darah pasien tiba tiba saja naik beberapa saat setelah mendapatkan tindakan operasi. Lagi pula istri anda sendiri yang menginginkan semua ini, sebagai seorang dokter tentunya saya harus berusaha menyelamatkan pasien jika persyaratan telah memenuhi untuk dilakukan tindakan pada pasien. Sebagai tim medis saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan nyawa pasien, Jika sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan saya rasa itu diluar kendali saya sebagai manusia biasa. " Anis coba memberikan penjelasan. Namun kebencian Ansenio yang disebabkan kehilangan sang istri tercinta membuat pria itu seolah menolak semua penjelasan dari Anis.

"Sebelumnya saya turut berdukacita atas meninggalnya istri anda, tuan, namun begitu anda tidak bisa menyalahkan tim dokter yang bertugas dalam hal ini!!." kata Dirut pada Ansenio.

Dengan wajah yang dipenuhi aura kebencian, Ansenio Wiratama beranjak begitu saja meninggalkan ruangan tersebut.

Anis tampak menghela napas dalam setelah kepergian Ansenio, seorang pria yang menurutnya memiliki sifat yang sangat mengerikan.

**

Ansenio yang di temani kedua orang tuanya lantas membawa pulang jenazah istrinya sebelum kemudian besok akan di makamkan.

Tangisan putrinya menyadarkan Ansenio jika saat ini ia harus kuat demi buah hatinya, yang baru saja kehilangan sosok ibunya.

Seminggu setelah kematian sang istri, Ansenio terus menghabiskan waktunya di sebuah club malam dengan mabuk mabukan. Menurut Ansenio hanya dalam keadaan mabuk ia bisa sedikit mengurangi frustrasinya setelah kehilangan sosok wanita yang begitu di cintainya.

"Anda sudah mabuk berat, tuan." Jasen yang merupakan asisten pribadi Ansenio nampak mencegah Ansenio untuk kembali mengangkat gelas minumannya.

"Apa kau sudah bosan hidup, haaahhh????." sentak Ansenio dengan gaya khas orang mabuk ketika Jasen hendak meraih gelas di tangannya.

Jasen tidak menghiraukan sentakan Ansenio, pria itu justru memapah tubuh Ansenio untuk segera meninggalkan club malam tersebut.

Jasen mengantarkan Ansenio pulang.

Mama Dahlia yang menunggu di depan pintu utama nampak sedih melihat putranya yang sudah seminggu pulang dalam keadaan mabuk berat, bahkan saking banyaknya menenggak minuman beralkohol setiap malam, Ansenio butuh bantuan Jasen untuk memapah tubuhnya pulang ke rumah.

"Sayang, jangan tinggalkan aku, aku merindukanmu Ananda." Ansenio yang tengah di papah Jasen menuju kamarnya terdengar terus meracau dengan menyebut nama sang istri.

***

Keesokan harinya, Ansenio yang baru saja terjaga dari tidurnya merasa kepalanya seperti mau pecah. Pria itu tampak meremas kepalanya dengan kedua tangannya.

"Kamu sudah bangun??." suara ibunya mengalihkan perhatian Ansenio ke sumber suara.

Ansenio menatap ibunya sekilas sebelum kemudian beranjak turun dari tempat tidur. Ada rasa bersalah di hati Ansenio Karena telah membuat ibunya bersedih melihatnya setiap malam pulang dalam keadaan mabuk berat.

"Sampai kapan kamu akan bertindak bodoh seperti ini, Ansen??? apa kamu tidak kasian pada putrimu, dia sangat membutuhkan kasih sayang kamu sebagai seorang ayah tapi kamu justru sibuk mabuk mabukan di luar sana." ucapan Mama Dahlia sontak membuat Ansenio menghentikan langkahnya sejenak, namun begitu ia tak sampai menoleh.

"Ansen akan berusaha menjadi Daddy yang lebih baik lagi untuk Naya, dan Ansen juga janji tidak akan mabuk mabukan lagi." kata Ansenio sebelum kemudian kembali mengayunkan langkahnya menuju kamar mandi.

Ada rasa lega di hati mama Dahlia ketika mendengar putranya berjanji tidak akan mabuk mabukan lagi. Mama Dahlia pun beranjak meninggalkan kamar putranya, hendak menemui cucu kesayangannya yang tadi di titipkan sebentar pada pengasuhnya.

Rencana Ansenio Wiratama.

Di lantai tertinggi gedung Wiratama Group, Ansenio nampak duduk bersandar pada kursi kebesarannya seraya memandang layar ponselnya yang menampilkan wajah seseorang.

"Cari tahu latar belakang gadis ini!! Lakukan secepatnya!!." titah Ansenio seraya meletakkan ponselnya di atas meja.

Dengan gerakan cepat Jasen meraih ponsel Ansenio untuk melihat siapa gadis yang di maksud tuannya itu.

"Baik tuan, akan saya lakukan." tanpa banyak tanya Jasen segera beranjak meninggalkan ruangan Ansenio guna melaksanakan tugas yang baru saja di berikan Ansenio padanya.

Setelah kepergian Jasen dari ruangannya, tangan kekar Ansenio terulur untuk meraih sebuah pigura yang telah menemaninya di ruangan tersebut sejak dua tahun yang lalu.

"Aku sangat merindukanmu, sayang.... mengapa kamu tega meninggalkan aku sendirian??." tanpa sadar air mata mulai berlinang membasahi wajah tampannya, ketika Ansenio menatap Foto istrinya yang tampak tersenyum.

"Semua ini karena wanita itu, wanita itu yang telah menyebabkan aku kehilanganmu untuk selamanya, Ananda. Aku pastikan, wanita itu akan membayar mahal atas apa yang telah ia lakukan padamu, sayang."

Ansenio tetap teguh dengan pemikirannya, bahwa Anis lah yang telah menyebabkan kematian sang istri. Bukan tanpa alasan Ansenio berpikir demikian, sepenggal video yang di ambil ibu mertuanya ketika Ananda tengah menandatangani surat persetujuan tindakan operasi, yang memperlihatkan Ananda tengah mengusap air mata di pipinya semakin meyakinkan dugaan Ansenio, jika saat itu istrinya dalam keadaan tertekan. Tidak menutup kemungkinan Anis lah yang menjadi penyebabnya.

Beberapa saat kemudian, Ansenio membuka pesan yang baru saja di kirimkan Jasen padanya. itu yang membuat Ansenio begitu mengandalkan Jasen, tak sampai tiga puluh menit, Jasen telah mengirimkan semua informasi lengkap tentang seorang gadis bernama Danisha putri.

Ansenio menyunggingkan sudut bibirnya setelah membaca serangkaian pesan yang baru saja di kirimkan Jasen padanya.

"Mungkin kau bisa mencari cara untuk menghindari hukum negara tapi aku pastikan kau tidak akan bisa lari dari hukumanku." gumam Ansenio dengan tatapan jauh menerawang.

"Lakukan sesuatu yang perlu kau lakukan!!." Ansenio lantas memberi perintah selanjutnya dengan mengirimkan sebuah balasan pesan pada Jasen.

"Baik tuan, akan saya laksanakan." seringai kembali terbit di sudut bibir Ansenio ketika membaca balasan pesan dari Jasen.

***

Di rumah sakit.

Anis yang sedang disibukkan dengan kegiatannya memberi pelayanan pada pasien di poli kandungan, tiba tiba mendapat telepon dari adiknya Anin, menyampaikan jika saat ini pihak bank ingin segera menyita rumah mereka satu satunya.

"Sebaiknya kamu tenang dulu Anin, kakak akan segera pulang." kata Anis, sebelum beranjak dari duduknya. Anis segera menuju ruang Dirut rumah sakit untuk meminta izin dan syukurnya Dirut memberikan izin pada Anis tanpa banyak bertanya.

Anis terpaksa menggadaikan sertifikat rumahnya untuk membiayai rumah sakit ayahnya setahun yang lalu. di saat ia kembali melanjutkan studinya mengejar gelar dokter spesialis dan pada saat itu ia tidak memiliki penghasilan karena ia terpaksa berhenti bekerja untuk sementara waktu demi fokus mengejar gelar dokter spesialis, itulah mengapa sampai ia menggadaikan sertifikat rumah orang tuanya pada bank.

Anis yang pagi tadi berangkat dengan menggunakan sepeda motor memudahkan dirinya untuk tiba tepat waktu di rumahnya.

"Tunggu!!." seruan Anis membuat beberapa pria bertubuh kekar menghentikan kegiatannya untuk mengeluarkan barang barang dari dalam rumah Anis.

Anis melangkah mendekati ayah, ibu dan juga Anin yang kini terlihat sudah menangis.

"Apa yang kalian lakukan ??? Bukankah selama ini kami selalu membayar pinjaman tepat waktu setiap bulannya???". Sergah Anis dengan wajah bingung sekaligus geram.

"Maaf nona kami hanya menjalankan tugas, jika anda ingin protes sebaiknya anda bertemu langsung dengan bos kami!!." ucap salah seorang di antaranya.

Para pria itu kembali melanjutkan aktivitasnya mereka ketika melihat Anis masih diam, seperti sedang berpikir.

"Hentikan !!! Baik, saya akan menemui atasan kalian." ucapan Anis sontak membuat para pria itu menghentikan aktivitas mereka dan pergi begitu saja meninggalkan rumah kedua orang tua Anis.

Setelah kepergian para pria bertubuh kekar itu, Anis lantas membawa ayah dan ibunya kembali masuk ke dalam rumah. Meski perasaannya sangat bingung dengan tindakan tiba tiba dari pihak bank namun Anis tetap berusaha terlihat tenang di hadapan keluarganya.

"Ayah dan ibu tidak perlu cemas, sepertinya ada kesalahpahaman dalam hal ini. Anis akan segera menemui pimpinan Bank untuk membahas tentang masalah ini." kata Anis, sebelum kemudian pamit untuk pergi menemui pimpinan Bank tempat mereka mengajukan pinjaman setahun yang lalu.

Di sepanjang perjalanan Anis terus bertanya tanya apa yang membuat pihak bank hendak melakukan penyitaan, sedangkan selama ini mereka tidak pernah terlambat dalam membayar iuran bulanan.

Setengah jam kemudian Anis pun tiba di tujuan. Di pandangnya gedung tinggi di hadapannya sebelum kemudian mulai mengayunkan langkah memasuki gedung tersebut.

"Selamat siang Nona, ada yang bisa kami bantu??." pertanyaan dari seorang penjaga keamanan di depan pintu utama gedung menyambut kedatangan Anis siang itu.

"Selamat siang. Saya ingin bertemu dengan pimpinan anda." jawab Anis.

"Maaf nona, apakah anda sudah membuat janji sebelumnya??." kembali tanya petugas keamanan.

"Saya memang belum membuat janji, tapi kedatangan saya ke sini ingin melayangkan protes pada pimpinan anda." Anis yang sudah tidak sabar ingin melayangkan protes lantas melewati pria itu begitu saja, hingga pergerakannya menjadi pusat perhatian dari pengunjung lainnya.

"Jika anda tidak segera mengantarkan saya ke ruangan pimpinan anda maka saya pastikan keributan yang lebih besar dari ini akan saya lakukan di sini." tegas Anis yang hampir kehabisan kesabaran tatkala petugas keamanan terus menghalang halangi langkahnya.

"Baik Nona, mari saya antarkan ke ruangan pimpinan!!." akhirnya pria itu tidak punya pilihan lain selain mengantarkan Anis ke ruangan pimpinan.

Anis mengikuti langkah pria itu menuju ke arah lift.

Kini mereka telah tiba di depan pintu ruangan pimpinan.

Setelah mengetuk pintu terlebih dahulu, pria itu lantas membukakan pintu lalu mempersilahkan Anis untuk segera masuk ke dalam, sebelum kemudian ia kembali ke lantai dasar untuk melanjutkan tugasnya.

Kini pandangan Anis tertuju pada sosok pria yang duduk di kursi kebesarannya, dengan posisi membelakangi Anis.

"Maaf telah mengganggu waktu anda tuan, kedatangan saya ke sini ingin mempertanyakan perihal _." Anis tak menuntaskan kalimatnya ketika pria itu telah membalikkan posisinya menghadap ke arah Anis.

"Anda??." Anis tidak menyangka ternyata pimpinan bank tersebut tak lain adalah tuan Ansenio Wiratama, suami dari mendiang Nyonya Ananda yang meninggal seminggu yang lalu usai melahirkan putri cantiknya.

"Kenapa anda begitu terkejut melihat keberadaan saya, nona Danisha putri??." sebuah seringai terbit di sudut bibir Arsenio Wiratama.

Sesuai dengan rencana Ansenio, kini Anis datang dengan sendirinya di hadapannya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!