“Brak… ” aku membanting pintu dengan kasar. Selalu saja begini, selalu saja seperti ini. Aku lelah, aku ingin marah. Aku ingin membanting semua yang ada di hadapanku. Tetapi aku sama sekali tidak berdaya.
Aku ingin mengumpat dengan apa yang baru saja terjadi di tempat kerjaku hari ini.
Lagi, lagi dan lagi.
Kejadian siang hari di kantin tempat kerja.
“Kakak,…” Mira datang di kantin perusahaan di tempat aku bekerja. Saat itu memang adalah jam istirahat siang. Dan aku sedang makan siang di kantin itu bersama dengan Kekasihku yang jabatannya lebih tinggi dariku di perusahaan itu.
Di tangan Mira ada satu kotak makan. Jujur saja melihat kedatangannya aku sudah merasa tidak enak dalam hatiku. Seperti akan ada sesuatu yang buruk terjadi.
“Ada apa Dek?” Aku berusaha untuk bersifat lembut, walaupun untuk itu aku harus menahan kemarahan yang sampai di ubun-ubun.
“Aku membawakan makan siang untuk kakak, Ibu yang menyuruhku ke sini!” Jawab Mira dengan suara yang lembut. Dia benar-benar seperti seorang adik yang menyayangi kakaknya. Aku berdecih dalam hati. Sandiwara apa lagi yang akan dia mainkan.
Dan apa katanya tadi? Ibu menyuruhnya membawakan ku makan siang? Wow… mimpi apa aku semalam? Sesuatu yang tak pernah terjadi seumur hidupku.
Di rumah saja seringkali aku tak pernah mendapatkan makanan yang sama dengannya. Ibu hanya menyediakan nasi dan jika aku ingin makan makanan dengan lauk yang enak, aku harus membelinya dengan uang yang hasil kerjaku sendiri.
Dan itu sudah berlaku sejak zaman aku masih kecil. Ibu selalu bilang karena aku adalah kakak. Maka aku harus mengalah untuk adik.
“Lihatlah Kak… Ini enak kan? Aku yang membuatnya tadi, dan Ibu menyuruhku mengantarkannya pada Kakak, agar Kakak bisa mencicipinya. Ini hasil karyaku yang terbaik loh Kak!” ucap Mira sambil membuka kotak makan itu di meja di hadapanku. Dan memang jika melihat tampilannya, makanan itu terlihat sangat enak, lezat. Dihias sedemikian rupa terlihat sangat cantik. Walaupun entah rasanya seperti apa. Karena yang aku tahu, sejak dulu Mira tak pernah bisa memasak. Jangankan memasak, dia bahkan tak pernah menginjakkan kakinya di dapur.
Aku berusaha untuk tersenyum dan mencoba menahan kemarahan dalam hatiku. Apalagi ketika dengan tanpa permisi dia sudah duduk di kursi di samping Kekasihku.
“Raya… Apakah dia adikmu?” tanya Riswan kekasihku itu, ketika Mira sudah duduk di sampingnya.
Aku melihat mata Riswan yang menatap penampilan Mira dari atas sampai ke bawah. Mira adikku itu, dia memang sangat cantik, Kulitnya sawo matang. Dia pandai berhias dan juga pakaiannya sangat modis bahkan terbilang agak berani. Sangat berbeda jauh dariku. Orang bilang memang kulitku lebih putih dari Mira. Tapi aku yang tak pernah melakukan perawatan, tentu saja berbeda dengan Mira yang tiap seminggu sekali pergi ke salon kecantikan.
“Oh maaf Kak. Mira benar-benar tidak tahu tadi, jika Kakak sedang bersama dengan kekasih kakak.” ucap Mira sambil menatap ke arah Kekasihku.
“Mira benar-benar minta maaf, karena Mira terlalu fokus dengan Kak Raya tadi. Mira terburu-buru takut kalau Kak Raya sudah lapar, sampai Mira tidak sadar jika ada Kak Riswan di sini. Mira benar-benar minta maaf ya Kak?” ucap Mira dengan nada yang sangat lembut mendayu-dayu sambil menundukkan kepalanya dan terlihat sangat sopan.
Aku tahu sekarang. Apa tujuan Mira ke sini. Dari kesan yang aku lihat, sudah terlihat sangat jelas, bahwa Mira mencoba mencari perhatian dari Kekasihku. Dan malangnya nasibku ternyata kekasihku itu benar-benar tertarik terhadap kehadiran Mira.
“Adikmu betul-betul perhatian Raya, Kau sangat beruntung memiliki adik yang sangat menyayangimu.!” ucap Riswan tanpa tahu kebenaran yang terjadi setiap hari di antara kami. Kebenaran yang sebenarnya sungguh sangat berbeda dengan apa yang ditampilkan Mira saat ini.
Aku mendengus kesal. Selalu saja seperti itu. Mira selalu saja berusaha mengambil apa yang aku miliki, Dia benar-benar tidak akan membiarkan aku memiliki apapun. Dia benar-benar tidak akan membiarkan aku bahagia.
Hanya saja yang aku herankan, saat ini adalah, Bukankah Mira sudah memiliki kekasih? Ya walaupun Arga hanya seorang pengemudi ojek online. Tetapi Arga orang yang sangat tulus. Dia sangat perhatian dan pengertian terhadap Mira, bahkan dia selalu berusaha memberikan apapun yang Mira inginkan, walaupun mungkin itu harus menghabiskan seluruh bayarannya sebagai pengemudi ojek online.
Lalu sekarang apa dia berusaha untuk menggoda mendekati Mas Riswan? Apa kurang baginya satu Arga di matanya? Atau itu memang hanya obsesinya untuk selalu mengambil apa yang sudah aku miliki? Aku menghela nafas kasar. Saat aku melihat seringaian di bibir Mira.
"Terima kasih sudah mengantar makan siang untuk kakak Dek!" ucapku berusaha menahan kekesalan, Ku ulas senyum manis di ujung bibir merahku.
Apapun keadaan kami. Aku tidak ingin Riswan mengetahui bahwa aku tidak akur dengan Mira. Karena aku tidak ingin orang luar mengetahui ketidakharmonisan keluarga kami. "Tapi ini kakak sudah pesan makanan Dek, gimana dong?" aku berpura-pura merasa tidak enak.
Aku benar-benar tidak sudi memakan apapun yang berasal dari tangan Mira. Karena aku tidak ingin kejadian yang pernah terjadi terulang kembali.
Hari itu Mira seolah berbuat sangat baik padaku. Dengan memberikan aku bekal makan siangnya. Dan tanpa curiga sedikitpun aku menerimanya dan memakannya. Tetapi kemudian aku terkena sakit perut dan aku harus bolak-balik ke toilet. Karena ternyata dengan jahilnya dia memberikan obat pencahar di makanan yang diberikannya padaku.
"Gimana kalau adik saja yang makan? Kita makan bertiga di sini. Mau kan?" ucapku berbasa-basi. Yang aku tahu jawabannya pasti adalah 'iya'. Karena memang itulah niatnya untuk menghampiriku di kantor dengan berpura-pura baik. Sebenarnya hanya ingin mengganggu makan siang kami. Agar dia mendapatkan nilai plus di hadapan Kekasihku.
"Yah gimana dong? Padahal aku sudah susah-susah loh buat ini tadi?" Mira berpura-pura cemberut. Aku sudah tahu niat awalnya. Dan kali ini aku tidak akan berusaha untuk mencegahnya. Akan kubiarkan saja apa yang ingin jadi kehendaknya.
"Gimana kalau ini buat Mas Riswan saja.?" ucapku menoleh pada Kekasihku.
Dan tanpa aku sangka ternyata Mas Riswan mengiyakannya.
"Wah beneran ini buat saya? Boleh begitu Mira? Kan kamu buat susah-susah buat kakak kamu?" Mas Riswan menerimanya dengan mata berbinar.
Ada kekecewaan dalam hatiku tapi apa boleh buat, jika memang Mas Riswan tergoda dengan Mira itu artinya dia memang bukan jodohku.
"Beneran boleh Kak?" Tanya Mira. Sepertinya dia butuh kepastian akan jawabanku.
"Tentu saja boleh. Kenapa tidak? Daripada nanti tidak akan tidak ada yang makan, bukan malah jadi mubazir?" jawabku. Kutatap wajah Mira dengan seulas senyum tipis.
Dia sepertinya kecewa dengan tanggapanku, mungkin tadinya dia berpikir bahwa aku akan mengusirnya, atau mungkin dia tadi berpikir bahwa aku akan marah karena dia mencoba mendekati Mas Riswan.
Maaf Mira sudah membuatmu kecewa. Marah karena memperebutkan cowok bukanlah levelku. Karena kalau Mas Riswan memang orang yang tulus mencintaiku, maka dia tidak akan tergoda hanya oleh penampilanmu yang menurutmu berkelas itu.
"Mau coba dulu Mas?" tanya Mira dengan penuh harap, sambil menatap Riswan dengan mata yang berbinar-binar.
Aku menghela napas dalam-dalam. Aku tahu, apa yang akan terjadi selanjutnya. Sepertinya aku harus segera mencari jalan keluar dari situasi ini. Aku tidak ingin terus-terusan terjebak dalam permainan liar Mira. Aku harus segera menemukan cara untuk menghentikan semua ini.
Aku terbangun ketika hari sudah menjelang magrib. Ternyata tanpa aku sadari aku tertidur dalam perasaan kesal. Kesal karena tingkah adikku Mira itu, yang semakin hari semakin keterlaluan. Tapi tak apa, biar saja dia bersenang-senang. Aku tak akan mempermasalahkannya. Justru aku harus terlihat tidak perduli. Karena dengan begitu itu akan membuatnya kesal. Seperti mukanya waktu masih di kantin perusahaan tadi. Aku senang sekali melihat wajah kesalnya, Mira merasa kesal dengan ketidakpedulianku terhadap caranya mendekati Kekasihku.
"Tok tok tok…!" Suara pintu diketuk dari luar. “Raya, ayo makan… ini sudah malam…!" Itu suara Bapakku. Bapak memang yang paling perhatian terhadapku. Walaupun Ibu juga tidak bersikap buruk, tetapi ku akui bahwa kasih sayang Ibu terhadapku dan terhadap Mira jauh sekali berbeda. Ibu selalu saja menekankan bahwa aku harus mengalah pada Mira.
Dulu aku memang selalu mengalah karena dulu aku sangat menyayangi Mira, bahkan kalau boleh jujur sampai hari ini pun, sampai saat ini pun, aku masih tetap menyayangi Mira. Dia adikku satu-satunya, hanya saja karena sifatnya yang berubah semenjak kami sama-sama duduk di bangku SMA, membuatku terkadang merasa kesal padanya. Karena semakin hari sifatnya semakin menyebalkan.
“Iya Pak… sebentar lagi Raya keluar, Raya mau bersih-bersih dulu!” jawabku setelah membuka pintu, dan mendapati Bapak masih berdiri di sana.
“Kamu ketiduran ya???” tanya Bapak.
“Hehehe iya Pak…” jawabku sambil meringis menunjukkan deretan gigi dan juga menggaruk tengkukku yang tidak gatal.
“Maaf ya Pak. Maaf Raya beneran capek hari ini, tadi karena pekerjaan hari ini lebih banyak dari biasanya.” jawabku memberi alasan. Aku takkan mengatakan pada Bapak jika aku merasa capek bukan karena pekerjaanku. Tapi aku sebenarnya aku merasa lelah, dengan tingkah Mak Mira yang selalu saja menggangguku. Aku tidak ingin Bapak merasa tertekan. Aku tidak ingin Bapak juga merasa kesal terhadap adikku itu.
“Kamu itu sudah berapa kali Bapak bilangin? Kalau menjelang magrib itu jangan tidur, anak gadis kok jam segini tidur…!” ucap Bapak sambil mengelus kepala aku.
“Ya sudah, cepat mandi! Setelah itu langsung makan! Habis makan baru istirahat lagi!” lanjut Bapak.
“Iya Pak… Raya mandi dulu ya, habis itu Raya langsung ke sana, Bapak makan duluan saja!” jawabku.
“Tidak… Bapak nunggu kamu saja, cepetan…!” kata Bapak lagi, yang aku balas dengan anggukan kepala dan senyum di bibir, senyum yang manis untuk Bapakku tercinta.
Kemudian Bapak bergegas meninggalkan kamarku. Sepeninggalan nya Bapak dari depan kamarku, aku bergegas mandi. Aku bersihkan tubuhku, kuguyur kepalaku dengan air hangat, agar hilang segala resah dan lelahku. Mulai saat ini aku sudah bertekad aku tak akan membiarkan kepalaku dan hatiku dipenuhi dengan kekesalan hanya karena tingkah Mira. Aku tak membiarkan otakku di kuasai amarah, yang hanya akan membuatnya merasa menang. Aku akan membiarkannya bertingkah seperti apapun, yang penting itu masih bisa ditolerir.
Sehabis mandi aku mengambil pakaianku yang tersimpan di lemari, ku ambil gamis sederhana dan kerudung kecil, yang biasa aku gunakan sehari-hari kalau aku ada di rumah. Tak lupa kuberikan pelembab pada wajahku, hanya itu tanpa memoleskan bedak ataupun lipstik karena aku memang tidak terlalu menyukainya. Sesampai di meja makan, di sana sudah ada Bapak, Ibu dan juga Mira.
“Kak Raya lama banget sih? Aku sudah lapar tahu nunggu dari tadi!” suara Mira menggerutu, aku tarik kursi agak ke belakang lalu aku duduk di hadapan mereka, ku ambil piring lalu ku tuang secentong nasi.
“Maaf Dek, kakak ketiduran tadi…!” ucapku seolah tak pernah terjadi apapun tadi di antara kami.
Mira memicingkan matanya, mungkin bukan jawaban seperti itu yang diharapnya tadi.
“Ayo mulai makan Pak, Bu,!” ucapku sambil mengambilkan lauk untuk kuletakkan di piring Bapak, lalu juga mengambilkannya untuk Ibu.
“Terima kasih Nduk…?!" ucap Bapak.
"Is… Bapak ini, kalau tadi Bapak minta diambilkan lauk, Mira kan juga bisa, kenapa harus nunggu diambilkan sama Kak Raya baru makan…?!" Mira dengan nada protesnya kembali bersuara.
"Sudah, ayo kita makan, tidak boleh menggerutu di depan makanan, tidak berkah, hilang rezekinya,!" ucap Bapak melerai.
“Kalau kamu terlalu lelah Kenapa tidak ambil libur saja Nduk…? Bukankah selama inikan kamu tidak pernah ambil cuti…?!” saran Bapak di sela-sela obrolan kami sambil makan.
"Tidak terlalu lelah juga kok Pak…!" jawabku. Kulihat wajah Mira yang tersenyum-senyum sinis padaku, pasti dia berpikir bahwa aku merasa lelah karena tingkahnya tadi, dan walaupun kalau untuk beberapa saat lalu, itu memang benar, tapi saat ini tidak. Karena mulai saat ini aku memang sudah bertekad untuk melupakan semua tingkah Mira.
“Kakak… di tempat Kakak ada lowongan kerja tidak…?” Mira tiba-tiba saja bertanya dengan nada yang sopan terhadapku. Sungguh itu sesuatu keajaiban. Tidak seperti biasanya dia berbicara itu.
“Kamu mau kerja Dek??” tanya aku sambil menatap ke arahnya.
“Iya Kak… Mira niatnya seperti itu… kan Mira sudah selesai kuliahnya. Tapi Mira maunya pingin bekerja di tempat Kakak, biar Mira bisa dekat dengan Kakak!” jawab Mira yang entah kenapa aku merasakan ada niat terselubung.
“Kalau untuk sekarang sih Kakak tidak tahu Dek, coba nanti Kakak tanyakan pada pihak HRD…” jawabku.
“Kenapa harus tanya?? Kan Kakak bisa saja langsung merekomendasikan nama aku?!” Mira seolah kurang puas dengan apa yang aku ucapkan barusan.
“Ya tidak bisa Dek, Kakak kan di sana hanya karyawan biasa…!” jawabku memberi penjelasan.
“Kalau aku tanya sama Kak Riswan gimana?? Dia kan jadi Manager di sana?? Pasti dia bisa memasukkan aku untuk bekerja di sana?? Kakak minta tolong dong sama Kak Riswan!” Mira tampak sekali bersemangat menyebut nama kekasihku itu.
“Iya, besok Kakak tanyakan!” jawabku agar kami menyudahi pembicaraan itu. Tapi tampaknya bagi Mira pembicaraan ini belum selesai.
“Kalau sekarang saja Kakak tanya bagaimana?? Lewat WA kan bisa? Jadi kalau misalnya sekarang Kak Riswan bisa memberikan rekomendasi, besok aku bisa langsung pergi ke sana. Atau bagaimana kalau aku minta nomornya Kak Riswan saja?” ucap Mira yang sebenarnya tidak terlalu membuatku terkejut.
“Kakak harus minta izin sama Kak Riswan dulu untuk memberikan nomornya padamu Mira, tidak bisa begitu saja langsung Kakak berikan…!” ucapku dengan menahan kesal.
“Kak, aku itu kan adiknya kakak?? Memangnya Kak Riswan akan keberatan jika aku yang menyimpan nomornya…? Ibu lihat itu Kak Raya… aku kan hanya minta nomor untuk meminta pekerjaan Bu…? Bukan ingin yang lain…?!" Mira menggoyang-goyangkan tangan Ibuku pertanda meminta dukungan.
Aku hanya bisa memijat pelipisku, mendapatkan tatapan tajam dari Ibu.
"Raya, kamu itu apa-apaan sih?! " Suara Ibu mulai turun, menginterupsi. "Adikmu itu cuma minta nomornya, untuk minta pekerjaan bukan ingin merebut kekasihmu itu. Kenapa tidak bisa kau berikan saja?!" Ibu memulai omelannya, menyuarakan pembelaan terhadap Maya, tidak perduli apakah itu benar ataukah salah.
"Ya, tidak bisa seperti itu toh, Bu... Tidak seperti itu konsepnya. Membagikan nomor pada orang lain harus ada izin dari pemiliknya. Kalau tidak ada izin dari pemilik, itu namanya lancang, Bu...!" Bapak menengahi.
"Terus saja, Pak! Bela saja terus si Raya itu! Bapak memang lebih memilih menyayangi Raya daripada Mira, Bapak itu pilih kasih! Apa Bapak tidak sadar?!" Ucap Ibu malah membentak Bapak. Rupanya Ibu juga tidak sadar bahwa selama ini dia lah yang lebih pilih kasih, kasih sayangnya antara aku dan Mira.
Bapak memang sangat menyayangiku, tapi Bapak juga menyayangi Mira.
Hanya saja karena terkadang Mira suka berbuat jahil padaku, jadi Bapak sering merasa kesal. Tapi tak pernah sekalipun Bapak membedakan kasih sayang antara aku dan Mira. Apapun yang Bapak berikan padaku, Bapak memberikannya juga pada Mira, yang tentu saja harus sesuai dengan apa yang kami butuhkan, bukan hanya sekedar kami inginkan.
"Sudah, sudah... Tidak usah diributkan lagi. Nanti aku kirimkan nomornya ke WA kamu..." Aku memutuskan untuk menyudahi perdebatan itu. Tidak baik untuk kesehatan Ayahku jika itu terus terjadi. Kulihat seringai tipis di bibirnya, kala kalimat mengalah terucap dari mulutku. Dia terlihat sangat bahagia, ah... Bukan terlihat bahagia, tapi terlihat merasa menang.
"Kamu tidak jadi melamar kerja di tempat yang sama dengan Kakak, Dek...?" Tanyaku. Ini sudah hari ketiga sejak dia meminta nomor Rizwan, tapi aku belum juga melihatnya menampakkan batang hidung di perusahaan tempatku bekerja.
"Tidak, Kak..." Jawabnya singkat.
"Kenapa...?" Tanyaku lagi, dan dia hanya mengangkat bahu saja sebagai jawaban.
"Apa Rizwan mengatakan kalau tidak ada lowongan? Atau memang kamu belum membuat surat lamaran...?" Tanyaku lagi, dan lagi-lagi hanya dijawab dengan anggukan dua bahu.
"Tapi kamu jadi menghubungi Rizwan kan, setelah minta nomor waktu itu...?" Kakak juga tidak mungkin memberi nomor yang salah..." Ucapku. Yang entah kenapa rasanya aku sekarang malas memanggil Rizwan dengan embel-embel Mas. Mungkin karena aku merasa sebentar lagi dia akan menjadi orang asing bagiku.
"Aku sudah menghubungi Kak Rizwan, kok..." Sahutnya cuek.
"Lalu...?" Aku menatapnya dengan penasaran. Tak mungkin rasanya kalau Rizwan bilang tidak ada lowongan kerja di sana. Karena di kantorku itu memang sedang butuh karyawan di bidang marketing, dan itu sangat cocok dengan bidang yang diambil Mira di kampusnya.
"Aku meminta nomor Kak Rizwan bukan untuk mencari pekerjaan..." Jawab Mira akhirnya.
"Lalu...?" Aku berpura-pura penasaran ingin tahu.
"Itu rahasia... Belum waktunya Kak Raya tahu..." Jawabnya seolah menyimpan misteri.
"Ooo..." Aku hanya mengangkat bahu dan mencebik. Seolah tak tahu apapun. Padahal itu sangat mudah kutebak, karena dulu pun dia pernah melakukan hal yang sama saat aku punya seorang teman dekat bernama Agam.
Dia pun melakukan hal yang sama tetapi dengan trik yang berbeda.
Begitu pun waktu ada senior kampus bernama Reno yang mendekatiku, dan awalnya sering menitip pesan pada Mira. Jadi aku sudah hafal dengan sifat adikku itu. Sorry, Mira, trikmu sudah terbaca, kali ini kau tak kan bisa membuatku merasa kalah.
Aku pernah mendengar satu pepatah, mengalahlah sampai tak ada yang bisa mengalahkanmu, tapi kali ini aku justru akan melihatnya merasa kalah.
Aku tak kan membiarkannya merasa menang hanya dengan bisa mengalihkan perhatian Rizwan dariku.
"Selamat pagi, Pak Rizwan..." Sapaku pada Rizwan, pagi itu ketika kami berpapasan dengannya di persimpangan koridor. Jabatannya di kantor ini lebih tinggi dariku, jadi aku harus menghormatinya kan...?
"Eh... Raya...? Apa-apaan sih kamu ini, manggil pakai sebutan Pak segala...?" Dia terlihat canggung berbicara denganku. Padahal aku mah biasa saja.
"Ini kan di lingkungan tempat kerja, Pak..., jadi harus sopan dong...?" Aku memberikan alasan dengan sedikit bergurau. Aku melihat yang berubah jadi entahlah... Aku tak bisa menjabarkannya. Seperti ada perasaan canggung, atau perasaan tak enak padaku.
"Mira, apa kabarnya, Ray...?" Pertanyaan basa-basi dia lontarkan untuk memecah suasana canggung.
"Lhooo... Bukankah Pak Rizwan tiap malam teleponan sama dia ya...?" Kulontarkan pertanyaan yang mungkin baginya bagai bom yang meledak, terbukti dari warna mukanya yang berubah pucat.
"Eh... Atau mungkin berarti itu bukan Pak Rizwan ya... Yang tiap malam teleponan sama Mira... Maaf, salah..." Ucapku memperbaiki suasana. Aku tak tega jika harus membuatnya salah tingkah sekarang, masih belum waktunya.
Manusia yang tidak setia, alias plin-plan hati ini juga harus ikut merasa kalah, tapi tentu saja bukan sekarang.
Entah kenapa sejak Mira berubah jadi sering usil padaku, aku jadi punya kepekaan yang sangat tinggi. Tentang apapun yang terjadi di sekitarku. Bahkan kadang aku merasa bisa membaca isi hati orang yang berhadapan dan berniat buruk padaku.
Terlebih yang kali ini benar-benar tampak nyata. Mira seolah secara terang-terangan ingin menjatuhkanku. Tapi yang kulihat, mental ku lah yang ingin dijatuhkannya.
Beberapa malam ini bahkan aku mendengar Mira bertelepon dengan suara yang keras, dan seperti disengaja agar aku bisa mendengarnya. Dan yang jelas itu pasti bukan dengan Arga. Walaupun hanya sebutan Kak tanpa nama yang kudengar, aku yakin itu adalah Rizwan.
"Kau ingin melihat aku cemburu atau patah hati...? Maaf, kau salah orang..." Batinku.
"Raya, aku harus segera ke tempatku, kamu juga kan...?" Pungkas Rizwan akhirnya. Mungkin dia sedang merasa seperti maling kepergok.
"Tentu saja. Selamat bekerja, Pak!!" Jawabku, lalu menunduk hormat. Dan dia pun segera berlalu. Senyum manis, ah bukan, tapi seringai sinis terukir rapi di sudut bibirku. Tunggu saja tanggal mainnya. Tanggal main yang sesungguhnya bukan aku yang menentukan, tapi kalian, Rizwan dan Mira. Kapanpun kalian bergerak berniat untuk menghancurkan hatiku, di hari itu jugalah yang akan menjadi tanggal kehancuran kalian.
"Ray..." Sentak Mira yang kesal karena panggilannya tak kuhiraukan.
"Apa sih... Bicara saja, aku dengar kok..." Sahutku dengan mata tetap fokus pada komputer canggih di depanku.
"Ish... Kamu ini, bisa tidak sih kerja itu jangan terlalu amat? Agak santai saja kali..." Ucapnya memprotesku.
"No... No... No..." Yang namanya kerja ya harus fokus, karena yang dibutuhkan oleh perusahaan ini adalah keseriusan kita. Perusahaan tidak menggaji karyawan untuk bersantai ala di pantai..." Jawabku logis.
"Iya deh iya... Yang karyawan teladan... Aku sumpahin deh suatu saat kamu jadi Nyonya Boss." Sewotnya karena rencananya untuk mengajak ngerumpi gagal.
"Aamiin..." Ucapku seraya mengusapkan dua telapak tangan di wajah. Membuatnya semakin sewot. Terus, salahku di mana coba?
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!