Aku mempunyai keluarga. Tapi mereka tidak pernah mengagapku. Aku kesepian, seperti tidak ada yang mau menerima kehadiranku.
~Jena~
***
“Ba-Bagaimana mungkin.” Jena menatap benda pipih di tangannya yang menunjukkan garis dua, pertanda dia sedang mengandung. Tangan wanita itu gemetar, secara refleks dia menjatuhkan testpack ke bawah.
Jenna termenung dengan waktu yang sangat lama, tatapan matanya menata testpack yang sudah berada di lantai dengan tatapan nanar. Wajah wanita itu sudah pucat ketika mengetahui dia hamil, karena yang jadi masalah, dia hamil diluar pernikahan dan yang menghamilinya adalah kakak sahabatnya.
“Nona!” Tiba-tiba terdengar suara pelayan yang memanggil Jena, hingga Jena tersadar. Wanita cantik itu pun langsung mengambil testpack yang tadi dia jatuhkan ke lantai, kemudian dia mematahkannya lalu membuangnya ke tempat sampah yang ada di kamar mandi tersebut.
Setelah itu Jenna langsung keluar dari kamar mandi. “Ada apa?" Tanya Jena.
“Nona, Tuan sudah pulang dan meminta anda untuk turun.” Helaan nafas terlihat dari wajah cantik Jena ketika mendengar itu.
“Baiklah terima kasih.” Setelah pelayanan pergi, Jena tidak langsung turun dia mendudukan diri sejenak di sofa, rasanya dia begitu malas untuk makan bersama keluarganya, karena tentu saja dia akan diacuhkan oleh keluarganya.
Setelah cukup lama terdiam, Jena pun langsung bangkit dari duduknya kemudian dia langsung turun untuk bergabung di meja makan.
“Selamat malam,” ucap Jena ketika dia sudah berada di meja makan dan di meja makan itu sudah ada keluarganya.
Catherine yang tidak lain ibu tiri Jena tidak menoleh sedikitpun pada Jena begitupun juga dengan Mario Kakak tirinya yang juga tidak melihat ke arahnya, hingga Jena menggigit bibirnya lalu menoleh ke arah sang ayah.
“Selamat malam, Dad," ucap Jena pada Alan, ayahnya. Hingga Alan mengangguk, Jena pun menarik kursi kemudian bergabung dengan keluarganya.
Acara makan malam dimulai dengan hening, tidak ada yang berbicara. Hingga tiba-tiba Alan menoleh pada putra pertamanya.
“Mario!” Panggil Alan pada Putra pertamanya.
“Ya, Dad.”
“Jangan terlalu banyak berfoya-foya, pikirkan masa depanmu yang akan mewarisi semuanya. Jangan sampai apa yang Daddy wariskan sia-sia di tanganmu," ucap Alan hingga Mario mengangguk.
Hati Jena terasa remuk ketika mendengar ucapan Alan, apalagi ketika ayahnya hanya berbicara pada kakaknya dan tidak berbicara padanya, kehadiran Jena di rumah ini seperti tidak terlihat bahkan oleh ayah kandungnya sendiri.
Ada alasan kenapa Jena di perlakukan seperti ini. Dulu, Alan yang tak lain Ayah Jena berselingkuh dengan pelayan yang bekerja di rumah mereka, hingga pelayan itu melahirkan Jena. Namun, ketika Jena kecil ibu Jena meninggal hingga Alan terpaksa mengakui perbuatannya yang sudah berselingkuh dengan pelayan, agar Cathrine mau menerima Jena.
Itu sebabnya sampai saat ini, Catherine dan juga Mario tidak menyukai jena. Alan memang bertanggung jawab atas Jena setelah selingkuhannya atau yang juga ibu Jena meninggal. Tapi sepertinya, Allan tidak benar-benar menyayangi Jena, dia hanya memberikan kemewahan pada Zena tanpa memberikan perhatian, bahkan dia tidak pernah membela Jena ketika Jena menjadi bulan Bulanan istri dan anak pertamanya.
Alan tidak pernah marah pada Cathrine atau Mario jika mereka memperlakukan Jena dengan buruk.
Sedari kecil, setelah ibunya meninggal dan dia tinggal di rumah ini, hari-hari Jena diasuh oleh pengasuh, bahkan Ayah kandungnya sendiri pun sangat jarang sekali mengajak Jena berbicara, bukan hanya saat ini, dari kecil pun Alan tidak pernah memperhatikan Jena yang diperhatikan hanyalah Mario, terlebih lagi mungkin Mario adalah anak lelaki yang Alan pikir bisa menjadi penerusnya.
Bukan hanya keluarga intinya saja yang membenci Jena, semua keluarga ayah dan ibu tirinya pun membenci Jena, hingga terkadang jika ada acara keluarga, Jena sama sekali tidak pernah dilibatkan, bahkan tidak pernah diundang. Alan juga sama sekali tidak pernah memperhatikan hal itu, dia benar-benar acuh pada Jena.
Selama bertahun-tahun, Jena tidak mempunyai teman karena dia terlalu sulit untuk bergaul hingga pada akhirnya dia bertemu dengan Gueen, wanita yang mempunyai nasib yang sama namun nasib Gueen telah berubah berbeda dengannya. Dan naasnya, sekarang dia sedang mengandung anak dari Joseph yang tak lain adalah Kaka Gueen. Dan dia tidak tau, Joseph mau bertanggung jawab atau tidak.
Akhirnya acara makan pun selesai, Mario terlebih dahulu bangkit dari kursi meninggalkan area meja makan disusul Catherine, hingga kini di meja makan itu hanya ada Jena dan juga Alan saja , karena Alan belum menyelesaikan acara makannya.
Dan ketika Kakak dan ibunya sudah tidak ada, Jena mulai memberanikan diri berbicara pada ayahnya. “Dad!" Panggil Jena, hingga Alan menoleh sekilas kemudian fokus pada makanannya.
“Why?"
“Apa Daddy punya waktu senggang besok?” tanya Jena dengan suara bergetar, dia ragu untuk bertanya tapi ketika mengetahui hamil Jena beranikan diri untuk bertanya karena tiba-tiba dia ingin makan siang dengan ayahnya.
“Kenapa memangnya?” tanya Alan, tidak ada raut penasaran ataupun raut ingin tahu kenapa Jena bertanya.
“Boleh aku minta waktu Daddy satu jam saja. Aku ingin makan siang bersama Daddy. Anggap saja itu sebagai permintaan ulang tahunku," ucap Jena, satu minggu lalu adalah hari ulang tahun Jenna dan seperti biasa, tidak ada yang mengingat ulang tahunnya, berbeda dengan Mario yang selalu dirayakan dengan meriah dan untuk ulang tahun kali ini saja dia ingin makan siang bersama ayahnya.
“Jadwal Daddy padat," jawab Alan, mata Jena membasah ketika mendengar jawaban ayahnya. dia sudah menduga ayahnya akan menjawab seperti ini, dan dia sudah menyiapkan hatinya untuk menerima jawaban sang ayah. Tapi tetap saja dia terasa nyeri ketika ayahnya menolak keinginannya. Padahal dia hanya meminta waktu 1 jam saja.
“ Oh baiklah," jawab Jena. Setelah mengatakan itu, Jena bangkitnya di duduknya.
“Selamat malam, Dad.” wanita cantik itu pun langsung berbalik dan pergi meninggalkan ruang makan, sedangkan Alan sepertinya sama sekali tidak peduli dengan apapun yang dirasakan oleh Putri bungsunya.
Jena masuk ke dalam kamar, kemudian dia melihat di sekitarnya. Kamar ini tampak mewah dan megah, mungkin sekilas orang lain akan iri padanya karena dia terlahir dari keluarga yang kaya raya, tapi jika boleh memilih Jena tidak ingin ini hidup seperti ini, Dia hanya ingin hidup dengan keluarga yang hangat yang menganggapnya ada, walaupun itu tidak mungkin.
Dan tak lama Jena melihat ke arah perutnya.
“Nak, Mommy idak akan pernah membiarkan hidupmu seperti Mommy," lirih Jena, dia tidak tahu bagaimana reaksi Joseph ketika dia mengaku hamil, dia berharap Joseph mau tanggung jawab atas kehamilannya.
tinggalin komen yang banyak gengs
Jena terus melihat ke arah pintu, berharap Joseph segera datang. Ya, saat ini Jena sedang berada di sebuah cafe untuk bertemu dengan Josep, karena dia ingin mengatakan bahwa dia sedang mengandung, berharap Josep mau bertanggung jawab.
Karena jika Joseph tidak mau bertanggung jawab jawab, Jena bingung harus bagaimana. jika keluarganya tahu bisa saja keluarganya akan murka, dia tidak melakukan kesalahan saja keluarganya memperlakukannya dengan buruk. Lalu, bagaimana jika dia jelas-jelas mempunyai kesalahan yang akan membuat keluarganya malu.
Beberapa saat kemudian
Akhirnya muncul sosok Josep masuk ke dalam dalam Cafe, membuat Jena menghela nafas lega. Tapi tak lama, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat ketika raut wajah Joseph yang dingin.
Awalnya hubungan Jena dan Josep baik-baik saja, mereka begitu akrab. Namun, setelah kejadian mereka tidur bersama, Joseph tiba-tiba berubah, tidak mau menyapanya lagi bahkan tidak mau menatapnya lagi dan sekarang Jena ragu Joseph mau bertanggung jawab.
“ kenapa kau ingin bertemu dengan kakak?” tanya Joseph ketika sudah mendudukkan diri di sebrang Jena. Jari-jari Jena saling bertautan di bawah meja, wanita itu bingung harus mulai dari mana hingga pada akhirnya Jena memberanikan diri untuk membuka tasnya, kemudian menyerahkan hasil pemeriksaan kehamilannya karena sebelum dia pergi cafe dia sudah memeriksakan dirinya ke rumah sakit.
Joseph mengambil kertas itu kemudian membacanya dengan seksama. “Kau hamil?” Joseph menatap jeena dengan tatapan tak percaya, tiba-tiba wajah lelaki itu langsung memucat.
“I-ia, kak aku hamil,” ucap Jena, membuat Joseph mengusap wajah kasar, dia berusaha mengatur nafasnya. Padahal saat ini dia ingin mengamuk.
“Kau yakin itu anakku? bisa saja kau melakukannya dengan lelaki lain?” Joseph malah mengatakan hal seperti itu, tentu saja itu membuat Hati Jena terasa remuk.
Dan dengan cepat Jena menggeleng. “Tidak, aku hanya melakukannya dengan kakak. Walaupun saat kita mabuk, aku yakin, kakak masih bisa mengingat bahwa saat itu aku masih suci.”
Joseph memejamkan matanya menahan geram ketika mendengar apa yang diucapkan oleh Jena, karena dia memang mengingat, bahwa saar itu Jena masih suci.
“Gugurkan anak itu.” Akhirnya kata-kata itu keluar dari mulut Joseph, membuat tubuh Jena dia mematung
“Kak-kakak.” Jena menatap lelaki di depannya dengan tatapan tak percaya, bagaimana mungkin Joseph akan mengatakan hal seperti itu.
“Dengar Jena, kau masih muda banyak sekali hal yang ingin kau capai bukan, dan kau harus tahu bahwa sebentar lagi aku akan menikah dengan Kayra." Kata-kata itu begitu enteng keluar dari mulut Joseph
Belum cukup rasa keterkejutan Jena ketika mendengar Josep menyuruh dia untuk menggugurkan kandungannya, dia dibuat terkejut lagi ketika mendengar bahwa Joseph akan menikah dengan Kayra, yang tak lain Kakak sepupunya, karena Ibu Kayra adalah Kakak dari ayahnya.
“Ja-jadi, maksud kakak.”
“Hmm, kami akan menikah sebentar lagi. Jadi tolong gugurkan anak itu.” Mata Jena membasah ketika mendengar itu, selain rasa sakit yang dialaminya karena Joseph menyuruh dia untuk menggugurkan kandungannya, dia juga merasa sakit ketika mengetahui bahwa Joseph akan menikah dengan Kayra, tentu saja semua keluarga sudah tahu, dan seperti biasa, hanya dia saja yang tidak diberitahu.
“Dengar Jena, cepat gugurkan anak itu, apalagi usia kandunganmu masih sangat muda. Kakak tidak mau rencana pernikahan kakak dengan Kayra batal, kau mengerti, kan maksudku kakak?”
Jena mengepalkan tangannya, dia menguatkan dirinya kemudian tersenyum. “ “Baik, Kak. Aku kan menggugurkan kandunganku,” balas Jena, tentu saja dia berbohong.
Selama ini dia tidak mempunyai siapa pun di bumi ini, keluarganya tidak pernah menganggapnya, dan ketika dia mengandung dia bertekad untuk membesarkan anaknya seorang diri, karena sekarang hanya anaknya yang dia punya.
Helaan nafas terlihat dari wajah tampan Joseph. “Baguslah jika kau berpikir seperti itu, dan ingat jangan memberitahu Gueen tentang ini, lakukan aborsi secara diam-diam.” Josep bangkit dari duduknya dan tanpa perasaan, lelaki itu langung pergi begitu saja meninggalkan Jena yang sekarang sedang merasakan rasa hancur yang luar biasa.
Setelah Joseph pergi, Jena mengelus perutnya, dan jangan di tanyakan sehancur apa Jena saat ini, yang pasti dia benar-benar hancur.
Beberapa saat berlalu Jena keluar dari Cafe Dia memutuskan untuk pulang ke apartemennya. Ketika berada di Lampu merah, Jena menyadarkan tubuhnya ke belakang hingga tanpa sengaja tatapan matanya menatap ke arah seberang.
“Setidak berhargakah aku di mata kalian,” lirih Jena, rupanya saat ini Jena sedang melihat ke arah sebarang, di mana keluarganya keluar dari mobil dan masuk ke dalam sebuah restoran, dan sepertinya keluarganya berniat makan siang bersama. Padahal, semalam Jena meminta ayahnya untuk makan siang bersama. Tapi, ayahnya menolakd dan sekarang ayahnya makan bersama ibu dan kakak tirinya.
Jena tersadar ketika suara klakson dari mobil belakang berbunyi, hingga wanita cantik itu pun langsung memajukan mobilnya, wanita itu menyetir mobil sambil menangis sesegukan.
Pada akhirnya, ketakutannya Jena terjadi. Padahal, tadi dia sudah menyiapkan dirinya jika Josep tidak mau bertanggung jawab, Tapi tetap saja ketika menghadapi kenyataan secara langsung dia juga merasa sakit.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Jana sampai di basement apartemennya. Wanita cantik itu pun langsung turun, kemudian berjalan dengan lesu.
Walaupun Joseph tidak mau bertanggung jawab, tapi Jena tidak akan terlalu kesulitan dengan, artian kata, keluarganya tidak akan tahu dia hamil tidak akan tahu dia memiliki anak, tentu saja karena keluarganya tidak peduli padanya..
***
“Kakak dari mana?” tanya Gueen ketika Josep masuk ke dalam rumah
Joseph yang berjalan sambil melamun langsung menoleh, dia memegang jantungnya karena Gueen bertanya dengan tiba-tiba.
“Oh, kakak baru saja dari luar."
“Ia, aku tau kakak dari luar, tapi dari mana?” tanya Gueen lagi.
Joseph mencubit hidung Gueen. “Kau ini kepo sekali.” Setelah mengatakan itu, Joseph pun langsung berjalan meninggalkan Gueen
Josep masuk ke dalam kamar, kemudian mendudukkan dirinya di sofa, lelaki itu mengadahkan kepalanya.
“Ya, Tuhan Bagaimana mungkin aku menghamilinya," Lirih Joseph. Dia tau asal usul Gueen dan silsilah kelahiran wanita itu dan dia tidak bisa membayangkan bagaimana bagaimana jika Gueen tidak menggurkan kandunganya, karena Joseph berpikir dia tidak mau mempunyai anak dari wanita tidak jelas seperti Gueen.
3 bulan kemudian
Tidak Terasa Ini sudah 3 bulan berlalu semenjak Joseph menyuruh Jena untuk menggugurkan kandungannya, dan selama 3 bulan ini pula Jena Hanya berdiam diri di apartemen, beberapa kali Gueen mengajak Jena untuk keluar, tapi Jena selalu menolak dengan alasan sibuk.
Dan benar saja dugaan Jena, tidak ada yang mencarinya. Ayahnya sama sekali tidak bertanya kabarnya. Padahal sudah 3 bulan ini Jena tidak pulang ke rumah dan sekarang Jena sedang berada di rumah sakit untuk kontrol bulanan.
Jena yang sedang duduk di kursi tunggu tersenyum getir ketika melihat ibu hamil yang sedang mengantri dengannya, di mana mereka didampingi oleh para suami, sedangkan Jena hanya seorang diri.
Tak lama lamunan Jena buyar ketika namanya dipanggil, hingga dia pun langsung masuk ke dalam ruangan dokter.
Tinggalin komen yang banyak ya gengs besok udh mulai up rutin
Dunia Jena menggelap, rasanya semuanya hancur berkeping-keping ketika dia keluar dari ruangan dokter, bagaimana tidak baru saja dia mengetahui hal yang sangat menyakitkan, di mana dokter mengatakan bahwa anak yang sedang dia kandung ada kemungkinan mengidap down syndrome.
Barusan Jena menggunakan pemeriksaan dengan beberapa metode untuk meyakinkan asumsi dokter dan ternyata dokter menduga bahwa anak yang dikandung Jena mengidap kelainan
“Tuhan cobaan apalagi ini.” Jena bergumam pelan. Wanita cantik itu memegang pinggiran dinding, karena dia sudah tidak sanggup lagi untuk melangkahkan kakinya.
Dan tak lama, Jena langsung mendudukkan diri di kursi tunggu. Setelah duduk, Jena Menunduk Karena dia sudah tidak bisa menahan tangis, bukan dia tidak menerima takdir anaknya, bukan dia menyalahkan Tuhan atas takdir yang menimpanya. Hanya saja, dia memikirkan bagaimana nasib anak ini nanti.
Cobaan Jena begitu bertubi-tubi, dari mulai Josep yang tidak mau mengakui anaknya, menyuruhnya untuk menggugurkan kandungan dan juga sekarang dia harus di dera rasa sakit ketika calon anaknya mengidap kelainan.
Tadi, sebenarnya dokter sudah menyarankan Jena, untuk menggugurkan kandungan. Tapi, Jena dengan tegas menolak.
Tidak, bagaimanapun keadaan anaknya, bagaimanapun kondisi kandungannya dia akan tetap mempertahankan anaknya sampai akhir. Di dunia ini, Jena hanya seorang diri, dia tidak mempunyai siapapun dan hanya anaknya yang dia punya.
Beberapa saat beralalu.
Jena menegakkan tubuhnya, “Tidak Jena, kau tidak boleh menyesali apapun yang terjadi, Kau tidak boleh menyesal telah mengandung anak ini." Jena menguatkan dirinya sendiri, walaupun dia sendiri cukup rapuh. Hingga pada akhirnya Jena pun bangkit dari duduknya.
Seperti pada awalnya, Jena yakin tidak ada yang tahu kehamilannya dan dia yakin, keluarganya juga tidak akan perdul.
Setelah berada di luar Rumah Sakit, Jena langsung berjalan ke arah mobilnya. Dia memutuskan untuk langsung pulang, rasanya dia ingin beristirahat menenangkan dirinya agar bisa fokus menjalani kehidupan yang akan datang ke depannya.
***
Alan keluar dari mobil, saat ini dia baru saja sampai ke rumahnya. Saat masuk kedalam rumah, Alan melihat ke arah ruang tamu, di mana Chatrine sedang duduk di sana.
Ini sudah 18 tahun berlalu semenjak dia mengakui bahwa dia berselingkuh dengan ibu Jena, dan selama 18 tahun ini, hubungannya dan Cathrine memburuk.
Saat itu Alan begitu khilaf karena Ibu Jena begitu mirip dengan mantannya, dan awalnya Chatrine juga tidak sedingin ini, Chatrine adalah wanita yang baik hati.
Namun Alan yang membuat wanita itu berubah, itu sebabnya selama ini dia tidak pernah melarang Chatrine atau Mario bersikap buruk pada Jena, karena Alan tahu bahwa Catherine sedang melampiaskan amarahnya.
Saat itu pun, sebenarnya ketika ibu Jena mengandung, Allan tidak ingin bertanggung jawab pada Jena dan dia juga menyuruh selingkuhannya untuk menggugurkan kandungannya.
Namun Sonia yang tak lain Ibu Jena tidak mau menggugurkan kandungannya, hingga memilih pergi dan Alan pun memutuskan untuk bertaubat dan kembali pada Cathrine.
Dan ketika Jena kecil, nenek Jena mengantarkan Jena ke padanya, karena Ibu Jena meninggal. Hingga kini, bisa di katakan nasib Jena dan ibunya sama. Dan ketika Jena datang, Alan juga malah membenci darah dagingnya sendiri karena sejak kedatangan Jena semuanya jadi memburuk.
Dan sudah ratusan kali Alan mencoba memperbaiki hubungannya dengan istrinya, tapi tidak bisa. Chatrine membangun pembatas nyata dengannya. Mungkin bisa di bilang, Cathrine bertahan hanya demi Mario.
Alan langsung melanjutkan langkahnya, berniat untuk langsung pergi ke kamar. Namun tak lama, langkahnya terhenti ketika Chatrine memanggilnya.
“Aku ingin berbicara sesuatu denganmu,” ucap Catherine hingga Alan pun langsung berjalan ke arah istrinya.
“kenapa? Apa ada yang penting?" Tanya Alan, Karena jarang sekali Catherine mengajaknya berbicara terlebih dahulu, dan dia yakin saat ini pasti ada yang penting
Catherine membuka amplop di yang ada di pangkuannya kemudian memberikannya pada Alan. "Ini kelakuan putrimu," ucap Chatrine seraya memberikan foto itu pada Alan.
Alan mengerutkan keningnya kemudian dia mengambil foto-foto tersebut, di mana foto itu menunjukkan Jena baru saja keluar dari ruangan dokter kandungan.
"Apa maksudnya?" tanya Alan yang masih bingung dengan arah percakapan Cathrine
"Anakmu sedang hamil," ucap Chatrine lagi di penuhi dengan kesinisisan. Mata Alan membulat saat mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya.
"Kau tahu dari mana?" tanya Alan. Walaupun dia tidak menyayangi Jena tapi jika mendengar Jena hamil diluar nikah, tentu saja itu menjadi aib dan Alan tidak terima.
"Tidak perlu tau, aku tahu dari mana, yang pasti anakmu sudah mengandung," kata Catherine, wanita itu pun bangkit dari duduknya kemudian dia langsung menatap ke arah Alan.
"Sekarang aku percaya, buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. Dia dan ibunya sangat menjijikan," ucap Catherine, raut wajahnya menatap Alan dengan benci.
Setelah mengatakan itu, Catherine pun langsung meninggalkan Alan yang sedang termenung, lelaki paruh baya itu mengusap wajah kasar.
"Sial," umpatnya. Tak lama, Alan merogoh ponselnya kemudian lelaki itu menelepon putrinya dan bisa dibilang, untuk pertama kalinya mungkin Alan menelpon Jena.
"Cepat datang kemari!" teriak Alan. Setelah mengatakan itu, dia langsung membanting ponselnya karena begitu emosi. Dia menyandarkan tubuhnya ke belakang.
"Sonia, kenapa anakmu sepertimu?" lirihnya, dia benar-benar egois menyalahkan Sonia dan menyalahkan putrinya.
***
Jena menegakkan tubuhnya, dia melihat ponselnya di mana barusan ayahnya meneleponnya. Dia antara percaya dan tidak, sebab untuk pertama kalinya ayahnya meneleponnya, menyuruh dia untuk pulang dan yang lebih membuat dia bingung adalah Alan berteriak padanya.
Karena bingung, Jena pun memutuskan untuk langsung pergi ke rumah ayahnya karena wanita itu masih berpikir bahwa ayahnya tidak mungkin tahu dia sedang mengandung.
Setelah persiapan, akhirnya Jena pun langsung berjalan keluar dari apartemen mewahnya, wanita itu langsung berjalan ke basement untuk pergi ke mobilnya, dan sekarang di sinilah Jena berada, di rumah orang tuanya.
Ketika mobil Jena sudah terparkir pekarangan, Jena langsung turun dari mobil. Saat akan masuk ke dalam rumah, Jena sedikit ragu. Entah kenapa jantungnya berpacu dengan cepat. Dia merasa akan ada hal besar yang terjadi.
Jena menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, dia meyakinkan bahwa tidak akan ada yang terjadi hingga wanita ini pun langsung masuk dan ternyata, ayahnya masih berada di ruang tamu.
Jantung Jena berdetak dua kali lebih cepat ketika melihat ayahnya yang terlihat sedang melamun, perasaannya mendadak semakin tidak karuan.
“Da-Dad!” Panggil Jena dengan terbata.
Dan tak lama, Jena munduk ketika ayahnya bangkit dari duduknya dan berjalan ke arahnya dengan wajah yang terlihat sangat marah.
Plak
Terdengar suara tamparan yang sangat nyaring, rupanya barusan Alan menampar Jena dengan kencang.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!