Dunia ini sudah kacau.
Banyak peperangan terjadi demi memperebutkan kekuasaan.
"Yang kuat hidup di atas yang lemah."
Entah sejak kapan slogan itu muncul dan digunakan dalam dunia ini.
Tentunya itu berarti banyak hal.
Kekuatanlah yang menentukan kadar kualitas kehidupan.
Kau kuat maka kau jaya,
Kau lemah maka binasa.
Saat ini negara barat dan selatan sedang berperang, memperebutkan wilayah.
Hampir seluruh orang dewasa diwajibkan berperang, bahkan tidak sedikit anak-anak yang diikutsertakan dalam peperangan tersebut.
Sungguh kejam.
Seluruh penduduk negara diwajibkan untuk mengikuti latihan militer, seluruh fasilitas pun diberikan untuk menopang kegiatan tersebut.
Terkadang mereka merasa aman karena terlalu sering dimanja oleh fasilitas yang negara berikan, sampai-sampai mereka lupa bahwa kematian sedang menunggu mereka.
Mereka hanyalah boneka bagi negara dalam sebuah proses perebutan kekuasaan.
Fakta tentang perang tersebut terkadang dirahasiakan dari anak-anak yang sedang dilatih dalam sekolah khusus. Diiming-imingi mendapatkan pekerjaan setelah lulus, membuat mereka semangat dalam melatih kemampuan mereka
Negaraku ini telah melewati masa-masa perang. Entah kapan perang itu akan terjadi kembali.
Atau mungkin sekarang pemerintah sedang kembali bersiap?
Aku tidak tau.
Tetapi aku yakin, perang akan terjadi tidak lama lagi.
.
.
.
Hari ini adalah hari pertamaku di sekolah menengah atas (SMA) di sekolah khusus unggulan.
Nama sekolahnya "Macht Ist Alles", yang berarti "kekuatan adalah segalanya"
Sesuai namanya, maksud khusus di sini adalah seluruh muridnya, laki-laki ataupun perempuan akan dilatih baik secara mental, fisik, dan sihir.
Mereka juga diberikan berbagai macam latihan untuk membantu meningkatkan kemampuan mereka.
Dan setelah lulus dari sekolah ini, pekerjaan
sudah ditentukan tergantung kemampuan masing-masing.
Maka memang bisa dibilang sekolah unggulan karena sudah bisa memastikan pekerjaan untuk setiap individunya di masa depan nanti.
Sesungguhnya banyak sekolah yang sistemnya seperti ini, namun sekolahku adalah yang paling favorit.
Jadi bagaimana orang sepertiku bisa masuk sekolah unggulan seperti ini? Jawabannya adalah karena keluargaku.
Keluargaku adalah keluarga terhormat, para pendahulunya pun menjadi para petinggi pemerintahan, sehingga terus menghantui mereka.
Sama halnya dengan kedua orang tuaku, mereka adalah orang pemerintahan yang sangat sibuk hingga akhirnya menelantarkan anak mereka.
Tidak adanya kasih sayang di dalam keluarga ini bukanlah suatu kejanggalan, ketidakpedulian orangtuaku juga bukan suatu keanehan.
Aku adalah pemalas.
Berbeda dengan adik perempuanku yang tumbuh menjadi sesosok gadis cantik yang sangat tegar, bijak, baik hati, juga sangat menyayangi kakaknya, aku tumbuh menjadi sosok yang selalu diremehkan.
Namaku Aray Kenzie.
Aku adalah anak pertama keluarga Kenzie. Umur 16th, dengan rambut berwarna hitam pekat lurus, tinggi badan 170cm, berat badan 62kg.
Sebenarnya aku ini tampan, namun karena sifatku itu, aku tidak disukai banyak orang.
Ya biarlah ....
Karena aku membenci sesuatu yang merepotkan seperti berinteraksi dengan makhluk lain, jadi tidak masalah.
Namun, bukan berarti aku ini anti sosial atau apapun itu, aku hanya tidak suka sesuatu yang menggangu kedamaian hidupku.
Motoku adalah "Jangan lakukan apapun. Apabila harus, lakukanlah secepatnya."
Tetapi aku berbeda 180° dengan adik perempuanku.
Namanya Alicia Kenzie.
Dia adalah perempuan cantik dan imut. Umurnya 16th, tinggi 165cm, berat? hm ...
Tidak sopan bila memberitahukan sesuatu yang bersifat privasi dan sensitif bagi perempuan.
Aku pernah menyinggungnya sedikit tentang hal tersebut dan dia marah, tidak mau membuatkan makan malam untukku.
Bahkan hanya dengan perawakannya saja, dia disukai oleh banyak orang. Jadi tidak heran jika banyak yang menyatakan cinta padanya saat pertama bertemu.
Oiya, kami berdua tinggal serumah berdua tanpa orang tua kami karena mereka sibuk.
Huh ... merepotkan bukan menjadi orang terkenal?
Membayangkan menjadi dirinya saja sudah membuatku mual.
Dan jika kau bertanya apa yang aku benci,
aku benci manusia di dunia ini.
Mereka sangat egois juga sangat munafik. Saat miskin mereka meminta, saat kaya mereka menyiksa.
Yang lemah dijajah, yang kuat dipuja. Kesetaraan telah lama dipermainkan oleh kotornya hati para manusia sehingga kemanusiaan itu sendiri hilang entah ke mana.
Ketika awal memimpin mereka berkata dengan mudah akan sejahtera nya kita semua, tetapi diiming-imingi sedikit harta, mereka jatuh tak berdaya.
Tak dapat dipungkiri mereka hidup di dunia ini dengan "Ada apanya" bukan "Apa adanya"
Selalu meneriakkan keadilan tanpa tahu di dalam dirinya telah penuh akan dosa yang tak terhitung jumlahnya.
Konsep suatu kesedihan bukanlah seperti mereka yang telah gugur di peperangan dan bersedih akan nyawa yang telah menghilang, tetapi lebih menderita akan jatuhnya kekuasaan.
Padahal para prajurit hidup demi sang penguasa. Mereka tidur di malam hari tanpa tahu esoknya akan mati, tetapi saat mereka mati dan rekannya bersedih, sang penguasa akan berkata,
"Cukup kita sudahi."
Sungguh ironi.
Kita semua hidup dalam sebuah sirkulasi tanpa henti, bergantung satu sama lain, karena seperti itulah hakikat manusia itu sendiri.
Namun, sekali lagi para manusia bejat itu tak tahu diri. Hidup bagaikan benalu tanpa mereka sadari. Entah sampai kapan hal ini harus terjadi.
Walau diriku tak sehebat sosok legenda yang dapat mengubah semua ini seorang diri,
aku harap dunia dapat diperbaiki suatu hari nanti.
"Kak Aray! Cepatlah! Kita bisa terlambat!" Teriakan Alicia memecah keheningan pagi di halaman depan rumahnya. Wajahnya tampak tegang, penuh urgensi, sementara matanya menatap tajam ke arah pintu rumah.
Aray, yang masih santai mengenakan sepatunya, hanya menoleh sedikit dan menjawab dengan tenang, "Tenang saja, tidak perlu terburu-buru." Dia melanjutkan aktivitasnya tanpa rasa khawatir sedikit pun.
Alicia bergegas mendekat, langkahnya cepat. "Bagaimana bisa santai? Ini hari pertama kita masuk SMA! Kalau terlambat, itu akan jadi kesan pertama yang buruk!" Nada suaranya meninggi, jelas mencerminkan rasa paniknya.
Aray menatap adiknya dengan tatapan setengah mengejek. "Kau terlalu kaku. Kalau terus-terusan mengikuti aturan sekolah sepanjang hidupmu, kau akan kelelahan." Meski ucapannya ringan, ada sindiran halus di dalamnya yang langsung membuat wajah Alicia memerah.
"Kau lambat sekali! Seperti anak kecil yang baru belajar cara memakai sepatu," keluh Alicia sambil menarik lengan Aray, mencoba membuatnya berdiri lebih cepat.
Aray, dengan tenang, menyentil kening adiknya. "Tali sepatuku belum terikat," katanya sambil memberikan isyarat ke bawah. Alicia mendesah, menyadari kesalahannya, dan segera berjongkok untuk mengikatkan tali sepatu kakaknya dengan cepat.
"Sudah?" tanya Aray, menunduk untuk memeriksa hasil pekerjaan Alicia.
"Sudah. Ayo, cepat jalan!" Alicia berdiri tegak, mencoba menyembunyikan rasa cemasnya. Meskipun terlambat adalah hal yang sederhana bagi Aray, bagi Alicia, hari pertama di SMA adalah momen penting yang tidak boleh diabaikan.
Mereka mulai berjalan menyusuri jalanan kecil yang membelah perumahan. Rumah-rumah besar berjajar di sepanjang jalan, menandakan bahwa pemiliknya bukan orang sembarangan. Alicia tak begitu peduli, tapi Aray diam-diam memandang setiap rumah dengan sedikit rasa heran, bertanya-tanya bagaimana pemiliknya bisa begitu kaya.
Setelah beberapa saat, Alicia memecah keheningan. "Kak, menurutmu... kita akan ditempatkan di kelas yang sama?"
Aray hanya menoleh sekilas. "Aku tidak tahu. Kalau kau sangat ingin sekelas denganku, berdoalah." Jawabannya singkat, tanpa ekspresi.
Alicia mengangguk, meski raut wajahnya masih tampak ragu. "Aku hanya khawatir kita akan terpisah." Biasanya, Alicia bukan tipe orang yang terlalu khawatir. Namun, kali ini ada sesuatu yang membuatnya tampak lebih manja daripada biasanya.
"Jangan khawatir, kau pasti akan punya banyak teman," jawab Aray santai.
"Aku tahu," gumam Alicia, suaranya pelan. "Tapi, aku khawatir denganmu. Bukankah sudah saatnya kau mulai bergaul dengan orang lain? Sekarang kita sudah SMA."
Aray tersenyum miris mendengar kekhawatiran adiknya. "Bergaul dengan orang lain?" tanyanya retoris. "Semakin banyak teman, semakin banyak hal yang harus kau jaga. Itu hanya akan merepotkan." Dia kemudian memasukkan tangannya ke dalam saku, menghindari tatapan Alicia.
Alicia berhenti sejenak, menatap kakaknya dengan kesal. "Baiklah. Aku tidak akan memaksamu lagi," katanya, lalu mempercepat langkah, meninggalkan Aray beberapa langkah di belakang.
Aray menatap punggung adiknya yang bergerak cepat. Meskipun Alicia terlihat kesal, Aray tahu dia melakukannya karena peduli. Benar-benar adik yang perhatian, pikirnya.
Ketika mereka tiba di sekolah, bel tanda masuk sudah berbunyi beberapa menit yang lalu. Alicia menatap Aray tajam. "Lihat? Karena kau terlalu santai, kita terlambat di hari pertama!"
Aray hanya mengangkat bahu. "Mungkin kita cuma terlambat sebentar. Coba saja kita masuk." Tanpa merasa bersalah, Aray berjalan santai menuju gerbang sekolah. Alicia, meski ragu, akhirnya mengikuti langkah kakaknya.
Namun, seorang penjaga gerbang sudah berdiri tegap di sana, menghentikan langkah mereka. "Kalian tidak boleh masuk. Aturan tetap aturan," katanya tegas.
Alicia, dengan wajah penuh harap, mencoba memohon. "Kami hanya terlambat sedikit. Tidak bisakah Anda membuat pengecualian?"
Penjaga itu tidak bergeming. "Sekalipun anak bangsawan terlambat, aku tidak akan membiarkannya masuk," katanya sambil memandang mereka berdua dengan tatapan tajam.
Aray mendengus, tak percaya dengan apa yang didengarnya. "Omong kosong," ucapnya tanpa berpikir.
Penjaga gerbang itu langsung tersinggung. "Apa katamu?" tanyanya dengan nada marah. Namun, sebelum dia bisa melanjutkan, Aray menatap matanya dengan tajam, fokus pada pikirannya sendiri.
Sihir telepati yang dimiliki Aray tidak dimiliki oleh banyak orang. Kemampuannya untuk memanipulasi ingatan orang lain adalah sesuatu yang jarang ditemukan. Dalam sekejap, gelombang sihir tak terlihat keluar dari pikirannya, menembus otak penjaga gerbang, mengutak-atik beberapa ingatan, dan menggantinya dalam hitungan detik.
Mata penjaga gerbang itu menjadi kosong sesaat, lalu dia kembali tersadar. "Apa yang kalian lakukan di sini? Masuklah cepat, sebelum bel berbunyi," katanya, seolah-olah lupa bahwa bel sudah lama berbunyi.
Alicia memandang penjaga itu dengan bingung. "Sebelum bel berbunyi?" gumamnya pelan, bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.
"Ayo, masuk sebelum dia berubah pikiran," kata Aray, mendorong punggung Alicia untuk segera bergerak.
Ketika mereka melewati gerbang, seorang gadis dengan rambut pirang dan mata biru tiba-tiba menghampiri mereka. "Hei, kalian! Apa benar bel belum berbunyi?" tanyanya, napasnya terengah-engah.
Alicia menoleh dan menjelaskan, "Aku tidak tahu. Penjaga gerbang tadi berusaha menahan kami, tapi tiba-tiba dia membiarkan kami masuk."
Gadis itu tertawa kecil. "Aneh sekali," gumamnya. "Oh, namaku Vania Vasco. Salam kenal!" Ia mengulurkan tangan dengan senyuman cerah.
"Aku Alicia Kenzie. Kau bisa memanggilku Alicia. Senang berkenalan denganmu!" jawab Alicia dengan ramah, menerima uluran tangan Vania.
Sementara itu, Aray memilih untuk tidak terlibat lebih jauh. "Tak usah pedulikan aku. Aku duluan." Ia berjalan pergi, menghindari percakapan yang baginya tidak penting.
Vania hanya menatap kepergian Aray dengan heran. "Dia dingin sekali," gumamnya.
Alicia hanya tersenyum kecil. "Itu kakakku. Dia memang begitu, tidak suka berinteraksi dengan orang lain."
Saat Aray menginjakkan kakinya ke dalam bangunan besar berbentuk trapesium, suasana aula besar itu sangat tegang, seperti ada listrik yang mengalir di udara. Para murid baru berbaris dengan rapi, namun ketegangan terlihat di setiap wajah. Sekolah Macht ist alles, sebuah nama yang berarti Kekuatan adalah Segalanya, adalah salah satu akademi sihir paling bergengsi di dunia, tempat hanya segelintir anak terpilih yang bisa menimba ilmu. Tidak semua orang bisa menggunakan sihir, dan hanya mereka yang memiliki bakat luar biasa yang dapat diterima di sini.
Sekolah ini didirikan ratusan tahun lalu dengan tujuan mencetak para penyihir hebat, pemimpin, dan orang-orang yang menguasai dunia. Bagi para murid, diterima di sekolah ini adalah kehormatan sekaligus tantangan besar. Mereka harus terus menerus membuktikan diri untuk bertahan dalam kurikulum yang sangat berat. Filosofi sekolah ini sederhana: Kekuatan menentukan segalanya—dalam hal ini, kekuatan bukan hanya soal sihir, tetapi juga tentang keberanian, kecerdasan, dan kemauan untuk bertahan dalam kondisi apa pun.
Di tengah keramaian, Aray berdiri di barisan paling belakang, menyaksikan dengan tatapan datar. Sementara itu, Alicia berdiri di barisan tengah bersama murid-murid lain, merasa tegang tapi bersemangat. Semua mata tertuju pada satu sosok yang sedang naik ke atas panggung, seorang siswa dengan rambut perak yang bersinar di bawah cahaya lampu aula.
"Kepada perwakilan siswa baru, diharapkan untuk naik ke mimbar!" suara pembawa acara menggema, membuat aula menjadi sunyi seketika.
Gabriel Rio, nama yang sudah tersebar di kalangan murid baru, berjalan mantap menuju mimbar. Dia terkenal bukan hanya karena penampilannya yang tampan, tetapi juga karena prestasinya yang sempurna dalam ujian masuk. Semua orang tahu, dia bukan sekadar siswa biasa.
Ketika dia berdiri di depan mimbar, suasana aula berubah. Semua mata tertuju padanya, termasuk para guru yang duduk di barisan depan. Gabriel mengedarkan pandangannya sejenak sebelum akhirnya mulai berbicara.
"Teman-teman yang saya hormati," suaranya tenang namun penuh percaya diri, mengisi setiap sudut aula. "Kita semua tahu bahwa sekolah ini berdiri di atas satu prinsip sederhana: Macht ist alles. Kekuatan adalah segalanya. Di sini, kita tidak hanya belajar sihir, tapi kita belajar untuk bertahan hidup, untuk berkembang, dan untuk menjadi yang terbaik."
Beberapa murid mulai berbisik-bisik, namun suara Gabriel terus menarik perhatian mereka.
"Sekolah ini bukan untuk mereka yang lemah hati. Setiap dari kita yang berdiri di sini adalah yang terpilih, yang terkuat dari yang kuat. Tapi ini baru awal. Diterima di sini hanyalah langkah pertama. Tantangan yang sesungguhnya dimulai sekarang."
Tatapan Gabriel berubah tajam, dan suasana aula semakin hening. "Dalam beberapa tahun ke depan, kita akan dihadapkan pada berbagai ujian—bukan hanya ujian akademis, tapi ujian mental, fisik, dan yang terpenting, moral. Tidak semua dari kita akan berhasil. Ada yang akan jatuh. Ada yang akan menyerah. Dan itu tidak masalah, karena di sini, yang bertahan adalah mereka yang memiliki tekad yang kuat, mereka yang tahu bagaimana bangkit setelah jatuh."
Reaksi para murid mulai bervariasi. Di beberapa barisan, terlihat wajah-wajah yang mulai gelisah, menyadari betapa berat perjalanan di depan mereka. Namun, ada pula yang mulai merasa termotivasi, tatapan mata mereka menyala dengan semangat baru. Alicia, yang mendengarkan dengan penuh perhatian, merasakan jantungnya berdegup lebih cepat. Pidato Gabriel tidak hanya memotivasi, tetapi juga membuatnya berpikir tentang apa yang akan dihadapi di masa depan.
Sementara itu, Aray, di barisan belakang, hanya menonton dengan tenang. Baginya, pidato seperti ini hanyalah permainan kata-kata yang dirancang untuk memicu semangat orang-orang bodoh yang terlalu ingin jadi pahlawan. Tetapi dia juga tahu, meskipun Gabriel tampak penuh percaya diri, dia pasti memahami betapa sulitnya mempertahankan posisi teratas di sekolah ini.
"Kita di sini bukan untuk menjadi biasa-biasa saja," lanjut Gabriel dengan suara yang semakin menguat. "Kita di sini untuk mengasah kemampuan kita, untuk menjadi yang terbaik. Ada yang mungkin berpikir bahwa kita datang ke sini hanya untuk belajar, tapi lebih dari itu, kita datang ke sini untuk mengubah dunia. Kalian yang berdiri di sini hari ini, kalian semua adalah masa depan. Dan masa depan itu tidak akan datang begitu saja. Kita harus berjuang untuknya."
Sorak-sorai mulai terdengar dari beberapa murid, tangan mereka menggenggam erat, wajah mereka penuh semangat. Mereka terinspirasi oleh kata-kata Gabriel, seolah-olah setiap kalimat yang keluar dari mulutnya adalah janji kemenangan yang harus mereka raih.
"Sekolah ini, Macht ist alles, bukan hanya tempat untuk belajar. Ini adalah medan perang. Setiap hari, kita akan diuji. Dan hanya mereka yang memiliki kekuatan yang sejati—kekuatan hati, pikiran, dan sihir—yang akan keluar sebagai pemenang. Kita tidak hanya belajar untuk diri kita sendiri. Kita belajar untuk bangsa, untuk sekolah, dan yang paling penting, untuk diri kita sendiri."
Pidatonya semakin kuat, seolah-olah setiap kata yang diucapkannya dirancang untuk membakar semangat setiap orang di aula itu. Alicia tak bisa menahan diri untuk tersenyum kecil, merasa sangat termotivasi. Dia sudah membayangkan bagaimana dirinya akan berkembang di sekolah ini, bagaimana dia akan menjadi lebih kuat, dan mungkin suatu hari bisa berdiri di mimbar yang sama seperti Gabriel.
"Jadi, teman-teman," Gabriel mengakhiri pidatonya dengan nada penuh keyakinan, "Mari kita buktikan bahwa kita pantas berada di sini. Mari kita tunjukkan bahwa kita adalah generasi yang akan mengubah dunia. Ingatlah, di sini, kekuatan adalah segalanya. Macht ist alles."
Tepuk tangan bergemuruh memenuhi aula. Sorak-sorai bergema, para murid bersemangat, merasa seperti mereka telah mendapatkan dorongan besar untuk menghadapi tantangan yang akan datang. Beberapa murid terlihat saling menatap penuh keyakinan, sementara yang lain mengangguk-angguk, termotivasi oleh kata-kata Gabriel. Para guru pun tersenyum, bangga melihat generasi baru yang tampak siap menghadapi masa depan.
Namun, di tengah semua keributan itu, Aray hanya menghela napas panjang. Baginya, semua itu hanyalah pidato biasa yang penuh dengan janji muluk. "Tipikal manusia sempurna," pikirnya sinis. "Mereka mengira bisa mengubah dunia hanya dengan kekuatan kata-kata. Sungguh bodoh."
Tetapi, meskipun dia menganggap pidato itu membosankan, Aray tahu satu hal: sekolah ini tidak akan membiarkan siapa pun lolos dengan mudah. Mereka yang tidak kuat akan tersingkir, dan mungkin itulah alasan sebenarnya kenapa Aray memilih untuk tetap berada di bayang-bayang—menghindari perhatian yang terlalu berlebihan.
Setelah pidato berakhir, Alicia menghampiri Aray dengan senyuman lebar. "Dia hebat sekali, ya?" katanya, matanya berbinar karena masih terpengaruh semangat dari pidato itu.
Aray hanya mengangkat bahu, tidak memberikan reaksi yang sama. "Aku kira kau masih marah padaku," katanya santai.
"Hari pertama sekolah, masa aku harus marah?" jawab Alicia sambil menggeleng pelan. "Lagipula, bukankah kau juga sedikit terkesan?"
Aray tersenyum tipis, tapi tidak berkata apa-apa. Mereka berdua berjalan menuju papan pemberitahuan pembagian kelas, meninggalkan aula yang masih dipenuhi dengan bisikan-bisikan tentang betapa mengesankannya pidato Gabriel tadi.
Ketika mereka tiba, sekelompok murid sudah berkumpul di depan papan pengumuman pembagian kelas. Aray melirik papan itu dengan santai, kemudian tertawa kecil. Percakapan pagi mereka ternyata menjadi kenyataan. Alicia, seperti yang diduga, masuk ke kelas Unver—kelas bagi para ahli yang berbakat. Sementara itu, Aray, dengan senyum penuh makna, melihat namanya berada di kelas Anfänger, kelas khusus untuk para pemula.
Alicia tampak sedikit kecewa. "Sayang sekali, kita tidak sekelas."
Aray hanya mengangkat bahu. "Aku lebih suka begini. Semakin sedikit perhatian, semakin baik."
Alicia menatap kakaknya dengan prihatin. "Aku tetap khawatir padamu, Kak."
Aray hanya tersenyum tipis. "Jangan terlalu peduli. Nanti kau bisa mati karena terlalu khawatir."
"Apa-apaan itu? Kau memang aneh!" Alicia mendengus kesal, tapi siapa pun bisa melihat bahwa ada senyum kecil yang terlintas di wajahnya saat dia beranjak pergi menuju kelasnya.
Sementara itu, Aray melangkah menuju kelasnya sendiri, berharap dikelilingi oleh orang-orang yang pendiam dan tidak menyusahkan.
"Semoga saja kelas ini penuh kutu buku," gumamnya.
"Selamat pagi semua. Mulai hari ini, saya adalah wali kelas kalian. Panggil saya Pak Roy," ucap pria bertubuh kekar itu dengan suara yang tenang namun tegas.
Pak Roy memiliki mata tajam, tubuh yang kokoh, dan aura yang membara. Ada sesuatu tentang kehadirannya yang langsung menarik perhatian seluruh ruangan. Kelas yang tadinya riuh perlahan hening di bawah tatapannya.
Di pojok kelas, Aray Kenzie memperhatikan dengan diam-diam. Dalam hatinya, dia bergumam, Semoga saja hari ini berlalu dengan tenang.
Pak Roy melanjutkan dengan suara yang semakin tegas, "Kalian tahu ini kelas apa? Kelas yang berisi orang-orang yang belum tahu cara memanfaatkan kekuatan mereka dengan benar. Kalian bukan lemah, hanya belum paham bagaimana menggunakan potensi kalian."
Tatapan tajamnya menyapu seluruh kelas, menyisakan rasa takut dan kagum dalam benak para siswa. "Mulai hari ini, saya akan membimbing kalian agar menjadi lebih kuat. Ingat ini baik-baik: yang kuat selalu berdiri di atas yang lemah. Dan yang lemah akan terus ditindas. Jangan mau jadi yang lemah, sekalipun itu benar. Berlatihlah, belajarlah, sampai kalian menjadi yang terkuat."
Di antara kerumunan siswa yang mulai tenang, seorang anak laki-laki bernama Alden Striker berdiri dengan kemarahan yang terlihat jelas di wajahnya. Alden bukan sembarang siswa. Dia berasal dari keluarga bangsawan yang memiliki tradisi panjang dalam sihir dan keturunan magus kelas atas. Namun, meski demikian, Alden selalu merasa tertekan karena standar tinggi yang diharapkan dari dirinya. Keluarganya adalah salah satu yang memiliki pengaruh besar di kerajaan, dan dia tak ingin mengecewakan mereka. Setiap kekalahan dianggap sebagai aib, dan setiap kelemahan adalah tanda kehancuran.
Bagi Alden, kekuatan adalah segalanya, dan dia dibesarkan dengan mentalitas bahwa mereka yang kuat akan selalu menang. Itulah mengapa ketika Pak Roy menyebut kata "lemah", Alden tak mampu menahan amarahnya. Kata itu menghantam egonya, membuatnya merasa terhina.
"Berengsek! Jangan seenaknya bilang kalau aku ini lemah!" Alden berteriak penuh amarah. Sebagai seseorang yang selalu ingin membuktikan dirinya, dia tak bisa menerima hinaan seperti itu, bahkan dari seorang guru.
Pak Roy menatapnya dengan senyum tipis. "Kau ingin melawanku?" tanyanya, kali ini dengan nada provokatif. Dia bisa merasakan ego besar Alden, dan sejujurnya, Pak Roy menikmatinya.
Alden mengangguk tanpa ragu. "Dengan senang hati!" Ia sudah siap bertarung, siap menunjukkan bahwa dirinya tidak selemah yang orang lain pikirkan.
Seluruh kelas seketika dipenuhi dengan ketegangan. Siswa-siswa mulai gelisah, suasana yang tadinya tenang berubah panas.
Di pojok ruangan, Aray tetap tenang. Dia tidak tertarik ikut dalam kekacauan itu. Namun, seorang anak laki-laki dengan aura misterius di sebelahnya mulai bicara, "Hei, kau. Aku lihat kau diam saja. Apa kau tidak tertarik dengan semua ini?"
Aray hanya melirik tanpa minat. "Jangan bicara denganku."
Dia merasa bahwa pria di sebelahnya ini adalah tipe manusia yang sangat menyebalkan—seperti racun yang perlahan-lahan menyusup ke dalam darahnya, mengganggu ketenangan yang ingin ia jaga. Menurutnya, menghindari interaksi dengan orang semacam ini adalah pilihan terbaik.
Anak itu tersenyum, seolah tidak terganggu oleh sikap dingin Aray. "Hm, sepertinya kau benci hal-hal merepotkan seperti ini, ya? Aku benar?"
Aray tak menjawab langsung, hanya mengangkat bahu. "Entahlah," gumamnya.
Anak itu tertawa kecil, lalu mengulurkan tangannya. "Ryan Alvarado. Salam kenal. Namamu?"
Aray memandang tangan Ryan sebentar, lalu berkata tanpa membalas uluran tangannya, "Aray."
Sementara itu, Pak Roy menggebrak meja, menarik perhatian semua orang. "Daripada ribut seperti ini, latih tanding sepertinya bukan ide buruk untuk hari pertama. Pilih seseorang sebagai lawanmu. Kalau menang, kau bisa bertarung denganku sepuasnya."
Alden yang tadi marah mengangkat dagunya dengan percaya diri. "Baiklah! Siapapun lawannya, aku tidak akan kalah!"
Pak Roy mengangguk. "Maka pilihlah."
Alden melihat sekeliling, mencari mangsa. Dia menatap semua siswa dengan tajam, hingga akhirnya matanya tertuju pada Aray. Tanpa ragu, dia menunjuk.
"Kau! Lawanlah aku!" katanya dengan penuh tantangan.
Aray mendengus pelan. Sial, apa memang keberuntunganku selalu seburuk ini?
"Merepotkan," kata Aray datar, tanpa menatap lawannya. "Pilih yang lain saja."
Alden tertawa mengejek. "Kau takut? Seperti yang dibilang orang, yang lemah selalu lari dari pertarungan."
Aray tersenyum tipis, akhirnya memutuskan untuk meladeni provokasi itu. "Lemah? Tong kosong nyaring bunyinya. Baiklah, aku ingin tahu seberapa kosong tong yang satu ini."
Seluruh kelas terdiam, menunggu dengan antisipasi. Pak Roy tersenyum puas. "Kalau begitu, aku akan menciptakan arena."
Pak Roy mengangkat tangannya, mengucapkan mantra dengan nada tenang namun penuh kekuatan.
"[Creation: Battlefield]!"
Ruang kelas mulai berubah. Partikel magi tersebar di udara, menciptakan sebuah arena dalam sekejap. Arena berbentuk Colosseum muncul di depan mata semua siswa, memukau mereka dengan keajaiban sihir yang terlihat nyata.
Di sekolah ini, tidak sembarang orang bisa menciptakan sebuah arena. Meskipun sihir arena [Creation: Battlefield] terdengar sederhana, kenyataannya, itu adalah sihir tingkat tinggi yang hanya bisa diakses oleh magus berpengalaman. Proses menciptakan arena tak hanya melibatkan mantra dan pengendalian magi, tapi juga penggunaan alat sihir khusus yang dikenal sebagai Catalyst Gem.
Catalyst Gem adalah batu sihir yang dirancang khusus untuk menyimpan dan memperkuat magi. Alat ini hanya dapat dimiliki oleh mage tingkat tinggi atau mereka yang diakui sebagai ahli dalam sihir ruang dan waktu. Alat ini digunakan oleh Pak Roy untuk menciptakan arena yang mampu menahan kekuatan besar, bahkan jika digunakan dalam pertarungan antar murid.
Saat Pak Roy mengangkat tangannya dan merapalkan mantra [Creation: Battlefield], dia juga menyentuh Catalyst Gem yang tergantung di lehernya. Batu sihir itu berkilauan sebentar sebelum memancarkan cahaya yang memenuhi ruangan. Dengan bantuan alat ini, Pak Roy mampu menciptakan arena berukuran besar dengan mudah dan presisi. Sebuah dunia virtual mulai terbentuk, menciptakan ilusi arena Colosseum yang kokoh dan terlihat nyata.
Alat seperti Catalyst Gem ini sangat mahal dan hanya dimiliki oleh mereka yang memiliki otoritas dalam sistem sihir. Bahkan di kalangan bangsawan seperti Alden, alat ini adalah barang langka. Para mage tingkat tinggi menggunakan alat ini untuk membantu mereka dalam mengendalikan sihir-sihir yang memerlukan pengendalian energi yang kompleks, seperti menciptakan arena atau memanipulasi ruang.
Pak Roy, sebagai seorang guru dan mantan magus medan perang, memiliki kendali penuh atas alat ini, memungkinkan dia untuk menciptakan arena yang tidak hanya aman untuk digunakan, tapi juga membatasi dampak sihir yang digunakan murid-muridnya, sehingga mereka tidak saling melukai secara fatal. Sihir ini juga memantau kekuatan magi yang dilepaskan oleh setiap peserta, memastikan keamanan dalam setiap duel yang berlangsung.
Teknologi virtual yang ada di sekolah ini juga berfungsi untuk menyiarkan pertarungan di dalam arena kepada siswa dan guru. Sistem ini menggunakan jaringan sihir dan teknologi canggih untuk mobilisasi, membatasi, serta mencatat kemampuan dan potensi para siswa. Data yang terkumpul selama pertarungan akan dimasukkan ke dalam database sekolah untuk analisis lebih lanjut. Dengan cara ini, setiap siswa dapat dipantau perkembangannya, dan strategi pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu.
Dalam siaran yang ditampilkan di ruang kelas, para murid melihat angin sepoi-sepoi dan debu halus menerpa wajah Aray ketika dia berdiri di tengah arena, berhadapan dengan lawannya. Anak itu tersenyum sombong, mengangkat dagunya sekali lagi. "Tidak baik jika kita bertarung tanpa saling mengenal. Namaku—"
"Tak usah banyak bicara. Langsung saja," Aray memotong dengan dingin, melambaikan tangan, menunjukkan bahwa dia tidak tertarik.
Anak itu tersentak, tapi kemudian berkata, "Jangan sombong. Kau tidak akan bisa mengalahkanku, seorang bangsawan!"
Aray hanya menggeleng kecil, mengangkat bahu tidak peduli. "Omong kosong. Apanya yang anak bangsawan."
Pertarungan pun dimulai. Alden segera menggerakkan tangannya, mengucapkan mantra,
"[Wind Blaze]."
Badai angin muncul di tengah arena. Langit menjadi gelap, angin berputar kencang, mengangkat pasir dan menghancurkan beberapa bagian arena. Tornado besar terbentuk, siap menghancurkan apa pun yang ada di hadapannya. Murid-murid dan guru-guru menyaksikan dengan mata terbelalak, terkesima oleh kekuatan yang ditunjukkan Alden.
Alden tersenyum lebar, penuh keyakinan. "Bagaimana? Apa kau menyerah sekarang?"
Aray menatap datar, merasa bosan dengan pertarungan itu. "Payah," katanya pelan.
Badai yang semula mengguncang arena mulai berubah. Angin yang kencang dan debu halus menjadi semakin deras, menciptakan tirai visual yang sempurna untuk menyembunyikan gerakan Aray. Para murid dan guru tak menyadari bahwa di balik kekacauan badai, Aray sedang bergerak menuju Alden.
Dengan tenang, Aray mulai memusatkan magi di tubuhnya. Langkah kakinya nyaris tak terlihat ketika ia bergerak secepat kilat, muncul di depan lawannya tanpa suara. Dalam sekejap, dia menempelkan tangannya ke wajah anak itu dan mengucapkan mantra,
"[Death]."
Ekspresi Alden berubah seketika. Awalnya penuh percaya diri, wajahnya kini dipenuhi keheranan dan ketakutan. Matanya membesar saat menyadari seberapa cepat Aray bergerak, dan mulutnya terbuka lebar, seolah kata-kata terjebak di tenggorokannya. Dia tidak bisa mempercayai bahwa dalam hitungan detik, posisinya telah berbalik. Tubuhnya seolah membeku, tidak dapat bereaksi ketika magi hitam menyebar, menghentikan beberapa fungsi di tubuhnya. Alden terjatuh terkapar, tak sadarkan diri, dengan mata yang berubah putih. Suara ambruk terdengar di seluruh arena.
Aray menatapnya sekilas, lalu bergumam pelan, "Inilah yang disebut lemah."
Mantra sihir Death adalah salah satu teknik paling mematikan dalam repertoar Aray. Ketika diaktifkan, mantra ini memiliki kekuatan untuk menghapus kehidupan apa pun yang disentuhnya dalam sekejap. Energi hitam yang menyebar dari tangan Aray adalah manifestasi dari kematian itu sendiri—mampu menghancurkan sel-sel hidup dan merusak sistem organ secara instan. Dalam sekejap, siapapun yang terkena dampaknya akan merasakan kegelapan menyelimutinya, seolah-olah hidup mereka direnggut oleh tangan tak terlihat.
Namun, dalam pertarungan melawan Alden, Aray memilih untuk menurunkan efek dari mantranya. Alih-alih membunuh, dia hanya mematikan fungsi beberapa organ tubuh lawannya, memastikan bahwa Alden akan pingsan dan tidak mengalami cedera fatal.
Arena Colosseum perlahan menghilang, partikel-partikel magi terbang ke udara dan ruang kelas kembali ke bentuk aslinya. Aray duduk kembali ke kursinya dengan tenang, menghela napas pelan seolah merasa situasi ini sangat mengganggu. Dia melirik sekeliling kelas, melihat murid-murid lain yang masih terkejut dan bisik-bisik satu sama lain.
Huh, terlalu banyak drama untuk hari yang baru dimulai, pikirnya sambil menyandarkan punggung di kursi, wajahnya menunjukkan ekspresi bosan. Ia menatap kosong langit-langit kelas, seakan-akan dia ingin berkata, Ah... aku mulai menyesali ini.
Dengan santai, Aray menepuk jatuh debu pada seragamnya, tampak tidak peduli dengan sorotan penuh kekaguman yang mengarah kepadanya. Dia merasa sedikit terganggu oleh keributan yang ditimbulkan, seolah-olah semua perhatian itu tidak lebih dari sekadar gangguan yang menghalangi rencananya untuk menikmati jam pelajaran yang tenang.
Bisikan-bisikan terdengar dari seluruh kelas, beberapa murid terlihat saling berbisik dengan mata terbelalak, sementara yang lain menatap Aray dengan rasa kagum dan heran.
"Apa itu tadi? Cepat sekali," bisik salah satu siswa.
"Bahkan aku tidak tahu apa yang terjadi!," tambah siswa lain, sementara beberapa masih menatap Alden yang tergeletak di lantai dengan rasa penasaran.
"Padahal yang dilawan adalah seorang bangsawan. Aku dengar bangsawan itu juga cukup hebat," ujar seorang siswa lagi, mengarahkan pandangnya ke Aray.
Nyatanya, para murid sungguh tidak dapat melihat apa yang telah terjadi akibat badai yang diciptakan oleh Alden menutupi keseluruhan layar siaran. Namun, mereka tak bisa menahan rasa kagum sekaligus heran ketika menatap Alden, seorang dari salah satu keluarga besar Magus di kerajaan tergeletak dengan ekspresi menyedihkan di tengah ruang kelas hanya dalam hitungan detik setelah pertarungan dimulai.
"Hei, apa yang sebenarnya kau lakukan? Kau mengalahkannya dengan sangat cepat!" Ryan menatap Aray dengan kagum dengan mata berbinar dari tempat duduknya.
Aray berdecak pelan, memalingkan wajahnya.
Pak Roy berjalan mendekat, langkahnya tenang dan penuh percaya diri di tengah suasana kelas yang kacau. Beberapa murid masih berbisik dengan suara keras, membicarakan tentang pertarungan yang baru saja berlangsung. Ekspresi kagum dan ketakutan masih terpancar di wajah mereka, sementara beberapa lainnya tampak berusaha memahami apa yang baru saja terjadi.
Dengan senyum kecil, Pak Roy mengangkat tangannya sedikit, dan seolah ada kekuatan yang memengaruhi ruangan, semua suara mendadak menghilang. Seketika, kelas menjadi hening. Semua mata tertuju pada Pak Roy, menunggu kata-katanya.
"Tidak buruk. Siapa namamu?" tanyanya dengan nada yang tenang, tetapi ada ketegasan dalam suaranya yang membuat para siswa tidak berani membuat kebisingan sedikit pun.
Suasana kelas yang tadinya gaduh menjadi penuh ketegangan, seolah-olah setiap siswa merasakan pentingnya momen ini. Hanya ada suara detak jarum jam yang bergetar dalam keheningan, sementara semua perhatian tertuju pada anak dengan ekspresi acuh tak acuh itu, menunggu jawabannya.
Aray menatapnya malas, lalu menjawab singkat, "Aray Kenzie."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!