NovelToon NovelToon

Di Balik Megahnya Rumah Sakit

1. Menjenguk Bulik

Gunung Timur

Sopinah baru saja tiba di rumah seusai sekolah. Ibu dan bapaknya juga belum lama tiba di rumah setelah berjualan di alun-alun Gunung Timur.

"Lhoh kok udah pulang, Pak, Bu?" tanya Sopinah dengan heran.

Tidak biasanya mereka pulang awal apalagi hari Sabtu. Biasanya mereka berjualan hingga malam hari untuk menemani bapak-bapak ngopi sembari bergosip dan bercanda.

"Iya, nanti malem buka lagi, sekarang tutup dulu. Ini Bapak sama Ibu baru dapat kabar kalau bulikmu* masuk rumah sakit. Disenam!" *bulik\=tante.

"Disenam? Apaan tuh, Pak?"

"Itu lhoh, disuruh nginep di rumah sakit, di Koja sana."

"Owalah opname, Pak, bukan senam! Jadi, Bapak Ibu ke sana semua? Terus aku di rumah sendiri? Aku takut, Pak!"

"Ya kamu juga ikut to ya, Bapak udah carter* mobilnya Kang Paijo." *carter\=sewa.

Mereka bersiap dan berdandan. Dalam hati sesungguhnya Sopinah bahagia karena gadis 15 tahun yang sebentar lagi lulus sekolah menengah pertama itu jarang-jarang pergi ke kota besar.

Kota di daerahnya adalah Wanasadri, sering ia sambangi karena Pak Eko dan Bu Eko (ayah ibunya) berjualan di pinggir alun-alun Wanasadri. Namun, kota itu tidak terlalu besar sehingga dia kegirangan jika diajak ke Koja.

Mau ke kota harus dandan yang maksimal biar cakep! (Sopinah).

"Pinaaah! Kita itu mau jenguk orang sakit, kamu kok dandannya kayak mau kondangan?!" komentar Bu Eko.

Terpaksa Sopinah menipiskan make up yang terlanjur ia pakai. Padahal dia baru saja membeli bulu mata palsu baru yang keriting indah, tapi harus ia lepas.

"Padahal artis-artis itu kalau mau ke mana-mana juga pada dandan. Apalagi penyanyi yang jadi anggota DPR itu, make up selalu on."

"Mulai lagi nih anak, kalau kita itu rakyat biasa. Nggak usah neko-neko, dan nggak usah sebut-sebut anggota perwakilan rakyat, nanti hilang kita." Ibunya kembali berpetuah kepada anaknya yang kritis dan suka menanyakan hal-hal di luar kapasitasnya. "Nanti kalau di rumah sakit, kamu jangan nanya yang aneh-aneh ya!"

Sopinah mengangguk. "Nanti pulangnya kita mampir mall ya, Bu. Aku belum pernah lihat mall yang di kota besar."

"Ke mall itu mau ngapain? Di sana isinya orang jualan doang, sama aja kayak di pasar."

Sopinah mendengus. Pupus sudah harapannya untuk bisa nge-mall.

~

Di dalam mobil

Sembari menikmati perjalanan, sang ibu memasukkan uang ke dalam amplop untuk diberikan kepada sang adik. Mata Sopinah tertuju pada uang yang dimasukkan ke dalam amplop.

"Lha itu ada uang, Bu. Kemarin pas aku minta, kata Ibu nggak ada," protes Sopinah.

"Sssttt ...." Ibu panik meminta Sopinah menutup mulut. Ia merasa malu kepada Kang Paijo, pemilik sekaligus sopir mobil yang mereka carter. Dia berbisik, "Ini utangan, gimana lagi, bulikmu lagi sakit, harus dibantu."

Sopinah mengangguk.

Bu Eko kembali berbisik kepadanya, "Eh, kamu udah janji jangan nanya yang aneh-aneh lho! Kok nggak tepat janji sih?"

Sopinah mendekati telinga ibunya untuk menjawab dengan berbisik pula. "Aku kan nanyain tentang duit, Bu, bukan hal aneh kok. Bukan tentang siluman atau alien."

~

Rumah Sakit Keluarga Bahagia, Koja

Mata Sopinah berbinar melihat bangunan megah yang sangat modern di hadapannya. Tidak apa harapan ke mall telah pupus, rumah sakit ini saja bangunannya lebih mewah daripada pusat perbelanjaan.

Ini rumah sakit apa hotel sih? Kok mewah banget? (Sopinah).

Lain di bentuk, lain di rasa. Saat menapaki lantai memasuki rumah sakit mewah itu, Sopinah merasa panas. Padahal, AC menyala. Bulu kuduknya berdiri.

Mereka bertiga berjalan menyusuri rumah sakit itu untuk mencari ruang rawat inap tempat buliknya dirawat.

Kok bau anyir darah? (Sopinah).

Dia pun menengok ke kanan. Rupanya mereka memang melewati laboratorium, dan sedang ada pasien yang diambil sample darahnya.

Sopinah mengangkat wajahnya melihat wajah orang yang lalu lalang berpapasan dengannya. Dokter-dokter laki-laki di sana tampan-tampan karena yang cantik tentunya bukan laki-laki.

dr. Daniel apa tadi belakangnya. (Sopinah).

Sopinah membaca dalam hati name tag para dokter yang membuat matanya sedikit tersegarkan. Memang benar, tidak usah ke mall, di rumah sakit ini pun bisa melihat pemandangan yang meyegarkan.

dr. Nathan, dr. Zelani. Dokter itu harus ganteng kali ya biar pasien-pasiennya cepet sembuh. Astoge, itu! Itu yang paling ganteng. Dokter siapa tuh namanya. dr. Frans? Tapi kok name tagnya beda sama dokter-dokter lain ya? (Sopinah).

"Ini kayaknya, Pak," ujar Bu Eko kepada suaminya sembari menunjuk sebuah ruangan dengan nama adiknya di sana.

Mereka pun masuk. Satu ruang bangsal itu ditempati oleh 2 pasien. Antara pasien diberi tirai sebagai pemisah. Meski dirawat inap di ruang bangsal kelas 2, ruangan itu tidak sekecil ruang bangsal kelas 2 di rumah sakit daerah Gunung Timur.

Rumah sakit kota memang beda. Walau orang-orang mengatakan sama saja, tidak dengan kenyataan yang dilihat oleh Sopinah. Tetap saja yang lebih mahal dan tempatnya lebih kota lebih baik fasilitasnya.

"Gimana keadaannya, Murti? Kok malah nginep di sini?" Bu Eko memeluk adiknya sembari mengucurkan air mata.

Selain sedih karena adiknya sakit, dia juga sedih karena dia membawa amplop hasil berutang. Kredit panci Happyprol saja belum lunas, ditambah utang untuk nyumbang.

Sementara itu Pak Eko dan Sopinah hanya menonton kakak beradik di hadapannya sedang menangis. Bagaimana pun, menyikapi musibah memang sejatinya dengan menangis, bukan tertawa terbahak-bahak. Jadi, sangat dimaklumi.

"Iya, Mbak. Mana Mas Bono lagi keluar kota, lagi ada kerjaan."

Pernyaataan Bulik Murti ini membuat Bu Eko kian histeris sampai-sampai pasien di sebelah agak terganggu dengan suara itu.

"Sssttt ...," kata keluarga pasien sebelah.

Sopinah agak malu ibunya berisik seperti itu tapi ia tahan. Kadang jika sudah tidak tahan, dia akan mengaku kebelet lalu kabur ke toilet, dan ajaibnya, dia selalu bisa langsung buang air besar. Pencahar alami ini dapat dijelaskan dengan ilmu pskiatri.

~

Jam telah menunjukkan pukul 5 sore. Sopinah menyenggol-nyenggol ibunya, memberi kode untuk segera pulang. Namun, tampaknya sang ibu tidak tega meninggalkan adiknya sendirian di rumah sakit.

Bu Eko pun membawa Pak Eko dan anak gadisnya keluar ruangan untuk berbicara 12 mata (6 mata untuk melihat, yang 6 lagi adalah mata kaki mereka).

"Aku kasihan sama Dik Murti, Pak. Gimana kalau kita nginep di sini?" usul Bu Eko.

Sopinah melotot mendengar ide agak ekstrim ibunya. Pasalnya, tempat tidur tidak memadahi, ruangan yang ditempati juga bukan VIP, mereka harus berbagi kamar dengan orang tak dikenal.

Bagus jika kebiasaan tidur hanya mengorok. Bagaimana jika mengigau sembari mengumpat? Bagaimana jika garuk-garuk tempat yang seharusnya tidak digaruk?

"Ya nggak bisa to, Bu! Bapak udah janji mau buka nanti malam. Itu perkumpulan bapak-bapak adalah pelanggan terbesar angkringan."

Sopinah lega mendengar sang ayah tak setuju.

"Ya sudah, Bapak pulang saja sama Kang Paijo. Ibu sama Sopinah yang nginep di sini."

"Apa?!" []

Bersambung ....

2. Menginap

"Kita nggak bawa baju, nggak bawa sikat gigi, sabun. Besok pagi gimana, masak nggak mandi?"

"Alah kayak gitu dipikirin. Pikirin bulikmu dong sendiri di rumah sakit." Padahal sebenarnya Bu Eko juga memikirkan hal itu. Hanya dari sudut pandang berbeda. Ia berpikir biaya tambahan yang harus dikeluarkan jika harus belanja darurat.

Sopinah melirik ke langit-langit, berpikir keras apa yang dimaksud 'sendiri' oleh ibunya. Jelas-jelas tempat publik itu ramai seperti di mall. Semuanya bersih dan rapi. Ada tombol pemanggil perawat di dekat tempat tidur.

Makanan pun terjamin gizi dan kebersihannya. Tidak perlu memikirkan gas untuk memasak mau pun cuci piring setelah makan. Sejatinya, pasien menginap sudah dilengkapi segala fasilitasnya. Tak perlu khawatir, tinggal bayar saja. Dan memang masalah pembayaran ini saja yang harus dikhawatirkan.

"Ya deh." Akhirnya gadis itu menerima keputusan ibunya.

Kalau boleh memilih, ia lebih ingin pulang bersama Pak Eko ke Gunung Timur. Tapi, Pak Eko nanti harus melayani para pembeli di angkringan sampai larut malam sehingga jika dia di rumah, malah jauh lebih mengenaskan.

~

Malam hari

Bu Eko kebingungan tatkala waktu tidur telah tiba. Bagimana tidak, tempatnya tidak begitu besar, disediakan bed penunggu hanya 1 dan itu pun yang berukuran 90x200 cm yang tingginya lebih rendah dari hospital bed milik pasien.

Sopinah mengatupkan bibir rapat-rapat seraya sangat ingin mengatakan pada ibunya bahwa inilah salah satu yang ia khawatirkan. Akh, tapi mengatakan pada ibunya bukannya akan membuat sadar, malah dia yang akan diomeli.

"Ehm ... gimana ya?" Bu Eko bertanya pada diri sendiri.

Sesungguhnya tidak murni kepada diri sendiri juga, dia meminta permakluman dari anaknya.

Sopinah mengambil tikar di pojok ruangan, entah milik siapa kemudian menggelarnya di antara tempat tidur pasien dan tempat tidur penunggu pasien.

"Aku tidur di sini, Bu. Aku masih muda, masih kuat, tulang-tulangku masih bagus. Dan aku tahan dingin di lantai."

Bu Eko tersenyum. "Kamu tahu aja kalau Ibu udah sering sakit pinggang."

Ya iyalah, setiap sakit pinggang menyerang, dia selalu mengungkit bahwa saat gadis dia tidak pernah sakit pinggang. Baru setelah hamil dan melahirkan Sopinah baru dia diserang sakit itu. Sopinah merasa bersalah. Sempat ingin kembali saja ke dalam rahim, tapi dia ngeri sendiri melihat sekarang ukuran dirinya sudah lebih tinggi dari Bu Eko. Pasti sempit dan gelap, dan mau apa di sana? Gabut.

Sopinah berdoa supaya dia tidak ngiler atau melakukan hal yang memalukan di dalam ketidaksadarannya. Maklum, biasanya dia tidur di mana, bangun di mana. Itu saja sudah lebih mendingan dari pada saat kecil dahulu. Dia sering terbangun di kolong tempat tidur.

Semua mulai memejamkan mata termasuk penghuni tirai sebelah. Sopinah tahu betul karena sudah mulai terdengar cosplay suara orang sedang menggergaji kayu, 'grooook'.

Belum lagi ibunya sendiri dan tantenya yang juga berlomba-lomba bersuara. Sopinah menutup telinga dengan tangan, dengan kaki, dengan tas, tidak ada yang mempan sama sekali. Dia tetap mendengar itu semua.

~

Pukul 11 malam

Sopinah belum juga bisa tidur karena suara di bangsal rumah sakit yang seharusnya tenang malah terdengar seperti tempat penggergajian. Padahal dia sudah memejamkan mata sedari tadi hingga perih. Namun, tak bisa juga dia beralih ke alam mimpi.

Dia sendiri heran mengapa yang lain bisa tidur nyenyak. Apa mereka tidak saling terganggu?

Oh, mungkin mereka udah terbiasa denger dengkuran sendiri kali ya? Jadinya udah terlatih. (Sopinah).

Samar-samar, Sopinah mendengar suara gemericik air di kamar mandi. Ia membuka tirai dan merasa lega ada yang juga terbangun. Tidak hanya dirinya yang waras dan terganggu dengan suara dengkuran.

Dia berdiri, hendak buang air juga. Dia menoleh ke arah pasien sebelah yang kebetulan tirainya terbuka sedikit. Terlihat di sana pasien dan penunggu pasien sedang tidur dan masih dengan kegiatan mendengkur.

Lhoh, itu ada semua. Siapa yang di kamar mandi? (Sopinah).

Dia menengok ke arah kamar mandi yang di dalamnya masih terdengar suara gemericik air. Pintu itu terbuka. Sesosok perempuan berambut panjang keluar dari sana. Perempuan itu tersenyum sedangkan Sopinah terpaku melihat keadaan di depan matanya.

Lututnya lemas, badannya sama sekali tak digerakkan. Napasnya tertahan beberapa detik. Perempuan berambut panjang itu mendekati Sopinah yang sedang mangap dan tak bisa berbuat apa-apa.

"Makasih ya, Dik. Maaf, kamar mandi di sebelah airnya nggak keluar. Saya tadi udah izin perawat buat pakai toilet sini, saya disuruh izin sama penghuni sini. Tapi tidur semua, saya nggak enak bangunin."

Gadis muda berambut panjang itu pun keluar dari ruangan. Sopinah melepaskan napasnya yang tertahan sejak tadi. Karena terlalu takut, dia hanya melihat wajah dan rambut gadis tadi, tidak sempat memperhatikan outfitnya yang mengenakan celana denim dan kaos motif salur kekinian.

Kebetulan juga rambutnya hitam, lurus, dan panjang sehingga semakin mirip dengan Mbak 'K' yang sebaiknya tidak disebutkan namanya. Karena jika disebut, dia akan salah sangka, dikira memanggil.

Kalau makhluk lain bajunya nggak gitu kan ya? Harusnya daster putih itu, kan? Hufh, bikin deg-degan aja. (Sopinah).

Untung saja dia belum meneriaki si mbak tadi dengan teriakan tidak senonoh. Karena, tidak semua orang yang jika dipertemukan dengan keadaan genting akan otomatis mengingat Tuhan, bisa saja malah mengumpat dan mengatakan hal yang memalukan. Jika di sinetron ada teriakan seperti 'setan', itu masih sangat mendingan.

Di dunia nyata, teriakan tidak bisa dikontrol atau bahkan tidak bisa berteriak sama sekali seperti Sopinah yang mangap dengan badan bergetar. Tapi kini Sopinah lega, hanya agak malu sudah mangap di depan orang tak dikenal. Mudah-mudahan mbak itu tidak mencium aroma mulutnya.

Suara-suara muncul kembali di antaranya roda-roda meja yang berjalan di lorong antar ruangan. Pastinya itu adalah perawat yang sedang memindahkan entah apa. Sopinah melangkahkan kaki keluar dari kamar karena suara dengkuran semakin bersahutan di dalam.

Dia bertemu dengan perawat yang berjaga, memberikan senyum sekedarnya, kemudian berjalan-jalan. Suara-suara kini tak mengganggunya lagi termasuk suara seperti orang sedang memotong sesuatu, suara langkah kaki, suara roda dan lain-lain . Sudah biasa di rumah sakit dan di tempat publik lainnya terdengar banyak suara.

Dia keluar dari gedung rawat inap kemudian melihat ke arah instalasi gawat darurat. Tempat itu adalah tempat tersibuk jam berapa pun juga karena keadaan gawat tak mengenal waktu.

Sopinah kembali ke lorong menuju kamar bangsal. Di sebelah kiri terdapat ruangan kecil agak gelap disertai bau anyir. Mata Sopinah kali ini tak berkedip melihat seonggok daging berlumuran darah diiris-iris dengan pisau bedah yang bergerak sendiri. []

Bersambung ....

3. Tidak Bisa Membedakan

Melihat pemandangan ngeri di hadapannya, darah Sopinah serasa membeku, tulang-tulangnya seperti direbus di panci presto hingga lunglai dan lunak, jantungnya berdegup sangat kencang sekencang kuda yang sedang beradu di arena pacuan.

Mulutnya berusaha berteriak, tapi tak berhasil. Hanya mangap lebarlah yang bisa ia lakukan. Seketika ia kehilangan kontrol di kandung kemihnya sehingga sedikit mengalirkan air, untung tadi sudah ia keluarkan di toilet sehingga stok di kandung kemih telah out of stock.

Pandangan mata mulai menguning, kemudian gelap. Kesaradarannya perlahan hilang. Sopinah terjatuh pingsan di lorong bangsal, di hadapan ruangan kecil remang-remang.

~

"Dik, Dik, Dik," panggil suara lembut seorang wanita disertai guncangan di badan.

Sopinah telah mendengar panggilan dan merasakan guncangan, tapi matanya masih lengket, susah untuk dibuka. Dia curiga setan yang ia lihat mengoleskan lem Uhuk ke matanya.

Stage berikutnya, hidungnya mengendus bau balsem yang sering digunakan oleh simbah dekat rumah untuk kerokan dan untuk masuk angin. Mata Sopinah mulai membuka, terdengar ungkapan lega dari wanita-wanita di dekatnya.

Eh, jangan melek dulu. Dugaanku, mereka ini perawat. Kalau bukan, gimana? Kalau Mbak Kun Kun semua gimana? Tadi lihat satu Mbak Kun palsu aja rahangku rasanya kayak dilas. Gimana kalau Mbak Kunnya serombongan gini? (Sopinah).

Mulut Sopinah mulai merapa doa meski hanya terdengar seperti gumaman. Tapi, situasi ini berbeda dengan saat dia pingsan tadi. Kini tidak begitu tegang. Dia memutuskan untuk membuka mata setengah dulu untuk mengintip makhluk apa yang membangunkannya.

Jika manusia, dia akan langsung bangun. Jika semua adalah kun-kun, dia punya rencana back up yaitu lari sekencang-kencangnya kalau bisa. Atau ya, pingsan lagi saja.

Dia mengintip. Agak gemetar karena semua memakai baju putih seperti yang dipakai kun-kun. Namun, ia segera ingat bahwa seragam perawat pun berwarna putih.

"Dik, bangun, Dik." Panggilan itu terus diserukan tapi mata Sopinah hanya terbuka setengah.

Karena gemas bercampur kasihan, salah satu perawat membantu agar matanya terbuka sempurna yaitu membuka kelopak mata Sopinah dengan jari.

"Untunglah Adik udah siuman. Cek tensi dulu yuk," kata mbak-mbak cantik perawat di sana. "Adik lagi kurang sehat atau gimana? Apa sering pingsan kayak gini?"

Sopinah menggeleng. Dia menengok ke sekitar. Ada 2 perawat yang ada di sana. Terlihat juga sebuah balsem bermerk Lemason yang ia hirup aromanya tadi.

"Eh, Mbak, ini nggak bayar, kan?"

Perawat itu tersenyum. "Enggak, Dik. Ini kemanusiaan. Nggak semua harus bayar."

Sopinah lega tidak menambah pengeluaran. Dia juga lega ternyata saat kencing di TKP, air seninya tak banyak, hanya mungkin beberapa tetes. Ia baru menyadari pentingnya pipis sebelum tidur.

"Mbak, di tempat situ ada apaan sih? Sering ada yang pingsan di situ nggak?"

"Di tempat Adik pingsan tadi? Itu ruang alat-alat gitu. Tapi pintu buat aksesnya dari sebelah sana."

Sopinah meminta perawat itu untuk menemaninya ke ruangan kecil tadi. Kali ini karena bersama dengan seorang perawat, dia sedikit merasa berani. Karena ketakutan bukan seperti matematika yang jika 1+1\=2 (1 orang takut + 1 orang takut \= 2 orang takut sekali), tetapi 1 orang takut + 1 orang takut \= 2 orang agak berani.

Mereka saling berpegangan tangan, tapi bukan adegan roman picisan. Sopinah merasakan tangan perawat itu dingin. Rupanya bukan hanya Sopinah yang merasa takut, perawat yang sudah terbiasa bekerja di sana pun merasa takut.

Beberapa langkah lagi mereka sampai. Belum ada tanda-tanda aroma anyir seperti tadi. Ketika sampai, Sopinah mengernyit. Tidak ada ruangan kecil di sana, hanya ada tembok.

Apa aku tadi halusinasi? Atau kenapa? Tapi aku yakin banget aku lihat di sini tuh ruangan kecil terus ... nggak usah dijelasin lagi, aku kan sampai pingsan. Masak iya aku cuma mengada-ada? (Sopinah).

"Di sini kan maksud, Adik? Tadi pingsannya di sini. Harusnya digaris pake kapur ya? Tapi nggak punya kapur sih."

Sopinah menyeringai ngeri. Dianggap apa dirinya tergeletak lalu digaris kapur?

"Mbak, aku tadi lihat di sini itu ada pintunya, terus di dalamnya itu ruangan kecil remang-rem--- Ya udah deh." Suara Sopinah terputus.

Tak ada gunanya menjelaskan jika yang tersaji di hadapannya 180 derajat berbeda dengan apa yang ia lihat tadi. Dia kini mencubiti lengannya, meyakinkan diri bahwa kini dia berada dalam mode benar-benar sadar.

"Dik, jangan cubit-cubit gitu, nanti lebam lho."

"Nggak apa-apa, Mbak. Aku mau mastiin aja kalau aku sadar sepenuhnya, udah nggak pingsan atau lagi halusinasi."

Sopinah mengambil ponsel di sakunya yang bermerk Krosing, ponsel android kelas low end. Dia memotret tembok itu.

"Krosing? Merk apa tuh, Dik? Kok saya baru lihat?" komentar sang perawat.

"Kalau merk Kros udah pernah denger, Mbak?" tanya Sopinah yang ditanggapi anggukan oleh sang perawat. "Nah, ini dulunya Kros terus ganti nama jadi Krosing. Karena jaman sekarang ke mana-mana bawa handphone bahkan toilet pun pada bawa handphone, filosofi merk ini jadinya Krosing\=Kroso Ngising, teman sejati saat mencari inspirasi di toilet."

Perawat itu manggut-manggut mendengar penjelasan Sopinah yang sungguh rinci. Ide lain muncul di benak Sopinah.

"Mbak, minta izin foto bareng ya. Ini mau aku jadiin bukti kalau aku waras."

"Jangan, Dik. Kalau udah malem gini tuh, perawat-perawat insecure karena kucel-kucel. Dah, Adik istirahat aja dulu, udah malem banget lho."

Iya juga, sedari tadi hingga larut malam begini, dirinya belum berhasil tidur, malah pingsan. Perawat itu mengantar ke kamar kemudian berpamitan.

"Selamat istirahat ya, Dik. Saya mau cek pasien ke sana."

Sopinah mengangguk. Dia lega peristiwa horor yang menimpanya telah berakhir. Namun, kembali ia disambut oleh suara dengkuran yang bersahut-sahutan.

Astaga, aku mendingan ngobrol sama mbak-mbak perawat tadi aja. (Sopinah).

Dia berdiri di depan pintu untuk menemui perawat tadi. Lama menunggu, tidak ada yang lewat. Ia pun menemui perawat 1 lagi yang duduk dan turut membangunkannya saat pingsan. Balsem Lemason juga masih ada di atas meja perawat.

"Mbak, perawat yang satunya tadi ke mana?"

Perawat itu tampak bingung. "Dari tadi saya jaga sendiri, Dik. Perawat yang tadi izin pulang duluan jam 10. Ini nunggu yang jaga shift 3."

Sopinah terkejut bukan kepalang. Mulutnya kembali menganga dengan rahang yang terasa sulit digerakkan. Kemudian dia menggeleng-gelengkan kepalanya, mencurigai yang di hadapannya apakah dia sedang bercanda atau tidak. Dan jika tidak sedang bercanda, apakah dirinya manusia atau bukan?

"Mb-mbak serius?"

"Iya, Dik."

Sopinah meneliti perawat di hadapannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sepertinya yang di hadapannya kini asli. Atau entah bila dia di-prank lagi.

"Ehm ... kalau tadi waktu saya pingsan lalu jalan ke sana, Mbak lihat, 'kan? Aku kan tadi sama temen Mbak."

"Tadi setelah Adik pingsan, Adik jalan ke tempat Adik pingsan tadi sendirian. Adik sempet motret deh kayaknya. Soalnya saya lihat Adik ngarahin handphone ke tembok terus ada lampu blitz nyala."

"Hah?!" Sopinah kembali kehilangan kesadarannya, pingsan. []

Bersambung ....

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!