NovelToon NovelToon

Menikahi Bos Mantan Suamiku

Prolog

Pernikahan yang ku kira sebuah pernikahan yang sempurna. Ternyata harus kandas ditengah jalan. Kami berpisah setelah 10 tahun bersama. Pernikahan yang mengundang decak kagum seluruh keluarga besar ku. Bagaimana tidak, Aku berasal dari keluarga sederhana, sedangkan Suamiku Arian Atmaja adalah anak orang yang terpandang. Orang tua Mas Rian adalah pemilik beberapa apotik di kota ini. Memiliki cabang di beberapa tempat.

Awalnya Mas Rian sangat menyayangiku. Dia sangat lembut dan penyayang. Dia sangat perhatian padaku. Mas Rian bekerja di perusahaan berskala internasional. Jabatan tinggi dia dapat dengan mudah,karena kecerdasan dan ketekunannya. Meski Mas Rian bisa dipastikan mewarisi usaha Ayahnya tapi dia menolak. Dia memilih mandiri.

Aku melahirkan seorang putra untuk Mas Rian ditahun pertama pernikahan kami. Dan sepasang lagi 2 tahun kemudian. Lengkap sudah kebahagian kami. Mas Rian semakin menyayangiku sejak si kembar lahir.

Berbanding terbalik dengan Ibu mertuaku, beliau malah semakin tidak menyukaiku. Entah apa sebabnya aku juga tidak tau. Meskipun di permukaan beliau menyayangiku tapi sebenarnya dia sedang menindasku. Beliau selalu menunjukan kasih sayang pada kami di hadapan orang lain. Tetapi kenyataannya, di belakang semua orang, Ibu mertuaku tidak pernah bersikap baik, hinaan, bentakan dan cacian selalu terdengar. Aku diperlakukan seperti pembantu.

Sejak kehadiran si kembar, pekerjaanku bertambah banyak. Aku mulai mengerjakan pekerjaan rumah tangga mulai subuh dan selesai malam hari. Lelah tentu saja kurasakan. Tapi aku tak berani mengeluh, aku menganggap itu sudah kewajibanku sebagai istri dan menantu. Beruntung ada Bik Sumi dan Mang Kusno yang siap sedia membantuku. Juga seorang supir yang belum lama dipekerjakan Ayah mertuaku. Sejak cucunya sekolah, Agus mulai bekerja untuk keluaga kami.

Mungkin aku bodoh, aku tak menyadari Mas Rian mulai berubah. Sering pulang malam dan sering marah marah hanya karena hal-hal sepele. Mungkin karena otaku terlalu lama berdiam, jadi kinerjanya menjadi lambat. Banyak sekali alasannya yang tidak masuk akal, namun aku hanya mengiyakan.

Hingga Melisa menunjukan perselingkuhan Mas Rian. Tentu saja dia mengelak, mana ada maling ngaku. Bukti yang di tunjukkan Melisa cukup kuat sehingga membuatku meragukan Mas Rian. Melisa tau karena selingkuhannya pelanggan salon Melisa. Puncak semuanya, ketika si kembar sakit. Mas Rian beralasan di luar kota. Namun ternyata dia bersama selingkuhanya.

Dengan kemarahan yang berkumpul di ubun-ubun, ku datangi Mas Rian yang sedang menunggu kekasih gelapnya di lobi hotel. Aku yang kebingungan dengan sakitnya si kembar sedangkan Mas Rian malah berbagi kasih dengan wanita lain. Meski si wanita tak aku jumpai tapi Mas Rian sudah tak bisa beralasan lagi. Saat itu juga aku meminta cerai darinya.

Pikiranku berkabut saat itu. Ingin kutarik lagi ucapan itu, karena aku mencintai Mas Rian. Bagaimana aku bisa hidup tanpa Mas Rian. Bagaimana masa depan anak anakku?Semoga Mas Rian minta maaf padaku sehingga kami bisa bersama lagi. Namun tak kusangka, baru dua langkah aku menjauh darinya, dia menalakku di hadapan pengunjung hotel yang menyaksikan pertengkaran kami. Kurasakan tulang dibadanku lenyap.

Melisalah yang menolongku waktu itu. Dia malaikat bagiku. Selalu ada saat aķu membutuhkan bantuan. Dia sahabatku satu satunya.

Sejak Mas Rian menjatuhkan talak padaku, aku kembali ke rumah orangtuaku. Bersama ketiga anakku. Ayah Mertuaku marah saat Mas Rian tidak mencegahku pergi membawa anak anak. Ayah berharap anak anak tetap dalam asuhan Mas Rian.

Di rumah sederhana tempatku tumbuh dari kecil hingga dewasa, rumah yang selalu di penuhi kehangatan. Tak bisa ku ceritakan betapa kaget dan terpukulnya kedua orang tuaku, saat aku dan ketiga anakku, turun dari sebuah angkot, membawa beberapa pakaian tanpa membawa apa-apa. 10 tahun kebersamaan yang sia-sia, Ayah sangat marah, hingga beliau ingin meminta penjelasan kepada menantunya. Namun, akhirnya bisa ku redam amarahnya. Ibu, tak ada seorang ibu yang tidak menangis melihat biduk rumah tangga putrinya harus kandas di tengah jalan. Mengenai apa penyebab perceraian kami, aku memilih jujur kepada mereka. Meski karena itu, amarah mereka berdua kembali tersulut.

Di sanalah aku memulai hidupku yang baru bersama anak-anakku. Mencari pekerjaan demi hidup kami yang lebih baik. Sidang demi sidang berlalu dan akhirnya kami resmi bercerai, seiring ketukan palu hakim, kami bukan lagi suami istri. Mas Rian sama sekali tidak menyapa atau sekedar melirikku, kami seolah tidak saling mengenal satu sama lain. Hanya saja, dia membuat pernyataan bahwa dia tidak akan menelantarkan anak kami, Mas Rian akan tetap menafkahi kami.

Bulan pertama usai kami bercerai, aku sudah seperti orang yang kurang waras, Setiap hari menangis dan termenung. Mencoba merenungi apa kekuranganku. Jika hanya masalah berat badanku yang berlebih, aku bisa menurunkannya. Jika karena aku tidak cantik, aku akan mengusahakannya. Apapun yang bersifat jasmani, bisa di ubah, aku bisa mengusahakannya. Pemikiran ini yang membuatku semakin minder dan takut.

Bulan ke dua, aku sudah tidak lagi menangis, secara terang-terangan paling tidak. Aku mulai menata hidupku lagi. Perlahan aku bangkit, bangkit dari keterpurukan. Aku masih suka termenung, namun, sekarang lebih ke bagaimana aku harus menjalani hidupku ke depan. Aku mulai cari-cari pekerjaan, ikut-ikutan beberapa tetangga yang bergabung dengan ojek online. Dan, di situlah aku mulai merangkak menjalani hidupku yang keras.

Perlahan, aku mulai bisa melupakan Mas Rian, aku hanya perlu menyibukkan diri, mengalihkan perhatianku pada pekerjaan. Terlebih sejak aku kenal, Nek Mina. Aku lebih banyak mengenal orang, yang hidup lebih keras daripada hidupku. Mendapat petuah dan pengalaman yang membuatku membuka mata, perpisahan bukan akhir, tetapi awal. Awal kisah baru, awal kehidupan baru.

Perlahan, Kira yang lama, Kira yang lemah dan bodoh, lahir kembali, melalui abu perceraian, menjadi Kira yang kuat, dan lebih ceria. Untuk bodoh, itu aku tidak bisa menilai, kadang aku tidak lebih pintar dari Excel, anak sulungku. Jika Mas Rian bisa melupakan aku, aku juga bisa. Tanpa Mas Rian, aku bisa menikmati hidup, selayaknya manusia.

Beberapa kali aku berjumpa dengan Ibu mertuaku, namun sepertinya, beliau enggan membalas sapaanku, mengabaikan aku, tapi itu membuatku mengerti, Ibu memang sengaja membuatku sibuk, agar aku mengeluh dan dia punya alasan untuk menendangku dari rumahnya. Ibu mertuaku yang sangat irit, jika pelit terlalu kejam. Ibu mertuaku yang teliti, jika tidak mau ku bilang perhitungan. Ibu dan Nenek yang suka menghardik, merendahkan dan mengagungkan kekayaan.

Satu lagi yang membuatku lebih bahagia, semua baju dan celanaku terasa longgar. Bahkan kebesaran, semoga aku tidak kembali di bully karena terlalu kurus, seperti saat SMA. Hidup ini aneh, saat kurus ataupun gendut, aku tetap saja tidak di harapkan. Aku tertawa miris. Tapi, kini aku bertekat, tidak peduli apapun, aku hanya akan menataap masa depan. Tidak peduli gemuk atau kurus, inilah aku yang baru. Aku yang keluar dari kepompong, meski bukan kupu-kupu yang cantik, aku lah Kira yang tegar, setegar rumput yang di terpa hujan. Terlihat rapuh, tapi aku tidak akan rubuh karena tetesan air hujan.

.

.

.

Holla Readers😍😍😍 Welcome di ceritaku yang pertama😍😍😍

Aku dan hidupku

"Kira di depan berhenti dulu ya, aku mau beli susu untuk Ghea” ucap Kalina pelanggan tetapku selama setahun ini.

“Oke Lin.”jawabku.

Aku berhenti di depan supermarket yang di tunjuk Kalina. Aku menunggunya di motorku selama Kalina berbelanja. Kalina seorang karyawan sebuah perusahaan besar. Setiap pulang kantor aku lah yang menjemputnya. Entah apa alasanya, dia selalu memintaku yang mengantarkanya. Padahal dia punya mobil. Suaminya juga berkerja ditempat yang sama. Tapi karena sering lembur, Kalina memintaku menjemputnya.

Genap satu tahun aku berstatus janda. Janda 3 anak. Sekarang aku adalah pengemudi Ojol. Sebuah pekerjaan yang tidak menentu, namun hanya ini yang bisa kulakukan agar hidup kami tetap berlangsung. Selain karena pendidikanku hanya sampai SMA, aku juga tidak punya keahlian lain. Ya, selain jadi ibu rumah tangga sebelum bercerai. Mungkin selain tukang ojek pekerjaan lain yang mungkin kudapat, ya jadi Asisten rumah tangga.

Pernah beberapa kali tetanggaku menawarkan kepadaku menjadi Art di tempatnya bekerja. Tapi karena tidak bisa pulang, aku menolaknya. Aku tidak mau meninggalkan anak-anakku pada orang tuaku. Meskipun mereka tidak keberatan tapi aku merasa tidak enak hati kepada mereka. Seharusnya aku membahagiakan mereka diusia senjanya. Tapi yang ada, aku malah menambah beban mereka.

“Aku sudah selesai, Ra. Ayo jalan,"Kalina mengagetkanku.

“Siap bos," Aku memberi hormat kepada Kalina seperti seorang prajurit, dan itu membuat kami tertawa bersama.

Aku melaju lagi, membelah jalanan yang mulai di padati pengguna jalan. Bersyukur aku mempunyai pelanggan tetap seperti Kalina. Ada beberapa orang yang bisa dibilang jadi pelanggan tetapku. Selalu menggunakan jasaku. Terkadang mereka rela mengeluarkan biaya lebih jika aku sedang sepi orderan. Ada juga yang meminta teman -temannya untuk memakai jasaku. Walau aku tak pernah cerita jika aku seorang janda dengan anak 3. Mungkin mereka melihat wajahku yang menyedihkan ini kali yaa, mereka jadi iba.

“Makasih ya Ra,” Ucap Kalina. "Sayang banget besok suamiku cuti jadi ngga bisa seru seruan sama kamu Ra" Kalina memanyunkan bibirnya. Jika suami Kalina cuti, maka suaminya akan mengantar jemputnya bekerja.

Aku tersenyum. "Bisa lain kali kan Lin, masa diantar jemput suami malah manyun? Kan aneh Lin."

“Suamiku ngga asik diajak ngobrol Ra, garing, ngga kaya kalau sama kamu, bisa nyambung," Ucap Kalina.

“Ada ada aja kamu Lin, aku balik, ya! Makasih untuk hari ini, jangan lupa bintang 5 nya,” Ucapku sambil menyalakan motorku.

“Yeee, ngga perlu diingatin lagi kali, selalu bintang 5," Teriak Kalina agar aku masih bisa mendengar kata katanya.

Aku tersenyum mendengar kata-kata terakhirnya. Pelangganku selalu memberiku bintang 5. Aku bersyukur, selama ngojek aku selalu mendapat pelanggan yang baik. Ya, tidak selalu sih, kadang ada yang usil saat tau pengemudi ojolnya wanita. Pernah suatu hari, karena tahu pengemudinya wanita, dia cari-cari kesempatan untuk berbuat tidak baik, beruntung rutenya dekat, jadi aku masih selamat. Setelah kejadian itu, aku selalu menutupi penampilanku. Didukung postur tubuhku yang tinggi dan badanku yang bisa dibilang besar. Mereka tidak menyadari jika aku wanita. Bahkan sangat jarang aku menerima laki-laki sebagai pelangganku.

Selama setahun ini, aku merasa bahwa hidupku banyak berubah. Banyak sekali pelajaran yang ku dapat, dan tidak buruk juga bercerai. Dulu, aku bahkan tak sempat melihat matahari, sedang terik atau redup. Dari pekerjaan satu ke pekerjaan lain, seolah tidak berhenti.

Sekarang, ibarat burung di lepas dari sangkar, aku bebas mengepakkan sayap, meski aku hanya terbang rendah. Menikmati waktu pengganti sepuluh tahun yang hilang tanpa menyisakan apa-apa, selain luka.

*****

“Assalamualaikum."

“Waalaikumsalam," Excel menjawab salamku. Dia sedang duduk di ruang tamu untuk mengerjakan PRnya.

“Uti mana Kak?," Tanyaku pada Excel anak tertuaku. Karena rumah terasa sepi. Kuletakan tas dan melepas jaket khas ojolku.

“Uti lagi ke rumah Umi Khadijah Ma," Excel berdiri untuk menyalamiku.

“Oh, sama kembar ya, Kak?," Tanyaku lagi seraya duduk dan meraih salah satu buku sekolah Excel. Meski aku jarang membantunya untuk belajar tapi Excel yang terbilang cerdas di kelasnya, tidak menemukan kesulitan berarti.

“Iya Mah. Kakak ambilin minum ya, Ma," Excel berjalan ke arah dapur.

“Ngga usah Kak. Mama ngga haus kok, Mama mau sama Kakak Excel saja, sini," Kutepuk tepuk sofa yang sudah usang itu, mengisyaratkan kepada Excel untuk kembali duduk.

Excel berbalik lalu duduk di sofa sebelahku. "Mama capek ya?."

“Ngga kok, Mama ngga capek," Aku tidak mau membuat Excel mengkhawatirkan aku, dia pendiam tapi dia sangat peka dan perhatian kepadaku dan adik-adiknya. Aku membelai kepala putra sulungku itu. Dia adalah replika Papanya. Aku hanya berdoa semoga dia tidak mewarisi sifat buruk Papanya.

“Gimana sekolahnya, Kak?," Tanyaku lagi.

“Biasa aja Ma,” jawab Excel. ”Excel belum menemukan kesulitan," Wajahnya yang datar membuatnya tampak menggemaskan.

“Anak Mama memang hebat.” Aku mengangkat ibu jariku kearahnya. Memberinya penghargaan untuknya meski tidak bisa lagi memberinya mainan atau benda lain, itu bisa mendongkrak semangatnya untuk lebih baik lagi.

Excel tertawa melihatku," Mama bisa saja, biasa aja kali Ma."

“Mama ke kamar dulu ya, Nak. Mau mandi, badan Mama lengket semua," Aku mengecup pucuk kepala putraku sebelum bangkit dari kursi lalu menuju kamar dan mandi.

Ruangan yang kusebut kamar itu berukuran 3x3, kutata sedemikian rupa agar muat untuk kutempati bersama anak anaku. Ranjang bertingkat seperti asrama menjadi tempat tidur anak anakku. Aku membelinya saat kami pindah kesini. Sedangkan aku memilih tidur di kasur lamaku. Meskipun tak senyaman rumah mertuaku yang fasilitasnya lengkap, setidaknya anakku tidak mengeluh sama sekali. Aku bersyukur memiliki anak yang pengertian dan tidak banyak menuntut.

Meski di rumah mertuaku, kami juga hidup sederhana, tetapi, di sana kami memiliki segalanya kecuali kasih sayang. Kami hidup bersama tapi terasing, kami berkumpul tapi tersisih. Terkadang aku berfikir, apa aku dan Mas Rian benar saling mencintai? Kami bersama tapi kami seperti orang lain. Tahun-tahun terakhir kami bersama, adalah neraka. Tiada hari tanpa keributan, berteriak dan memaki. Ku rasa, kami tidak benar-benar saling mencintai, hanya aku saja, dan dia dengan mudah mendua. Tidak, dia tidak mencintai kami, dia lelaki yang mudah mengingkari.

Setelah mandi, aku ke dapur untuk memasak makan malam. Ayam goreng, tumis kangkung dan sambel adalah menuku malam ini. Menu yang selalu dibuat dalam porsi besar. Sejak kehadiranku kami jadi keluarga besar. Tak perlu waktu lama untuk menyiapkan semua itu. Sehingga sebelum magrib semua sudah tersaji di meja makan. Tinggal menunggu semua berkumpul dan makan malam sederhana bersama. Kami yang selalu tertawa, bercanda, ku rasa, itulah keluarga.

Kegelisahan

Ibu dan kembar tiba dirumah sesaat setelah masakanku siap. Ayahku belum pulang bekerja. Mungkin beliau sedang banyak pasien dibengkel tempatnya bekerja. Nina, adikku juga belum pulang kerja. Dia bekerja di sebuah perusahaan.

Kami makan malam setelah sholat maghrib. Riuh sekali suasana makan malam di rumah ini.

“Masakan Mama memang paling top," Jenny mengacungkan jempolnya.

“Jadi masakan Uti ngga enak ni?" Ibuku pura pura marah.

“Masakan Uti juga paling enak sedunia," Jempol Jen beralih ke Utinya. Uti adalah panggilan untuk nenek di kampung halaman ibu dan ayahku.

“Jen kalau makan jangan sambil bicara, nanti tersedak loh," Aku memperingatkan Jen.

“Iya Ma, di sekolah Jen memang paling cerewet,” Jaden kembaran Jen.

Jen menoleh ke arah Jaden yang berada disampingnya. "Aku ngga cerewet, Je. Daren saja yang suka membuatku kesal.” Jen merengut di kursinya. "Ngajak ribut terus.”

“Kamu juga suka usilin Daren kan Jen," Jeje mendebat kembaranya.

“Kan dia yang mulai duluan, aku hanya membalas saja," Jen masih tak mau kalah.

“Udah, udah, kalian ini suka banget berantem, sih! Ayo cepat selesaikan makannya, terus sambung belajarnya, Oke!" Aku menengahi mereka yang sedari tadi membuat kupingku berdengung.

Ibu hanya geleng-geleng melihat ini. Tersungging senyum di bibir beliau.

“Ma, Excel ke kamar dulu ya, mau lanjut belajar,” Excel beranjak dari kursinya.

“Iya sayang," Aku menganggukinya.

“Jeje juga udah Ma,” Jeje bangkit dari kursinya.

“Iya sayang, hati-hati, jangan berlari,” Ucapku saat melihat Jaden yang melesat menyusul kakaknya.

Aku berdiri untuk mengemasi piring bekas makan malam. Jen tampak lesu. Mungkin ada yang sedang mengganggu pikirannya. Baru saja aku mau membuka mulut untuk bertanya pada Jen,

“Jen, kenapa ngga di habiskan makannya?” Ibuku bertanya pada Jen. Jen terlihat enggan menyelasaikan makannya.

“Jen, kenyang Ti," Jawab Jen pelan sambil menunduk. "Ti, bener ya Ti, Papa ngga sayang sama kita lagi?” Jen menatap Utinya.

“Siapa yang bilang, Papa kan lagi cari uang buat sekolahnya Jen.” Ibu memeluk cucunya itu penuh kasih sayang.

Aku hanya terpaku menatap kosong ke arah piring piring yang kukemasi. Sampai kapan aku akan membohongi Jen. Hanya Jen yang belum paham tentang perceraian Mama Papanya. Jaden mungkin tidak terlalu peduli karena sejak dia bayi, jarang sekali Papanya mau bermain dengan Jaden. Ya, Mas Rian hanya menyayangi Excel dan Jenny. Sedangkan Jaden sejak berusia 6 bulan sering sakit, sering rewel dan perkembangannya lambat.

“Kalau Papa kerja dan cari uang, kenapa Mama masih kerja juga Ti?" Tanya Jen lagi.

“Mama hanya membantu Papa Jen, kalau uangnya udah buanyak Papa akan kembali menemui Jen,” Ibuku menjelaskan pada Jen.

“Jadi biar cepet banyak dan cepet pulang gitu ya, Ti?" Cicit Jen.

“Iya Sayang, sekarang Jen belajar yang rajin biar jadi anak yang pintar," Ibu membelai wajah Jen.

“Baik Ti, Jen ke kamar dulu ya," Jen merosot dari kursinya. Lalu berlari menuju kamar.

“Mau sampai kapan kamu akan berbohong sama Jen, Ra?” Tanya Ibu saat Jen sudah menghilang dari pandangan kami.

“Aku juga ngga tau Bu. Aku ngga tau bagaimana cara mengatakan pada Jen, Bu. Mungkin biar mereka tau sendiri Bu," Aku menunduk menjawab pertanyaan ibu. Mataku terasa penuh dengan air mata.

“Ya sudah, biar semua berjalan seperti ini. Suatu saat jika Jen sudah besar maka katakanlah yang sebenarnya. Lebih baik mereka tau dari kamu Ra, daripada dari orang lain.” Ibuku berkata lembut.

“Iya Bu, pasti nanti Kira akan memberitahu anak anak Bu," Aku tersenyum menatap ibuku.

Aku memutuskan untuk ke kamar menemani anak-anak. Mereka masih berkutat dengan buku pelajarannya. Excel kelas 4 dan kembar kelas 2. Mereka sekolah di sekolah dasar dekat dengan rumahku. Sejak berpisah kuputuskan untuk pindah sekolah yang lebih dekat. Lagi pula Mas Rian tidak peduli dengan anak anaknya, kurasa.

Sejenak kutatap mereka, hatiku terasa sakit mengingat perlakuan keluarga mantan suamiku itu. Selama setahun ini tidak ada yang menyambangi anak dan cucu mereka. Hanya Bi Sumi yang selalu berkabar denganku. Dan Agus, sopir yang biasa mengantar jemput anak-anak sekolah. Menurut mereka, Ayah mertuaku saat ini sedang sakit. Sejak kepergian kami, Ayah mertuaku sangat ingin menemui cucu-cucunya, tapi ibu mertuaku melarangnya.

Kadang aku tidak bisa mengerti jalan pikiran ibu mertuaku. Kata-katanya bagaikan titah raja, harus dituruti. Beliau sangat berkeras hati akan keinginannya. Ayah yang enggan berdebat memilih mengalah. Jika tidak, rumah tangga mereka sudah berakhir sejak lama.

Berbeda dengan Mas Rian, dia mudah sekali dipengaruhi, terutama oleh ibunya. Mas Rian itu sangat patuh dengan ibunya. Bahkan untuk menikah denganku dulu Mas Rian menunggu restu dari sang ibu. Aku, hanya menurut pada Mas Rian. Dia cinta pertamaku, aku sangat mencintainya.

Tawa anak anakku membuyarkan lamunanku. Membawa kakiku berpijak lagi dimasa kini. Mungkin harus seperti ini agar mataku terbuka. Cinta akan membawa kita pada kehancuran. Bukan salah cinta seutuhnya, juga karena aku terlalu bodoh.

“Ma, Mama,” Hentakan dari Jen membuatku tersentak.

“Iya Jen, kenapa Sayang?,” Tanyaku padanya.

“Ayo tidur Ma, Jen sudah ngantuk, Jen mau di peluk Mama malam ini,” Pinta Jen. Pipi tembemnya bergerak gerak lucu seirama dengan gerakan mulutnya. Membuatnya semakin menggemaskan.

“Ayo Sayang, Mama juga sudah ngantuk,” Aku menggandeng tangan Jen. “Tapi cuci tangan dan kaki jangan lupa gosok gigi, ya."

“Iya Ma, Kak Excel, ayo temani Jen ke kamar mandi. ”Jen menghampiri Excel yang sedang mengemasi bukunya.

“Ayo Jen, sama Jeje saja, nanti Kak Excel menyusul," Jeje menarik tangan Jen. Jen menurut saja pada Jeje.

Aku mengemas meja belajar mereka. Kuletakkan perlengkapan belajar mereka pada tempatnya semula. Mereka masuk ke kamar lagi saat aku menumpuk buku-buku milik Jen. Mereka segera menempati ranjang mereka, tentu saja Jen segera memeluk leherku, menciumi seluruh wajahku. Yang membuatku membalasnya dengan gemas dengan tingkah putri semata wayangku itu.

“Jen sayang sama Mama, emuachhh,” Bisiknya ditelingaku. Sungguh aku terharu dibuatnya. Cairan bening itu kembali menumpuk di ujung mataku. Kudekap erat tubuh kecilnya, untuk menyembunyikan air mataku.

“Mama lebih sayang sama Jen,” Ku usap-usap punggungnya, agar dia cepat terlelap. Excel yang belum tidur melihat ke arahku. Dia tersenyum ke arahku, lalu tangannya membuat gerakan membentuk hati

“Exel....Mama meleleh Nak” Batinku

Kutautkan ibu jari dan telunjukku membentuk simpul Love, ku arahkan pada Excel yang langsung tersenyum dan memejamkan matanya. Sedangkan Jeje sudah mendengkur lembut sejak tadi. Kulantunkan doa menjelang tidurku. Kebahagiaan untuk anak anakku yang kupinta selalu. Hingga mataku terpejam doa dalam hatiku masih bergema.

****

Suara Azan subuh membangunkanku dari tidurku yang nyenyak. Ku renggangkan kedua tanganku ke atas kepala. Dan bersegera bangun untuk menunaikan Shalat subuh. Excel juga sudah bangun. Kami berdua saling merangkul untuk ke kamar mandi. Ayah dan Ibu sudah siap dengan perlengkapan Shalat. Nina juga terlihat keluar dari kamarnya.

Ayah, Excel dan Ibu ikut Shalat berjamaah di musala, yang letaknya tak jauh dari rumah. Usai membangunkan kembar aku segera menunaikan kewajiban 2 rakaatku bersama si kembar. Walau masih mengantuk, tapi mereka tetap melaksanakan Shalat dengan khusuk.

Segera aku memakai jaket, lalu memakai helm. Setelah ibu sampai aku segera berangkat untuk mengambil belanjaan salah seorang tetanggaku. Seorang nenek berusia 60 tahunan. Beliau seorang pemilik warung nasi padang cukup ramai. Di pagi hari aku harus berbelanja di pasar tradisional. Cukup menyerahkan catatan pada abang penjual, aku tinggal menunggu belanjaan siap lalu kuantar ke Nek Mina. Terlihat mudah bukan, tapi aku harus berkeliling ke beberapa pedagang. Ya kan yang kubeli bukan hanya sembako, tapi ikan, daging sapi, ayam dan sayuran.

.

.

.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!