NovelToon NovelToon

Black Cat

Bab 1: Peluang Baru dan Ketidaksengajaan

Pagi itu, udara segar menyambut langkah seorang wanita muda bernama Luxia Deana. Usianya sudah menginjak 26 tahun, dan meskipun hidupnya belum sempurna, ia selalu menyikapinya dengan semangat dan senyum ceria. Rambutnya yang pendek di atas bahu, selalu terlihat rapi meski tampak sedikit acak-acakan akibat kesibukannya. Kepribadiannya yang periang membuat siapa pun yang berinteraksi dengannya merasa nyaman. Namun, di balik kebahagiaannya, ada satu hal yang terus mengganjal di hatinya—keinginannya untuk merubah nasib.

Luxia adalah seorang wanita yang tumbuh tanpa keluarga. Sejak kecil, ia hanya punya nenek yang membesarkannya dengan penuh kasih. Setelah neneknya meninggal, Luxia tinggal sendirian di sebuah rumah sederhana yang diwariskan oleh neneknya. Meskipun hidupnya serba terbatas, ia tetap berusaha menjalani hari-hari dengan senyum. Namun, seiring waktu, ia merasa seperti hidupnya terhenti di tempat yang sama. Tidak ada lagi kemajuan. Dan kini, saat kesempatan itu datang, ia tak ingin membiarkannya berlalu begitu saja.

Hari itu, ia tengah mempersiapkan diri untuk melamar pekerjaan di perusahaan besar yang iklannya ia temukan beberapa hari lalu. Meskipun hanya lulusan SMA, tekadnya bulat untuk membuktikan bahwa dirinya lebih dari cukup untuk pekerjaan itu. Luxia percaya, kesempatan adalah hal yang sangat berharga, dan ia tak ingin menyia-nyiakannya.

---

Saat ia berjalan cepat menuju lokasi wawancara, langkahnya sedikit tertatih, bukan karena lelah, tetapi karena kegugupan yang mulai menggerogoti. Di sepanjang jalan, ia menatap layar ponselnya, memastikan bahwa semua dokumen lamaran sudah lengkap. Ia melangkah dengan penuh semangat, bertekad untuk tidak melupakan apapun, meski ada sedikit keraguan yang menghantuinya. "Aku bisa melakukannya," bisiknya pelan.

----

Namun, dalam perjalanan itu, sesuatu yang tak terduga terjadi.

Sebuah suara terdengar ketika Luxia tidak sengaja menabrak seseorang di depan sebuah kafe. Ia terpaku sejenak, terkejut, dan ketika ia menatap ke arah orang yang baru saja ia tabrak, ia melihat seorang pria muda yang memegang secangkir kopi panas. Kopinya tumpah mengenai jaket pria tersebut.

"Oh! Maafkan saya!" seru Luxia, terburu-buru untuk meminta maaf. Namun, karena terlalu panik dan terburu-buru, ia tidak sempat meminta maaf lebih banyak lagi. "Saya benar-benar minta maaf, saya harus pergi sekarang!" katanya tergesa-gesa sambil berbalik menuju tujuan yang sudah ada di depan matanya dengan berlari.

Pria itu tampak kebingungan, memandang Luxia yang sudah berlari pergi tanpa menyadari ketidaksengajaan yang baru saja terjadi. Namun, Luxia merasa cemas, bahkan sedikit takut. Dia tidak ingin terlambat ke tempat wawancara. Ia menyembunyikan perasaan gelisahnya, berusaha untuk tetap tenang.

---

Sesampainya di gedung perusahaan besar tempat wawancara itu akan berlangsung, Luxia berhenti sejenak untuk mengambil napas dalam-dalam. Gedung itu terlihat sangat megah, dan ia tak bisa menyembunyikan perasaan kagumnya. Di luar gedung, tampak orang-orang lain yang juga datang untuk melamar pekerjaan. Beberapa terlihat rapi dan profesional, sementara Luxia hanya mengenakan celana jeans dan kemeja lengan panjang yang sedikit kusut. Ia merasa dirinya sangat sederhana dibandingkan mereka yang sudah lebih berpengalaman.

"Aku bisa melakukannya," ulangnya dalam hati. Ini adalah kesempatan besar untuknya. Ia tidak akan membiarkannya lewat begitu saja.

Luxia mengantre dengan hati yang berdebar, menunggu gilirannya untuk memasuki ruang wawancara. Beberapa menit kemudian, ia dipanggil. Jantungnya berdegup kencang ketika ia melangkah masuk ke dalam ruangan wawancara.

Di meja besar yang ada di ruangan itu, duduk seorang pria muda yang tampaknya sangat sibuk. Ia menatap Luxia dengan tatapan yang tajam dan serius. Meskipun ia tidak tahu siapa pria itu, Luxia merasa sedikit cemas. "Nama saya Luxia Deana," ucapnya dengan suara yang sedikit gemetar. "Saya datang untuk melamar pekerjaan di perusahaan ini."

Pria muda itu menatapnya sejenak, seakan mengamati Luxia dari ujung rambut hingga ujung kaki. Beberapa detik kemudian, ia membuka berkas yang ada di depannya, memeriksa dokumen yang Luxia serahkan.

Namun, di balik tatapannya yang serius, pria itu tiba-tiba tersenyum kecil, mengenali wajah Luxia. Ini dia, pikirnya. Wajah yang tadi pagi dengan tergesa-gesa menabrak bosnya, dan kini ia berdiri di hadapannya, mencoba untuk mendapatkan pekerjaan. Dalam sekejap, kenangan itu kembali hadir dalam ingatannya.

Lelaki muda itu menghela napas sejenak. Ada rasa geli yang muncul dalam dirinya, tak bisa menahan sedikit tawa. Namun, di balik rasa ingin membalas kejadian tadi pagi, ia merasa sedikit kagum dengan tekad Luxia yang meskipun hanya lulusan SMA, tetap berusaha melangkah menuju impian besar.

"Baiklah," kata pria itu, akhirnya memecah keheningan. "Kami akan menghubungi Anda jika Anda terpilih untuk melanjutkan ke tahap berikutnya," jawabnya dengan nada yang profesional, meski senyum tipis masih terlihat di sudut bibirnya.

Luxia keluar dari ruangan wawancara dengan sedikit kecewa, namun ia berusaha menenangkan dirinya. “Tidak masalah. Yang penting aku sudah mencoba,” katanya dalam hati. Meskipun ia merasa sedikit ragu, ia tahu bahwa peluang ini adalah awal dari perubahan besar dalam hidupnya.

---

Di ruang lain, di dalam gedung yang sama, Lacky Blackm duduk dengan santai, membaca beberapa berkas lamaran karyawan baru yang ia terima. Sebagai presiden perusahaan besar itu, ia biasanya tidak terlalu peduli dengan hal-hal kecil, namun hari ini agak berbeda. Ada banyak pelamar yang cukup menarik untuk dipertimbangkan. Ketika ia membuka berkas yang baru saja diberikan oleh asistennya, matanya tertuju pada foto yang ada di dalamnya.

"Wah, ini wanita yang tadi pagi..." gumamnya dengan tawa kecil. Ia mengenali wajah Luxia dengan jelas—wanita yang tadi menabraknya di jalan. Ia mengingat betul kejadian itu, di mana ia merasa sedikit terganggu oleh sikap terburu-buru Luxia. Namun, kini melihatnya datang melamar di perusahaannya, ada rasa terhibur yang muncul. Ia tersenyum sedikit, berpikir sejenak.

"Apa aku harus memberinya kesempatan?" pikirnya, sambil membaca berkas Luxia lebih teliti. Di sisi lain, ia merasa geli, karena mengetahui bahwa Luxia bukan lulusan dari universitas bergengsi, namun tekad dan keinginan kuatnya untuk maju justru membuatnya tertarik.

"Ah, kenapa tidak," ia berkata pada dirinya sendiri. "Aku akan memberinya kesempatan, meskipun... dia hanya lulusan SMA." Dengan senyum tipis di wajahnya, Lacky memutuskan untuk menerima Luxia, mungkin sebagai cara untuk sedikit meluapkan kekesalannya di pagi hari.

"Siapa tahu, dia bisa menjadi karyawan yang luar biasa," pikirnya sambil melanjutkan membaca berkas lainnya. Keputusan itu sudah diambil—dan mungkin, dalam perjalanan hidup mereka yang tak terduga, ini adalah awal dari sesuatu yang lebih besar.

----

Lacky Blackm, meskipun terlahir dengan segala kemewahan sebagai anak bungsu dari keluarga konglomerat, tak pernah benar-benar merasa tertarik dengan dunia bisnis yang dijalankannya. Sejak kecil, ia sudah terbiasa dengan segala kenyamanan hidup yang disediakan oleh orang tuanya, terutama ayahnya yang merupakan seorang pengusaha sukses. Ayahnya selalu menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya, dan menganggap bisnis keluarga harus diteruskan oleh keturunan yang tepat. Tapi bagi Lacky, dunia bisnis itu lebih terasa seperti beban daripada sebuah peluang.

Sebagai anak bungsu, Lacky tumbuh dalam bayang-bayang kakak-kakaknya yang lebih ambisius dan bekerja keras untuk mencapai kesuksesan. Sementara itu, Lacky selalu merasa lebih santai, menikmati hidup tanpa terlalu memikirkan tanggung jawab besar yang menanti di depannya. Ia lebih suka menghabiskan waktu dengan hobinya yang jauh dari dunia perusahaan—membaca buku, bermain, atau bahkan hanya bersantai di kedai kopi favoritnya.

Namun, sejak ayahnya mulai menuntut agar ia lebih serius dalam menjalankan perusahaan keluarga, Lacky merasa terpaksa untuk terjun ke dalamnya. Ayahnya, yang selalu memandang bisnis keluarga sebagai hal yang sangat penting, tidak memberikan ruang bagi Lacky untuk bersantai atau mengejar mimpi pribadi. Baginya, tugasnya sebagai anak bungsu adalah untuk memastikan kelangsungan bisnis yang sudah dibangun dengan susah payah oleh ayahnya.

Meskipun Lacky memiliki segalanya—harta, fasilitas, dan akses ke dunia bisnis yang luas—ia merasa hampa. Tidak ada gairah atau semangat untuk mengejar tujuan besar dalam hidup. Ia melakukannya hanya karena itu adalah kewajibannya, bukan karena hasrat atau impian pribadi. Setiap kali berada di ruang rapat, ia merasa seperti berada di tempat yang salah. Keputusan-keputusan besar yang ia buat terasa seperti beban yang harus dihadapi, bukan peluang untuk berkembang.

Namun, meskipun Lacky terlihat malas dan acuh tak acuh terhadap perusahaan, ada satu hal yang menarik minatnya—permainan. Dunia bisnis baginya bukanlah tentang visi atau misi perusahaan, melainkan tentang strategi dan permainan psikologis. Ia tidak begitu peduli dengan keberhasilan atau kegagalan, tetapi lebih kepada bagaimana ia bisa memenangkan setiap permainan yang ia ciptakan dalam interaksi dengan orang lain, terutama para karyawan yang harus ia pimpin. Dan ini adalah alasan mengapa ia mulai merasa tertarik dengan Luxia.

Luxia adalah tantangan yang menarik baginya, meskipun dia merasa sedikit geli dan terganggu dengan insiden tumpahan kopi pagi itu. Bagi Lacky, ini lebih dari sekadar kesalahan kecil—ini adalah kesempatan untuk menguji seseorang yang berbeda dari orang-orang yang biasa ia hadapi. Meskipun Luxia hanya lulusan SMA, tekad dan semangatnya yang terlihat begitu kuat bisa menjadi bahan permainan yang menarik. Ia tidak berniat memberikan Luxia kesempatan karena empati, melainkan karena merasa itu bisa menjadi cara untuk mengisi waktu dan mungkin mengalihkan perhatian dari rutinitasnya yang membosankan.

Dalam hatinya, Lacky tahu bahwa ia tidak punya banyak gairah untuk menjalankan perusahaan, namun ia merasa terjebak dalam peran yang diberikan padanya. Di sisi lain, permainan ini—menguji dan mungkin sedikit mengelabui Luxia—adalah cara bagi Lacky untuk menemukan kegembiraan dalam dunia yang ia anggap membosankan. Seiring berjalannya waktu, meskipun ia mulai merencanakan hal-hal kecil untuk "balas dendam", ia juga mulai merasakan ada ketertarikan lain yang tak terduga pada Luxia.

Namun, sampai saat itu, Lacky hanya ingin menikmati permainan yang ia buat—mengendalikan situasi di mana Luxia, dengan segala tekadnya yang tulus, bisa menjadi bagian dari dinamika yang lebih besar, yang mungkin hanya ia pahami.

Bersambung...

Bab 2: Tes Tak Terduga dan Dunia Baru

Setelah beberapa hari penuh dengan kecemasan, akhirnya Luxia menerima panggilan yang mengubah hidupnya. Suara di ujung telepon mengabarkan bahwa ia diterima untuk tahap berikutnya di PT. Blackm Meow. Namun, tak lama setelah pengumuman itu, sebuah tes keterampilan diminta untuk dilaksanakan. Luxia merasa cemas namun juga antusias. Ini adalah kesempatan yang ia tunggu-tunggu.

---

Pagi itu, Luxia kembali menuju gedung besar yang mengesankan itu, kali ini lebih percaya diri meski sedikit gugup. Sesampainya di ruang pengujian, ia disambut oleh seorang pria muda yang menuntunnya ke ruang dapur. "Selamat datang, Luxia. Hari ini, kami ingin melihat kemampuan memasak Anda. Kami percaya Anda memiliki keahlian ini," katanya sambil menunjukkan berbagai bahan makanan yang tersedia.

Luxia terkejut, meskipun dia tidak tahu apa yang akan diuji, ia merasa sedikit lega. Memasak adalah keahliannya, terutama nasi goreng yang sudah menjadi hidangan andalannya sejak kecil. Tanpa ragu, ia mulai menyiapkan bahan-bahan dengan penuh keyakinan.

Di tengah proses memasak, ketenangan Luxia terjaga. Gerakannya lincah dan terampil, mencampurkan bahan-bahan dengan kecepatan yang pas, dan memastikan rasa nasi gorengnya sempurna. Aroma dari wajan yang sedang ditumis pun memenuhi ruangan, mengundang perhatian orang yang ada di sekitarnya.

Beberapa menit kemudian, nasi goreng pun siap. Luxia menyajikan hidangan tersebut dengan penuh percaya diri. "Ini dia, nasi goreng ala saya," katanya dengan senyum.

Pria muda yang mengujinya mencicipi nasi goreng itu dengan seksama, dan seketika wajahnya berubah. "Ini... luar biasa," ujarnya, terkejut dengan kualitas rasa yang sederhana namun begitu enak. "Tidak buruk sama sekali. Kamu bisa memasak dengan sangat baik."

Luxia merasa sedikit lega, meskipun hatinya masih diliputi keraguan. Namun, tidak lama setelah itu, pintu ruang dapur terbuka dengan keras. Seorang pria muda yang tampaknya sangat berwibawa masuk ke dalam ruangan. Kehadirannya langsung menarik perhatian semua orang di sekitarnya, dan pria muda itu langsung berbicara dengan nada tinggi.

"Tunggu dulu, aku belum mencobanya!" kata pria itu dengan nada tegas, tidak memberi kesempatan bagi siapa pun untuk berbicara. Semua mata tertuju padanya, dan Luxia pun merasa terkejut.

Tiba-tiba, pria itu melangkah lebih dekat ke meja, langsung menatap nasi goreng yang baru saja disajikan. "Aku tidak suka nasi goreng," katanya dengan nada sedikit tinggi. "Aku ingin kamu masak daging yang enak. Sesuatu yang bisa menunjukkan kemampuanmu lebih dari itu."

Luxia merasa bingung, bahkan sedikit terpojok. "S-saya... baiklah," jawabnya terbata-bata, mencoba mengatur pikirannya. Ia baru saja merasa yakin, namun tuntutan baru ini membuatnya sedikit ragu.

Namun, yang membuatnya lebih terkejut adalah ekspresi penguji pria muda yang sebelumnya mendampinginya. Wajahnya tiba-tiba terlihat cemas, bahkan sedikit takut. Sepertinya, dia merasa terhimpit antara kewajiban dan situasi yang mendadak ini. Seolah-olah pria yang baru saja masuk ke ruangan itu adalah seseorang yang sangat penting—bahkan lebih dari sekadar penguji biasa.

Saat pria itu menatap Luxia dengan tajam, Luxia tiba-tiba merasakan sesuatu yang familiar di wajahnya. Ada sesuatu yang mengingatkannya. Perlahan, kenangan akan wajah itu muncul dalam ingatannya—pria yang baru saja memasuki ruangan itu adalah orang yang ia tabrak saat terburu-buru pergi ke perusahaan ini.

Luxia membelalakkan mata, sedikit bingung. Pria itu... apakah dia...? Ya, sepertinya benar. Wajahnya tidak bisa salah. Pria itu adalah Lacky Blackm, presiden PT. Blackm Meow. Kejadian itu semakin jelas dalam benaknya, dan ia mulai merasa sedikit cemas. Dia tak bisa memungkiri, pria ini tampaknya memiliki kekuasaan penuh di perusahaan ini pikirnya.

"Apa kamu tidak tahu siapa saya?" tanya Lacky Blackm, menyadari bahwa Luxia terdiam, tampak kaget. "Aku Lacky Blackm. Aku presiden di sini," lanjutnya dengan nada yang tidak bisa ditawar lagi.

Luxia terkejut, tubuhnya terasa kaku mendengar pernyataan tersebut. Tentu saja dia tahu siapa Lacky Blackm, meskipun sebelumnya ia tak menyangka akan bertemu langsung dengan presiden perusahaan di tengah tes keterampilannya. Momen ini terasa sangat luar biasa baginya.

Penguji sebelumnya yang berdiri di samping mereka, terlihat semakin cemas dan tidak tahu harus berkata apa. Wajahnya tampaknya sedikit takut, menundukkan pandangannya. Semua orang tahu bahwa Lacky Blackm adalah sosok yang sulit ditebak dan terkenal keras di perusahaan ini. Bahkan, di kalangan karyawan, tak banyak yang berani berurusan langsung dengan presiden.

Lacky menatap Luxia sejenak dengan sorot mata tajam, yang kemudian beralih ke penguji yang terlihat semakin gelisah. "Aku ingin melihat lebih dari sekadar nasi goreng. Coba tunjukkan keahlianmu dalam masakan daging. Aku ingin tahu apa yang kamu bisa lakukan di dapur," tegasnya, memecah keheningan.

Luxia mengangguk cepat. "Baik Pak, saya akan coba," jawabnya, mencoba menenangkan dirinya.

Lacky hanya tersenyum tipis, menilai reaksinya. "Pastikan kamu bisa membuat sesuatu yang luar biasa," ujarnya, memberi perintah yang jelas, meskipun ada sedikit rasa ingin tahu di balik tatapannya yang tajam.

Luxia, meskipun sempat terkejut dan ragu, merasa semakin mantap untuk membuktikan kemampuannya. Dapur adalah dunia yang ia kenal baik. Jika ini adalah ujian yang lebih berat, ia akan menghadapinya dengan tekad yang sama. Ia mulai menyiapkan bahan untuk hidangan daging yang diminta, mencoba fokus pada apa yang harus ia lakukan.

Dalam hati, Luxia berpikir, Ini bukan hanya soal makanan. Ini adalah peluang untukku. Aku tidak bisa membiarkan kesempatan ini lewat begitu saja.

Dengan keahlian yang ia miliki, dan kepercayaan pada dirinya sendiri, ia melangkah maju. Kini, di hadapan Lacky Blackm, bukan hanya kemampuannya yang diuji, tetapi juga masa depannya di PT. Blackm Meow yang akan ditentukan, ya meskipun ia juga takut atas apa dengan kesalahannya waktu itu.

---

Dengan hanya sepuluh menit lebih, Luxia bekerja dengan penuh konsentrasi, berusaha menyiapkan hidangan yang diminta oleh Lacky. Waktu terasa sangat singkat, namun ia tahu ini adalah kesempatan besar. Ia mengambil daging ayam yang ada di meja, memotongnya dengan hati-hati, dan mengolahnya dengan bumbu sederhana yang ia yakin bisa menghasilkan rasa yang enak. Ia memadukan teknik memasak yang telah ia pelajari selama bertahun-tahun, menyiapkan ayam dengan rempah yang seimbang.

Aroma dari ayam yang sedang dimasak mulai memenuhi ruangan, dan Luxia bisa merasakan jantungnya berdebar kencang. Dia tidak pernah merasa setegang ini sebelumnya, apalagi dengan sosok besar seperti Lacky yang sedang mengamatinya.

Setelah sepuluh menit berlalu, Luxia menyajikan hidangan ayam yang sederhana namun penuh rasa, disertai sedikit garnish yang membuatnya terlihat lebih menarik. "Ini dia, masakan saya," ujarnya, berusaha tampil tenang meskipun dalam hati penuh keraguan dan ketakutan.

Lacky, yang sejak tadi mengawasi dengan tatapan tajam, mencicipi daging ayam itu dengan hati-hati. Seketika, ekspresi wajahnya berubah. Ia mengunyah dengan serius, menilai rasa dengan cermat. Meskipun ia sangat menikmati rasa ayam yang begitu sederhana namun menggugah selera, ia tetap berusaha menjaga wibawanya.

"Lumayan," kata Lacky dengan nada datar, mencoba tidak memperlihatkan ketertarikannya yang sebenarnya. Ia menatap Luxia sejenak, lalu berdiri dan melangkah pergi. "Silakan lanjutkan tesnya," tambahnya sambil berbalik, berjalan keluar dari ruang dapur dengan langkah santai.

Luxia terdiam di tempatnya, sedikit terkejut dengan reaksi Lacky. Meskipun dia mengucapkan kata "lumayan," ada perasaan puas dalam diri Luxia karena tahu dia berhasil membuat sesuatu yang bisa menyentuh selera orang yang sangat sulit dipuaskan. Namun, tidak ada waktu untuk merasa bangga. Ia tahu ujian ini belum berakhir, dan ia harus tetap fokus.

---

Sementara itu, setelah keluar dari ruang dapur, Lacky langsung menuju ruangan pribadinya. Begitu memasuki ruangannya, pintu tertutup rapat di belakangnya, dan ekspresinya langsung berubah drastis. Di dalam kesendirian itu, ia tidak bisa menahan perasaannya lagi.

"Astaga... rasanya luar biasa!" gumam Lacky dengan nada terbata, terengah-engah seperti seseorang yang baru saja disergap kenikmatan luar biasa. "Ini... ini bahkan lebih enak dari yang aku bayangkan."

Dalam sekejap, sosok tampaknya berubah. Lacky yang biasanya terlihat tegas dan penuh kendali, kini tampak seperti orang yang terjebak dalam kegembiraan tanpa batas. Ia terus bergumam sambil berjalan mondar-mandir di ruangan, tampak seperti orang gila yang sedang merayakan penemuan rasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

"Aku ingin lagi memakannya! Cepat!" teriaknya, hampir seperti anak kecil yang tidak sabar menunggu camilan favoritnya. Dengan tangan yang gemetar, ia meraih ponselnya dan mulai mengetik pesan ke penguji yang tadi mengawasi Luxia, memintanya untuk segera membawa lebih banyak dari hidangan itu.

Namun, meskipun ia tampak seperti orang yang sangat menikmati masakan itu, Lacky cepat sadar akan sikapnya yang sedikit berlebihan. Ia kembali duduk, mencoba meredakan kegembiraannya, menyadari bahwa ia harus tetap menjaga citra diri dan profesionalismenya. Tapi, di dalam dirinya, perasaan puas dan ingin lebih itu tetap menggerogoti.

Penguji yang sebelumnya datang membawakan daging tadi yang sebelumnya belum Lacky habiskan keruangan pribadi presiden, atas permintaan Lacky sebelumnya. Setelah penguji itu pergi jauh meninggalkan ruangan itu.

---

"Ini benar-benar... luar biasa," ucap Lacky dengan suara pelan, sambil menatap piring kosong yang ada di mejanya. "Luxia... wanita ini benar-benar menarik perhatian."

Senyum tipis muncul di wajahnya. Meskipun ia tidak ingin mengakui secara terbuka, ia merasa terkesan dengan masakan sederhana namun begitu enak yang berhasil disiapkan oleh Luxia. Ia mengusap wajahnya, mencoba mengembalikan dirinya ke dalam keadaan normal, meskipun dalam hatinya, ia tahu bahwa kehadiran Luxia di perusahaan ini bisa menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar ujian masakan.

---

Sementara itu, di dapur, Luxia melanjutkan tesnya dengan cemas, namun juga dengan sedikit rasa lega. Dia telah berhasil melewati bagian pertama dengan baik. Kini, ia tahu bahwa perjalanan ini masih panjang. Namun, ia tak bisa menahan rasa penasaran yang menyelimuti hatinya—apakah keberhasilannya dalam memasak benar-benar memberikan kesempatan besar untuknya di PT. Blackm Meow ini?

Bersambung...

Bab 3: Ujian Terakhir dan Keputusan Rahasia

Bab 3: Ujian Terakhir dan Keputusan Rahasia

Luxia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan pikirannya setelah ujian memasak yang mendebarkan tadi. Kini, ia duduk di sebuah ruangan berbeda, berhadapan dengan seorang pewawancara yang terlihat lebih senior dari penguji sebelumnya. Pria itu berwajah tenang, tetapi tatapan matanya tajam, seolah bisa membaca isi hati seseorang hanya dengan melihat ekspresi mereka.

"Baik, Luxia," pria itu memulai, sambil melihat berkas di tangannya. "Kita akan melanjutkan ke tahap terakhir. Tes ini tidak lagi tentang keahlian teknis, tetapi lebih kepada niat dan semangat kerjamu."

Luxia mengangguk pelan. Ia sudah menduga akan ada bagian seperti ini dalam proses seleksi.

"Kenapa kamu melamar ke PT. Blackm Meow?" tanya pewawancara itu dengan nada serius.

Luxia berpikir sejenak sebelum menjawab. "Saya ingin bekerja di sini karena saya merasa perusahaan ini adalah tempat yang tepat bagi saya untuk berkembang. Saya menyukai tantangan, dan saya ingin menjadi bagian dari sesuatu yang besar."

Pewawancara itu menatapnya sejenak, lalu mengajukan pertanyaan berikutnya. "Jujur saja, apakah kamu bekerja hanya demi gaji yang besar?"

Luxia sedikit terkejut dengan pertanyaan langsung itu, tetapi ia segera menjawab dengan yakin. "Saya butuh pekerjaan, tentu saja gaji adalah faktor penting. Namun, bukan hanya itu alasan saya. Saya ingin bekerja di tempat yang bisa menghargai kemampuan saya dan memberi saya kesempatan untuk belajar lebih banyak."

Pria itu mengangguk, tampaknya cukup puas dengan jawaban tersebut.

"Tapi bekerja di sini tidak akan mudah. Kami tidak mencari orang yang hanya ingin bertahan sebentar lalu pergi. Apa kamu yakin bisa berkomitmen?" tanyanya lagi.

Luxia menatapnya dengan penuh keyakinan. "Saya tidak akan membuang kesempatan yang telah saya perjuangkan sejauh ini. Saya ingin membuktikan bahwa saya pantas berada di sini."

Senyum kecil muncul di wajah pewawancara itu. Namun, sebelum ia bisa mengatakan sesuatu lagi, ponselnya berbunyi pelan. Ia melihat layar sebentar, lalu ekspresinya sedikit berubah.

Pesan itu berasal dari Lacky Blackm.

> "Luluskan saja Luxia. Jadikan dia koki perusahaan."

Pewawancara itu menatap layar ponselnya cukup lama sebelum akhirnya tersenyum tipis. Ia tidak tahu apa alasan sebenarnya di balik perintah ini—apakah murni karena keahlian Luxia atau ada faktor lain? Tapi yang pasti, ia sendiri pun mengakui bahwa masakan Luxia tadi memang luar biasa, penguji sebelumnya memberikan beberapa masakan dari Luxia kepadanya juga.

Namun, ia tetap harus menjalankan tes ini dengan adil. Tidak bisa terlihat seolah Luxia mendapat perlakuan istimewa.

"Baiklah, Luxia. Itu saja pertanyaan dari saya," katanya, menutup berkasnya. "Kami akan memberi tahu hasilnya nanti."

Luxia mengangguk, merasa lega karena sudah melewati tahap ini. Namun, di dalam benaknya, ia tetap bertanya-tanya—apakah ia benar-benar sudah cukup memenuhi syarat?

Sementara itu, di ruangannya, Lacky Blackm duduk dengan ekspresi gelisah. Ia mencoba mengalihkan pikirannya ke pekerjaan, tetapi tetap saja, bayangan rasa ayam yang dimasak oleh Luxia masih melekat di pikirannya.

"Sial... aku benar-benar ingin makannya lagi," gumamnya pelan.

Namun, ia tahu tidak bisa bertindak gegabah. Jika ia tiba-tiba meminta lebih banyak makanan dari Luxia, itu akan terlihat mencurigakan. Jadi, ia harus bersabar.

Sambil menatap layar ponselnya, ia tersenyum kecil.

"Yah, setidaknya dia sudah lulus," katanya pelan, sebelum kembali fokus pada pekerjaannya—meskipun pikirannya masih saja dipenuhi dengan rasa makanan yang luar biasa itu.

----

Di tempat lain, pewawancara yang menerima pesan dari Lacky menghela napas kecil sambil tersenyum.

"Apa yang sebenarnya diinginkan bos dari gadis ini?" pikirnya.

Namun, terlepas dari itu, ia tahu satu hal dengan pasti—Luxia memang pantas mendapatkan posisi jadi koki perusahaan ini pikirnya.

---

Luxia duduk di ruang tunggu setelah wawancara, berusaha menenangkan dirinya. Meski ia merasa telah memberikan jawaban terbaiknya, bayangan ekspresi tajam pewawancara masih menghantuinya. Ia tidak tahu apakah dirinya cukup meyakinkan atau masih ada keraguan dalam jawaban-jawabannya.

Namun, satu hal yang tidak ia sadari adalah bahwa keputusan mengenai dirinya sudah dibuat bahkan sebelum wawancara itu selesai.

Di ruangan pribadi Lacky Blackm, sang presiden duduk di kursinya dengan tangan bertaut, menatap kosong ke layar komputer. Matanya tidak benar-benar membaca dokumen yang ada di depannya. Pikirannya terus melayang pada satu hal—masakan Luxia.

"Kenapa rasanya seperti ini?" gumamnya, mengingat rasa ayam yang begitu lezat. Ada sesuatu dalam masakan itu yang membuatnya ketagihan, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Tidak tahan lagi, ia meraih ponselnya dan menghubungi penguji kedua tadi.

"Kau sudah memberitahu hasilnya?" tanyanya langsung begitu panggilan tersambung.

"Belum, Tuan. Saya masih ingin memastikan semua prosedur dijalankan dengan adil," jawab penguji dengan hati-hati.

Lacky menghela napas panjang. "Sudahlah. Aku tidak peduli dengan prosedur. Aku ingin dia bekerja di sini. Mulai sekarang."

Penguji itu terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab, "Baik, Tuan. Saya akan mengumumkan hasilnya segera."

Lacky mengakhiri panggilan itu dengan ekspresi puas. Ia menyandarkan punggungnya di kursi, lalu tersenyum kecil.

"Aku ingin makan masakannya setiap hari," gumamnya.

Beberapa menit kemudian, Luxia dipanggil kembali ke dalam ruangan wawancara. Ia berdiri dengan gugup, mencoba menyiapkan mentalnya untuk hasil apapun yang akan diberikan.

Penguji itu menatapnya dengan tatapan yang sulit dibaca. Namun, ada sesuatu dalam matanya yang membuat Luxia merasa sedikit aneh—seperti ada sesuatu yang ia sembunyikan.

"Lakukan yang terbaik, Luxia," katanya pelan sebelum akhirnya membuka berkas di hadapannya.

"Dengan ini, kami menyatakan bahwa Anda… lulus seleksi. Selamat, mulai besok Anda resmi menjadi bagian dari PT. Blackm Meow sebagai koki perusahaan."

Luxia terdiam sejenak, mencoba memproses kata-kata itu.

"A-apa?" tanyanya, nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

"Ya, Anda diterima. Presiden perusahaan secara langsung menyetujui hasil ini."

Luxia membelalakkan mata. Presiden? Lacky Blackm yang memutuskan ini?!

Jantungnya berdebar lebih cepat. Kenapa? Apa alasan sebenarnya? Apakah karena masakannya? Atau ada hal lain yang ia tidak ketahui?

Namun, sebelum Luxia bisa mengajukan pertanyaan lebih lanjut, penguji itu hanya tersenyum tipis dan menutup berkasnya. "Besok pagi, datanglah ke kantor utama untuk mendapatkan pengarahan lebih lanjut. Kami harap Anda siap untuk pekerjaan ini."

Luxia mengangguk cepat, meskipun dalam hatinya masih dipenuhi dengan tanda tanya.

Sementara itu, di ruangan pribadi Lacky, ia kembali melihat ponselnya setelah menerima konfirmasi bahwa Luxia telah diberi tahu hasilnya.

Ia tersenyum sendiri.

"Tidak sabar untuk makan masakanmu lagi, Luxia," gumamnya pelan, suaranya mengandung sedikit kegembiraan yang jarang ia tunjukkan kepada siapa pun.

Namun, di dalam hatinya, ia tahu… ini bukan hanya soal makanan. Ada sesuatu tentang wanita itu yang menarik perhatiannya. Sesuatu yang membuatnya ingin tahu lebih banyak. Dan dia berniat untuk mencari tahu.

---

Luxia duduk di meja wawancara dengan ekspresi bingung. Tangannya mencengkeram ujung kursi dengan gugup, sementara pikirannya penuh pertanyaan.

Koki perusahaan? Tapi… bukankah aku melamar untuk posisi administrasi?

Ia menatap penguji di depannya dengan penuh kebingungan. "Maaf, Tuan. Saya sangat berterima kasih atas kesempatan ini, tapi… bukankah saya melamar untuk posisi di kantor? Kenapa tiba-tiba saya ditempatkan sebagai koki perusahaan?"

Penguji itu terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis, seolah sudah menduga pertanyaan itu akan muncul.

"Ya, itu benar. Berdasarkan berkas lamaranmu, kamu memang mendaftar untuk posisi administrasi," katanya dengan nada santai. "Namun, setelah tes keterampilan tadi, pihak perusahaan melihat potensi yang lebih besar darimu di bidang kuliner."

Luxia mengerutkan kening. "Tapi… saya tidak memiliki pengalaman profesional sebagai koki. Saya memang bisa memasak, tapi itu hanya hobi. Kenapa tiba-tiba saya dipindahkan ke posisi ini?"

Penguji itu menatapnya dengan penuh arti, lalu meletakkan tangannya di atas meja. "Sejujurnya, keputusan ini berasal langsung dari presiden perusahaan, Tuan Lacky Blackm."

Luxia terdiam. Jantungnya berdebar lebih cepat. Lagi-lagi dia…

Melihat ekspresinya yang semakin bingung, penguji itu melanjutkan, "Aku juga tidak tahu alasan pastinya, tapi yang jelas, keputusan ini tidak sembarangan. Presiden jarang ikut campur dalam seleksi karyawan, apalagi sampai memberikan instruksi khusus."

Luxia merasa ada sesuatu yang janggal. Kenapa presiden perusahaan, seseorang yang bahkan tidak mengenalnya secara pribadi, tiba-tiba ingin dirinya menjadi koki? Apakah karena masakannya tadi?

"Apa… dia benar-benar menyukai masakan saya?" tanyanya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.

Penguji itu tersenyum samar. "Sepertinya begitu."

Luxia menggigit bibir. "Tapi saya ingin bekerja di kantor. Saya sudah mempersiapkan diri untuk pekerjaan administrasi. Jika tiba-tiba harus menjadi koki, saya tidak yakin… apakah saya bisa menjalaninya dengan baik."

Penguji itu menghela napas pelan. "Kau tidak perlu menjawab sekarang, Luxia. Jika kau benar-benar ingin menolak, kami bisa membicarakannya lagi. Tapi kupikir, ada alasan kenapa Tuan Lacky memilihmu. Mungkin ini adalah kesempatan yang lebih besar daripada yang kau bayangkan."

Luxia terdiam, pikirannya semakin kacau. Ia tidak tahu apakah ini keberuntungan atau justru cobaan. Namun satu hal yang pasti—keputusan ini bukan keputusan biasa.

Di tempat lain, di ruangan pribadinya, Lacky Blackm duduk bersandar di kursinya sambil memutar ponselnya dengan jari. Ia tidak bisa fokus bekerja.

Pikirannya masih dipenuhi dengan rasa ayam yang tadi ia makan. "Dia pasti akan menerimanya," gumamnya sendiri, yakin dengan keputusannya. Namun, jika Luxia menolak… apa yang harus ia lakukan?

Tentu saja, ia tidak akan membiarkan itu terjadi begitu saja.

Bersambung...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!