NovelToon NovelToon

K.U.N

Tantangan VS Pantangan

“Oh, murid baru ya?? Mari ibu antar.”

Aku menganggukkan kepala. Sudah cukup lama aku menunggu di lobby sekolah sambil sesekali membaca Visi dan Misi sekolah, Motto serta yang lain sebagainya. Tidak lupa juga aku melihat piala yang terpampang di dalam etalase sebesar dinding ruangan lobby.

Kini aku berjalan mengikuti ibu guru dengan rambut yang ia kuncir satu. Rambutnya wangi sekali, ibu ini juga terlihat masih muda. Sepertinya ia baru saja menikah atau baru memiliki anak satu tampaknya.

“Nama ibu Yuyun. Ibu mengajar matematika di sekolah ini. Kamu murid bajakan kan? Karena pintar dan menang olimpiade matematika bulan lalu? Kamu ngalahin anak murid ibu loh kemarin.” Ucapnya ramah sambil tertawa renyah.

“Oh, nama saya Agam bu.”

“Ibu sudah tahu. Siapa sih yang gak tahu, pas kamu menang olimpiade dengan nilai sempurna, kamu jadi perbincangan guru-guru di sini.”

“Perbincangan?”

“Iya!” Singkat ibu Yuyun sambil mengangguk dan berjalan cepat menuju salah satu ruang kelas.

“Murid di sekolah ini sudah langganan juara olimpiade, apalagi matematika. Ibu sempat kaget dan stres ketika murid ibu kalah. Ibu bersikeras untuk meminta kepala sekolah membajakmu kesini. Kami juga sempat datang ke rumahmu agar kamu bisa pindah ke sekolah ini. Ternyata rayuan ibu berhasil..”

“Pantas aja ibuku tiba-tiba menyuruhku pindah sekolah. Ternyata mereka yang udah meracuni ibu dengan embel-embel sekolah terbaik dan beasiswa.” Gumamku dalam hati.

Ku lihat ibu Yuyun berhenti pada sebuah kelas. Ia menoleh dan tersenyum ke arahku sesaat sebelum mendorong pintu kelas tersebut.

“Kamu tunggu di sini dulu ya, ibu mau kasih kejutan ke temen-temen kamu.” Perintahnya sambil menunjuk ke arah lantai. Aku pun mengangguk dan menunggu di depan kelas sesuai perintahnya.

“Ibu guru ini manis banget. Jiwanya masih muda dan kayaknya asik.” Gumamku lagi sambil menunggunya. Ku dengar suara lantangnya di dalam kelas setelah ia meninggalkanku di luar.

“Selamat pagi murid-murid ibu..”

“Pagi bu..” Sahut siswanya serentak.

“Hari ini, kita kedatangan murid baru.”

“Cewek apa cowok buk?”

“Hmm, tebak dong.” Ucap bu Yuyun hingga membuatku tersenyum sendiri.

“Pasti cewek cantik.. kayak bu Yuyun.”

“Masa’?”

“Iya dong ibu cantik. Guru paling cantik di sekolah ini.”

“Nanti ibu Deska marah loh kalau kalian bilang gitu.”

“Kenyataan bu, bu Deska si guru kesenian itukan cuma cantik karena make up-nya doang.” Timpal muridnya hingga membuat bu Yuyun tertawa.

“Masih lama? Apa aku masuk aja.” Gumamku yang memang tidak sabaran ini.

“Udah ya.. kita lanjutin perkenalan murid barunya.” Mendengar perkataan bu Yuyun, aku segera bersiap dengan meletakkan tanganku di gagang pintu.

“Masuk.” Pinta bu Yuyun dan langsung membuatku mendorong pintu kelas tersebut.

Aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam kelas, dan melemparkan pandanganku

pada murid-murid yang sepertinya sedari tadi penasaran dengan kehadiranku. Ku lihat mata mereka membulat besar, terlebih lagi mata para siswinya. Dan para siswa hanya memasang wajah datar mereka. Mungkin saja mereka kecewa karena menginginkan murid baru perempuan yang cantik.

“Ayo.. silahkan berkenalan.” Ucap bu Yuyun ketika aku telah berdiri di depan kelas.

“Hai semua.. namaku Agam Suganda, aku pindahan dari SMA N 1.”

“Hai Agam...” Sahut mereka serentak.

“Sudah?” Tanya bu Yuyun. Aku pun menganggukkan kepalaku.

“Bu.. kami gak boleh nanya-nanya gitu?” Ucap seorang perempuan sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

“Boleh kok, silahkan.” Jawab Bu Yuyun.

“Agam.. udah punya pacar belom... Kyaaa!!!” Tanya salah satu teman kelasku yang perempuan. Membuatku sedikit tersipu karena mendapatkan pertanyaan seperti itu secara tiba-tiba. Murid yang lain menyorakinya ketika mendengar pertanyaan yang seperti itu.

“Mm.. belum.” Singkatku tanpa berpikir.

“Punya mantan berapa?” pertanyaan aneh yang lainnya pun muncul. Aku hanya meringis.

“Pertanyaan macam apa tuh?” Keluhku.

“Dasar, cewek kelas ini keganjenan semua. Gabisa liat cowok cakep.” Keluh siswa laki-laki hingga membuat perempuan kelas mereka kembali menyoraki.

“Gue aja deh yang nanya..”

“Bro.. hobi lu apa?”

“Melukis.” Singkatku.

“Wah kita sama!!”

“Beda kali!! Lu kan ****.” Singgung salah satu temannya.

“Iya beda..” Sambung Bu Yuyun. “Agam ini rank satu umum di sekolahnya. Ini juga yang kemarin ngalahin Maxim di olimpiade matematika.” Sambungnya lagi. Ku lihat raut kagum dari teman-teman yang berada di depanku. Kecuali seraut wajah yang nampak muram setelah bu Yuyun mengatakan hal tersebut. Apakah itu lelaki yang bernama Maxim?

“Yaah, Ibu Yuyun mah jahat! Masa’ bilang bedanya kenceng banget.” Keluh lelaki yang baru

saja bertanya tentang hobi kepadaku, teman-teman baruku yang berada di dalam kelas langsung tertawa serentak.

“Kalo eskul yang kamu minati apa Gam? Melukis juga kah? Apa jangan-jangan kamu ketua eskul itu?” Aku berpikir sejenak.

“Di sekolahku kemarin, aku ikut eskul melukis juga. Tapi aku bukan ketua eskulnya.”

“Kenapa? Kayaknya kamu cocok kalau jadi pemimpin.. kayak calon imamku gitu..”

“Huuuuu” Sorak teman-teman kelasku lagi.

“Yah.. Aku gak bisa merangkap jadi ketua kan. Harus milih salah satunya.”

“Emangnya kamu jadi ketua apa?”

“Aku ketua osis di sekolah ku yang dulu.” Sahutku.

“Wuuuuuuuu.. keren..” Ucap mereka serentak sambil menatap ke arah lelaki yang masih berwajah masam tersebut.

“Wah, Agam hebat ya..” Sambung bu Yuyun. “Jadi kamu emang jadi saingan baru deh buat Maxim. Maxim kan ketua osis juga, dia juga memegang juara umum satu di sekolah ini.” Aku terdiam mendengarnya. Firasatku mengatakan kalau kami memang akan jadi saingan nantinya. Bahasa kasarnya adalah

musuh.

Secara aku sudah mengalahkannya dalam olimpiade matematika yang biasa ia menangkan. Meskipun aku pintar, tapi aku sangat malas untuk ikut perlombaan seperti itu. Tapi karena desakan dari kepala sekolah yang lama, akhirnya aku menuruti kemauan mereka untuk menjadi wakil sekolah di olimpiade matematika. Tak di sangka, olimpiade pertamaku malah langsung menjuarainya. Di tambah lagi, di sekolahku yang lama, kami memiliki jabatan yang sama, yaitu ketua osis. Sepertinya ini akan jadi buruk.

“Perkenalannya masih lama bu? Ini sudah hampir tiga puluh menit untuk perkenalan. Membuang-buang waktu belajar aja.” Keluh Maxim sambil bertekan dagu dan dengan angkuhnya menoleh ke arah jendela kelas.

“Oh, maaf.. Maxim sudah semangat untuk belajar ya?”

“Agam, kamu duduk di bangku kosong ya.” Ucap bu Yuyun sambil menatapku. Aku pun mengangguk dan berjalan ke arah bangku kosong paling ujung.

“Baik.. pelajaran pertamanya langsung kita mulai ya..” Sambung bu Yuyun ramah sambil tersenyum.

“Yaaaah....” Keluh teman-temanku.

.

.

.

.

*Author POV

Bel istirahat telah berbunyi, para siswa dan siswi keluar dari dalam kelas menuju kantin. Ada yang pergi ke toilet, sekedar bercengkrama di dalam kelas, dan juga nongkrong di taman sekolah. Sementara itu di depan kelas X5, siswi perempuan berkumpul sambil membahas tentang murid pindahan.

“Iya.. katanya ada siswa baru di kelas X3. Ganteng banget loh..”

“Yang bener?”

“Beneran.. tadi gue gak sengaja liat dia pas jalan bareng bu Yuyun pagi tadi. Ganteng banget dong..”

“Katanya juga ketua osis di sekolahnya yang lama.”

“Wah, keren!”

“Terus dia juga yang kemarin ngalahin Maxim di olimpiade. Makanya dia di bajak ke sekolah kita.. Belum ada sejarahnya sekolah kita kalah di olimpiade, apalagi matematika. Maxim pasti stress banget deh. Mana sekelas lagi.”

“Yang bener? Dia yang ngalahin Maxim?”

“Jadi penasaran deh.. tapi kata kelas sebelah sih emang ganteng. Mereka udah liat.”

“Dia kelas X3 kan? Kita tunggu aja di sini, kalo dia ke kantin, pasti harus lewat kelas kita kan.”

“Bener.. bener.. tunggu aja di sini, sampai dia keluar.”

Tak lama berselang, seseorang yang nampak asing dan tak pernah mereka lihat keluar dari dalam kelas X3. Ia di kerubuti perempuan di kelasnya. Dia adalah sosok lelaki yang tinggi dan putih. Rambut hitamnya dibiarkan

tergerai menjuntai menutupi dahinya. Tatapan matanya terlihat lembut namun tajam. Hidungnya mancung bak perosotan. Bibirnya melengkung tipis saat ia menutupnya. Ia berjalan dengan penuh karismatik dan terlihat begitu manly.

Sekejap penampilannya langsung saja membungkam diam mulut-mulut siswi kelas X5 yang sudah menantikannya sejak tadi. Mereka membiarkan anak baru itu lewat sambil tak henti-henti memandanginya.

Setelah lelaki itu melewati mereka, barulah mereka tersentak dan sadar, kalau anak baru itu benar-benar tampan. Dia benar-benar sosok sempurna yang ada di dunia. Pintar, populer dan juga tampan.

“Gilasih.. itu dia?”

“Ganteng banget dong, mau pingsan guee..”

“Jangan pingsan disini!! Kalo lu pingsan di sini, badan lu kita gelindingin!”

“Ih jahat!! Aku minta tolong anak baru itu aja.”

“Ih ngarep.. pasti dia itu punya pacar.”

“Lu jangan bikin patah hati dong, gimanasih..”

*Author POV end

.

.

.

.

Sudah beberapa hari aku bersekolah di Sma yang baru ini. Setiap hari aku selalu mendengar perempuan-perempuan di kelasku dan perempuan dari kelas lain datang ke kelas ku untuk menyuruhku menyalonkan diri menjadi ketua osis yang baru. Tentu aku menolaknya dengan berbagai alasan.

Sampai pada saat, semua guru ikut campur urusan para siswa dengan ikut menyalonkan diriku menjadi ketua osis yang baru. Tentu saja status mereka sebagai guru memberikan dampak yang besar, terutama pada anggota osis. Hal ini pun mereka bicarakan saat rapat osis sore tadi.

*Author POV

“Gimana ini.. Ketua osis itu di pilih oleh semua siswa, tapi sekarang banyak orang yang gak mau lagi liat lu jadi ketua osis Max.” Maxim hanya terdiam dengan wajah yang tertekuk.

“Iya.. guru-guru juga malah ikutan buat nyalonin murid baru itu. Emang sih dia perfect, dan kayaknya cocok banget jadi ketua osis. Tapi kan disini udah ada Maxim, emang bisa apa main serobot gitu aja?”

“Iya, dari awal dia dateng juga kayaknya tuh anak songong! Gue gak suka banget!”

“Eh, lu diem deh!! Lu bilang gitu karena iri kan, muka dia ganteng, terus dia pinter, bertanggung jawab, pemimpin yang baik, dan sosialnya tinggi. Lu iri kan sama Agam?!”

“Lu yang diem!! Ini semua karena cewek sekolah kita yang kecentilan! Emang kalian milih ketua osis itu bukan

dari kepemimpinannya atau apa, tapi dari gantengnya kan?!”

“Sembarangan!! Jadi lu ngatain gue gatel gitu?”

“Emang!!”

“Udah udah.. kok kalian malah adu urat gitu! Emang sih gak bisa asal lengser ketua osis gitu aja, terlebih dalam kepemimpinannya, Maxim oke juga. Tapi yang jadi masalah disini, guru-guru juga ikut nyalonin Agam.. apa harus pemilihannya di ulang? Kandidatnya Agam sama Maxim?” Maxim

terdiam.

“Kalau seandainya gue ikut pemilihan ulang, dan ternyata kalah dari Agam, tentu aja reputasi gue jadi ancur dong.. tapi, apa ada cara lain biar gak perlu adanya pemilihan ulang?” Gumam Maxim dalam

hati.

“Kayaknya gue punya ide bagus..” ucap Maxim yang pada akhirnya memecahkan kesunyian yang ada.

“Apa Max?”

“Besok, sepulang sekolah, kita kumpulin semua siswa atau perwakilan dari siswa aja. Gue punya tantangan buat Agam.. kalau emang dia mau jadi ketua osis dan ngegantiin gue, kita gak perlu pakai cara pemilihan ulang. Itu pakai budget, dan budget itu lumayan gede, untuk tinta, dan kertas kandidatnya, jadi gue punya cara yang gratis buat dia.”

“Oke.. besok gue atur jadwal buat anak-anak yang lain..”

*Author POV End

.

.

.

.

.

Besok harinya, semua siswa sudah berkumpul di ruang aula sekolah setelah jam pelajaran selesai. Maxim mulai berpidato panjang lebar untuk mengutarakan maksudnya. Ia pun memintaku untuk memberikan visi misi nya untuk siswa, jika kelak aku akan menggantikan Maxim menjadi ketua osis. Tentu saja aku menolaknya. Aku tidak pernah ingin untuk menggantikan siapa pun dari jabatannya.

“Lu gabisa nolak Gam.. ini menyangkut reputasi gue di mata guru-guru. Mereka entar nganggepnya gue lagi yang gila jabatan! Lagian kalo lu jadi ketua osis, otomatis gue langsung jadi wakilnya. Jadi sama aja kan.”

“Iya Gam. Kenapa lu harus nolak gitu sih.. gapapa lagi, kita percaya kok, lu itu bagus jadi pemimpin.” Aku kembali terdiam.

“Apa langsung pemungutan suara aja? Jadi gak usah pakai pemilu gitu..”

“Iya bener, no budget juga kan? Yang pilih Agam angkat tangan!!!” Seru salah seorang perempuan hingga membuat hampir sebagian siswa dan siswi di ruangan tersebut mengangkat tangannya.

“No no no!! Kalau itu tentu aja dia yang menang.” Potong Ciko, salah satu anggota osis.

“Dari banyaknya suara kalian itu lah yang bikin gue mempertimbangkan keinginan kalian untuk melengser gue dari jabatan ketua osis. Jadi cara itu gabisa kalian pakai untuk keadilan. Karena gue baru dua bulan

menjabat jadi ketua osis. Apa kalian gak punya martabat dan etika serta keadilan buat gue? Kalian melengser gue sementara gue gak pernah melakukan kesalahan apa pun selama gue menjabat?” Seisi ruangan terdiam.

Tentu saja perkataan Maxim sangat benar. Ia menjabati ketua osis dengan baik dan tidak melakukan kesalahan apa pun, tapi sejak aku datang, semua berubah, dan dengan seenaknya siswa dan siswi serta guru menyalonkan aku begitu saja.

“Untuk menjadi pemimpin, di perlukan sebuah keberanian..” Ucap Maxim sambil menatapku tajam.

“Kalo lu mau ambil jabatan gue, lu harus nerima tantangan dari gue.. kecuali kalo lu nolak. Artinya lu banci dan gak pantes jadi pemimpin.” Ucapnya hingga membuat dadaku memanas mendengarnya.

Ini bukan lagi perihal jadi ketua osis atau tidak. Tapi ia sedang merendahkan martabatku sebagai seorang lelaki. Kalau aku menolak, bearti aku adalah banci baginya.

“Apa tantangannya?” Tanyaku datar, menahan segenap emosi yang memenuhi dada hingga kerongkonganku.

“Di sekolah ini, ada suatu tempat yang terkenal angker.. Gudang di lantai tiga sekolah.” Aku mengangkat sebelah alisku.

“Terus?”

“Di sana ada sebuah lukisan yang terkenal angker, karena di lukis oleh pemiliknya sebelum ia menghilang selamanya dari dunia ini. Ada rumor yang beredar kalau dia adalah murid sekolah ini dan udah mati di bunuh,

dan bangkainya gak di temukan sampai saat ini, dan yang perlu lu lakuin adalah.. masuk ke sana jam dua belas malam tepat, terus mau lu apain kek lukisan itu.. Terserah elu, yang penting, elu harus meninggalkan jejak di sana, sebagai bukti kalau elu emang udah masuk ke dalem gudang tersebut.. Berani?” tanya Maxim padaku.

“Bera..”

“Gak boleh!! Apa-apaan lu Max!!” Keluh Ciko yang sepertinya keberatan dengan tantangan yang di berikan Max padaku. Bahkan ia memotong perkataanku sebelum aku selesai berbicara.

“Iya!! Lu tau kan pantangan di sekolah ini apa? Gila lu ya?!”

“Iya, gue juga gak setuju!! Itu bahaya kan?”

“Lu jangan cari masalah besar deh Max..”

“Lu mau ngorbanin anak baru itu ya? Keterlaluan lu Max..”

“Apa yang salah? Ini kan cuma tantangan doang. Dia bisa nolak kok kalau dia takut.” Ucap Max kembali meremehkanku.

“Sial*n! Barusan dia ngatain gue penakut?” Keluhku kesal dalam hati.

“Gimana? Berani gak?” Tantangnya lagi padaku.

“Kapan lu mau gue masuk ke gudang itu?” Tanya ku balik, hingga membuat seraut wajah panik muncul di wajah teman-temanku, terutama anggota osis.

“Malam ini juga!” Jawabnya dengan memberikan penekanan pada kata terakhirnya.

“Stay jam sepuluh.” Ucapku sebelum berlalu. Maxim nampak tersenyum puas ketika aku meninggalkan ruang aula.

“Gimana?” Tanya Teya yang merupakan anggota osis sambil menatap Ciko. Ciko hanya mengendikan pundaknya.

“Anak baru itu gak tau pantangan di sekolah ini, kalau misalnya terjadi sesuatu dan dia..”

“Ssstt, gue juga bingung Te.. lu gak usah bikin tambah panik deh. Lagian kayaknya tuh anak baru gak mau nolak tantangan itu kan?”

“Tapi kan...” Teya terdiam dengan raut pucatnya.

“Kita semua disini tahu pantangan sekolah kita, tapi dia enggak. Apa kalian semua, lagi mempertaruhkan Agam?”

.

.

.

.

Bersambung...

Berhenti atau Teruskan?

Setelah menyetujui tantangan Maxim, aku berjalan cepat keluar dari dalam ruangan tersebut. Entahlah, aku merasa sangat tidak suka berada di dalam sana. Desakan yang mereka lakukan terus memaksaku untuk menuruti sesuatu yang tidak aku inginkan. Baik di sekolah lama atau pun sekolah yang baru, aku selalu saja mendapatkan musuh meskipun aku tidak pernah melakukan apa-apa dan tidak pernah mencari gara-gara pada mereka.

Aku yang telah berada di luar ruangan di buat kaget ketika seseorang menarik tanganku dari belakang. Ia berusaha memutar paksa tubuhku agar dapat menghadapnya. Aku tak melawan, dan menuruti bahasa tubuh yang ia inginkan. Ku lihat seorang perempuan dengan rambut yang lurus bervolume dan hitam menatapku dalam ketika kami bertemu pandang.

Bibir bawahnya bergetar, terlihat seperti orang yang sedang ketakutan akan sesuatu. Mata bulat besarnya yang indah membuatku merasa iba ketika melihatnya begitu. Aku menundukkan kepalaku, membalas tatapannya.

“Kenapa?”

“Gam.. batalin dong tantangan itu..” Ucapnya tiba-tiba. Membuatku meringis dan seketika mengalihkan pandanganku darinya.

“Siapa ya?”

“Aku Bella, kelas XI ips 3.” Aku terdiam. Dia kakak kelasku? Aah, terlalu cantik dan imut untuk jadi senior.

“Kamu harus batalin ya... yah..” Desaknya sambil terus memandangiku.

“Udah sore..” Ucapku sambil berbalik dan berniat untuk meninggalkannya. Namun lagi-lagi ia segera berlari memutar dan berdiri di hadapanku lagi.

“Please dong, Gam. Ini tuh serius!! Kamu gak boleh ikut tantangan itu.” Aku melipat kedua tangan ke dadaku dan sedikit membungkukkan tubuh untuk menyejajarkan wajah kami. Ku lihat wajahnya nampak memerah. Dia malu?

“Kenapa?”

“Karena di sekolah ini punya pantangan, dan pantangan itu belum ada satu orang pun yang berani melanggarnya.” Ucapnya hingga membuatku sedikit tertarik dengan cerita yang ingin ia sampaikan.

“Tadi Maxim udah jelasin kan, kalau di sekolah ini ada tempat yang angker.. ya! Itu gudang di lantai tiga.”

“Terus di sana juga ada sebuah lukisan keramat yang gak kalah angkernya. Kata OB di sini, setiap ngebersihin gudang, mereka gak pernah berani nyentuh lukisan itu. Apalagi sampai mencoba melakukan sesuatu sama lukisannya.. itu kan ngeri banget..” Aku mengangkat sebelah alisku sambil tetap menatap Bella.

“Dan beberapa tahun yang lalu, gosipnya ada seorang OB yang meninggal di dalam gudang. Bunuh diri katanya, sebelum itu dia sempet penasaran sama lukisan yang ada di dalam sana. Terus sama pantangan yang bilang kalau gak boleh masuk ke dalam gudang malam-malam, apa lagi sekitar jam dua belas malam tepat..”

“Tapi karena OB itu gak percaya gosip, dia mau ngebuktiin dengan masuk ke dalam gudang malam-malam, jam dua belas. Katanya, dia mati di depan lukisan itu, sambil berdiri dengan lidah yang menjulur keluar. Tulang lehernya patah, katanya juga.. dia menyekik lehernya sendiri sampai mati.. dan itu terjadi tiga hari setelah dia utak-atik lukisan itu. Jadi jangan ya Gam, kamu gak boleh pergi ke situ..”

“Gosipnya?” Ucapku hingga membuat Bella mengernyit.

“Iya.. tapi rumor itu bener kok katanya. Cuma di tutupin aja, karena gak mau bikin pelajar dan orang tua pelajar di sini panik.” Aku tersenyum mendengarnya, hingga membuat Bella terlihat sedikit kesal dengan sikapku.

“Kok senyum sih?! Aku kan serius!”

“Lu percaya cuma dengan denger cerita orang aja?” Bella terdiam.

“Bel, cerita yang kayak gitu gue rasa di semua sekolah ada kok.”

“Sekolah ini dulunya bekas mahkam loh, bekas rumah sakit loh.. katanya lagi, ada yang bunuh diri loh. Itu Cuma rumor, udah dari Sd gue denger yang kayak gitu.” Ucapku lagi hingga membuat wajah Bella memerah. Ia langsung saja memukul perutku hingga membuatku terkejut. Ya pukulan dari tangan mungilnya tentu tidak akan menyakitiku. Itu hanya mengagetkanku saja.

“Nyebelin banget sih!!” Bentaknya di hadapanku. Kata-kata itu sudah biasa ku dengarkan dari perempuan yang mendekatiku. Aku tidak bisa melihat wajah perempuan yang kesal, cantik mereka akan semakin bertambah kalau ngambek atau kesal. Aku langsung tertawa sambil membalikkan tubuhku darinya.

“Gam..” Panggilnya pelan. Aku menghentikan langkahku.

“Hn?” Sahutku tanpa menoleh ke arahnya.

“Kalau nanti kamu ngerasa aneh di dalam sana, kamu harus bersiul sepanjang napas.” Ucapnya lirih.

“Hantu itu senang dengan siulan merdu, katanya, dulu dia selalu bersiul semasa hidup kalau lagi ngelukis di sana. Jadi mungkin.. kamu gabakal kenapa-napa.” Sambung Bella lagi. Aku pun menoleh menatapnya.

“Kamu perhatian..” ucapku hingga membuatnya tersenyum dan menunduk malu. Aku pun berlalu dari hadapannya.

***

Bella adalah salah satu dari orang yang perduli dan mengingatkanku untuk membatalkan tantangan itu. Sepanjang perjalanan pulang, beberapa kali aku di cegat oleh teman-teman dari sekolahku. Mereka tentu mengatakan hal yang sama dengan apa yang sudah di sampaikan Bella padaku tadi.

Sebenarnya, kenapa mereka sampai mempercayai dongeng seperti itu? Mereka hanya mendengar katanya saja dari orang lain. Dan mungkin mereka juga tidak tahu benar atau tidaknya cerita itu. Mungkin saja di dalam gudang, kepala sekolah menyimpan harta karun dari istrinya. Yaa, gosip itu di buat biar tidak ada yang berani masuk ke dalam sana. Jadi harta karunnya aman.

Aku lebih mempercayai cerita yang seperti itu ketimbang dongeng bernuansa horor tadi. Tapi, ceritanya bagus juga, mungkin yang buat gosip itu harusnya jadi novelis saja. Bakatnya sudah nampak. Ia juga bisa mempengaruhi orang-orang untuk mempercayai cerita konyolnya itu.

.

.

.

.

Tepat jam sepuluh malam, di koridor sudah ramai berkumpul teman-temanku. Ada Maxim, anggota osis dan juga perwakilan beberapa siswa laki-laki. Mereka berkali-kali melihat jam yang ada di tangan mereka, sambil menatap ke arah pintu, berharap seseorang yang mereka tunggu segera datang.

“Udah jam sepuluh nih, tadi dia bilang stay-nya jam sepuluh, tapi dia sendiri belum dateng..”

“Iya nih.. kita semua udah kumpul di sini.. dia doang yang belum dateng.” Maxim hanya tersenyum sinis mendengarnya.

“Kira-kira jadi dateng gak sih dia? Jangan-jangan kita cuma di kerjain sama dia.. dia nyuruh kita dateng, sementara dia enak-enakan di rumah.”

“Makin malem gue makin merinding nih.. mana udaranya dingin banget lagi.”

“Eh! Jangan ngomong kayak gitu dong. Gue kan jadi takut ini.”

“Max.. gimana dong.. dia dateng gak nih?”

“Iya.. telponin kek.”

“Gue gak punya nomornya.. kita tunggu aja dulu dua puluh menit. Kalau dia masih gak dateng juga, baru kita pulang.”

*Dua puluh menit kemudian.

“Max.. gimana? Udah dua puluh menit ini.” Maxim pun menatap ke jam yang terlilit di pergelangan tangannya.

“Udah.. kita pulang.. dia kayaknya gak berani dateng.”

“Mungkin dia takut setelah denger cerita temen-temen yang lain.” Ucap Maxim sambil mengenakan tas sandangnya kembali.

“Takut? Gak salah?” Mereka semua langsung berbalik menatapku ketika aku sudah berada di belakang mereka.

“Agam.. sampe juga lo..”

“Gue kira lu bakal lari dan gak dateng malem ini.” Aku mendengus mendengarnya.

“Janji lu kan jam sepuluh, tapi lu buat kita semua nunggu hampir dua puluh tiga menit ini.”

“Sorry.. gue gak punya spidol. Semua toko yang ngarah ke sekolah dari rumah gue udah pada tutup. Jadi gue balik ke rumah bentar, cuma dapet satu spidol nih, warna merah.”

"Spidol?? Buat apa?" Tanya Maxim kaku. Aku pun mendengus.

"Yah, lu kan minta gue ninggalin jejak di sana. Kalau gue cuma mindahin lukisannya, bisa aja kan kalian resek dan ngebalikin tu lukisan ke posisi semula. Jadi, mendingan gue tulis sesuatu aja di lukisannya, tanda tangan mungkin." Terangku.

"Lagian ini spidol permanen, gak akan bisa kalian hapus. Terus tandatangan gue juga susah di tiru, jadi.. gue berencana buat nandatanganin lukisan itu." Tambahku.

“Yaudah deh, gak masalah. Yang penting lu udah dateng aja.”

“Btw, di mana gudangnya?”

“Oh.. iya.. di sana.. koridor paling ujung dari semua ruang.” Tunjuk Ciko padaku.

Yang aku lihat, di ujung sana begitu gelap. Sama sekali tidak kelihatan ujung pangkalnya. Aku menyipitkan kedua mataku, setidaknya untuk berusaha melihat ujung pintu itu.

“Sekarang masih jam sepuluh lewat, kita tunggu sampai jam sebelas lima puluh lima menit, dan lu harus mulai jalan ke sana di jam itu.” Ucap Maxim padaku yang mulai duduk di atas meja.

Hampir satu jam kami menunggu, entah itu perasaanku saja tapi aku rasa ruangan ini nampak sedikit berasap. Apakah kabut malam?

Di tambah lagi semua teman-temanku yang ada di sini hanya saling terdiam satu sama lain. Mereka hanya saling melirik, beberapa kali aku sempat memergokinya. Mereka seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi di tahan.

“Woi.. kalian, ngerasain sesuatu gak?”

“Kayak.. lagi ada yang ngeliatin kita gitu.” Ucap Ciko hingga membuat bulu tanganku tiba-tiba saja berdiri dengan tegaknya.

“Hei, Cik.. jangan bikin parno dong.. lu gak ngerti situasi ya?”

“Ya, sorry sih bro.. tapi, gue ngerasa gak nyaman aja.”

“Halah, penakut lu Cik, gak usah jadi osis aja lu!!”

“Sial*n lu!!”

“Udah diem aja. Kita tunggu sampai jam sebelas lima puluh lima menit. Bentar lagi kok.” Ucap Maxim sambil kembali mengecek jam yang ada ditangannya.

Tiba-tiba saja aku mendengarkan suara langkah kaki. Aku langsung mengernyit sambil menatap ekspresi teman-temanku. Mereka kelihatannya terus menilik dengan penuh tekanan, wajah mereka semua tegang. Jadi ku simpulkan, kalau mereka semua juga sedang mendengarkan apa yang aku dengar barusan.

Tak lama terdengar suara yang sayup-sayup, aku tak bisa menjelaskan suara macam apa itu. Tapi terdengar begitu halus. Saat ini terjadi, aku dapat mendengarkannya dengan jelas, namun saat aku menuliskan cerita ini, aku kebingungan menuliskan seperti apa suara yang ku dengar itu.

“Bro.. lu denger kayak suara-suara gitu gak?”

“Hush!! Diem aja deh!!”

“Apa sebaiknya kita pulang aja bro, gak usah lanjutin aja nih tantangan. Entar pemilihan Agam pakai suara terbanyak aja deh.”

“Berisik lu!!” Bentak Maxim.

“Satu menit lagi jam sebelas lima puluh lima nih.” Sambung Maxim hingga membuatku ikut menatap ke arah jam tangan milikku.

“Oke.. pas! Jam sebelas lima puluh lima menit!!” Ucap Maxim, dan seketika semua lampu di sekolah padam.

“Aaaaaaakkhh!!!” Teriak teman-temanku. Entah siapa itu, aku tak bisa melihat raut ketakutan mereka, tempat ini benar-benar gelap, sampai-sampai aku tak bisa melihat telapak tanganku sendiri. Aku merasa ada yang sedang memeluk lenganku dengan tubuh yang gemetaran.

“Sumpah sumpah sumpah!! Pas banget lagi mati lampunya!!”

“Gue takut bro, sial*n!! Mau kencing rasanya!”

Ku lihat seseorang menyalakan lilin. Membuat cahaya yang memancar tersebut berbinar di wajahnya. Itu Maxim. Ia langsung menyalakan lilin dengan korek gas yang ia bawa. cukup untuk memberikan sedikit penerangan untuk kami. Karena angin begitu kencang meski semua jendela tertutup, lilin yang di nyalakan Maxim pun padam. Maxim kembali berusaha menghidupkan lilin tersebut, namun angin seolah sengaja terus meniupnya sampai padam. Mereka pun mengeluarkan ponsel milik mereka masing-masing untuk membantu penerangan.

Suasana kini bertambah mencekam, terlebih lagi dengan keadaan ruangan yang lebih gelap dari pada sebelum lampu padam. Entah kenapa, benda-benda yang seperti tirai kini lebih terlihat seperti seseorang yang sedang berdiri dan mengenakan baju putih. Ruang kelas yang mendapat sedikit penerangan dari kami seolah memberikan kesan ada seseorang yang sedang duduk di salah satu kursinya. Sekelabat nampak seperti itu, namun jika di lihat dengan sungguh-sungguh, memang tidak ada apa-apa di sana.

Entah kenapa, aku merasakan hal lain. Panas dingin di bagian tengkukku mulai menyeruak. Bulu-bulu tanganku tak hentinya berdiri sejak tadi. Pori-pori kulitku menyemul dan membulat besar.

Ku pandangi satu persatu wajah teman-temanku. Ya, mereka juga kelihatannya sedang ketakutan. Terlebih lagi Ciko, aku baru tahu kalau ia sepenakut itu pada hal-hal yang seperti ini.

“Bro.. pulang yuk. Badan gue rasanya gak enak. Kayak mau demam menggigil gitu.” Ucap Ciko sambil memeluk tangannya.

“Tanggung. Udah mau jam dua belas bentar lagi.” Ucapku datar.

Ku lihat Ciko mulai menggigil kedinginan. Bibir bawahnya menggeletak. Ia terus menerus melihat ke sekeliling. Sejujurnya aku juga merasakan apa yang sedang Ciko rasakan. Tubuhku panas dingin seolah menggigil. Tapi aku berusaha menahannya. Sensasi macam apa ini? Mungkin saja karena cuacanya sedang dingin. Padahal di luar gedung sekolah tadi lumayan panas.

Tiba-tiba saja aku melihat bayangan sekelabat melesat di sisi kami. Saking terasanya, aku bisa mendengar suara angin yang ia ciptakan. Terdengar seperti bunyi “wush” ketika ia lewat. Benar-benar terasa. Ku lihat semua temanku menoleh ke arah yang sama seperti yang sedang aku lihat. Mereka juga melihat kah?

Tak lama dari itu, terdengar suara dentuman keras dari dalam kelas. Seperti suara nampan atau suara panci yang jatuh. Dentumannya begitu keras “DUM!” dan seketika itu juga ku lihat teman-temanku berteriak karena terkejut.

Aku juga melihat Maxim yang awalnya duduk di atas meja langsung beranjak. Ia segera berdiri dan menatapku. Apa ia sedang meminta pendapatku? Ia terlihat tak tenang dan gelisah. Ia berkeringat di tempat sedingin ini.

“Gam.. gue cabut tantangan gue.” Ucap Maxim dengan suara yang bergetar padaku.

“Akhirnya.. ayo kita pulang.. tantangan ini gak usah di terusin aja.”

“Bener, firasat gue buruk rasanya.”

“Dari awal kayaknya kita emang udah di suruh pulang deh. Pertama Agam yang ketinggalan spidolnya. Terus, lampu mati, sekarang suara benda jatuh pas benda putih lewat. Ayo kita pulang.”

“Ayo..” Ucap mereka menyetujuinya.

“Penakut banget sih.” Ucapku hingga membuat mereka menatapku.

“Yang ke gudang kan gue. Kalian tunggu aja di sini sampe gue kelar nandatanganinnya.” Ku lihat Maxim mendekatiku setelah aku selesai dengan ucapanku. Ia langsung menarik kerah bajuku dengan  kuat, dan menatapku dengan tajam.

“Gue tau Gam, lu pasti ngeyel karena gak suka gue ngatain lu banci kan sore tadi? Tapi sekarang situasinya beda! Lu ngertilah! Gue tau lu juga ngerasain kan?” Aku langsung menepis kasar tangan Maxim di leherku.

“Gue tau situasi! Yang gak ngerti situasi karena takut itu elu! Laki-laki itu, gak pengecut, dan gak pernah ngelanggar janji!”

“Dan elu, elu yang udah bikin tantangan, dan sekarang elu yang narik tantangan itu?” Aku menggelengkan kepalaku.

“Yang di pegang dari lelaki itu adalah ucapannya, kalau lu narik ucapan lu sendiri, jangan pernah ngaku kalau lu itu laki-laki!” Ucapku hingga membuat mata Maxim terbelalak.

“Tantangan ini, biar gue yang selesain. Malam ini juga..” Ucapku sambil berjalan menuju gudang. Namun di satu sisi, aku merasa ada sesuatu yang terus menatapku tanpa permisi. Dari arah yang jauh namun terasa dekat. Mengikuti ke mana aku pergi. Apa di atas, sedang ada yang merayap mengikutiku? atau, berjalan di belakangku tanpa spasi sedikit pun?

.

.

.

.

Bersambung...

Note Author

Halo semuanya!!!

Ini author, Gerimis Senja!!

Pada bab 2, Author mau ngasih tahu sesuatu..

Waktu itu author lagi nulis bab 2, pas bagian adegan mati lampu, eeeh, ternyata listrik di rumah author bener-bener mati loh.. Tepat saat author nulis bagian lampu tiba-tiba padam, dan bener-bener kejadian.

Sampai kaget banget, karena author baru kali ini bikin cerita horor, aslinya author tuh penakut banget banget!! Author ngacir dong, keluar dari kamar, padahal waktu itu sekitar jam 12 siang, pas adzan dzuhur!

jadi mikir, kok apa yang author tulis jadi kejadian, aslinya, di daerah author ini jarang banget mati lampu kalau gak ada petir atau hujan lebat. Jadi bener-bener kaget waktu itu >,<

mana apa yang author tulis itu gak ke save sama sekali, jadi harus nulis ulang waktu itu.

Author nulisnya di pc, bukan laptop, jadi ketika listrik mati dan author lupa save, yaa gak keselamat sama sekali tulisan yang udah susah payah author rangkai..

Jadi di bab ke 2 ini, author tulis ulang, walaupun intinya sama, tapi tiap kata perkatanya tetap aja beda..

Dan judulnya ini dilema beneran buat author, sempet takut banget buat up bab ini, karena bener-bener ngerasa keganggu selama nulis. Padahal apa yang author tulis itu gak serem-serem amat.

Author sempat mikir, berhenti atau teruskan yaa bab ini..

ujung-ujungnya author memilik untuk meneruskannya, sama seperti Agam yang meneruskan tantangannya juga..

Jadi semoga kalian menikmatinya yaa..

Meskipun ini di tulis ulang..

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!