NovelToon NovelToon

PAMALI Penunggu Pohon Beringin

Bab 1 Asal Muasal

Suatu ketika sekelompok mahasiswa pergi ke Desa itu dengan tujuan mencari harta karun dan sekedar liburan, tapi mereka tidak mematuhi peraturan dan larangan di desa itu.

"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa..... !".

Intan terkejut, temannya Kevin tiba-tiba tewas tergantung di pohon beringin.

"Keviiiiiiiiiiiiiiiinnn...... !". Intan berteriak histeris

Teman-teman yang lain datang dan terkejut melihat temannya tewas.

"Kita harus cepat pergi dari sini Tan, Kevin dan Marko sudah tewas". Ucap Rendi

"Aaaaaaa... Gua takut, gua belum mau mati !".

"Lu yang tenang, kita pasti keluar dari desa terkutuk ini !". Ucap Sandi

"Semua ini gara-gara lo, warga desa nyuruh kita gak masuk ke pagar pembatas yang sudah di peringatkan. Tapi lo malah merusaknya dan tetap nyari harta karun". Ucap Intan

"Aaaa.. tapi lo sendiri kan ikut masuk juga, lu juga penasaran kan ? Karna letak harta karunnya berada di pohon beringin ini". Ucap Sandi

"Tapi ternyata gak ada kan ? Satu persatu teman kita mati".

"Dasar lo nya aja yang cengeng, dari awal harusnya lo gak ikut".

"Sudah.... Sudah.... Kalian jangan bertengkar ! Kita harus segera keluar dari Desa ini". Ucap Rendi

Hingga kemudian, tiba-tiba saja ada makhluk hitam besar mengejar mereka. Jam menunjukkan pukul 8 malam, mereka berlima terjebak di dalam hutan tinggal Intan, Rendi dan Sandi yang masih hidup.

"Awas taaaaaaaann di belakang lo !". Sandi berteriak

Saat Intan menoleh ke belakang, dia di tarik oleh makhluk itu dan di bawa pergi. Rendi dan Sandi lari sekencang-kencangnya karna malam hari, Sandi tidak bisa melihat dengan jelas dia terjatuh dan perutnya tertusuk ranting pohon yang runcing dan dia langsung tewas.

"Sandiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii..........".

Kini tidak tinggal Rendi yang tersisa, dia sangat ketakutan dia lari sekencang-kencangnya hingga di depan dia bertemu dengan makhluk hitam besar itu. Rendi tidak bisa lari lagi, makhluk itu menyeret Rendi dengan sadis, hingga tiba di pohon beringin dia di lempar. Tubuhnya di lilit akar pohon, hingga kemudian dia tewas.

Kisah ini di ambil dari cerita orang-orang di Desa Siluman yang berada di Kabupaten Subang Jawa Barat. Tapi kisahnya di ubah, hanya nama tempatnya saja yang sama. Setelah tau di Desa Siluman ini pernah ada yang menemukan harta karun, orang-orang semakin penasaran dengan Desa ini. Walaupun Desa ini di kenal sangat berbahaya dan angker, tapi orang-orang tidak mempermasalahkan bahaya yang mengancam. Desa Siluman terletak di Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Subang. Sesuai dengan namanya yakni Desa Siluman, tidak sedikit warga sekitar maupun warga pendatang yang sering mengalami kejadian aneh.

Namaku Asep Ruslan Permana aku tinggal di Jakarta, aku asli orang Sunda tepatnya di Subang Jawa Barat. Mungkin dari namaku sendiri sudah ketebak kalau aku orang Sunda, aku tinggal di Jakarta bersama istri dan kedua anakku. Aku kerja di Jakarta di salah satu perusahaan di Jakarta, istriku sendiri merupakan asli orang Jakarta tapi alhamdulilah kita sudah punya rumah sendiri walaupun bayarnya kredit. Bagiku lebih nyaman dan bebas jika kita punya rumah sendiri, walaupun rumahnya sederhana tapi pikiran tenang. Saat masih bersama mertuaku, aku dan istriku sendiri sering canggung dan mungkin sering berdebat karna hal sepele, itu yang membuat aku memutuskan untuk segera memiliki rumah sendiri. Saat menikah umurku 22 tahun dan istriku berumur 19 tahun, kini pernikahan kita sudah berjalan 7 tahun. Istriku bernama Dewi Sartika, anaku yang pertama perempuan bernama Salma Prisilia dia berusia 7 tahun dan sekarang duduk di sekolah dasar kelas 1 dan yang kedua laki-laki usianya 4 tahun bernama Salman Alfarisi, dia sekolah paud tapi masih anak bawang maksudnya masih percobaan belum benar-benar sekolah. Sampai saat ini aku sangat bahagia, rumah tangga kami harmonis aku sendiri sangat kagum sama istriku dulu pertama kita kenalan, aku hanya seorang pengangguran tapi dia tidak pernah merasa malu atau minder, dia selalu menyemangatiku hingga sampai aku dapat pekerjaan. Dia merupakan istri yang sangat sabar, baik dan sholehah aku sangat beruntung bisa mendapatkannya.

"Ayah bentar lagi kan liburan nanti kita jadi kan ke rumah nenek ?". Ucap Salma

"Jadi dong, kita semua akan liburan disana. Salma belajar yang rajin ya kalau nanti juara Ayah akan kasih hadiah".

"Yang benar Yah, asiiikk aku pengen beli sepeda ya Yah ?".

"Iya asal Salma belajar yang rajin ya biar juara".

"Tuh Ayah akan ngasih Salma hadiah makanya makin semangat belajarnya". Ucap Suci

"Pasti dong Bu, pokoknya Salma akan semangat biar dibeliin Ayah sepeda".

"Aku juga mau dong Yah beli sepeda seperti Kakak". Ucap Salman

"Kamu ikut-ikutan aja Dek, memangnya bisa naik sepeda ?".

"Aaa aaaaaa pokoknya aku pengen sepeda juga seperti Kakak".

"Iya sayang, nanti Salma dan Salman akan di beliin sepeda juga asal kalian jadi anak yang baik ya soleh dan sholehah. Berbakti sama Ayah dan Ibu, pokoknya Ibu do'kan kalian agar jadi anak-anak yang pintar dan bikin bangga orangtua".

"Aamiin sekarang Adek dan Kakak tidur dulu ya sudah malam, gak baik tidur malam-malam gini".

"Iya Yah aku akan langsung tidur besok kan aku sekolah".

"Yasudah selamat tidur ya, baca do'a dulu sebelum tidur !".

"Tapi Salma pengen di anterin dulu ke kamarnya sama Ayah dan Ibu !".

"Iya kita anterin dulu".

"Adek juga nanti Ibu anterin ke kamar".

"Iya Adek juga Ibu antar".

Aku senang punya anak yang baik dan pinter-pinter, sejak kehadiran anak-anak hidup kami jadi semakin bahagia rumah ini jadi hangat sejak adanya mereka. Setelah anak-anak ku tidur, aku dan istriku juga pergi ke kamar.

"Ayah juga harus segera tidur besok kan pagi-pagi ada meeting".

"Oh iya Ayah sampai lupa besok ada meeting".

"Hmmm Ayah ini memang pelupa".

"Hehe udah dari dulu Bu aku sering lupa, tapi Ibu tetap cinta kan sama Ayah".

"Iyalah kalau gak cinta udah dari dulu aku ninggalin Ayah".

"Ayah juga cinta.. cintaaa banget pokoknya, makasih ya Bu, sejak kita masih pacaran dulu aku masih nganggur tapi kami tetap setia tidak ninggalin aku. Hingga alhamdulillah sekarang ini aku sudah dapat pekerjaan, semua ini karna semangat dari Ibu yang membuat Ayah terus bangkit".

"Sama-sama Yah, Ibu itu dari dulu tulus sayang sama Ayah. Ayah itu orangnya berbeda dengan orang lain, sosok lelaki yang pekerja keras, baik, sabar, perhatian pokoknya banyak di diri Ayah yang membuat Ibu jatuh cinta sama Ayah".

"Duhhh Ibu ini, bikin Ayah malu aja. Begitu juga Ayah, biasanya orang menilai dari sisi materi nya apalagi waktu itu Ayah lagi nganggur mungkin cewek lain udah kabur. Tapi Ibu selalu ada buat Ayah ngasih semangat, jika Ayah merasa putus asa Ibu selalu support dan terus menyemangati Ayah. Makasih ya Bu selama ini, sudah mau berjuang bersama Ayah dari nol sampai sekarang".

"Sama-sama Yah, sudah kewajiban Ibu selalu ada buat Ayah baik susah maupun senang. Kata pribahasa dibalik kesuksesan suami, ada istri yang hebat. Ibu tidak akan pernah meninggalkan Ayah saat lagi susah maupun senang".

"Aduuh meleleh hati Ayah denger nya, betul banget itu. Beruntung banget Ayah punya Ibu yang sangat sholehah, Bu kira-kira ada pikiran pengen punya anak lagi gak ?".

"Ibu sih gimana di kasihnya, kan anak itu bawa rezeki Yah".

"Jadi bener nih mau punya anak banyak ?".

"Iya Yah kalau Ibu sih gak masalah".

"Ayo kalau gitu kita bikin !". Ucapku nyengir

"Ahh pantesan ada maunya, tapi pelan-pelan ya kan punya Ayah gede".

"Haha bukannya Ibu suka yang gede".

"Ihhh dasar".

Malam itu aku menikmati istriku yang sangat cantik dan sholehah ini, rencananya aku pengen punya anak banyak. Karna aku sendiri merupakan anak tunggal, aku tau rasanya gak punya sodara gimana. Aku ingin suatu saat nanti anak-anak ku hidup rukun, saling mengasihi dan menyayangi satu sama lain. Pagi harinya kami semua bersiap-siap, anak-anak ku sendiri sekolah. Istriku sendiri lagi mempersiapkan sarapan untuk kami.

"Ayah kita sarapan dulu ya, Ayah kan duluan pergi harus pagi-pagi kalau anak-anak agak santai apalagi Salman nanti masuknya jam 8".

"Iya Bu, Salma di jemput pakai bus sekolah lagi Bu ?".

"Iya Pah sekarang sudah mulai di antar jemput lagi".

"Syukurlah kalau begitu Bu, jadi Ibu gak kerepotan lagi. Tapi nanti pulangnya gimana kalau Ibu masih di paud ?".

"Pulangnya jam 10 an Pah, kan Salma juga jam 10 pulangnya. Aku suruh Salma ke sekolahnya Salman kalau misal Ibu belum pulang, kan deket dari rumah".

"Baguslah kalau gitu Bu, tapi Ibu bener bisa ngelakuin nya sendiri gak kerepotan ? Kalau misal capek nanti Ayah cari asisten rumah tangga untuk bantu-bantu kita".

"Enggak ko Yah, Ibu kan gak kerja selalu ada di rumah jadi kalau cuma seperti ini gampang Yah Ibu bisa sendiri".

"Hebat Ibu ini, padahal pekerjaan rumah juga sudah banyak".

"Kan itu sudah tugas seorang istri, Ayah pokoknya jangan khawatir Ibu baik-baik aja ko. Bentar Yah, Ibu lihat anak-anak dulu biar kita sarapan bareng !".

"Iya Bu, Ayah tunggu".

Anak-anak ku baru bangun tidur, aku sendiri harus segera bersiap-siap pergi bekerja. Kerjaku semakin semangat karna istriku dan kedua anak-anakku, aku akan terus bekerja keras demi membahagiakan kalian semua.

"Anak-anak Ayah sudah pada bangun nih, ayo nak kita sarapan dulu ! Ibu bikin nasi goreng dan telor mata sapi untuk kita".

"Asiiiiiikk Salma suka sekali nasi goreng".

"Salman juga suka".

"Kalian cuci tangan dulu sana dan cuci muka biar seger !". Ucap Istriku

"Iya Bu".

Setelah itu kita sarapan bersama, kebersamaan seperti inilah yang aku suka berkumpul bersama keluarga-keluarga ku. Pukul setengah tujuh pagi aku langsung segera pergi ke kantor, pagi ini akan ada acara meeting. Aku sendiri jika banyak kerjaan bisa sampai pulang malam tapi hari ini jam 5 sore aku sudah pulang.

"Ayah mandi dulu sana ! Nanti kita makan bersama".

"Iya, anak-anak kemana Bu ?".

"Ada di kamarnya, Salma lagi belajar kalau Salman lagi main mobil-mobilan di kamarnya. Mereka belum tau Ayah sudah pulang tadi Ibu bilangnya Ayah pulang malam, pasti mereka seneng Ayah udah pulang".

"Ayah tadi beli es krim dan makanan untuk mereka Bu, Ayah mau ke kamar anak-anak dulu ya ngasih makanan !".

"Iya Yah, mereka pasti seneng Yah. Ibu mau nyiapin dulu ya mandinya buat Ayah".

"Iya Bu".

Pelan-pelan aku ke kamar Salman dulu, kamar mereka bersebelahan. Aku panggil mereka dari luar.

"Salman ! Salma ! Ayah sudah pulang nih !". Ucapku berteriak.

Dalam sekejap, mereka langsung keluar dari kamar nya mereka sampai berlari. Keduanya memeluku saat aku berlutut.

"Asiiiiiikk Ayah pulang !". Ucap Salman antusias dan memeluku

"Ayah tumben jam segini sudah pulang ? Seneng banget Ayah sudah pulang. Itu Ayah bawa apa ?". Ucap Salma

"Iya nih Ayah hari ini kerjaannya sudah beres jadi bisa langsung pulang, Ayah tadi beli es krim dan makanan ringan untuk anak-anak Ayah. Nih masing-masing sudah Ayah beliin untuk kalian !". Sambil memberikan masing-masing satu kantong keresek pada mereka.

"Horeeeee es krim !". Ucap Salman

"Ada coklat juga, makasih ya Yah !". Ucap Salma

"Iya sama-sama, kalian sudah mandi belum ?".

"Sudah dong". Ucap Salma

"Aku juga udah".

"Anak-anak Ayah memang pinter, tapi nanti ya makan eskrim nya pasti kalian belum pada makan ? Sebelum makan es krim kita makan bersama dulu ya ?".

Kemudian istriku datang menghampiri kami.

"Ayah mandi dulu ! Sudah Ibu siapkan".

"Ayah mandi dulu ya anak-anak, nanti kita makan bareng !".

"Iya Yah, kita tunggu ya eskrim nya di simpan dulu ah di kulkas". Ucap Salma

"Aku pengen makan sekarang es krim nya". Ucap Salman

"Kan kata Ayah nanti makan eskrim nya habis makan dulu Dek".

"Aku pengen sekarang makan es krim nya".

"Kan biar bareng makan nya nanti sama Kakak Dek, nanti kalau makan eskrim nya duluan udah habis punya Salman". Ucap Istriku

"Yasudah kalau gitu, aku juga disimpan dulu di kulkas". 

"Anak pinter, anak-anak Ayah paling pintar. Bentar ya sayang nya Ayah ! Gak bakal lama ko".

"Iya Yah, aku tunggu !". Ucap Salman

Aku langsung pergi ke kamar mandi, aku bahagia melihat wajah mereka yang tersenyum. Aku ingin selamanya seperti ini, aku akan terus bahagia bersama keluargaku.

"Eskrim Kakak dan Salman Ibu masukan ke dalam kulkas ya ?".

"Iya Bu, takutnya langsung mencair. Salma mau belajar lagi ya Bu sambil nunggu Ayah".

"Iya nak, nanti Ibu panggil kalau Ayah sudah selesai".

"Aku juga mau main mobil-mobilan lagi ah".

"Nanti Ibu panggil kalian lagi ya, Ibu mau siapin dulu makan nya".

Setelah aku selesai mandi dan berpakaian, kita solat magrib berjamaah dulu. Karna sudah adzan magrib, aku sebagai imam memimpin keluargaku kebetulan keluargaku dua orang laki-laki dan dua orang perempuan. Kami sholat dengan khusu, kemudian tak lupa setelah sholat kami mendo'akan kedua orangtua kita dan mendo'akan keluargaku agar tetap rukun, mudah rezeki dan diberi kesehatan selalu.

Bab 2 Aku bangga sama anak-anak ku

Setelah itu kita makan malam bersama, biasanya aku jarang sekali bisa makan bareng bersama keluargaku.

"Ayo anak-anak kita makan dulu !".

"Iya Bu, beberapa hari ini udah mau liburan nih Yah pengen cepet-cepet ke rumah nenek".

"Oh iya Yah, adek ku Damar dan Mila katanya pengen ikut juga nanti ke Subang".

"Silahkan aja kalau mau ikut, kan seru kalau pergi nya rame-rame".

Damar dan Mila adalah adiknya Suci istriku, Mila sedang kuliah semester dua dan Damar adiknya dia sekolah di SMA kelas 3.

"Bakal seru Yah kalau tante Mila dan Om Damar ikut". Ucap Salma

"Iya nanti kita kesananya rame-rame, memang Mila juga sedang libur Bu ?".

"Libur Yah sama-sama libur panjang nanti".

Kita semua makan malam bersama, aku sendiri sudah rindu sama Bapak dan Mamahku di kampung. Jarang banget aku dan keluargaku bisa bertemu dengan mereka, liburan nanti kesempatan buat kami karna aku sendiri libur. Anak-anak ku sendiri sangat bersemangat ingin segera pergi liburan, kasihan juga melihat mereka butuh refreshing agar tidak jenuh selama sekolah. Hingga akhirnya tibalah acara kenaikan semester, tapi aku sendiri sekarang ini sedang bekerja ingin sekali aku melihat anakku Salma di sekolahnya. Demi bisa melihat anakku, aku minta izin pada atasanku untuk bisa menghadiri acara kenaikan semester putriku.

"Ayah gimana bisa ke sekolah Salma gak ?".

"Bisa Bu, tadi Ayah sudah izin sama atasan Ayah tapi gak bisa lama".

"Iya Yah gak apa-apa asal bisa lihat Salma, kasihan dia kalau sampai Ayah gak datang dari tadi nanyain Ayah terus".

"Iya Bu, Ayah sekarang juga mau langsung pergi ke sekolah".

"Ibu tunggu, hati-hati di jalannya ya Yah".

"Iya Bu".

Setelah di kasih izin oleh atasanku, aku langsung segera pergi ke sekolahnya Salma. Aku langsung naik mobilku dan langsung menuju kesana, aku sangat bahagia sekali bisa menghadiri acara anakku. Salma pasti sangat bahagia jika aku bisa ikut menghadiri acaranya. Sekitar 20 menit aku sudah sampai di sekolah, aku langsung masuk ke dalam. Suasana sekolah cukup ramai, banyak orang-orang yang berada disini. Hingga aku melihat ada panggung dan sedang berlangsung acara sambutan. Aku mencari keberadaan istriku, hingga akhirnya aku menemukannya sedang duduk. Aku langsung duduk di sebelahnya tanpa dia sadari keberadaanku karna lagi fokus melihat kedepan dan disebelahnya ada Salman yang sedang fokus juga melihat kedepan.

"Duh serius amat".

Seketika istriku langsung melirik ke arah ku dan tersenyum dia kaget karna tau-tau aku ada di dekatnya.

"Ayah ih ngagetin aja, kapan Ayah tiba ?".

"Baru saja, acaranya sudah mulai Bu ?".

"Ayaaaah, asik ada Ayah. Ayah memang gak kerja ?".

"Ayah izin dulu nak, kamu besok ya acaranya ?".

"Iya Yah, Ayah jangan lupa datang ya ?".

"Pasti nak, kan besok Ayah libur".

"Asiiiiiikk, Ayah janji ya mau belikan aku sepeda ?".

"Iya, nanti bareng beli nya sama Kak Salma ya ?".

"Aku pengen yang bagus sepeda nya ya Yah".

"Iya nanti Salman yang pilih mau beli yang mana".

"Horeeeee....".

"Bilang apa sama Ayah ?". Ucap Istriku

"Makasih Ayah, Ayah memang baik pokoknya Ayah terbaik di dunia".

"Hehe bisa aja kamu nak, kamu lagi makan apa itu ?".

"Oh ini coklat Yah tadi beli di depan, aku pengen duduk dekat Ayah ah".

"Iya sini, kita nonton bareng-bareng. Kak Salma belum tampil ya ?".

"Belum Yah".

"Baru acara sambutan Yah, nanti sebentar lagi acara nyanyi bersama".

"Oh gitu ya".

Setiap kelas maju ke atas panggung, dan di mulai dari kelas 1. Aku lihat ada Salma dia berdiri di paling depan tapi dia terlihat cemberut, aku langsung maju kedepan untuk memfoto nya. Salma sendiri melihat ku dan dia langsung tersenyum, aku melambaikan tanganku agar dia semangat. Salma sendiri langsung bersemangat aku memfoto nya beberapa kali kemudian aku duduk kembali. Setelah acara nyanyi kelas nya Salma selesai, dia terlihat berlari dan menghampiriku. Dia langsung mencium tanganku dan terlihat senang.

"Aku kira Ayah gak akan datang ?".

"Datang dong, masa acara anak sendiri gak datang".

"Hee aku seneng banget Ayah datang, Ayah nanti aku akan membacakan puisi dan isinya untuk Ayah dan Ibu".

"Wah anak Ayah hebat, semangat ya nak. Kira-kira kamu juara gak ?".

"Gak tau Yah, soalnya teman-teman Salma pada pinter-pinter".

"Bagi Ayah, Salma mau jurara enggaknya juga gak apa-apa. Asal isi raport bagus-bagus, yang penting Salma sudah berusaha dan rajin belajar. Ayah bangga sama Salma, di paud juga kan dulu Salma juara pertama. Anak Ayah pinter-pinter dan hebat".

"Aku juga pinter ko Yah". Ucap Salman gak mau kalah

"Iya Salman juga pinter".

"Yang penting kalian pada rajin belajar nya dan bikin Ibu dan Ayah bangga".

"Pasti Bu, eh Salma mau kedepan lagi ya mau kumpul sama teman-teman".

"Iya nak, semangat ya".

Aku bangga punya mereka, mereka itu semangat hidupku. Aku dan istriku tersenyum melihat Salma yang sangat bersemangat, kemudian kita kembali menonton acara selanjutnya. Hingga tibalah pembacaan juara-juaranya, di mulai dari kelas 1. Aku sendiri jadi deg-degan, anaku Salma masuk juara enggak nya.

"Dan juara pertama nya dari kelas satu selamat kepada Salma Prisilia... Silahkan naik ke atas panggung !".

Aku dan istriku sangat bahagia saat nama Salma di sebut, aku sangat bersyukur anaku masuk lagi juara.

"Alhamdulillah ya Yah anak kita juara pertama lagi, kemarin waktu di paud juga Salma juara pertama".

"Iya Bu, Salma memang pintar".

"Salma setiap pulang sekolah selalu belajar terus Pah, dia memang anak rajin".

"Iya, Salaman juga harus seperti Kak Salma ya bisa juara ?".

"Iya Yah aku pasti juara ko".

"Ayah mau memfoto Salma dulu !".

"Aku ikut Yah".

Aku dan Salman berjalan ke depan, aku memfoto nya yang sedang di berikan hadiah oleh gurunya. Seketika mataku berkaca-kaca, saat melihat anakku juara kelas. Rasa lelah, capek dan ngantuk saat bekerja seketika terbayarkan sudah dengan melihat anakku juara. Aku sangat bangga melihat anakku yang pintar, aku memberikan jempol pada Salma saat dia tersenyum melihatku. Setelah penerimaan hadiah, Salma langsung menghampiri ku orang-orang di sekitar melihat kami saat Salma berlari dan memelukku. Mereka sendiri ikut merasa senang dan bangga sama Salma, Salma memberikan hadiah dan medali nya padaku.

"Nih Yah aku titip, ini buat Ayah !".

"Makasih nak, Ayah benar-benar bangga sama kamu. Nanti di pajang ya di kamar kamu, hebat banget anak Ayah".

Dan istriku menghampiri kami.

"Hee makasih Yah".

"Selamat ya nak, anak Ibu memang pintar. Pertahankan ya, walaupun Salma juara bukan berarti berhenti belajar tapi harus semakin rajin belajarnya".

"Pasti Bu, Salma akan terus rajin belajar".

"Hebat anak Ayah, sekarang masih ada acaranya ?".

"Sudah beres sih Yah kalau Salma, mungkin tinggal kelas-kelas lainnya dan nanti terakhir pembagian raport".

"Oh gitu, nak Ayah gak bisa lama-lama ya maafin Ayah yang penting Ayah sudah lihat anak Ayah juara, Ayah harus kembali lagi ke kantor".

"Iya Yah gak apa-apa, Salma sudah seneng ko Ayah bisa kesini".

"Anak Ayah memang baik, besok sudah dari sekolahnya Salman kita semua pergi beli sepeda untuk kalian".

"Horeeeee asiiikkk.... Asiiiiiikk mau beli sepeda". Ucap Salman sampai loncat-loncat

Aku dan istriku tertawa melihat tingkahnya

"Makasih ya Yah, seneng banget. Kira-kira Ayah mau beliin sepeda yang gimana ?".

"Terserah Salma aja, pokoknya nanti Sepeda yang di sukai Salma akan Ayah belikan".

"Asiiiiiikk... Aku pengen yang di depannya ada keranjangnya dan warnanya pengen pink".

"Iya nanti kita beli yang seperti itu".

"Kalau Salman pengen yang bisa terbang Yah seperti di film kartun".

"Haha mana ada sepeda yang bisa terbang yang di kartun itu bohong". Ucap Salma tertawa

"Iya nak, gak ada sepeda yang bisa terbang yang penting sepeda nya bagus dan kalian harus menjaga sepeda nya baik-baik. Sayangi sepedanya jangan rusak, menjaga barang itu harus dengan penuh kasih sayang. Kalau menjaganya dengan baik sepeda nya pasti akan awet".

"Iya Yah Salma akan menjaga baik-baik sepedanya, pokoknya akan selalu di rawat biar tetap awet".

"Salman juga Yah pasti akan menjaganya dengan baik, akan Salman mandikan selalu dan pengen di simpan di kamar juga".

"Haha gak segitunya juga Dek, sekalian aja bawa tidur".

"Pokoknya nanti sepeda Salman pengen di simpan di kamar takut ada yang nyuri".

"Iya, nanti di simpan di kamarnya Salman. Yaudah Ayah mau pergi dulu ya, mau kerja lagi !".

"Ayah pulangnya jangan malam-malam". Ucap Salman

"Iya Ayah usahakan, Bu Ayah mau kerja dulu ya ?".

"Iya Yah hati-hati ya !".

Aku berpamitan sama mereka, aku cukup puas bisa melihat Salma. Dan yang paling berkesan, aku bisa melihat saat Salma juara kelas naik ke atas panggung. Disitu aku merasa sangat bangga, aku benar-benar bahagia melihat anakku saat menerima hadiah dan medali. Tiba di kantor aku kembali bekerja, aku semakin bersemangat saat bekerja. Hingga tekan kerjaku sampai menyapaku melihatku sangat bersemangat hari ini.

"Wah ada yang senang nih, dari tadi senyum-senyum terus dapat lotre ya ?". Ucap temanku

"Ini lebih dari lotre".

"Apaan bagi-bagi dong, apa dapat istri baru ya ?".

"Ngawur kamu, itu sih kamu yang pengen punya istri lagi. Tadi kan aku izin keluar, aku melihat acara di sekolah anakku yang paling buat aku seneng dia juara pertama di sekolahnya".

"Hebat banget anak kamu Sep, selamat ya pasti bangga punya anak pintar".

"Bangga banget tentunya, lebih senang dari apapun harta sebanyak apapun tidak sebanding dengan kebahagiaan di keluarga".

"Kamu bener banget Sep, aku sendiri baru punya anak satu masih balita semoga dia juga nantinya tumbuh jadi anak yang pintar dan bikin bangga orangtua".

"Aamiiin, semoga anak-anak kita jadi anak yang Soleh dan Solehah nantinya akan jadi anak yang sukses".

"Aamiin ya Allah".

Walaupun kerja ku sangat banyak tapi rasanya langsung terasa mudah dan cepat. Hingga jam setengah enam sore aku bisa langsung pulang karna pekerjaanku sudah selesai. Mereka pasti bahagia saat aku bisa pulang lebih awal, malam ini bisa makan malam bareng lagi bersama mereka. Sebelum pulang aku mampir dulu ke toko mainan, aku membelikan boneka untuk Salma dan mobil-mobilan untuk Salman mereka pasti sangat senang. Karna aku sendiri tau kesukaan mereka, besok kerjaku libur aku dan keluarga mau membelikan sepeda untuk anak-anak ku.

Bab 3 Tiba di Subang

Besok aku juga ingin mengajak mereka jalan-jalan, gak sabar juga pengen cepat liburan aku rindu kampung halamanku. Akhirnya aku tiba di rumah, hadian untuk mereka aku simpan di meja tamu dan aku langsung masuk kedalam. Ternyata mereka bertiga lagi pada berkumpul di ruang tengah sedang menonton TV, sampai keberadaan ku tidak di ketahui mereka. Tapi saat itu Salma melihatku dan dia langsung berlari.

"Ayaaaahhhh...... Horeeeee Ayah sudah pulang". Ucap Salman

"Asiiiiiikk bisa makan bareng lagi sama Ayah". Ucap Salma

"Ayah maaf gak kedengaran, kita lagi asik nonton TV".

Mereka semua mencium tanganku

"Iya gak apa-apa Bu. Oh iya untuk Salma dan Salman coba lihat di meja makan ada apa ?".

"Apa Yah ?". Ucap Salma

"Sepeda bukan Yah". Ucap Salman

"Kalau sepeda besok, kalian lihat saja".

Mereka berdua langsung pergi ke ruang tamu dan kembali lagi dengan membawa masing-masing kado dari ku.

"Asiiiiiikk... Apa ini Yah ?". Ucap Salman

"Jadi penasaran apaan ?". Ucap Salma

"Kalian buka saja".

Mereka berdua merobek kertas kado nya, aku dan istriku tersenyum melihat mereka. Tapi setelah di buka ternyata hadiahnya tertukar, aku dan istriku tertawa melihat tingkah lucu mereka wajahnya kaget saat tau isinya.

"Haha itu ketuker nak, Salman mobil-mobilan dan Kak Salma boneka".

Mereka langsung menukar hadiahnya, mereka langsung bahagia saat menerima hadiah dariku. Aku sendiri merasa sangat senang, ternyata mereka suka dengan hadiah yang aku kasih.

"Makasih Yah, bonekanya bagus banget aku suka, ada dua bonekanya dan ada pakaiannya juga bisa di ganti-ganti. Cantik banget bonekanya, rambutnya panjang. Aku pengen besar nanti seperti boneka Barbie ini".

"Anak Ayah pasti akan jadi anak cantik nantinya".

"Aku juga suka mobil nya Yah, ini yang bisa jalan sendiri kan Yah ?".

"Iya, itu pake remote nak. Sini Ayah kasih contoh ! Nih tombol yang ini untuk maju, yang ini kalau belok dan ini berhenti. Coba Salman gerakan remote nya !".

Salman mulai menggerakkan remote nya dan mobilnya mulai berjalan, dia sangat senang sampai ketawa-ketawa saat mobilnya melaju dengan cepat.

"Keren banget mobilnya Yah, bagus majunya cepet".

"Syukurlah kalau kalian suka, Ayah mau mandi dulu ya".

Mereka sampai gak jawab saking senengnya sama mainan barunya masing-masing.

"Tuh Ayah ngomong sampai gak di jawab, katanya Ayah mau mandi". Ucap istriku

"Hee iya Yah silakan, maaf ya Yah !". Ucap Salma

"Iya nak gak apa-apa".

Mereka langsung fokus, Salman sendiri tertawa terus saat mobilnya melaju dengan cepat. Mereka pantas menerimanya karna mereka anak-anak hebat dan pintar, aku langsung segera mandi.

"Nak mainin mobilnya jangan terlalu kencang nanti nabrak tembok dan mobilnya jadi rusak, pelan-pelan aja".

"Iya Bu".

"Aku mau main bonekanya di kamar ya Bu, nanti kasih tau aja kalau udah mau makan".

"Iya nak nanti Ibu panggil".

Mereka berdua lagi asik sama mainan barunya, setelah itu setelah semuanya beres kita semua makan bersama. Saat lagi makan ada tamu yang datang.

"Bentar, Ibu ke depan dulu lihat siapa yang datang !".

Kemudian Ibu kembali lagi ternyata yang datang Damar, Mila dan ada dua temannya.

"Eh kalian, sini kita makan bareng !".

"Makasih Om, kita sudah makan. Ini Om teman-teman ku Salsa dan Jefri, mereka ingin ikut ke Subang katanya tapi tenang aja ko kita nanti bawa mobil sendiri, mumpung pada libur juga karna gak ada acara untuk liburan". Ucap Mila

"Boleh aja silahkan, tapi kalian harus izin dulu ya sama orangtua kalian".

"Iya Om, orangtua ku sudah ngizinin ko". Ucap Salsa

"Iya Om, kita pengen pergi bareng sama Mila tapi gak ada acara". Ucap Jefri

"Iya besok lusa ya kita berangkatnya, dari sini kita pagi-pagi sekali berangkatnya. Sebelum pergi sediakan dulu perlengkapannya, bekal dan barang-barang yang di butuhkan, sama cek dulu kondisi mobilnya".

"Iya Om siap, makasih ya Om udah ngizinin kita". Ucap Damar

"Iya sama-sama, kalian gak mau ikut makan ?".

"Enggak Om makasih, kita sudah mau pulang lagi ko. Cuma mau bilang itu aja hee". Ucap Mila

"Yasudah kalau gitu hati-hati pulangnya, kalian bawa mobil ?".

"Iya Om kita naik mobil, yasudah Om Kak Suci kita pulang dulu ya ?".

"Iya hati-hati di jalannya". Ucap istriku

Mereka pun pergi, liburan nanti kita akan pergi rame-rame. Jadi ada dua mobil dan masing-masing 4 orang. Di kampung ku sendiri, suasananya masih alami seperti di pedesaan pada umumnya. Banyak pepohonan, gunung di sekitarnya dan banyak sawah. Udaranya sangat sejuk masih segar tidak ada polusi udara, berbeda dengan di kota sudah banyak pabrik-pabrik dan transportasi yang mengakibatkan udaranya sudah tidak enak lagi. Tapi di desaku ini sangat terkenal angker, aku jadi ingat dulu waktu aku kecil ada kejadian misterius. Desa kami menemukan lima orang mahasiswa tewas mengenaskan, mereka tergantung di pohon beringin. Sampai saat ini jalan yang menuju kesana di tutup, agar tidak menimbulkan banyak korban.

"Jadi kita ke Subang nya besok lusa Yah ?". Ucap Salma

"Iya kita kesananya besok lusa biar liburannya terasa lama, liburannya kan dua minggu kita disana nya satu minggu aja ya ?".

"Yaaaa ko satu minggu Yah, aku pengen lebih lama lagi tinggal di rumah neneknya".

"Kan seminggu lagi bisa liburan ke tempat lain, memangnya liburannya mau ke rumah nenek aja ?".

"Aku sih pengennya di rumah nenek aja Yah". Ucap Salma

"Aku pengen ke tempat lain Yah, pengen ke Dufan atau pergi ke Pantai". Ucap Salman

"Enakan di rumah nenek aja, suasananya enak tenang kalau ke Dufan atau pantai pasti rame".

"Gimana nanti aja ya anak-anak, lihat situasinya dulu".

Setiap ada apa-apa, pasti pendapat mereka selalu beda. Beda anak beda karakter, setelah selesai makan malam kita berkumpul di ruang tengah sambil membicarakan tentang rencana mau pergi ke Subang.

"Terakhir kesana waktu lebaran kemarin ya Yah ?". Ucap istriku

"Iya sudah sekitar 7 bulanan ya gak berasa sudah lama".

"Ayah nanti disana aku pengen pergi ke sawah lagi sambil mancing ikan kemudian kita langsung makan-makan di sana". Ucap Salma

"Iya nanti kita ke sawah lagi dan makan-makan, oh ya katanya Kakek juga lagi menanam beberapa sayuran dan buah-buahan juga".

"Makin seru tuh, pasti enak makan sayuran atau buah-buahan memetik langsung".

"Kalau Salman lebih seru saat kita mandi di sungai nya dan kita main layangan di sawah".

"Apapun yang kalian mau nanti disana bebas mau apa saja".

"Asiiiiiikk makasih Yah".

Setelah terus ngobrol-ngobrol, tak terasa sudah pukul 9 malam hingga kitapun langsung tidur.

"Yah mereka pada ikut apa gak akan merepotkan Ibu kamu ? Soalnya Damar dan Mila bawa temannya".

"Enggak, justru Ibu seneng kalau banyak orang. Kan di rumah mereka cuma berdua, sedangkan rumahnya lumayan luas. Nanti di rumah bakal rame dan liburannya makin seru".

"Syukurlah kalau gitu, aku takutnya malah membuat orangtua kamu kerepotan. Tau sendiri anak-anak muda jaman sekarang pada kepo dan kurang sopan. Aku jadi gak enak sama orangtua kamu, aku sendiri yang malu nya sebagai Kakaknya".

"Enggak ko tenang aja, nanti kita nasehati dulu mereka karna memang di kampung ku itu banyak tempat yang angkernya. Tapi gak apa-apa sih asal kita jangan ngomong yang aneh-aneh, kita harus menjaga lisan dan sikap".

"Ayah aja nanti ya yang nasehati mereka, soalnya kalau aku yang nasehati gak bakal di dengerin".

"Iya sayang siap, udah ah kita tidur yu aku udah ngantuk".

"Iya Yah, Ibu juga udah ngantuk".

Pagi pun tiba, anak-anakku sudah semangat mereka langsung bersiap-siap dan segera mandi karna akan pergi membelikan sepeda untuk mereka.

"Ayo Yah kita langsung pergi sekarang !". Ucap Salma

"Masih pagi, kita sarapan dulu terus mandi dulu".

"Kan biar lebih lama Yah jalan-jalan nya, kan kata Ayah mau jalan-jalan juga".

"Iya kalau gitu Ayah mau mandi dulu, kalian juga pada mandi dulu nanti kita sarapan bersama. Ibu lagi masak untuk sarapan kita".

"Horeeeee hari ini mau beli sepeda". Ucap Salman

"Kalian siap-siap dulu ya ?".

"Iya Yah".

Mereka langsung pergi ke kamar masing-masing untuk mandi, walaupun masih pada kecil mereka sudah bisa mandi sendiri. Sejak kecil, aku membiasakan mereka untuk hidup mandiri. Agar besar nanti mereka tidak manja, selain itu secara perlahan kita juga mengajarkan mereka seperti saat bangun tidur membereskan tempat tidur nya, cara pakai pakaian sendiri, mandi sendiri dan masih banyak lagi. Sekitar jam 8 pagi kita semua sarapan bersama, di saat lagi libur begini aku bisa berkumpul bersama mereka. Aku ingin setiap hari terus berkumpul seperti ini tapi aku juga harus melakukan kewajiban ku untuk menafkahi mereka. Apalagi mereka akan terus tumbuh besar, aku harus semakin bersemangat bekerja. Aku ingin keduanya sekolah sampai sarjana dan aku juga belum tau, apakah Tuhan akan memberikan kami lagi buah hati enggaknya. Yang jelas banyak anak banyak rezeki itu kata pepatah tapi kalau kebanyakan aku harus semakin bekerja keras. Aku gak mau punya anak terlalu banyak, cukup 2 aja atau maksimal 3 orang aja berarti satu lagi kalau itupun di kasih oleh Tuhan. Saat lagi sarapan, aku melihat keduanya sangat bersemangat sekali sarapannya pun cepat di habiskan. Anak-anak paling seneng kalau yang namanya di kasih hadiah tapi sepertinya memang setiap orang juga pasti seneng kalau di kasih hadiah.

"Ayah nanti kita akan beli sepeda dimana ?". Ucap istriku

"Nanti kita akan pergi ke teman kenalannya Ayah biar sepedanya bagus dan kita gak kemahalan. Banyak yang jual sepedanya jelek tapi harganya mahal kalau belinya sama yang kenal kan gak akan kena tipu".

"Ayah benar, kan kita gak tau sepeda yang bagus gimana".

"Nah itu dia, tapi nanti kita lihat-lihat dulu dan sepedanya di simpan dulu kan mau jalan-jalan dulu".

"Horeeeee kira-kira mau jalan-jalan kemana Yah ?". Ucap Salman

"Kemana aja nanti kita muter-muter, tapi sepertinya macet karna ini sudah hari libur".

"Iya kalau di kota pasti macet, makanya Salma lebih senang pergi ke kampung biar gak macet".

"Udaranya juga enak ya nak kalau di kampung ?".

"Iya Yah udaranya segar kalau di kampung".

Setelah selesai sarapan kita langsung bersiap-siap untuk segera pergi, dari sini kita akan pergi ke toko sepeda dulu agar anak-anak bisa milih-milih dulu. Dan ternyata benar, di jalannya macet padah masih pagi-pagi. Tapi tidak sampai macet total, kitapun sampai kesana agak lama sekitar satu jam lamanya kita baru sampai di sana. Kita langsung masuk ke dalam toko sepeda nya, ada banyak aneka sepeda yang sangat bagus-bagus dari sepeda anak kecil sampai orang dewasa. Aku sendiri jadi kepengen beli melihat sepeda yang terlihat bagus, tapi cukup untuk anak-anak ku aja.

"Silahkan kalian langsung pilih sepeda mana yang kalian suka !".

"Asiiiiiikk....".

Mereka berdua langsung mencari sepeda yang mereka suka, keduanya sangat bersemangat dan senang sekali.

"Ibu mau beli sepeda juga ?".

"Gak ah, untuk mereka aja Yah. Mending Ayah beli untuk olahraga biar tiap libur bisa main sepeda".

"Mending kita beli masing-masing satu aja Bu, kan seru kalau nanti pas hari libur kita main sepeda berempat".

"Bukannya gak mau Yah, Ibu lupa lagi main sepeda gimana hee".

"Haha dasar Ibu ini, ya gak apa-apa kan nanti Ayah yang ajarin. Yasudah kita beli aja ya masing-masing satu, biar kita bisa main sepeda bersama".

"Hee iya deh terserah Ayah aja, tapi nanti Ibu belajar dulu ya Yah".

"Iya nanti di ajarin, nanti kalau pas libur kan kita bisa ke taman main sepeda pasti seru. Jalan ke taman kan aman gak me jalan raya, buat anak-anak lebih aman".

"Iya Yah kita muter-muter aja di taman, lumayan olahraga biar Ibu langsing hee".

"Haha bukannya badan Ibu udah langsing ? Kan udah ideal kalau segitu".

"Masa sih Yah, Ibu gendut ah".

"Enggak, gendut apanya Ibu dari dulu tetap sama tetap cantik dan langsing".

"Ah Ayah bisa saja".

Istriku langsung tersenyum mukanya memerah saat aku puji, tapi memang benar istriku itu langsing mungkin udah turunan gak ada yang gendut. Akhirnya kita beli sepeda masing-masing satu, seru juga sepertinya kalau kita sekeluarga pakai sepeda jalan-jalan sambil berolahraga.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!