NovelToon NovelToon

Menikahi Calon Papa

Prolog

...Setelah kemarin beberapa kali modifikasi kerangka karena kepengen ikut lomba. Akhirnya aku kembali ke kerangka awalnya dan tidak jadi mengikuti lomba. Selamat menikmati karya ku Kesayangan Pasha.... Cerita ini cerita komedi romantis, jadi nikmati kata perkata di babnya yaa... ...

...•••••••••••••...

Enam kali bunyi cekrek terdengar beriringan dengan silaunya lampu flash. Dua orang pria memotret separuh tubuh kekar yang penuh cap lipstik.

Bahkan dua orang bersarung tangan lainnya meraih CD dan bra wanita yang tertinggal di ranjang untuk dimasukkan ke dalam plastik steril.

"Kalian pikir aku korban mutilasi."

Pria berpakaian rapi itu tersenyum. "Jadi kali ini kau bermalam dengan seorang gadis muda Bos? Berarti Bos sudah ada kemajuan."

Antoni asisten personal dari pria 33 tahun yang saat ini duduk bersandar di bawah gulungan selimut putih ala hotel bintang lima dengan lemahnya. Rega Putra Rain nama lengkap sang Tuan.

CEO tampan bermata biru itu pemilik garis keturunan ke dua dari bagan silsilah Raka Rain; pria blasteran Indonesia - Inggris.

Rega lah satu-satunya cucu yang berhak mewarisi kekayaan dan duduk di kursi kepemimpinan perusahaan X-meria yang cukup tersohor di tanah Asia bahkan sudah merebak ke belahan eropa dari puluhan tahun silam.

Anak kecil bukanlah incaran Rega. Dari dulu sampai sekarang wanita yang lebih dewasa yang menjadi idolanya, setidaknya dua tahun lebih tua dari Rega, karena fetish pria tampan itu memang tak sama.

Namun, malam tadi berbeda. Rega tampak ngamar dengan seorang gadis belia. 'Sugar Baby' orang-orang menyebutnya.

Pelan-pelan Rega menilik isi selimutnya, ia hanya mengenakan CD mahalnya dengan cap-cap lipstik berwarna merah menyala yang tercecer di setiap lekuk raganya.

Sedari kapan dia tertidur dan sedari kapan cap-cap bibir itu menempel di tubuhnya, bahkan ketiaknya. Seketika tanda tanya memenuhi kepalanya yang berat.

"Apa Bos menikmatinya?"

Pertanyaan Antoni membuat Rega mengerut keningnya. Mata Rega melirik dan sedikit terpaku pada sang asisten yang juga terdiam.

"Menikmati?"

Rega tak mengingat apa-apa semalam. Yang dia ingat, dia masuk ke dalam kamar ini dan minum berdua dengan gadis cantik lalu setelahnya dia tak tahu apa pun lagi.

"Semalam kau tertarik untuk minum dengan gadis yang merayu mu di bar. Lalu kau pesan kamar ini untuk bermalam bersamanya."

"Sekarang ke mana anak itu?" Ya, anak karena memang masih anak baru gede. Mungkin masih sekolah bahkan.

"Dia hanya meninggalkan pesan. Terima kasih sudah membuatku melayang, Om." Antoni bahkan mengecilkan suaranya agar lebih mirip anak gadis.

"Sopan!" Rega mengutuk ketus. Bisa-bisanya Antoni membaca pesan memalukan dari bocah kecil yang ditujukan untuknya.

"Maaf Bos." Antoni menyengir.

Rega mengambil dompet dari atas nakas dan dia sadar isinya sudah raib tak bersisa karena saat dia intip dari bawah yang keluar dan menjatuhi wajahnya hanya satu uang logam yang entah milik siapa.

"Sejak kapan ada receh di dompet mahal ku?"

Rega memijat keningnya, mungkin dengan demikian dia bisa mengingat kejadian yang entah kenapa tak sedikitpun dia ingat.

"Apa aku berikan ke gadis semalam?" Rega melirik Antoni dan tampaknya pria itu juga menguatkan dugaan asumsinya. "Mungkin."

"Jam tangan ku ke mana?" Rega mengedar maniknya ke segala arah. Tak ada satupun barang mahal miliknya yang tersisa.

"Jas ku. Sepatu ku. Ikat pinggang ku. Ponsel ku. Tidak lucu kalau Gadis itu juga yang mengambilnya kan?"

"Benarkah?" kernyih Antoni. Dia baru sadar, selain CD dan bra yang barusan ditemukan anak buahnya, tak ada satupun pakaian milik sang Tuan. "Kau kecurian Bos?"

Tanya yang membuat kepala Rega semakin bersungut. Dia tak mengingat apa yang terjadi semalam dan paginya dia kehilangan banyak barang mahalnya.

"Temukan gadis itu, cari untuk ku!"

Antoni menundukkan kepala lalu keluar untuk memeriksa cctv, sejujurnya Antoni tak melihat keluarnya gadis sewaan sang Tuan.

Antoni saja baru mendapat kunci dari resepsionis sepuluh menit yang lalu, dia tak tahu menahu tentu saja.

HOP SATU

"Om, mau minum sama aku?"

Gadis 17 tahun dengan ciri khas rambut cepolan yang tak rapi itu bernama Vanessa, sebut saja Anes jika menyayanginya. Usapan lembut dan menggoda Vanessa arahkan pada dada bidang seorang pria.

"Nama Om siapa?!" Vanessa harus berteriak hanya untuk bersaing dengan suara dentuman musik remix yang pekak.

Tubuhnya sempat menyingkir saat pria itu menepikan tangan mungilnya dari dada yang bidang. "Kau mencoba menggoda ku hmm?"

"Ayolah, Om. Minum bareng Marimar." Pria yang duduk di kursi bartender itu sempat terkekeh, gadis kecil yang masih rata berani beraninya menggoda dirinya.

Namun, jika terus diusap milik pribadinya. Lelaki mana yang tak goyah. "Om beneran nggak mau ajak aku minum? Kita ke kamar juga boleh."

"Siapa namamu?"

Pria itu bertanya lalu menenggak minuman miliknya. Dari raut wajahnya Vanessa bisa melihat ada masalah yang sedang ingin disingkirkan.

Mungkin, sedang ada masalah dengan ibunya. Ya, ibunya yang kini menjadi kekasih Om itu. Vanessa sengaja menggoda calon ayah tirinya demi menunjukkan bahwa lelaki pilihan ibunya tidak lebih baik dari ayahnya.

"Marimar, Om! Nama ku Marimar!"

"Nama yang bagus."

"Om siapa?"

"Panggil Mas Rega."

"Oh Okay, mas. Jadi gimana? Om mau minum dengan ku? Kita staycation di kamar ajah."

Rega terkekeh lengar, barusan sudah mas di akhir Om kembali. Tapi Rega tertarik dengan gadis yang punya bibir kecil itu, meski dia juga bingung; anak bau kencur yang entah akan dia apakan jika mabuk bersama, body gadis itu tak ada satupun yang masuk kriterianya.

"Pesan kamar yang bagus." Rega memberikan titah pada asistennya. Benar dia Antoni yang tersenyum mendapati sang tuan berkencan dengan gadis belia.

"Kamu berhasil Nes!" Gadis ber-rok mini memberi jari tengah pada Vanessa. "Sikat!" Dan Vanessa hanya tersenyum lebar seolah menang.

Bagaimana tidak, kekasih ibunya kini berada dalam genggaman tangannya. "Sayang Om. Ganteng ganteng tukang main cewek. Baru dielus cicit ciutnya aja langsung mau. Yang begini mau dijadiin Bapak tiri? Ogah!" batin memekik dengan lirikan mata penuh intrik.

"Kau masih sekolah?" Tiba di lift tiba-tiba saja pria itu tertarik untuk bersuara. "Masih."

"Kenapa bergaul dengan orang-orang dewasa hmm? Orang tuamu tidak mencari?"

"Jangan bahas mereka."

Pria itu terkekeh sekilas hingga sedikit menggerakkan kepala. "Anak gadis sekecil kau, bisa minum berapa gelas memangnya?"

"Kita lihat saja nanti. Siapa yang lebih dulu teler. Om atau Marimar!" Vanessa melihat seringai yang teramat getir dari bibir pria itu.

Mungkin boleh menyeringai dulu sebelum nantinya akan dia eksekusi. Tak lama mereka sampai di kamar sewaan termahal.

Sampanye telah tersuguh. Staf hotel juga menyediakan dua gelas heels dan meja kecil yang diletakkan di atas ranjang.

Tentu tak butuh waktu lama Vanessa mampu membuktikan ucapannya. Sebab ada serbuk obat tidur yang membantunya menaklukkan lelaki yang diduga kekasih ibunya.

Senyum miring pun ter-ulas di bibir Vanessa setelah aksinya kemudian lancar. Dari saku celana Vanessa meraih ponsel dan dompet pria yang tertidur pulas itu.

"Rega Putra Rain." Vanessa membaca nama di KTP yang dia pegang. Putra Rain berarti anak hujan yang dia artikan kembali. "Oooh, jadi namanya, Rega gerimis."

"Baru 33 tahun? Ternyata dia lebih muda dari usia Mama," gumamnya.

Demi drama fitnahnya sempurna. Vanessa harus bersedia melucuti pakaian Rega. Walau sedikit kesulitan karena tubuh pria itu cukup besar baginya yang mungil.

Keluh demi keluh akhirnya tergantikan setelah berhasil membuat lelaki itu hanya bersisa kan CD yang sebenarnya sayang dia tinggalkan.

"Pasti laku lima juta kalo aku jual." Tapi, tak mungkin juga kalau harus membuka dan menyaksikan milik Rega yang dari luar saja sudah sangat menyeramkan. "Kasihan istrinya nanti. Jangan sampe sama Mama."

Vanessa memberikan cap-cap merah di tubuh kekar lelaki itu. "Aku gila pada ketiak mu, Om. Ouch."

Vanessa juga memberikan cap bibir pada bagian yang dia maksud. "Beres, Om Rega pasti merasa dikagumi sekali setelah melihat cap merah dariku. Ini tanda cinta ku padamu, Om."

Vanessa tertawa geli sendiri. Setidaknya pria hidung belang yang akan menjadi ayah tirinya itu tak tahu menahu bahwa cap bibir yang dia buat berasal dari stempel bibir cetakan.

HOP DUA

Rega...

Rega di kursi kerjanya harus terus mengeras wajah miliknya yang tegas. Dia yang selama ini terkenal ahli meretas, bisa tertipu daya oleh gadis kecil yang bahkan masih tercium aroma minyak telon di tubuhnya.

Keahlian hackingnya bisa melacak ke mana gadis bernama Marimar setelah membawa kabur barang berharga miliknya.

Di layar laptopnya wajah cantik alami itu terlihat, dan dari banyaknya video cctv yang dia retas dia bisa mendapatkan informasi tentang anak itu dengan cara menangkap layar wajah gadis itu untuk dimasukkan ke mesin telusur sosial media.

Ada beberapa akun dengan wajah yang mirip gadis itu. Salah satunya Vanessa Disaga, remaja 17 tahun. Anak pertama dari Arjuna Disaga, sekolah di SMA Millers-corpora duduk di bangku kelas 12.

Baru lima menit yang lalu, ada sejumlah transaksi pembelian tiket pesawat. Dan Malaysia tujuan keberangkatannya.

"Dia mau kabur ke Malay setelah menggasak uang-uang ku?" Rega terkekeh tak percaya. Bisa-bisanya dia tertarik ngamar dengan bocah kecil, yang padahal dia sendiri tak pernah bermimpi tidur bersama anak kecil.

"Tunggu-tunggu."

Saat membaca lebih detail, Rega sadar, rupanya anak kecil yang bersamanya kemarin anak perempuan dari pemilik perusahaan elektronik yang menjadi pesaing bisnisnya.

"Sial, Arjuna mengirim ku anak kecil! Dia pasti punya rencana kotor!" dugaannya.

"Jadi apa rencana mu, Bos? Menjebloskan dia ke penjara?" tanya Antoni yang kini berdiri di depan meja kerja.

Rega tergelak kesal. "Penjara anak dibawah umur tidak akan cukup. Aku mau buat penipu kecil ini menderita!" katanya.

"Caranya, Bos? Selain dia perempuan, dia juga putri dari anak orang berada."

"Kita lihat saja nanti." Rega bangkit dan berjalan keluar dari ruangannya. Sebentar lagi dia akan mengeksekusi balik gadis penipu.

Terutama ponselnya yang akan segera dia ambil kembali. "Kau menantang ku, gadis kecil," gumamnya.

•••••••••••••

^^^•••••••••••••^^^

Vanessa...

"Malam, Anes Sayang."

Pria berdarah Jawa Thailand itu tersenyum manis, dan tentunya senyum yang dia persembahkan untuk Vanessa putri cantik yang kini duduk di kursi meja dapur dengan di temani air mineral.

Arjuna Disaga, nama dari duda beranak satu yang tak pernah menikah lagi sedari belasan tahun lalu. 17 tahun putrinya beranjak, dan 17 tahun pula dia menduda.

Di usia muda tepatnya saat dia berusia 18 tahun Arjuna menikahi Hilda. Sayangnya, begitu lahir Vanessa si putri kecil, Hilda pergi dan tak mau kembali padanya.

Kesehariannya saat ini hanya mengurus perusahaan dan menjadi ayah serta ibu bagi anak perempuan cantik yang dia besarkan tanpa seorang istri.

Di lain sisi, Arjuna sedang memperjuangkan kembali ibu dari Vanessa yang tentunya atas keinginan Vanessa.

"Pagi kamu baru pulang hmm?"

"Uhuk-uhuk." Minuman langsung menyentak tenggorokan milik Vanessa. Gadis itu terbatuk batuk setelah tahu, ayahnya tahu hal yang coba-coba dia rahasiakan: Pulang pagi dari kelab malam dan berjalan mengendap-endap.

"Iya Pa, hehe." Menyengir mungkin bisa membuat ayahnya tak curiga. "Ada acara ulang tahun temen, si anu..."

"Luke? Adis? Atau Jane? Bukannya mereka sudah berulang tahun semua di bulan-bulan sebelumnya?" Arjuna ayah yang tahu seluruh teman putrinya di sela kesibukannya.

"Mmmh... Ada Pa, pacarnya Jane. Dia yang ulang tahun, makanya nggak enak kalo Anes nggak ikut party nya." Vanessa berkilah tentu saja, demi kebaikan menurutnya.

"Lagian Papa percaya kan, Anes nggak akan pernah kecewakan Papa."

"Tetap saja. Pulang pagi tidak baik untuk nama baik perempuan," tegur Arjuna. Dia memiliki cara tersendiri untuk membuat putrinya tidak lagi mengulangi perbuatannya.

Arjuna sengaja tak menegur dengan marah, karena hanya dengan cara lembut putrinya akan menurut. "Nama baik Papa juga yang sedang kamu pertaruhkan."

"Iya Pa, Anes ngerti kok." Kecupan manis Vanessa arahkan di pipi kanan ayahnya.

"Pokoknya Papa tenang aja, Papa nggak perlu khawatir lagi, karena dalam waktu dekat ini, Papa punya partner buat ngurusin Anes di rumah!" Gadis itu tersenyum antusias.

"Partner?" Arjuna mengerut kening sambil tertawa.

"Mama pasti bakal balik lagi ke Papa," bisik Vanessa.

Arjuna menggeleng. "Kau tahu sayang, Papa bisa mengurus mu sendiri."

"Anes tahu, tapi Papa juga perlu pendamping. Papa nggak perlu melamun terus pas Anes nggak ada di rumah. Papa tahu, sebentar lagi Anes mau kuliah ke luar negeri. Setidaknya, Papa punya temen di Indonesia."

Arjuna terkekeh, putrinya memang segemas itu saat bicara. "Baiklah terserah. Sekarang kita makanan." Pria itu merangkul putrinya untuk dibawanya ke meja makan panjang.

"Papa masih cinta Mama kan?"

"Sangat..."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!