NovelToon NovelToon

Menjadi Pembantu Ayah Dari Anakku

Dua Garis

Selamat Membaca

🌿🌿🌿🌿🌿

Dalam kesunyian yang hanya menyisakan seorang diri di dalam ruangan ini. Kesunyian ini ada lantaran ada sesuatu yang harus dipastikan dengan apa yang telah dirasakannya semenjak beberapa hari terakhir.

Namun sungguh siapa sangka, apa yang telah dirasakannya semenjak beberapa hari terakhir memberikan sebuah hasil yang begitu sangat mencengangkan sepasang indra penglihatannya.

Dua garis merah di tes packnya telah menjadi jawaban akan apa yang dirasakannya beberapa hari terakhir ini.

" Ya Tuhan... a-ku hamil. " dengan nadanya yang bergetar Naya masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Ini sungguh masih seperti sebuah mimpi bagi Naya, jadi itulah mengapa semenjak sebulan terkahir ini dirinya tak kedatangan tamu bulanannya, karena ternyata saat ini dirinya sedang mengandung.

" Ternyata aku hamil. " bahkan Naya sampai menjatuhkan air matanya.

Merasa sangat bahagia bercampur aduk dengan rasa haru dan masih tak percaya itulah yang Naya rasakan.

Naya sangat tak menyangka jika saat ini dirinya sedang mengandung anak pertama dari suaminya.

" Aku harus memberitahu kabar ini ke mas Arland. " dengan cepat-cepat Naya menghapus air matanya yang sempat terjatuh.

Karena hal yang sangat menggembirakan ini membuat Naya tak ingin menunggu lama lagi.

Setelah berada di ruangan yang sunyi, akhirnya Naya keluar juga dari kamar mandinya. Satu hal yang pasti yang ingin Naya lakukan saat ini, yaitu segera menghubungi sang suami Arland. Naya ingin suaminya itu segera mendapatkan kabar yang begitu sangat membahagiakan ini.

Namun tiba-tiba Naya menghentikan aksinya padahal tangannya sudah meraih handphone pintarnya.

" Tidak, jangan sekarang, nanti saja aku memberitahu mas Arland. " Naya berubah pikiran, suaminya Arland sedang berada di kantor perusahaannya, pasti di sana suaminya mengurus banyak hal yang datang dari bawahannya.

" Sepertinya aku memang harus sedikit bersabar untuk memberitahu mas Arland. " dengan terpaksa Naya harus menunda untuk memberitahu suaminya jika saat ini dirinya sedang hamil.

Alih-alih tak jadi memberitahu sang suami, muncul keinginan dalam diri Naya untuk membuat sesuatu yang bisa dimakan. Entah mengapa saat ini Naya ingin membuat puding susu pandan yang sangat disukai oleh suaminya.

Naya mulai ingin menyimpan tes pecknya di dalam lemari bajunya.

" Sabar Nay, sabar, lebih baik kamu buat puding saja dulu, ayo sayang. " begitulah Naya yang bermonolog dengan mengajak anaknya yang masih berada di dalam perutnya yang masih datar itu.

Sebagai seorang wanita saat ini Naya benar-benar sangat bahagia, Naya tak sabar untuk memberikan kejutan ini pada Arland, pasti suami dinginnya itu akan sangat bahagia ketika tahu jika dirinya sedang mengandung anaknya.

Ya, dialah Naya, seorang wanita sederhana yang telah berhasil mengambil hati seorang Arland Ezra Shihab yang kini telah menjadi suaminya.

Naya yang memiliki nama lengkap Kanaya Anggraina itu memanglah wanita yang berparas cantik, akan tetapi bukanlah kecantikannya yang membuat seorang Arland memutuskan untuk menjadikannya sebagai istrinya, justru karena Naya memiliki hati dan perbuatan yang begitu baik itulah yang membuat Arland memutuskan untuk menjadikan Naya sebagai pasangan hidupnya.

Kehidupan Naya dengan Arland memanglah sangat jauh berbeda bagaikan bumi dan langit. Namun siapa sangka dibalik status mereka yang sangat berbeda jauh, keduanya telah terikat oleh ikatan suci pernikahan.

*****

Dengan wajah cantiknya yang nampak berseri-seri, Naya terus melangkah menuju ke dapur.

Namun masih belum Naya benar-benar tiba di dapur, dirinya berpapasan dengan mama mertua dan juga adik iparnya.

Seketika itu langkah Naya langsung terhenti, untuk sejenak Naya memang merasa gugup, namun setelah itu Naya pun jadi tersenyum pada mama mertua dan adik iparnya.

" Ma, Mika, sekarang Naya mau buat puding susu pandan, mama dan Mika mau Naya buatkan juga?. " dengan tersenyum ramah Naya menawari sang mama mertua dengan adik ipar perempuannya untuk dibuatkan puding juga.

Bukannya merespon tawaran dari Naya, Rita sang mama mertua dengan putrinya Mika malah melengos.

" Ayo Mik, tidak penting harus menerima tawarannya. " ucap Rita sarkas, tanpa mempedulikan Naya, Rita bersama putrinya Mika lanjut melangkah dengan melenggang pergi dari hadapan Naya.

Sekali lagi, inilah sikap yang ditunjukkan oleh mama mertuanya dengan adik iparnya, sikap yang sering kali tak menunjukkan keramahan, dan hal ini sering terjadi kala suaminya Arland tak di rumah.

Naya tak mengerti dengan mama mertuanya dan juga adik iparnya, mengapa sikap keduanya selalu seperti ini, bahkan saat dirinya ikut bersama Arland tinggal di rumah ini untuk pertama kalinya.

Dalam benaknya Naya sering bertanya, sebenarnya kesalahan apa yang telah dilakukannya sampai-sampai mama mertua dengan adik ipar perempuannya itu begitu sangat tak menyukai dirinya. Jangankan untuk saling berbincang, untuk sebatas menyapa saja mama mertua dan adik iparnya itu seolah sangat enggan melakukannya.

*****

Tap... tap... tap...

Sepasang langkah jenjang nan kokohnya melangkah dengan begitu berwibawa melewati lorong kantor.

Semua pasang mata lagi-lagi tertuju padanya. Perawakan wajahnya yang sangat tampan ditambah lagi memiliki postur tubuh yang tinggi dan gagah membuatnya memang akan selalu jadi pusat perhatian oleh setiap pasang mata yang melihatnya.

Namun sayangnya kali ini pria yang nyaris sempurna itu sudah akan kembali pulang. Karena waktu telah menunjukkan sore hari, maka ia pun harus kembali pulang.

" Terima kasih tuan, semoga tuan Arland bisa kembali ke rumah dalam keadaan selamat. " seru sang pengaman kantor setelah melihat tuan Arlandnya yang akan kembali pulang.

Seperti biasa, Arland membiarkan saja karyawannya yang menyapanya, pria yang berwajah datar itu memang cenderung acuh dengan hal-hal yang sifatnya beramah tamah, mungkin karena memang sifatnya yang cenderung dingin membuat Arland terkesan kurang begitu bisa menghargai orang lain.

Yang ada di pikiran Arland saat ini hanya satu, yaitu ingin segera menemui istrinya Naya di rumahnya.

*****

Mobil mewah sport itu melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi. Arland sengaja mengemudikan mobilnya seorang diri tanpa adanya supir pribadinya, entahlah semenjak beberapa hari terakhir ini Arland ingin mengemudikan mobilnya sendiri.

" Kamu sedang apa di rumah sayang?. " batin Arland.

Padahal di dekatnya ada handphone pintarnya, dan lucunya Arland tak memiliki inisiatif untuk menghubungi Naya, pria itu malah bermonolog sendiri di hatinya.

Karena sudah semakin tak sabar ingin segera menemui sang istri, Arland menambah kecepatan laju mobilnya.

Jalanan memang cukup ramai lancar, tapi jika Arland tak berhati-hati bukan tak mungkin jika hal buruk benar sampai terjadi.

" Nak mau ke mana kamu nak?... " teriak seorang ibu-ibu pada anaknya hingga suaranya sampai ke jalanan.

" Kakeeek... "

" Hah... "

Tiiiiin...

Brukkk...

Brakkk... brakkk... brakkk... brakkk... brakkk...

" Ya Tuhaaan... " semua orang jadi berteriak histeris karena melihat mobil mewah itu menabrak sebuah truck hingga terguling-guling.

Benar-benar nahas, kecelakaan brutal itupun tak bisa dielakkan.

Mobil sport mewah yang dikendarai oleh Arland harus terguling berkali-kali hingga jarak sekian meter akibat saling beradu moncong dengan sebuah truck besar.

" Ya ampun, itu bagaimana itu?. " orang-orang yang menjadi saksi kecelakaan ini menjadi kalang kabut.

Semua orang yang berada di jalanan itu langsung bergegas, mereka yang menjadi saksi atas kecelakaan yang brutal ini ingin menolong sang korban yang masih berada di dalam mobilnya yang telah ringsek dan terbalik.

Dalam seketika keadaan jalan di jalan ini langsung dipenuhi banyak orang, kecuali anak kecil laki-laki yang tadi sempat ingin menyebrang untuk menemui kakeknya.

Bocah laki-laki itu masih terdiam membeku karena peristiwa brutal yang tepat terjadi di depan kedua matanya, kecelakaan brutal ini bisa terjadi karena kecerobohannya yang nekat menyebrang jalan demi menemui sang kakek yang ada di sebrang jalan sana.

Arland yang begitu sangat terkejut karena bocah laki-laki itu yang tiba-tiba ingin menyebrang jalan membuat Arland tak bisa menahan lajunya mobilnya, akibatnya Arland pun dengan reflek banting setir untuk menghindari sang bocah, tapi nahas mobil mewah Arland harus berhadapan dengan sebuah truck besar yang dapat dengan begitu mudahnya menghantam mobilnya. Dan saat ini bukannya keselamatan yang Arland dapatkan malah kecelakaan yang begitu mengenaskan yang menimpanya.

Bersambung..........

❤❤❤❤❤

Tuan Arland Sedang Kritis

Selamat Membaca

🌿🌿🌿🌿🌿

Sepasang kaki mereka melangkah dengan begitu sangat terburu-buru. Setelah mendengar kabar dari rumah sakit jika Arland sedang dirawat di rumah sakitnya karena sebab kecelakaan membuat mereka tak menunggu waktu lagi untuk bergegas datang.

Rasa khawatir yang begitu sangat mencekam begitu sangat menggelayuti hati Naya, dengan sekuat tenaga dirinya menahan agar air matanya tak terjatuh di depan banyak orang. Sebagai seorang istri Naya tak ingin sampai terjadi sesuatu hal yang tak diinginkan pada suaminya.

Naya berjalan dengan sangat terburu-buru, Naya lupa jika saat ini dirinya tengah mengandung, bukan tak mungkin jika sesuatu yang buruk sampai terjadi pada kehamilannya.

Dengan terus melewati lorong-lorong rumah sakit, mereka bertiga sudah mulai tiba di depan ruang UGD. Nampak seorang suster yang sudah keluar dari ruangan UGD.

" Suster bagaimana keadaan putraku?. "

" Suster bagaimana keadaan suami saya Arland?. "

Sang suster yang baru keluar dari ruangan UGD itu telah dicecar pertanyaan.

Naya langsung meraih kedua tangan sang suster.

" Sus, bagaimana keadaan suami saya Arland? , suami saya baik-baik saja kan sus?. " bahkan kedua bola mata Naya telah dipenuhi oleh genangan air matanya yang akan siap meluncur jika sekali saja ia berkedip.

" Tenang dulu nyonya, tuan Arland masih dalam penanganan dokter, tuan Arland masih kritis. "

Deg...

" Tuan Arland mengalami benturan keras di kepalanya, selain itu tuan Arland juga mengalami cidera yang cukup serius di bagian kaki dan lengannya. "

" Dokter sedang berusaha keras untuk menyelamatkan tuan Arland, jadi saya mohon pada nyonya-nyonya untuk banyak-banyak berdoa agar Tuhan bisa memberikan keajaibannya. " dengan cukup panjang lebar suster mengatakan keadaan Arland.

" Sus saya mohon selamatkan suami saya hiks... selamatkan dia hiks... " Naya menangis, wanita itu tak mampu membendung air matanya lagi.

" Tenang nyonya, kami akan berusaha untuk menyelamatkan tuan Arland, nyonya harus berdoa, nyonya harus membantu kami dengan doa, tuan Arland dengan tim medis yang sedang berjuang untuk menyelamatkan nyawanya sangat membutuhkan doa dari kita semua. " suster masih mengingatkan.

Air matanya mengalir dengan begitu derasnya, setelah mengetahui bagaimana keadaan suaminya sekarang membuat Naya sangat takut. Sampai separah itukah keadaan yang harus dialami oleh suaminya Arland. Jika seperti itu lalu bagaimana suaminya itu bisa bertahan.

" Hiks... hiks... hiks... hiks... "

" Tenang nyonya, kami akan berusaha sebaik mungkin untuk keselamatan tuan Arland, jika begitu saya harus kembali masuk dulu. " ucap sang suster.

Namun masih belum sang suster kembali masuk, suster sedikit mendorong pelan tubuh nyonya Nayanya agar mau duduk.

" Hiks... hiks... hiks... "

Hanya menangis dan menangis itulah yang bisa Naya lakukan, hatinya saat ini masih sangat tak tenang.

Naya sangat takut jika sampai kehilangan Arland suaminya, Naya belum siap jika harus kehilangan suaminya yang sangat dicintainya itu.

" Kamu harus selamat mas, aku dan anak kita sangat membutuhkanmu. " pilu hati Naya dengan jeritan tangisnya.

Arland suaminya harus tahu jika saat ini dirinya tengah mengandung anaknya.

Sungguh ini hal yang tak diduga, padahal baru tadi dirinya mendapat kabar bahagia karena saat ini tengah mengandung, namun masih belum kabar bahagia itu tiba pada orang yang dinantikan sudah datang kabar buruk ini yang malah jadi penghalang.

" Selamatkan suamiku ya Tuhan. " doa tulus Naya.

Jika Naya begitu sangat khawatir akan keadaan suaminya Arland, maka beda halnya dengan Rita dengan putrinya Mika.

Ada hal lain yang sangat serius yang Rita dan Mika khawatirkan, yaitu harta, dua wanita yang berbeda generasi itu tak banyak bersuara karena khawatir jika Arland sampai meninggal, bukan karena mereka sedih jika Arland benar meninggal tetapi mereka khawatir jika sampai tak mendapatkan harta dari keluarga Shihab jika Arland benar-benar meninggal.

Dan ada sesuatu yang sebenarnya membuat hati Rita dan Mika jadi ketar-ketir, mereka khawatir jika bagaimana ternyata Arland diam-diam telah mengalihkan semua harta kekayaannya atas nama Naya, jika benar seperti itu maka Naya lah yang berkuasa atas semua kekayaan keluarga Shihab.

Rita dan Mika sangat tak suka bahkan semenjak awal kedatangan Naya ke rumah Arland. Hadirnya Naya di keluarga Shihab akan sangat bisa jadi penghalang besar bagi rencana mereka berdua.

Rita mulai menatap putrinya Mika dan ternyata Mika juga menatapnya.

" Kita pergi dari sini. " bisik Rita pada sang putri.

Mika mengangguk, Mika sudah mengerti apa maksud dari mamanya.

Tanpa berpesan apapun pada Naya, Rita dan Mika mulai bangkit dari posisinya, dua wanita itu sama sekali tak peduli dengan apa dan bagaimana yang dialami oleh Arland, mereka berdua hanya memikirkan nasib mereka sendiri.

*****

" Bagaimana ini ma?, kak Arland sedang kritis, sepertinya sangat kecil kemungkinan kalau dia akan selamat. " seru Mika karena memang inilah yang semenjak awal sangat dikhawatirkannya.

" Mama juga sedang memikirkan itu Mika. " pusing Rita.

Rasa khawatir mereka telah berada di ubun-ubun. Jika Arland benar-benar sampai meninggal sudah pasti tak ada harta warisan yang akan didapatkan oleh keduanya.

" Ini gara-gara mama, mama sih yang terlalu lama untuk mengambil hati kak Arland, jika sudah begini orangnya pun akan meninggal harta pun tidak kita dapat. " gerutu Mika yang malah menyalahkan mamanya.

" Tutup mulutmu Mika, memangnya kamu pikir mudah mempengaruhi Arland?, dia bukan orang bodoh, bukannya membantu mama menemukan solusi kamu malah menyalahkan mama, dasar... " Rita jadi kesal pada Mika, putrinya ini bisanya hanya menyalahkan orang.

Ya, mereka berdua memang tak memiliki rasa sayang pada Arland karena mereka memanglah hanya keluarga tiri.

Rita adalah istri ke-dua dari almarhum papa Arland tuan George Halim Shihab. Setelah sepuluh tahun wafatnya mama Arland yaitu nyonya Airin Sagita Shihab membuat papa Arland memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang wanita yang telah memiliki seorang putri.

Arland sendiri sebenarnya sangat tak setuju papanya menikah lagi karena menurutnya papanya telah mengkhianati cinta tulus mamanya yang selama masa hidupnya selalu menjaga kesetiaannya sebagai seorang istri. Tapi apalah daya, Arland tak bisa mengekang lebih jauh keinginan papanya. Papanya adalah orang dewasa yang memiliki hak untuk mengambil keputusan yang terbaik untuk dirinya sendiri.

Empat tahun pasca pernikahan tuan George dan Rita, akhirnya tuan George berpulang pada yang maha kuasa. Tak ada anak dari hasil pernikahan keduanya, namun meski begitu sebelum kepergiannya tuan George tetap ingin agar Rita dengan putrinya Mika tetap tinggal di rumahnya bersama Arland.

Tak ada kasih sayang yang bisa Arland berikan baik pada Rita maupun Mika, kalaupun Arland sampai bisa memanggil mama pada Rita hal itu karena keinginan dari almarhum papanya.

Dan saat ada sesuatu yang benar-benar sangat Rita dan Mika khawatirkan, yaitu khawatir jika sampai tak mendapatkan harta keluarga Shihab ketika Arland benar-benar meninggal.

Dan saat ini, satunya-satunya orang yang sangat Arland cintai adalah Naya wanita yang pernah dikenalnya semenjak dua tahun yang lalu yang kini telah menjadi istrinya.

Naya memiliki potensi yang besar untuk memiliki bahkan menguasai harta keluarga Shihab, dan inilah yang benar-benar sangat Rita dan Mika khawatirkan.

" Ma, bagaimana ini ma?, apa yang harus kita lakukan?, kita sudah bertahun-tahun tinggal sama kak Arland, apa iya kita tidak mendapatkan hartanya kalau dia benar meninggal?. " memang sungguh Mika tak ada rasa iba, setidaknya sedikit merasa prihatin dengan keadaan Arland, tapi hanya harta dan harta yang gadis itu pikirkan.

" Hanya ada satu cara, dan cara ini sangat ampuh. " sahut Rita tapi tatapannya malah tertuju ke arah lain.

" Apa itu ma?. " Mika jadi sangat penasaran.

Rita tak langsung menyahut, wanita yang sudah berumur itu jadi menatap pada putrinya.

" Menghabisi Naya. "

Deg...

Bersambung..........

❤❤❤❤❤

Setelah Seminggu Berlalu

Selamat Membaca

🌿🌿🌿🌿🌿

Doa tulus untuk sang suami selalu dipanjatkannya. Meski suaminya masih terdiam dengan kedua matanya yang masih belum terbuka, ia sangat yakin jika sebenarnya suaminya bisa mendengar seruannya.

Bintang-bintang malam di langit yang membentang di luaran sana telah banyak bersinar, bahkan semakin lama cahaya dari bintang-bintang itu semakin banyak bermunculan.

Naya kembali membuka mukenahnya, wanita yang masih belum memberitahu kehamilannya pada semua orang itu baru saja usai menunaikan ibadah sholat isaknya.

Malam ini, di ruangan perawatan khusus VVIP ini hanya menyisakan Naya dengan suaminya Arland yang masih setia pada tidur panjangnya.

Naya mulai mendekati suaminya, Naya ingin duduk di dekat suaminya.

Diperhatikannya keadaan suaminya, tak ada perubahan apapun setelah seminggu berlalu, suaminya Arland masih dalam kondisi koma.

Setiap kali melihat keadaan suaminya yang seperti ini membuat hati Naya serasa pilu, tapi Naya juga tak bisa berbuat apa-apa karena kapan suaminya akan sadar masih belum bisa diketahui.

Dengan duduk di samping sang suami, Naya mulai meraih tangan kanan suaminya. Setiap hari Naya selalu berharap semoga dengan sentuhan-sentuhannya bisa membuat suaminya Arland bisa segera sadar.

Cup... cup...

Diciumnya punggung tangan kanan itu dengan penuh sayang. Kata dokter orang yang koma bisa mendengar suara-suara orang di sekitarnya.

" Bukalah matamu mas, sampai kapan kamu akan terus tidur seperti ini?, aku rindu bisa mendengar suaramu lagi. " seolah tiada bosannya Naya berusaha mengajak suaminya untuk berbicara.

Setiap hari Naya merindukan suara suaminya Arland, meski di luaran sana Arland terkenal sebagai sosok yang dingin dan acuh, namun itu tak berlaku untuk dirinya, suaminya Arland selalu bersikap hangat padanya, dan saat ini Naya merindukan kehangatan itu.

" Bangunlah mas Arland, aku punya kabar bahagia untuk kamu, apa kamu tahu kalau saat ini aku sedang hamil?. "

" Iya aku hamil mas, sebentar lagi mas Arland akan segera punya anak, ayo mas Arland segera sadar, aku tidak mau merawat anak kita sendirian. " dengan menggenggam erat tangan sang suami, tanpa terasa Naya menjatuhkan air matanya di sana.

Jujur, sebenarnya Naya sudah merasa cukup lelah dengan keadaan ini, rasa rindunya yang teramat sangat ingin melihat Arland seperti hari-hari sebelum kecelakaan itulah yang membuat Naya menjadi seperti ini.

Naya tak tahu harus sampai kapan seperti ini, setiap harinya suaminya sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda akan segera sadar.

" Sadarlah mas Arland, katanya kamu sangat mencintaiku, jadi aku mohon segeralah sadar. " semakin deras saja air mata Naya yang bercucuran sampai-sampai membuat jemari Arland menjadi basah.

Dan dengan reflek jemari Arland jadi bergerak.

Deg...

Seketika itu Naya langsung mengangkat wajahnya.

Dan lagi, jemari Arland menunjukkan reflek gerakan kecil.

" Mas... mas, tangan kamu bergerak. " Naya sangat tersentak, air matanya yang sebelumnya bercucuran mendadak jadi terhenti.

" Mas, kamu mendengarku?, kamu mendengar aku bicara mas?. " Naya melihatnya dengan jelas, jemari suaminya Arland melakukan gerakan kecil.

Senyuman kecil mulai nampak di kedua sudut bibir Naya. Naya merasa sangat senang, akhirnya setelah sekian hari lamanya suaminya Arland ada respon juga.

" Ya ampun dokter, aku harus memberitahu dokter. " cepat-cepat Naya mengusap sisa lelehan air matanya.

Naya menekan tombol pemberitahuan agar dokter datang ke kamar tempat suaminya dirawat.

Naya sangat berharap semoga dengan ini bisa menjadi sinyal jika suaminya Arland akan segera sadar.

Ceklek...

Pintu masuk itu pun telah dibuka, dan dokter bersama seorang suster yang datang. Tak membutuhkan waktu lama ternyata, dokter dan suster sudah siap datang.

" Dokter, dok baru saja tangan suami saya bergerak. " seru Naya yang memberitahu sang dokter.

" Baiklah nyonya, saya akan memeriksa tuan Arland dulu. " sahut sang dokter pria itu yang bernama dokter Ridwan.

Naya sedikit memundurkan tubuhnya, biarkan dokter yang biasa menangani suaminya melakukan pemeriksaan terlebih dahulu.

Dokter Ridwal mulai melakukan pemeriksaan, dokter yang sudah berumur kepala empat itu harus hati-hati saat melakukan pemeriksaan, apalagi setelah nyonya Naya melihat adanya perkembangan dari suaminya.

Dengan harap-harap cemas Naya melihatnya, Naya sangat berharap semoga malam ini ada kabar baik yang bisa dirinya dengar.

" Cepatlah sadar mas, kamu sudah lama tidak berbicara denganku. "

Dokter Ridwan telah melakukan pemeriksaan dengan sangat hati-hati, tapi entah mengapa dokter Ridwan merasa tak ada perkembangan apapun dari tuan Arland, sepertinya tuan Arlandnya hanya menunjukkan reflek biasa saja.

" Bagaimana dok?, apa keadaan suami saya sudah membaik?. " tanya Naya yang sudah sangat tak sabar ingin tahu apa jawaban dari sang dokter.

Dokter Ridwan tak langsung menyahut, jika diperhatikan dari nyonya Nayanya, nyonyanya ini sangat mengharapkan kabar baik.

" Bagaimana dok?, apa suami saya ada tanda-tanda akan segera sadar?. " tanya Naya lagi.

" Jadi seperti ini nyonya, pada beberapa orang yang mengalami koma terkadang memang dapat menggerakkan sedikit anggota tubuhnya sebagai reflek. "

" Kondisi koma pada setiap orang itu berbeda-beda, saat orang mengalami koma adanya gerakan reflek, respon verbal bahkan hingga menangis dapat menjadi faktor penting untuk menjadi penentu kesembuhan pada orang yang mengalami koma. "

" Tapi dari hasil pemeriksaan yang saya dapatkan, tuan Arland sama sekali tak menunjukkan adanya tanda-tanda jika kondisinya akan membaik, kondisi tuan Arland masih sama seperti hari-hari sebelumnya. "

" Maafkan saya nyonya, saya harus mengatakan kenyataan ini karena itulah yang saya dapatkan dari hasil pemeriksaan dari tubuh tuan Arland. " dokter Ridwan mengatakannya dengan sangat panjang lebar karena memang itulah yang sang dokter dapatkan dari hasil pemeriksaannya.

Tubuh Naya seolah menjadi luruh, semua pernyataan dokter Ridwan telah membuat harapannya menjadi pupus. Padahal Naya sangat berharap jika Arland bisa segera sadar, akan tetapi apa yang didapatkannya hanya kenyataan yang sama yang sama sekali tak memberi kabar baik.

" Nyonya Naya jangan berputus asa, kami selaku tim medis yang menangani tuan Arland akan terus berusaha memberikan yang terbaik demi kesembuhannya. "

" Perawatan dan obat-obatan terbaik akan selalu kami berikan sesuai prosedur agar tuan Arland bisa kembali pulih sehingga bisa menjalani aktivitasnya kembali. " selalu dan selalu dokter Ridwan memberikan kalimat penyemangat itu baik pada pasien maupun keluarga pasiennya.

Sekali lagi, Naya merasa sudah dibuat kenyang dengan ucapan dokter Ridwan. Selalu saja dokter Ridwan memberikan kalimat positif seperti ini ketika tak menghasilkan perkembangan apapun dari kondisi suaminya.

" Nyonya tidak boleh pesimis, tuan Arland sudah sangat-sangat lewat dari masa kritisnya, mudah-mudahan tuan Arland juga lewat dari masa komanya, mari nyonya jika seperti itu kami pamit dulu. " ucap dokter Ridwan sebelum akhirnya dokter pria itu bersama susternya memutuskan untuk keluar ruangan.

Dan selalu seperti ini, Naya merasa seperti selalu mendapatkan harapan kosong.

Seminggu lebih telah berlalu, dan selama waktu itu berjalan tak ada perkembangan apapun yang menunjukkan perubahan kondisi suaminya yang lebih baik.

Sebagai seorang istri Naya mulai merasa jika dirinya mungkin harus menunggu lebih sabar lagi.

Naya kembali memperhatikan suaminya. Di samping suaminya berbaring selalu tersisa bagian ranjang kasurnya yang kosong. Sebagian ranjang kasur itu memang sengaja selalu dibiarkan kosong karena di sanalah dirinya tidur.

" Maafkan aku ya mas, maafkan aku yang selalu memaksamu untuk segera sadar, tapi aku tidak bisa berhenti, aku ingin agar kamu bisa sadar kembali, cepatlah sadar mas Arland, demi buah hati kita. " tapi sayangnya Naya malah kembali menjatuhkan air matanya.

Sepertinya malam ini Naya akan tidur dengan membawa rasa kecewa, iya kecewa karena rasa senangnya menjadi sirna karena dari hasil pemeriksaan kondisi suaminya tak sesuai dengan respon yang sempat dilihatnya.

Bersambung..........

❤❤❤❤❤

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!