Gus Dingin Imamku
Bab 1: Kembali ke Tanah Air
Bandara Internasional Soekarno-Hatta di malam hari. Lampu-lampu terang menghiasi langit malam.
Muhammad Rayhan Al-ghiffari Yusuf
(Menghela napas) Akhirnya, kembali ke tanah air.
Setelah menyelesaikan pendidikan S2-nya di bidang Tafsir Al-Qur'an di Mesir, Muhammad Rayhan Al-Ghifari Yusuf, atau yang lebih dikenal dengan Gus Rayhan, kembali ke Indonesia.
Gus Rayhan berjalan keluar dari pintu kedatangan. Ia terlihat gagah dengan pakaian muslim berwarna hitam.
Muhammad Rayhan Al-ghiffari Yusuf
(Merenung) Lima tahun di negeri orang, rasanya tak terasa.
Wajahnya yang tampan terukir garis-garis tegas yang menambah aura ketampanannya. Namun, sorot matanya menyimpan sejuta cerita yang tak terungkap.
Gus Rayhan menenteng kopernya. Ia melihat seorang pria yang sudah menunggu di dekat pintu keluar.
Muhammad Rayhan Al-ghiffari Yusuf
(Mendekat) Assalamualaikum, Pak.
pak usman
Waalaikumsalam, Gus.
Muhammad Rayhan Al-ghiffari Yusuf
Maaf ya Pak, membuat Bapak menunggu lama.
pak usman
Tidak apa-apa, Gus. Yang penting Gus sudah kembali dengan selamat.
Gus Rayhan dan pria itu berpelukan.
pak usman
Gus bagaimana kuliahnya, sampai lulus S2 lancar?
Muhammad Rayhan Al-ghiffari Yusuf
(Menunduk) Alhamdulillah, semua lancar.
pak usman
(Menepuk bahu Gus Rayhan) Saya senang sekali Gus akhirnya kembali.
Gus Rayhan dan pria itu berjalan keluar dari bandara.
Pria itu adalah pak Usman, sopir keluarga Gus Rayhan.
Muhammad Rayhan Al-ghiffari Yusuf
Bagaimana kabar semuanya, Pak?
pak usman
Alhamdulillah, semuanya baik-baik saja, Gus. Kyai dan Ummi sehat.
Muhammad Rayhan Al-ghiffari Yusuf
(Tertawa) Alhamdulillah.
Gus Rayhan diam sejenak, pikirannya melayang ke masa lalu.
Muhammad Rayhan Al-ghiffari Yusuf
(Dalam hati) Semoga semua akan baik-baik saja.
Gus Rayhan menatap keluar jendela mobil. Sorot matanya menandakan kegelisahan yang tersembunyi di balik ketenangannya.
Bab 2: Sambutan Hangat
Bismillahirrahmanirrahim 🍀🍀🍀
Interior rumah Gus Rayhan. Terlihat ruang tamu yang luas dan elegan dengan sentuhan khas Jawa.
Sesampainya di rumah, Gus Rayhan disambut dengan pelukan hangat dari kedua orang tuanya. Kyai Ibrahim Al-Ghifari Yusuf, seorang kyai karismatik yang disegani di daerahnya, dan Ummi Intan, sosok ibu yang lembut dan penyayang.
kyai Ibrahim algifahri Yusuf
(Memeluk Gus Rayhan) Alhamdulillah, anakku, akhirnya kamu kembali.
ummi intan
(Menangis haru) Rayhan, nak. Ummi kangen kamu.
Muhammad Rayhan Al-ghiffari Yusuf
(Menangis terharu) Assalamualaikum, Abi, Umi. Saya juga kangen.
Gus Rayhan terharu melihat kehangatan keluarganya.
Seorang gadis kecil berlari ke arah Gus Rayhan. Ia terlihat cemberut dan sedikit kesal.
Zara Almira Azahra
(Menarik tangan Gus Rayhan) Kakak, aku kangen kamu!
Muhammad Rayhan Al-ghiffari Yusuf
(Tertawa) Zara, kenapa kamu cemberut?
Zara Almira Azahra
(Mencubit lengan Gus Rayhan) Kakak, aku kangen kamu. Kenapa kakak lama banget di Mesir?
Muhammad Rayhan Al-ghiffari Yusuf
(Mengelus kepala Zara) Maaf ya, Zara. Kakak lagi sibuk belajar.
Zara Almira Azahra
(Menatap Gus Rayhan dengan mata berkaca-kaca) Kakak jahat, Kakak lebih suka di Mesir daripada sama Zara.
Muhammad Rayhan Al-ghiffari Yusuf
(Menggendong Zara) Enggak, Zara. Kakak sayang kamu.
Gus Rayhan menggendong Zara dan duduk di sofa. Kyai Ibrahim dan Ummi Intan tersenyum melihat kebersamaan anak-anak mereka.
kyai Ibrahim algifahri Yusuf
(Menatap Zara) Zara, jangan cemberut lagi. Kakak kamu sudah kembali, lho.
Zara Almira Azahra
(Meringis) Tapi Kakak tetap jahat!
Muhammad Rayhan Al-ghiffari Yusuf
(Tertawa) Ya sudah, nanti Kakak belikan Zara mainan baru.
Zara Almira Azahra
(Menatap Gus Rayhan dengan wajah berseri) Benarkah, Kak?
Muhammad Rayhan Al-ghiffari Yusuf
(Mencubit pipi Zara) Iya, benar.
Gus Rayhan tersenyum. Ia merasa bahagia bisa berkumpul kembali dengan keluarganya.
Bab 3: Tabrakan di Lorong Asrama
Bismillahirrahmanirrahim 🍀🍀🍀
Interior kamar Gus Rayhan. Terlihat jam dinding menunjukkan pukul 00.30 WIB.
Muhammad Rayhan Al-ghiffari Yusuf
(Merenung) Tak bisa tidur.
Gus Rayhan terbangun di tengah malam. Ia tak bisa tidur, pikirannya dipenuhi oleh kenangan masa lalu.
Gus Rayhan berdiri di depan cermin. Ia menatap bayangannya sendiri.
Muhammad Rayhan Al-ghiffari Yusuf
(Berbisik) Kapan aku bisa melupakan semua ini?
Ia beranjak dari tempat tidur dan memutuskan untuk keluar kamar.
Gus Rayhan berjalan di lorong menuju pondok pesantren milik orang tuanya.
Gus Rayhan dan santriwati itu saling menatap dengan terkejut.
Aisyah khoirunnisa
(Menunduk) Maaf, Gus. Saya buru-buru.
Muhammad Rayhan Al-ghiffari Yusuf
(Berdehem) Tidak apa-apa. Hati-hati.
Santriwati itu bernama Aisyah, seorang santriwati baru di pondok pesantren.
Aisyah khoirunnisa
(Mengangguk) Iya, Gus.
Muhammad Rayhan Al-ghiffari Yusuf
(Berlalu)
Gus Rayhan melanjutkan perjalanannya. Ia merasakan jantungnya berdebar kencang. Pertemuannya dengan Aisyah membuatnya teringat akan masa lalunya.
Gus Rayhan berjalan di sepanjang lorong pondok pesantren. Wajahnya terlihat muram.
Muhammad Rayhan Al-ghiffari Yusuf
(Berbisik) Dia seperti...
Gus Rayhan terus berjalan, pikirannya masih tertuju pada santriwati bercadar yang telah menabraknya tadi. Ia merasakan kegelisahan yang tak terjelaskan.
Muhammad Rayhan Al-ghiffari Yusuf
(Berdehem) Mungkin hanya perasaan saja.
Ia berusaha menepis perasaan aneh yang tiba-tiba muncul dalam dirinya.
Gus Rayhan berhenti di depan sebuah jendela. Ia mencondongkan tubuh dan menatap ke luar.
Muhammad Rayhan Al-ghiffari Yusuf
(Merenung) Kenapa aku merasa dia begitu familiar?
Gus Rayhan merasa ada sesuatu yang aneh tentang Aisyah, namun ia tak bisa menjelaskannya.
Muhammad Rayhan Al-ghiffari Yusuf
(Dalam hati) Mungkin ini hanya perasaan saja.
Gus Rayhan mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Namun, rasa penasarannya semakin besar.
Gus Rayhan berbalik dan berjalan kembali menuju asramanya.
Muhammad Rayhan Al-ghiffari Yusuf
(Berbisik) Aku harus melupakan semua ini.
Gus Rayhan berusaha melupakan pertemuannya dengan Aisyah. Namun, ia tak bisa menyembunyikan rasa penasaran yang menggerogoti hatinya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!