NovelToon NovelToon

Tiba-tiba Jadi Calon Istri Orang

Bab 1

❤️ Happy Reading ❤️

"Kalian harus datang nanti malam."

"Baik Bu."

"Huft..."

Asira langsung menghela nafas panjang ketika sang kepala divisi tempatnya bekerja sudah pergi dari sana.

"Kenapa kamu Ra?" tanya seorang wanita bernama Ami pada orang yang ada di sampingnya. "Kok sampai menghela nafas panjang gitu." sambungnya lagi.

"Kalau bisa milih, aku lebih memilih gak datang." jawab Asira. "Mendingan aku istirahat ... tidur di rumah dari pada dateng ke acara begituan." sambungnya.

Dari sekian banyak karyawan terutama para karyawan wanita, mungkin hanya Sira seorang yang tak ingin menghadiri acara yang di adakan oleh perusahaan tempatnya bekerja. Karena dengan datang ke acara tersebut, mereka bisa melihat para pengusaha yang tentu saja tajir juga banyak yang tampan.

"Ayolah Ra, sekali-kali kamu itu juga butuh hiburan ... gak cuma kerja sama di rumah aja." kata Beni.

"Makanya elo itu gak punya pacar orang keluar aja males ... iya gak Mon." kata Lina.

"Iya jomblo abadi." sahut Mona. "Cupu ... " ejeknya lagi dengan di ikuti gelak tawa dari Mona juga Lina.

Lina dan Mona adalah rekan satu divisi dengan Asira, Ami juga Beni dan masih ada beberapa rekan yang lain. Namun kedua wanita itu selalu saja mengejek Asira karena di usianya yang sudah bisa di bilang matang tak memiliki kekasih. Hubungan mereka juga tak bisa di bilang akrab ... Hanya sebatas rekan kerja satu divisi saja.

"Atau jangan-jangan elo penyuka sesama jenis ya ... euh takut ... hahaha." cibir Mona lagi dengan berbicara yang lebih seenaknya.

"Jaga ya m**** sampah elo.'' hardik Ami yang merasa tak terima sahabatnya mendapat perkataan seperti itu.

"Kenapa? Marah? Gak terima? Helo siapa elo ... orang dianya aja biasa aja kok jadi elo yang sewot." kata Lina.

Sira yang sudah tak tahan dengan apa yang di katakan oleh Lina juga Mona, akhirnya menggebrak meja juga. Sedari tadi dirinya sudah berusaha untuk tidak meladeni juga mengontrol emosinya, tapi sepertinya kedua rekannya itu sama sekali belum sadar jika perkataan mereka bisa menyinggung perasaan orang lain.

Brak

"Cukup!" bentak Asira saat mereka bertiga masih saja adu mulut. "Dengar ya kalian berdua aku selama ini diam bukan karena aku takut atau terima semua ejekan kalian ... aku diam karena aku di sini itu mau bekerja bukan cari ribut apalagi cari musuh." kata Asira dengan penuh penekanan dan langsung keluar dari ruangan divisinya dengan rasa marah yang begitu menyeruak di dalam hatinya.

Dia saat seperti ini, ke toilet menjadi pilihan tujuannya. Dia butuh waktu sejenak untuk menenangkan pikiran serta meredakan emosinya yang tadi sempat meluap.

Tanpa sadar Sira menutup pintu toilet dengan sedikit kencang, lalu tak lupa pula di kancingnya dari dalam.

Sira menyandarkan tubuhnya di dinding, di hidupnya udara dalam-dalam untuk mengisi rongga paru-parunya dan tanpa terasa air mata pun meleleh begitu saja di pipinya tanpa ijin.

"Kenapa ... ? Semua selalu mempersalahkan tantang aku yang sendiri, tanpa memahami apa yang aku rasakan." kata Sira dalam tangisnya. "Semua gara-gara dia ... aku gak akan seperti ini kalau buak karena dia." sambungnya dengan kata-kata yang terdengar begitu penuh dengan kekecewaan juga dendam di dalamnya.

Menangis beberapa saat membuat persamaannya jauh lebih tenang, setelah Asira kembali lagi ke meja kerjanya untuk melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda karena masalah yang sebenarnya sama sekali tak penting.

❤️

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

"Kamu sudah pulang Nak? Bagaimana pekerjaanmu hari ini?" sambut sang Ibu saat melihat putrinya pulang dari bekerja.

''Hem seperti biasa Bu." jawab Asira seusai menyalami tangan wanita yang telah sangat berjasa dalam hidupnya ... surganya.

"Sira ada yang mau Ibu omongin sama kamu." kata Ibu mengajak Sira untuk duduk terlebih dahulu di ruang tamu.

Di tuntunnya tangan sang putri hingga mereka benar-benar duduk dengan saling berdampingan.

"Ada apa Bu?" tanya Sira, karena tak bisa-bisanya ibunya akan seperti ini jadi dia yakin jika ada sesuatu yang penting yang handak di bicarakan padanya.

"Begini Nak, em umur kamukan sudah dua puluh lima tahun ... apa kamu tak ada keinginan untuk berumah tangga?" tanya ibu dengan sangat hati-hati karena takut menyinggung perasaan putrinya ... Putri satu-satunya yang dia miliki saat ini.

"Bu ... "

"Jalan cerita kehidupan seseorang itu tak sama Nak, jadi belum tentu alur kisah cintamu akan sama dengan Ibu dan almarhum kakak kamu itu akan sama.'' potong ibu. "Jadi Ibu harap dan mohon sekali kamu bisa belajar untuk membuka hati." sambungnya lagi. "Mau sampai kapan kamu seperti ini Nak? Ibu tak akan pernah bisa tenang meninggalkan kamu jika kamu sendirian." imbuhnya dengan tangan yang terus menggenggam tangan sang putri. "Dan apakah kamu tau Nak, jika kamu tetap tak mau menjalin hubungan dengan pria seperti ini, ibu jadi semakin merasa bersalah, karena secara tidak langsung Ibu ikut andil dalam membuat kamu begini." katanya lagi dengan tatapan mata yang sendu serta kata-kata yang mengandung penuh kesedihan.

"Ibu ini ngomong apa ... semua ini bukan salah Ibu, tapi salah laki-laki tak bertanggung jawab itu." kata Sira dengan meluap-luap. "Jadi stop salahin diri Ibu." katanya lagi. "Lagian Ibu itu tak akan kemana-mana, Ibu akan selalu ada sama aku sampai kapanpun" tegas Asira.

"Umur seseorang tak ada yang tau nak." sahut Ibu Lena. "Dan satu lagi ... laki-laki yang kamu sebut tak bertanggung jawab itu adalah ayahmu, kamu tak bisa menghilangkan fakta itu." sambungnya. "Ibu dan ayahmu mungkin memang kami tak berjodoh, jadi semua itu sudah takdir Nak dan kita tak bisa menentang takdir yang di buat oleh Yang Maha Kuasa ... kita hanya bisa menerimanya dengan ikhlas apapun itu." imbuhnya lagi dengan bijak.

Ibu Lena tak ingin jika putrinya itu menjadi anak yang durhaka, karena bagaimanapun hubungan mereka tetaplah seorang ayah dan anak sampai kapanpun. Karena ada mantan istri atau mantan suami, tapi tak akan pernah ada yang namanya mantan anak.

"Sudahlah Bu, Sira mau kedalam dulu ... capek, mau istirahat." kata Asira yang langsung berdiri dari duduknya. Dia sudah benar-benar tak tahan dengan pembicaraan yang seperti ini.

Karena pembicara ini hanya akan menguras emosinya saja dan dia tak ingin jika sang Ibu menjadi sasaran kemarahannya jika sudah tak bisa di bendung lagi nantinya.

"Huh sampai kapan kamu akan terus seperti ini Nak." lirih Ibu Lena dengan tatapan sedih yang terus memandang punggung sang putri hingga menghilang di balik pintu.

Brak

"Gak di kantor gak di rumah ... sama aja yang dibahas." kesal Sira begitu telah benar-benar masuk ke dalam kamarnya.

Bahkan sangking kesalnya dia pun sampai tak sadar jika menutup pintu dengan sedikit kencang.

"Bikin kesel aja ... memang gak ada hal lain apa yang bisa di bahas." gerutunya sambil membuka satu persatu sepatu yang di gunakan dan langsung melemparkannya secara asal.

"Persetan dengan jodoh, pernikahan, cinta atau apalah itu." katanya lagi dan langsung menuju ke arah kamar mandi untuk mengguyur kepala serta badannya agar pikirannya bisa sedikit lebih rileks.

❤️

"Loh kamu dandan kayak gini mau kemana Nak?" tanya Ibu Lena yang sudah duduk di ruang makan menunggu sang putri untuk makan malam bersama.

"Aku ada acara kantor Bu jadi aku gak bisa makan malam sama Ibu." jawab Asira. "Asira berangkat Bu ... takut telat dan itu ojol yang Sira pesan juga sudah nunggu di depan." sambungnya lagi setelah itu dirinya menyalami tangan Ibunya.

"Tunggu." kata Ibu Lena dengan tangan yang memegang tangan Sira. "Kamu seperti ini bukan karena yang Ibu katakan kan Nak? Kamu gak marah sama Ibukan? Ibu gak ada maksud apa-apa ... Ibu cuma ingin yang terbaik untukmu, itu saja." sambungannya lagi dengan sendu.

"Enggak Bu, aku memang lagi ada acara kantor." sahut Sira. "Sira berangkat dulu." katanya lagi sambil melepaskan dengan pelan tangan Ibunya yang sedari tadi masih saja memegang salah satu tangannya.

"Oh kalau begitu hati-hati ya Nak." pesan ibu Lena.

"Iya Bu ... assalamualaikum."

"Wa'alaikumsalam."

Tak membutuhkan waktu yang lama untuk Sira sampai di tempat acara, karena dirinya menggunakannya motor jadi memudahkan untuk salip sana salip sini memecah kemacetan kota.

"Sira." seru Ami dan Beni yang kebetulan juga baru datang saat Sira turun dari motor.

"Pembayarannya lewat aplikasi ya Bang." kata Sira dengan tangan yang menyerahkan helm pada sang pengemudi. "Terimakasih." ucapnya.

"Sama-sama Mbak ... jangan lupa bintang limanya ya." kata Abang ojol yang di angguki oleh Sira.

"Tau gini tadi kita jemput." kata Beni begitu jarak mereka sudah dekat.

"Ish gak perlu lagi ... aku bisa berangkat sendiri." kata Sira. "Yuk masuk...bentar lagi acaranya mulaikan ... " ajaknya. "Ck, aku jadi kayak obat nyamuk kalau kayak gini." keluh Sira yang sebenarnya hanya bercanda untuk menggoda kedua sahabatnya yang sedang kasmaran.

"Makanya cari pacar dong." cibir Ami yang membuat Sira pura-pura cemberut.

Melihat raut wajah sang sahabat, membuat Ami langsung menarik tangan Sira untuk berdiri sejajar dengan mereka berdua.

Mereka melangkah bertiga dengan Ami yang berada di tengah-tengah antara pacar dan sahabatnya.

"Tempatnya mewah banget ya ... em apalagi banyak cogan dan para pengusaha muda di sini." kata Ami dengan mata menatap sekeliling dengan tatapan berbinar.

"Ingat beb, kamu gak boleh lirik sana lirik sini ... sudah ada aku." peringat Beni.

"Hehehe ya enggak dong sayang." kata Ami dengan cengengesan sehingga membuat Asira merotasi kedua matanya dengan jengah melihatnya.

"Aku ke toilet bentar ya ... " pamit Asira.

"Mau aku temani?" tawar Ami yang hendak bangun dari duduknya.

"Eh gak usah-gak usah ... aku bisa sendiri." tolak Sira.

"Em oke ... jangan lama-lama." kata Ami.

Sempat bertanya pada pelayan yang ada di sana sehingga Asira bisa tau dimana letak toiletnya berada.

"Wes siapa nih ... si jomblo abadi." ejek Lina.

"Gak usah bikin gara-gara atau aku bisa kasar sama kalian berdua." tekan Sira yang sudah terlalu muak dengan tingkah kedua orang di depannya itu.

"Eiuh takut ... hahaha." kata Mona mengejek.

"Minggir." kata Sira yang langsung berjalan menerobos begitu aja di tengah-tengah Lina dan Mona tanpa memperdulikan semua umpatan yang keluar dari mulut kedua rekannya itu.

"Senengnya kok cari gara-gara." kata Asira sambil mencuci kedua tangannya di wastafel toilet. "Cari angin sebentarlah ... biar gak sesek." gumam Asira yang kemudian memilih untuk melangkah ke arah taman.

"Segernya." gumam Asira sambil merentangkan kedua tangannya dan menghirup udara dalam-dalam saat sudah berada di taman.

"Lepas!" kata seorang pria dengan suara membentak.

"Eh siapa itu." gumam Asira dengan rasa penasarannya akan apa yang terjadi, Sira membawa langkah kakinya perlahan menuju ke arah sumber suara.

Bab 2

❤️ Happy Reading ❤️

Dari tempatnya berdiri saat ini Sira bisa melihat seorang pria sedang menghentakkan kedua tangan seorang wanita yang ada di depannya, tangan yang sedang berusaha untuk menyentuh si pria dengan begitu lancangnya.

"Dav, aku bener-bener cinta sama kamu." kata si wanita.

"Gila kamu ya, sadar ... kamu itu istri dari kakak aku." kata si pria.

"Aku bisa meninggalkan kakak kamu atau kita bisa menjalin hubungan diam-diam di belakangnya." usul si wanita dengan tak tau dirinya.

"Dasar tidak waras." cibir si pria dan langsung berbalik badan untuk pergi meninggalkan wanita tersebut.

Niat hati ingin menghirup udara segar di taman, eh malah jadi tambah sesak karena kehadiran wanita yang sama sekali tak di inginkannya.

Wanita yang bergelar sebagai kakak iparnya namun dengan tak tau dirinya malah mengungkapkan cinta padanya dengan begitu mudah.

Grep

"Ayolah Dav, aku bener-bener cinta sama kamu." kata si wanita yang dengan seenaknya malah memeluk si pria dari belakang.

Di lepaskan serta di hentakannya dengan kasar sepasang tangan yang melingkar di perutnya hingga terlepas sempurna.

"Dengar ya Cik, aku gak cinta sama kamu dan aku juga gak ada niat buat berkhianat sama saudara aku sendiri." kata Davin. "Jadi aku ingatkan sama kamu ... jangan pernah dekati aku lagi." kata Davin dengan penuh penegasan.

Klek

Sira yang berniat untuk meninggalkan tempatnya berdiri saat ini malah tak sengaja menginjak ranting pohon sehingga mengalihkan atensi dari kedua orang beda jenis yang sedari tadi ada di depan sana.

Melihat ada orang lain di sana membuat Davin langsung menghampirinya dan meninggalkan Cika begitu saja.

Asira yang melihat pria itu ke arahnya pun segera membalikkan tubuhnya untuk bergegas pergi sebelum tertangkap, namun sayang semua itu tak sesuai harapannya, karena pada kenyataannya tangannya sudah lebih dulu di cekal oleh seseorang.

"Sayang." panggil seorang pria yang tak lain dan tak bukan adalah Davin dengan suara agak keras agar Cika dapat mendengarnya.

Asira yang di panggil demikian oleh orang yang tak di kenalnya pun sedikit merasa kaget sampai matanya membulat sempurna dan bingung mau melakukan apa.

"Ikuti sandiwaraku atau aku akan menyeretmu ke dalam dan menciummu di sana atau aku bahkan bisa berbuat lebih." ancam Davin dengan berbisik tepat di telinga Asira sehingga membuat Asira dengan refleks menganggukkan kepalanya.

Dia tak ingin apa yang pemuda itu katakan menjadi sebuah kenyataan dan dia tak ingin menanggung malu di hadapan semua orang terutama para rekan kerjanya.

Posisi mereka yang seperti ini membuat orang yang melihatnya dari arah belakang pasti akan salah paham, karena kalau dari belakang terlihat seperti mereka berdua sedang berciuman.

"Siapa dia?" tanya Cika dengan begitu sangat marah sampai tangannya pun terlepas sempurna.

"Oh ini, pacar ... eh salah calon istriku lebih tepatnya." jawab Davin dengan santai yang saat ini sudah berpindah posisi berada di samping Asira dengan sebelah tangan yang melingkar sempurna di pinggang ramping gadis itu.

Sedangkan Sira jangan di tanya, badannya sudah bergetar tapi juga meremang karena ini adalah kali pertama dirinya di sentuh oleh seorang laki-laki dengan posisi yang begitu intim.

Mendengar jawaban Davin membuat Cika semakin kesal kemudian pergi dari sana dengan menghentak-hentakkan kakinya beberapa kali.

"Bisa tolong lepas." kata Asira begitu Cika sudah benar-benar pergi, ria begitu risih dengan posisi mereka saat ini.

"Oh sorry." ucap Davin. "Btw thanks untuk yang tadi." ucapnya yang di angguki oleh Sira.

Davin kembali mencekal tangan Asira saat gadis itu hendak pergi.

Tak mengatakan apapun, tapi Sira menatap ke arah tangannya yang di pegang oleh Davin.

"Mau duduk sebentar di sana?'' tawar Davin.

Karena Sira yang sebenarnya males ada di dalam, akhirnya dirinya pun menganggukkan kepalanya.

Melihat Sira, entah kenapa ada rasa ketertarikan di hati Davin, padahal selama ini belum ada satu wanita pun yang bisa menarik perhatiannya dan Sira pun juga bingung dengan dirinya yang begitu dengan mudah menerima tawaran dari pemuda yang baru dilihatnya ini.

❤️

"Ngomong-ngomong kita belum kenalan." kata Davin yang kini mereka berdua sudah duduk di salah satu kursi. "Davin." kata Davin sambil mengulurkan tangannya.

''Sira ... Asira." jawab Sira yang menerima uluran tangan Davin.

"Kamu juga tamu acara di dalam?" tanya Davin berbasa-basi.

"Hem, begitulah." sahutnya.

"Untuk yang tadi_" kata Davin.

''Oh tenang saja aku tak akan membicarakannya pada orang lain, lagian aku juga gak tau siapa kalian dan ada hubungan apa." potong Asira yang seolah tau kemana arah pembicaraan Davin.

"Apa kamu sudah memiliki kekasih atau suami mungkin?" tanya Davin.

"Hah..." beo Asira.

"Aku cuma gak mau ada salah paham dan berakhir timbul masalah jika kita berbicara berdua begini." kata Davin lagi.

"Ah enggak kok." jawab Asira.

"Maksudnya kamu masih single?" tanya Davin yang di angguki oleh Sira. "Kebetulan." kata Davin dengan girang bak mendapatkan sebuah jakpot.

"Maksudnya?" tanya Sira dengan mengerutkan dahinya karena tak paham dengan kata-kata Davin.

"Aku mau minta tolong sama kamu, em atau aku mau kita melakukan sebuah kesepakatan." kata Davin yang membuat Asira seketika langsung menoleh ke arahnya sangking terkejut. "Aku mau kamu jadi kekasihku." sambungnya lagi. "Kekasih pura-pura maksudnya." kata Davin lagi meralat ucapannya.

"Heh gila." kata Asira dengan tersenyum mengejek, merasa tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.

Seperti novel-novel yang pernah di bacanya aja, dia pikir semua itu hanya ada di dunia fiksi saja bukan di dunia nyata.

"Terserah kamu mau bilang apa, bagaimana kamu mau tidak?" tanya Davin lagi. "Terserah sih kalau kamu gak mau, tapi aku bisa dengan mudah mencari tau siapa kamu dan akan aku pastikan jika kamu seorang pengusaha maka bersiap-siaplah untuk guling tikar tapi jika kamu seorang karyawan maka bersiaplah untuk kehilangan pekerjaanmu serta dapat aku pastikan kamu tak akan di terima kerja di manapun.'' kata Davin lagi dengan begitu santainya memberikan sebuah ancaman untuk Sira.

"Apa maksud kamu? Kamu ngancam aku?" sentak Asira yang merasa tak terima dirinya di ancam dan di perlakukan dengan seenaknya. "Dengar ya ... meskipun kamu itu orang kaya dan berkuasa, tapi kamu tak berhak berbuat seenaknya." kata Sira lagi dengan amarah yang membuncah.

"Terserah kamu mau bilang apa." jawab Davin santai.

"Ini bukan sebuah penawaran tapi pemaksaan." dengus Asira.

"Jadi mau tidak?" tanya Davin lagi seolah tak menganggap kekesalan yang di tunjukkan oleh Asira.

"Kamu sama sekali tak memberiku pilihan." kata Asira. "Entah kenapa malam ini aku merasa begitu sangat sial." sambungnya lagi.

"Oke, jawaban kamu itu aku anggap kamu menyetujuinya." kata Davin mengambil kesimpulannya sendiri.

"Sampai kapan?" tanya Asira yang ingin memastikan, dia tak ingin terjebak selamanya dengan pria yang dianggapnya aneh ini.

Bagaimana tidak aneh, baru saja bertemu tapi sudah menawarkan penawaran yang begitu tak masuk akal di tambah lagi dengan ancaman yang dia lontarkan dengan begitu entengnya.

"Sampai kakak ipar aku berhenti mengejarku." jawab Davin. "Bila memang di butuhkan mungkin akan bisa ke tahap lebih ... bertunangan atau bahkan menikah.'' sambungnya lagi.

"Apa yang bisa aku dapatkan?" tanya Asira, yang mengingat di novel seperti ini eh siapa sangka dia kan juga mengalami hal yang serupa.

Terserah Davin mau menganggapnya matrealitis atau apalah itu, bukankah semuanya memang harus ada timbal baliknya, dia tentu saja tak mau dirugikan dalam hal ini.

''Aku bisa memberikan kamu uang bulanan." kata Davin memberikan tawarannya.

"Oke, uang bulanan 100 juta sebulan." kata Asira, karena menurut Asira dengan nominal sebegitu besar barangkali Davin akan mengurungkan rencana konyolnya ini.

"Oke deal." kata Davin menjabat tangan Asira. "Jangankan uang segitu, kamu minta mobil bahkan rumah pun akan aku berikan asal semuanya berjalan dengan lancar dan tak ada satu orang pun yang tau.'' sambungnya lagi dengan nada angkuh.

"Sial ... aku jadi terjebak dengan semua ini." kata Asira dalam hatinya, dia benar-benar tak menyangka jika ternyata pemuda di dekatnya ini akan dengan memenuhi permintaannya dengan begitu mudah.

Padahal Asira sempat berpikir jika dia akan mendapatkan berbagai umpatan dari Davin karena mengajukan nominal yang sangat tinggi.

Bab 3

❤️ Happy Reading ❤️

Ckrek

Tiba-tiba Davin memotret Sira seenaknya saja tanpa ijin dengan menggunakan ponsel miliknya.

"Eh apa-apaan ini?" protes Sira dengan kesal plus kaget.

"Ya paling gak kalau kamu mangkir dari kesepakatan kita tadi, aku bisa menyebarkan foto kamu baik ke media cetak ataupun media elektronik termasuk ke semua akun sosmed yang ada.

"Aku bukan orang yang seperti itu." kata Sira dengan tegas.

Dia merasa tidak terima, karena kata-kata Davin secara tidak langsung tidak percaya padanya dan dia bukanlah seorang penipu.

"Ya siapa tau, hati dan pikiran orang tak ada satu pun yang taukan." jawab Davin dengan santai. "Ayo aku antar kamu pulang." ajak Davin dengan memberikan tawarannya.

"Eh gak usah lagian acara di dalam belum selesai." tolak Sira dengan berbagai alasan agar Davin tak mengetahui di mana rumahnya, paling tidak untuk saat ini.

"Sudah gak apa-apa." kata Davin. "Ayok ..." dengan seenaknya saja dia sudah menyeret Sira menuju ke arah parkir dimana mobil sport miliknya berada.

Tanpa banyak kata, Davin langsung mendorong dengan pelan tubuh Sira masuk kedalam mobil, setelah itu dirinya pun bergegas memutari depan mobil dan masuk ke bagian kemudi.

"Alamat rumah kamu dimana?" tanya Davin saat mereka berdua sudah berkendara.

"Huft di jalan Kenanga blok A nomor 111." jawab Asira, karena tak mengatakannya pun akan percuma pasti pria di sampingnya ini akan melakukan beribu cara.

Davin membelok mobilnya di halaman sebuah rumah yang nampak sederhana namun memiliki halaman yang luas dengan ada taman mini yang tertata sangat rapi.

"Aku keluar, terimakasih." ucap Asira, namun ketika hendak turun ... tangan Asira kembali di cekal oleh Davin. "Apa?" tanya Asira dengan begitu jengah melihat sikap pemuda itu yang dengan seenaknya selalu memegang tangannya.

"Nomor ponsel kamu ... " kata Davin dengan menyodorkan ponsel miliknya.

Asira pun dengan cepat langsung mengetikan nomornya di sana, rasanya dia sudah sangat tak tahan untuk berlama-lama dengan pemuda yang sudah sukses membuatnya kesal malam ini.

Brak

Dengan kesal Asira menutup pintu mobil dengan kasar bahkan terkesan membantingnya.

Dia tak perduli mau semewah atau semahal apapun mobil itu yang penting kekesalannya tersalurkan.

❤️

Cklek

"Assalamualaikum."

Asira termasuk anak yang baik, ibunya selalu mengajarkan untuknya mengucapkan salam setiap masuk ke dalam rumah mau ada ataupun tak ada orang.

"Wa'alaikumsalam." sahut sang ibu yang membuat Asira sedikit kaget, karena pasalnya ini sudah cukup larut malam dan ibunya belum tidur juga.

"Loh Ibu kok belum tidur? Ini sudah larut Bu." kata Asira menghampiri wanita paruh baya yang kini duduk di kursi ruang tamu, sepertinya ibunya itu tengah menunggu dirinya pulang.

"Bagaimana Ibu bisa tidur kalau putri Ibu saja belum pulang." jawab ibu Lena.

"Harusnya Ibu langsung tidur saja, gak perlu menunggu Asira." kata Asira. "Lagiankan besok juga Ibu mesti bangun pagikan." sambungnya lagi. "Sekarang Asira sudah pulang, jadi Ibu langsung tidur ya ... " katanya lagi.

"Hem, kalau begitu Ibu akan ke kamar dan kamu juga langsung tidur setelah bersih-bersih ya." kata ibu Lena.

"Iya Bu." jawab Asira.

❤️

Sira telah mandi dan mengganti pakaiannya, sekarang dirinya mulai merebahkan tubuhnya di ranjang untuk beristirahat, karena besok dirinya harus kembali menjalani rutinitas seperti biasanya.

Ting

Baru juga mau menajamkan mata, eh sudah di ganggu saja dengan notifikasi pesan dari ponselnya yang berbunyi bertubi-tubi.

Ternyata itu adalah pesan dari kedua sahabatnya yang menanyakan keberadaannya saat ini, mau tak mau Sira pun membalasnya agar kedua sahabatnya tak khawatir.

Karena Davin, dirinya sampai lupa tak memberikan memberikan kabar pada kedua sahabatnya yang pasti masih menunggunya di sana.

"Ini nomor siapa?" gumam Sira saat melihat ada nomor asing yang juga mengirim pesan padanya.

"Save nomorku ... Davin."

"Ck, nomor dia tenyata." decak Sira yang kemudian lebih memilih untuk mengabaikannya.

Tak menyimpan apalagi membalas, Sira lebih memilih meletakan kembali ponselnya di atas nakas dan mulai kembali mengistirahatkan tubuhnya.

Karena bagi Sira hari ini adalah hari yang cukup sangat melelahkan untuk hati dan pikirannya. Emosinya begitu banyak di permainkan dari pagi.

Malam telah berlalu, suara jangkrik pun kini telah tergantikan dengan suara burung yang berkicau serta ayam yang berkokok, bahkan sinar mentari pun begitu sangat cerah menyambut datangnya hati.

Sira pun sudah rapi dengan setelan kerjanya dan kini hanya tinggal mematut sebentar di depan cermin untuk sekedar menggunakan bedak bayi dan juga lip gloss untuk pemanis di bibirnya.

Asira merupakan salah satu dari sekian banyak wanita yang tak mau ribet dalam menggunakan berbagai perlengkapan make up.

"Sarapan dulu Nak." ajak ibu yang sudah menunggu sang putri di meja makan.

Tanpa banyak kata Sira pun langsung duduk di kursi dan mengambil makanan ke dalam piringnya. Sebenarnya setiap habis salat subuh Sira pasti akan membantu sang ibu untuk membuat kue dagangannya, ibunya itu memiliki toko yang menjual beraneka jenis kue tradisional di pasar.

Dengan penghasilan Sira saat ini sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk menghidupi kehidupan mereka berdua dan dia juga sudah pernah meminta ke sang ibu untuk berhenti berjualan.

Namun memang dasarnya sudah pekerja keras, ada saja alasan yang ibunya lontarkan ... yang tak biasa hanya berdiam diri di rumahlah, nanti kalau di rumah malah ngantuklah atau kalau hanya diam saja nanti malah badannya menjadi sakit. Akhirnya Sira menyerah untuk membujuk sang Ibu berhenti dengan catatan ibunya itu tak boleh terlalu lelah.

"Sira berangkat ya Bu, do'ain Sira agar pekerjaan Sira hari ini berjalan dengan lancar." kata Sira berpamitan pada orangtua tunggalnya.

"Tentu Nak, do'a Ibu selalu menyertaimu." sahut sang ibu yang kemudian Sira menyalami dengan mencium tangan ibu Lena.

"Assalamualaikum Bu."

"Wa'alaikumsalam."

"Ibu hati-hati kepasarnya.'' kata Sira.

❤️

"Eh kenapa sih kok rame bener?" tanya Sira pada salah satu karyawan.

"Loh kamu gak tau ya kalau hari ini itu ada pergantian pemimpin perusahan?" tanyanya.

"Hah, maksudnya?" tanya Sira yang memang tak tau apa-apa.

"Jangan-jangan semalam kamu gak datang ya ke acara ulang tahun perusahaan?" tuduh rekannya itu.

"Lah apa hubungannya?" tanya Sira.

"Semalamkan emang sudah di umumin di sana." jawabnya.

"Sorry aku gak tau, soalnya aku pulang duluan sebelum acara selesai." sahut Sira.

"Oh pantes." beonya. "Pak Diki Ardiansyah akan pensiun dan yang memegang perusahaan ini itu putra keduanya, karena memang pak Diki hanya menggantikan putranya selama masih di luar negri." ceritanya yang membuat Asira manggut-manggut.

Tak lama kemudian rekannya itu memilih pergi untuk berkumpul dengan temannya yang satu divisi.

"Putra Pak Diki ... " monolog Sira begitu dirinya sendiri.

"Hai bestie." sapa Ami yang baru datang dengan Beni yang sedikit mengejutkan Sira.

"Oh hai." sapa balik Sira.

"Ke aula yuk ... bentar lagi ada perkenalan bos baru." ajak Beni.

"Aku pikir anak Pak Diki itu cuma Pak Damar yang pegang perusahan DM corp aja.'' kata Asira. "Eh gak taunya ada yang lain." imbuhnya lagi sambil berjalan menuju aula bersama Ami dan Beni.

"DV corp ini yang akan pegang putra Pak Diki yang kedua, selama beberapa tahun ini beliau mengambil S2 dan S3nya di luar negeri." jawab Ami. "Dan katanya lagi bos kita masih single loh, tampan dan mapan karena banyak yang bilang jika beliau juga mempunyai bisnis yang dirintis sendiri." papar Ami. "Hebat gak tuh." kata Ami lagi.

"Hem kayaknya kamu tau banyak ... " kata Sira.

"Sudah bukan rahasia umum tau, kamu aja yang kurang update." sahut Ami.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!