NovelToon NovelToon

Istri Kecil Sang Presdir

Bab 1. Pengenalan Tokoh.

Pengenalan Tokoh

Reynaldi Pratama atau Pram ( 40 tahun )

Reynaldi Pratama atau biasa disapa Pram, lelaki matang dan dewasa berumur 40 tahun. Ia adalah seorang yatim piatu. Pada umur 10 tahun, Pram bertemu dengan pemilik RD Group, salah satu konglomerat di Jakarta, yang mengubah nasibnya. Dari seorang anak jalanan, tiba-tiba ia tinggal di rumah mewah, diasuh dan disekolahkan oleh pasangan suami istri Riadi Dirgantara dan Anna Wijaya yang kebetulan memang belum memiliki anak. Lima tahun tinggal di keluarga itu, sang ibu asuh, istri Riadi Dirgantara meninggal dunia.

Pram menyelesaikan S1 di Jakarta dan S2 di London, Inggris. Sejak kecil ia sudah dididik oleh Riadi sebagai pemimpin masa depan dari RD Group. Setelah menyelesaikan S2, Pram kembali ke Indonesia, membantu Riadi mengurus perusahaan. Sejak dua tahun terakhir, ia dipercaya menjadi Wakil Direktur RD Group dan memegang kendali penuh terhadap perusahaan dan putri Riadi satu-satunya Kailla Riadi Dirgantara.

Kailla Riadi Dirgantara ( 20 tahun )

Kailla Riadi Dirgantara biasa dipanggil Kailla gadis 20 tahun, putri tunggal Riadi Dirgantara dengan kekasihnya Rania Sari. Riadi berhubungan dengan Rania, setelah kematian istrinya. Rania Sari tidak pernah dinikahi oleh Riadi, meninggal dunia karena kecelakaan mobil saat mengandung Kailla sembilan bulan. Beruntung, pada saat kejadian Kailla bisa lahir dengan selamat.

Kailla gadis yang manja dan kekanak-kanakan. Ia sangat mencintai daddy-nya. Seorang anak yang kekurangan kasih sayang orang tuanya. Kailla dibesarkan oleh pembantu dan asistennya. Sejak kecil, Kailla selalu ditemani dan dikawal asisten yang merangkap sopir pribadinya.

Tanpa sepengetahuannya, sejak dua tahun yang lalu, tepatnya saat ia baru mulai mengenyam bangku kuliah, sang Daddy sudah menjodohkannya dengan Pram. Riadi sendiri datang kepada Pram dan memohon kepada anak asuhnya itu untuk menikahi putrinya dan mengurus perusahaannya.

Dan Pram langsung menyetujui permintaan Riadi dengan persyaratan menunggu Kailla menyelesaikan kuliahnya. Ia siap menunggu gadis itu membuka hati untuknya. Pram ingin Kailla menerima perjodohan mereka dengan sukarela dan meminta waktu untuk meluluhkan hati Kailla. Namun, karena keadaan, Pram terpaksa harus menikahi Kailla secepatnya.

Ikuti perjuangan Om Pram meluluhkan hati Kailla, ya. Sekaligus perjalanan rumah tangga yang berbeda umur dan karakter.

Bagaimana kesabaran Pram yang tanpa batas menghadapi kenakalan dan kemanjaan Kailla.

***

“Bagaimana, Kai? Kamu suka?” tanya Dion sambil menyodorkan ponselnya, memperlihatkan foto-foto yang baru saja diambil sang fotografer.

“Keren! Aku suka.”

“Thanks, Kai. Kamu sudah mau membantuku dan temanku,” ucap Dion menatap Kailla dengan penuh kekaguman. Dion adalah salah satu sahabat baik Kailla di kampus.

“Apa, sih? Santai saja, Dion. Biasanya, kamu yang sering membantuku. Ini tidak seberapa,” jawab Kailla sambil sibuk menyeruput es lemon teh.

Ya, biasanya kalau di kampus Dion yang lebih sering membantu Kailla. Dion dan dua sahabat lainnya yaitu Rika dan Dona.

“Sehabis dari sini, kamu langsung pulang, Kai?” tanya Dion penasaran, masih menatap gadis di depannya. Sebenarnya, ia ingin berlama-lama, tetapi Dion cukup tahu diri. Kailla bukanlah gadis sembarangan. Kailla berbeda dengan teman-teman lainnya. Kailla adalah putri tunggal seorang pengusaha ternama di Jakarta. Bahkan, Kailla selalu dikawal oleh seorang asisten merangkap sopirnya setiap hari.

“Ya, sepertinya. Soalnya Sam juga sudah menunggu di parkiran sejak tadi,” jelas Kailla.

Tak lama ponsel Kaila berdering.

“Ya, Dad.” Kailla menjawab panggilan setelah memastikan si penelepon adalah daddynya.

“Kamu dimana, Kai? Tidak biasanya kamu belum pulang jam segini.” Terdengar nada kekhawatiran dari suara si penelepon.

“Ya, Dad. Sebentar lagi aku pulang.” Kailla memutuskan panggilan teleponnya dan buru-buru menyeruput habis es lemon tehnya.

“Aku duluan ya, Dion. Daddy menghubungiku. Tadi aku lupa mengabarinya kalau aku pulang terlambat,” pamit Kailla sambil berdiri melambaikan tangannya ke arah Dion.

“Ya. Thanks ya, Kai. Hati - hati di jalan. Nanti kabari aku kalau sudah sampai di rumah,” jawab Dion sambil melambaikan tangan ke arah Kailla.

Kailla hanya menjawab dengan senyuman sembari menunjukkan kedua jempol. Berbeda dengan Dion, ia masih menatap sampai mobil yang ditumpangi Kailla menghilang diujung jalan.

***

Ruang Wakil Direktur RD Group.

Tampak seorang laki-laki sedang sibuk memeriksa berkas-berkas yang menumpuk di meja. Sesekali mencoret-coret dan menumpuknya kembali ke tumpukan di sebelahnya. Ia adalah Reynaldi Pratama atau biasa dipanggil Pram, wakil Direktur Riadi Dirgantara ( RD Group ).

Konsentrasi Pram terganggu ketika ponsel di meja bergetar. Pram segera mengangkat teleponnya setelah melihat nama si penelepon. Keningnya berkerut. Setiap kali orang suruhannya ini menelepon pasti ada berita penting mengenai gadis nakal, pewaris tunggal Riadi Dirgantara Group.

“Ya, ada apa, Bay?” Pram langsung bertanya pada kesempatan pertama.

“Nona Kailla bersama laki laki itu untuk melakukan pemotretan, Bos,” jelas sang penelepon yang bernama Bayu.

“Sepertinya untuk brand baru temannya. Saya kurang jelas juga, tapi Nona ditemani Sam dan sekarang juga Nona sudah pulang,” lanjut Bayu lagi.

“Tolong cari tahu siapa laki-laki yang bersama Kailla dan laporkan segera padaku!” perintah Pram. “Aku mau informasi sedetail mungkin, tidak boleh ada yang tertinggal!” lanjutnya lagi.

“Berapa lama Kailla di sana, Bay?” tanya Pram kemudian.

“Sekitar tiga jam, Bos. Kalau Bos mau, saya bisa carikan foto-foto hasil pemotretan Nona,” tawar Bayu.

“Ok. Kirimkan kepadaku. Segera! Tetap awasi Kailla, pastikan dia baik-baik saja,” perintah Pram sebelum memutuskan panggilan telepon.

Terlihat Pram mengurut pelipisnya. Sejak dua tahun terakhir, tanggung jawabnya semakin bertambah. Selain mengurusi perusahaan, ia juga harus terus memantau semua hal yang berkaitan dengan Kailla. Ia tidak mau gadis itu sampai salah jalan dan tersesat dalam pergaulan bebas di luar sana.

Kailla adalah pribadi yang rapuh dibalik kenakalannya sebagai gadis remaja. Kailla sejak lahir sudah ditinggal mamanya dan ia dibesarkan oleh Daddy yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan pekerjaan dibandingkan kebersamaan dengan putrinya. Masa kecil Kailla banyak dilewatkan bersama Pram dan beberapa asisten yang memang dipekerjakan untuk mengurusnya.

Pram menghela napas kasar, melirik jam tangan mewah di pergelangan tangannya. Dia baru menyadari kalau sudah melewatkan jam makan siang. Segera meraih jas di sandaran kursi, kemudian meninggalkan ruangannya untuk makan siang. Di luar ruangan, David sang asisten sudah siap menunggunya.

“Dave, tolong kamu beresi berkas-berkas di meja kerjaku,” perintah Pram pada David yang sudah sedari tadi menunggu atasannya itu keluar ruangan.

“Baik, Pak.” David menjawab singkat.

“Aku keluar sebentar, pastikan semua baik baik saja selama aku tidak ada di kantor,” lanjut Pram lagi sembari menepuk pundak David.

“Ya, Pak.”

Pram sedang berada di lift, ketika Bayu mengirimkan foto-foto Kailla ke ponselnya. Melihat pose di dalam foto, seketika membuat rahang Pram mengeras. Tangannya sudah terkepal menandakan kemarahannya. Bagaimana ia tidak marah melihat pose-pose di foto. Kailla dipeluk oleh seorang laki-laki, walaupun itu hanya untuk pengambilan foto untuk kebutuhan promo.

“Laki-laki kurang ajar itu sepertinya tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa. Berani-beraninya dia menyentuh calon istriku,” ucap Pram mengeraskan rahangnya.

"Kailla sudah kelewatan kali ini. Bisa-bisanya dia tidak berpikir ulang sebelum menerima tawaran untuk difoto seperti ini. Kalau sampai foto itu jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab, bukan tidak mungkin foto-foto ini akan dimanfaatkan untuk menyerang daddynya atau perusahaan."

“Kailla harus dihukum kali ini, setidaknya ke depan dia akan berpikir ulang setiap melakukan sesuatu,” ungkap Pram.

Pram segera menghubungi David, “Segera blokir semua kartu kredit Kailla!”

“Ya, Pak,” jawab David.

Tut ... tut

Belum sempat David bertanya lebih banyak lagi, panggilan diputus oleh Pram.

“Sebentar lagi bakal ada kekacauan sepertinya,” batin David. Dia sudah hafal apa yang akan terjadi setelah ini, pasti akan ada kekacauan yang dibuat putri atasannya itu, yang akhirnya akan membuat Pram harus turun tangan sendiri menyelesaikannya.

***

Di dalam mobil sport hitamnya, Pram mencoba menghubungi Kailla. Tepat pada deringan ketiga terdengar suara manja Kailla sambil menggerutu karena merasa terganggu.

“Ada apa sih, Om?” tanya Kailla ketus.

“Om sebentar lagi sampai ke rumahmu. Om mau makan siang di sana,” jelas Pram.

“Kenapa mendadak sekali sih, Om? Hari ini Bu Sari sakit, jadi tidak masak. Aku dan Daddy saja makan siangnya dipesankan Donny."

“Buatkan telur ceplok ditambahi kecap saja untuk Om,” perintah Pram.

“Hah! Tidak salah, Om ... tapi ....”

“Tidak ada tapi-tapian. Sebentar lagi Om sampai ke rumahmu,” potong Pram mematikan teleponnya sepihak tanpa mendengar ucapan Kailla selanjutnya.

“Gadis manja ini harus diberi pelajaran.”

***

Di kediaman Riadi Dirgantara.

“Huh!" dengus Kailla kesal. Terlihat ia mengambil teflon dan minyak goreng, siap membuat telur ceplok seperti permintaan Pram.

“Apa aku kerjai saja si Om,” batin Kailla seraya tersenyum licik.

Terlihat Kailla berkali-kali menghela napas panjang, ia membuat telur pesanan Pram dengan terpaksa.

“Kalau bukan karena hidup matiku ada di tangannya, sudah kupastikan dia ...."

“Dia siapa?” tanya Pak Riadi yang tiba-tiba sudah ada di belakang dan mengagetkan Kailla.

“Kenapa? Pram mengerjaimu lagi,” tanya Pak Riadi tertawa.

***

Mohon dukungannya like dan komennya. Ini karya pertamaku, mungkin ada banyak kesalahan dalam penulisan, typo dan lain-lain. Terima kasih ya.

Bab 2. Tragedi Telur Ceplok.

“Kenapa? Pram mengerjaimu lagi,” tanya Daddy sambil tertawa. Ia sudah hafal dengan kelakuan putrinya ini.

Kailla hanya cemberut sambil melanjutkan menggoreng telur untuk Pram. Terlintas ide jahil untuk mengerjai pria itu. Wajahnya langsung berubah cerah, rasa kesal mencair seketika.

“Baiklah. Kamu sengaja menyuruhku memasak hari ini. Kita lihat saja, bagaimana telur ini akan membuatmu trauma seumur hidup. Aku pastikan rasa telur ini akan abadi sepanjang masa di dalam ingatanmu.” Kailla menyeringai sambil meraih stoples di atas rak.

“Apa yang kamu masukkan itu, Kai?” tanya Pak Riadi terkejut melihat bahan tambahan yang dicampuri Kailla ke dalam telur yang sudah dikocok di dalam mangkuk.

“Oh, ini bubuk kari, Dad. Aku ingat, kemarin teman kampusku cerita kalau telur dicampur bubuk kari akan menghasilkan taste yang luar biasa enaknya. Daddy mau kubuatkan juga?” tawar Kailla lagi.

“No—no. Thanks, Kai. Makan siang tadi sudah cukup mengenyangkan. Apalagi Daddy dianjurkan dokter untuk diet dan tidak boleh makan terlalu banyak." Pak Riadi menolak tawaran putrinya dengan cepat.

“Kamu pikir aku tidak tahu bagaimana kelakuanmu, Kai,“ batin Pak Riadi, tersenyum membayangkan kekacauan yang akan terjadi sebentar lagi. Ia jelas-jelas belum pikun, masih bisa membedakan mana bubuk kari, mana yang bubuk kopi.

“Gadis nakal!"

Pak Riadi sengaja membiarkan kelakuan Kailla, karena ia yakin Pram pasti bisa menangani Kailla seperti yang sudah-sudah. Pram adalah satu-satunya orang yang bisa menghadapi kenakalan Kailla. Kalau dengan Pram, Kailla akan patuh dan menurut, tetapi tidak jarang juga Pram harus mengelus dada menghadapi kemanjaan Kailla yang terkadang sudah di luar batas.

Tak lama, terdengar langkah kaki memasuki ruang makan kediaman Riadi Dirgantara. Donny, asisten Pak Riadi tampak berdiri di belakang Pram yang masih lengkap dengan setelan kantor dan kacamata hitam.

“Selamat siang, Presdir,” sapa Pram sambil melepas kacamata hitamnya dan menyimpan di saku jasnya.

“Kamu sudah sampai, Pram. Ayo, silakan duduk.“ Pak Riadi mempersilakan.

“Wah! Sepertinya makan siangku sudah siap, Kai,” ujar Pram tersenyum begitu melihat Kailla membawa sepiring nasi dan telur di atasnya lengkap dengan lelehan kecap malika.

"Pesan telur ceplok, datangnya telur dadar. It's ok." Pram tersenyum menatap sajian di hadapannya.

“Silakan, Om,” jawab Kailla, mempersilakan Pram menikmati makan siang. Tidak lupa ia juga menyiapkan segelas teh hangat.

“Ini teh rosella, Om.” Kailla meletakan teh hangat berwarna kemerahan itu di sisi kanan piring Pram.

“Perfect! Yakin bisa dimakan, kan?” Pram bertanya sambil menatap tajam manik mata gadis cantik di hadapannya. Seperti yang sudah-sudah, Pram tidak yakin sebenarnya.

Kailla berusaha tersenyum semanis mungkin. Ia memilih berdiri tidak terlalu jauh untuk menonton pertunjukan spektakuler yang sebentar lagi akan tayang di hadapannya.

Pak Riadi juga terlihat duduk menemani Pram menikmati makan siang.

“Bagaimana keadaan kantor, Pram?” tanya Pak Riadi membuka pembicaraan. Sudah lebih dari seminggu, ia tidak ke kantor. Usia dan kesehatannya akhir-akhir ini memaksanya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.

“Baik, besok akan diadakan rapat untuk membahas peluncuran proyek baru kita. Dan sepertinya Presdir harus ikut rapat.” Pram menjelaskan sambil menyendokkan makan siang ke mulut.

“Ok, Pram. Besok aku akan datang. Nanti kabari Don, jam berapa rapat dimulai. Aku mau istirahat dulu. Selamat menikmati makan siangmu,” pamit Pak Riadi sambil menepuk pundak Pram, berjalan meninggalkan meja makan.

Mata Pram langsung melotot begitu makanan yang disuapkan ke mulut menyentuh lidahnya.

“Astaga! Anak ini benar- benar mengerjaiku. Aku melewatkan makan siangku demi makanan tidak layak seperti ini. Ya Tuhan,” ucap Pram dalam hati dan tetap berusaha menghabiskan makan siangnya dengan tetap tersenyum.

Kailla menatap Pram dengan tatapan tidak percaya. Pria itu hampir menghabiskan separuh isi piring tanpa protes.

“Apa aku salah menambah bahan. Jelas-jelas tadi aku mencampur kopi dan garam yang banyak,” ucap Kailla dalam hati. Tampak ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tatapannya seperti orang kebingungan.

Tepat di sendok terakhir, Pram memanggil Kailla mendekat.

“Kai, kemarilah! Pasti kamu penasaran bagaimana enaknya makan siang yang kamu buat kali ini. Om ingin kamu membuat telur dengan rasa yang persis seperti ini nantinya. Ayo buka mulutmu, kamu harus mencobanya.“ Pram bersiap menyuapi Kailla sambil tersenyum.

“Ti ... tidak, Om. Aku masih kenyang,” tolak Kailla gelagapan sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.

“Habis aku kali ini."

“Ayolah, Kai.” Pram menghampiri Kailla sambil membawa sendok di tangannya. Terpaksa, Kailla membuka mulutnya setelah dirasa ia tidak punya alasan untuk menolak lagi. Sebenarnya, ia juga penasaran dengan rasa masakannya. Bagaimana Pram bisa menghabiskannya dengan tenang tanpa mengamuk.

Uhuk ... uhuk.

Kailla terbatuk begitu makanan itu berhasil masuk ke dalam mulut dan dikunyah. Ia menyemburkan makanannya keluar.

“Gila, ini rasanya parah sekali,” ucapnya dalam hati. Segera menyambar gelas teh di atas meja yang tadinya disiapkan untuk Pram. Seķali lagi Kailla tersedak, mulutnya kepanasan dengan bibir memerah. Efek tersedak menyebabkan nyeri di telinga.

“Sshh ... sshh ... pedas, Om.” Hanya kata itu yang bisa terucap dari bibir Kailla sambil mengibaskan tangan ke mulutnya.

Melihat Kailla yang kepedasan sampai mengeluarkan air mata membuat Pram panik. Segera ia berlari ke dapur mencari sesuatu untuk mengurangi rasa pedas di mulut Kailla.

Setengah berlari Pram membawa segelas air putih hangat dan menyodorkannya di mulut Kailla. Setelah meneguk air putih itu sampai tandas, rasa pedas di mulut pun sedikit berkurang. Air matanya keluar lengkap dengan kening berkeringat dan bibir memerah. Melihat pemandangan itu, segera Pram mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya, membantu Kailla menyeka keringat di keningnya.

“Maafkan, Om. Kamu baik-baik saja?” tanya Pram menyesal sudah mengerjai Kailla.

Kailla hanya mengangguk. Ia sebenarnya merasa menyesal sudah mengerjai Pram yang akhirnya terkena dirinya sendiri.

“Ini kualat namanya, mengerjai orang tua,” ujar Pram menyentil kening Kailla.

“Maaf ....” Kailla berbisik pelan sambil mengusap keningnya yang baru disentil Pram.

“Ya sudah, Om balik ke kantor. Sampaikan ke Daddy, Om pamit, ya,” lanjut Pram menepuk pucuk kepala Kailla lembut dan mengacaknya gemas.

“Huh," dengus Kailla kesal seraya mengepalkan kedua tangan menatap punggung kokoh milik Pram yang sudah berjalan meninggalkan ruang makan.

“Kamu mengatakan sesuatu?” tanya Pram tiba-tiba berbalik menatap Kailla.

“Ti ... tidak.” Kailla tergagap, buru-buru mempersembahkan seulas senyuman palsu dan manis. Ia segera menyembunyikan kepalan tangannya ke belakang punggung.

Pram berjalan meninggalkan kediaman Riadi dengan senyum terkembang di bibirnya. Di teras, ia masih sempat berpapasan dengan Donny yang hendak masuk ke dalam rumah.

***

Terima kasih.

Love you all

Bab 3. Masa Kecil Kailla.

Keesokan paginya di kediaman Riadi Dirgantara.

Tampak Donny asisten Pak Riadi sedang menikmati secangkir kopi di teras samping sembari sesekali menggoda Sekar, anak gadisnya Bu Sari yang tinggal di kediaman Riadi Dirgantara juga.

Selain Donny, Bu Sari sekeluarga, beberapa security yang berjaga di gerbang depan juga tinggal tempat Riadi. Hanya Sam saja, asisten sekaligus sopirnya Kailla yang tetap bolak-balik pulang ke rumahnya setiap hari.

“Masih libur sekolahnya, Sekar?” tanya Donny sambil menyesap kopi hitamnya.

“Masih, Mas Donny,” jawab Sekar singkat sambil menyiram tanaman di halaman samping rumah.

“Lama juga. Sudah hampir sebulan. Kalau begini, bisa-bisa kamu lupa jalan ke sekolah. Hahaha,” canda Donny.

Tak lama berselang, Sam menghampiri dan ikut bergabung.

“Wih, mantap ini, Bro! Kopi ditemani pisang goreng sudah paling pas,” ucap Sam memilih duduk di depan Donny

“Sekar, tolong buatkan Abang Sam kopi hitam juga, ya. Jangan terlalu banyak gulanya nanti Abang diabetes. Yang membuatkan kopi sudah manis, kalau ditambah gula jadi kemanisan” godanya sambil mengedipkan mata ke arah Sekar.

“Wah, menabuh genderang perang nih!” ucap Donny melihat kelakuan Sam yang menggoda Sekar.

“Bujang lapuk seperti dirimu tidak pantas untuk Sekar, Bro. Nah, Kalau si Indah puspa bangsa, pembantu Pak Hidayat Blok B24. Cocok itu.” Sam meledeknya.

Donny langsung bergidik ngeri. Bukan rahasia lagi, kalau Indah yang dimaksud dari dulu selalu mengejar Donny. Sejak masih gadis sampai sekarang sudah menjanda.

Tak lama Sekar pun menghampiri sambil membawa secangkir kopi panas.

“Ini, Mas ... kopinya,” ucap Sekar meletakkannya di atas meja.

“Terima kasih, Cantik." Sam langsung menyambar kopi dan menyesap kopi buatan Sekar.

“Nah, ini pas rasanya. Pas dibawa ke pelaminan. Hehehe." Sam terkekeh menggoda Sekar yang sudah berjalan masuk ke dalam rumah.

“Bro, apa kamu tahu ... kemarin Non Kailla mengerjai Pak Pram lagi,” cerita Donny.

“Bagaimana ceritanya, Bro?” tanya Sam penasaran.

“Minuman Pak Pram dicampur bubuk cabai. Parah si Non Kailla. Sejak dulu tidak berubah. Kenakalan Non Kailla di atas rata-rata,” jawab Donny menggeleng kepala.

“Terus, berhasil?” tanya Sam lagi.

Donny menggeleng, “Non Kailla yang akhirnya menyesap minuman buatannya sendiri. Sepertinya si Non lupa kalau minuman itu sudah dicampur bubuk cabai.”

Uhuk ... Uhuk

Sam tersedak saat menyesap kopinya. “Hahaha. Asli ini lucu, sayang aku melewatkannya,” jawab Sam kemudian. Nada sesal mendominasi di dalam kalimatnya, terbayang wajah usil Kailla yang terkena batunya.

“Non Kailla dari dulu nakalnya ... em." Donny berhenti sejenak, tatapannya menerawang.

"Tapi sebenarnya anaknya baik sekali. Tidak pernah aneh-aneh. Sama kita yang kerja di rumah itu baik,” cerita Donny sambil mengingat masa lalu anak majikannya.

“Non Kailla itu besar di tangan asistennya. Dulu sebelum jadi asistennya Pak Riadi, aku lama ditugaskan menjaga Non Kailla.Dari zaman TK, SD, SMP sampai SMA. Kalau di rumah, yang menjaga si Non itu Bu Sari dan Bu Ida," jelas Donny sambil mengenang masa kecil Kailla.

“Bu Ida yang sekarang bekerja di tempat Pak Pram?” tanya Sam penasaran.

Donny mengangguk,“ Itu ada ceritanya kenapa Bu Ida pindah kerja ke tempat Pak Pram.”

“Mama Non Kailla itu meninggal saat melahirkan. Aku tidak begitu jelas. Kecelakaan atau apa, aku tidak begitu paham juga.” Donny mulai bercerita.

“Tapi, saat itu Bapak tidak ada di Indonesia, Pak Pram yang mengurus semuanya,” lanjutnya lagi.

“Non Kailla itu yang merawat kita-kita di sini. Kecilnya nakal sekali, namanya juga anak-anak. Apa lagi Non Kailla jarang bisa berkumpul dengan Bapak. Bapak dan Pak Pram itu dulu 'kan sibuk di kantor. Apa lagi Bapak, jarang sekali bertemu Non Kailla. Kalau ada keperluan di sekolah, Pak Pram yang mengurusi semuanya. Seperti ambil rapor, rapat orang tua murid bahkan sering dipanggil karena Non Kailla bikin masalah di sekolah,” cerita Donny panjang lebar.

“Dulu kalau Bapak libur, Non Kailla itu bisa seharian menempel dengan Bapak, tidak mau lepas lagi. Dari bangun tidur sampai mau tidur malam. Tapi, sayangnya Bapak itu jarang bisa libur," ujar Donny terlihat sedih.

Sam hanya mengangguk.

“Seingatku, waktu itu Non Kailla masih SD, lupa kelas berapa. Bapak sedang sibuk, mau buka cabang baru di Surabaya. Jadi setiap hari selama tiga minggu, Non Kailla tidak pernah bertemu Bapak. Bapak pulang, Non Kailla sudah tidur. Bapak berangkat ke kantor, Non Kailla belum bangun. Akhirnya, Non Kailla merengek minta bertemu. Setiap telepon, selalu Pak Pram yang angkat. Bapak sibuk sekali, tidak ada waktu.

“Terus?” tanya Sam penasaran.

“Aku juga tidak tahu bagaimana ceritanya sampai Non Kailla bisa keluar rumah. Tiba- tiba, tetangga depan menggedor pintu gerbang depan, mengabari security kalau Non Kailla memanjat pohon mangga yang di tikungan jalan. Kamu tahu, kan?

Sam mengangguk.

"Dan parahnya, tidak mau dibujuk turun."

“Astaga!” ujar Sam ternganga. Ia tidak menyangka Kailla kecil sampai senakal itu.

“Non Kailla maunya Bapak. Tidak mau dibujuk turun sama yang lain. Akhirnya, Pak RT yang telepon Bapak, suruh Bapak pulang buat bujuk Non Kailla turun. Kita semua dimarahi Bapak. Apalagi Non Kailla, sampai dipukul Bapak pakai ikat pinggang.”

“Bapak pasti marah sekali, sampai Bapak memukul Non Kailla,” ucap Sam.

“Ya, Bapak malu juga waktu itu,” jelas Donny singkat.

“Kasihan juga sih, tapi kita cuma bawahan mana berani melawan Bapak waktu itu. Untung ada Pak Pram, langsung gendong Non Kailla, bawa keluar.”

“Karena itu, makanya Non Kailla dibawa Pak Pram menginap di apartemennya. Nah, itu asal mula Bu Ida bisa pindah kerja ke tempat Pak Pram. Awalnya buat jaga Non Kaila di sana. Setelah kejadian itu, kalau Bapak keluar kota, Non Kailla dititipkan ke tempat Pak Pram.”

“Non Kailla kecil kasihan juga, ya.” ujar Sam. Ia baru bekerja belakangan ini, sejak Kailla mulai masuk kuliah. Jadi ia tidak mengetahui cerita masa kecil majikannya.

“Oh ya, dulu juga pernah sembunyi di belakang kursi mobil. Waktu itu aku mau ke kantor Bapak, mengantar berkas yang tertinggal.” Donny mengingat lagi.

“Sudah sampai kantor, tiba-tiba Non Kailla ikut turun dari pintu belakang mobil. Langsung lari ke dalam kantor, cari bapak. Mana Bapak lagi rapat, dia merengek masuk ke ruang rapat. Maunya duduk di pangkuan Bapak.” Donny menggaruk kepalanya, mengingat kebodohannya waktu itu.

“Hahaha. Pasti habis dimarahi Bapak.” Sam tertawa terbahak-bahak.

“Bukan lagi. Kalau diingat-ingat, kenapa bisa tidak sadar kalau ada anak kecil ikut masuk ke dalam mobil.”

“Cuma kalau sama Pak Pram memang sering diajak ke kantor. Kalau sedang tidak begitu banyak pekerjaan, Pak Pram yang jaga Non Kailla di kantor," jelas Donny.

“Dipikir-pikir, Non Kailla kecil mirip sekali dengan Marsha, ya? Haha,“ ujar Sam sambil tertawa terbahak-bahak memegang perutnya membayangkan kenakalan Kailla.

PLAK.

***

Terima kasih dukungannya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!