NovelToon NovelToon

TUKAR PASANGAN

BAB 1. TAK BERSYUKUR

Reina sedang sibuk didapur menyiapkan sarapan untuk seluruh anggota keluarganya. Setelah selesai menghidangkan makanan di meja makan dia bergegas menuju kamarnya. Saat itu dia berpapasan dengan Varen abang iparnya yang hendak mengambil air minum. Reina menundukkan kepalanya, dia tidak pernah berbicara dengan suami dari kakaknya itu.

 

Dan sepertinya Varen pun sama, dia tidak pernah bertegur sapa dengan Reina. Padahal mereka tinggal di rumah yang sama. Rumah berlantai dua itu dihuni oleh enam orang. Yaitu sepasang suami istri paruh baya beserta kedua putrinya yang sudah menikah. Elora Aleysia putri sulung mereka bersuamikan Varen Saskara Kenzie.

 

Pria berambut gondrong dan berpenampilan serampangan dengan pekerjaan yang tak jelas. Pria itu selalu pergi keluar rumah di pagi hari dan kembali sebelum malam.

Elora menikah dengan Varen akibat perjanjian yang dibuat oleh keluarga mereka dulu dengan kakek Varen. Sedangkan Putri kedua mereka bernama Reina Kayona menikahi Bobby.

 

Reina dan Bobby sudah menikah selama tiga tahun. Mereka adalah pasangan kekasih dan memulai kehidupan mereka dengan tidak mempunyai apa-apa. Saat itu Bobby hanyalah seorang pegawai magang dengan gaji pas-pasan. Sedangkan Reina hanyalah seorang ibu rumah tangga. Perlakuan kedua orang tuanya sangat berbeda pada Elora dan Reina.

 

Chandra Hasena dan istrinya Indira lebih menyayangi putri sulung mereka Elora. Mereka memberikan pendidikan terbaik untuk Elora tapi tidak untuk Reina. Mereka melarang Reina melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi dengan alasan tidak mampu membiayai.

 

Dan saat Reina dilamar oleh Bobby, wanita itu merasakan bahwa kehidupan barunya akan dimulai. Tapi, setelah menikah kedua orang tuanya tidak mengizinkan kedua putrinya tinggal diluar. Akhirnya kedua putri dan menantu mereka pun tinggal bersama-sama dirumah itu.

 

Reina adalah wanita yang sangat baik dan penurut. Meskipun suaminya memberinya uang pas-pasan setiap bulannya dia tidak pernah mengeluh. Sangat berbeda dengan Elora yang selalu bertengkar dan menghina suaminya yang bekerja serabutan.

Elora selalu menghina Reina dan Bobby karena saat itu Bobby hanyalah seorang pegawai biasa. Meskipun Varen tidak jelas pekerjaannya tetapi pria itu memiliki wajah yang sangat tampan dan tubuh kekar berotot. Tapi seiring berjalannya waktu karir Bobby meningkat hingga dia mendapatkan promosi naik jabatan menjadi manajer cabang.

 

Dengan gaji yang besar, Reina berpikir bahwa suaminya akan memberinya uang lebih. Tapi itu hanya mimpi. Perlahan-lahan Bobby mulai berubah. Di setiap acara-acara kantor dia tidak pernah mengajak Reina karena malu mempunyai istri yang hanya ibu rumah tangga.

 

Tak ada seorangpun yang mengetahui rupa dari istri Bobby. Dia sengaja menyembunyikan identitasnya karena merasa tidak pantas seorang manajer sepertinya memiliki istri yang bukan wanita karir.

“Reina! Mana pakaianku? Sudah jam segini tapi kamu belum menyiapkan pakaianku.” ucap Bobby dengan ketus.

 

“Maaf. Tadi aku masih sibuk didapur. Tunggu sebentar ya, aku ambilkan pakaianmu dulu.”

“Makin hari kamu ini makin tidak beres ya mengurus suami!” omel Bobby memandang istrinya. “Rei! Kamu itu harusnya sadar kalau aku sekarang sudah jadi manajer. Coba lihat penampilanmu! Kamu itu membuatku malu, tahu!”

 

“Maaf….maaf….maaf terus yang kamu ucapkan! Aku tidak butuh maafmu! Bisa tidak, kamu itu dandan dan berpakaian bagus? Bagaimana aku bisa betah kalau setiap pulang kerja aku melihat istriku yang kusut dengan pakaian lusuh seperti ini, hah?”

Reina hanya diam saja sambil mengambilkan pakaian untuk suaminya lalu meletakkan diatas tempat tidur. “Ini bajunya.”

 

“Reina! Kamu dengar tidak?”

“Iya, aku dengar. Tapi, bagaimana aku mau beli pakaian? Aku tidak punya uang, uang bulanan yang kamu berikan hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Kalau bisa, aku minta uang ya supaya aku bisa membeli pakaian baru dan pergi ke salon untuk perawatan.”

 

“Alaaa…..alasan saja kamu! Diluar sana banyak istri-istri yang diberi uang pas-pasan sama suami mereka. Tapi mereka masih bisa merawat diri! Tapi kamu? Semakin hari semakin lusuh dan tidak ada enak-enaknya untuk dipandang.” Bobby meraih dompetnya lalu memberikan dua lembar uang seratus ribuan pada Reina.

“Ini untuk apa?” tanya Reina dengan suara lirih.

“Beli pakaian bagus dan pergi kesalon. Perawatan wajah kek, apa saja terserah! Yang penting aku mau lihat kamu tidak selusuh ini. Sebaiknya kamu juga cari kerja biar punya uang sendiri. Contoh tuh kakakmu! Dia punya karir bagus, meskipun suaminya tidak jelas pekerjaannya tapi dia bisa membiayai dirinya sendiri!”

 

“Kamu ini kenapa sekarang banyak berubah? Semenjak kamu naik jabatan sikapmu semakin kasar! Aku juga ingin bekerja tapi lihatlah! Saat aku bekerja tak ada seorang pun dirumah ini yang peduli untuk membersihkan rumah dan memasak! Semuanya aku yang kerjakan! Aku lelah bekerja dan sampai dirumah aku masih harus mengerjakan semuanya!”

 

“Reina! Kamu saja yang tidak bisa mengatur waktumu.”

“Bagaimana dengan Elora? Kenapa tidak ada orang dirumah ini yang memintanya membantuku mengerjakan pekerjaan rumah? Aku juga lelah. Aku harus mengurusi semua orang dirumah ini. Aku bahkan tidak punya waktu untuk mengurus diriku sendiri.”

 

“Ah….sudahlah! Memang susah kalau bicara denganmu! Selalu saja ada alasan, eh ingat ya pergi beli pakaian bagus dan rawat wajahmu supaya tidak berminyak! Setidaknya saat aku pulang kerja, mataku segar melihatmu.” ucap Bobby tanpa sadar bahwa ucapannya benar-benar menyakiti hati Reina.

 

“Ini hanya dua ratus ribu rupiah! Baju bagus seperti apa yang bisa kubeli pake uang segini? Paling juga bisa beli daster atau kaus oblong.” jawab Reina sekenanya karena dia merasa kesal.

“Terserah! Aku tidak mau tahu, pokoknya aku tidak mau melihatmu selusuh ini saat aku pulang!” Bobby yang sudah selesai berpakaian langsung keluar dari kamar tanpa mempedulikan Reina.

 

Reina menyusul suaminya ke ruang makan. Disana sudah ada kedua orang tuanya dan kakak serta abang iparnya. Reina melayani suaminya seperti biasa, meletakkan makanan dipiring Bobby. Suasana di ruang makan hening, semua orang sibuk dengan pikirannya masing-masing. Tak berapa lama Varen menyudahi sarapannya lalu berdiri.

 

Dia tak mengucapkan sepatah katapun dan langsung pergi keluar rumah. Tak lama terdengar suara sepeda motornya yang bising. “Dasar menantu tidak berguna! Tak tahu sopan santun!” teriak Chandra marah. “Elora! Suruh suamimu itu mencari pekerjaan yang jelas! Dia tidak bisa seenaknya disini.”

“Ayah, aku sudah capek memberitahunya! Biarin sajalah! Toh aku punya jabatan bagus dan gajiku banyak! Meskipun dia tidak berguna setidaknya wajahnya tampan dan tidak malu-maluin!” ujar Elora melirik kearah adiknya. “Tidak ada manusia yang sempurna kan?”

 

Kalimatnya sangat sarkas, sebenarnya kata-katanya itu ditujukan kepada Reina. Wanita itu hanya diam menundukkan kepala sambil menyantap makanannya. Dia sudah terbiasa diperlakukan seperti itu, dihina, di caci maki sehingga hatinya sudah membatu. Sering kali Reina bertanya-tanya kesalahan apa yang sudah dia perbuat sehingga keluarganya memperlakukannya sangat buruk.

 

‘Apakah aku ini memang anak kandung mereka? Kenapa perlakuan mereka padaku sangat berbeda? Elora mendapatkan semua yang di inginkannya! Sedangkan aku?’ bisik hati Reina dengan perasaan sedih. Kini dia merasa dia hanya seorang diri, bahkan suaminya pun mulai tak peduli padanya.

 

BAB 2. BERCERAI

“Dimana Reina? Kenapa dia lama sekali? Sudah sejak tadi di kasih tahu tapi masih juga lambat! Ck!” keluh Bobby Maheswara. Dia sudah tidak sabar menunggu lebih lama lagi, enta apa yang sedang dilakukan istrinya itu sehingga membuat mereka menunggu lumayan lama.

 

Padahal Bobby sudah bilang pada Reina bahwa mereka akan berkumpul sekeluarga, untuk membahas sesuatu yang penting. Tapi masih saja lelet, apa tidak bisa melanjutkan beres-beres pakaian nanti saja?Bobby sudah mengerutkan alisnya tak senang. Sementara ayah mertua hanya bisa menghela napas panjang.

 

“Kemana dia? Coba kamu panggil! Lambat sekali, apa dia tidak tahu semua orang sudah menunggunya sejak tadi?” ujar Chandra Hasena ayah Reina. Saat dia hendak berdiri, pintu kamar Reina yang menghadap ke ruang keluarga terbuka dan wanita itu dengan santainya berjalan.

 

“Ngapain aja sih dari tadi? Kamu membuat kami semua menunggu lama!” omel Bobby pada istrinya yang hanya tertunduk diam. Wanita itu menghempaskan tubuhnya di sofa tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dia sudah lelah dengan semua sikap dan perlakuan yang diterimanya dari Bobby suaminya.

 

Dulu Reina menikahi Bobby Mahessa saat pria itu masih berstatus karyawan magang. Dengan kesetiaan dan cintanya dia menemani suaminya dengan ketulusan dan kesetiaan. Hingga karir Bobby semakin cemerlang dan menjabat sebagai manajer disebuah perusahaan besar yang ternama.

 

Seiring dengan kesuksesannya, sikap Bobby yang dulunya sangat baik pun berubah. Seringkali pria itu mengeluh tentang istrinya yang menurutnya sangat tidak sesuai dengannya. Dia bahkan tidak pernah mengenalkan istrinya pada rekan kerjanya. Seolah malu karena istrinya bukan wanita karir yang pandai berdandan. Reina memang cantik tapi dia hanyalah seorang ibu rumah tangga.

 

Setelah melewati segala kesulitan membuat Reina tidak ingin menghambur-hamburkan uang yang dihasilkan suaminya. Lagipula dia tidak pernah menghadiri acara-acara kantor karena Bobby tidak pernah mengajaknya. Bagi pria itu tidak ada yang bisa dia banggakan dari istrinya yang sudah setia menemaninya melewati semua kesulitan selama pernikahan mereka.

 

Dia malu memperkenalkan istrinya, ya Reina memang tidak pandai berdandan. Bukan dia tidak mau tapi keadaan yang membuatnya begitu. Di rumah yang dihuni lima orang itu, reina mengerjakan semua pekerjaan rumah. Dia pernah meminta pada suaminya untuk menyewa asisten rumah tangga agar dia bisa punya waktu untuk dirinya sendiri.

 

Tapi yang didapatnya adalah kemarahan Bobby! Suaminya tidak mau mengeluarkan uang untuk menggaji seorang ART. Karena Reina tidak bekerja maka dia lah yang mengerjakan semuanya sendirian. Dia bangun pagi-pagi untuk menyiapkan sarapan untuk semua orang dirumah itu.

 

Tapi sesuatu hal terjadi yang membuat Reina sakit hati dan hancur! Segala pengorbanan dan kesetiaannya menemani sang suami dari nol sampai mencapai sukses seakan tak berarti apa-apa.

Suatu hari dia mendapati kenyataan pahit, suaminya selingkuh dengan Elora Aleysia, kakak kandung Reina sendiri. Padahal Elora sudah menikah dan mereka tinggal satu rumah.

 

“Apa sudah bisa kita mulai? Lebih baik tidak membuang-buang waktu lagi.” ujar Bobby memecahkan keheningan. Chandra Hasena duduk berdampingan dengan Elora sedangkan Reina duduk diseberang meja.

Suami Elora bernama Varen Saskara Kenzie tidak ada disana. Entah kemana dia pergi, sejak dia dan Elora resmi bercerai dia jarang kerumah. Semua barang-barangnya pun belum diambil.

 

Varen memang bukan orang yang suka bicara, dia menikahi Elora karena sebuah perjanjian keluarga yang dibuat oleh kakek mereka terdahulu. Tidak ada cinta diantara mereka, dan Varen juga tidak punya pekerjaan yang jelas. Tapi dia memiliki wajah yang sangat tampan dan tubuh kekar berotot. Saat diminta menikah, Elora ditawari sejumlah uang oleh Varen.

 

Karena itulah Elora menerima lamarannya dulu. Sedangkan Elora seorang wanita karir yang punya jabatan lumayan bagus. Elora sejak dulu memandang rendah Reina karena wanita itu tidak bekerja dan hanya tinggal dirumah saja dan mengurus semua pekerjaan rumah.

 

“Ada apa ayah mengumpulkan kita semua disini? Hal penting apa yang harus dibicarakan?” tanya Reina membuka suara. Karena dia merasa heran, sejak lama keluarga ini tidak pernah berkumpul dan berdiskusi seperti ini. Apa ada masalah yang menimpa keluarga ini? Pikirnya. Dia menatap ayahnya lalu menoleh ke Bobby yang duduk sendirian agak menjauh darinya.

 

Jujur, Reina merasa sakit hati dan sedih dengan sikap suaminya. Seolah dia seonggok sampah busuk yang menjijikkan sehingga Bobby enggan mendekat. Akhirnya rasa penasaran Reina pun terjawab saat ayahnya bicara. “Reina! Ceraikan Bobby dan berikan suamimu untuk kakakmu dan ambillah suami kakakmu untukmu!”

 

DUEEERRRR!

Mata Reina membelalak! Bagai disambar petir yang menyengat tubuhnya sehingga bergetar dan ribuan tombak menusuk jantungnya. Sakit! Sangat sakit! Dia terhenyak mendengar perkataan ayahnya. Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba saja ayahnya Chandra Hasena memintanya untuk menyerahkan Bobby Maheswara, suaminya?

 

Menyerahkan suami sahnya yang sudah dia nikahi selama tiga tahun kepada Elora Aleysia Hasena, kakak kandung Reina? Apa-apaan ini? Apa maksudnya semua ini? Apakah dia salah dengar? Apakah dia sedang bermimpi? Tanpa sadar Reina mencubit tangannya sendiri, sakit…..berarti dia memang tidak sedang bermimpi!

 

“Pa….apa papa sadar dengan apa yang baru saja papa katakan? Papa memintaku memberikan suamiku kepada kakak kandungku sendiri? Apa papa sudah hilang kesadaran?” tanya Reina tidak percaya. Tapi sang ayah hanya menatapnya tanpa mengucapkan sepatah katapun.

“Papa sadar apa yang papa katakan! Besok Bobby dan kamu akan bercerai, semuanya sudah diurus dan besok kalian berdua akan menandatangani surat cerai!”

 

“Begitu juga dengan Elora! Mereka berdua sudah resmi berpisah sejak minggu lalu. Jadi setelah kamu dan Bobby resmi bercerai, Bobby akan menikahi Elora dan Varen akan menikahimu!”

“Apa-apaan ini? Papa sudah gila? Kalian ini benar-benar gila! Suami bukan barang mainan yang bisa ditukar-tukar begitu saja! Sebuah pernikahan juga bukan sebuah permainan yang bisa diselesaikan kapan saja!” pekik Reina dengan wajah berlinang air mata.

 

“Justru karena mereka bukan barang mainan makanya papa ingin kalian bercerai lalu setelah itu bertukar pasangan! Papa tidak mau Elora mempunyai suami pengangguran dan tidak berguna seperti Varen! Lagipula Bobby sudah setuju dengan saran kami.” tutur Chandra dengan santainya tanpa ada sedikitpun rasa bersalah.

 

Reina langsung menoleh kearah suaminya dan bertanya, “Apa benar yang dikatakan papa?”

“Ya, itu benar. Aku sudah menyetujui untuk menukarmu dengan Elora! Dengarkan aku baik-baik….Reina kamu memang istri sempurna, kamu selalu menyediakan semua kebutuhanku. Tapi itu saja tidak cukup! Aku membutuhkan seorang istri yang bisa aku pamerkan. Apalagi aku sudah naik jabatan.” ujar Bobby menjelaskan.

 

“Aku ingin mempunyai seorang istri yang berkarir bukan ibu rumah tangga yang hanya bisa mengurusi dapur sepertimu! Aku ingin istri yang bisa berdiri sejajar disampingku dan mendukung kemajuan karirku! Istri yang berpengetahuan luas yang bisa kubawa ke acara-acara bisnis! Istri yang berpendidikan dan bisa ku pamerkan dengan rasa bangga kepada kolega-kolegaku.”

BAB 3. MENUKAR ISTRI

Bobby terus saja berbicara tanpa memikirkan sedikitpun perasaan istrinya itu. Dia bahkan tidak merasa terenyuh melihat Reina yang berlinang air mata. Reina menggelengkan kepalanya tidak percaya. Hatinya hancur mendengar perkataan suaminya. Benar kata orang, kesetiaan seorang istri itu diuji ketika suaminya tidak memiliki apa-apa.

Sedangkan kesetiaan seorang suami diuji disaat dia memiliki segalanya. Dulu, Reina mendampingi Bobby dari nol, dengan gaji bulanan yang kecil. Berapa pun gaji bulanan yang diberikan Bobby padanya, Reina selalu menerima tanpa mengeluh. Setiap kali ada keperluan yang kurang, Reina selalu mengesampingkan kebutuhannya.

 

Dia mengorbankan kesenangan pribadinya, menahan seleranya demi memenuhi keperluan rumah tangganya. Dia bahkan tidak membeli baju baru sampai bajunya benar-benar tidak bisa lagi dipakai. Tapi Reina tidak pernah berkeluh kesah, dia selalu bersyukur berapa pun rejeki yang dia terima.

 

Tapi, sekarang setelah Bobby naik jabatan dengan mudahnya dia mengatakan ingin menceraikannya dan menukarnya dengan Elora. Hanya karena Reina bukan wanita karir seperti kakaknya. Sungguh Bobby seorang yang sangat kejam! Dia kira istrinya itu sebuah barang yang bisa ditukar-tukar.

 

Reina menatap ibunya meminta pembelaan, “Ma….tolong Reina, Ma. Bagaimana bisa aku menceraikan suamiku untuk Elora? Sudah tiga tahun kami menikah, Reina mencintai Bobby, Ma.” ucapnya dengan terisak.

Indira memalingkan wajahnya dari Reina. “Kau turuti saja permintaan papamu. Kau mungkin masih mencintai Bobby tapi Bobby mungkin tidak mencintaimu lagi dan lebih memilih Elora. Mereka akan menjadi pasangan yang sempurna dan saling melengkapi jika disandingkan.”

 

Reina tercengang. Dia tidak habis pikir dengan pikiran dan perkataan ibuny. Reina hanya berharap ibunya akan membelanya tapi yang dia daatkan malah sebaliknya. Indira justru memilih untuk mendukung permintaan yang tidak masuk akal suaminya itu.

 

Selama ini orang tua Reina memang selalu pilih kasih. Elora adalah anak yang selalu mereka banggakan, sedangkan Reina adalah anak yang selalu mereka hina dan pandang rendah. Mereka selalu saja membanding-bandingkan keduanya.

 

Dulu Indira dan Chandra Hasena berencana untuk mempunyai satu anak saja. Namun tepat saat Elora berumur delapan bulan, mereka dikejutkan dengan kehamilan kedua Indira yang tak diinginkan. Itulah alasannya mengapa Indira dan Chandra Hasena selalu berlaku tidak adil kepada Reina. Karena mereka tidak pernah menginginkan kehadirannya.

 

Reina menatap kedua orang tuanya dengan tatapan tak percaya, “Ada apa dengan kalian? Kenapa kalian melakukan ini kepadaku? Apa salahku pada kalian? Aku juga putri kalian, kenapa kalian selalu menyisihkanku? Kalian selalu memperlakukanku buruk!” Reina terisak.

 

Indira menatap putrinya, “Kamu mau tahu kenapa Reina? Kesalahanmu sangat banyak. Kamu salah karena kamu tidak bisa seperti Elora! Dia sangat sempurna, wajahnya, tubuhnya, kepintarannya dan karirnya! Dia bisa menghidupi kami dengan penghasilannya yang besar! Tidak seperti kamu yang hanya bisa menopang hidup pada suamimu! Kamu itu anak yang tidak berguna Reina!”

 

Mendengar perkataan ibunya membuat hati Reina hancur berkeping-keping. Untuk kesekian kalinya, ibunya membandingkannya lagi dan lagi dengan kakaknya. Ibunya memang selalu membanding-bandingkan kedua putrinya. Dia selalu membanggakan Elora dan merendahkan Reina.

 

Indira memperlakukan kedua putrinya berbeda, dia selalu memberikan yang terbaik untuk Elora dan memberikan sisanya pada Reina. Bahkan dalam pendidikan pun mereka pilih kasih. Elora dibiayai untuk kuliah di sebuah universitas ternama. Sedangkan Reina diminta untuk membiayai sendiri kuliahnya dengan alasan uang mereka sudah habis untuk biaya pendidikan Elora.

 

Reina merasa sakit hati dengan sikap kedua ornag taunya. Karena alasan itulah, tiga tahun yang lalu dia menerima lamaran Bobby. Dia ingin menghindar dari keluarga yang tidak menyayanginya. Namun siapa sangka setelah menikah mereka diminta tinggal dirumah orang tuanya. Itu dilakukan agar Reina bisa mengurus rumah dan melakukan semua pekerjaan rumah.

 

Dengan begitu, mereka tidak perlu membayar seorang asisten rumah tangga. Meskipun begitu, tetap saja keluarganya masih tidak menganggapnya. Elora tersenyum sinis menatap adiknya itu dan berkata, “Sudahlah Reina! Tidak perlu diperdebatkan lagi! Toh Bobby sudah setuju dan kedua orang tua kita juga sudah setuju!”

 

“Eh, dengar ya Reina. Sebaiknya kamu menyetujui saja apa yang sudah kami sepakati dan menjadi keinginan kami. Lagipula ya kamu dan Varen itu memang cocok! Kalian sama-sama pengangguran dan tidak punya pekerjaan! Mungkin kalian berdua bisa bekerja sama mengurus rumah, kami bisa menggaji kalian, itu tidak masalah. Anggap saja kebaikan hati kami.”

 

“Ada apa ini? Kenapa kalian membawa-bawa namaku didalam masalah kalian?” tanya Varen yang baru saja memasuki rumah. Dia langsung duduk disofa. Varen Saskara Kenzie, yang sekarang sudah resmi menjadi mantan suami Elora. Mereka baru menikah dua minggu yang lalu. Mereka menikah hanya untuk memenuhi wasiat kakek mereka.

 

Dalam surat wasiat itu disebutkan jika warisan keluarga Hasena berupa sepetak tanah dan warisan Kenzie berupa uang sebanyak dua milyar sudah Elora dapatkan sebagai mahar, ketika Varen menikahinya. Sedangkan warisan tanah akan Varen dapatkan setelah tiga bulan pernikahannya. Awalnya Elora bersemangat menikah dengan Varen.

 

Dia mengira jika Varen adalah orang kaya yang bisa membuat hidupnya bahagia. Namun setelah dua minggu pernikahan, Varen tidak pernah sekalipun pergi bekerja. Dia hanya sibuk memainkan ponselnya dan keluar rumah hanya untuk alasan yang tidak jelas. Setiap kali ditanya kemana dia pergi setiap hari, dia selalu menjawab ngojek.

 

Varen juga tidak pernah memberikan Elora nafkah. Dia selalu mengelak dengan alasan bahwa uang mahar dua milyar sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan istrinya itu. Karena itulah Elora kesal dengan sifat suaminya yang pemalas. Dan akhirnya dia meminta kepada orang tuanya untuk menukar suaminya dengan suami adiknya.

 

Elora mendengus seraya menatap mantan suaminya. “Baguslah kamu datang kesini! Sekarang kita semuanya sudah berkumpul. Lebih baik kamu menikahi Reina jika kamu ingin mendapatkan warisanmu. Dan aku akan menikah dengan Bobby setelah mereka resmi bercerai.”

 

“Cukup! Elora jangan bicara lagi! Aku tidak mau mendengarkan semua kegilaanmu.” Reina menangis sambil menggelengkan kepalanya. Dia menutup kedua telinganya dengan dua tangannya.

Elora bangkit dari duduknya dan menghampiri Reina. Dia menjauhkan tangan adiknya dari telinganya. “Bobby! Cepat ambil surat cerai itu! Suruh dia menandatanganinya!”

 

Bobby merasa sedikit ragu, masih ada perasaan cinta dihatinya untuk Reina. Tapi Elora jauh lebih sempuran dan lebih segala-galanya dibandingkan Reina. Dia merasa Elora lebih pantas menjadi istrinya yang bisa dia banggakan dan pamerkan kepada rekan-rekannya. Dia mengambil surat cerai yang sudah ditandatanganinya lalu memaksa Reina untuk menandatangani.

“Reina, karena kamu sudah menandatangani surat cerai ini. Mulai sekarang kita bukan suami istri lagi.”

Elora tersenyum puas lalu melepaskan tangan Reina. Tubuh Reina merosot, dia terduduk lemas diatas lantai. Reina memukul-mukul dadanya yang sesak karena rasa sakit. Dia menangis sejadi-jadinya. Suami yang telah didampinginya selama tiga tahun dengan tega memaksanya menandatangani surat cerai dan membubuhkan cap jempolnya.

Hai pembaca setia 👋👋 Selamat datang di novel kalian suka ya. Mohon dukungannya dgn like, komen & follow. Terima kasih 🙏🙏😘😘

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!