Tokoh Utama :
Cara Callista
Cara Callista adalah siswi kelas 3 SMA Permata yang berusia 19 tahun. Ia merupakan anak dari seorang pebisnis sukses di bidang IT dan otomotif. Ayahnya, Edie Squire, berusia sekitar 35 tahun, adalah CEO sekaligus pemilik sebuah perusahaan bernama Squire Company atau "Squire C." Perusahaan ini bergerak dalam mendesain mobil, motor, serta alat elektronik modern yang dilengkapi dengan fitur kecerdasan buatan (AI).
Meskipun Squire Company bukan perusahaan besar, keberhasilannya terbilang cukup signifikan karena memiliki pelanggan tetap dan terus menarik perhatian peminat baru.
Ibunya, Sharda Malies, berusia 33 tahun, adalah seorang manajer umum di sebuah perusahaan bernama Cake LL. Sesuai dengan namanya, perusahaan ini bergerak di industri makanan, khususnya kue. Cake LL cukup terkenal di kalangan para artis dan pengusaha karena produk-produknya yang berkualitas.
"Cara Callista"
Freya Valerie Greysie
Freya Valerie Greysie adalah siswi kelas 3 SMA Permata yang berusia 19 tahun. Ia merupakan anak dari seorang pemilik perusahaan properti ternama di Indonesia. Ayahnya, Arya Allen Wijaya, berusia sekitar 40 tahun, adalah pemilik sekaligus CEO dari perusahaan bernama A. City Group, yang bergerak di bidang properti.
Ibunya, Miciela Halen, berusia 37 tahun, adalah seorang pebisnis sukses sekaligus pemilik dan CEO dari perusahaan terkenal bernama Miciela Company. Perusahaan ini bergerak di bidang perabotan dan dikenal luas di Indonesia. Pelanggan perusahaan ini berasal dari berbagai kalangan, termasuk artis, pengusaha, hingga pejabat tinggi.
"Freya Valerie Greysie"
Tokoh Pendukung :
Rasya Fernandes
Rasya Fernandes adalah seorang detektif polisi muda berusia 21 tahun. Ayahnya, Graham Friedman, berusia 40 tahun, adalah seorang Jenderal TNI-AD. Sementara itu, ibunya, Elba Ritter, berusia 38 tahun, adalah seorang Brigadir Jenderal Polisi Bintang Satu (Brigjen Pol). Rasya memiliki seorang adik perempuan bernama Anneke Angeline, yang berusia 18 tahun dan merupakan seorang taruni di Akademi Militer (AKMIL).
Aric Galvin Reynard
Aric Galvin Reynard adalah seorang dokter muda spesialis bedah berusia 21 tahun. Ia adalah anak dari pemilik rumah sakit terbesar di Indonesia. Ayahnya, Allison Reynard, berusia 41 tahun, adalah pemilik sekaligus direktur utama dari rumah sakit Medical Hospitals Group. Ibunya, Willa Bynes, berusia 39 tahun, menjabat sebagai wakil direktur administrasi dan keuangan di rumah sakit tersebut. Keluarga mereka dikenal sebagai pebisnis sekaligus dokter profesional. Aric memiliki seorang adik perempuan bernama Ara Fellisita Reynard, yang berusia 19 tahun dan sedang bersekolah di sekolah khusus kedokteran di Amerika.
Cassie Marletta Milstone
Cassie Marletta Milstone adalah siswi kelas 3 SMA Permata yang berusia 19 tahun. Ayahnya, Monsieur Milstone, berusia 41 tahun, adalah pemilik Electrical Group, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang otomotif dan transportasi. Perusahaan ini merupakan perusahaan terbesar kedua di Indonesia. Ibunya, Rellenda Lubis, berusia 38 tahun, adalah CEO sekaligus pemilik bisnis ternama bernama Zoya Lubis atau Zoya L, yang bergerak di bidang industri pakaian.
Arsen Bernard Bryan Walker
Arsen Bernard Bryan Walker adalah anak dari pemilik perusahaan ternama W. Electric sekaligus seorang CEO muda berusia 21 tahun. Ia juga merupakan pacar Cassie Marletta Milstone. Hubungan mereka telah berlangsung lebih dari dua tahun. Awalnya, mereka dijodohkan oleh orang tua masing-masing untuk keperluan bisnis, namun siapa sangka bahwa mereka ternyata dijodohkan dengan pasangan mereka sendiri.
Rendi Aldrige Zaferino
Rendi Aldrige Zaferino adalah seorang mahasiswa jurusan Etnomusikologi (Seni Musik) berusia 20 tahun. Ia juga ketua dari geng motor Gotreasure, yang terkenal dan ditakuti oleh geng motor lainnya. Selain itu, geng motor ini memiliki grup band bernama G. Pansive yang cukup populer dan beranggotakan enam orang, sedangkan geng motornya memiliki 15 anggota. Ayah Rendi adalah pemilik perusahaan ternama di Indonesia, sementara ibunya adalah seorang pebisnis sukses di bidang seni keramik. Rendi juga merupakan mantan pacar Freya Valerie Greysie.
Alesya Riska
Alesya Riska adalah siswi kelas 3 SMA Permata berusia 19 tahun. Ia adalah ketua geng Hell Angels. Ayahnya adalah pemilik perusahaan ternama di Indonesia, sementara ibunya merupakan aktris terkenal Indonesia yang juga berkarier di luar negeri.
Heafen Immanuel
Heafen Immanuel adalah seorang mahasiswa jurusan Bisnis Digital berusia 20 tahun. Ayahnya adalah seorang pebisnis sukses di bidang perhotelan, sementara ibunya adalah aktris terkenal berdarah campuran Indonesia-Amerika. Heafen juga merupakan ketua geng motor bernama Alaska, yang memiliki grup band dengan nama yang sama. Grup band Alaska beranggotakan lima orang, sedangkan geng motornya memiliki 13 anggota. Heafen juga merupakan mantan pacar Cara Callista.
Quotes:
Cara Callista
"Jika diriku di masa lalu memilih untuk hidup, aku hanya bisa berharap pada diriku yang sekarang untuk bisa mewujudkan semua keindahan dari pilihan yang kulihat saat itu."
Freya Valerie Greysie
"Manusia adalah makhluk yang tidak menyukai perbedaan, sebab itulah mereka selalu mencari kesalahan dan kekurangan orang lain."
Rasya Fernandes
"Luka di hati seseorang akan lebih sulit untuk disembuhkan. Aku sangat tahu hal itu."
Aric Galvin Reynard
"Kuat bukan tentang seberapa banyak kita bisa mengalahkan orang lain, tetapi seberapa mampu kita bertahan hingga akhir."
Cassie Marletta Milstone
"Aku tidak ingin tertawa. Mengapa harus tertawa? Tertawa hanya akan membuatku melupakan rasa sakit yang juga disebabkan oleh tawaku."
Arsen Bernard Bryan Walker
"Ingat, dunia ini adalah tipuan untuk manusia. Jadi silakan memilih, kamu ingin dunia melihatmu terlihat bodoh atau sebaliknya?"
Rendi Aldrige Zaferino
"Siapa yang menyangka mereka akan mengakuimu, tetapi dengan syarat kamu harus berguna bagi mereka."
Alesya Riska
"Manusia adalah makhluk yang cerdas. Karena iming-iming kata cerdas tersebut, mereka juga bisa membodohi diri sendiri dengan angan-angannya."
Heafen Immanuel
"Tidak ada kebahagiaan yang benar-benar nyata di dunia ini."
...****************...
Edit By Author
None of it was real, it was all an illusion...
*******
Cerita dimulai dengan adegan dua orang berdiri di tepi jurang masing-masing, seolah satu gunung telah terbelah. Akar dari dua pohon di atasnya saling terputus, rusak dengan sendirinya. Mereka saling berhadapan, menodongkan pistol ke arah kepala masing-masing.
"Hnh..." suara tawa kecil disertai senyum tipis yang mengerikan. "Kau yang memulai ini, dasar psychopath!" katanya dengan nada biasa, namun terasa mengintimidasi.
"Hahahaha..." tawa khasnya bergema di ruang hampa jurang tersebut. Ia tersenyum tipis sebelum menjawab, "Hmm, bukankah semua ini salahmu? Jangan berpura-pura lagi. Aku tahu semuanya."
Semenit berlalu dalam keheningan. Orang di tepi jurang itu tersenyum tipis mendengar ucapan lawannya.
"Hmm..." Wajahnya terlihat seolah sedang berpikir, meski jelas itu dibuat-buat. Dengan ekspresi pura-pura, ia sedikit memainkan bibirnya sebelum berkata, "Apa kau tidak melihat cermin di wajahku ini?"
"Hn..." Mereka tertawa kecil bersama, tetapi tawa itu penuh ketegangan.
...*Pengenalan oleh Cara Callista*...
Namaku Cara Callista. Yap, namaku berarti humoris, cantik, dan mempesona, sesuai dengan karakterku. Aku memiliki seorang sahabat bernama Freya Valerie Greysie. Namanya berarti perempuan yang dihormati, banyak disukai, serta memiliki kekuatan dan keindahan yang menawan.
Kami sudah bersahabat sejak kelas tiga SMP hingga sekarang, di SMA. Greysie lebih cantik dariku. Dia juga sangat populer di kalangan siswa dan siswi sekolah kami. Selain itu, orang tuanya kaya raya dan menjadi penyumbang dana terbesar di sekolah. Dibandingkan denganku yang berasal dari keluarga biasa saja, Greysie terlihat seperti bintang di langit. Tapi aku senang berteman dengannya. Dia selalu membantu saat aku kesulitan dan sangat royal.
Namun, di balik semua itu, ada sisi gelap dalam hidup Greysie yang tidak diketahui orang lain.
Kedua orang tuanya selalu bertengkar. Ayahnya berselingkuh, sementara ibunya, yang tak tahan dengan perilaku suaminya, memilih minum-minum bersama pria di klub malam. Greysie sering menjadi sasaran amarah ayahnya. Hanya karena nilai sekolahnya menurun, ia dipukul tanpa ampun. Ayahnya menuntut kesempurnaan darinya.
Tekanan itu membuat Greysie beberapa kali mencoba bunuh diri. Lima kali aku melihatnya mencoba mengakhiri hidupnya. Untung saja aku selalu ada untuk menghentikannya. Orang tuanya tidak pernah tahu hal ini.
Aku pernah membujuk Greysie untuk pergi ke psikolog. Aku menemaninya, dan hasilnya dia didiagnosis mengalami trauma, kecemasan berlebih, kontrol impuls yang buruk, psikosomatis, dan hampir depresi.
...***Tiga Bulan Lalu***...
Senin pagi, seperti biasa, seluruh siswa berbaris di halaman sekolah. Mataku mencari-cari di antara kerumunan.
"Di mana dia? Apa terlambat?" pikirku cemas.
Jantungku mulai berdetak cepat. Pikiran-pikiran buruk bermunculan. "Gak mungkin. Aku tahu dia gak pernah terlambat," gumamku, mencoba meyakinkan diri sendiri.
Namun, semakin lama aku tidak melihatnya, kecemasanku semakin menjadi. Nafasku tersengal, tubuhku gemetar, dan keringat dingin mulai mengalir.
"Apa mungkin... itu terjadi lagi?" batinku gemetar.
Aku segera mengeluarkan ponsel dan mencoba meneleponnya.
"Greysie, tolong angkat... Angkat, plis..."
Namun, tidak ada jawaban. Kekhawatiranku semakin memuncak. Tanpa sadar, aku keluar dari barisan dan berlari. Guru-guru memanggilku, tapi aku tidak peduli.
---
Beberapa saat kemudian, aku sampai di depan gerbang rumah Greysie. Besi hitam menjulang tinggi, tampak dingin dan sunyi. Dengan napas tersengal, aku memukul-mukul gerbang itu.
"Greysie! Tolong buka pintunya! Greysie!"
Sepuluh menit berlalu, dan akhirnya seorang penjaga membukakan pintu. Aku langsung berlari masuk, memanggil-manggil namanya. Rumah itu terasa kosong, hampa.
Aku menaiki tangga dengan napas memburu. Sampai di ujung tangga, aku melihat pintu kamar Greysie yang berwarna cokelat gelap. Aku mengetuknya dengan keras, berteriak memanggilnya.
"Greysie! Plis jawab!"
Tidak ada jawaban. Tanganku mulai gemetar, air mataku mengalir deras. "Grey jangan kek gini lagi..."
Keheningan begitu mencekam hingga aku mendengar suara langkah kaki.
Tak... tek... tak... tek...
Aku menoleh ke arah suara itu, tubuhku membeku.
"Grey...?"
Langkah kaki itu mendekat, tetapi tiba-tiba ada sesuatu yang memegang lenganku. Tubuhku gemetar, mataku perlahan menoleh ke belakang. Sebuah noda merah mencolok terlihat di ujung pandanganku.
"Itu... darah?" pikirku dengan napas tertahan.
"Gr-ey...?" panggilku dengan suara bergetar.
Bersambung...
"Gr-ey?" panggilku pelan, suaraku bergetar.
Aku menoleh perlahan ke belakang, dan seketika terkejut melihat sosok itu berdiri begitu dekat. Mataku membelalak, napasku tercekat.
"Aaahh!!" aku berteriak, panik, sambil menepis tangannya yang berusaha menyentuhku. Kakiku spontan bergerak mundur, tubuhku gemetar hebat hingga punggungku menabrak meja dapur. Tanganku meraba-raba permukaan meja, mencari pegangan, tetapi sosok itu malah semakin mendekat, mencoba meraihku lagi.
"Si-siapa lo?!" seruku, gemetar. Pandanganku tak lepas dari pistol yang terselip di balik jaket hitamnya.
"Dia pasti udah ngelakuin sesuatu..." batinku. Pikiranku berlari liar, mencoba merangkai kemungkinan-kemungkinan buruk.
Mataku terus melirik ke arah pistolnya. Dengan suara yang lebih tegas, aku mendesak, "Lo udah bunuh orang, ya?! Jangan-jangan... itu temen gue?!"
Orang berjaket hitam itu tetap bungkam. Dia hanya menatapku dingin, tanpa ekspresi, lalu melangkah lebih dekat. Tangannya kembali mencoba meraihku.
"Hey... stop!" bentakku sambil menepis tangannya dengan kuat. Namun, reaksinya tidak berubah. Dia justru tersenyum tipis, yang entah kenapa membuatku semakin takut.
"Tenang, tenang..." katanya, suaranya terdengar rendah namun cukup jelas. "Gue bukan orang jahat."
Senyumnya melebar, tetapi aku tidak bisa mempercayainya. Napasku semakin memburu. Dia melanjutkan, "Gue detektif. Gue ke sini untuk menyelidiki kasus pembunuhan di sekitar lingkungan ini. Ada beberapa rumah yang kami curigai sebagai tempat persembunyian pelaku pembunuhan berantai."
Dia mengambil sesuatu dari saku celananya. Aku langsung tegang, bersiap melawan jika dia mengeluarkan senjata. Tapi yang muncul hanyalah kartu identitas polisi. Dia mengangkatnya di hadapanku, membiarkanku membaca detailnya.
"Kami cuma ingin kasih tahu supaya kalian lebih waspada. Sepertinya kasus ini terkait dengan pembunuhan berantai yang sudah berlangsung dua tahun terakhir," tambahnya. Nada suaranya tenang, seperti mencoba menenangkan diriku.
Aku tetap berdiri kaku, bingung. Tatapanku terpaku pada wajahnya. Dia terlihat sangat muda, bahkan terlalu muda untuk seorang detektif polisi.
"Dia ini beneran detektif?" pikirku, ragu.
Seakan membaca pikiranku, dia tersenyum lagi. "Gue tau, lo pasti heran. Banyak orang juga mikir gue terlalu muda buat jadi detektif." Dia mengulurkan tangannya ke arahku.
"Em...Makasih..." gumamku pelan, akhirnya menerima uluran tangannya.
"Udah gak takut lagi, kan?"
Aku mengangguk kecil, meskipun perasaan was-was masih tersisa.
---
Flashback On.
Satu jam sebelumnya, di pinggiran hutan dekat perumahan elit, seorang pekerja rumah tangga bernama Hartono membawa kantong sampah besar untuk dibuang. Majikannya melarang sampah itu dibuang di tempat pembuangan umum atau halaman belakang, sehingga Hartono terpaksa pergi ke hutan kecil di sekitar perumahan.
Setelah membuang sampah, Hartono berbalik untuk pulang. Tapi langkahnya terhenti ketika matanya menangkap sesuatu—sosok manusia tergeletak di tanah, tidak bergerak. Penasaran, dia mendekat untuk memeriksa.
Namun, ketika jaraknya cukup dekat, dia tersentak. "Ya Allah..." gumamnya lirih. Tubuh itu berlumuran darah, dengan beberapa bagian yang tampak hilang. Dia mundur beberapa langkah, lalu berlari sambil berteriak.
"Tolong! Tolong! Ada orang mati! Ada orang mati!" teriaknya. Tapi tidak ada seorang pun yang keluar dari rumah. Lingkungan elit itu memang cenderung sepi, dengan penghuni yang jarang berinteraksi.
Hartono terus berlari, hingga seorang gadis remaja muncul dari salah satu halaman rumah.
"Pak, ada apa kok teriak-teriak?" tanyanya, berjalan mendekat.
Hartono berhenti, terengah-engah, wajahnya pucat. "Di... di hutan! Ada mayat, Neng!" katanya dengan suara terputus-putus.
Gadis itu mengangkat satu alisnya. "Pak, tenang dulu. Tarik napas, jelasin pelan-pelan."
Setelah mengatur napas, Hartono menjelaskan kejadian itu. Tapi respons gadis itu tidak seperti yang dia bayangkan. Dia hanya menatap Hartono dengan ekspresi datar, bahkan sempat tersenyum tipis.
"Bapak yakin cuma lihat mayat? Gak lihat pembunuhnya juga?" tanya gadis itu santai.
Hartono menggeleng. "Enggak, Neng. Tapi... tadi bapak dengar suara aneh. Kayak gesekan besi."
Gadis itu memiringkan kepalanya, berpikir sejenak, lalu mengeluarkan ponsel dari kantung celananya. "Nih, pakai ini buat lapor polisi."
Hartono dengan tangan gemetar mengambil telpon si gadis dan menelpon Operator 112.
"Ha-halo..." suara Hartono terdengar gemetar saat berbicara.
"Halo, ini layanan gawat darurat. Ada yang bisa kami bantu?" jawab operator dengan nada tenang.
"Eh...em...saya tadi lihat ada mayat di hutan dekat perumahan sini, Bu," ujar Hartono gugup.
"Bapak bisa berikan nama dan alamatnya?" tanya operator.
"Nama saya Hartono. Em...alamatnya di Perumahan Indah," jawabnya terbata-bata.
Sementara Hartono masih berbicara di telepon, seorang gadis remaja itu hanya berdiri diam dengan tangan bersilang. Sesekali ia tersenyum, membuat Hartono merasa semakin canggung. Setelah selesai menelpon, Hartono menyerahkan ponsel si gadis dengan wajah penuh tanda tanya.
"Aneh banget...kenapa anak itu malah santai banget?" pikir Hartono dalam hati.
Si gadis menerima ponselnya sambil tersenyum kecil, seolah membaca pikiran Hartono.
"Hn..." ia tertawa kecil, menunduk sebentar, lalu menatap Hartono lagi.
Tawa itu membuat Hartono semakin bingung. Tapi, bukannya merasa risih, si gadis malah tertawa lepas.
"Bfff...hahaha! Maaf, Pak, maaf," katanya sambil menahan tawa. "Tapi muka Bapak lucu banget, kayak orang takut gitu. Apa Bapak takut sama saya?" godanya sambil tersenyum.
Hartono menggaruk lehernya yang tak gatal, tertawa kecil dengan canggung. "Eh...anu...bukan, Neng. Bapak cuma heran aja. Kok Neng nggak kaget atau takut dengar kejadian tadi?"
Si gadis memiringkan kepala sambil mengerutkan bibir. "Kaget kok, Pak. Aku kaget kok Bapak bisa tahu, hehe," jawabnya santai.
"Tahu apa?" batin Hartono bingung. Ia pun bertanya langsung, "Maksudnya tahu apa, Neng?"
Si gadis mendekat sedikit dan berkata pelan, "Tahu suara gesekan besi tadi."
Mata Hartono membulat. Jantungnya berdegup kencang. Tapi, si gadis malah tertawa lagi.
"Hahaha! Bercanda, Pak! Jangan dianggap serius," katanya sambil mengembalikan ponselnya ke dalam kantung celana. "Udah, Pak. Saya masuk dulu, ya."
Hartono mengangguk gugup. "I-iya...makasih, Neng," jawabnya terbata-bata.
Gadis itu berjalan masuk ke rumahnya, masih terkekeh kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala. Hartono hanya bisa berdiri di tempat, masih memikirkan sikap gadis tadi yang aneh tapi santai.
---
Beberapa Menit Kemudian. Polisi tiba di lokasi. Hartono memberikan keterangan kepada seorang detektif muda berpenampilan rapi dengan potongan rambut ala Korean comma hair.
"Jadi, gadis itu memberikan ponselnya untuk Bapak telepon bantuan?" tanya si detektif.
"Iya, tapi..." Hartono berhenti sejenak, ragu-ragu.
"Tapi apa?" tanya detektif, penasaran.
"Dia...aneh. Anak itu kelihatan terlalu tenang. Seharusnya, anak seusia dia kaget atau takut dengar soal mayat di hutan," jelas Hartono.
Detektif mengangguk sambil mencatat. "Baik, Pak. Terima kasih atas informasinya. Kami akan menghubungi Bapak lagi jika diperlukan."
Sementara itu, polisi menyisir hutan dan area sekitar. Tak lama kemudian, seorang gadis remaja berlari ke arah rumah tempat mereka berada sambil berteriak, "Greysie! Greysie!"
Detektif memperhatikan gadis itu dengan pandangan heran, seolah mencoba menilai sesuatu. "Siapa dia? Apa dia gak lihat kekacauan ini?" pikirnya.
Detektif melihatnya sekilas, lalu memutuskan untuk mengikuti gadis itu. Ia terus memanggil, tapi gadis itu tidak menghiraukannya. Gadis itu langsung menuju dapur, seperti mendengar sesuatu.
Flashback Off.
---
Masih di dapur, Cara Calista—si gadis remaja—bertemu dengan detektif yang tadi mengikutinya.
"Kamu temannya Greysie, ya?" tanya detektif.
"Eh, kok tahu, Pak?" tanyaku menatapnya bingung.
"Tadi kami dapat keterangan dari teman kamu soal kasus ini," jelas detektif.
"Hah? Jadi, sekarang teman aku di mana, Pak?" tanyaku cemas.
"Sepertinya dia masih di dalam rumah ini bersama rekan saya," jawab detektif.
"Kami menduga rumah ini digunakan pelaku pembunuhan berantai sebagai tempat pelarian. Ada darah yang baru kami temukan tadi," lanjutnya.
Saat detektif menjelaskan, Aku mendengar langkah kaki mendekat. Suara itu semakin jelas. Tiba-tiba, seorang pria muncul di depan pintu dapur bersama seorang gadis remaja. Mereka berhenti sejenak, lalu menoleh ke arahku dan detektif.
"Ra...?"
Bersambung...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!