NovelToon NovelToon

Suamiku Tuan Cacat

Bab 1 Diusir

Pagi hari nampak mentari enggan untuk bersinar. Awan mendung seolah sengaja menghalangi sinar mentari karena beban yang masih terasa atas duka yang terjadi.

Ya.. Duka mendalam dirasakan oleh Celine Violetta Atmadja. Gadis berusia 20 tahun yang baru saja kehilangan ayah tercintanya. Celine menangis dalam diam meratapi tanah merah pemakaman ayahnya, Marcello Atmadja.

Sebelumnya ia sudah kehilangan ibu kandungnya saat ia berusia 10 tahun. Dan sekarang dia harus kembali merasakan kehilangan orang yang dia cintai.

Celine tampak bersimpuh memegang kayu nisan sang ayah. Air matanya perlahan menetes dan jatuh di tanah merah itu. "Daddy!!" lirihnya

Satu persatu pelayat meninggalkan lokasi pemakaman dan membiarkan Celine tenggelam dalam kesedihannya. Mereka ingin memberi ruang untuk Celine mengucapkan kata perpisahan kepada ayahnya.

"Kenapa Daddy pergi begitu cepat? Aku masih membutuhkan Daddy, hiks ...hiks.." Celine menghapus air matanya dan kembali berkata, "Daddy pernah bilang, walaupun Daddy menikah lagi tapi di hati Daddy hanya ada mommy. Dan pasti sekarang Daddy pasti senang bisa bersama mommy, kan?" Celine tersenyum dengan mata yang berembun menatap batu nisan disebelah makam ayahnya.

"Aku bahagia untuk kalian. Aku berjanji akan menjalani hidupku lebih baik walau tanpa kalian di sampingku. Tapi aku percaya, kalian akan mengawasi ku dari atas sana. I love you, dad, mom." Celine mengusap pelan nisan Ayahnya dan beranjak meninggalkan area pemakaman.

Dia harus pulang karena masih banyak tamu di rumahnya. Apalagi ibu dan saudara tirinya pasti mengkhawatirkan dirinya.

Tapi sesampainya di rumah, Celine justru disambut dengan tatapan tajam penuh kebencian oleh ibu dan saudara tirinya. "Mo-mom. maaf aku baru pulang. Tadi aku...." ucapan Celine terhenti saat Soraya mengangkat telapak tangannya. Wanita berusia hampir setengah abad itu memberi kode pada putrinya untuk kedalam mengambil sesuatu.

"Mom!!"

Indira, gadis berusia dua tahun lebih tua dari Celine, datang membawa koper Celine dan melemparkannya dengan kasar hingga koper tersebut terbuka dan baju Celine menyembul keluar.

"Mom, apa maksudnya semua ini?" pekik Celine

"Mulai hari ini kau tidak boleh tinggal di rumah ini. Karena apa? karena rumah dan semua aset kekayaan keluarga Atmadja sudah menjadi milikku. Jadi, sekarang kau boleh angkat kaki dari rumah ini." Sentak Soraya

Deg

Bagai tersambar petir di siang hari. Baru saja dia selesai memakamkan ayahnya, dan sekarang dia harus mengalami hal tragis dengan diusir dari rumahnya sendiri.

"Ti-tidak mungkin. Mommy pasti bercanda, kan?"

"Hei Celine, Kami sudah mengalihkan semua harta keluarga Atmadja menjadi milik kami. Jadi kau bukan siapa-siapa sekarang." teriak Indira

Celine hanya bisa menangis. Kepalanya terasa pusing. Dia tidak bisa berfikir apa-apa. Bahkan saat Soraya menyeretnya keluar, dia hanya diam saja. Sampai terdengar suara pintu yang tertutup keras membuatnya tersadar.

"Mom!!! Kau tidak bisa melakukan hal ini padaku. Mom!!" Celine terus menggedor keras pintu rumahnya. Tapi tidak ada satupun orang yang membukanya. Dia hanya bisa menangis dan pergi dari sana.

"Kenapa semua ini terjadi padaku, Tuhan? Kau mengambil orang yang aku cintai dan sekarang aku kehilangan segalanya." Celine menengadahkan menatap langit yang tertutup awan hitam. Dia menghapus air matanya dan teringat dengan pengacara keluarganya.

"Aku harus menghubungi pak Riko. Mungkin dia tahu sesuatu." Celine mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Pak Riko. Tapi beberapa kali panggilan, pak Riko mematikan ponselnya. Tapi Celine tidak putus asa. Dia kembali menghubungi Pak Riko, tapi Ponselnya sudah tidak aktif.

Celine hanya bisa menangis. Dia yakin pria itu terlibat dalam permainan ibu tirinya. Hah.. Harusnya dia menentang ayahnya saat ingin menikah dengan mantan sekretarisnya itu. Tapi karena kesepian, Celine menyetujuinya dengan harapan mempunyai teman cerita karena ibu tirinya itu mempunyai seorang putri.

Awalnya mereka sangat baik dan menyayanginya. Tapi ternyata semua itu hanya topeng belaka. Bahkan mereka tega menusuknya dari belakang.

"Aku tidak akan membiarkan mereka hidup tenang. Aku akan mengambil hak ku dan membalas mereka satu persatu. Itu janjiku." Tatapan Celine berubah tajam. Dia menghapus air matanya dan berdiri. Dia harus bertahan hidup untuk membalas orang-orang yang sudah membuatnya seperti ini. Apapun akan dia lakukan demi membalas ibu tirinya.

Dan sekarang yang harus dia lakukan adalah mencari tempat tinggal. Untungnya dia masih mempunyai sedikit uang di atm-nya. Dia harus segera mengambil semua uangnya sebelum ibu tirinya memblokir Atm-nya.

Celine pergi ke ATM terdekat dan menarik semua uang yang ada di sana. Dia tersenyum karena ibu tirinya belum memblokir kartu atm-nya.

"Aku harus mencari kontrakan." Baru beberapa langkah Celine berjalan, tiba-tiba ada mobil mewah berhenti tepat didepannya. Dan seorang wanita yang duduk di jok belakang terlihat menurunkan kaca jendela mobil.

Celine tampak tidak asing dengan wanita itu. Tapi tidak ada salahnya untuk waspada, bukan? Dia takut ada orang yang memanfaatkannya karena kelemahannya saat ini. Tapi diluar dugaan, wanita itu justru mengatakan hal yang membuat Celine tercengang.

"Masuklah!! Aku ingin berbicara denganmu. Aku bisa membantumu untuk membalas mereka." seru wanita itu

Celine terdiam. Dia terlalu takut untuk percaya dengan wanita itu. Dengan orang yang sudah lama ia kenal saja, dia bisa tertipu, apalagi dengan orang baru. Pikirnya.

"Tenang saja, aku bukan orang jahat. Aku rekan bisnis ayahmu." ucap wanita itu lagi seolah tahu apa yang Celine pikirkan.

Celine tersenyum kaku. Dia masuk kedalam mobil saat sopir membukakan pintu untuknya. Dia duduk disebelah wanita paruh baya yang terlihat masih cantik. Dia melirik sekilas dan terlihat jika wanita itu menggunakan baju serba hitam. Apa dia baru saja menghadiri acara pemakaman? Tapi dia mengaku sebagai rekan bisnis ayahnya. Jadi mungkin wanita itu datang ke pemakaman ayahnya. Hah.. Dia terlalu tenggelam dalam kesedihan sampai-sampai dia tidak tahu siapa saja rekan bisnis ayahnya yang hadir.

Celine menatap keluar jendela mobil. Entah mereka akan kemana, tapi jika benar wanita itu bisa membantunya membalas ibu tirinya, maka dia akan melakukannya.

Mobil yang ia tumpangi berhenti tepat di depan restoran mewah. Wanita itu menuntun Celine keruang VIP dan memesan beberapa makanan mahal.

"Ma-maaf Tante. Jadi, apa maksud Tante tadi?" tanya Celine membuka pembicaraan. Dia sudah tidak sabar ingin tahu maksud dari wanita itu.

"Sebelumnya aku akan memperkenalkan diri, namaku Andara Masayu, istri dari Hendra Ario Dirgantara. Kau pasti tahu siapa dia, kan?"

Deg

Celine melebarkan kedua matanya. Dirgantara? Siapa yang tidak tahu keluarga itu? Keluarga kaya nomor satu di asia. Tapi kenapa nyonya Dirgantara mau membantunya? Apa beliau tahu sesuatu? Tapi tidak mungkin keluarga besar seperti Dirgantara mengulurkan tangannya begitu saja tanpa imbalan apapun. Apalagi pada gadis seperti dirinya.

"Melihat ekspresimu, aku yakin kau tahu siapa aku. Jadi langsung saja. Aku ingin memberi penawaran untukmu. Aku akan membantumu mendapatkan kembali hakmu dan membalas orang-orang yang sudah menyakitimu. Tapi dengan satu syarat."

"A-apa Tante?" tanya Celine terbata.

"Menikahlah dengan putraku."

Deg

Bab 2 Pertemuan Nicholas Dan Celine

Sementara itu, di rumah besar dengan desain interior yang mewah, seorang pria tampan dengan rahang yang tegas, kulit putih, bertubuh atletis dan juga mata yang indah, tengah duduk melihat keluar jendela kamarnya.

Dia adalah Nicholas Arian Dirgantara. CEO tampan yang sukses atas usahanya sendiri tanpa bantuan dari nama besar ayahnya.

Tapi sayang, nasibnya tidak semulus kariernya. Dua tahun yang lalu, dia mengalami kecelakaan hebat saat melakukan perjalanan bisnis yang membuatnya duduk di kursi roda. Dan lebih tragis lagi, dia dikhianati oleh kekasihnya.

Hanya karena cacat, kekasihnya berselingkuh dengan sahabatnya yang bernama Rian. Dan secara terang-terangan memutuskan hubungan mereka disaat kondisi Nicholas terpuruk.

Nicholas memendam kebencian pada mereka. Dan sangat ingin menghancurkan mereka. Tapi dengan kondisinya yang sekarang, itu sangat tidak memungkinkan. Apalagi dokter mengatakan jika sulit untuk Nicholas bisa berjalan lagi. Dan hal itu membuat Nicholas putus asa.

Dia tidak mau lagi melakukan terapi atau pengobatan apapun. Dan setiap hari dia hanya marah-marah pada para pelayan yang merawatnya. Hingga tidak sedikit mereka yang memilih mengundurkan diri karena tidak tahan dengan Nicholas.

Prang

Pyar

"PERGI KALIAN SEMUA!!" teriak Nicholas

Para pelayan hanya bisa terdiam menunduk. Mereka tidak mungkin meninggalkan tuan muda mereka begitu saja. Lagipula mereka harus membersihkan lantai karena penuh dengan pecahan kaca. Mereka takut hal itu akan melukai tuan muda mereka.

"Kenapa kalian diam saja? Aku tidak membutuhkan kalian. Cepat pergi dari sini!!" lagi-lagi suara keras Nicholas menggema memekikkan telinga.

"Ada apa ini?" seorang wanita paruh baya terlihat masuk ke kamar putranya. Dia melihat kekacauan yang dilakukan putranya dan hanya bisa menghela nafas panjang. Lagi dan lagi, Nicholas menghancurkan kamarnya dengan membanting barang-barang.

"Tinggalkan kami!!" ucapnya pada para pelayan.

Semua pelayan menunduk dan meninggalkan ibu dan anak tersebut di sana.

"Mau sampai kapan kau seperti ini, Nick? Apa kau tidak lelah melakukan semua ini, hm?" tanya Andara

Nicholas hanya mendengus dan memalingkan wajahnya. "Untuk apa mommy datang kemari?" tanya Nicholas

Andara menarik kursi dan duduk didepan Nicholas. Dia mengusap tangan Putranya dan berkata, "Mommy harus kembali ke London karena di sana Daddy juga membutuhkan mommy. Tapi mommy tidak akan tenang meninggalkanmu dengan keadaan seperti ini. Jadi, mommy sudah mencarikan istri untuk merawat mu."

Deg

"Istri?" pekik Nicholas yang di jawab anggukan oleh Andara.

"Mom!!!"

"Please Nick!! Kali ini saja turuti permintaan mommy. Sudah berapa pelayan yang mengundurkan diri karena tidak kuat dengan sikapmu. Jadi mommy mencarikan mu seorang istri." seru Andara

"Kau tenang saja, wanita ini baik. Dan mommy yakin dia bisa merawat mu dengan baik pula." lanjutnya

"Terserah mommy." jawab Nicholas singkat

Andara tersenyum dan mengecup singkat kening putranya. Dia harus segera jemput Celine di hotel karena wanita itu tidak mempunyai tempat tinggal.

Ya, dari awal Andara sudah menargetkan Celine untuk menjadi menantunya. Dia memilih putri-putri dari rekan bisnisnya dan hanya Celine yang bisa menjadi menantunya.

Selain baik dan berhati lembut, Celine juga penyayang. Dan saat menghadiri pemakaman ayah Celine, tatapan Andara tidak lepas dari Celine yang menangis di atas pusara ayahnya.

Dan seolah Dewi Fortuna berpihak padanya, dia mendapat kabar dari bodyguardnya jika Celine diusir oleh ibu tirinya. Andara meminta asistennya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan setelah mengetahui kenyataannya, dia menawarkan diri untuk membantu Celine dengan syarat, Celine harus menikah dengan putranya.

Tentu saja Andara sudah menceritakan semua mengenai keadaan Nicholas. Dan Andara ingin Celine merawat Nicholas.

Mobil Andara berhenti tepat di depan hotel. Dia menghubungi asistennya untuk memberitahu Celine agar bersiap karena dia akan memperkenalkan Celine pada Nicholas.

"Bagaimana? Apa semua sudah siap?" tanya Andara saat sudah sampai di kamar Celine

"Su-sudah Tante. Tapi....."

Andara menaikan kedua alisnya saat Celine menjeda ucapannya. "tapi apa?" tanya Andara

"Bagaimana jika tuan Nick tidak setuju dengan pernikahan ini? Bagaimanapun juga kami hanya dua orang asing yang tiba-tiba menikah." seru Celine khawatir

Andara tersenyum dan berkata, "Nick setuju untuk menikah. Tapi seperti yang aku katakan padamu sebelumnya. Dia cacat dan pemarah. Jadi kau harus banyak bersabar saat menghadapinya."

"Tapi Tante, jika hanya merawatnya saja, aku bisa walau tanpa menikah."

"Tidak Celine. Kau harus tetap menikah dengannya. Aku tidak mungkin membiarkan kau berada di satu ruangan dengan Nick tanpa ikatan pernikahan. Mungkin bagimu, Nick tidak akan berbuat macam-macam padamu dengan kondisinya yang sekarang. Tapi kau harus ingat, dia pria normal." ucap Andara

Celine menelan ludahnya kasar. Sudah sebesar ini, tapi Celine belum pernah menjalin hubungan asmara dengan pria manapun. Dan sekarang, tiba-tiba dia harus menikah dengan pria yang bahkan tidak dia kenal yang cacat dan agresif. Hah... Akan seperti apa rumah tangganya nanti?

Tapi dia tidak boleh mengeluh. Andara sudah menjanjikan padanya untuk membantunya merebut apa yang menjadi hak nya dan membalas ibu tirinya. Jadi dia akan bertahan.

"Ayo kita berangkat!!" Andara berjalan terlebih dahulu diikuti oleh Celine dan asistennya.

Tidak membutuhkan waktu yang lama, mereka sampai di rumah Nicholas. Andara menuntun Celine untuk masuk dan menemui Nicholas.

Di sana, seorang pria yang cukup tampan duduk di kursi roda menatap Celine dengan tatapan yang tajam. Hal itu membuat Celine menunduk takut. Tatapan mata itu seolah ingin mengulitinya hidup-hidup.

"Sayang, perkenalan!! Ini Celine. Dia calon istrimu. Celine, dia putra tante namanya Nicholas." ucap Andara memperkenalkan mereka satu sama lain.

"Na-namaku Celine, Tuan." ucap Celine memperkenalkan diri

Nicholas tersenyum sinis. Dia menatap Celine dari atas kebawah. Cukup cantik untuk menjadi istrinya, tapi sepertinya dia wanita yang lemah. Dia yakin baru di bentak sekali saja pasti dia sudah menangis dan meminta pulang. Tapi, kenapa wanita itu memakai baju berwarna hitam? Apa dia baru saja menghadiri acara pemakaman? Pikir Nicholas

"Dia adalah calon suamimu. Jadi kau tidak perlu memanggilnya tuan. Dan mulai sekarang kau juga harus memanggilku mommy, sama seperti Nick memanggilku." sahut Andara

"Ba-baik Mom."

"Oke.. Karena kalian sudah bertemu, mommy akan menyiapkan pernikahan kalian yang akan diadakan besok. Jadi sekarang lebih baik kalian beristirahat."

"Apa? Besok?" pekik mereka bersamaan

"Mom!! Aku memang setuju untuk menikah dengan wanita itu, tapi kenapa mendadak sekali?" protes Nicholas

"Sayang, mommy sudah bilang, kan? Mommy harus ke London menemani Daddy mu. Dan mommy akan tenang jika kalian sudah menikah."

"Tapi....."

"Nick, please!!"

Nicholas menghela nafas panjang. "Terserah mommy." dia menggerakkan kursi rodanya masuk ke kamarnya. Menolak pun percuma. Biarkan saja semua berjalan seperti keinginan ibunya. Nanti setelah mereka resmi menikah, Dia akan membuat wanita seperti hidup di neraka.

"Kau juga beristirahatlah, sayang. Kau pasti lelah dengan apa yang telah terjadi padamu." ucap Andara pada Celine

"I-iya mom."

Bab 3 Menikah

Keesokan harinya, di rumah pribadi Nicholas, tengah digelar acara pernikahan yang sederhana. Bukan berarti Nicholas tidak bisa menggelar pernikahan secara megah, hanya saja kondisinya saat ini sangat tidak memungkinkan. Jika dia memaksa untuk menggelar pernikahan besar-besaran, yang ada dia hanya akan menjadi bahan cibiran karena keadaannya yang tidak sempurna.

Untuk itu, mereka sepakat menggelar acara sakral tersebut dengan sederhana dan tertutup. Mereka hanya mengundang kerabat dekat saja. Bahkan ayah Nicholas, Hendra hanya bisa menyaksikan pernikahan putranya dari video yang dikirimkan Andara.

Dia merestui pernikahan mereka. Walaupun terkesan mendadak, tapi dia percaya dengan pilihan istrinya.

Nicholas terlihat sangat tampan dengan balutan jas berwarna putih. Begitu juga dengan Celine yang cantik dengan balutan gaun pengantin yang berwarna senada.

Untuk sesaat, Nicholas sempat tertegun melihat Celine saat memasuki altar pernikahan. Dia tidak menyangka wanita itu terlihat sangat cantik. Tapi Nicholas buru-buru menggelengkan kepalanya, menyadarkan diri. Dia tidak boleh terbuai oleh kecantikan wanita itu. Karena baginya wanita sama saja. Dia yakin Celine mau menikah dengannya karena iming-iming dari ibunya. Cih.. Menjijikkan. Kita lihat nanti, bagaimana wujud wanita itu sebenarnya setelah mereka sah menjadi suami istri. Pikir Nicholas

Janji suci telah terucap dari keduanya dan sekarang mereka sudah sah menjadi suami istri. Tamu yang hadir mengucapkan selamat pada kedua mempelai dan langsung berpamitan karena mereka masih ada pekerjaan yang harus mereka kerjakan.

Semua berjalan dengan lancar, dekorasi untuk acara pernikahan tersebut sudah selesai di bersihkan oleh pelayan atas perintah Nicholas. Dan sekarang, mereka tengah mengantar kepergian Andara yang akan berangkat ke London.

"Jaga diri baik-baik ya, sayang. Jika urusan mommy dan Daddy selesai, kami akan segera pulang." seru Andara

"Iya mom." jawab Nicholas singkat

Andara menatap Celine dan memeluknya, "titip anak nakal ini. Jika dia berbuat kasar padamu, bilang pada mommy. Dan jangan takut padanya. Mommy percaya kau pasti bisa menghadapinya. Dan untuk masalah keluarga mu, mommy sudah meminta asisten mommy untuk mengurusnya. Dan dia juga yang akan menjadi asisten mu nanti. Apa kau mengerti?" bisik Andara

"Iya mom, aku mengerti. Terimakasih sebelumnya." ucap Celine

Andara tersenyum dan mengurai pelukannya. "Oke.. Sudah waktunya mommy berangkat. Oh iya... Kau adalah nyonya di rumah ini, jadi kau boleh melakukan apapun di rumah ini." seru Andara menunjuk Celine

"Apa maksud mommy berkata seperti itu? Jika mommy memperbolehkan dia berbuat seenaknya, dia akan besar kepala." protes Nicholas

"Dia istrimu, Nick. Jadi posisinya sama sepertimu. Jadi mommy harap, kau memperlakukannya dengan baik. Apa kau mengerti?"

Nicholas mendengus memalingkan wajahnya. Hebat sekali wanita itu, baru pertama kali bertemu dengan ibunya tapi sudah berhasil meracuni pikiran ibunya. Tapi dia tidak akan terbuai begitu saja. Jangan harap wanita itu bisa menjadi nyonya di rumah ini. Akan dia buat wanita itu hidup di neraka. Seringai Nicholas

"Jangan macam-macam Nick !!" seru Andara yang melihat seringai aneh putranya

"A-apa maksud mommy?" tanya Nicholas terbata

"Mommy tahu apa yang ada didalam pikiranmu itu. Jadi, mommy harap kau tidak melakukan yang aneh-aneh."

"Iya-iya." gerutu Nicholas

Andara berpamitan pada keduanya dan diantar sopir ke bandara. Dan sekarang, di sana hanya tinggal Nicholas dan Celine yang saling terdiam.

Celine berjalan kebelakang kursi roda Nicholas dan hendak membantu Nick untuk kembali ke kamarnya. Tapi Nick dengan tegas menolak. Bahkan dia tidak mau Celine menyentuhnya.

"Jangan dekat-dekat!! Aku jijik dengan wanita sepertimu. Heh.. Aku yakin kau mau menikah denganku karena iming-iming dari mommy, kan? Menjijikan." Nick menggerakkan kursi rodanya dan masuk ke kamarnya.

Celine hanya bisa menghela nafas panjang. Dia pergi ke dapur untuk mengambilkan makanan untuk Nick karena hari sudah memasuki jam makan siang.

Hari ini dia sudah sah menjadi nyonya muda Dirgantara, dan itu artinya dia yang akan mengurus semua keperluan suaminya. Andara sudah memberitahu semua pelayan untuk membantu Celine dan melakukan apa yang Celine perintahkan.

"Apa makan siang untuk Nick sudah siap?" tanya Celine

"Sudah nona." pelayan menyodorkan nampan berisi makanan kesukaan Nicholas pada Celine

"Terimakasih." Celine menerima nampan tersebut dan membawanya ke kamar Nicholas.

Hal pertama yang dia lihat saat masuk ke kamar Nicholas adalah kamar Nicholas yang berantakan. Nick mencoba melepas semua hiasan di kamarnya yang dipasang oleh pelayan sebelumnya. Tentu saja semua itu atas perintah Andara karena kamar ini merupakan kamar pengantin mereka.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Celine berbasa-basi

"Apa kau buta?" bukannya menjawab, Nicholas justru berbalik bertanya dengan nada ketus.

Celine menghela nafas dan meletakkan nampan diatas meja. Dia membereskan benda-benda yang berserakan di lantai dan membantu Nick menyingkirkan hiasan-hiasan tersebut. "Kau bisa menyuruhku jika kau tidak bisa."

Nick menatap tajam Celine. Oke, sepertinya dia salah bicara. Pasti ucapannya sudah menyinggung pria itu. Baiklah, lebih baik dia diam dulu dan membereskan kekacauan ini.

Cukup lama ia membereskan semuanya sampai-sampai melewatkan makan siang mereka. Dan setelah semua selesai, Celine memberikan nampan berisi makanan untuk Nick. Tapi di luar dugaan, Nick justru melempar nampan tersebut hingga makanannya berserakan dilantai.

"Apa yang kau lakukan?" pekik Celine

"Aku tidak mau makan. Dan jangan bersikap seolah kau perduli padaku." Nick mendorong roda kursinya ke arah jendela.

Celine menghela nafas panjang dan membereskan makanan yang berserakan di lantai. Dia membawa piring kotor ke dapur dan meminta pelayan menyiapkan makanan yang baru.

Bagaimanapun, Nick harus makan. Dan dia tidak akan berhenti sampai Nick mau makan.

Heh.. Jangan dikira dia akan menangis seperti di novel-novel dimana protagonis wanita tersiksa karena suami cacatnya yang agresif. Dia berbeda karena dia sudah mendapatkan ijin dari Andara untuk melakukan apapun yang dia inginkan. Dan untuk menghadapi suaminya itu, dia mempunyai cara lain.

"Ayo makan Nick!!" Celine kembali menyodorkan nampan didepan Nick. Tapi pria itu hanya melirik sekilas tanpa mau mengambil nampan tersebut.

"Kau harus makan agar kau cepat sembuh."

Nick kembali menatap tajam Celine. Dia kembali menghempaskan nampan ditangan Celine hingga makanannya berserakan dilantai.

Celine mendengus kesal. Dia membereskan pecahan piring di lantai tapi dengan sengaja, Nicholas menggerakkan kursi rodanya hingga melindas tangan Celine.

"Aw...." pekik Celine kesakitan.

"Kenapa? Apa sakit? Setelah ini kau bisa makan yang banyak agar kau cepat sembuh." Nicholas menggerakkan kursi rodanya mundur dan pergi begitu saja.

Celine meniup tangannya yang berdarah. Sakit, itu yang Celine rasakan. Tapi dia bisa mengerti kenapa Nicholas melakukannya. Pasti karena ucapannya telah menyinggung perasaan Nicholas.

Celine hanya bisa bersabar menghadapi Nicholas. Dia membersihkan lantai dan keluar dari kamar Nicholas untuk mengobati tangannya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!