Awal cerita bermula Saat Amira dan Mita sedang mengajar disekolah TK Gemilang. Amira mengajar 20 murid sedangkan Mita mengajar 17 murid.
Amira Gadis cantik sederhana dan Mita Adiknya Amira sama sama bekerja sebagai Guru TK. Amira memiliki cita cita ingin jadi seorang Guru PNS, Amira memilih menjadi Guru TK dulu karena ia yakin untuk menjadi Guru PNS itu perlu tingkatan, ia berlatih dari 0 dulu, maka dari itu Amira mencari pengalaman terlebih dahulu sebelum jadi Guru PNS, Amira berharap setelah berhasil menggeluti Profesi sebagai Guru TK ia bisa diangkat menjadi Guru PNS yang gajinya lumayan tinggi.
Amira dan Mita berangkat menuju sekolah TK.
"Kak sekarang jadwal anak anak apa yah, kemarin melukis, sekarang apa kita biarkan bermain ditaman ya."
"Harusnya sekarang belajar membaca, setelah selesai sisa waktunya baru pakai bermain ditaman." Amira membuka buku panduan membaca sambil jalan.
Waktu mengajar telah tiba, Amira dengan bermuka ceria mengajarkan murid murid dengan penuh semangat yang membuat semua murid ikut ceria dan nyaman belajar dengan Amira.
"Pagi anak anak yang Soleh Solehah!"
"Pagi Ibu guru.." Ucap serentak.
"Gimana Kabarnya?"
"Alhamdulillah, Luar biasa, Allahuakbar." Ucap semua murid bersorak penuh semangat.
"Waaahhh pada semangat, Tapi Ibu masih kurang yakin bahwa kalian itu benar benar semangat. Coba Ibu pengen buktikan dengan Tepuk semangat?"
"Tepuk semangat, SE..MA..NGAT, SEMANGAAATT!" ucap semua murid sambil meragakan tangan dan tubuhnya yang pada mungil mungil.
"Okey sebelum kita main ketaman, Kak Amira pengen Belajar membaca dulu, Okey Kak Amira mau tes siapa saja yang sudah bisa baca, Ada yang sudah bisa baca disini?" Tanya Amira.
Diantara 20 murid Hanya beberapa murid yang mengangkat jari telunjuknya menunjukkan bahwa murid tersebut sudah bisa membaca.
"Ternyata baru sedikit yah yang baru bisa baca. Ibu Amira pengen semuanya bisa baca yah. jadi kita belajar bersama sama, kita mulai membaca!"
"Kalian Ikut kak Amira yah." Amira
"Ini Budi. Ini Bapak Budi. Ini Ibu Budi
ini Budi. ini Bapak Budi ini Ibu Budi."
"Waaahhh..kalian udah lancar mulai lancar bacanya. yok kita lanjut lagi!"
"Ini Kakak Budi. Ini Kakek Budi Ini Nenek Budi
ini Kakak Budi ini Kakek Budi ini Nenek Budi."
"Kalian semua Hebat, Tepuk tangan dulu buat semuanya."
Semua murid bersorak dan bertepuk tangan.
"Okey, Sekarang waktunya Habis. besok kita Belajar hitungan. untuk sekarang waktunya main ke taman."
"Horeeyyy main." Semua murid bersorak kegirangan sambil keluar kelas bersamaan.
"anak anak tertib yah, Jangan dorong dorong mainnya! jangan kejauh hanya ditaman saja, dan satu lagi ingat jangan berantem." Ucap Amira lemah lembut.
Mita datang menemui Amira yang sedang berdiri memandang anak anak yang sedang main ditaman.
"Seru juga yah jadi Guru itu, Lihat anak anak pada main dengan ceria kita juga ikut ceria, ini sih kalau diputusin pacar juga cepat sembuh karena terhibur anak anak." Ucap Mita senyum melihat Anak anak ceria main ditaman.
"Ya beginilah jadi Guru TK walaupun gajihnya kecil tapi kita gak bosen didik anak usia dini."
"Iya, cobaannya satu hanya kita harus sabar mengajarkan anak anak belajar."
"Karena anak anak itu penerus bangsa, ilmu ilmu yang kita limpahkan kepada anak anak jadi Bekal tuk masa depannya dan anak anak juga perlu dididik Budi pekertinya supaya bisa jadi anak anak yang berakhlak mulia dan berilmu. Kewajiban kita hanya memberikan pengajaran baik bagi Anak anak." Amira memberikan Arahan kepada Mita Adiknya yang sama sama belajar jadi seorang Guru.
Waktu pulang telah tiba.
"Okey Anak anak kita sudahan mainnya besok kita main lagi setelah belajar yah, kita siap siap tuk pulang." Ucap Mita sambil melambaikan tangannya.
Ada salah satu murid namanya Azizah yang tidak pulang karena menunggu dijemput orang tuanya.
"Adek kok gak pulang, lagi nunggu Bundanya yah? Tanya Amira
"Iya kak Amira."
"Gimana kalau kak Amira anter pulang kerumah Azizah?"
"Gak usah deh kak, Itu Bunda Azizah udah datang jemput Azizah." Ucap Azizah sambil menunjukkan jari telunjuknya kearah depan.
"Oh ini yah Bundanya Azizah."
"Siang Bu, mau jemput Azizah yah?"
"Iya Ibu Amira." jawab Bunda Azizah dengan ringan.
"Loh, kok Ibu tau nama saya Amira."
"Iya, Anak saya cerita ada Guru baru baik orangnya katanya Namanya Bu Amira. inikan Ibu Amira?"
"Dilihat dari penampilannya sama seperti yang Azizah ceritakan, Gurunya Baik, Ceria, Ramah, Cantik. Betulkan Azizah." Bundanya menanyakan ke Azizah langsung sambil senyum."
"Iya Bunda." jawab Azizah singkat.
"Tadi tuh saya tawarin Azizah pulang bersama saya dianterin gitu, Eh Bundanya udah datang, gak jadi deh."
"Gapapa Ibu Amira, Gak usah repot-repot. Saya pulang dulu yah ibu Amira, Terimakasih atas didikannya membuat anak saya rajin selama ibu Amira jadi Guru disini loh, Saya jadi ikut senang." Senyuman manis dalam pujian Bunda Azizah berasa Amira berhasil jadi Guru simulasi.
"Oh iya Sama-sama Bunda Azizah, Hati hati dijalannya." Amira senyum-senyum sendiri.
Mita datang menemui Amira.
"Kak tadi siapa?"
"Itu Bundanya Azizah tadi jemput Azizah."
Mita mengurut urut keningnya sambil mengingat ingat Murid bernama Azizah.
"Oh Azizah, Azizah Anak yang pendiam itu yah?" ucap Mita sambil menunjuk nunjuk jari telunjuknya.
"Sekarang sih Azizah gak pendiam lagi, Azizah mulai ceria selama jadi muridku, Saya mulai melihat perkembangan dalam diri Azizah loh, ia jadi Anak cerdas, Saya rasa Akhir akhir ini dikelas yang jadi murid terbaik hanya Azizah deh, dia itu Rajin, udah bisa baca, hitungan juga agak jago deh, Sejak saya jadi Gurunya Azizah jadi aktif dikelasnya. Aku bangga dan merasa berhasil jadi Guru deh Mit."
Amira dan Mita kakak beradik dijalan sering mengobrol sambil jalan ringan menuju pulang kerumah.
"Aku yakin deh kakak suatu saat nanti akan jadi Guru PNS dengan kisaran gaji yang tinggi. Karena Kakak memiliki keahlian dibidang komunikasi."
"Kamu juga kakak lihat cara mengajar kamu pada Anak anak cukup bagus, Kakak juga yakin suatu saat nanti kita bisa jadi Guru PNS sama sama."
"iya Amin, lebih Amin lagi kalau Aku suatu saat nanti jadi seorang perawat."
"Iyyaa.. mudah mudahan saya nanti ada rezekinya buat biaya kuliah, jurusan kedokteran itu Agak mahal biayanya tapi kita percayakan kepada Allah, nanti juga ada rezekinya."
"Iya kak, Aku ingin gapai impianku dengan Doa dan Usaha, mudah mudahan Allah mempermudah semuanya hingga Aku bisa kuliah ambil jurusan kedokteran demi menjadi perawat." Ucap Mita berharap penuh.
"Abah Kami pulang!" Mita berteriak teriak didepan rumahnya.
Amira dan Mita sudah sampai Rumah. Ayahnya datang dari pintu belakang.
"Kalian udah!" Ucap Pak Amar Ayah dari Amira dan Mita yang datang dari belakang rumah.
"Udah bah..."
"Menurut Abah sebaiknya kalian berdua bekerja di perusahaan perusahaan, atau Toko toko apa kek, Karena kalau terus menggeluti profesi Guru TK itu gajinya gak seberapa." Ayah Amira dan Mita sebenarnya menginginkan kedua Putri bekerja menjadi profesi yang dimana penghasilannya tinggi.
"Tapi kami berdua sudah senang menjadi Guru, Ayah tau gak Jadi Guru itu pekerjaan ringan dan tidak terlalu berat, Emang Ayah mau kami berdua bekerja di perusahaan terus kita berdua tertekan oleh perkejaan tersebut." Ucap Mita menjelaskan kepada Ayahnya.
"Bukan Abah melarang kalian jadi untuk memegang profesi sebagai Guru, Abah sih terserah kalian mau memegang profesi apapun yang penting halal, Tapi keuangan keluarga kita kan lagi minim. Abah sama Emak sekarang hanya mengharapkan uang dari gaji kalian saja." Ucap Abah mengeluh.
Lanjut Abah
"Sedangkan gaji kalian kan gak seberapa hanya cukup buat bayar kuliah saja. Abah hanya ingin kalian berdua bekerja ditempat yang gajinya lumayan sampai kalian berdua lulus kuliahnya dan sampai perekonomian keluarga kita membaik." Ucap Pak Amar Abah dari Amira dan Mita.
"Amira minta maaf yah Bah, Amira memang egois tidak memikirkan Abah sama Emak. Amira terlalu pokus terhadap karier Amira menjadi Guru." Amira memegang tangan Abah.
Amira tau jadi Guru TK itu gajinya minim tapi Amira malah mempertahankannya karena ke egoisan Amira ingin jadi Guru. Padahal setelah lulus kuliah juga Amira bisa jadi Guru PNS yang gajinya lumayan.
"Kalau masalah pekerjaan nanti Amira coba melamar diperusahaan perusahaan atau Ditoko toko yah Bah, Tapi Amira butuh waktu untuk mencari pekerjaan yang cocok buat Amira."
"Kak, gak salah dengar kakak mau melamar kerja, terus gimana dengan karir Kakak." Ucap Mita pelan.
Amira menarik tangan Mita dan Amira membawa Mita masuk ke kamarnya.
"Kak, mau ngapain tarik tarik tangan Aku." tangan Mita ditarik Amira, Mita merasa kesal dengan keputusan kakaknya.
"Kak, Kakak mau cari pekerjaan lagi, terus gimana karier kakak sebagai guru?"
"Kakak bekerja ingin membalas Budi Abah sama Ema. kalau kita terus menggeluti profesi sebagai guru TK, bagaimana kita bisa balas jasa Abah sama Emak karena pendapatan kita hanya cukup untuk biaya kuliah saja, Emangnya kamu gak malu tinggal dirumah Abah sama Emak tanpa memberikan uang sepeser pun." Amira menjelaskan alasan ingin berpindah profesi dulu.
"Iya sih Mita juga malu tinggal dirumah Abah sama Emak tanpa memberikan uang sepeser pun kepada Abah Emak kerena cuman pas buat biaya kuliah saja." Ucap Mita sedikit mengeluh tapi ia hanya pasrah.
"Untuk sekarang Kakak hanya tanya tanya dulu pada teman kakak jika sudah ada pekerjaan yang gajinya lumayan, baru kakak pindah dulu."
"Berarti kita masih bisa mengajar dulu dong sambil menunggu kepastiannya." ucap Mita sedikit reda. Lanjut Mita
"Jika sudah ada kepastian untuk bekerja disuatu perusahaan nanti, Kakak yakin mau ninggalin profesi yang kakak impikan sebagai Guru."
"Mau gimana lagi, Demi membantu Keekonomian Abah dan Emak kan, Sekarang keadaannya kurang memadai untuk menggapai profesi kakak sebagai Guru, Tapi kakak yakin suatu saat nanti ada waktu buat kita untuk menggapai semua Impian kita terutama profesi kakak ingin jadi Guru PNS, dan kamu Mita ingin menjadi dokter Perawat." Tidak terlihat sedikit pun kesedihan didalam diri Amira, karena Amira anak yang berbakti kepada orang tuanya sehingga ia rela meninggalkan satu profesi yang sedang digelutinya menjadi Guru TK.
"Iya mudah mudahan Kak." Balas Mita dengan tersedu.
"Kak, Aku juga ikut yah jika ada lowongan pekerjaan nanti, Aku tidak ingin jauh dari kakak karena Aku ingin belajar banyak dari kakak. Aku juga ingin ikut mencari Uang buat bisa mengasihi Abah, Emak yah kak?"
"Iya nanti sama sama melamar pekerjaan."
Besoknya Amira dan Mita bersiap siap pergi kesekolah untuk mengajar Anak-anak TK. Jadwal jam masuk Anak TK tepat jam 8 pagi.
"Sudah siap Mita Ayo kita berangkat, kita pamit dulu Ke Abah sama Ema."
Ibunya Amira dan Mita yang bernama Bu Asih yang dipanggil Ema oleh kedua putrinya sedang memasak didapur.
"Pagi Emaku tersayang." Ucap Mita agak teriak dari jauh sambil menghampiri Emangnya yang sedang masak didapur.
"Oh Amira, Mita, Udah rapi mau berangkat mengajar yah." Ucap Bu Asih dengan senyuman pagi, Emaknya dari Amira dan Mita.
"Iya Mak, Amira mau pamit berangkat ngajar dulu yah Mak!" Ucap Amira sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman kepada Ema.
"Mita juga Mak mau berangkat dulu." Menyondor dari belakang kakaknya untuk bersalaman dengan Emak.
"Kalian kan belum sarapan, Kita sarapan dulu, nih Emak sedang masak spesial Sayur bacem."
"Gimana Kak, Mau sarapan dulu?"
"Waktunya bentar lagikan gak keburu kalau sarapan dulu."
"Kayaknya Mita sama Kak Amira Sarapan diluar aja deh Mak, Gak keburu waktunya kan itu sayurnya belum matang juga."
"Oh iya, Hati hati yah. Emak akan selalu dukung impian kalian berdua. Semoga Allah memberkahi kalian berdua, Anak anak Emak yang soleha!" Ucap Emak sambil meletakkan tangan kanan di dadanya, Ucapan Emak menyayat hati.
"Oh iya Ema, Abah kok gak keliatan dimana Abah?" Tanya Amira.
"Abahmu telah berangkat ke sawah." Jawab singkat Ibu Asih.
"Loh pagi pagi banget." Ucap Amira keheranan.
"Biasa kan kalau lagi mau panen Abah kan paling semangat."
"Oh gitu, Ya udah deh kami berdua pamit dulu yah Mak." Ucap Amira Pergi berangkat bersama Mita.
"Pagi ini cerah banget yah kak." Ucap Mita sambil melihat keatas langit.
"Iya, Kira kira nanti sore Hujan gak yah?" Ucap Amira melihat perkiraan cuaca saat ini.
"Kayaknya sore juga cerah deh kak, Kemarin juga gak hujan. Emangnya kakak sore mau kemana?"
"Yah gak kemana mana! Kakak mau bantu Abah ke sawah karena padi udah panen"
"Ooh iya."
Amira berharap hari cerah terus karena padi di sawah Abah Sudah panen. padi yang dipanen membutuhkan cahaya matahari buat dijemur, Setelah pulang dari sekolah Amira punya niat untuk ikut bantu Abah menanen padi.
"Kasihan Abah Kesawah setiap hari panas panasan, Sedangkan Aku tidak merasakan kepedihan yang telah dirasakan Abah mencari Uang buat kita." Ucap Amira dalam hatinya dengan muka sedih.
Amira di umur menginjak dewasa sudah waktunya membalas jasa, karena rentang waktu wanita menuju kepernikahan itu gak lama lagi. Niat Amira sebelum melanjutkan ke jenjang pernikahan Amira ingin bisa membahagiakan dulu kedua orang tuanya.
Setelah pulang mengajar Amira dan Mita bersiap-siap menggantikan pakaiannya dengan pakaian yang dikenakan seorang petani. Ketika Amira mengenakan pakaian seorang petani Amira Kelihatan kecantikan Alami yang tersimpan dalam wajah Amira. Amira dan Mita bergegas menuju Ke sawah untuk membantu Abahnya memanen padinya.
"Kak, emang harus yah pakai pakaian tani seperti itu?" Tanya Mita.
"Ya haruslah, kalau pake baju bagus kan sayang nanti ujung ujungnya kena lumpur dan becek lagi." Jawab Amira dengan detail diiringi gerakan tangannya.
"Ya udah Kakak tunggu dulu, Aku mau ganti dulu!" ucap Mita sambil masuk ke kamarnya.
"Gak Usah lama, Gak usah dandan juga kita hanya pergi Kesawah bukan shopping."
"Iya kakak, bawel banget." Sahut Mita dari bilik kamarnya.
Amira dan Mita sudah sampai ke sawah Abahnya. Ditepi sawah Abah Amar sedang berbicara dengan seseorang yang berpakaian rapi, Entah apa yang Abah Amar perbincangan dengan Seorang pemuda yang berpakaian rapi itu ditepi disawah.
Amira melihat Abahnya dari kejauhan dan Amira penasaran dengan perbincangan antara Abah dan Pemuda itu. Amira mengajak Mita untuk berjalan mendekati Abahnya yang sedang berbincang itu secara pelan pelan supaya tidak ketahuan.
"Mit..Mita.. lihat deh Abah lagi berbicara sama siapa?" Ucap Amira pelan pelan pada Mita sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah Abah dan Pemuda tersebut.
"Siapa yah itu, Kelihatannya Pemuda itu ganteng deh, Aku merasa lagi mimpi lihat pemuda ganteng ada disawah Abah." Ucap Mita tergila gila hatinya saat melihat pemuda itu.
"Loh gak salah lihat Mita, Itu Pemuda Udah punya Umur kali, itu hanya penampilannya saja kayak pemuda belum tentu umurnya sepertinya udah tua."
"Masa sih kak, tapi dilihat dari jauh ganteng loh kak." Ucap Mita sambil menatap pemuda itu. "Udah ikuk kakak, Sekarang kita pelan pelan deketin Abah kita cari tau Apa yang sedang Abah bicarakan dengan Pemuda itu." Amira menarik tangan Mita dengan jalan pelan sambil memasang telinga kelewarnya yang panjeg.
"Ngapain sih kak harus bersembunyi sembunyi segala, paling Abah lagi membicarakan bisnis."
"Perasaan kakak gak enak tau." balas Amira.
Dahan kecil diatas pohon jatuh dan mendarat dikepala Mita.
"Aduuhh... ini apaan sih?" Ucap keras dari Mita.
Amira cepat cepat membungkam mulut Mita karena telah bersuara.
"Gak usah berisik juga." Ucap Amira Sambil tangannya membungkam mulut Mita.
"Amira..Mita.. Kalian disana lagi pada ngapain." Abah Amar memanggil kedua putrinya sambil menoleh kearah persembunyian Amira dan Mita.
Amira dan Mita dengan malu malu keluar dari persembunyiannya.
"Abah..." Ucap Amira malu malu.
"Abah itu siapa sih, Abah lagi bisnis yah?" Ucap Mita terus terang. Amira memberikan kode badannya menyentuh badan Amira.
"Apa sih kak." Amira hanya tersipu malu didepan Abah dan Pemuda itu.
"Ini putrinya Bapak yah?"
"Iya, dia berdua putri putri saya?"
"Cantik juga putri bapak, Bapak beruntung dikaruniai putri cantik dan rajin bekerja membantu Ayahnya." Ucap Pemuda sambil tersenyum melihat wajah Amira dan Mita.
"Iya terima kasih Pak Anwar." Pemuda itu bernama Anwar dia seorang pengusaha PT. Karya Baru yang menyediakan bahan pangan seperti beras.
"Amira, Mita Ayo kenalan dong dia namanya Pak Anwar seorang pengusaha sukses." Ucap Abah Amar kepada kedua putrinya.
"Saya Mita dan ini Kakak saya Amira!" Amira hanya diam dan tersipu malu malu.
"Saya pengusaha PT Karya Baru yang menyediakan bahan pangan seperti beras." Ucap Pak Anwar sambil membukakan kedua tangannya. lanjut Pak Anwar
"Saya kesini mau beli sawah Pak Amar, Karena saya membutuh kan padinya untuk dipanen setiap tahunnya."
Amira berasa Aneh setelah mendengar perkataan pemuda itu. Amira mulai bertanya tanya kepada Abahnya.
"Abah, Amira mau ngobrol sama Abah sebentar boleh gak?" Tanya Amira ekspresi wajahnya berubah drastis.
"Ada Apa Amira?" Jawab Abah.
Amira mengajak Abahnya ketempat yang sepi. sedangkan Mita ditinggal berdua dengan pemuda tadi.
"Abah mau jual sawah pada pemuda itu?" Tanya Amira dengan serius.
"Iyya, Emangnya kenapa Amira?"
"Abah, sawah ini kalau dijual gimana kita bisa makan, kan selama ini kita bisa makan karena padi hasil panen Abah setiap tahun."
"Abah terpaksa Amira, Abah ingin melunasi hutang hutang Abah ke dep kolektor, Abah setiap hari dihantui oleh tagihan dep kolektor yang kejam." Ucapan Abahnya tersedu sedu. Keputusan Abahnya membuat Amira kecewa, tapi disisi lain Amira merasa kasihan kepada Abahnya karena telah terbelit hutang.
"Emangnya gak ada jalan lain gitu bah selain menjual Sawah?" Tanya Amira dengan memohon kepada Ayahnya.
"Sebenarnya hutang Abah itu bisa dicicil perbulannya 2 juta. Tapi Abah gak sanggup membayarnya, karena Abah hanya kerja disawah dan penghasilan padinya hanya cukup buat makan kita saja." Ucap Abah Amar dengan matanya sedikit keluar Air kesedihan.
"Ya Allah Ayah, biarkan hutang Abah Amira bayar dengan dicicil setiap bulannya, Asalkan Abah batalkan jual beli Sawah Abah."
"Tapi kamu mau bayar uang dari mana sedangkan penghasilanmu menjadi Guru TK itu hanya dapat gaji 500 ribu per bulan itu juga hanya buat bayar SPP kuliah kamu."
"Amira akan resign dari pekerjaan Amira sebagai Guru TK. Amira akan mencari pekerjaan yang gajinya diatas 3 juta biar bisa bayar hutang Abah." Ucap Amira sambil tersedu sedu menangis.
"Terimakasih yah Amira sudah ngertiin keadaan Abah, Maafin Abah jika Abah telah membebanimu untuk membayar hutang Abah."
"Gak papa Bah, Amira gak sendirian kok kan ada Mita. Amira dan Mita yang akan mencari uang yang banyak untuk melunasi Hutang Abah." Ucap Amira sambil memeluk Abahnya.
"Baiklah kalau begitu Abah akan batalkan jual-beli Sawah Abah." Abah Amar dan Amira menemui Pak Anwar yang sedang berbincang dengan Mita berduaan.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!