NovelToon NovelToon

My Beloved Stepmother

BAB 01 Step Mother?

"Apa? Sakit?"

Sembilan tahun berlalu, Lucas Gilbert hidup dengan tenang setelah memilih pergi dari rumahnya. Sejak kematian sang ibu dan kekasihnya, Lucas mencari cara demi menyembuhkan luka. Kini, ketenangan Lucas justru terganggu usai menerima kabar buruk tentang ayahnya, Julian Gilbert.

Khawatir ancaman asisten tuan Mike benar-benar terjadi, Lucas memutuskan untuk pulang sekalipun masih tetap ingin berada di sini. Moscow, tempat yang dia jadikan pelarian usai pertikaian hebat bersama sang ayah yang berprofesi sebagai bandar narkoba dan juga penjudi.

Tepat di hari ulang tahunnya yang ke 32 tahun, Lucas memutuskan kembali ke New York, Amerika demi memenuhi bakti terakhirnya. Khawatir saja keadaan sang ayah benar-benar separah yang katakan asisten Mike.

Setelah melewati perjalanan panjang, Lucas tiba kala malam menjelang. Semua terasa asing baginya, cukup banyak yang berubah hingga Lucas merasa masuk ke rumah yang berbeda.

Namun, kebingungan itu hanya berlangsung sesaat karena Mike begitu cepat menyambut kedatangannya. Koper besar yang Lucas bawa juga segera dia ambil alih. Lucas kembali diperlakukan bak tuan muda kaya raya pasca menjalani kehidupan normal sebagai pelatih renang di tempat barunya.

"Selamat datang, tuan muda."

"Kau terlihat tua, Mike," ucap Lucas mencairkan suasana, tidakkah dia sadar bahwa Mike juga menatap tanda-tanda kedewasaan di wajah tampan tuan mudanya.

Tidak ingin berbasa-basi, Mike menuntun Lucas untuk masuk segera. Dia akan mendapat bayaran mahal setelah ini, berhasil membujuk tuan mudanya pulang walau harus berbohong tentang keadaan majikannya.

Sementara di sisi lain, Lucas kini melangkah panjang memasuki pintu utama. Suasana rumah ini terasa lebih hangat, tidak sesuram sewaktu dia tinggalkan. Mungkin memang sang ayah sudah benar-benar melepaskan ibunya, atau bisa jadi memiliki istri baru.

Pertanyaan tersebut baru saja terpikirkan, tapi mata Lucas sudah menangkap seorang gadis cantik yang tengah meniti anak tangga. Masih sangat muda, Lucas perkirakan mungkin jauh di bawahnya.

Mendadak dia tersenyum kecut, sudah dia duga janji setia ayahnya palsu. Benar-benar omong kosong belaka, Lucas kecewa. Janji Julian yang mengatakan bahwa tidak akan pernah menikah lagi sudah dia nodai, setelah Lucas tinggal buktinya sang ayah sudah memiliki keluarga baru, mirisnya menikahi wanita yang sudah memiliki anak.

Ya, Lucas yakin sekali gadis yang dia lihat itu adalah adik tirinya. Rahang Lucas mulai mengeras dan pikiran buruk merasuk dalam pikirannya, dugaan jika wanita pilihan sang ayah hanya megharapkan harta dan tahta jelas berkuasa saat ini.

Belum juga melihatnya, tapi mata Lucas sudah menatap gadis itu penuh kebencian. Namun, beberapa saat kemudian kebenciannya goyah kala wajahnya tertangkap jelas di mata Lucas.

"Giorgina?"

Lucas tidak mungkin salah lihat, dia juga tidak halusinasi lagi sejak beberapa tahun terakhir. Dia sangat yakin dengan apa yang dia saksikan, wanita itu sangat mirip dengan mendiang kekasihnya.

Hanya sedikit lebih sederhana, jantung Lucas berdetak dua kali lebih cepat. Lidah pria itu mendadak kaku, dia ingin bertanya pada Mike, tapi belum sempat melakukan hal itu sang ayah tiba-tiha keluar dengan senyum sumringah menatap Lucas.

"Ya tuhan, kau benar-benar pulang, Nak?"

Pikiran Lucas mendadak buyar, sejenak dia melupakan tentang sosok Giorgina yang tiba-tiba muncul setelah bertahun lamanya. Perhatian Lucas terfokus pada sang ayah yang kini tampak baik-baik saja, tidak ada gejala sakit sedikit saja.

"Daddy baik-baik saja?" tanya Lucas menghela napas kasar, hanya demi pulang begitu banyak rencana yang dia batalkan.

"Hahah Daddy kehilangan cara membuatmu pulang ... terpaksa begini," jawabnya enteng sekali, seharusnya Lucas tahu bahwa sang ayah memang pembohong bernyali besar.

Tidak ada jawaban yang keluar dari bibir Lucas, dia masih kecewa sebenarnya. Pertikaian mereka sembilan tahun lalu masih belum bisa Lucas lupakan, kini hati Lucas kembali dibuat tak karu-karuan dengan kehadiran sosok adik tiri di dalam rumahnya, sungguh menyebalkan.

Julian mengajak pria itu untuk duduk ke sofa, memperlakukannya sebagai tamu yang dia rindukan untuk waktu lama. Lucas melepas jaket dan juga topinya di sana, setelah ini dia benar-benar ingin bertanya pada Julian terkait ibu sambung Lucas yang dia nikahi tanpa izin.

.

.

"Daddy menikah lagi?" tanya Lucas pada intinya, pria paruh baya itu hanya terbahak dengan wajah yang memerah seolah dia salah tingkah.

"Tidak ada salahnya ... Daddy menemukan harta karun di meja judi, mana mungkin Daddy sia-siakan," ucapnya dengan gelak tawa yang kini menggelegar memenuhi seisi ruangan, pria itu terlihat bahagia di atas kekecewaan Lucas.

"Harta karun?" Lucas mengerutkan dahi, dia sedikit tidak bisa memahami bahasa ayahnya.

Lagi dan lagi Julian terbahak seolah tengah menunjukkan kekuasaannya. Bersamaan dengan itu, Julian memanggil anak buahnya untuk membawa mainan barunya. Dia ingin membanggakan hasil buruan beberapa minggu lalu, sekaligus menyadarkan agar putranya memiliki keinginan untuk menikah.

"Come on, Honey ... mendekatlah," titah Julian menggerakkan tangannya.

Lucas menatap ke arah sosok yang sang ayah panggil semanis itu. Cukup lama Lucas terdiam dalam lamunan, otaknya berpikir keras dan bertanya dimana istri dari ayahnya, kenapa hanya anak tiri yang dia panggil.

"Honey?"

"Iya ... dia Zora, Jenifer Azora. Istri Daddy sekaligus Mommy sambungmu, Lucas. Bagaimana? Cantik bukan?"

Lucas tak berkedip, bukan hanya karena kecantikan, tapi ucapan sang ayah kala mengenalkan wanita bernama Jenifer Azora itu sebagai ibunya. Sungguh, dada Lucas terhenyak dan masih terus menatap lekat wajah cantik yang terlihat sedikit lebam itu.

Seperti mimpi, semua sama persis. Wanita itu sangat mirip dengan mendiang kekasihnya, Giorgina. Lucas bahkan tidak fokus dan matanya masih terus memandangi ibu tirinya hingga menghilang dari pandangannya.

"Bagaimana? Skill Daddy belum ada yang menandingi bukan?"

"Daddy gila? Bagaimana bisa Daddy mencari istri yang lebih muda dariku?" desis Lucas tak terima, selain karena masih muda, Lucas sangat tidak rela lantaran wanita itu benar-benar mirip dengan mantan kekasihnya.

"Apa yang tidak bisa Daddy dapatkan, Lucas? Terutama orang-orang bodoh seperti mereka."

Julian begitu bangga mengakui pencapaiannya. Tidak sadarkah dirinya bahwa apa yang dia sampaikan hanya membuat Lucas semakin membencinya. Perjudian masih terus Julian geluti, bahkan muak memenangkan uang dia menerima seorang gadis polos sebagai bayaran.

"It's fine, Lucas apa salahnya? Ayahnya membawa Zora ke hadapan Daddy ... sementara Daddy tidak lagi butuh uang, kenapa kau marah sekali?" tanya Julian terbahak, sama sekali tidak dia duga jika reaksi putranya akan begini setelah dikenalkan pada Zora, istri muda yang saat ini menjadi mainan paling menggemaskan yang dia miliki.

"Aku tidak menyukainya ... aku tidak butuh ibu tiri," tolak Lucas kemudian berlalu ke kamar meninggalkan Julian yang menatapnya penuh tanya.

.

.

- To Be Continued -

BAB 02 Panas!!

Lucas menghempaskan tubuhnya ke sofa. Masih begitu jelas terbayang di benak Lucas bagaimana tatapan sendu Zora. Berkali-kali dia mencoba menyadarkan diri, tapi di bayangannya Zora adalah Giorgina.

Hal itulah yang membuat Lucas secara lantang menegaskan jika dirinya tidak membutuhkan ibu tiri. Tepatnya tidak menerima wanita yang memiliki rupa seperti mendiang kekasihnya itu sebagai pengganti ibu kandungnya.

"Aku tidak bisa menerimanya."

Andai saja yang dipilih ayahnya adalah wanita lain, mungkin Lucas tidak hanya menerima, tapi juga tidak peduli. Terserah apa yang ingin dilakukan ayahnya pada mainannya itu, tapi untuk yang kali ini hati Lucas benar-benar berontak.

Dia marah, benar-benar tak suka dan kebencian pada sang ayah kembali menyapa. Tidak hanya pada ayahnya, tapi Lucas juga membenci ayah dari wanita itu. Bagaimana bisa seorang ayah menjadikan putrinya taruhan judi, semelarat itu sampai tega menyeret gadis polos tak bersalah untuk menjadi mainan Julian Gilbert.

Lebam yang terlihat di sudut bibir wanita itu masih terbayang jelas di mata Lucas. Ayahnya jelas belum berubah, dia memiliki gadis itu hanya untuk kesenangan belaka. Tanpa perlu dijelaskan, Lucas tahu betul apa yang terjadi di belakangnya.

"Kenapa harus seperti dia?"

Hanya itu pertanyaan yang tertanam dalam pikiran Lucas. Di antara seluruh wanita kenapa harus Jenifer Azora, wanita cantik yang begitu mirip dengan mendiang kekasihnya. Apa tidak bisa Julian memilih yang lain? Atau sebenarnya sejak awal sudah diatur untuk menyiksa batinnya? Demi Tuhan, Lucas benar-benar berburuk sangka.

Cukup lama dia berdiam diri di kamar, hingga kepalanya terasa sakit dan pria itu memutuskan untuk membersihkan diri segera. Mungkim dengan cara ini pikirannya sedikit lebih tenang, itu saja.

Sayangnya, dugaan Lucas bahwa dirinya akan tenang setelah mandi salah besar. Baru saja keluar dari kamar mandi, pintu kamarnya diketuk dari luar. Sedikit sebal, pria itu melangkah untuk membuka pintu masih dengan handuk yang melilit di pinggulnya.

"Kenapa?"

Sedikit terkejut, tapi sebisa mungkin Lucas bersikap tenang kala bertatap muka dengan seorang wanita yang sejak tadi menghiasi kepalanya. Jantung Lucas berdegub tak karuan, senyum tulus wanita itu membuatnya berdesir seketika.

"Waktunya makan malam, daddymu sudah menunggu, Lucas."

Seperti sudah mengenal lama, wanita itu bersikap hangat dan hingga membuat Lucas lupa diri. Agaknya Julian sudah menceritakan banyak hal pada Zora, caranya bicara memang persis pengasuh, Lucas merindukan kelembutan semacam ini.

"I-iya, sebentar lagi."

Lucas mengangguk cepat, sementara Zora segera berlalu dari kamarnya. Kekaguman Lucas sejenak menepi, dia baru sadar jika yang memanggilnya bukan pelayan, tapi Zora sendiri.

Namun, beberapa saat kemudian dia sadar sejak awal dia datang tidak ada asisten rumah tangga di rumahnya, yang ada hanya orang-orang kepercayaan sang ayah. Apa mungkin belum dia lihat saja? Seketika Lucas berharap demikian, entah kenapa firasatnya tidak nyaman saat ini.

"Semoga perasaanku saja."

Sejujurnya Lucas malas untuk bertemu ayahnya di meja makan. Akan tetapi, demi menghargai Zora yang telah meluangkan waktu untuk memanggilnya, Lucas berubah pikiran. Tanpa banyak bicara, pria itu segera berlalu ke ruang makan.

.

.

"Duduklah ... Mommy sudah masak banyak untukmu malam ini."

Menjijikkan, entah kenapa Lucas mual sekali mendengarnya. Bukan pada Zora, tapi ucapan sang ayah yang membuatnya tak suka. Bagi Julian malam ini adalah anugerah, sang putra kembali setelah sembilan tahun lamanya.

Namun, bagi Lucas justru sebaliknya. Demi apapun dia sangat menyesal kembali ke rumah jika tahu akhirnya akan begini. Masakan Zora begitu pas di lidahnya, sangat lezat dan melegakan rasa laparnya. Sayangnya, melihat bagaimana Zora seperti terpaksa harus melayani ayahnya di depan sana membuat naffsu makannya hilang seketika.

Dentingan sendok mendominasi ruang makan, mata Lucas memang terlihat tanpa arah, tapi yang menjadi perhatiannya adalah Zora. Miris sekaligus kesal juga, dia merasa ayahnya baik-baik saja. Lalu kenapa harus disuapi begitu? Apa tidak bisa makan sendiri? Dalam hati Lucas menggerutu, dadanya benar-benar panas.

Dia tidak mengerti perasaan apa yang sebenarnya tengah merasuk dalam dirinya. Jika hanya merasa jijik, harusnya cukup dengan berhenti memandangi. Anehnya, Lucas justru terus menerus mencuri pandang ke arah mereka, tepatnya Zora.

Dadanya panas, semua makanan kini terasa tawar. Gelagatnya kini dicurigai ayahnya, mungkin karena denting sendok yang dia hasilkan mulai tak biasa. Caranya meletakkan gelas juga sedikit gila bahkan membuat Julian terperanjat.

"Ada apa denganmu, Lucas?"

"Haus, Dad," jawab Lucas sekenanya, perutnya mungkin sudah kembung karena air. Heran juga kenapa bisa tenggorokannya seakan tidak lega juga.

"Jangan dibiasakan, tidak sopan."

Cih, tahu apa soal kesopanan. Lucas berdecih dan tersenyum miring mendengar ucapan sang ayah. Sedikit menjengkelkan, kriminal berdarah biru seperti dirinya bicara soal etika, agaknya sedikit lucu saja.

Usai makan malam, Lucas kembali ke kamar dan melupakan hari ini dengan tidur segera. Sayangnya, akibat terlalu bodoh meluapkan kekesalan pada sang ayah, belum sampai satu jam perut Lucas terasa sakit bahkan sesak ketika bernapas.

.

.

"Ya Tuhan ... ada apa denganku?" Dia meringis dan menekan perutnya, sakit yang dia rasakan tidak biasa.

Pria itu berpikir mungkin karena perjalanan jauh membuat tubuhnya bermasalah. Akan tetapi, rasa sakit itu kian menjadi dan membuatnya nekat keluar kamar. Entah pada siapa dia meminta pertolongan, yang jelas saat ini dia tidak bisa sendiri.

"Aaaawwh, siallan!! Apa aku salah makan?" gumam Lucas seakan tidak sadar diri jika semua itu akibat ulahnya sendiri.

Dia meringis, hingga tiba di dapur dia terduduk lemas di atas lantai. Entah dirinya sedang beruntung atau bagaimana, di tengah kebingungannya Zora menghampiri pria itu dengan wajah panik.

"Lucas, are you okay?" tanya Zora memastikan, dia khawatir sekali pada keadaan pria itu.

Pria yang menjadi putra tirinya, Julian mengatakan jika Lucas adalah harta paling berharga yang dia punya. Untuk itu, sejak awal pernikahan sudah Julian jelaskan bahwa yang menjadi tanggung jawab Zora bukan hanya suami dan pekerjaan rumah saja, tapi juga Lucas, putra tirinya.

"Perutku sakit," keluh Lucas sama sekali tidak berbohong.

Melihat bagaimana penderitaan Lucas, tanpa pikir panjang Zora menyiapkan air panas. Zora meminta pria itu untuk duduk menunggu, setelah menunggu beberapa lama Zora mengompres perut Lucas dengan air hangat.

Tidak hanya sampai di sana, Zora juga memijat perut Lucas sebagai salah-satu cara untuk menyembuhkan rasa sakit di perut Lucas. Tanpa dia ketahui jika sikapnya semacam itu membuat Lucas terbuai dan semakin berpikir macam-macam.

Dia menatap lekat Zora yang masih berusaha menjalankan peran sebagai ibu senagaimana tuntutan Julian. "Apa tugasmu di sini?"

"Bukankah ayahmu sudah menjelaskan siapa aku? Aku ibumu, Lucas."

"Iya tahu, tapi bukankah hal semacam ini adalah tugas pelayan?" tanya Lucas kemudian, dia bingung sejak tadi memang rumahnya tampak sepi.

"Hanya aku di sini, tidak ada pelayan," jawab Zora tersenyum getir yang seketika berhasil membuat Lucas terluka.

"Apa Daddy menjadikannya budak? Dasar tidak berhati ... aku benar-benar membencimu."

.

.

- To Be Continued -

BAB 03 Bersamaku Saja

Perhatian malam itu adalah awal dari bergeloranya jiwa Lucas. Hidup di satu atap yang sama dan perlahan mengenalnya membuat pria itu tak tahu arah. Terlebih lagi, dia yang menyaksikan sendiri bagaimana berat tugas Zora sebagai istri ayahnya membuat Lucas tidak tega.

Beberapa hari terakhir Julian pergi ke luar kota, sudah tentu mencari kesenangan di meja judi dan wanita lainnya. Kesempatan itu Lucas gunakan untuk membangun interaksi agar lebih dekat bersama ibu tirinya.

Tidak jarang Lucas membantunya menjemur pakaian walau terkadang kerap dilarang. Lucas yang pembangkang jelas saja bertindak semaunya hingga Zora hanya menggeleng pelan melihat tingkah anak tirinya. Anak tiri? Sungguh miris sekali, takdir menjebaknya dalam hal yang teramat pamit.

Terlahir dari keluarga yang berada tidak membuat Zora bahagia. Sejak kecil dunia mulai tidak berpihak dengan kepergian sang ibu akibat kecelakaan yang dialaminya. Sejak saat itu ayah Zora hilang kendali dan mulai menghabiskan sisa hidupnya untuk menjadi seorang penjudi.

Kekayaan perlahan kian terkikis, uang hasil kerja Zora tak berbekas setiap harinya. Dia sempat mencoba untuk kabur dari kehidupan ayahnya, dan di kali kedua dia mencoba pergi sang ayah justru menjadikannya sebagai taruhan main judi.

Nasib sial tidak berhenti di sana, dalam khayalan Zora dia akan diberikan pada pria muda yang kaya raya. Namun, takdir yang terjadi justru sebaliknya. Zora diberikan cuma-cuma kala sang ayah kalah melawan Julian Gilbert, pria licik yang memang terkenal sebagai penjudi kelas kakap di kotanya.

Kendati demikian, Zora benar-benar rela dan menerima takdirnya tanpa banyak bicara. Tidak ada jalan lain untuk membuat ayahnya berhenti berjudi, lagi pula Julian menikahinya secara baik-baik. Ya, walau pada akhirnya status Zora tidak jauh berbeda seperti seorang budak.

Semua pekerjaan rumah menjadi tanggung jawabnya, dan kini Lucas pulang yang benar-benar harus Zora rawat layaknya anak kandung seperti Julian katakan. Namun, berbeda dengan Lucas yang justru menganggap Zora berbeda.

Sejak awal, sama sekali dia tidak menganggap Zora sebagai ibunya. Jika sebagai adik mungkin dia bisa menerima, tapi untuk ibu mana mungkin bisa. Beberapa hari terakhir perdebatan mereka selalu sama, soal panggilan yang tak ada habisnya.

.

.

"Kau lelah?" tanya Lucas menatap keringat Zora yang mengucur di keningnya, selelah itu, tapi mungkin masih dia tahan-tahan saja.

"Mommy, Lucas."

Lucu sekali, dia pikir bayi? Lucas menggeleng pelan setiap kali Zora memintanya memanggil demikian. Tubuh semungil itu, dia bahkan lebih muda delapan tahun dibandingkan Lucas bisa-bisanya memaksa dipanggil Mommy.

"Daddy tidak ada di rumah, jadi biasa saja, Zora."

Zora menghela napas panjang, sudah berapa kali Lucas bersikap begini padanya. Tidakkah Lucas ketahui jika sikapnya yang begini bisa membunuh Zora secara perlahan? Padahal, dua penjaga di depan cukup menyeramkan dan seharusnya Lucas sadar akan hal itu.

"Zora," panggil Lucas pelan, dia mengguncang tubuh wanita itu pelan.

Zora sedikit kaku, tapi Lucas tidak peduli akan hal itu. Bahkan, mungkin saja Zora tidak nyaman dengan sikapnya yang seperti ini. Namun, sekali lagi Lucas tegaskan dia tidak peduli. Hatinya gusar andai tidak berada di dekat Zora, sungguh keputusan sang ayah yang tiba-tiba memperistri seorang wanita polos ini sama saja dengan membuatnya perlahan-lahan ingin gila.

"Bisa berhenti memanggilku begitu, Lucas? Ayahmu akan marah," tutur Zora melemah, fakta lain yang menjadi alasan dia keberatan dengan sikap Lucas adalah kemarahan Julian.

Bukan sekali dua kali Zora menjadi sasaran kemarahan akibat penjaga menatapnya secara tidak sengaja. Padahal, Zora sama sekali tidak meminta dan dia khawatir sikap Lucas justru sampai ke telinga Julian dan keduanya bisa mati seketika.

"Hahaha tidak bisa, aku suka memanggilmu begitu ... Zora-Zora-Zora-Zora-Zora."

Pantang dilarang, dia semakin menjadi dan membuat Zora bingung sendiri. Senyum tengil dan mata berbinarnya tidak bisa membuat Zora marah, mungkin benar kata Julian jika Lucas kekurangan kasih sayang seorang ibu.

Namun, untuk sikapnya yang kali ini agaknya berbeda. Lucas bukan sekadar tidak rela, tapi kini hasrat untuk merebut ibu tirinya mulai menggelora. Dia terpesona dengan wanita yang begitu mirip mendiang Giorgina, susah payah sembuh pasca hampir gila, kini di matanya kembali hadir sosok yang dia yakini sebagai rumah.

"Kau, aku istri ayahmu!! Sopan sedikit."

"I don't care, yang jelas namamu Zora," ucap Lucas tak terbantah, dia benar-benar jatuh pada wanita itu.

.

.

Lucas tak segan mengikutinya kemanapun, tanpa peduli meski penjaga yang dipercaya oleh Julian akan menangkap basah mereka. Bahkan CCTV yang terpasang di beberapa sudut ruangan sengaja Lucas rusak, hingga menciptakan sedikit ruang untuk dia bisa bersama Zora walau hanya beberapa saat.

"Menjauhlah, aku harus merapikan pakaian ini."

"Pekerjaanmu melelahkan sekali, apa tidak bisa rayu suamimu itu untuk mengembalikan semua pelayan di rumah ini?"

Lucas pernah membahas soal ini pada ayahnya. Namun, jawaban Julian justru terdengar menyebalkan dan membuat hati Lucas perih mendengarnya. Sejahat itu ayahnya jika sudah bertindak, hanya karena dendam pada ayah Zora, dia melakukan segala cara untuk menarik Zora menjadi istrinya.

Setelah itu, semua tugas yang seharusnya dilakukan oleh tiga orang pelayan dilimpahkan untuk Zora semua. Sebagai pria, dia merasa bersalah dan seolah kecewa pada dirinya, Zora yang malang dan Lucas bingung bagaimana cara menyelesaikannya.

"Zora," panggil Lucas masih terus memandangi wajah cantik ibu tirinya yang tampak lelah itu, sigap sekali dia merapikan pakaian di sana.

Zora diam, dia tidak akan menjawab jika Lucas terus memanggilnya demikian. Pria yang menikahi Zora sudah begitu tua, bahkan putranya sudah berusia 30 tahun. Namun, saat ini Zora tengah merasa dinikahi duda dengan anak balita yang merepotkan dan selalu mengikuti dirinya.

"Zora," panggil Lucas lagi, ingin sekali dia cubit wajah Zora yang kini cemberut.

"Baiklah ... Mommy." Sehalus itu dia memanggil, Zora hanya menatapnya sekilas sebagai isyarat jika dia mendengar panggilan Lucas.

"Apa lagi?"

"Bersama Daddy terlalu melelahkan, kenapa kau tidak bersamaku saja? Aku bisa memberikan apapun yang kau minta," tutur Lucas kembali tidak terlihat seperti anak, tapi pria dewasa yang tengah mengutarakan niatnya.

"Lucas ak_"

"Nyonya!!"

Baru saja hendak bicara, penjaga menyebalkan itu berteriak menghampiri Zora. Terpaksa wanita itu menghentikan pekerjaannya lebih dulu. Raut wajah Lucas mulai berubah, dia benar-benar tidak ikhlas dengan kepergian Zora saat ini.

"Apa apa?"

"Tuan besar pulang, mohon disambut kedatangannya, Nyonya."

Tidak rela, benci dan muak menyatu kala Zora benar-benar meninggalkannya demi pria lain, mirisnya pria itu adalah ayah kandungnya.

"Kau milikku, Zora!!"

.

.

- To Be Continued -

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!