NovelToon NovelToon

Istri Tersembunyi Para Idol

Bab 1. Awal bencana

Riyan Al Guzan berjalan sempoyongan menuju ke kamarnya, seraya berpegangan pada dinding kamar hotel. Seorang wanita muda, melihat Riyan kepayahan membuka pintu. Segera ia menghampirinya dan membantu Riyan membuka pintu kamar.

Dia adalah Yezline, adik sepupu dari Neyna sahabatnya Ayana, kekasih dari Riyan.

Tanpa pikir panjang, Yezline segera memapah Riyan ke tempat tidur. Riyan sudah sangat tak terkontrol, karena pengaruh alkohol.

Saat melihat Yezline, dimata Riyan Yezline adalah Ayana kekasihnya.

"Ay, kau disini? Aku, aku sangat menginginkanmu, Ay. Sekali ini saja, aku mohon, sayang. Aku sudah lama menahannya, Ay" racau Riyan, dengan tatapan sendu dan merayu.

Riyan menarik Yezline dan memberikan ciuman lembut di bibirnya. Yezline tersenyum puas karena Riyan menganggap dia adalah Ayana. Yezline diam saja saat Riyan menyentuhnya.

Sementara itu, Ayana yang baru saja tiba di rumahnya. Hatinya merasa sangat gelisah, jantungnya berdebar-debar tak menentu.

"Ada apa ini? kenapa hatiku sangat gelisah?" bisik batin Ayana. Tiba-tiba saja air matanya jatuh tanpa sebab.

"Kenapa aku sangat merindukan Riyan? Ini sudah sangat larut. Riyan pasti sudah tidur, tidak baik jika aku mengganggunya malam-malam begini hanya karena kegelisahan aku" gumam Ayana.

Setelah shalat dua rakaat, Ayana berusaha untuk tidur.

Antara sadar dan tidak Riyan mencoba membuka matanya yang terasa berat. Dan betapa kagetnya Riyan mendapati dirinya tidur bersama Yezline, dengan posisi seakan-akan dia sudah menghancurkan masa depan Yezline.

Riyan berusaha mengingat hal-hal yang terjadi sesaat sebelum ia tertidur. Riyan ingat dia tidak melakukan hal selain mencium Ayana.

Riyan bangkit dari tubuh Yezline, Yezline juga bangun dan berpura-pura terkejut juga takut. Dan menuduh Riyan sudah memaksanya.

''Kak Riyan jahat!'' ucap Yezline sambil menarik selimut dan menutup tubuh polosnya.

''Kak Riyan sudah menyentuh Yezline, sekarang bagaimana Yezline bisa menikah nantinya'' ujar Yezline dengan airmata yang sudah berlinang.

''Yezline, aku minta maaf mungkin saat aku mabuk, aku melakukan yang salah sama kamu. Maafin ya, Yez'' bujuk Riyan.

''Yezline tidak mau hamil tanpa suami, Kak" ujar Yezline lagi seraya menghapus airmata nya.

''Iya, Kakak akan tanggung jawab kalau benar Kakak sudah menyentuh Yezline'' ujar Riyan seraya mengusap-usap rambut Yezline.

Yezline berusaha menggoda Riyan, berpura-pura bangkit dan jatuh dalam pelukan Riyan.

Riyan seorang laki-laki normal yang pasti akan tergoda saat bersentuhan dengan wanita seksi. Riyan tak mampu menolak pesona Yezline, tatapan Yezline seakan mengundang Riyan untuk menyentuhnya.

Riyan berusaha bangun, namun tangan Yezline menekan dadanya. Yezline bertingkah seakan tak sanggup untuk berdiri.

"An-jing kalau dikasih daging mentah juga tidak akan menolak" batin Riyan yang sudah menggebu-gebu.

''Ini salah Kak Riyan, sampai Yezline gak bisa berdiri'' ujar Yezline seakan-akan sudah melakukannya.

''Apa sangat sakit?'' tanya Riyan merasa kasihan.

Yezline mengangguk dengan wajah sayu. Yezline belum juga beranjak dari dada Riyan, tangannya justru menyentuh bagian sensitif Riyan.

''Yezline, apa kita beneran sudah melakukannya?'' tanya Riyan lagi, menyelidiki kejujuran yezline. Riyan yakin kalau dia belum menyentuh Yezline. Riyan hanya ingin menguji sebatas apa Yezline menginginkannya.

''Kalau Kak Riyan gak percaya, cek aja sekarang'' ujar Yezline dengan suara pelan. Sebenarnya Yezline ada rasa takut saat mengucapkan kalimat itu. Namun sudah terlanjur berbohong sekali.

Hati Riyan bergemuruh, selama ini dia menjaga hati dan raganya hanya untuk Ayana. Sejak berpacaran dengan Ayana, Riyan belum pernah merasakan sentuhan wanita lagi. Dulu dia seorang playboy, sering gonta ganti pacar dan sudah pernah menyentuh banyak wanita. Hanya Ayana saja yang benar-benar sulit untuk ditaklukan. Bahkan cium saja, Ayana tidak membolehkan.

Walaupun hatinya masih milik Ayana, namun Riyan laki- laki dewasa yang butuh sentuhan wanita.

Riyan benar-benar menginginkan wanita sekarang.

"Yezline, kau yang menginginkannya'' ujar Riyan seraya berbalik dan menguasai Yezline. Riyan mengunci mulut Yezline dengan bibirnya.

Tak ada waktu untuk menyesalinya, Yezline pasrah dijamah Riyan hingga Riyan terkapar kelelahan.

Di balik pintu kamar itu, seorang pegawai wanita,menyunggingkan seringai jahat. Penuh kemenangan.

"Ayana, kamu akan merasakan setiap rasa sakit yang pernah aku rasakan semenjak kehadiran kamu yang membayangi hidupku. Lihat, Ayana! Laki-laki yang sangat kamu cintai kini justru tidur dengan wanita lain. Ini baru permulaan, Ayana! Akan ada hari yang lebih menyakitkan lagi kedepannya. Aku akan merusak semua kebahagiaan kamu!" bisik batin wanita itu, lalu melangkah capat meninggalkan tempat itu sambil menghapus air mata yang sempat jatuh karena hatinya juga sangat sakit saat ini.

Tiba-tiba Ayana terbangun dari tidurnya, seraya memegang dadanya.

Keringat membasahi tubuh Ayana.

"Astaghfirullah! Astaghfirullah! Ya Allah. Allaahumma innii a'uudzubika min 'amalisy syaithaani wa sayyi- aatil ahlaami" Ayana mengucapkan doa dengan khusyuk. Doa untuk mimpi buruk yang baru saja ia alami.

Ayana bermimpi melihat Riyan berada dalam api, dan itu sangat mengerikan.

"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan syaitan dan keburukan mimpi," ucap Ayana lagi, sambil menghapus airmata yang kembali jatuh tanpa sebab.

"Riyan, ada apa denganmu?" gumam Ayana karena hatinya terus saja teringat pada Riyan dan juga mimpi itu.

Ayana tak lagi bisa tidur, lalu Ayana bangkit dari duduknya menuju ke tempat wudhu yang ada di luar kamarnya. Ayana berwudhu untuk shalat tahajjud.

Ayana kembali menangis, meminta petunjuk dan perlindungan pada Allah.

Hatinya Ayana seakan berkata, "Lupakan Riyan" aneh sekali, tapi kata-kata itu terus berulang hingga Ayana mengucapkan doa,

"Ya Allah, jika Riyan adalah jodoh yang baik untukku, maka dekatkanlah. Namun bila Riyan bukanlah jodoh yang baik untukku, maka jauhkanlah" ucap Ayana dalam hatinya. Doa itu iya ucapkan dalam sujud terakhir dalam shalatnya.

Selesai shalat, hati Ayana lebih tenang. Kemudian Ayana membaca beberapa surat Al-Qur'an hingga azan subuh berkumandang.

****

Sementara itu, di Hz Hotel.

''Kak Riyan, jangan tinggalin Yezline'' ujar Yezline saat Riyan akan keluar kamar.

''Untuk saat ini, Kakak mohon jaga rahasia kita, jangan sampai orang lain tau. Ayana gak boleh tau sampai kami berpisah'' pinta Riyan pada Yezline.

Yezline hanya mengangguk lembut namun dalam hati Yezline justru berseru kegirangan.Tak sedikitpun rasa cemas akan dimarahi Ayahnya. Yezline adalah gadis yang selalu di manja dan di penuhi segala keinginannya oleh orangtuanya.

Saat Riyan sudah keluar kamar, Yezline kembali merebahkan diri berguling kesana kemari. Yezline benar-benar sangat bahagia hari itu. Dia segera menghubungi sopir pribadinya untuk menjemputnya di Hz Hotel.

****

Ayana dan Riyan kuliah di Fakultas dan jurusan yang sama. Keduanya mengambil jurusan Manajemen. Begitu juga dengan Neyna,Ulfa, Keyla dan Sindy. Mereka adalah sahabat dekat Ayana.

Setiap hari minggu, Ayana dan para sahabatnya sering nongkrong di cafe tepi pantai. Karena mereka paling senang mendengar suara deburan ombak yang saut-sautan tiada henti.

Ayana tidak pernah ingin pacaran, sebab hatinya pernah terluka. Ayana lebih memilih mengagumi para artis daripada berpacaran dan mencintai pria yang belum tentu setia padanya. Ya, Ayana punya pria idolanya yaitu Sean, sang aktor tampan asal negeri tirai bambu dan juga Jimin bintang K-Pop BOY asal Korea Selatan.

Namun demikian, Ayana tetap tau batasan diri. Dia menempatkan Sean dan Jimin dalam hatinya sebagai idola saja karena mustahil bagi Ayana mendapatkan cinta dari sang idola.

Seiring berjalannya waktu, Ayana mulai membuka hatinya untuk menerima Riyan.

Sejak menjalin cinta dengan Riyan, Ayana sangat bahagia.

Riyan pria yang romantis, sering memberikan kejutan-kejutan manis pada Ayana. Riyan tak segan-segan mengungkapkan rasa cintanya pada Ayana dan mengumumkan hubungannya dengan Ayana di depan banyak orang. Memang terlihat konyol, tapi itu membuat Ayana semakin yakin dengan cinta Riyan.

Tak ada celah bagi Ayana untuk meragukan ketulusan cinta Riyan padanya. Riyan tak pernah memaksa keinginannya pada Ayana, benar-benar sangat menjaga perasaan Ayana.

Begitupun Ayana terhadap Riyan. Riyan sudah berencana melamar Ayana pada orang tuanya. Atau lebih tepatnya pada Paman dan Bibinya, karena Ayana tinggal bersama Paman dan Bibinya semenjak orang tua kandungnya meninggal dunia.

Ayana tak pernah mengizinkan Riyan memeluk dan menciumnya. Karena itu, Riyan sering mencari pelarian di belakang Ayana. Namun Ayana tak pernah curiga sama sekali pada Riyan. Walau sekuat dan sebesar apapun cinta mereka, kalau sudah berhadapan dengan nafsu.. Cinta tak lagi bisa menahannya untuk terbang.

Saat mereka Wisuda, Riyan dan kawan-kawan mengadakan pesta kelulusan di hotel Hz hotel di kota M, milik orang tua Yezline.

Sial bagi Riyan, yang sudah terpengaruh alkohol justru dijebak oleh seorang mahasiswi, adik sepupu Neyna.

Yezline sudah lama mengagumi Riyan, namun tak pernah punya kesempatan untuk mendekati Riyan, karena Ayana slalu bersama Riyan.

Yezline ikut bergabung dalam pesta perayaan kelulusan sepupunya itu.

Bahkan setengah dari biaya pesta ditanggung Ayah Yezline sebagai hadiah untuk Neyna.

Ayana dan para sahabatnya kembali ke rumah setelah pesta berakhir, namun Yezline tidak ikut kembali.

Dan malam panjang itu terjadi, Yezline menjerat Riyan kedalam perangkapnya.

Bab 2. Pantai kenangan.

Hari ini, Ayana dan beberapa kawan dekatnya semasa di kampus mengadakan acara reunian. Lebih tepatnya, mereka berlibur dari kepenatan kerja. Berkumpul bersama teman-teman dekat adalah hal yang mengasyikan bagi Ayana.

Dan hari ini juga merupakan hari yang sangat membahagiakan bagi Ayana. Bagaimana tidak, sebulan sebelum acara reunian ini, Riyan sudah melamarnya. Dan rencananya setelah bertunangan, mereka akan langsung menikah.

Saat Ayana mengajak menikah, Riyan sedikit terkejut. Tak percaya dengan apa yang di dengarnya itu.

"Hah! menikah?!, apa nggak sebaiknya kita tunda dulu sampai aku siap membangun rumah untuk kita, Ay?" ujar Riyan dengan wajah terkejutnya.

"Riyan, dulu kamu sendiri yang bilang, kita akan menikah setelah lulus kuliah dan punya kerja. Sekarang kita sama-sama sudah kerja lho" ujar Ayana, mengingatkan Riyan akan janjinya.

"Ya enggak gitu juga, Ay! kita kan butuh tempat tinggal setelah menikah, nggak enak tinggal bersama ortu" Riyan memberi alasan.

"Kita menjalin hubungan sudah lima tahun, apa salahnya kita menikah. Aku enggak mau kita pacaran-pacaran lagi. Tapi jika memang kamu tidak mau menikah, baik akhiri saja hubungan kita. Aku benar-benar tidak mau pacaran lagi, Riyan. Aku mau nikah pokonya" sungut Ayana.

Riyan berpikir sejenak, lalu menghela nafas.

"Baiklah, aku janji minggu ini akan datang melamar mu" ujarnya seraya membelai pucuk kepala Ayana.

Sepulang dari kantor, seperti yang dijanjikan Riyan, Riyan datang bersama ortunya meminang Ayana kepada kedua orang tua Ayana, yaitu Paman dan Bibi Ayana. Riyan juga merupakan anak tunggal dalam keluarganya. Seperti halnya Ayana, Ayana hanya memiliki adik sepupu dari Paman dan Bibinya yang masih SMP, tapi dia tinggal di asrama pesantren. Walau jarang bertemu, Ayana sangat menyayangi satu-satunya adik sepupu yang Ayana punya.

Setelah acara lamaran, orang tua mereka menetapkan tanggal pertunangan mereka juga sekalian tanggal pernikahan mereka. Ortu Riyan enggak suka bertele-tele, kalau sudah cinta ya menikah saja. Apa lagi Riyan sudah punya kerja. Kalau soal Rumah, Ayahnya sudah menyiapkan dana untuk beli rumah jika tidak mau tinggal serumah dengan orang tua.

"Namanya juga pengantin baru, pasti maunya berdua saja" ujar Pak Sherkan Al Guzan. Disambut anggukan Paman Ayana, setuju dengan saran Papa Riyan.

Dan rencananya di acara reunian ini, Riyan akan mengumumkan pada kawan-kawan juga pada sahabatnya kalau Riyan dan Ayana akan segera bertunangan dan menikah dua bulan lagi.

Sejak dari bangun pagi, Ayana selalu tersenyum cerah secerah mentari pagi. Ayana membayangkan betapa hebohnya teman-teman juga para sahabat, saat mereka tau kalau Riyan sudah melamarnya dan akan segera menikahinya.

Sindy dan Neyna sudah lebih dulu tau, karena saat acara lamaran itu Neyna dan Sindy ada di rumah Ayana.

Saat hendak naik kedalam mobil, Ayana melihat Bik Ida berlari kearahnya sambil membawa jaket kesayangan Ayana di tangannya. Ayana tersenyum melihat Bik Ida yang susah payah berlari karena badanya sudah semakin berisi.

"Non! jaketnya ketinggalan!" teriaknya sambil berlari tergopoh-gopoh.

"Terimakasih Bik" ucap Ayana lembut seraya mengambil jaket itu lalu meletakkan di pangkuannya.

Sebenarnya Ayana sengaja tidak membawa jaket itu, karena Ayana berfikir kalau Riyan akan memberikan jaket couple yang Riyan beli kemarin.

Dia yakin, Riyan membeli jaket couple itu untuk mereka berdua. Dan akan diberikan nanti, pikirnya. Tapi dia tidak mau mengecewakan usaha Bik Ida yang susah payah berlari tadi demi bawain jaket yang Bik ida kira itu tertinggal.

Ketika tiba di tempat reunian, Ayana langsung disamperin Ulfa dan Sindy yang sudah lebih dulu tiba di sana.

"Lama banget sih Ay, datang nya. Aku sama yang lain hampir kering nungguin kamu" ujar Ulfa seraya tertawa.

"Semenit lagi kamu gak datang, Ulfa auto jadi ikan asin" ujar Sindy seraya tertawa riang. Ulfa terus manyun.

"Ayo, semua sudah datang, kecuali kamu sama tuan putri Neyna yang juga belum nongol" ujar Sindy sambil membatu Ayana membawa kotak berisi makanan.

Ulfa dan yang lainya juga ikut membantu pak Gunawan menurunkan makan dan minuman yang dibawa Ayana.

"Banyak bener makanannya, Ay. Kalau tidak habis dimakan, boleh aku bawa pulang terus aku jual lagi kan ya?" ujar Aldi seraya mengangkat kotak kue.

"Aku rasa sebelum yang lain memakannya, sudah lebih dulu kamu asingkan buat di jual lagi" ujar Vico yang turut membatu membawa minuman kaleng.

"Ntar kamu juga dapat bagian, jika mau bantu menjualnya" ujar Aldi seraya tertawa lucu.

"Tau aja!" jawab Vico, lalu ikut tertawa. Dua teman laki-laki Ayana ini memang sering melucu kalau sudah bertemu.

Ayana mencari keberadaan Riyan yang tak terlihat batang hidungnya.

"Di sana!" tunjuk Sindy.

"Tau aja kalau aku lagi nyari pujaanku" ujar Ayana seraya berlari menghampiri Riyan yang sedang menelfon seseorang.

Raut wajah Riyan terlihat pias, saat melihat Ayana ada dibelakangnya.Wajahnya terlihat kesal, juga terkejut.

"Ayana, bikin kaget saja" ucap Riyan dengan mimik terkejut.

"Sudah berapa lama kamu disitu?" tanya Riyan lagi. Riyan terlihat sangat gugup saat menanyakannya.

"Baru saja, maaf sayang, kalau aku mengejutkanmu" ujar Ayana, merasa tak enak hati dengan tatapan kesal Riyan. Akhir-akhir ini, Riyan sering bersikap aneh. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan darinya. Namun Ayana selalu berfikir positif, mungkin Riyan lelah dengan kerjaannya di kantor.

Terkadang, saat kita merasa lelah dengan pekerjaan atau sedang ada masalah, tak ayal kita terbawa emosi. Dan mungkin saja Riyan sedang banyak kerjaan kantor, apa lagi tak lama lagi mereka akan menikah.

"Riyan pasti nervous" pikirnya.

Semenjak lamaran itu, Riyan berubah total. Riyan lebih sering ingkar janji dan juga sering bicara dengan nada tinggi, walau setelah itu dia minta maaf. Alasannya tetap sama, yaitu kerjaan kantor. Sebentar-sebentar harus keluar kota dan sebagainya. Seribu alasan jika sudah melakukan kesalahan dan ingkar janji.

"Oh, kirain sudah lama" gumamnya pelan.

"Kamu ada masalah kantor lagi?" tanya Ayana sambil menatap Riyan penuh selidik.

"Iya nih, banyak banget masalahnya" jawab Riyan seraya berbalik menatap laut.

"Apa perlu aku bantu?" tanya Ayana lagi, biasanya kalau Riyan ataupun Ayana sedang banyak kerjaan. Mereka akan saling bantu.

"Tidak, tidak usah. Aku bisa sendiri" jawabnya, masih dengan memandang laut. Menghindari bertatap mata dengan Ayana.

Riyan menggandeng tangan Ayana, berjalan ditepi pantai. Sesekali Riyan mencubit pipi Ayana karena gemas dengan lelucon Ayana. Dalam hati Riyan sebenarnya sedang sangat gelisah, telepon yang baru saja ia terima adalah dari Yezline. Yezline mengabarinya kalau dia positif hamil, dan meminta Riyan segera menikahinya.

Riyan yakin kalau itu bukan anaknya. Karena setiap kali mereka berhubungan, Riyan selalu menggunakan pengaman. Kecuali saat di Hz hotel itu, dia lupa menggunakan pengaman. Jika saat itu hamil, maka sekarang sudah lahir harusnya.Tapi Yezline berkilah, kalau itu bisa saja bocor.

Saat sedang berdebat dengan Yezline di telfon. Riyan mendengar suara langkah kaki dibelakangnya, dan mendapati Ayana yang sudah berdiri di sana sambil menutup mulutnya.

Riyan tidak yakin apa Ayana mendengar percakapan itu atau tidak. Tapi Ayana tidak memperlihatkan sikap marah, ataupun terkejut apalagi sedih. Wajah Ayana hanya sedikit berubah saat Riyan menanyakan sudah berapa lama dia di sana. Sudah menjadi kebiasaan Riyan, jika bicara dengan nada tinggi segera meminta maaf. Itu yang membuat Ayana merasa Riyan benar sedang ada banyak kerjaan di kantor.

Namun, apa yang ia dengar tadi itu sungguh membuatnya bertanya-tanya. Melakukan apa dan dengan siapa? Namun Ayana tak mau menambah beban Riyan dengan bertanya hal yang belum tentu seperti yang ia pikirkan. Pikiran buruk itupun ia tepis dengan mencairkan suasana tegang tadi. Ayana menceritakan tentang Aldi yang ingin menjual sisa makanan acara hari ini jika tak habis dimakan. Padahal Aldi adalah anak orang kaya di kotanya. Begitu juga dengan Vico yang sudah malang melintang di dunia perfilman. Vico sudah mendalami seni peran semenjak dari usia 15 tahun dan sekarang sudah berusia 26 tahun. Tapi belum juga berniat menikah.

Saat Ayana sedang bermain air laut dengan Riyan, Sindy mengajak mereka untuk makan siang. Karena sudah saatnya makan, dan sebentar lagi waktu shalat zhuhur tiba.

Rencana nya nanti malam mereka akan mengadakan api unggun. Bernyanyi dan berpesta di bawah sinar bulan, dan akan pulang besok pagi.Dan malam ini mereka akan menginap di penginapan yang sudah di sewa oleh Aldi untuk teman-temannya ini. Sore ini mereka akan mandi laut dan memancing ikan. Begitulah rencana awal.

Saat Ayana dan Riyan sedang makan siang bersama Sindy dan Ulfa, juga beberapa teman lainnya, Neyna datang dengan wajah kusut. Sebab Yezline merengek minta ikut berlibur bersamanya. Neyna nggak habis pikir dengan Yezline, yang slalu ikut campur dalam segala hal yang menyangkut hubungannya dengan Ayana dan Sindy.

Kemanapun Ayana pergi bersama Neyna, Yezline pasti minta ikut.

Ulfa menawarkan ikan, pada Yezline, namun Yezline menutup hidungnya dan seperti menahan muntah lalu berlari kelaut, berusaha memuntahkannya. Katanya ikan itu masih bau amis.

Dan dia mual dengan hanya melihatnya. Lalu Ulfa kembali menawarkan Ayam goreng, lagi-lagi dia menolaknya.

"Kamu dah kenapa, macam orang hamil saja!" ujar Vico, kesal dengan sikap Yezline.

Riyan yang sedang minum air, mendengar kata-kata Vico jadi terbatuk-batuk, tersedak air.

"Vico! nggak boleh gitu, kasian Yezline. Mungkin dia lagi dapet, biasanya perempuan kalau lagi dapet, hormonnya terganggu" ujar Ulfa, membela Yezline

"Pasti hasil dari merebut calon suami orang saat kota itu" Gumam Aldi, yang duduk dekat Sindy seraya melirik Riyan. Mata Sindy membulat mendengar gumaman Aldi. "Maksudmu apa?" tanya Sindy dengan berbisik pada Aldi.

"Nanti aku kasih tau" bisik Aldi pada Sindy.

Aldi sudah tidak sanggup menutupi kebusukan Riyan.

"Janji ya!" bisik Sindy lagi

"Janji nona manis" ujar Aldi mengacungkan jari kelingkingnya.

Selesai makan, Sindy buru-buru menarik Aldi menjauh dari kawan-kawannya menuju pantai.

"Hei, tunggu dulu! Jangan buru-buru, agresif sekali dirimu" ujar Aldi, tapi tetap membiarkan Sindy menariknya menjauh dari teman-temanya.

"Aldi, katakan apa yang kamu ketahui tentang Yezline?" Tanya Sindy setelah sampai di tepi laut dan sudah jauh dari semua teman-teman mereka.

"Riyan selingkuh" ucapnya singkat, dan berhasil membuat Sindy terkejut. Sindy menutup mulutnya agar tidak memaki. Sindy tidak menanyakan apa-apa lagi, dia hanya duduk di pasir dengan berjongkok.

"Lututku lemas, kau pergilah, jangan ceritakan pada siapapun" ujarnya pada Aldi. Aldi hanya mengangguk lalu berniat pergi, setelah menjawab pertanyaan Sindy.

"Kamu baik-baik saja?, perlu aku papah?" tanya Aldi, menawarkan bantuan pada Sindy. Tidak tega melihat Sindy seakan gemetar.

Kalau sedang emosi, Sindy sering gemetar.

"Tidak usah, kalau mereka tanya, bilang saja aku lagi cari kerang" ujar Sindy yang mulai meremas pasir dengan kuat karena emosi pada Riyan. Aldi melihat itu segera menahan tangan Sindy agar tidak terluka.

"Hei, hati-hati! tanganmu bisa terluka" Sergah Aldi, seraya memegang tangan Sindy yang sedikit berdarah karena terkena patahan karang atau cangkang kerang.

"Tuh kan, kubilang juga apa! berdarah jadinya" ujar Aldi lagi.

"Ayo, aku bawa kamu ke penginapan, istirahat di sana. Setelah tenang, hubungi aku, biar aku jemput" Ajak Aldi, lalu membantu Sindy berdiri.

Sindy bangkit dengan berpegangan pada tangan Aldi. Ulfa melihat ada yang aneh dengan gelagat Sindy, yang terlihat emosi saat melihat ke arahnya.

"Apa Sindy sudah tau kalau aku dan Aldi pacaran? Tapi kok dia kelihatan marah, kenapa?" batin Ulfa.

Tatapan mata Sindy benar-benar seperti mau menelan hidup-hidup orang yang ditatapnya. Sebenarnya yang Sindy lihat adalah Riyan, yang kebetulan berada dibelakang Ulfa. Yang sedang duduk dengan Yezline.

Ulfa yang merasa di tatap Sindy, bergidik ngeri. "Aduh, aku salah apa Sindy? Maaf aku belum bilang kalau aku pacaran dengan Aldi, karena aku malu mengakuinya pada kalian" bati Ulfa, seraya tersenyum pada Sindy. Merasa bersalah karena menutupi hal itu pada sahabat karibnya itu.

"Ulfa, aku mau ke penginapan. Tanganku terluka" tunjuknya. Ulfa melihat tangan Sindy yang berdarah.

"Kenapa bisa terluka?" tanya Ulfa, panik. Sindy terlihat meringis karena perih seraya mengikuti Ulfa, menuju mobil Aldi.

"Jadi, perempuan itu si Yezline?" tanya Sindy saat mereka sudah duduk dalam mobil.

"Iya" jawab Aldi, sambil terus mengemudi. Ulfa yang duduk disamping Aldi diam saja menyimak pembicaraan Sindy dan Aldi.

"Sejak kapan?" tanya Sindy lagi.

"Aku taunya sejak kami ditugaskan ke luar kota, sama Bos. Siapa sangka aku bertemu Riyan dan Yezline di sana dan mereka tidur sekamar. Awalnya Riyan menyangkalnya. Namun Reyhan kekeh mau tidur bareng Riyan malam itu. Namanya juga Yezline, baru sebentar sembunyi dikamar mandi, sudah nggak betah. Dan akhirnya Riyan mengaku kalau mereka memang berhubungan. Sempat dapat bogem mentah juga sih dari Reyhan" ujar Aldi panjang lebar.

Setiba di penginapan, Sindy menangis sejadi-jadinya. Ulfa berusaha menenangkan Sindy yang sedang emosi. Sindy dan Ulfa kembali ke pantai saat hari sudah sore, setelah mengompres matanya yang bengkak karena menangis.

Sindy menghampiri Ayana yang sedang memasukkan beberapa barang yang ia bawa dari rumah tadi pagi, di bantu Reyhan dan Keyla. Ulfa juga memutuskan pulang bersama Reyhan karena searah.

"Cuaca tidak memungkinkan untuk kita buat api unggun, malam ini. Jadi sudah diputuskan untuk kembali lebih awal. Bagi yang mau menginap di penginapan, dipersilahkan dan bagi yang mau pulang juga silahkan. Soalnya keadaan cuaca semakin tidak bersahabat" ujar Aldi pada kawan-kawannya, yang sedang bersiap-siap kembali ke mobil masing-masing.

Bab 3 Terbongkar.

Ayana, Ulfa dan Keyla menumpang mobil Reyhan. Karena rumah mereka searah dan berdekatan. Mobil yang ditumpangi Ayana, keluar lebih dulu dari parkiran menuju jalan arah pulang. Aldi memilih menginap di penginapan bersama Vico dan yang lain.

Sementara Neyna, Yezline, dan Sindy naik mobil Riyan. Awalnya Riyan dan Sindy sudah akan keluar dari parki karena Riyan akan berangkat keluar kota lagi besok pagi. Dan ingin segera istirahat.Tapi tiba-tiba Yezline meminta menumpang mobil Riyan.

"Aku mau naik mobil kak Riyan" ucap Yezline sambil terus berjalan dan mengetuk kaca mobil Riyan.

"Kak, boleh kami numpang mobil kakak?" Tanya Yezline basa basi.

Belum juga di persilahkan, Yezline sudah membuka pintu dan duduk dalam mobil. Riyan hanya tersenyum melihat tingkah Yezline.

"Masuklah Ney" ajak Sindy pada Neyna.

"Huufft!" Neyna menghela nafas berat, menahan jengkel dalam hati.

"Maaf Riyan, jadi merepotkan kamu" ucap Neyna lagi.

"Iya, tidak masalah. Siapa dulu yang aku antar nii?" tanya Riyan.

"Antar kak Sindy dulu saja, baru setelah tu antar kami" Jawab Yezline.

"Tapi rumah kami berdekatan, dek! dan Riyan sudah cukup lelah hari ini. Dia harus segera pulang untuk istirahat, karena besok dia harus berangkat keluar kota. Bagaimana kalau kalian nginap di rumah ku malam ini, besok aku antar" Sindy menyarankan.

Yezline tak menyahut lagi, dia terlihat kesal pada Sindy.

"Terserah kak Riyan mau antar siapa dulu" ujar Yezline kemudian.

Riyan terpaksa mengantar Sindy lebih dulu, nurut kata Yezline. Setelah mengantar Sindy sampai di depan rumah, Riyan terus melaju mobil untuk mengantar Neyna dan Yezline. Neyna terheran-heran melihat sikap manja Yezline pada Riyan. Tapi Neyna tak mau ambil pusing, sebab sudah sering dibuat pusing sama sikap Yezline padanya.

Setiba di rumah Neyna, Neyna segera turun setelah mengucapkan terimakasih pada Riyan. Sementara Yezline masih sibuk mencari sesuatu, yang katanya jatuh dalam mobil Riyan.

"Apa sih yang jatuh?" tanya Neyna penasaran.

"Bukan apa-apa, hanya benda kecil yang sering aku bawa" jawab Yezline sambil tersenyum.

"Apa sih, biar aku bantu cari" Neyna mulai nggak sabar.

"Nggak apa-apa, aku cari sendiri aja. Kak Ney masuk aja duluan" tolak Yezline lagi.

"Ya sudah, aku masuk duluan" kata Neyna, seraya meninggalkan mereka berdua

"Huh, akhirnya" gumam Yezline, lalu buru-buru masuk lagi ke dalam mobil dan segera menutup pintu.

"Yezline, jangan begini" ujar Riyan, menolak dipeluk sama Yezline.

"Kenapa kak, kakak sudah nggak sayang Yezline?" tanya Yezline.

"Ini salah Yez, aku sebentar lagi akan menikah dengan Ayana" ujar Riyan.

"Bagaimana dengan aku, kak? Aku nggak bisa melepaskan kak Riyan, Bagaimana dengan anak ini?" Yezline tak melanjutkan kalimatnya. Matanya mulai menganak sungai. Sunyi nggak ada yang bicara.

"Aku sudah bilang, aku hanya mencintai Ayana dan saat itu aku juga sudah minta maaf. Waktu itu aku sedang mabuk dan aku khilaf" ujar Riyan.

"Kak Riyan slalu saja bilang khilaf, tapi aku akan merasa kekhilafan kak Riyan itu sebagai bencana seumur hidupku" ujar Yezline mulai menguras air mata.

"Aku saat itu terpengaruh alkohol Yez, tak bermaksud menyentuhmu" ujar Riyan lagi, mencoba membujuk Yezline agar tenang.

"Apa kak Riyan lupa! kita melakukannya hampir di setiap bertemu! Dan sekarang aku hamil ,anakmu" ucap Yezline sambil terisak.

"Dan lagi, mana ada khilaf berulang kali, sampai aku hamil" ujar Yezline lagi, seraya keluar dari mobil sambil menangis.

Riyan mengejar dan menarik Yezline kedalam pelukannya. Mereka berpelukan seperti kekasih yang saling mencintai, sedang melepas rindu.

"Maaf Yezline, maaf. Beri aku waktu untuk menjelaskan pada Ayana" Pujuk Riyan pada Yezline.

Neyna yang tadinya sudah masuk kedalam rumah, balik lagi. Karena paper bag yang berisi perlengkapan mandinya, tertinggal jok belakang mobil.

Mata Neyna membelalak, terkejut. Seakan tak percaya dengan apa yang dia lihat.

"Riyan dan Yezline! apa yang sedang mereka lakukan?!" batin Neyna, seraya menutup mulut dan berbalik, terus kembali masuk kedalam rumah.

"Sejak kapan? Ya Tuhan! Sejak kapan mereka bersama?, Riyan benar-benar tega pada Ayana. Dan, bukankah dua bulan lagi, Ayana dan Riyan akan menikah? Oh Tuhan!" Neyna menaiki tangga sambil bergumam-gumam kecil.

Neyna segera masuk kedalam kamarnya, lalu mengunci pintu.

Cepat-cepat dia menghubungi Sindy dan menceritakan apa yang dia lihat barusan.

"Aku juga terkejut saat Aldi bilang kalau Riyan selingkuh, sebenarnya tadi aku mau menanyakan langsung pada Riyan,tapi siapa sangka kalau kalian ikut pulang dengan kami" Ujar Sindy saat merespon apa yang Neyna ceritakan. Neyna sedih, karena adik sepupunya yang jadi perusak hubungan sahabat karibnya.

"Kita harus kasi tau Ayana, percaya atau tidak.. kita tetap harus menceritakan semua pada Ayana. Apapun keputusan Ayana, kita tetap dukung" ujar Sindy kemudian.

"Aku hubungi Ayana sekarang, kita ajak Ayana bertemu di restauran besok" ujar Sindy sebelum menyudahi panggilan teleponnya.

Sindy segera menghubungi Ayana setelah menerima telepon dari Neyna, dan meminta bertemu di restoran besok saat jam pulang kantor.

"Ada yang mau kami sampaikan pada kamu, Ay. Hal yang sangat penting, jadi jangan tidak datang" ujar Sindy sebelum mengakhiri panggilan teleponnya.

"Ada apa ya, sepertinya serius sekali" gumam Ayana setelah naik ketempat tidur. Telepon dari Sindy seperti ada sesuatu yang serius, yang akan dia dengar besok dari dua sahabatnya itu.

Ayana kembali teringat, saat tanpa sengaja melihat liontin kalung Yezline juga huruf RY. Sedang jam tangan yang Riyan sering pakai sejak selesai kuliah juga ada huruf RY.

Apa lagi tadi Riyan juga tidak jadi mengumumkan soal rencana pernikahan mereka. Riyan juga seakan menjauh darinya, sejak Yezline dan Neyna datang. Dan kenapa saat Vico bilang kalau Yezline seperti orang hamil, Riyan sampai tersedak. Anehnya lagi, Sindy yang ke penginapan tanpa mengajaknya. Kenapa Sindy seperti sedang menahan amarah saat melihat ke arah Riyan dan Yezline setelah berbicara dengan Aldi.

"Pasti ada hal yang membuat Sindy begitu marah, tapi.. pada siapa? Pada Riyan atau pada Yezline ?" Ayana bertanya-tanya sambil mengingat setiap kejadian di pantai tadi.

"Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi, Aamiin" ujar Ayana sebelum menarik selimut hingga menutup dada. Setelah mengucapkan doa, ia segera tidur.

Baru sebentar memejamkan mata untuk tidur, Ayana kembali membuka matanya.

"Alamak! aku belum cuci muka lagi, ini semua gara-gara Sindy. Aku jadi kepikiran dan hampir lupa cuci muka. Hadeh!" gerutunya dan segera bangkit menuju kamar mandi.

"Kalau sampai wajahku berjerawat, aku akan menguras uangmu untuk membawaku ke salon kecantikan, sebagai kompensasi atas wajahku yang berjerawat gara-gara menerima telepon mu, Sindy!" Racau Ayana saat sedang mencuci wajahnya.

Setelah selesai mencuci wajah dan berganti pakaian, Ayana merebahkan diri di tempat tidurnya. Pikirannya menerawang jauh. Walau sudah ia coba menepis semua kecurigaannya terhadap Riyan, tetap saja ada rasa yang mengganjal dibenaknya. Riyan benar-benar banyak berubah akhir-akhir ini.

Saat Ayana masuk rumah sakit, Riyan tidak datang menjenguk. Padahal kawan-kawan yang lain datang menjenguk, katanya lagi sibuk banget di kantor. Rasa hati berdenyut nyeri saat Ayana mengingat semua itu. Apa lagi saat Ayana mengenang saat Yezline sakit. Berbeda banget perlakuannya terhadap Yezline.

Bagaimana tidak, saat itu Ayana mengajak Riyan ke Mall. Sindy dan Neyna juga ikut. Mereka rencananya mau berbelanja keperluan bulanan dan sebagainya. Namun saat sedang asik berbelanja, handphone Riyan berbunyi. Dan Riyan menjauh untuk menjawab panggilan itu.

Sesaat setelah itu, Riyan kembali lagi. Dia terlihat gelisah. Sindy memperhatikan gelagat Riyan yang mulai terlihat tidak nyaman. Sebagai sahabat, Sindy ingin tau.

"Siapa yang menelpon?" Tanya Sindy penasaran.

"Bukan siapa-siapa jawabnya, gak penting" jawabnya. Karena Riyan menjawab begitu, jadi Ayana dan yang lainya melanjutkan kembali pilih baju yang mau di beli.

Handphonenya kembali berdering, dan lagi-lagi Riyan menjauh saat akan menjawab panggilan itu. Kali ini Riyan terlihat emosi saat berjalan ke arah mereka.

"Apa handphone kalian di silent?" tanya Riyan dengan emosi. Sindy, Ayana dan Neyna menunjukkan handphone mereka yang tidak di silent.

"Handphone kami tidak pernah di silent kecuali dalam Masjid" jawab Neyna kesal.

"Kenapa sih, nanyanya marah-marah gitu. Bisa enggak sih, bicara dengan nada rendah,?, jangan pake emosi?" Tambah Sindy yang juga kesal.

"Ada apa? kenapa tiba-tiba nanya dengan emosi gitu?" Tanya Ayana yang bingung dengan sikap Riyan barusan.

"Periksa pesan masuk atau panggilan" ujar Riyan yang mulai enggak sabaran. Sindy dan Neyna menurut saja, tidak ada pesan atau panggilan masuk yang baru.

Ayana masih terus memandangi wajah Riyan, bingung dengan Riyan yang bersikap aneh.

Melihat itu, Riyan lantas menarik kasar handphone Ayana dan memeriksa pasan juga panggilan masuk. Memang tidak ada pesan apalagi panggilan masuk dari Yezline.

"Yezline sakit, dan tidak selera makan. Yezline minta dibelikan bubur sumsum yang dijual di Mall ini" ujar Riyan kemudian.

"Adik sialan itu, kenapa tidak minta dibelikan sama aku. Kenapa minta sama calon suami orang" ujar Neyna yang geram sama sikap adik sepupunya itu.

"Dia sudah hubungi kamu, tapi nggak nyambung katanya" Riyan membela Yezline. "Ya sudah, nanti aku belikan" ujar Neyna sambil terus memilih baju yang cocok untuknya.

Kemudian Neyna menghubungi Tantenya, Mama Yezline. Setelah panggilan berakhir, Sindy menanyakan kabar Yezline. Neyna memberitahukan kalau Yezline hanya sakit biasa. Neyna kembali memilih baju.

"Kamu ya, adik sedang sakit! Kamu malah asik belanja. Ayo aku antar ke rumahnya sekarang" Riyan terlihat marah pada Neyna. "Yezline hanya demam biasa, hanya nggak selera makan. Bukan sakit seperti Ayana seminggu lalu, kenapa kamu sewot sama aku?" Neyna semakin geram dengan Riyan.

"Aku pulang aja deh, sebel aku sama Riyan" ujar Neyna yang segera ngeloyor pergi. Ayana mengambil baju-baju yang sudah mereka pilih, hendak membawa ke kasir.

"Nggak usah ke kasir lagi, taruh disitu. Ayo kita ke rumah Yezline" ajak Riyan seraya menarik tangan Ayana.

"Riyan!, kenapa sih!?, Kalau kamu khawatir sekali pada Yezline, sana terbang ke rumah pujaan mu itu!" ketus Sindy sambil memungut baju-baju yang jatuh dari tangan Ayana akibat tarikan Riyan.

Riyan terdiam saat mendengar kata-kata Sindy.

"Pujaan apanya, dia kan adiknya Neyna. Wajar kan kalau kalian harus perhatian padanya" ujar Riyan,membela diri.

"Ayana juga punya adik sepupu, tapi kenapa kamu nggak se perhatian itu. Ah iya, Saat Neyna sakit saja kamu nggak sudi menjenguk. Tapi kenapa adiknya sakit, kamu jadi seperhatian ini" ujar Sindy, sambil berjalan menuju kasir.

"Kami nggak suruh kamu yang bayar, jadi diam lah" ujar Sindy, saat Riyan mau bicara lagi.

Ayana menahan sakit dipergelangan tangannya, akibat tarikan Riyan tadi. Riyan tidak memperdulikannya, dia terus pergi membeli bubur pesanan Yezline. Kemudian menghubungi Neyna, menawarkan diri mengantar Neyna ke rumah Yezline. Sayangnya, Neyna sudah naik Taxi, dan juga sudah membeli bubur kesukaan Yezline.

Neyna juga sudah mengabari Sindy kalau dia sudah sampai di rumah Yezline dan sudah memberikan bubur pesanannya. Namun Riyan tetap maksa Sindy dan Ayana ikut pergi bersamanya ke rumah Yezline.

"Ada apa dengan Riyan" lirih batin Ayana, lalu kembali memejamkan mata, untuk tidur.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!