NovelToon NovelToon

The House

Madison, Sang Pecandu

Di sebuah hutan yang sudah gelap karena waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam, seorang wanita berlari dengan tergesa-gesa melewati pepohonan yang yang ada di tengah hutan. Wanita itu menoleh sesekali untuk melihat kebelakang. Kedua kaki tidak menggunakan apa pun, dia berlari sekuat tenaga seperti sedang melarikan diri dari sesuatu.

"Jangan, jangan mengejar aku!" teriak wanita itu namun tidak ada siapa pun yang terlihat.

Angin bertiup kencang, asap tebal menyelimuti hutan. Dedaunan kering yang ada terbang ditiup oleh angin. Wanita itu terus berlari, berlari dengan sekuat tenaga. Dedaunan kering seperti mengejar dirinya, suara bisikan mengerikan terdengar di telinganya.

"Bergabunglah... Bergabunglah dengan kami!" suara bisikan itu terus terdengar sehingga membuat wanita itu semakin ketakutan.

"Tidak, biarkan aku pergi!" wanita itu kembali berteriak ketakutan.

Dia tidak peduli dan terus lari, lari dari sesuatu yang terus mengejarnya namun sesuatu itu tidak terlihat.

"Hi.. Hi... Hi... Hi!" tawa mengerikan menggema di dalam hutan. Wanita itu terus berlari, napasnya pun sudah memburu. Dia tidak tahu sudah berlari seberapa jauh tapi dia harus lari sejauh mungkin.

Wanita itu semakin tampak panik, asap tebal menghalangi pandangannya dari hutan yang hanya disinari oleh sinar bulan saja. Wanita itu berlari semakin kencang mungkin namun naas, dia harus terjatuh karena kakinya tersandung akar pohon. Dia hendak beranjak namun sesosok wanita dengan wajah mengerikan berdiri tepat di hadapannya.

"Tidak, biarkan aku pergi. Biarkan aku pergi!" teriak wanita itu sambil memundurkan tubuhnya ke belakang.

"Kau harus ikut dengan kami!" sosok mengerikan itu berteriak sehingga suaranya melengking di tengah hutan.

"Tidak, aku tidak mau!" wanita itu terus memundurkan tubuhnya namun dia dikejutkan oleh akar pohon yang tiba-tiba menjerat lehernya.

"Kau akan bergabung dengan kami, hi..  hi.. hi...!" suara mengerikan itu terdengar banyak, teriakan wanita itu bahkan kalah oleh suara tawa mengerikan itu.

Tubuh wanita itu ditarik oleh akar pohon yang menjerat lehernya, menariknya kembali ke sebuah rumah di mana dia baru saja melarikan diri.

"Tidak, aku tidak mau!" wanita itu hanya bisa berteriak nyaring saat tubuhnya ditarik masuk.

"Lepaskan aku!" wanita itu berteriak namun angin kencang sudah menutup daun pintu rumah tersebut. Suasana di luar mendadak sunyi, tapi suara teriakan terdengar dari dalam rumah. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi, tidak ada pula yang tahu dengan kejadian itu sampai akhirnya tidak ada suara apa pun dan keadaan hutan kembali sunyi.

.

.

.

Sebelum kejadian itu terjadi, kota New York, seorang wanita tampak menenggelamkan diri di dalam bathtub sambil menahan perasaan dahaga, bukan dahaga karena haus tapi dahaga akibat pengaruh obat. Wanita itu adalah Madison Clive, keadaannya tampak kacau dan tubuhnya tampak gemetar. Keadaannya seperti itu akibat pengaruh obat, Madison adalah pencandu narkoba selama tiga tahun namun sudah dua minggu Madison ingin berhenti menggunakan obat terlarang tersebut.

Madison berusaha menahan gejolak yang dia rasakan, biasanya dia akan menggores lengannya sendiri untuk meminum darahnya agar keadaannya itu menjadi membaik namun sudah beberapa hari belakangan tidak dia lakukan karena dia benar-benar ingin terlepas dari pengaruh obat terkutuk yang selama ini sudah merusak dirinya.

Madison bekerja di sebuah perusahaan surat kabar, jika keadaannya seperti itu maka dia tidak bisa pergi bekerja seperti pagi ini. Madison terpaksa mengurung diri di dalam rumah akibat pengaruh obat yang menguasai dirinya. Tubuh Madison masih menggigil, sebentar lagi akan berlalu, dia yakin itu.

"Madison, apa kau berada di rumah?" terdengar suara seorang wanita di depan pintu rumahnya.

Madison berusaha menarik tubuhnya keluar dari dalam bathtub, walau sulit namun dia tetap berusaha. Itu pasti suara Hana, sahabat baiknya. Dia tidak boleh membiarkan Hana pergi, dia butuh sang sahabat baik saat ini juga.

"Madison, are you there?" tanya Hana lagi yang masih mengetuk pintu.

"Help!" Madison berusaha berteriak memanggil Hana.

"Madison?" Hana kembali berteriak.

"Hana, tolong aku!" Madison kembali berteriak.

Hana yang mendengar teriakan Madison pun merasa ada yang tidak beres. Pintu rumah sulit dibuka namun Hana menghancurkan kaca jendela sehingga dia bisa masuk ke dalam rumah Madison.

"Madison!" Hana berteriak.

"Hana, aku di kamar!" teriak Madison.

Hana berlari menuju kamar dan terkejut mendapati Madison meringkuk di atas lantai dalam keadaan basah. Hana segera berlari menghampiri sahabat baiknya yang tampak kacau.

"Apa yang terjadi padamu, Madison?" tanya Hana, dia pun membantu Madison untuk bangkit berdiri dari atas lantai.

"Aku tidak kuat lagi, Hana. Aku tidak kuat lagi," ucap Madison.

"Bertahanlah, kau harus melawan rasa dahaganya jika kau ingin sembuh!" ucap Hana. Dia tahu jika Madison seorang pecandu, oleh sebab itu dia tidak begitu terkejut melihat keadaan sahabat baiknya.

"Apa yang harus aku lakukan, aku tidak kuat lagi," Madison menangis, dia benar-benar sudah tidak sanggup melawan rasa dahaganya.

"Sudah aku katakan, pergilah menjalani rehabilitasi!" Hana membatu Madison untuk duduk di atas ranjang, dia pun pergi mengambil handuk untuk mengeringkan tubuh Madison yang basah.

"Aku tidak mau, Hana. Aku tidak mau menjalani rehabilitasi!" tolak Madison.

"Jika kau tidak mau, keadaanmu akan tetap seperti ini bahkan akan semakin memburuk!" ucap Madison.

"Aku tidak mau, aku tidak mau!" Madison menekuk kedua lututnya. Jika dia menjalani rehabilitasi, maka namanya akan tercoreng dan karirnya akan terancam. Dia pun akan kesulitan menemukan pekerjaan oleh sebab itu dia tidak mau menjalani terapi.

"Kau tidak akan bisa sembuh, Madison!"

"Bantu aku, Hana. Aku tidak mau pergi rehabilitasi jadi tolong bantulah aku!"

"Baiklah, baik. Sekarang keringkan tubuhmu!" Hana memberikan handuk yang sudah dia ambil pada Madison.

"Seharusnya kau tidak mengkonsumsi obat terlarang itu, padahal aku sudah memperingatkan dirimu tapi kau lebih mendengarkan perkataan baj*ngan itu dengan alasan cinta yang kau miliki!"

"Aku menyesal," Madison menunduk. Dulu dia bukan pecandu, dia juga gadis baik-baik tapi semua berubah akibat pergaulan bebas dan setelah dia bertemu dengan seorang pria yang mencuri hatinya, Madison rela melakukan apa pun  bahkan dia mulai mencicipi obat terlarang yang membuatnya kecanduan.

Kekasihnya sendiri baru saja meninggal akibat over dosis oleh sebab itu, Madison memutuskan untuk berhenti tapi nyatanya semua itu tidaklah mudah. Segala upaya dia lakukan tapi dia membeli obat itu lagi saat ada kesempatan. Luka di tangan masih belum begitu sembuh dan sekarang dia harus kembali menahan rasa dahaga akibat obat.

"Sekarang, apa yang ingin kau lakukan? Kau tidak mau melakukan rehabilitasi jadi apa yang hendak kau lakukan?" tanya Hana.

"Aku tidak tahu, aku butuh tempat yang sepi dan jauh dari keramaian. Mungkin berada di tempat seperti itu bisa memberikan aku ketenangan," ucap Madison.

"Tempat yang sepi? Apa kau yakin?" tanya Hana karena dia tidak yakin.

"Aku membutuhkannya, Hana. Aku butuh tempat yang benar-benar tenang dan jauh dari kota. Apa kau mau membantu aku mencari tempat seperti itu?"

"Apa kau yakin bisa sembuh di tempat seperti itu, Madison?" tanya Hana tidak yakin.

"Aku harus mencobanya, Hana. Aku tidak bisa seperti ini terus dan aku tidak mau menjalankan rehabilitasi."

"Baiklah, aku akan pergi mencari tempat yang kau inginkan agar kau bisa tenang," kini Hana setuju untuk membantu sahabat baiknya.

"Terima kasih, Hana."

"Jangan sungkan," Hana tersenyum, dia harap keinginan sahabat baiknya untuk sembuh dari pengaruh obat dapat terwujud.

Madison pun berusaha tersenyum dan berharap dia bisa terbebas dari pengaruh obat tapi sayangnya, dari sanalah kesialan harus dia alami bahkan dia tidak akan pernah menduga dengan apa yang akan dia alami nantinya.

The House

Semua barang-barang yang diperlukan sudah masuk ke dalam mobil dan sebuah rumah pun sudah didapatkan. Rumah itu berada di tengah hutan dan jauh dari kota. Madison akan tenang berada di sana selama menjalani masa penyembuhan dari ketergantungan obat-obatan.

Hana dan kedua sahabat lain akan mengantar. Mereka adalah teman-teman Madison yang sudah tahu keadaan Madison. Hana membantu Madison merapikan baju-baju yang akan dia bawa, sedangkan Madison melihat-lihat beberapa buku yang akan dia bawa.

Dua sahabat pria yang akan mengantar mereka berada di luar, mereka membantu mengangkat beberapa barang milik Madison yang akan dia bawa nanti. Beberapa buku sudah Madison ambil, dia akan menghabiskan waktu dengan membaca buku dan menenangkan pikiran nantinya.

"Hana, dari mana kau menemukan rumah itu?" tanya Madison yang melangkah mendekati Hana dengan beberapa buku yang dia inginkan.

"Seorang teman, dia bilang rumah itu memang suka ditempati oleh orang-orang yang butuh ketenangan."

"Kenapa rumah itu disewakan dengan harga murah?" tanya Madison.

"Entahlah, mungkin rumah itu berada di tengah hutan jadi harga sewanya begitu murah tapi apa kau yakin ingin sendirian saja di rumah itu?" tanya Hana karena Madison berkata ingin sendirian di rumah tersebut.

"Aku yakin, lagi pula ada Milo yang akan menemani aku," Milo adalah nama aning peliharaannya.

"Baiklah, aku harap kau baik-baik saja berada di sana," ucap Hana.

"Terima kasih, tapi bisakah berikan lokasinya padaku? Aku rasa aku bisa pergi dengan Milo."

"Tidak, lokasinya sangat jauh. Kau tidak boleh pergi sendirian!" ucap Hana.

"Aku bisa, kau tidak perlu khawatir."

"Tidak, Madison. Kami akan mengantarmu sampai tujuan. Aku tidak akan tenang jika meninggalkan dirimu seorang diri."

"Baiklah, padahal kalian tidak perlu repot."

"Tidak merepotkan, sebagai sahabat baik aku pasti membantu. Aku justru khawatir meninggalkan dirimu seorang diri di sana!"

"Girl, apa sudah selesai!" terdengar suara salah satu sahabatnya memanggil sambil mengetuk pintu.

"Sebentar lagi!" teriak Hana.

"Ayo bergegas, perjalanan jauh. Jangan sampai kita tiba saat gelap!" ucap sahabat mereka.

"Kami akan segera keluar!" teriak Hana lagi.

"Ayo, kita harus segera bergegas!"

Madison mengangguk, barang-barang yang belum diambil pun segera diambil. Beberapa buku kembali diambil. Perlengkapan untuk Milo pun sudah siap. Setelah semua selesai dirapikan, mereka pun bergegas keluar dari kamar. Kedua sahabatnya kembali membantu memasukkan barang-barang yang akan Madison bawa ke dalam mobil. Semua yang hendak dibawa pun tidak ada yang tertinggal oleh sebab itu mereka segera bergegas.

Madison memandangi rumahnya sambil menggendong Milo. Semoga dia cepat kembali dan bisa kembali bekerja seperti semula lagi. Setelah ini dia tidak akan pernah mau menggunakan obat terlarang lagi karena dia sudah jera.

Jeremy yang membawa mobil, Erick duduk di sisi Jeremy sedangkan Hana dan Madison berada di belakang. Jeremy mulai membawa mobilnya, tujuan mereka adalah Rocky Mountain karena rumah yang mereka tuju ada di tengah hutan yang ada di pegunungan itu

Madison lebih banyak diam selama di perjalanan, yang dia lihat hanya jalanan yang dikelilingi oleh hutan. Milo pun berbaring di atas pangkuannya. Selama di perjalanan dia berharap apa yang dia lakukan tidak sia-sia.

"Apa kau yakin tidak mau ditemani, Madison?" tanya Erick.

"Benar, aku khawatir kau berada di sana sendirian. Apa kau yakin tidak mau aku temani?" tanya Hana pula.

"Tidak perlu, Hana. Lebih baik aku sendiri, aku tidak mau merepotkan kalian dan aku tidak mau kalian melihat keadaanku yang memalukan." ucap Madison.

"Tapi rumah itu jauh, Madison. Bahkan kau akan kesulitan pergi mencari makanan karena jauh dari rumah penduduk, apa kau yakin?" kali ini Jeremy yang bertanya.

"Aku tahu, sebab itu aku membawa persediaan banyak makanan. Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku tapi aku akan baik-baik saja. Lagi pula aku berada di sana hanya dua minggu saja jadi jangan mengkhawatirkan aku."

"Baiklah, kau harus menghubungi kami jika terjadi sesuatu denganmu selama berada di rumah itu," ucap Hana.

"Pasti," jawab Madison.

"Jadi, apa ada yang mau bernyanyi?" tanya Erick. Lagu dinyalakan dengan keras dan tanpa menunggu jawaban dari ketiga sahabatnya, mereka mulai bernyanyi bersama.

Walau perjalanan cukup jauh tapi mereka tampak bersenang-senang. Mobil melesat dengan kecepatan tinggi, melewati lebatnya hutan. Suara nyanyian mereka mengiringi perjalanan mereka sampai akhirnya mereka tiba di rumah yang mereka tuju.

Rumah itu benar-benar berada di tengah hutan dan dikelilingi oleh pepohonan yang besar. Rumah itu lumayan besar, berlantai dua. Jendela yang terdapat di rumah itu pun besar, rumah itu bahkan sedikit mirip dengan sebuah castil.

Madison melihat sekitar rumah, pepohonan yang ada di sekitar rumah tersebut tampak mati karena semua terlihat sudah kering sehingga menimbulkan kesan yang sangat menyeramkan.

"Wah, rumah ini benar-benar sempurna!" ucap Erick.

"Dua minggu lagi, kita harus menghabiskan waktu di sini beberapa hari. Aku akan membawa kekasihku datang ke sini!" ucap Jeremy pula.

"Setuju, aku juga akan membawa kekasihku datang!" ucap Erick pula.

"Guys, bantu bawa semua barang-barang Madison masuk ke dalam terlebih dahulu barulah kalian boleh berfantasi membawa kekasih kalian dua minggu mendatang!" ucap Hana.

"Itu perkara mudah, tempat yang sangat bagus!" Erick melangkah menuju mobil untuk mengambil barang-barang yang ada, begitu juga dengan Jeremy.

Hana menghampiri Madison yang masih berada di sisi rumah itu untuk melihat-lihat sambil menggendong anjingnya Milo. Madison bahkan berdiri mematung seperti melihat sesuatu yang ada di dalam kejauhan hutan.

"Hei, kenapa kau melamun?" tanya Hana sambil memukul bahu Madison.

Madison terkejut, dia seperti orang yang lagi berada di bawah pengaruh obat. Madison bahkan melihat ke arah Hana tanpa ekspresi lalu melihat ke arah hutan.

"Ada apa? Apa kau melihat sesuatu?" tanya Hana.

"Ti-Tidak," jawab Madison sambil menggeleng.

"Jika begitu ayo masuk ke dalam, udaranya semakin dingin."

Madison mengangguk, dia masih melihat ke arah hutan sejenak sebelum mengikuti langkah Hana yang memasuki rumah tersebut. Jeremy dan Erick sibuk mengangkat barang-barang Madison, Hana dan Madison melihat-lihat rumah tersebut. Sebuah perapian berada di tengah ruangan. Benar-benar rumah yang nyaman apalagi jika didatangi bersama dengan kekasihnya.

"Bagaimana, apa kau suka dengan rumah ini?" tanya Hana.

"Tentu saja, di sini tenang."

"Hubungi kami jika ada sesuatu yang kau inginkan atau jika ada yang tidak beres. Kau mengerti?"

"Aku tahu, Hana. Terima kasih, aku akan berusaha terbebas dari obat terkutuk itu."

"Bagus, aku senang mendengarnya."

Hana masih menemani Madison melihat rumah tersebut dan setelah selesai, mereka berdua bergabung dengan Jeremy dan Erick yang sudah selesai dan sedang beristirahat. Mereka berempat bahkan berbincang dan bercanda terlebih dahulu sampai akhirnya mereka memutuskan untuk kembali karena hari yang sudah sore dan malam pun akan datang.

"Kami sudah harus kembali, Madison. Apa benar kau tidak apa-apa ditinggal sendirian di sini?" tanya Hana dengan nada khawatir.

"Tentu saja, aku baik-baik saja."

"Baiklah, jangan lupa untuk menghubungi kami," ucap Hana seraya memeluknya.

"Aku harap kau benar-benar bisa terbebas dari obat terkutuk itu."

"Aku juga berharap demikian, terima kasih sudah mengantar aku."

"Jaga diri baik-baik!" ucap Hana lagi.

Madison mengantar ketiga sahabatnya, suasana di luar sana memang sudah gelap. Agar tidak kembali terlalu malam, ketiga sahabatnya pun pamit pergi. Madison melambai pada mereka sambil menggendong Milo, dia berdiri di depan pintu cukup lama sampai mobil yang dibawa oleh Jeremy tidak terlihat lagi.

"Ayo masuk, Milo," ajak Madison seraya melangkah masuk. Pintu ditutup rapat, dia akan menghabiskan waktunya di rumah itu selama dua minggu tapi dia tidak tahu jika ada yang mengintai dirinya dari tempat gelap yang tersembunyi.

Antara Halusinasi Dan Nyata

Milo diturunkan dari gendongan, Madison merenggangkan otot tangannya sejenak. Setelah masuk ke dalam, Madison berdiri di depan jendela untuk melihat ke arah gelapnya malam. Udara pun semakin terasa dingin, Madison mengencangkan mantel yang dia gunakan agar semakin terasa hangat. Sepertinya duduk di depan perapian sambil menikmati semangkuk sup hangat bukanlah ide buruk.

Madison mengusap telapak tangannya sambil melangkah menuju dapur. Milo tampak meringkuk di atas sofa dan berbaring dengan nyaman. Bahan makanan yang dia bawa sudah berada di dalam kulkas, bahan makanan itu cukup untuknya selama dua minggu berada di sana. Setelah bahan makanan dikeluarkan, Madison menyibukkan diri membuat makanan namun dari kegelapan, ada mata yang mengincar dirinya.

Guk... Guk! Suara gonggongan Milo terdengar, Madison tidak menganggap serius karena itu hanya gonggongan biasa. Dia kembali sibuk meski pun suara gonggongan Milo kembali terdengar.

Sebuah pisau di ambil untuk memotong wortel. Madison melakukan kegiatan itu sambil bernyanyi, dia harus bisa mengisi waktunya yang sepi namun tiba-tiba saja, Brraakkkkk!! Madison justru dikejutkan oleh suara keras yang datang dari luar.

Braakkkk!!! Suara itu kembali terdengar di susul dengan suara gonggongan  Milo yang tiada henti terdengar.

"Milo!" Madison meletakkan wortel dan pisau yang ada di tangan.

"Milo!" dia kembali memanggil anjingnya yang terus menggonggong tanpa henti. Aneh, apa para sahabatnya kembali lagi?

Madison melangkah keluar, untuk melihat anjing kesayangannya tapi tidak ada siapa pun. Madison sangat heran mendapati Milo sedang menggonggong di depan sebuah pintu yang tertutup dengan rapat.

"Milo, kenapa kau bergonggong seperti itu? Apa kau lapar?" tanya Madison seraya menggendong anjing kesayangannya.

Milo masih saja terus menggonggong, anjing itu pun menunjukkan taringnya seperti sedang melihat sesuatu yang tidak dia sukai. Madison masih belum mengerti dengan apa yang terjadi dengan anjing ras chihuahua miliknya itu. Milo bahkan masih menggonggong meski Madison sudah membawanya pergi.

"Ada apa denganmu, Milo?" tanyanya namun sayang Milo hanya menggonggong saja.

Madison yang tidak berpikiran buruk pun membawa Milo dan memberikan makanan untuk anjingnya itu. Milo mulai makan, Madison pun kembali ke dapur untuk melanjutkan membuat menu makan malamnya. Sambil menunggu sup yang dia buat matang, sebuah buku sudah berada di tangan.

Suasana begitu sunyi, gonggongan Milo tidak lagi terdengar. Semangkuk sup hangat pun sudah jadi, Madison menikmatinya di depan televisi dan di depan perapian yang sudah menyala. Rasanya sangat menenangkan, dia bahkan tertawa karena acara yang dia tonton adalah acara komedi.

Angin bertiup kencang di luar sana, membuat ranting-ranting pohon yang sudah kering bergerak dan membentur jendela. Madison terkejut lalu berpaling, tidak ada siapa pun. Sepertinya dia terlalu banyak berpikir, jangan katakan dia kembali berhalusinasi akan hal itu.

Kreekkkk..... terdengar suara seperti kuku-kuku yang tajam sedang menggaruk kaca jendela. Madison kembali terkejut dan berpaling, kini dia beranjak untuk melihat apa yang terjadi.

Kreekkk... suara itu kembali terdengar. Madison menelan ludah, dia bahkan merasa merinding. Milo kembali menggonggong dan berlari menuju jendela, anjing itu berdiri di depan jendela dan terus menggongong.

"Apa yang kau lihat, Milo? Apa Hana dan yang lain kembali untuk menakuti kita?" tanyanya.

Tuk... Tuk.. Tuk.. Kini kaca dari sisi lain seperti sedang diketuk oleh sesuatu. Lagi-Lagi Madison terkejut, dia berpaling ke arah jendela itu untuk melihat dan lagi-lagi suara kaca yang di garuk dengan kuku yang panjang kembali terdengar.

"Anyone there?" tanya Madison sambil berteriak. Pasti ketiga sahabatnya kembali lagi untuk menakuti dirinya.  Madison memberanikan diri untuk melangkah mendekati jendela lainnya, napas Madison memburu, dia bahkan tampak gelisah.

Kreekkk.. Suara itu kembali terdengar di susul dengan suara lainnya. Tek... tek... tek... suara itu dari jendela yang berada di sisi lain. Suara itu seperti kaca diketuk oleh ranting kayu dan tentunya suara itu membuat Madison mulai ketakutan apa lagi suara-suara itu terus terdengar.

"Jangan bercanda, Jeremy, Hana, apa kalian berada di luar sana?" teriak Madison tapi tidak ada satu orang pun yang menjawab.

Suara-Suara itu terus terdengar, Madison semakin ketakutan. Napasnya semakin memburu dan dia semakin panik. Dia melihat ke sisi kanan, lalu ke sisi kiri di mana suara-suara itu terus terdengar.

"Stop it, stop it!" Madison jatuh terduduk, kedua telinga ditutup rapat. Lagi-Lagi dia berhalusinasi, lagi-lagi pengaruh obat terlarang yang dia konsumsi selama ini membuatnya jadi seperti itu.

Suara yang dia dengar kembali terdengar, kaca yang seperti di garuk, suara benda yang di lempar dan juga suara gonggongan Milo membuatnya semakin merasa takut luar biasa tapi dia rasa dia hanya berhalusinasi saja.

"Hentikan!" teriak Madison dengan suara keras. Suara-Suara itu seperti terus berputar di kepalanya, Madison masih saja berteriak sambil menutup telinganya rapat. Suara gonggongan Milo semakin membuat suasana menjadi kacau. Madison benar-benar tidak tahu yang sedang dia alami saat ini nyata atau tidak.

Dhuk.... Dhuk.. Dhuk! Kini  ada yang menggedor pintu. Madison yang ketakutan sudah meringkuk di atas lantai. Dia tidak mau mendengar, dia tidak mau mendengar semua suara yang diakibatkan oleh halusinasi yang dia alami saat ini.

"Madison, apa kau sudah tidur?" teriakan Hana terdengar diiringi dengan suara pintu yang digedor dengan kencang.

"Madi, kau belum tidur, bukan?" kini terdengar suara teriakan Erick.

Madison menyingkirkan kedua tangan yang menutupi telinganya, sepertinya kali ini dia tidak berhalusinasi karena dia bisa mendengar teriakan para sahabatnya di luar sana. Suara-Suara mengerikan itu sudah tidak terdengar lagi, Madison semakin yakin jika yang dia alami hanya halusinasi dan ulah ketiga sahabatnya.

"Madison!" teriakan Hana kembali terdengar. Mereka takut Madison sedang mengalami overdosis tapi ketika Madison membuka pintu, mereka tampak lega.

"Sialan, ternyata kalian yang menakuti aku!" ucap Madison.

"Kami tidak menakuti, tapi ada barangmu yang tertinggal!" ucap Hana seraya memberikan sebuah tas pada Madison.

"Oh my God, tasku!" Madison mengambil tas yang diberikan oleh Hana.

"Jika di dalamnya tidak berisi ponselmu, kami tidak akan kembali lagi," ucap Hana.

"Maaf, aku lupa."

"Ck, lain kali lebihlah teliti. Apa yang sedang kau lakukan, kenapa tidak menjawab saat kami memanggil?" tanya Hana lagi.

"Hm, aku berada di kamar dengan Milo," dusta Madison. Jangan sampai para sahabatnya tahu jika dia sedang berhalusinasi.

"Baiklah, kami khawatir telah terjadi sesuatu denganmu. Segeralah beristirahat. Kami harus pergi."

"Terima kasih, lain kali jangan menakuti aku lagi!" ucap Madison.

"Ck, segera masuk dan beristirahat." ucap Jeremy. Mereka tidak menganggap serius ucapan Madison karena mereka menganggap Madison hanya berhalusinasi.

"Hati-Hati!" teriak Madison sambil melambai pada ketiga sahabatnya yang sudah masuk ke dalam mobil. Madison masih berdiri di depan pintu sampai ketiga sahabatnya pergi. Hampir saja, beruntungnya ketiga sahabatnya kembali. Mereka benar-benar menakuti dirinya tapi apakah benar yang sedang dia alami adalah halusinasinya saja? Madison menghampiri Milo yang sudah berada di tempat tidurnya. Benar, semua yang terjadi pasti hanya halusinasinya saja.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!