NovelToon NovelToon

Takdir Cinta Adeeva

Bab 1

PLAKK

Sebuah tamparan keras melekat di pipi Adeeva. Pipi mulusnya kini terlihat merah bekas telapak tangan sang ayah tirinya.

Gadis itu hanya bisa memegang pipinya dengan tangannya sembari terisak menahan rasa sakit.

Sakit yang kini dirasakan Adeeva tak hanya sakit bekas tamparan sang ayah tiri, hatinya juga terluka akibat tangan kekar itu lepas kendali dan mendarat di pipinya.

Luka hatinya tak sebatas itu, dia semakin terluka melihat sang ibu kandung, wanita yang melahirkannya hanya bisa diam memaku melihat apa yang telah dilakukan oleh suaminya.

Wanita yang selama ini sangat menyayanginya tega membiarkan lelaki itu menampar dirinya.

"Anak bodoh! Tak tahu diri!" bentak sang ayah tiri pada Adeeva.

Adeeva masih diam dan menangis.

5 Tahun sudah pria yang membentaknya itu masuk ke dalam kehidupan Adeeva, pria itu tak pernah berbuat kasar pada dirinya, sebagai ayah tiri, Haikal memperlakukan Adeeva sebagai putrinya sendiri, tapi sayang malang menimpa Adeeva membuat sang ayah tiri murka terhadap dirinya.

"Siapa laki-laki yang sudah menanam benihnya di rahimmu?" tanya Haikal mengulangi pertanyaannya.

"Adeeva tidak tahu, Yah," lirih Adeeva.

Gadis malang ini hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia sendiri tidak menyangka akan mengandung tanpa diketahuinya bahwa seseorang telah pernah menidurinya.

Haikal sudah tak tahu harus berbuat apa pada gadis yang telah 5 tahun ini menjadi putrinya.

Pria paruh baya itu pun meninggalkan Adeeva di kamarnya.

Dia kini melangkah menuju kamarnya diikuti oleh Aisyah.

Aisyah tak bisa membantah apa yang dilakukan oleh sang suami, karena dia sendiri tahu bahwa yang sudah dilakukan oleh sang putri.

Dia tak menyangka putri satu-satunya itu bisa hamil di luar nikah tanpa diketahuinya sosok pria yang sudah menyentuh tubuhnya.

"Bu, kamu harus coba bujuk Adeeva untuk mengungkap pria yang sudah melakukan hal hina itu terhadap dirinya," ujar Haikal setelah mereka berada di dalam kamar.

Aisyah hanya bisa menganggukkan kepalanya.

Haikal pun membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur lalu dengan susah payah mulai memejamkan matanya, dia masih kepikiran dengan apa yang harus dilakukannya untuk menyelesaikan masalah yang kini tengah dihadapi oleh putri tirinya itu.

Haikal tidak mau kehormatan hancur di hadapan keluarga besar dan kolega bisnisnya.

Jika isu tentang kehamilan putri tirinya itu menyebar maka harga dirinyalah yang akan menjadi tantangannya.

Sementara itu Adeeva tampak frustasi dengan apa yang baru saja diketahuinya, dia kini terduduk lemas di lantai di samping tempat tidurnya.

Adeeva menjambak rambutnya, dia mulai berpikir apa yang telah terjadi pada dirinya beberapa bulan terakhir.

"Deev, bangun! Sudah pagi," ujar Ainun membangunkan Adeeva.

Ingatan Adeeva tertuju pada kejadian 2 bulan yang lalu saat Adeeva dan teman-temannya menginap di sebuah hotel yang ada di Bali.

"Udah jam berapa?" lirih Adeeva pada sahabatnya.

"Mhm, udah jam 09.00. Ayo, bangun! Rombongan mau berangkat traveling," ujar Ainun.

Adeeva pun berusaha bangun dari tidurnya.

"Aauuw," pekik Adeeva saat mulai bergerak untuk turun dari tempat tidur.

"Kamu kenapa, Deev?" tanya Ainun penasaran.

"Eh, enggak apa-apa," jawab Adeeva.

Perlahan Adeeva mulia turun dari tempat tidur, dia berusaha menahan rasa sakit di bagian selangk***annya.

Perlahan Adeeva turun dari tempat tidur lalu melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

"Ya Allah, apakah kejadian itu terjadi saat acara di Bali 2 bulan yang lalu?" gumam Adeeva di dalam hati.

"Tapi, siapa yang telah berani melakukan hal keji itu padaku?" gumam Adeeva di dalam hati.

Adeeva terus menerka-nerka siapa yang telah berani menyentuh benda berharga miliknya itu.

Dia sama sekali tidak mengetahui siapa orang yang telah berbuat hina itu terhadap dirinya, karena saat dia bangun tak seorang pun ada di sampingnya, bahkan di saat dia bangun tidur, pakaiannya masih terpasang dengan rapi, sehingga dia tak menyadari malam itu keper***nannya sudah direnggut oleh seseorang.

Saat itu Adeeva hanya merasa ngantuk berat dan tertidur dengan sangat pulas.

****

Saat pagi datang, Aisyah mendapati putrinya kini terbaring di lantai dengan keadaan yang sangat memilukan.

Hati Aisya merasa sedih melihat keadaan sang putri, tak hanya Adeeva yang terpukul dengan kejadian ini, dia sebagai seorang ibu juga terpukul saat mengetahui bahwa sang putri tengah hamil 8 minggu.

"Bu, deev pusing!" rengek Adeeva beberapa hari yang lalu.

Gadis itu merasa beberapa hari terakhir dirinya dilanda pusing dan mual berkepanjangan setiap kali bangun tidur, hal ini membuat Aisyah curiga dengan kondisi putrinya.

Aisyah meminta Adeeva untuk melakukan test urine, semua orang yang ada di rumah itu kaget dengan hasilnya.

Haikal langsung naik pitam menahan rasa malu. Amarahnya memuncak hingga tak terkendali.

Aisyah mengusap air matanya yang jatuh membasahi pipi, wanita yang mulai berumur 50 tahunan itu melangkah menghampiri putrinya.

"Deev, bangun." Aisyah mengguncang tubuh sang putri.

"Deev, sudah siang," lirih Aisyah.

Perlahan Adeeva mulai membuka matanya. Dia mendapati sang ibu telah duduk di lantai di samping dia terbaring.

"Kamu kenapa tidur di lantai?" tanya Aisyah penuh perhatian.

Adeeva hanya diam, gadis itu masih mengingat apa yang terjadi semalam.

Dia sama sekali tidak menggubris apa yang dikatakan oleh ibunya.

"Deev, shalat dulu. Ibu mau bicara," ujar Aisyah.

Adeeva berdiri lalu melangkah menuju kamar mandi, di wajah gadis itu masih terlihat jelas akan luka yang dirasakannya semalam.

Adeeva melangkah menuju kamar mandi, dia pun berwudhu dan langsung melaksanakan shalat subuh.

Aisya duduk di pinggir tempat tidur, dia menunggu sang putri yang kini sedang melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslimah.

Setelah selesai shalat subuh, Adeeva tak beranjak dari sajadahnya, dia memilih duduk di atas sajadah itu menunggu ibunya keluar dari kamar.

"Deev," lirih Aisyah setelah kini dia ikut duduk di samping sang putri.

Adeeva hanya diam.

"Sayang, kamu harus beritahu ibu dan ayah siapa yang telah melakukan hal ini. Biar kita bisa meminta pertanggungjawaban dari pria yang sudah menghamili kamu," ujar Aisyah langsung.

Dia tidak bisa menunda pertanyaan ini, dia ingin cepat mengetahui sosok lelaki kurang ajar itu. Setelah itu dia dan suaminya akan meminta sang pria untuk menikahi Adeeva agar nama baik mereka tak tercoreng.

Adeeva menatap sendu ke arah sang ibu, dia bingung harus menjawab apa.

"Deev, kamu enggak bisa menutupi sosok pria yang sudah menghamili kamu, kamu haru segera menikah, kamu tidak mungkin melahirkan anak di rahimmu tanpa seorang suami," ujar Aisyah lagi.

Dia terus mendesak putrinya untuk mengungkapkan kebenaran yang sang putri sendiri tidak tahu apa sebenarnya yang telah terjadi pada dirinya.

"Apa yang harus aku lakukan? Aku sendiri tidak tahu siapa pria yang telah berani menyentuhku!" Adeeva mulai angkat suara.

Dia tidak kuat dengan tekanan yang diberikan oleh sang ibu.

Bersambung...

Bab 2

Aisyah terdiam sejenak, dia menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan ucapan sang putri.

Tidak mungkin seseorang telah berhubungan in**m tanpa mengetahui sosok pria yang sudah menyentuhnya.

"Aku harus bilang apa sama ibu, aku benar-benar tidak tahu siapa yang telah menghamiliku, aku juga tidak tahu kapan semua itu terjadi, hiks." Adeeva mulai menangis.

Dia berharap tangisannya dapat menyentuh hati sang ibu, sehingga tak lagi memaksa dirinya untuk menjawab pertanyaan yang dia sendiri tak tahu jawabannya.

"Tidak, Deev. Kamu pasti bohong. Katakan siapa yang sudah menyentuhmu!" Aisyah masih saja memaksa Adeeva.

"Deev tidak tahu, Bu. Deeva tidak tahu, hiks." Kali ini tangisan Adeeva mulai terdengar keluar kamar.

Adeeva mulai stres menghadapi ibunya yang masih saja tidak percaya dengan apa yang dikatakannya.

Haikal mendengar apa yang terjadi di dalam kamar putri tirinya, akhirnya dia pun masuk ke dalam kamar itu.

"Aisyah," panggil Haikal.

Mau tak mau Aisyah pun berdiri dan meninggalkan Adeeva seorang diri di kamarnya.

"Sudahlah, jangan terlalu dipaksakan. Kita harus cari solusi lainnya," ujar Haikal.

Aisyah menautkan kedua alisnya, dia penasaran apa yang akan dilakukan oleh sang suami untuk menutupi rasa malunya.

Namun, Aisyah tak dapat bertanya untuk saat ini karena dia tahu saat ini emosi sang suami masih belum terkendali.

"Siapkanlah sarapan, aku akan berangkat bekerja," ujar Haikal pada sang istri.

Untuk saat ini dia berusaha melupakan apa yang telah terjadi, dia akan memikirkan solusi permasalahan di dalam keluarganya nanti setelah pulang kerja.

Aisyah menuruti apa yang dikatakan oleh sang suami, dia langsung melangkah ke dapur lalu menyiapkan sarapan sederhana untuk sang suami sebelum berangkat bekerja.

****

"Deev, mana?" tanya Haikal saat dia baru saja sampai di rumah.

"Masih di dalam kamar, seharian ini dia tak keluar dari kamar," jawab Aisyah.

"Lalu dia tidak makan?" tanya Haikal lagi merasa kasihan pada putri tirinya itu.

Haikal sedikit menyesal d Ngan apa yang telah dilakukannya pada gadis malang itu, tak seharusnya dia menampar putri tirinya itu, karena selama ini Haikal berusaha menjadi ayah yang baik bagi Adeeva karena dia sendiri tidak memiliki anak sama sekali dikarenakan mandul.

Beberapa tahun yang lalu, Haikal ditinggal oleh istrinya karena penyakit yang dideritanya, hingga akhirnya dia bertemu dan berjodoh dengan Aisyah seorang janda yang memiliki seorang putri.

"Sepertinya belum, tadi pagi sarapan yang aku sediakan sama sekali tidak disentuhnya. Tadi siang, aku juga mengantar makanan ke kamarnya, belum tahu apakah makanan itu sudah dimakan atau belum," ujar Aisyah menceritakan apa yang telah terjadi selama sang suami bekerja.

Haikal hanya mengangguk, mereka melangkah menuju kamar. Dia pun mulai membersihkan dirinya untuk melepas lelah setelah bekerja seharian.

Saat malam tiba, usai makan malam keluarga Haikal kedatangan tamu yang sengaja diundang oleh Haikal sendiri.

"Eh, Rasyid, ayo masuk!" ajak Haikal saat membukakan pintu untuk tamunya.

"Iya, terima kasih," ucap Rasyid sembari mengajak masuk istri dan putranya masuk ke dalam rumah Haikal.

Aisyah heran melihat Rasyid dan keluarganya tiba-tiba datang ke rumahnya.

Dia mulai bertanya-tanya apa yang kini direncanakan oleh sang suami.

"Silakan duduk, Syid. Sudah lama kita tak bertemu," ujar Haikal berbasa-basi pada teman lamanya itu.

Rasyid duduk di sofa ruang tamu diikuti istri dan putranya.

"Aisyah, tolong ambilkan minum untuk Rasyid dan keluarganya," perintah Haikal pada san istri.

Aisyah tersenyum menyapa keluarga Rasyid lalu dia pun melangkah menuju dapur untuk menyiapkan minuman dan sedikit cemilan.

Selang beberapa menit, Aisya kembali dengan membawakan secangkir teh serta cemilan.

Dia meletakkan cangkir dan cemilan tersebut di atas meja, lalu dia ikut duduk di samping sang suami.

"Aisyah, tolong panggilkan Adeeva. Bawa dia ke sini," perintah Haikal lagi.

"Baiklah." Aisyah hendak berdiri, tiba-tiba Haikal menarik tangannya.

"Usahakan dia tampil menarik, jangan asal-asalan," bisik Haikal di telinga sang istri.

Mendengar bisikan dari sang suami, Aisyah mengerti tujuan kedatangan Rasyid dan keluarganya.

"Baiklah," lirih Aisyah mengangguk-anggukkan kepalanya.

Aisyah pun melangkah menuju kamar sang putri.

Tok tok tok.

"Deev," panggil Aisyah.

Aisyah pun membuka pintu kamar putrinya yang sama sekali tak dikunci.

Aisyah melihat sang putri kini tengah berbaring di atas tempat tidur, sosok Adeeva masih sama seperti tadi pagi, dia tidak melakukan hal apa pun sejak tadi pagi kecuali berbaring di atas tempat tidurnya.

"Sayang," lirih Aisyah sembari mengusap lembut kepala sang putri.

Adeeva hanya diam, dia kini membelakangi sang ibu.

"Deev, ayah kamu menyuruhmu untuk keluar," lirih Aisyah menyampaikan perintah ayah tiri Adeeva.

"Buat apa, Bu?" lirih Adeeva mulai bersuara.

"Ada sesuatu yang ingin dibicarakan oleh ayahmu," ujar Aisyah.

Adeeva membalikkan tubuhnya, kini dia menatap sang ibu.

"Apa?" lirih Adeeva lagi.

"Sayang, ayahmu menyuruhmu keluar dari kamar," ujar Aisyah lagi.

Dia berusaha membujuk putrinya agar mau keluar dari kamar, hingga akhirnya Adeeva pun mengalah.

Dia bangun dari tempat tidur dan hendak melangkah keluar kamar dengan penampilan yang masih acak-acakan.

"Deev, apakah kamu akan keluar dengan penampilanmu yang lusuh seperti itu?" tanya Aisyah menghentikan langkah Adeeva seketika.

"Lalu, aku harus bagaimana?" tanya Adeeva.

"Lihatlah penampilanmu, kamu terlihat sangat lusuh dan acak-acakan, kamu yakin akan keluar kamar seperti ini!" tanya Aisyah lagi berharap gadisnya itu mau mengganti pakaian dan keluar dengan penampilan yang lebih rapi.

Mau tak mau Adeeva langsung melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sejenak.

Setelah itu Adeeva pun mengenakan piyama tidurnya, tak lupa dia mengikat rambutnya.

Meskipun penampilan Adeeva sangat sederhana, dia tetap terlihat sangat menarik karena gadis itu memang dasarnya sudah cantik dan anggun.

"Kalau begini kamu terlihat lebih segar," puji Aisyah yang sejak tadi menunggu Adeeva di dalam kamar sang putri.

"Ish," lirih Adeeva merasa tak suka dengan pujian sang ibu.

Setelah itu mereka pun keluar dari kamar, dan melangkah menuju ruang tamu tempat semua orang kini telah menunggu mereka.

Adeeva kaget saat melihat keluarga Rasyid yang duduk di ruang tamu.

Dia juga kaget melihat sosok Axel yang duduk di antara kedua orang tuanya.

"Kenapa Axel ada di sini?" gumam Adeeva di dalam hati.

"Eh, Adeeva. Kasih salam buat om Rasyid dan Tante Gita," perintah Haikal.

Mau tak mau Adeeva pun melebarkan senyuman dengan hati yang terpaksa.

"Malam, Om, Tante," sapa Adeeva.

Setelah itu Adeeva pun ikut duduk di sofa ruang tamu itu.

Axel menatap dalam pada sosok Adeeva, dia sangat mengagumi sosok putri tiri dari sahabat ayahnya itu.

Dia sudah mulai mengagumi Adeeva sejak lama, karena mereka sudah kenal baik sebelumnya.

"Deev, kedatangan om Rasyid dan Tante Gita ke sini, mereka ingin melamarmu," ujar Haikal terus terang.

"Apa?" pekik Adeeva.

Bersambung...

Bab 3

Adeeva kaget mendengar ucapan ayah tirinya, dia tak menyangka ayah tirinya akan bertindak sejauh ini dalam menanggapi masalah yang kini mereka hadapi.

"Iya, Deev. Mungkin kamu sudah tahu perasaan Axel selama ini terhadap dirimu," ujar Rasyid.

Adeeva terdiam, saat ini dia tak tahu harus berbuat apa.

"Axel, apakah kamu masih mau menikah denganku jika kamu tahu bahwa aku saat ini telah mengandung janin pria yang aku sendiri tidak tahu siapa orangnya," gumam Adeeva di dalam hati.

"Sepertinya Adeeva setuju dengan lamaran ini, karena dia hanya diam. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa diamnya seorang wanita merupakan jawaban iya," ujar Haikal memutuskan.

Haikal tidak mau Adeeva berubah pikiran dan menggagalkan semua rencananya.

"Alhamdulillah, kalau begitu. Setelah ini kita akan bicarakan tentang pernikahan mereka," ujar Rasyid menanggapi ucapan Haikal.

"Apa? Segitu cepat ayah mengambil keputusan, apa yang harus aku lakukan?" gumam Adeeva lagi di dalam hati.

"Om, kalau boleh aku ajak Deev keluar sebentar," ujar Axel mengambil kesempatan dalam situasi seperti ini.

"Oh, tentu. Kalian bisa jalan keluar, kebetulan Deev belum makan malam, sekalian ajakin makan malam," ujar Haikal.

Mau tak mau Adeeva harus menuruti apa yang dikatakan oleh ayah tirinya itu.

"Aku ganti baju dulu," ujar Adeeva.

Axel tersenyum mengangguk.

Adeeva pun berdiri lalu melangkah menuju kamarnya untuk mengganti pakaiannya.

Tak berapa lama, Adeeva pun sudah berdiri di ruang tamu.

"Om, Tante, kami pergi sebentar, ya. Ma, pa," ujar Axel pada kedua orang tuanya serta calon mertuanya.

Mereka semua mengangguk setuju, Axel dan Adeeva pun melangkah keluar dari rumah.

Axel membukakan pintu mobil untuk Adeeva, lalu dia pun masuk melalui pintu kemudi setelah memastikan Adeeva duduk dengan nyaman di mobil itu.

Axel mulai melajukan mobilnya meninggalkan kediaman keluarga Haikal, sepanjang perjalanan Adeeva hanya banyak diam.

Hati dan pikirannya kini tengah berkecamuk, dia tidak mungkin menerima lamaran Axel begitu saja.

"Deev," lirih Axel setelah dia menghentikan mobilnya di depan sebuah restoran.

Adeeva masih belum menggubris panggilan Axel, dia masih sibuk dengan pikirannya.

"Deev," lirih Axel lagi.

"Mhm, eh i-iya," lirih Adeeva saat menyadari Axel yang memanggil dirinya.

"Kamu mikirin apa, sih?" tanya Axel penasaran.

"Mhm, tidak ada apa-apa," jawab Adeeva.

"Oh, kalau begitu kamu mau kan makan di sini?" tanya Axel.

Axel ingat apa yang dikatakan oleh Ayah Adeeva, bahwa Adeeva belum makan malam, dan dia menyuruh Axel membawa Adeeva untuk makan.

"Aku,-" Adeeva ingin menolak tapi Axel sudah turun dari mobil.

Tak berapa lama Axel pun membukakan pintu mobil untuk Adeeva.

Akhirnya Adeeva tak memiliki pilihan lain, mereka pun melangkah masuk ke dalam restoran tersebut.

Axel menggenggam erat tangan Adeeva, lalu membawa Adeeva masuk ke dalam restoran.

Pria itu memilih tempat duduk bagian pojok di dalam restoran agar dia dapat mengobrol dengan selantai bersama wanita yang sedari dulu sangat dicintainya.

"Kamu mau pesan apa?" tanya Axel setelah mereka duduk di tempat yang nyaman.

"Aku enggak selera makan," lirih Adeeva.

"Deev, kamu harus makan. Kamu terlihat sangat pucat, jangan-jangan kamu belum makan sejak tadi pagi, ya," ujar Axel menebak.

Pria tampan dan perhatian itu dapat melihat wajah pucat Adeeva, dia merasa suatu hal telah terjadi membuat Adeeva yang biasa periang menjadi sangat pendiam

"Terserah kamu mau pesan apa," ujar Adeeva pasrah.

"Ya sudah, aku pesan nasi goreng aja, ya." Axel melambaikan tangannya memanggil pelayan.

"Deev, aku senang sekali kamu mau menerima lamaran ku, hal ini sudah kutunggu sejak dulu," ujar Axel bahagia.

"Aku tak menyangka ternyata kamu juga menyukaiku," ujar Axel bahagia sembari menggenggam erat tangan wanita yang sangat dicintainya.

"Tidak, Xel. Ini semua salah, ini keliru, kamu tidak bisa menikah denganku," gumam Adeeva di dalam hati.

Adeeva hanya bisa menolak di dalam hati, dia takut untuk mengungkapkan kebenarannya. Adeeva tidak bisa membuat kedua orang tuanya kecewa.

Axel tersenyum menatap dalam ke arah Adeeva.

Adeeva tak bisa berbuat apa-apa kecuali diam tak berkutik sama sekali.

"Deev, aku janji akan selalu membahagiakan dirimu, aku akan mencintaimu setulus hati dan jiwaku," tutur Axel serius.

Adeeva dibuat semakin bersalah mendengar ucapan Axel yang benar-benar serius terhadap dirinya.

"Permisi," sapa seorang pelayan mengalihkan perhatian Adeeva dan Axel.

Si pelayan pun menghidangkan makanan yang tadi dipesan oleh Axel di atas meja.

"Silakan, Kak, Bang," ujar si pelayan setelah makanan terhidang rapi di atas meja.

Axel dan Adeeva mengangguk sembari tersenyum ramah pada pelayan itu.

"Ayo, makan dulu," ajak Axel.

Axel pun mulai memegangi sendok dan mulai menyantap makanan yang ada di piring di hadapannya.

Sedangkan Adeeva hanya menatap makanan itu, selera tak selera rasanya melihat makanan yang ada di hadapannya.

Rasa lapar di perutnya membuat Adeeva ingin menyantap makanan tersebut, tapi rasa mual yang selalu mengganggu dirinya membuat Adeeva enggan menyentuh makanan itu.

Axel memperhatikan sikap Adeeva yang masih saja menatap makanannya.

"Deev, kamu enggak mau?" tanya Axel.

"Mhm," gumam Adeeva.

"Kalau enggak mau, kita ganti menu saja," ujar Axel.

Axel pun bersiap hendak mengangkat tangannya memanggil pelayan.

"Jangan, aku mau kok," ujar Adeeva mengurungkan niat Axel untuk memanggil pelayan.

"Ya sudah, kalau kamu mau, kita makan bareng, ya," ajak Axel lagi.

Akhirnya Adeeva pun mengambil sendok dan mulai menyuapi makanan ke dalam mulutnya.

Axel pun juga mulai menikmati makanan miliknya.

Saat makan tak ada seorang pun yang berbicara, selang beberapa menit Axel sudah menghabiskan makanannya sedangkan Adeeva masih saja menyuap makanan ke dalam mulutnya secara perlahan dan sedikit demi sedikit.

Axel mengernyitkan dahinya melihat tingkah Adeeva.

"Deev, kalau kamu memang tidak selera makanan itu kita bisa ganti, jangan dipaksakan," ujar Axel.

Axel tidak mau Adeeva merasa terpaksa menghabiskan makanannya.

"Enggak, aku mau kok. Hanya saja,-" Adeeva bingung harus menjelaskan keadaan dirinya saat ini.

"Ya sudah, kalau begitu aku bantu kamu makannya, ya," tawar Axel.

Axel berpindah duduk tepat di samping Adeeva, setelah itu dia mengambil piring yang ada di hadapan Adeeva.

Perlahan Axel pun mulai menyuapi makanan tersebut ke mulut Adeeva. Mau tak mau Adeeva hanya bisa membuka mulutnya dan menikmati suapan Axel.

Entah mengapa selera Adeeva mulai meningkat, hingga akhirnya Adeeva pun menghabiskan makanannya.

"Alhamdulillah, habis juga. Ternyata kamu memang lagi malas makan, makanya seperti orang gak nafsu saja," ujar Axel.

Adeeva hanya bisa tersenyum malu, kini dia menatap dalam sosok pria yang tak bersalah harus masuk ke dalam kehidupannya yang kelam.

"Axel, kamu itu pria baik-baik, tak seharusnya kamu masuk ke dalam kehidupanku," gumam Adeeva sembari menatap wajah tampan Axel.

Axel juga membalas tatapan Adeeva, jantung Axel berdetak cepat, dia merasa bahagia mendapati tatapan dari wanita yang dicintainya.

"Oek oek oek!"

Tiba-tiba Adeeva merasa mual dan muntah.

Bersambung...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!