NovelToon NovelToon

Pewaris Yang Tertindas

Kesialan Saputra

"Duke! My Lord, Please behave!!" seru orang-orang misterius yang sedang berlari mengejar seorang anak muda berambut coklat.

"Ngomong apa sih lo semua?! Jangan ngejar melulu ngapa?! Kan gue capek larinya!" pekik si pemuda panik sampai melompati jembatan di gang kecil, lalu ia buka pintu salah satu rumah warga.

Supeno, tukang becak, pemilik rumah, bengong melihat ada orang tinggi besar ganteng sangar masuk rumah sambil bilang, "Pak, numpang lewat!" seru Sang Duke sambil masuk dan langsung naik tangga ke arah loteng.

"Ati-ati Tong! Gentengnya baru gue perbaikin pake baja ringan!" seru Supeno kesal.

"Darimana lo dapet duit buat beli baja ringan?" Sang Duke itu rupanya kenal dengan Supeno, sejenak berhenti berlari sambil mengernyit ke arah Supeno dengan curiga.

Supeno menyeringai, "Hehe… Juhari baru jual motor dong," Juhari itu anaknya Supeno, teman dekat Saputra.

"Nying, Juhari maling motor kagak ngajak-ngajak gue," umpat si Duke

"Kalo ngajak elu mah yang ada sial melulu, badan lo bongsor, dari jauh baru Nawaetu aja langsung ketahuan mau malingin,"

"Eh sue bener, gini-gini gue ganteng,"

"Ya sono ngelamar jadi sales bank, ngapain lu masih dimari," gerutu Supeno.

"My Lord!!" seru orang-orang misterius. Mereka keukeuh mengejar Si Duke.

"Buset dah tuh bule-bule kagak nyerah dong!" seru Duke si pemuda berambut coklat itu dengan panik.

"Sapa sih?" sambil mengernyit Supeno memanjangkan lehernya melihat suasana di luar rumahnya yang reot.

"Gue juga nggak tau mereka siapa! Mereka bilang gue bangsawan! Nyebut nama gue pake Duke-duke apalah itu! Dari tadi gue dikejar-kejar buat ikut ke negaranya!"

"Lah, ati-ati hiuman trapiking lu!" Supeno ikutan panik. Ini maksudnya Human Trafficking atau perdagangan manusia.

"Makanya gue kabur! Gue liwat atap lu ke jalan tol di atas, tulung halangin pintu pake becak!" seru Si Duke sambil naik ke lemari Supeno lalu menggeser bukaan plafon dan naik ke atas.

"Aneh-aneh bener sih hidup lo sejak keluar dari lapas?!" keluh Supeno.

Lalu kepala Si pemuda nongol ke bawah sedikit, "Pak Peno, ini taneman apa'an kayak singkong di atep?"

"Udah kagak usah ngudak-ngudak barang pribadi dong," gerutu Supeno, "Itu bukan singkong!"

Sang Duke menyeringai sinis, "Ya masa singkong, gue juga tahu kali. Nakal lu ya… Ketangkep jangan bawa-bawa gue!" sahutnya sambil menutup plafon.

"Udah gue tolongin kabur, kagak tau diri lo!" umpat Supeno sambil meraih senapan angin Tiga Generasi-nya. Entahlah masih bisa dipakai untuk menembak atau tidak, yang jelas sehari-hari ia gunakan untuk menggedor-gedor atap rumahnya saat tikus mulai ramai pargoy (Party Goyang).

"Where is he? Duke Of Northampton?" bule tinggi dan hidungnya seperti papan seluncuran masuk ke rumah Supeno sambil menunduk karena atap rumahnya mentok ke kepala. (Terjemahan : Mane tu bocah? Duke dari Utara-nya Hampton)

Duke adalah salah satu gelar bangsawan dari Kerajaan-kerajaan Eropa yang menganut sistem pemerintahan Monarki Konstitutional, gelar ini semacam Pangeran kalau di negara kita.)

"Dia naik ke atep jalan pintas ke jalan tol di atas. Lu semua jangan ikutan, kalo nggak mau gue Dor!" ancam Supeno sambil mengokang senapan anginnya. Supeno sebenarnya tidak mengerti para bule bicara apa karena perbedaan bahasa, tapi ya dia kira-kira saja. Apa lagi kalau bukan mencari pemuda semprul yang tadi nerobos masuk rumah gubuknya, kan?

"He has a gun," gumam salah satunya. (Terjemahan : Lah dia pegang bedil).

"Yes i know, i'm not blind," gerutu bule paling depan. ( Terjemahan : Gue tau, bego, gue ga buta!)

"Is it a real gun? It's looks weird," kata salah satu yang di belakang. (Terjemahan : senapan asli tuh? Kok bentuknya anehi-nehi)

"We cannot take a risk," kata bule di depan. Ia angkat tangannya tanda menyerah.(Terjemahan : gue kagak mau ambil resiko ah!)

"Back up, we're having another way,"  (terjemahan : Mundur, Cuy. Cari jalan lain aje lah ya) dan ia pun mundur lalu keluar dari rumah Supeno.

"Awas lo semua sekali lagi muncul di mari! Gue bilangin ke Pak RT!" seru Supeno sambil membanting pintu rumahnya.

"We've lost him," gumam si bule paling depan. (Lagi-lagi kehilangan dirinya).

"Maybe we can turn another way and try to-" (Bro, kita tuh masih bisa muter ke sono, terus ke sono dan ke sono lalu ke sono).

"It's to risk, this is not our world," (Terjemahan : terlalu beresiko, ini bukan area kita. Lah bilang aje males lu Coeg!)

Si bule paling depan berkacak pinggang sambil mengamati sekitarnya. Kampung kumuh Jakarta dengan rumah-rumah karatan hampir ambruk dan jalanan penuh sampah, "Our Lord, living in a junk on the third country, so pitiful and overwhelm," (Terjemahan : Tuan Bocil kita tinggal di tempat sampah di negara berbunga pulak! Miris bener dan diluar perkiraan BMKG.)

**

Malam harinya,

“Ja-ja-jadi begini Pak Putra,” Dokter di depan Putra menjelaskan dengan gagap saat Putra tiba di rumah sakit, “Kondisi Ibu Anda memang sudah melewati masa kritis, namun kandung empedu sudah mengalami pembusukan. Selain itu dia mengalami pembekuan darah. Yang harus kita lakukan adalah Operasi angkat kandung empedu, namun kami akan melakukan berbagai tes dulu untuk melihat kondisi kesehatannya,”

“Hem....” gumam Putra sambil menyeringai. Entah apa yang ia tertawakan yang jelas Sang Dokter ketakutan melihat seringainya.

“Kemungkinan dengan cara Laparoskopi ya Pak Putra, karena komplikasi yang muncul akibat kolesistektomi laparoskopik sangat jarang terjadi, tapi-“

“Bagaimana kalau kita bicarakan mengenai biaya dulu Dok, pait-paitnya saya harus sediakan berapaaa khehehehehe,”

Dokter pun terdiam, ia malah mempelajari tingkah laku Putra.

“Anuuu... untuk tes awal, operasi, dan pemulihan termasuk kamar dan lain-lain, bisa jadi sekitar seratus jutaan Pak,”

“Hahahahahaha!! Nyawa ibu saya harganya segitu!! Sial bener ya sayaaa, Hahahaha!”

Dokter sampai-sampai bangkit dari duduknya karena kaget mendengar Putra tertawa.

Tapi, sebagai seorang tenaga medis, ia tahu bahwa ada yang tak beres dalam diri Putra.

“Pak Putra... anda ini memiliki Syndrom ya? Mungkinkah ganguan fungsi saraf atau Tourette?” tanya Dokter hati-hati.

“Lah, iya Dok. Kalau mau nangis saya malah ketawa. Saya juga kurang sensitif dengan rasa sakit, kecuali sakit hati yaaa, khehehehe,”

“Hooo, paling tidak, saya tahu Anda masih normal, bukan orang gila,”

“Yang jelas saya orang jahat. Tega membiarkan ibu saya seperti ini dalam waktu lama,”

“Anda bisa mengajukan pinjaman ke Bank rekanan kami,”

“Pak Dokter, saya akan cari biayanya. Walau pun harus menyerahkan nyawa saya, khehehehe, mohon bersabar yaaa,” Putra akhirnya beranjak untuk pamit.

Walau pun Putra bicara begitu, tapi setelah keluar dari rumah sakit, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Jadi ia ke kos-kosan Juhari, teman bekas satu sel yang dulu ditangkap untuk pencurian motor yang juga anaknya Pak Supeno. Menginap di sana beberapa hari sambil mencari-cari pekerjaan.

Terang saja... tidak dapat. Mana ada yang mau menerima pria dengan kondisi sepertinya?! Ujung-ujungnya lagi-lagi jadi kurir Narkoboy ini sih. Begitu pikir Putra.

**

"Laper gilaaaa…" keluh Putra sambil tiduran di pos kamling salah satu gang perumahan di kawasan Jakarta Utara. "Gini amat hidup gue," gumamnya sebal.

Ia tidak tahu harus kemana.

"Kerja, cuy!" desis Juhari sambil menimpuknya dengan botol aqua dari jalan.

"Nggak usah lempar-lempar kalo gada isinya kampret!" seru Putra sambil melempar kembali botol aqua kosong itu.

"Kalo nggak bisa jadi ojek, tuh Bang Sa'ad buka lowongan deb… Apa sih namanya deb deb-pan" sahut Juhari sambil menerima botol Aqua itu dan melemparnya kembali ke Putra.

"Debt Collector b3goooo, wakakakakak!!" gerutu Putra.

"Gue udah kesana, syaratnya harus tamatan SMP minimal. Lah gue SD aja kagak lulus!" Putra menangkis botol aqua sampai mental ke Juhari.

"Lo bukannya siswa berprestasi jalur lapas yak?!"

"Lo pikir gituan diakui di sini?"

"Gimana kalo jadi tukang parkir? Ikut Bang Rasno!"

"Ohiya masih ada Bang Rasno!" Putra kali ini tidak menangkap botol aqua, ia biarkan masuk ke tong sampah di dekatnya.

"Semangat dong jancu-k! Tuhan tidak tidur,"

"Terus selama ini gue dibiarin terlantar, maksud Tuhan apa? Gue pikir Beliau memang lagi tidur…" Putra ngedumel.

"Kena azab lu! Oksigen di sekitar lo langsung berhenti tahu rasa megap-megap! Jangan sampe, udah menderita di dunia, menderita juga di akhirat!" omel Juhari sambil menstarter motor bebek bututnya untuk menginjak kopling. Lalu memutar gas dengan tangan kurusnya.

Putra mengernyit. "Dia bilang 'Jangan sampe, udah menderita di dunia, tapi menderita juga di akhirat'… Waaah," Putra menggelengkan kepalanya sambil berkacak pinggang. "Fix! Tuh bocah tandanya mau nyolong motor tapi kagak ngajak-ngajak gue!" gerutunya.

Ya, karena motor kalau dijual paling gampang laku. Dan uangnya bisa buat menikmati dunia.

Sudah pasti kalau hidup banyak dosa begini nikmat akhirat tak akan terjangkau karena jatuhnya digodok lava di neraka, jadi ya nikmati saja dunia apa pun caranya, walau pun harus ngerampok.

Pikiran kriminal ya begini.

Dan saat Putra menelusuri jalanan gang yang bau, kumuh dan panas, beberapa orang yang melihatnya langsung masuk ke dalam rumah.

Perawakan Putra yang sangat tinggi, kulit kecoklatan penuh lukisan, dan wajah bule tapi sangar, memang sangat mencolok. Dengan tatto di seluruh tubuhnya yang saat ditangkap polisi dan diadakan konferensi pers malah disuruh diperlihatkan ke arah kamera, seakan tatto di tubuhnya adalah identitas kalau dia adalah kriminal.

Padahal tulisannya 'aku rindu ibu'.  Ekstra kupu-kupu besar dan mawar menghiasi tulisan itu.

Tapi yang paling mengerikan adalah tingkahnya yang aneh. Kilatan matanya seakan ingin menerkam semua yang ada di sana dan seringai bibirnya membuat bulu kuduk meremah. Ia seperti iblis tinggi besar yang mencari tumbal.

Sejak kecil ia sudah ngalor ngidul dari gang ke gang. Pukulan demi pukulan dilaluinya sampai kulit tubuhnya mati rasa sendiri.

Bahkan di penjara, sampai semua kesakitan sendiri kalau memukulinya.

Karena itu urusannya di dalam sel malah lancar semua. Semua 'orang baru' dipukuli kalau tak bawa p3lor. Putra tak bawa, tapi kepala kamar membiarkannya. Malah mengangkatnya jadi asisten, dan kalau ada maunya pasti memberi Putra jajan.

(P3lor sejenis uang yang dimasukan ke sedotan, lalu ditelan atau diselipkan di bagian belakang. Sebagai uang sogokan agar orang baru tidak dipukuli di dalam sel).

Lalu wajah Putra yang berbeda dari anak lain, karena kata ibunya, ayah biologisnya seorang pria kebangsaan asing. Suatu hari ibunya yang berprofesi sebagai seorang wanita panggilan, mendapatkan klien orang bule saat ia iseng nongkrong di Jalan Ja*sa. Dan tak disangka alat pengaman malah bocor. Akhirnya Sang Ibu pun hamil.

Walau pun dengan susah payah, dan

menghadapi perjalanan yang membuat hati ini sakit sendiri saat mendengarnya, namun ternyata Putra tidak sendiri. Banyak sekali anak-anak yang jauh lebih parah kehidupannya. Untung saja ibunya tetap bertahan merawatnya sampai besar. Setidaknya ia masih memiliki seorang ibu.

"Bang Rasno, gue minta kerjaan!" tembak Putra saat menghampiri Bang Rasno yang sedang memalak tukang gorengan di samping minimarket. Lumayan dapet 5 biji tahu goreng. Putra comot satu karena lapar.

Bang Rasno berseru,"Gada akhlak lu!" serunya, "Minta baek-baek sama orang tua!" dan ia menendang betis Putra karena kesal.

Tapi seperti biasa, justru kakinya yang langsung nyeri bagaikan sedang menendang tiang listrik. Putranya malah tidak bergeming.

"Arrrghhh! Suakiiittt!" seru Bang Rasno sambil berlutut dan memegangi pergelangan kakinya.

"Wahahahahahaha!! Lagian nekat," seru Putra sambil duduk di samping trotoar dan memakan gorengan kedua, "Gue harus cari duit nih bang, demi ibu gue, khiihihi,"

Dengan kepayahan, Bang Rasno duduk di sebelah Putra. "Gantiin gue dah kalo malem di area sini. Tuh jaga sama Giman. Nanti dibagi berdua aja hasilnya,"

"Area lu yang mana si?"

"Dari ruko sana, sampai lampu merah," Bang Rasno menunjuk ruko dengan cat kuning sekitar 50 meter. "Lo bagi dua area sama Giman,"

"Si Giman kaga sewot kan kalo gue gabung?"

"Ntar gue bilangin ke dia. Lagian mana berani dia protes ama lu, tong…"

"Gue kalem kok Bang,"

"Kalem apanya cengengesan melulu gitu, ODGJ juga kabur kali ngeliat lo!" sungut Bang Rasno, "Pijetin nih!" ia menjulurkan kakinya.

Giman Yang Ceroboh

Malam itu sambil bersungut-sungut Giman menghitung uang bayaran parkir di sekitar minimarket. Ia berhitung di bawah spanduk : Parkir Gratis sesuai Perda bla bla bla…

"Berkurang penghasilan gue gara-gara si bang-sat…" gerutunya. "Mana tipnya dia lebih gede pula! Ngerusak rejeki orang aje!"

Di depan sana tampak Putra sedang mengobrol dengan mas-mas kasir minimarket sambil merokok dan ngopi. Hal itu membuat Giman, pria bergigi tonggos dan berkulit legam itu semakin sebal. " Brengsek!!" Giman membanting handuk lusuhnya ke aspal di depannya.

"Woy Bang! Wekekekekekek!!" seru Putra sambil menghampiri Giman. Dihampiri pria bertubuh besar membuat Giman mencibir dan beringsut ke belakang. Jelas di depan Putra sikapnya baik. Sekali hantam saja sudah pecah kali kepala si pria kerempeng itu. "Dapet berapa lo hari ini?!" tanya Putra.

"Em… Dua ratus rebuan," gumam Giman.

"Oh, gue 500ribu Hihihihi. Nih… 150ribu biar sama'an," Putra menghitung lembaran uangnya dan menyerahkan beberapa lembar ke Giman, sampai si Giman melongo.

"Lah ngapa lu kasih gua?" tanya Giman sambil mengelus kedua lengannya yang merinding.

"Mau kagak?!"

"Sini'in dah!" Giman merebut uang di tangan Putra. Tanpa berterima kasih karena merasa itu memang haknya yang direbut oleh Putra. Padahal kalau ia bekerja sendiri, ya tidak dapat sebanyak itu juga sih. Putra staminanya lebih fit, jadi kalau ada mobil mau keluar parkir ia sigap menghampiri. Apalagi, semua takut padanya karena dia cengengesan melulu.

Kalau Giman selalu leyeh-leyeh, lambat mobil sudah ke jalanan raya dia baru ngeh, bahkan kalau dikasih koin 500 suka ia lempar begitu saja ke selokan karena merasa uang segitu tak berharga.

Sementara Putra, uang 200 perakan ia tukarkan ke minimarket yang memang butuh uang receh untuk kembalian.

“Man, Man! seorang sekuriti Gerai ATM menghampiri Giman dengan terburu-buru, “Man, gue sakit perut nih, si Suyat lagi beli kopi di sana,”

“Iya, iyaaaa, gue gantiin jaga dah! Jangan kelamaan, jangan maen hape di WC!” gerutu si Giman sambil beranjak dari jongkoknya. Semua mempercayai Giman karena ia memang dari kampung di belakang pertokoan ini, jadi kalau ada apa-apa masih mudah dilacak.

Masalahnya, si Giman otaknya jongkok rada blo’on kebanyakan nge-lem.

Tak lama, sebuah sedan mewah memasuki parkiran ruko dan parkir di depan ATM.

"Wih.. Mobil apa'an tuh! Orang kaya!" gumam Giman.

"Jam segini ada Aventador keliaran. Paling habis pulang pargoy di club hotel sana, Hehehehe," desis Putra. "Lagi mabok kemungkinan besar. Nekat juga kagak ngeri tabrakan,"

"Ngomong apa sih lu cuy?!" gerutu Giman. Walau pun sama-sama SD saja tak lulus, paling tidak di lapas Putra diajarkan banyak hal mulai dari Bidang Hukum sampai Investasi oleh tahanan politik. Putra bahkan menguasai 4 bahasa asing saat ini. Hanya memang ia tak berijazah dan tanpa sertifikat .

Belum sampai Putra menjawab, seorang wanita keluar dari mobil itu. Seksi, sangat cantik, dengan kulitnya yang putihnya bagai dicat. Rambutnya yang hitam panjang dan pakaiannya berkilauan saat terkena pantulan cahaya lampu pertokoan.

Tapi jalannya sempoyongan. Benar kata Putra, wanita itu sedang mabuk.

"Woaaah, semoook!" seru Giman. Ia lalu menelpon teman-temannya dari ponsel, "Woy! Mangsa empuk nih!!"

Putra menatap Giman sambil mengernyit. "Mangsa empuk apa'an?"

"Aaaah! Lu anak baru kagak usah tau! T4ik!!" seru Giman sambil mengibaskan tangannya ke arah Putra.

"Ya udah gue pulang aja lah, lo jangan macem-macem. Jangan berurusan dengan orang kaya pokoknya!" kata Putra.

"Bukan urusan lo bocah, pulang aja sono!" seru Giman sambil memanjangkan lehernya dan mengawasi keadaan sekitar. Saat ini pukul 1 dini hari dan suasana sepi.

Putra memutuskan untuk tidak ikut-ikutan, ia berbalik arah dan masuk ke gang sempit di antara ruko untuk lompat pagar beton, jalan alternatif menuju kampungnya.

Dan saat itu Putra mendengar bunyi…

DUAGG!!

Dari arah belakangnya.

Pria itu menoleh ke belakang dan dilihatnya Giman beserta beberapa laki-laki sedang memapah wanita seksi tadi ke dalam gang.

Putra tampak membeku saat itu, belum tahu apa yang harus ia lakukan.

Wanita itu tampak meronta dan menendang-nendang, namun salah seorang teman Giman menampar si wanita sampai tubuh mungilnya jatuh ke samping membentur tembok ruko.

"Hoy, begoo!!" seru Putra sambil menghampiri mereka.

"Lu nggak usah ikut-ikutan Bang-sat!!" seru Giman ke Putra.

Tampak Pria itu menahan tubuh si wanita ke aspal yang kini tampak tak berdaya, lalu merobek ****** ***** wanita itu, "Wuuuh legiiit!!" seru Giman kesenangan sambil berusaha membuka resleting celananya.

"Man! Jangan g0blok deh! Cewek yang pake sepatu puluhan juta macam begini biasanya anak konglomerat. Lo berani kerjain dia, besok pagi kepala lo di-DOR sama bapaknye! Udah kagak pake polisi lagi!" seru Putra berusaha memperingatkan Giman.

"Lo sok tau banget, sumpah lo bawel sekali lagi, kita bakal bakar lo hidup-hidup!" gerutu Giman.

"Gasak aja Man, cepetan. Gue udah gatel!" seru salah seorang teman Giman.

"Di sini kagak ada cctv, diem lo!" ancam Giman ke Putra.

"Kagak ada CCTV gundulmu! Dashboard mobilnya ada kamera! Di ATM ada kamera! Di ruko ada cctv! Di hapenya dia aja sekali pencet ada GPS! Peta yang menunjukan dia ada dimana! Lo pikir anak orang elit macam dia kagak ada yang bakalan nyariin?!"

"Aaah-" pekik Giman kesal sambil menghampiri Putra berniat menampar pemuda itu.

"Man! Man! Dia bener Man!" seru seorang teman Giman sambil menahan Giman yang hampir maju menyerang Putra.

"Jangan terpengaruh woy! Dia sok jago aje mentang-mentang dah ngerasain lapas!" seru Giman.

Apa hubungannya coba?

"Bukan gitu Man! Tapi gue tau kalo ni bocah bener! Kita nggak pake masker pula! Nih cewek pasti anak orang berpengaruh! Sekarang kita dapet enak bisa ngerasain dia, tapi nyawa kita melayang sejam lagi, ogah gue!!" desis teman yang lain.

Lo pengecut banget sih pada. Kalo nggak mau yaa buat gue aja sendir-"

PRANGGG!!

Sebuah botol kaca tampak dipukulkan ke kepala Giman.

Giman langsung jatuh ke tanah, pingsan.

dari kepalanya mengalir darah segar.

Semua di sana terperangah, lalu menatap ke depan.

Wanita seksi tadi tampak berdiri sambil terengah-engah dan menggenggam botol pecah. Di dekat sana adalah restoran kecil yang kerap menyediakan air mineral mahal yang botolnya dari kaca, namun pegawai tokonya suka meletakkan satu kontainer di depan pintu belakang sebelum dikembalikan ke supplier untuk di daur ulang.

Dan wanita itu menggunakan salah satunya untuk memukul kepala Giman saat mereka sibuk berdebat.

"Kurang aja kalian. Gue pastiin kagak bakalan ada yang lolos. Gue hapalin tampang lo semua…" desis si wanita seksi sambil berdiri sempoyongan dan mengacungkan pecahan botol.

Teman-teman Giman langsung kabur dengan lari melewati pagar.

Tapi Putra tidak bisa kabur.

Ia menatap tubuh Giman yang terkapar di tanah.

Ia merasa harus membawa Giman ke rumah sakit sebelum keadaannya jadi lebih parah.

"Ya Ampuuuun, khehehehehe. Modar dah si Giman,"

Kehidupan Pernikahan Yang Menyebalkan

2 bulan kemudian,

DUAG!!

Griffin meninju kepala Putra dengan sekuat tenaga. Sudah satu jam ia memukuli pria yang terikat di depannya ini, berharap Putra pingsan saja dan trauma sehingga dengan sendirinya hengkang dari rumah mereka dan menceraikan Sang Putri.

Tapi bahkan sampai tangan Griffin nyeri dan tulangnya dislokasi, Putra masih mengerjapkan mata tanda masih sadar. Bahkan terkikik-kikik menanggapi Griffin.

Mengerikan…

"Njing… Lo manusia apa bukan?" sambil terengah Griffin duduk di lantai dan mengerutkan keningnya. Ada rasa takut yang menghiasi raut wajahnya.

Bagaimana mungkin Putra tidak roboh? Dua tongkat baseball sudah retak, dan sekian anak buah sudah kecapekan. Harus dengan cara apa lagi agar Putra takut?

"Cuh! Khuhuhuhuhuhu…" Putra meludah ke samping, isi liurnya darah. Bibirnya sobek terkena hantaman tongkat. Ia masih sempat tertawa geli melihat raut wajah sang preman yang ketakutan.

Ini interogasi kelimanya.

Sampai mati ia berikrar tidak akan memberitahu kenapa ia rela menjadi menantu di keluarga ini. Kenapa ia tidak ingin menceraikan Nadine, Sang Istri.

Semua karena janjinya ke Nadine.

"Goblok bener sih loooo," gumam Putra mengejek Griffin. "Mukul kok kayak orang mabok, yang disasar apaaaa, yang dipukul apa, huehehehehehe!"

"Diem lo Bangs4t!!" Griffin naik pitam dan melempar kursi kayu di sebelahnya ke arah Putra. Tawa Putra membuatnya naik pitam.

Putra mengangkat sebelah kakinya dan menghantam kursi yang melayang dengan tendangannya.

"Gue nggak mau menceraikan Nadine. Titik," desis Putra menantang Griffin. Wajahnya penuh darah tapi bibirrnya menyeringai.

"Saikopet! Lo itu parasit di keluarga ini!"

"Psychopath, lidah lo belit bener dah! Ya tapi gue nggak peduli, sih khehehehe," gumam Putra.

Pintu ruangan itu tiba-tiba terbuka. Seorang pria tua berjanggut putih dengan badan tegap masuk dan menatap tajam langsung ke arah Putra.

"Belum pingsan juga kamu?" tanya Damaskus Prabasampurna, Kepala Keluarga Prabasampurna, Boss Griffin sekaligus mertua Putra.

Putra hanya diam sambil mengatur nafasnya. Ia terlalu banyak tertawa jadi agak sesak di dada. Sejak kecil ia terlalu banyak dipukuli dan terbentur sehingga otaknya memang agak miring. Kalau kesakitan bukannya menangis malah ketawa. Dan banyak orang malah merasa ketakutan saat melihat Putra yang seperti itu dan menghentikan serangan mereka.

Dengan kata lain, ke-sintingannya bisa jadi merupakan berkah.

Damaskus membungkukkan tubuhnya sedikit ke arah Putra, "Berapa yang kamu minta agar pergi dari rumah ini?"

"Nadine lagi hamil, loh…" gumam Putra.

"Kami bisa menjaga bayi itu sendiri tanpa kamu, kamu tidak berguna dasar gila,"

"Laaaah, nanti kan 'Bin' nya pakai nama saya loooh-"

PLAKK!!

Damaskus menampar Putra sekali. Pukulan pria tua itu bahkan lebih keras dari tinju dan tendangan Griffin. Mungkin karena Damaskus menekuni tenaga dalam, jadi lebih tahu titik lemah tubuh manusia.

Putra langsung merasa pusing akibat tamparan itu.

Belum sampai ia menyadari yang terjadi, ia merasa perih pada kepalanya. Rambutnya ditarik sehingga kepalanya terdongak.

"Nggak kapok ya kamu kalau dikerasin, kayaknya fisik kamu cukup terlatih. Saya hanya buang-buang tenaga dong?!" Damaskus menepis kepala Putra. Terdengar kekehan pelan Putra. Bulu kuduk Damaskus meremang.

"Hari ini cukup segini dulu. Kamu siap-siap ke pesta nanti malam. Para investor akan berkumpul untuk melihat Menantu Sampah saya, yang dengan lancangnya menghamili anak saya sebelum menikah," gerutu Damaskus sambil membalik tubuhnya untuk menuju ke arah pintu keluar.

Dalam hal itu, Putra mengerti… Kalau maksud dari perkataan Damaskus adalah 'jangan coba-coba membuat malu keluarga Prabasampurna di depan banyak orang'.

Di samping Damaskus, ada Artemis. Anak buah Damaskus yang lain, ia tampak bersemangat saat mengamati Putra. “Makhluk jenis apa ya lu, dipukuli malah ketawanya makin kenceng. Suka banget nih gue yang begini...” lalu Artemis menoleh ke arah Griffin yang duduk di lantai sambil terengah-engah, “Malah lu yang kecapekan. Faktor U kali yak?!” godanya ke Griffin.

Griffin mencebik, "Gue bisa aja langsung nembak dia di kepala. Kalau Nadine nggak lagi hamil, udah ke alam kubur kali si Joker," sungutnya sambil menendang perut Putra sekali dengan kencang, lalu ia mengikuti Damaskus keluar ruangan.

“Joker... iya keren juga julukannya, setengah gila kali lu ya. Mau-maunya si Nadine nikah sama lu,” kekeh Artemis sambil mengeplak kepala Putra, lalu keluar dari sana.

"Anjrit…" keluh Putra sambil berusaha terduduk. Pandangannya sudah buram dan kepalanya sangat pusing. "Duuuh pusing! Mana haus pula!" gerutunya kesal.

Setelah semua sudah keluar dari ruangan panas itu, Nadine, istri Putra langsung menghambur masuk ke ruangan itu dan menghampiri Putra dengan khawatir.

"Putra! Put?! Kamu nggak papa kan? Masih bisa sadar kan? Coba ikutin gerak jari saya!"

"Ergh!" Putra menepis tangan Nadine dengan kesal, "Jangan bikin orang kesel dong Non. Saya masih sadar!"

"Kamu nggak keceplosan ngaku soal kondisi anak yang dalam perut saya kan?" bisik Nadine khawatir.

"Udah terlanjur janji akan bawa rahasia itu sampai mati," desis Putra. "Brengsek bener lo sosialita," gumamnya kesal.

"Oke, lihat nih ya, lihat, saya sudah transfer 100 juta ke ibu kamu. Ya? Sudah nih… sesuai janji, kamu tetap mengaku sebagai ayah janin ini," tampaknya Nadine memang sudah memaklumi kalau sifat Putra yang aneh bin ajaib memang dari sananya.

"Hm…" Putra mengangguk lemah. Yang penting ibunya bisa menjalani operasi kantong empedu dengan segera. Dipukuli pun dia mau saja. Ditembak juga dia rela.

Misinya kali ini adalah menyembunyikan kenyataan kalau Sang Putri Nadine Prabasampurna dihamili pria beristri dan mengaku sebagai ayah janin itu.

Dengan begitu ia bisa mendapatkan sejumlah uang untuk biaya operasi ibunya.

Sejak ia dipenjara karena kasus psikotropika, ia belum sempat menjadi anak berbakti ke ibunya. Kini, setelah bebas, inilah yang setidaknya bisa ia lakukan.

Karena mencari pekerjaan layak dengan riwayat kejahatan, sangat sulit di negara plus enam dua ini. Kecuali ia menjadi pedagang. Tapi apa daya, dia tidak berbakat berdagang kecuali menjadi kurir narkoba. Apalagi mengingat sikapnya yang agak gendheng, mau nangis malah ketawa, mau marah malah nyeleneh, membuat banyak orang takut padanya dan tak jarang dikira pembunuh berantai.

Kecuali Nadine yang sejak pertama bertemu Putra sudah memahami bagaimana sifat pria itu sebenarnya.

"Lalu apa yang ayah saya bilang ke kamu?"

"Hem," Putra menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pusingnya, "Saya disuruhnya ikut ke pesta,"

"Pesta? Pesta apa?!"

"Eeeh, tadi Pak Damaskus sempat ngomong mengenai investor apalah itu,"

"Astaga!! Kamu diminta ikut beliau ke Pesta Para Shareholders? Itu pesta penting kenapa kamu harus ikut?!"

"Non… Saya SD aja nggak lulus. Mana saya ngerti gitu-gituan, bego ah pertanyaannya! Hwehehehehe! Cuh!" Putra sekali lagi meludahkan darah yang memenuhi mulutnya yang robek ke samping. "Bawa minum nggaaak, sekali lagi dipukul bisa-bisa saya ketawa nggak berhenti!"

Nadine pun diam sambil menatap Putra dengan perasaan miris, ia menyerahkan air mineral ke pria itu. Putra berkumur dengan air lalu kembali meludah. Dan berikutnya ia tegak air di dalam botol.itu sampai habis.

"Dua tahun," gumam Nadine sambil mengernyit.

"Hah?" jengah Putra sambil mengernyit tak mengerti.

"Dua tahun saja kamu jadi suami saya. Sampai bayi ini lahir dengan selamat, lalu kita bercerai,"

Putra menarik nafas panjang. "Nggak bisa kurang dari dua tahun ya? 6 bulan ke depan aja saya nggak tahu masih hidup atau udah lumpuh, kalau setiap hari di tonjokin begini," keluhnya sambil berusaha berdiri.

"Ayah tidak akan membunuh kamu. Kamu kan suami saya,"

"Yang akan terbunuh adalah di sini," Putra menunjuk dahinya, "Bisa-bisa saya makin gila karena tiap hari dipukuli. Kamu tahu kan saraf sensorik saya agak-agak error?!'

"Kamu kan residivis, kamu seharusnya terbiasa dipukuli. Makanya saya pilih kamu jadi suami saya,"

Putra menatap Nadine dengan sinis. Ia bagaikan diingatkan kembali kenapa dia bisa berada di sini dalam keadaan tertekan. Jelas situasinya berbeda dengan saat dipenjara.

Tapi entah mana yang lebih buruk, yang jelas tak ada yang lebih baik.

"Oke, dua tahun. Sesuai perjanjian, setiap bulan Nona kirimkan 20 juta ke rekening ibu saya," desis Putra sambil berjalan tertatih-tatih keluar dari ruangan. Tapi lalu pria itu terdiam dan menoleh ke belakang, "Bantuin suami sendiri sekali-kali ngapa sih? Diem aja di situ kesurupan tahu rasa!" dengus Putra.

"Nggak ah… Kamu bau keringat, mandi sana," gerutu Nadine sambil mengibaskan tangan di depan hidungnya yang bangir.

"Ini keringat pekerja keras,"

"Jalan sendiri sana!" Nadine melipir ke dinding dan mendahului Putra keluar dari ruangan penyiksaan.

**

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!