NovelToon NovelToon

Jika Takemichi Dan Izana Menjadi Perempuan

percobaan ilmuwan gila

Apa apaan ini semua?

.

.

.

Pada saat itu, Izana yang tengah berjalan ditarik oleh seseorang ke dalam sebuah gang yang sepi. Dia terus meronta dan mencoba untuk melawan dengan sekuat tenaga. Namun, tepat saat dia ingin melayangkan tendangan mautnya, sebuah tangan tiba-tiba membungkam mulut dan hidungnya dari belakang. Izana yang tidak siap pada saat itu langsung kehilangan kesadaran dalam sekejap.

Ketika perlahan membuka mata, dia mendapati dirinya berada di sebuah ruangan asing. Di sana, seorang pemuda misterius tampak tengah memegang sebuah suntikan yang berisi cairan aneh. Tanpa memedulikan kondisi Izana yang masih lemas, pemuda itu menyuntikkan cairan tersebut ke tubuhnya. Izana kembali tidak bisa bergerak dan kesadarannya perlahan meredup lagi akibat reaksi obat yang sangat kuat.

"Pada saat kau bangun nanti, kau akan tahu takdir apa yang akan kau miliki," bisik pemuda itu misterius sebelum semuanya menjadi gelap gulita.

"Ugh... aku merasa aneh," ucap Izana saat terbangun.

Dia mengernyit bingung. Seingatnya, samar-samar dia berada di sebuah ruangan bernuansa putih bersih seperti rumah sakit. Namun, mengapa sekarang dia justru terduduk di gang sepi tempat dia dibuat pingsan tadi? Izana yang kebingungan pun segera bangkit berdiri.

"Tubuhku nampak sangat berat, seperti ada yang menggandul di dadaku," ucapnya sembari langsung meremas dadanya sendiri.

Dia benar-benar tidak menyadari perubahan yang terjadi di balik kemejanya. Sedetik kemudian, wajah Izana langsung memerah padam. Dia merasakan sesuatu yang sangat lembut tengah memanjakan tangannya yang meremas dadanya sendiri.

"Oh, apa ini? Kenapa dadaku nampak sangat besar? Apakah aku meletakkan balon di sini?" Izana bergumam tidak percaya. Tanpa sadar, dia langsung mengintip ke balik kaos dan kemejanya.

Pssst!

"Waaagh! Ada dua semangka di dadaku!!" teriak Izana histeris.

"Aaaaaaa, asetku menghilang!! Ini sebuah penghinaan terhadap diriku sebagai laki-laki jantan!" ucap Izana yang langsung menangis gaib meratapi nasibnya. "Hiks... Kakucho, tolong..." rintih Izana yang hampir menangis sungguhan.

Mungkin sejak tertimpa masalah aneh ini, mentalnya menjadi sangat rapuh. Dia bergegas merogoh kantong celananya, berencana untuk menelepon Kakucho agar menjemputnya. Dia benar-benar terlalu malu jika harus bertemu dengan teman-temannya dalam kondisi seperti ini. Namun, alih-alih hanya menemukan ponsel, tangannya justru menyentuh sebuah botol kecil.

Itu adalah sebuah serum aneh berwarna hijau. Izana menatapnya curiga karena seingatnya, dia disuntik menggunakan cairan dengan warna yang persis sama.

"Ini apa?" ucap Izana sambil memiringkan kepalanya.

Tingkahnya nampak sangat menggemaskan saat sedang kebingungan seperti itu. Jika saja ada orang lain di gang sepi itu, mungkin Izana sudah dimasukkan ke dalam karung oleh seseorang yang dibuat gemas oleh penampilannya yang sekarang.

"Apakah ini penawar? Jika benar, maka aku harus meminumnya," ucap Izana sembari membuka penutup botol kaca yang didesain mirip wadah permen tersebut. Namun, dia mendadak ragu.

"Eh tunggu, jika aku meminumnya dan efeknya malah menjadi semakin parah, maka aku sendiri yang akan susah," ucap Izana sambil manggut-manggut pintar.

Dia pun memutuskan untuk menyimpan botol itu dan langsung mengeratkan jaket berwarna cokelat cream yang dikenakannya. Jaket yang sebenarnya sengaja dia pakai hari ini untuk menghampiri Mikey, adik angkatnya. Saat sedang merapikan pakaian, pandangannya tidak sengaja menangkap sosok siluet yang sangat familier di ujung gang.

"Bukankah itu anggota Toman?" ucap Izana sambil menyipitkan matanya. Dia melihat seorang pemuda berambut kuning yang berjalan sendirian sambil menjinjing kantong belanjaan.

"Hehe... sepertinya ini akan semakin menarik jika mengujinya ke anak itu," ucap Izana tersenyum menyeringai licik.

Di sisi lain jalan, pemuda berambut kuning itu sedang berjalan santai sembari bergumam riang.

"Ini sudah selesai dibeli. Wah, komik kesukaanku akhirnya sudah keluar! Chifuyu pasti akan langsung meminjamnya jika aku tidak segera membacanya terlebih dahulu."

Greb!

Bruk!

"Waaagh! Siapa kau?! Gadis?! Hei, menyingkir dari situ!" ucap Takemichi panik bukan main. Tiba-tiba saja Izana menerjangnya hingga mereka berdua terjatuh, dan kini Izana sudah menduduki perutnya.

"Nah, sepertinya aku harus mengujinya kepadamu," ucap Izana tersenyum penuh arti.

"Hah? Hei, menyingkir!" ucap Takemichi dengan wajah yang mendadak memerah karena posisi mereka yang terlalu intim.

Plak!

Sret!

"Hmmp?!"

Dengan gerakan yang sangat cepat, Izana menyumpal mulut pemuda di bawahnya dan langsung memasukkan paksa cairan dari botol hijau tadi ke dalam tenggorokannya.

"Hm, kau harus menelannya, Hanagaki," ucap Izana memastikan obat itu tertelan sempurna.

"Agh... kenapa kau melakukan ini kepadaku..." ucap Takemichi yang sudah meneteskan air mata di sudut matanya karena tersedak, sebelum akhirnya pandangannya menggelap dan dia tidak sadarkan diri.

Beberapa menit kemudian, Izana dengan setia menunggu di sampingnya. Takemichi perlahan terbangun dari tidurnya yang tidak direncanakan itu, lalu mengucek matanya dengan lemas.

"Kau sudah bangun? Memang benar dugaanku, serum itu akan membuatku menjadi sangat fatal jika aku nekat meminumnya sendiri," ucap Izana yang kini berdiri tegak sembari bersandar di dinding gang dengan satu kaki yang ditekuk.

"Uhm... apa yang kau lakukan padaku?" ucap Takemichi linglung. Otaknya masih berusaha memproses apa yang baru saja terjadi.

Dia perlahan berdiri dan langsung tertegun saat melihat gadis cantik di depannya. Gadis itu benar-benar terlihat sangat luar biasa cantik saat Takemichi memandangnya dengan teliti dari dekat. Wajahnya menawan dengan bentuk tubuh yang ramping, kulit tan yang eksotis, bermata ungu indah, serta rambut putih yang kontras. Jangan lupakan bulu matanya yang lentik sempurna dan bibir mungil berwarna pink cherry yang terlihat segar.

Ah, sepertinya Takemichi benar-benar dibuat terpesona oleh kecantikan gadis di hadapannya ini. Namun, kenapa auranya terasa sangat garang? Ternyata benar kata orang, jika berurusan dengan perempuan itu jangan pernah main-main.

Plak!

Tanpa sadar, Takemichi langsung menampar pipinya sendiri dengan cukup keras.

"Sadar, Takemichi. Kau sudah punya Hina!" gumamnya memperingatkan diri sendiri.

"Kenapa kau malah menampar wajahmu sendiri?!" ucap Izana yang sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran pemuda di depannya.

"Eh? Haha... kenapa ya?" ucap Takemichi tersenyum canggung dengan wajah yang mulai dibanjiri keringat dingin sembari menggaruk pipinya yang tidak gatal.

"Kau sekarang sudah sama denganku, Hanagaki," ucap Izana berjalan menghampiri Takemichi yang otaknya mendadak blank alias nge-lag.

"Hah? Sama? Sama apanya?" bingung Takemichi.

"Tuh lihat, kita sama-sama jadi wanita sekarang," ucap Izana santai sambil menunjuk ke arah dada Takemichi yang kini tampak menonjol dan terasa berat.

"Haaaaa?! Apa-apaan ini?! Kau mengubahku menjadi perempuan?! Kau jahat sekali!! Sekarang bagaimana caranya aku bisa ikut tawuran dengan Tenjiku?! Waaaa, ini sangat memalukan!!!" ucap Takemichi heboh luar biasa sambil memegangi dadanya.

"Hiss, diam! Kau berisik sekali!" ucap Izana kesal sambil menutup telinga.

"Hiks... kau jahat! Kau yang mengubahku menjadi seperti ini," ucap Takemichi mewek dengan wajah memelas yang sangat menyedihkan.

"Sudahlah, ayo kita pergi mencari penawarnya bersama-sama. Kau tidak perlu menangis cengeng seperti itu," ucap Izana mencoba menenangkannya.

"Lalu aku harus bagaimana sekarang? Apakah aku harus tetap ikut tawuran dengan penampilan seperti ini?" ucap Takemichi dengan mata yang masih berkaca-kaca.

"Mikirlah, bodoh! Kau harus menyembunyikan perubahan itu dengan sesuatu agar tetap bisa mengikuti tawuran tanpa dicurigai," ucap Izana memberi solusi.

"Baiklah... Oh iya, sebenarnya siapa namamu?" ucap Takemichi perlahan mengulurkan tangannya untuk berkenalan.

"Izana," ucapnya cuek tanpa berniat menjabat tangan Takemichi yang terulur pasrah.

"Izana? Bukankah kau... ketua Tenjiku?!" ucap Takemichi langsung memiringkan kepalanya terkejut.

"Iya," ucap Izana singkat sambil bersedekap.

"Lalu apa sekarang kau akan tetap tawuran dengan Mikey-kun?" tanya Takemichi lagi.

"Tentu saja, bodoh! Kau dari tadi hanya bicara dan bertanya terus. Ayo ikut aku," ucap Izana langsung menyambar tangan Takemichi dan menariknya pergi menuju suatu tempat.

"Ini rumahmu?" tanya Takemichi saat mereka tiba di depan sebuah bangunan.

"Ayo masuk," ajak Izana.

Mereka akhirnya masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa ruang tamu. Izana kemudian berjalan ke dapur untuk mengambilkan minuman dingin serta beberapa makanan ringan untuk Takemichi.

Sebenarnya, diam-diam Izana suka melihat wajah Takemichi yang tampak canggung dan menangis seperti tadi. Wajah itu nampak sangat menggemaskan baginya. Takemichi memang memiliki wajah imut bawaan yang bisa membuat siapa saja merasa gemas. Bagaimana tidak, sepasang mata birunya yang berbinar cerah dipadukan dengan ekspresi wajah polosnya yang tanpa dosa membuat siapa pun goyah. Ditambah lagi dengan bibir mungil berwarna merah muda yang terlihat manis.

"Makanlah. Dan mulai sekarang kita adalah partner karena harus mencari ilmuwan yang sudah membuatku menjadi seperti ini. Setelah selesai makan, segera tutupi dadamu dengan perban khusus ini," ucap Izana setelah meletakkan nampan berisi minuman dan makanan ringan, sembari menenteng dua gulung perban putih yang biasa digunakan oleh anak tomboi.

"Bagaimana cara aku memakainya?" tanya Takemichi menatap polos ke arah Izana.

Tanpa banyak bicara, Izana langsung menyuruh Takemichi berdiri dan membantunya mengenakan perban khusus itu hingga bagian dadanya tampak lebih rata di balik pakaian.

"Sudah selesai. Lain kali aku akan memberikan pakaian dalam yang seperti tank top agar lebih mudah," ucap Izana setelah merapikan balutan perbannya.

Entah mengapa Izana bisa tahu banyak tentang hal-hal seperti ini secara mendadak. Tindakan itu tentu saja sangat mencurigakan.

"Huum," Takemichi mengangguk patuh dan langsung duduk kembali di sofa. "Apakah kau akan tetap menjadi ketua Tenjiku dengan kondisi seperti ini?" tanya Takemichi penasaran.

"Mungkin aku akan membuat skenario kematian palsu untuk diriku sendiri. Kalau kau bagaimana?" tanya Izana balik.

"Aku mungkin akan meninggalkan Toman untuk sementara waktu dan membuat alasan kepada yang lain kalau aku ingin fokus bersekolah dulu," ucap Takemichi menimbang-nimbang.

"Haih, baiklah. Kita berdua memang harus bisa beradaptasi dengan semua kegilaan ini," ucap Izana menghela napas panjang.

"Kalau begitu, aku akan pulang sekarang. Dadah," ucap Takemichi bersiap meninggalkan rumah Izana.

"Eh, tunggu! Berikan aku kontak ponselmu. Dan... apakah aku boleh memanggil namamu dengan lebih akrab?" ucap Izana sedikit ragu.

"Tentu saja boleh, Izana. Dan ini nomor teleponku," ucap Takemichi tersenyum manis sambil memberikan ponselnya agar dicatat oleh Izana.

"Baiklah, sekarang kau boleh pergi," ucap Izana berusaha menyembunyikan senyumnya.

"Baiklah, aku pulang dulu!" ucap Takemichi sekali lagi sembari melambaikan tangan dengan riang..

.

.

.

.

...-TO BE CONTINUED-...

belok

Kenapa semua ini terjadi?

.

.

.

.

Beberapa hari terakhir, para anggota geng mulai merasa curiga dengan tingkah ketua mereka.

Di Toman sendiri, Takemichi terlihat seperti sengaja menjaga jarak dari para anggota, termasuk Mikey dan yang lainnya.

Sudah hampir seminggu berlalu.

Namun Izana belum juga mengumumkan perang terhadap Toman, sementara Takemichi semakin jarang terlihat berkumpul dengan teman-temannya.

"Menurutmu ada apa dengannya?" tanya Draken sambil memperhatikan Takemichi yang sedang menelepon di kejauhan.

Pemuda itu menunduk sambil bergumam pelan ke arah ponselnya.

"Entahlah. Aku juga tidak tahu," jawab Mikey.

"Dari seminggu yang lalu dia terus seperti itu. Jujur saja, aku mulai sedikit kesal."

Meski berkata begitu, tidak terlihat kemarahan sedikit pun di wajahnya.

"Kenapa?" tanya Mitsuya yang memperhatikan Mikey dan Draken.

"Lihat saja sendiri."

Mereka pun menoleh ke arah Takemichi.

Saat sedang menelepon, Takemichi terlihat menghentak-hentakkan kaki dengan gemas. Sesekali ia berjongkok sambil mencoret-coret tanah menggunakan ranting kecil.

Wajahnya cemberut seperti anak kecil yang sedang bertengkar dengan temannya.

"Lihat kan?" kata Mikey.

"Bukankah dia terlihat menggemaskan kalau diperhatikan lebih dekat?"

Mitsuya dan yang lain ikut mengamati.

Takemichi benar-benar terlihat lucu.

"Jangan bilang kalian berdua..." ujar Pah-chin sambil menunjuk Mikey dan Draken.

"Ah, ayolah," sahut Mikey santai.

"Bukankah Toman akan lebih berwarna jika Takemichi tetap berada di sini? Lagipula, meskipun beberapa dari kalian lurus, aku rasa aku bisa belok kalau yang dihadapiku Takemichi seperti sekarang."

"Uh, aku setuju," kata Draken.

"Tapi Mikey, Takemichi sudah punya Hina," ucap Mitsuya serius.

"Sudah seminggu ini dia tidak menghubungi Hina."

Semua langsung menoleh ke arah Chifuyu yang sejak tadi diam.

"Takemichi bahkan memutuskan hubungan mereka."

"Apa?" seru beberapa orang bersamaan.

"Hina menerimanya dengan cukup tenang. Dia hanya bilang akan menunggu sampai Takemichi berubah."

Chifuyu menghela napas.

"Aku juga tidak tahu apa maksudnya. Yang jelas, Takemichi tersenyum lalu pergi dengan wajah yang terlihat sedih."

"Hmm..." gumam Pah-chin penasaran.

"Begitu ya."

Tak lama kemudian Chifuyu berdiri.

"Sudahlah. Aku akan menghampirinya dulu."

Ia berjalan mendekati Takemichi yang baru saja mengakhiri panggilannya.

"Ne, Takemichi."

"Hm?"

"Kau terlihat sangat kesal. Ada apa?"

"Huwaaaaaa, Chifuyuuuu!!"

Takemichi langsung berhambur memeluknya.

Chifuyu refleks menangkap tubuhnya.

"Hah?"

Ia berkedip heran.

Takemichi terasa lebih kecil dari biasanya.

Tubuhnya juga jauh lebih ramping.

"Sudah, sudah..."

Chifuyu mengusap punggungnya perlahan.

"Ada apa sebenarnya?"

Namun sebelum Takemichi sempat menjawab, beberapa orang yang melihat mereka mulai kesal.

"Oi, Chifuyu! Kenapa kau membuatnya menangis!?" teriak Mitsuya.

"Ano... Mitsuya-kun, aku..." Takemichi mulai panik.

"Ada apa?"

Mikey ikut menghampiri.

Melihat mereka berkumpul, Takemichi justru semakin berkaca-kaca.

"Waaaaaa!! Tolong aku, Mikey-kun!!"

Tangisnya akhirnya pecah.

Semua langsung panik.

"Kenapa? Ada apa?" tanya Chifuyu.

"Kau butuh bantuan?" tanya Mikey.

"Katakan saja pada kami."

Beberapa orang saling pandang.

Entah kenapa, ekspresi memohon Takemichi terlihat sangat menggemaskan.

"Hiks..."

Tubuh Takemichi sedikit gemetar.

Kemudian ia mengeluarkan sebuah foto dari sakunya.

Di dalam foto itu terlihat seorang pria berjas dokter dengan kacamata yang bertengger di hidungnya.

"Siapa dia?" tanya Draken.

"Hiks..."

Takemichi menunjukkan foto itu dengan wajah penuh air mata.

"Tolong cari dia."

"Aku ingin menangkapnya."

BRUK!

Tiba-tiba Chifuyu jatuh terduduk.

"Chifuyu! Apa kau baik-baik saja?" tanya Takemichi khawatir.

"Y-ya... aku baik-baik saja."

Jawaban Chifuyu terdengar sedikit gugup.

"Sial kau, Izana..."

Takemichi menangis dalam hati.

"Aku jadi malu meminta bantuan mereka."

"Memangnya siapa orang ini?" tanya Mitsuya.

Takemichi menarik napas.

"Dia orang yang mengeroyokku dan temanku."

Semua langsung terdiam.

"Dia sangat jahat."

Takemichi menunduk.

"Bahkan dia sempat ingin melecehkanku."

Wajahnya terlihat sedih.

Mata birunya kembali berkaca-kaca.

"Baiklah."

Mikey mengangguk.

"Tapi kau harus tenang dulu."

"Aku akan membantu mencarinya."

Yang lain ikut mengangguk setuju.

"Mikey-kun..."

Takemichi mengangkat wajahnya.

"Kalau begitu, hati-hati."

"Hm?"

"Orang itu gila."

Draken mengernyit.

"Gila?"

Takemichi mengangguk serius.

"Ya."

Ia mengetuk pelipisnya dengan jari telunjuk.

"Dia benar-benar stres."

"Kami takut kalau kalian kenapa-napa karena dia."

"Jadi kalian harus hati-hati, oke?"

"Ya, ya."

Mikey tersenyum tipis.

"Kami akan berhati-hati."

"Baiklah."

Takemichi akhirnya berdiri.

"Aku pulang dulu. Dadah semuanya."

Ia melambaikan tangan sebelum pergi meninggalkan markas.

...⚪⚪⚪...

Drrrrt...

Drrrrt...

Takemichi mengangkat teleponnya.

"Halo?"

"Bagaimana?"

Suara Izana terdengar dari seberang.

"Apakah kau sudah meminta bantuan Toman?"

"Oh iya, kau juga harus ingat. Ilmuwan itu benar-benar gila."

"Ya."

Takemichi mengangguk.

"Aku sudah meminta bantuan mereka."

"Mereka setuju membantu."

"Aku akan mengabarimu jika menemukan keberadaan orang itu atau mendapatkan obat penawarnya."

"Bagus."

Izana terdengar puas.

"Sekarang datanglah ke markasku."

Tut.

Panggilan pun berakhir.

Takemichi langsung berjalan menuju markas Tenjiku yang berada di Shibuya.

Namun tanpa ia sadari, seseorang melihat dan mendengar sebagian percakapannya.

"Eh?"

Chifuyu yang kebetulan lewat berhenti melangkah.

"Jangan-jangan Takemichi yang membuat perang dengan Tenjiku ditunda?"

Ia mengerutkan kening.

"Tapi kenapa dia terdengar sangat akrab dengan Izana?"

"Oi, Chifuyu!"

Suara Mitsuya membuyarkan lamunannya.

"Ayo ke kedai ramen!"

"Ya, ya! Aku datang!"

Chifuyu segera berlari menyusul teman-temannya.

...⚪⚪⚪...

Sementara itu...

Takemichi akhirnya sampai di markas Tenjiku.

Namun baru beberapa langkah, seseorang menghadangnya.

"Oi, Hanagaki."

Takemichi mendongak.

Di depannya berdiri Hanma. Sementara Kisaki berdiri di sampingnya dengan tongkat pemukul di tangan.

"Kenapa kau datang ke sini?" tanya Hanma.

"Minggir."

Takemichi menatap keduanya datar.

"Hah?"

Hanma langsung kesal.

"Ada apa dengan wajahmu itu? Menyebalkan sekali."

"Minggir."

Takemichi mengulang ucapannya.

"Jangan halangi dia masuk!"

Suara lain terdengar dari belakang. Kakucho berjalan mendekat. Luka panjang di dahinya terlihat jelas.

"Ck." Hanma mendecak kesal.

"Malesin."

"Michi." Kakucho tersenyum tipis.

"Kau mau bertemu Izana, kan?"

"Dia sedang menunggumu di dalam."

"Ya, Kaku-chan." Takemichi tersenyum manis.

"Terima kasih."

Senyuman itu membuat Hanma langsung membeku.

"..."

"..."

"Eh?"

Kisaki menoleh.

"Kenapa denganmu?"

Wajah Hanma memerah.

"Hanagaki sangat manis."

Kisaki langsung melotot.

"HEEEH!? KAU BELOK!?"

...⚪⚪⚪...

Takemichi akhirnya masuk ke dalam.

Ruangan markas yang luas itu terlihat rapi dan bersih. Izana sudah duduk menunggunya di atas sofa.

"Bagaimana?" tanya Takemichi sambil duduk di hadapannya.

"Apakah ada kabar?"

Izana menggeleng.

"Aku masih mencarinya."

"Dia sangat sulit dilacak."

"Bahkan aku baru tahu kalau kasus ilmuwan itu melibatkan sesuatu yang cukup besar dan merugikan pemerintah."

Takemichi mengangkat alis.

"Serius?"

Izana mengangguk.

"Sekarang aku bekerja sama dengan polisi dan militer Jepang untuk mencarinya."

"Haih..."

Takemichi menghela napas.

"Aku juga terus mencari informasi tentang identitasnya. Aku menemukan beberapa identitas palsunya."

Izana menyandarkan tubuhnya ke sofa.

"Tapi keberadaan aslinya masih belum diketahui."

"Kalau begitu lihat ini." Takemichi mengeluarkan sebuah map hijau lalu menyerahkannya.

"Aku menemukan beberapa data tambahan."

Izana membuka map tersebut.

Matanya sedikit melebar.

"Kau cukup hebat."

Ia tersenyum tipis.

"Aku bahkan sempat kewalahan menghadapi sistem keamanannya. Identitas ilmuwan itu dilindungi pemerintah Inggris."

Takemichi hanya mengangkat bahu.

"Keberuntungan."

Mereka kembali membaca beberapa dokumen.

Hening sejenak memenuhi ruangan.

Lalu Izana tiba-tiba berbicara.

"Ne, Takemichi."

"Hm?"

"Apakah kau sengaja memanjangkan rambutmu? Kenapa sekarang rambutmu menutupi mata?"

Takemichi langsung menatap Izana.

"Kau juga, Izana."

"Hah?"

"Kalau dilihat lebih dekat, kau seperti sugar mommy."

"..."

Dahi Izana langsung berdenyut.

Takemichi langsung didelik.

"Kau bicara sembarangan."

Izana menyilangkan tangan.

"Kalau begitu..."

Senyum miring muncul di wajahnya.

"Apa kau mau jadi sugar baby-ku?"

Takemichi langsung membeku di tempat.

.

.

.

.

.

...-TO BE CONTINUED-...

dikeluarkan

Mengapa bisa ketahuan?

.

.

.

.

Setelah berpamitan untuk pulang, Takemichi akhirnya berjalan sendirian melewati sebuah gang.

Beberapa berandalan yang mengenalinya sebagai kapten divisi Toman langsung menyingkir dan memberinya jalan.

Namun, Takemichi tidak menyadari bahwa dirinya sedang dibuntuti.

KRAK!

"Eh?"

Takemichi langsung menoleh ke belakang.

"Siapa itu?"

BUGH!

"Ahk!"

Takemichi meringis saat sebuah pukulan menghantam wajahnya.

Tubuhnya langsung terduduk di tanah.

"Hei! Apa-apaan kau!?" bentaknya marah.

"Apa!? Mau marah!?"

Suara itu terdengar penuh amarah.

Takemichi langsung membeku.

"E-eh... Mikey-kun... Draken-kun..."

Tubuhnya mulai gemetar saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya.

"KENAPA KAU BERKHIANAT, TAKEMICHI!?" bentak Mikey.

Ia langsung menarik kerah seragam Takemichi hingga tubuh pemuda itu terangkat dari tanah.

"M-Mikey-kun... apa yang kau bicarakan? Aku tidak berkhianat..." ucap Takemichi dengan suara bergetar.

"LALU APA INI!?"

Mikey semakin marah.

"APA YANG KAU LAKUKAN DI MARKAS TENJIKU!?"

Takemichi membelalak.

"KAU BERHUBUNGAN DENGAN IZANA DAN MEMBUAT TENJIKU TIDAK MENYERANG TOMAN!"

"APA KAU BERNIAT MENINGGALKAN TOMAN DAN BERGABUNG DENGAN MEREKA!?"

"JAWAB, TAKEMICHI!!"

"A-aku tidak pernah menargetkan Toman, Mikey-kun... aku hanya—"

"Hanya apa!?"

Draken ikut berbicara.

"Karena kau akan bergabung dengan Tenjiku?"

"Kau sangat akrab dengan Izana dan anggota Tenjiku lainnya."

"Apakah ini balasan yang kami dapatkan setelah mempercayaimu?"

"T-tapi—"

"Kemari kau."

Mikey langsung menyeret Takemichi.

"Tunggu, Mikey-kun!"

Takemichi mulai panik.

"Aku bisa menjelaskan semuanya!"

"Ini hanya salah paham! Tolong dengarkan aku dulu!"

Namun tidak ada satu pun yang mendengarkannya.

...⚪⚪⚪...

Tak lama kemudian mereka tiba di Kuil Musashi, markas Toman.

Takemichi yang sudah babak belur diseret ke hadapan seluruh anggota.

Sebelumnya Mikey telah menghubungi seluruh petinggi dan anggota Toman untuk segera berkumpul.

Takemichi hanya mampu menunduk.

Pipinya lebam dan matanya memerah karena sempat menangis.

"Semuanya sudah berkumpul?"

Suara Mikey terdengar tegas dan mendominasi.

"Ya!"

"Sudah!"

Beberapa anggota menjawab bersamaan.

"Ada apa, Ketua?" tanya salah satu anggota.

Mikey menunjuk Takemichi.

"Hanagaki Takemichi telah berkolaborasi dengan Tenjiku."

Kerumunan langsung gempar.

"APA!?"

"Dia juga diam-diam keluar masuk markas Tenjiku selama ini."

"Aku melihatnya sendiri."

"Dia memiliki hubungan yang sangat dekat dengan anggota-anggota Tenjiku."

Takemichi langsung mengangkat kepala.

"Tidak!"

"Aku tidak—"

"Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri."

Mikey memotong ucapannya.

"Takemichi keluar dari markas Tenjiku yang merupakan musuh kita."

...⚪⚪⚪...

Flashback

Saat itu Takemichi datang ke markas Tenjiku.

Di kejauhan, Mikey dan Draken yang sedang berkendara motor tanpa sengaja melihatnya.

"Oi, Hanagaki." Hanma menyambut Takemichi di depan markas.

"Kenapa kau datang?"

"Minggir, Hanma. Kisaki."

Takemichi berjalan santai.

"Haaah!? Ada apa dengan wajahmu itu! Menyebalkan sekali."

"Minggir!" Kakucho muncul dari belakang.

"Jangan halangi dia masuk."

"Ck. Malesin."

Hanma mendecak.

"Michi, kau mau bertemu Izana?"

"Iya."

"Dia sedang menunggumu."

"Terima kasih, Kaku-chan." Takemichi tersenyum manis.

Hanma langsung terdiam.

Wajahnya perlahan memerah.

"Eh?"

Kisaki menoleh heran.

"Ada apa denganmu?"

"Hanagaki sangat manis."

"..."

"Heeeeh!? Kau belok!?"

Sementara itu, dari kejauhan Draken dan Mikey memperhatikan semuanya.

"Eh?"

Draken terkejut.

"Itu Takemichi, kan?"

"Mana?"

Mikey ikut melihat.

Wajahnya langsung mengeras.

"Dasar pengkhianat."

"Hubungi semua anggota."

"Kumpulkan mereka di markas."

"Baik."

Flashback selesai.

...⚪⚪⚪...

"T-tapi, Mikey-kun..."

Takemichi mencoba berbicara.

"Aku benar-benar tidak berkhianat."

Selama dua minggu terakhir ia menyembunyikan rahasia mengenai dirinya dan Izana.

Namun sekarang semuanya terlihat seperti kesalahpahaman besar.

"KAU MASIH TIDAK MAU MENGAKUI KESALAHANMU!?" bentak Mikey.

Beberapa anggota mulai menatap Takemichi dengan kebencian.

Mereka sangat membenci pengkhianat.

"Biarkan aku menjelaskan, Mikey-kun."

Takemichi menggertakkan gigi.

"Aku benar-benar bukan pengkhianat."

BUGH!

BUGH!

Dua pukulan keras menghantam tubuhnya.

Takemichi langsung tersungkur.

"MULAI HARI INI!"

Suara Mikey menggema di seluruh area kuil.

"HANAGAKI TAKEMICHI!"

"KAU DIKELUARKAN DARI TOMAN!"

Mata Takemichi membelalak.

Tubuhnya bergetar.

Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Oh ya."

Mikey melangkah mendekat.

Takemichi perlahan mendongak.

KRAK!

WUSSH!

Suara kain yang robek terdengar nyaring.

Seragam Toman milik Takemichi langsung tercabik dan sobekannya beterbangan tertiup angin.

Takemichi refleks menutupi tubuhnya.

Matanya dipenuhi keterkejutan dan kemarahan.

"Kau tidak pantas memakai seragam itu lagi."

"Kau!!"

Takemichi langsung menunjuk Mikey.

Wajahnya memerah karena marah dan malu.

Baginya, tindakan itu sudah sangat mempermalukan dirinya di depan semua orang.

Namun Mikey hanya menatap datar.

"Mau marah?"

"Itu hukuman untuk pengkhianat."

Dorongan keras kembali diberikan.

Takemichi terjatuh di tangga kuil.

"Dasar pengkhianat!"

"Pergi dari sini!"

"Keluar dari Toman!"

"Pengkhianat!"

"Dia mata-mata Tenjiku!"

"Usir dia!"

Teriakan demi teriakan memenuhi area kuil. Takemichi hanya bisa menggigit bibirnya.

Tubuhnya kotor oleh debu.

Air matanya terus mengalir.

Ia menoleh sekilas.

Beberapa temannya terlihat ingin mengatakan sesuatu.

Namun tidak ada yang berani melawan kemarahan Mikey saat itu.

Chifuyu hanya menatapnya dengan wajah sendu.

Takemichi akhirnya pergi meninggalkan tempat itu seorang diri.

...⚪⚪⚪...

"Mikey."

Draken akhirnya berbicara.

"Kenapa kau memperlakukannya seperti itu?"

"Kau tidak seharusnya melakukan itu pada Takemichi."

"Diam, Kenchin."

Mikey menatap ke depan.

"Takemichi sudah keterlaluan."

"Dia mengkhianati Toman."

"Mikey!"

Kali ini Chifuyu yang bersuara.

"Kenapa?"

Nada suara Mikey mulai terdengar jengah.

"Kenapa kau memperlakukannya seperti itu?"

Chifuyu mengepalkan tangannya.

"Aku pernah mendengar percakapan telepon Takemichi dengan Izana."

Mikey dan yang lain langsung menoleh.

"Apa maksudmu?" tanya Mikey.

...⚪⚪⚪...

Flashback

Drrrrt...

Drrrrt...

"Halo."

Takemichi mengangkat teleponnya.

"Bagaimana?"

Suara Izana terdengar dari seberang.

"Apakah kau sudah meminta bantuan Toman?"

"Oh iya. Kau juga harus tahu kalau ilmuwan itu gila."

"Ya."

Takemichi mengangguk.

"Aku sudah meminta bantuan kepada Toman."

"Mereka menyetujui permintaanku."

"Aku akan mengabarimu saat menemukan orang itu atau mendapatkan obat penawarnya."

"Baik."

"Kau harus tetap profesional."

"Sekarang datanglah ke markasku."

Tut.

Panggilan berakhir.

Takemichi lalu berjalan menuju markas Tenjiku.

Sementara itu, Chifuyu yang kebetulan mendengar sebagian percakapan hanya mengernyit bingung.

"Jangan-jangan Takemichi yang membuat perang dengan Tenjiku tertunda?"

"Tapi kenapa dia terdengar sangat akrab dengan Izana?"

"Oi, Chifuyu!"

Mitsuya memanggilnya.

"Ayo ke kedai ramen!"

"Ya! Aku datang!"

Flashback selesai.

...⚪⚪⚪...

"Setelah kupikir-pikir lagi..."

Chifuyu menatap ke arah tangga tempat Takemichi tadi pergi.

"Mungkin Takemichi memang punya alasan untuk berhubungan dengan Tenjiku."

"Beberapa anggota Tenjiku yang berpapasan denganku juga tidak terlihat seperti sedang bersiap perang."

"Mikey."

Chifuyu menggenggam sobekan seragam Takemichi yang tertinggal.

"Apa kau tidak merasa ada sesuatu yang janggal?"

Suasana langsung hening.

"Jadi..."

Draken perlahan membuka suara.

"Takemichi mungkin tidak berkhianat?"

Mitsuya langsung menoleh ke arah Chifuyu.

"Kalau begitu kenapa kau tidak mengatakan semua ini sejak tadi?"

Chifuyu menundukkan kepala.

"Aku..."

Ia menggenggam erat sobekan seragam itu.

"Aku melihat Mikey sangat marah."

"Aku ingin menghentikannya."

"Aku ingin membela Takemichi."

"Tapi aku takut."

Suara Chifuyu mulai melemah.

"Aku tidak bisa mengatakan apa pun."

Ia menatap kain yang ada di tangannya.

"Kau bahkan merobek seragamnya..."

Kalimat itu membuat suasana menjadi jauh lebih berat dari sebelumnya.

.

.

.

.

...-TO BE CONTINUED-...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!