NovelToon NovelToon

Runtuhnya Janji Suci Pernikahan

Bab. 1. Paksaan Untuk Mempunyai Anak.

"Mbak, spaghetti Bolognesenya udah siap?"

Teriakan dari seorang pelayan di sebuah restoran memenuhi dapur, terlihat keadaan dapur sangat riweh sekali karena padatnya pengunjung malam ini.

"Sebentar lagi!"

Seorang wanita yang merupakan koki di restoran itu tengah sibuk menyiapkan pesanan para pelanggan. Sudah berjam-jam dia sama sekali tidak bisa beristirahat, karena pengunjung restoran itu terus berdatangan.

Setelah makanan itu selesai, koki tersebut memencat bel yang ada di dapur agar pelayan mendengarnya. Itu sudah seperti kode bagi para pekerja untuk memberitahukan bahwa makanan sudah bisa disajikan.

"Mbak istirahat saja dulu, kami bisa menyelesaikan pesanan yang lain," ucap wanita bernama Lisa, asisten dari koki tersebut.

Wanita itu mengangguk, lalu berjalan ke arah kursi yang ada di sudut ruangan untuk mengistirahatkan diri sejenak.

"Hah, lelahnya." Keringat mengucur di tubuhnya, lalu tangannya terangkat untuk mengusap kening yang juga dibasahi keringat.

Setiap harinya, wanita bernama Hyuna itu menghabiskan waktu selama 10 jam berada di dapur. Dapur itu sendiri sudah seperti medan perang baginya, di mana semua orang sibuk ke sana kemari untuk menyajikan pesanan dari para pelanggan.

"Mbak!"

Panggilan kerja kembali terdengar membuat Hyuna langsung beranjak dari kursi menuju pantry.

Tepat pukul 10 malam, Hyuna sudah menyelesaikan semuanya dan segera beranjak pergi dari dapur untuk bertukar sip. Dia berjalan gontai menuju ruang ganti karena merasa benar-benar lelah.

"Mbak mau langsung pulang?" tanya Lisa yang berjalan di belakang Hyuna.

Hyuna menganggukkan kepalanya. "Iya Lis, Mas Aksa udah nunggu di depan."

"Duuh ... iri banget deh, liat Mbak dan mas Aksa. Kapan ya, suamiku perhatian kayak gitu?" tanya Lisa pada dirinya sendiri.

Hyuna tersenyum simpul sambil menepuk bahu asistennya itu. "Sabar, pasti nanti ada masanya." Dia berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.

Setelah beberapa saat, Hyuna keluar dari ruangan itu dengan wajah cerah dan berseri seolah sama sekali tidak melakukan apa-apa.

"Mas!"

Aksa yang saat itu sedang bermain ponsel mendengar panggilan seseorang, sontak dia menoleh ke arah samping di mana sang istri berada. "Hari ini Mas lihat pelanggannya banyak, Dek?"

Hyuna langsung menganggukkan kepalanya. "Banyak banget, Mas. Sampai lemes kakiku ke sana kemari." Dia cemberut dengan sangat menggemaskan.

"Yaudah, besokkan bisa istirahat penuh di rumah." Aksa beranjak dari kursi dan berjalan ke arah mobil beriringan dengan Hyuna.

"Iya, Mas. Tapi kan besok mau nyiapin annyversary kita, enggak bisa tidur lah," ucap Hyuna sambil masuk ke dalam mobil.

"Kau tenang aja, Dek. Mas udah siapin semuanya kok, pokoknya kau tinggal terima beres aja,"

"Really?" Hyuna menatap Aksa dengan mata berbinar-binar.

"Iya. Mas udah bayar orang untuk menyiapkan semuanya. Jadi gak perlu capek-capek lagi." Aksa menganggukkan kepalanya.

"Aah. Kau memang yang terbaik, Mas." Hyuna memeluk lengan sang suami dengan senang, beruntung sekali dia punya suami seperti Aksa yang selalu perhatian dan pengertian padanya.

Tidak berselang lama, sampailah mereka ke sebuah rumah yang sudah 4 tahun ini menjadi saksi perjalanan rumah tangga mereka.

Aksa menggelengkan kepalanya dengan senyum simpul saat melihat Hyuna terlelap. Tidak tega untuk membangunkannya, Aksa menggendong tubuh sang istri dan membawanya masuk ke dalam rumah.

Hyuna yang berada dalam gendongan Aksa tersenyum bahagia. Dia yang sudah bangun saat laki-laki itu menggendongnya memilih untuk pura-pura tidur, sungguh istri yang sangat solehot sekali.

Aksa merebahkan tubuh Hyuna ke atas ranjang, dia lalu mengambilkan gaun malam yang biasa di pakai oleh sang istri.

"Mas!"

Aksa tersentak kaget saat Hyuna membuka kedua matanya. "Dek, kau sudah bangun?"

Hyuna terkekeh lalu beranjak duduk. "Aku udah bangun saat Mas gendong tadi. Maaf ya Mas, aku bohongi." Dia menutup mulutnya yang tertawa geli.

"Dasar kau ya Dek, apa pikirnya kau itu tidak berat?" Aksa menggelitiki pinggang Hyuna membuat wanita itu tertawa terbahak-bahak.

"Ampun Mas, ampun. Hahahah." Hyuna lalu bangun dan menimpa tubuh sang suami.

"Hyuna, jangan memancingku. Aku tau kalau kau sangat lelah hari ini." Aksa memandang Hyuna dengan sayu, hasratnya mulai naik saat ini.

Hyuna langsung mengecup bibir Aksa. "Aku memang lelah, Mas. Tapi aku tidak mau kehilangan pahala untuk melayanimu."

Aksa tersenyum senang dan langsung menyerang Hyuna untuk menyalurkan hasratnya. Mereka menghabiskan malam ini dengan adegan pemersatu bangsa.

****

Tepat pukul 9 pagi, Aksa terbangun saat mendengar suara ketukan dipintu kamarnya. Dengan cepat dia turun dari ranjang untuk melihat siapa yang sedang mengetuk pintu itu.

"Loh, Ibu? Kok pagi-pagi sudah di sini?" tanya Aksa sambil menguap menahan kantuk.

"Astaga. Hebat kalian ya, jam segini belum bangun. Mana istri kamu yang pemalas itu, hah?" Wanita paruh baya bernama Mona bersiap untuk masuk ke dalam kamar, tetapi Aksa langsung menghalangi dan menutup pintu kamarnya.

"Apa yang kau lakukan sih, Aksa? Ibu mau membangunkan istrimu itu." Mona menatap putranya dengan tajam.

"Kenapa sih, Bu? Hyuna lelah karena banyak pelanggan di restoran, jadi biarkan dia istirahat,"

"Apa, lelah katamu?" Mona berteriak marah. "Banyak kok, istri diluar sana yang bekerja tapi tidak seperti istrimu itu. Jangan terlalu memanjakannya, Aksa. Nanti dia nglunjak."

Aksa mengusap wajahnya dengan kasar, kepalanya berdenyut sakit mendengar ocehan ibunya pagi-pagi begini.

"Sudahlah, Bu. Ibu mau apa sebenarnya? Aku pusing liat Ibu marah-marah." Aksa berjalan ke arah tangga dengan diikuti olah Mona.

"Ibu mengatakan yang sebenarnya, Aksa. Istrimu itu tidak bisa dibiarkan. Udah pemalas, mandul pula,"

"Ibu!" Aksa menghentikan langkahnya dan menatap ibunya dengan tajam.

"Kenapa? Ibu hanya mengatakan kenyataannya saja." Mona lalu menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. "Sudah 4 tahun kalian berumah tangga, Aksa. Tapi istrimu belum hamil juga, apa itu namanya tidak mandul?"

Aksa menghela napas kasar, dia muak sekali mendengar ucapan sang ibu. "Anak itu pemberian Tuhan, Bu. Jika Tuhan belum memberinya, bagaimana mungkin kami bisa punya anak?"

"Ini bukan karena Tuhan, Aksa. Tapi karena istrimu mandul!"

Tbc.

Bab. 2. Berhentilah Dari Pekerjaan.

"Ibu!"

Aksa mengusap wajahnya dengan kasar. Entah harus seperti apa lagi dia bicara dengan sang ibu untuk memahami keadaan saat ini. Perihal anak, tentu saja menjadi urusan Tuhan. Sementara mereka, hanya bisa berusaha saja.

Hyuna yang mendengar suara keributan tentu saja terbangun dari tidurnya. Dia beranjak keluar dari kamar untuk melihat apa yang terjadi, dan dia mendengar semua ucapan yang dilontarkan oleh sang mertua.

Aksa yang akan kembali ke dalam kamar terkejut saat melihat keberadaan Hyuna di ujung tangga. "D-Dek? Kau sudah bangun?"

Hyuna tersenyum ke arah Aksa yang berjalan ke arahnya, sementara Mona yang melihatnya langsung memalingkan wajah.

"Kenapa sudah bangun? Tidur saja lagi," ucap Aksa sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding.

"Berisik gitu, emang siapa yang bisa tidur, Mas." Hyuna beranjak menuruni anak tangga membuat Aksa kembali mengikutinya.

Hyuna bukannya tidak peduli atau pun tidak sakit hati dengan apa yang mertuanya katakan. Hanya saja dia sudah kebal dengan ucapan seperti itu, karena setiap datang mertunya selalu membahas tentang anak dan anak tidak ada habisnya. Memangnya siapa sih, wanita yang tidak ingin punya anak?

Mona melirik Hyuna dengan sinis. "Bangun juga, kau?"

Hyuna tersenyum manis lalu duduk di hadapan sang mertua. "Ya, Ibu. Ada yang bisa saya bantu?" Dia menyilangkan salah satu kakinya di atas kaki yang lain seperti seorang bos.

"Istri macam apa kamu, yang jam segini baru bangun?" ucap Mona dengan ketus dan juga pedas.

"Bu!" Aksa kembali menegur ibunya agar tidak mencari keributan. Ingin sekali dia mengusir wanita paruh baya itu saat ini juga, tetapi nanti dianggap durhaka dan dikutuk menjadi batu.

"Istri yang lelah karena sudah seharian bekerja, Ibu."

"Halah. Selalu itu saja yang kau jadikan alasan untuk kemalasanmu, dasar tidak tau diri!"

Hyuna mengepalkan tangannya dengan erat. Dia bukan wanita lemah yang selalu bisa ditindas, tetapi jika lawannya sang mertua. Dia juga tidak bisa melawannya dengan keras.

"Pokoknya ibu tidak mau tau, Hyuna. Berhenti dari pekerjaanmu atau cerai dari Aksa."

"Apa?"

Baik Aksa maupun Hyuna sama-sama terkejut dengan apa yang Mona katakan. "Ibu bicara apa, sih?" Aksa menatap ibunya dengan tajam.

"Ibu bicara apa kau bilang? Ibu bicara demi kebaikanmu, Aksa. Mau jadi apa kalian jika tidak punya keturunan, hah?"

"Ini masih 4 tahun, Bu. Bukannya 10 tahun atau 20 tahun. Kami masih punya banyak waktu untuk-"

"Diam kamu!" Mona menunjuk ke arah Hyuna membuat ucapannya terpaksa berhenti. "Pokoknya berhenti dari pekerjaanmu dan diam di rumah, fokus saja pada program kehamilan. Apa kau paham?"

Hyuna menghela napas kasar dengan penuh kesal. Sudah bertahun-tahun dia menjadi seorang koki, masa harus berhenti begitu saja?

"Menurut Mas apa yang ibu katakan itu benar, Dek."

Hyuna langsung menatap Aksa dengan tajam. "Maksudmu apa, Mas? Kau menyuruhku untuk berhenti kerja juga, hah?" Dia benar-benar tidak percaya.

"Bukan begitu, Sayang. Aku cuma kasihan melihatmu terlalu lelah, tubuhmu kan juga butuh istirahat. Jadi, lebih baik kau di rumah saja."

"Tapi aku tidak apa-apa, Mas. Aku bisa-"

"Lihat, wanita keras kepala ini memang tidak mau mendengar siapapun. Jangankan mendengarkan ibu, mendengarkan kau aja dia tidak mau, Aksa. Untuk apa lagi wanita seperti dia kau pertahankan."

Hyuna beranjak pergi dari tempat itu sebelum kesabarannya benar-benar habis. Bukankah mereka sudah sangat keterlaluan sekali padanya?

"Hyuna, tunggu-"

"Mau ke mana kau, Aksa. Ibu belum selesai bicara."

Aksa yang sudah berbalik dan hendak mengikuti Hyuna terpaksa menahan langkahnya, dia lalu kembali menoleh ke arah samg ibu. "Cukup, Bu. Ibu sudah keterlaluan. Lebih baik Ibu pulang sekarang juga, sebelum keributan semakin besar."

"Kau mengusir ibu?" Mona menatap putranya dengan sayu. Dia tidak menyangka jika putranya sendiri tega mengusirnya.

"Bukan seperti itu, Bu."

Aksa menjambak rambutnya dengan frustasi. Dia jadi merasa serba salah. Dia tahu jika tidak seharusnya ibunya berkata seperti itu pada Hyuna, tetapi wanita itu juga terlalu keras kepala.

"Ibu tidak menyangka kalau putra ibu satu-satunya tega mengusir ibunya sendiri." Mona memulai drama dan terisak pilu.

Aksa mendekati sang ibu lalu memeluknya. "Maafkan aku, Bu. Tadi aku tidak bermaksud untuk mengusir Ibu, aku hanya terbawa emosi."

Mona menganggukkan kepalanya. "Ibu tau jika anak ibu tidak seperti itu. Tapi, kau bisakan menuruti apa kata Ibu?" Dia menatap Aksa dengan mata berkaca-kaca.

Aksa kembali terdiam dengan helaan napas kesal. "Baiklah. Nanti aku akan membicarakannya dengan Hyuna."

Mona mengangguk senang dengan bibir melengkung bak bulan sabit. Kemudian dia beranjak kembali ke rumahnya setelah melakukan apa yang dia inginkan.

Setelah melihat ibunya pergi, Aksa beranjak untuk kembali menemui Hyuna yang berada di dalam kamar.

"Dek!" panggil Aksa sambil melangkah masuk ke dalam kamar.

Hyuna yang berada di atas ranjang bergeming dan tidak menghiraukan kedatangan sang suami.

"Dek, mengertilah dengan kekhawatiran kami. Ibu juga sangat mengkhawatirkanmu, makanya dia jadi seperti itu. Tidak ada salahnya 'kan, jika kau berhenti kerja?"

Hyuna tetap diam sambil menenggelamkan kepalanya di bantal, tentu saja hatinya sakit dengan apa yang mereka katakan.

"Dek, bicaralah." Aksa menggoyangkan tubuh Hyuna sampai akhirnya wanita itu beranjak duduk.

"Aku juga ingin punya anak, Mas. Memangnya ini salahku, jika sampai sekarang aku tidak punya anak? Kenapa ibu selalu mengatakan kalau aku mandul?" Air mata Hyuna keluar juga, padahal sejak tadi dia mencoba untuk bertahan.

Aksa memeluk tubuh Hyuna dengan erat. "Itu sebabnya ikuti saja apa yang ibu katakan, Dek. Mungkin dengan istirahat akan baik untuk kesehatanmu, sehingga peluang untuk punya anak semakin besar. Bukannya Dokter menyuruhmu untuk banyak istirahat?"

Hyuna terdiam. Apa yang Aksa katakan itu benar, tapi tidak rela rasanya jika harus keluar dari pekerjaan yang sudah bertahun-tahun di jalani.

"Aku mohon, hem?"

Hyuna menghela napas kasar. "Baiklah, Mas. Aku akan mengundurkan diri."

Tbc.

Bab. 3. Annyversary.

Aksa segera bersiap untuk mengambil kue yang sudah dia pesan sebelumnya, sementara Hyuna tetap berada di rumah sambil memperhatikan para pekerja yang sedang menyiapkan tempat untuk acara annyversary mereka malam ini.

Mata Hyuna memperhatikan orang-orang, tetapi tidak dengan hati dan juga pikirannya. Wanita mana pun pasti akan sedih jika terus didesak perihal keturunan, apalagi semua itu bukan berada di tangannya melainkan di tangan Tuhan.

"Ya Allah. Apa Kau belum juga mempercayaiku untuk menjadi seorang ibu? Harus berapa lama lagi aku menunggu datangnya anugerah dari-Mu?" Air mata Hyuna kembali menetes. "Jika Kau memang merasa aku belum pantas, maka berikan kekuatan padaku untuk menerima segala hinaan dan cacian. Kuatkan hatiku untuk menerimanya, ya Allah."

Hidup Hyuna sudah cukup bahagia hanya dengan menjadi istri Aksa, apalagi laki-laki itu sangat baik dan juga mencintainya. Namun, bukan berarti dia tidak menginginkan anak. Dia juga sangat menginginkannya, tapi apalah daya jika yang kuasa belum memberikannya.

*

*

*

Tepat pukul 8 malam, rumah mereka sudah terlihat ramai oleh para keluarga dan juga teman yang sengaja diundang untuk merayakan annyversary mereka yang ke-4. Hyuna tampil cantik dengan gaun berwarna rose gold yang membuat dia sangat cantik dan juga mempesona, apalagi dengan hijab yang dia pakai menambah aura keanggunan yang terpancar di wajahnya.

Aksa sendiri juga memakai kemeja yang selaras dengan gaun Hyuna, ditambah jas casual yang membuat ketampanannya semakin terpancar.

Aksa lalu mengucapkan terima kasih pada mereka semua yang hadir pada malam hari ini, setelahnya dia dan Hyuna bersiap untuk acara selanjutnya.

Hyuna memotong puncak tumpeng sebagai simbol annyversary mereka, tidak lupa dengan kue yang juga sudah di siapkan oleh Aksa.

Do'a-do'a dari semua orang beterbangan ke langit. Berharap rumah tangga Hyuna dan juga Aksa selalu bahagia dan langgeng sampai maut memisahkan, tidak lupa mereka mendo'akan agar Aksa dan juga Hyuna cepat diberikan momongan.

"Wah, kalian masih terlihat seperti pengantin baru, Hyuna," ucap salah satu teman Hyuna. Saat ini dia sedang menemui teman-temannya sementara Aksa juga bersama dengan teman-teman yang lain.

"Alhamdulillah. Terima kasih karena kalian sudah datang, jangan lupa nikmati acara dan makanannya ya."

"Tentu saja, Hyuna. Sejak tadi kami tidak berhenti makan. Apa kau sendiri yang memasak semua ini?" tanya teman Hyuna yang lain.

"Tentu saja tidak, Shanti. Bisa pingsan aku jika memasak semua ini," ucap Hyuna sambil memperagakan bagaimana orang pingsan membuat teman-temannya tertawa.

"Tapi rasanya benar-benar lezat, Hyuna. Kami tau sekali jika ini adalah masakanmu, jika tidak pun pasti kau yang memberikan resepnya."

Semua orang setuju dengan apa yang teman-teman Hyuna katakan, dan bukan kali pertama dia mendapat pujian untuk makanan yang dibuat.

Sejak dulu masakan Hyuna memang sangat enak, bahkan teman-temannya selalu mengatakan jika tangannya adalah maha karya Tuhan yang luar biasa. Apapun yang Hyuna masak, pasti rasanya sangat lezat padahal dia tidak pernah sekolah tentang memasak.

"Hyuna!"

Hyuna lalu menghampiri keluarganya yang baru saja tiba. Mereka terlambat gara-gara mobil yang dikendarai mogok di tengah jalan, itu sebabnya baru sampai sekarang.

"Selamat untuk ulang tahun pernikahan kalian, Nak. Semoga selalu bahagia dan cepat diberi momongan." Do'a tulus dari seorang ibu terucap untuk anaknya membuat Hyuna merasa bahagia, begitu juga dengan ayah yang tidak lupa memberikan do'a terbaik untuk pernikahan sang putri.

"Tapi di mana Aksa, Nak? Sejak tadi ayah tidak melihatnya," tanya Beni, dia adalah ayah kandung Hyuna.

Hyuna mengedarkan pandangan ke semua arah untuk mencari keberadaan sang suami, sampai akhirnya tatapannya terkunci pada satu arah di mana Aksa sedang berjalan beriringan dengan seorang wanita.

"Siapa dia?" Hyuna bertanya-tanya siapa sosok wanita yang ada di samping Aksa, yang saat ini sedang bercengkrama dengan mertuanya.

"Mas!" Hyuna memilih untuk memanggil Aksa membuat laki-laki itu menoleh. Terlihat Aksa menganggukkan kepalanya, lalu kembali bicara dengan wanita itu.

Hyuna menjadi sangat penasaran, ingin sekali dia mendekati Aksa tetapi kakinya terasa menancap di tanah.

Aksa dan wanita itu lalu berjalan ke arah Hyuna yang terus menatap mereka, bukan Hyuna saja. Bahkan semua orang ikut menatap ke arah mereka.

"Hyuna, perkenalkan. Dia adalah Laura, dia teman masa kecilku yang baru kembali dari amerika."

Hyuna tersenyum canggung sambil mengulurkan tangannya, wanita itu juga ikut tersenyum sambil membalas uluran tangan itu.

"Wah, aku tidak menyangka jika Aksa sudah menikah. Padahal baru kemaren sepertinya kami main rumah-rumahan," ucap wanita bernama Laura itu membuat Aksa tergelak.

"Sekarang aku sudah main rumah-rumahan sungguhan dengan istriku, sekarang giliranmu, Laura. Kapan kau akan menikah?"

Hyuna memperhatikan interaksi di antara Aksa dan juga wanita itu, dan terlihat sekali jika mereka sangatlah akrab.

"Ayolah, Hyuna. Masa kau cemburu cuma karena Aksa bicara dengan teman masa kecilnya sih!" Hyuna menggelengkan kepalanya agar tidak berpikir yang iya-iya.

Kemudian dia berbalik dan kembali mengobrol dengan keluarganya. Percuma juga dia bergabung bersama dengan Aksa dan juga Laura, karena mereka berdua sepertinya sedang membahas tentang masa lalu.

Dari kejauhan, Mona tersenyum saat memperhatikan interaksi antara Aksa dan juga Laura. Tidak disangka wanita itu kembali dan berkunjung ke rumahnya, tentu saja semua itu adalah pertanda baik.

Semua orang tampak menikmati makanan dan minuman yang sudah tersaji di tempat itu. Tidak hanya satu atau dua orang saja yang memuji masakan, Hyuna. Bahkan semua orang tampak sangat puas dan menikmatinya.

"Sepertinya istrimu pintar memasak ya, Aksa. Semua orang memujinya," ucap Laura.

Aksa tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Ya, dia sangat pintar memasak. Dan masakannya selalu enak."

Laura ikut tersenyum saat Aksa memuji masakan Hyuna, lalu dia melirik ke arah wanita itu yang sedang tertawa terbahak-bahak bersama dengan keluarganya.

Tepat pukul 11 malam, orang-orang sudah mulai pergi meninggalkan rumah itu. Tinggalah keluarga Aksa, dan juga keluarga Hyuna yang masih berada di tempat. Oh ya, jangan lupakan keberadaan Laura yang juga ada di sana.

"Biarkan malam ini Laura menginap di sini, Aksa. Kasihan anak gadis malam-malam pulang sendirian."

Tbc.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!