NovelToon NovelToon

Dinikahi Tapi Tidak Dicintai

Perjodohan

"Seorang teman Ibu menginginkan anaknya segera menikah lagi sejak kepergian istrinya. Ibu fikir, kenapa tidak sebaiknya kamu mencoba untuk bertemu dengannya dan menikah dengannya"

Jenny terdiam mendengar ucapan Ibu yang begitu mengejutkan, bagaimana Ibu memang sudah menyuruhnya untuk segera menikah. Tapi memang Jenny belum siap menikah setelah dia merasakan bagaimana sakitnya dikhianati oleh pacar dan sahabatnya sendiri.

"Tapi aku..."

Ibu meraih tangan anaknya dengn lembut, menatap Jenny dengan penuh kasih sayang. "Jenny, asal kamu tahu tidak semua pria akan berkhianat seperti mantan pacarmu itu. Cobalah untuk membuka hatimu kembali dan mencoba untuk menjalin hubungan yang baru lagi"

Jenny terdiam, memang sudah terlalu lama dia menyendiri dan menjauh dari setiap pria yang mendekatinya. Alasannya hanya satu, ya karena dia tidak percaya pada semua pria dan menganggap pria akan melukainya lagi.

"Cobalah untuk bertemu dulu dengannya, Ibu yakin kamu pasti akan merasa cocok dengan dia. Tidak papa jika dia sudah menikah dan mempunyai seorang anak, yang penting dia bisa membuat kamu bahagia"

Dan akhirnya Jenny tidak bisa menolak keinginan Ibu. Malam ini dia sudah bersiap untuk pergi bersama Ibu ke rumah temannya yang ingin menjodohkan anaknya dengan dia itu.

"Ayo Nak, kamu sudah siap?"

Jenny mengangguk, dia mengambil kunci mobil di atas meja. "Iya Bu, ayo kita berangkat"

Jenny sudah berusaha untuk tampil sopan dan menarik. Bukan karena dia yang antuasias pada perjodohan ini. Tapi Jenny hanya mencoba untuk tampil baik dan tidak mempermalukan Ibunya.

Sampai di sebuah rumah yang cukup mewah dengan halaman rumah yang juga luas. Jenny memarkirkan mobilnya dengan helaan nafas panjang. Dia tidak bisa memikirkan bagaimana nanti saat untuk pertama kalinya dia menyetujui untuk bertemu dengan pria pilihan Ibunya.

"Wah sudah datang ya, mari masuk Bu dan ini..?" Seorang wanita yang terlihat cukup muda dari Ibu menyambut mereka dengan hangat. Dia menatap pada Jenny untuk mempertanyakan siapa namanya.

"Varelia Jenny Tante" Jenny menyalami wanita itu dengan sopan

"Wah, kamu cantik sekali Varelia"

Rasanya Jenny lebih merasa aneh saat ada yang memanggil nama depannya seperti itu. Namun dia tetap tersenyum ramah padanya.

"Panggil saja Mama Nak, kamu akan menjadi anak Mama mulai sekarang"

Jenny hanya tersenyum mendengar itu, dia tidak merasa kalau dirinya benar-benar akan menjadi anak dari Mama. Jenny yang terlalu tidak percaya diri dan tidak terlalu berharap jika perjdohan ini akan berhasil.

Mereka semua masuk duduk di sofa ruang tamu ketika Mama menyambutnya mereka dengan begitu hangat dan ramah. Jenny menatap ke arah tangga ketika dia mendengar suara derap langkah. Seorang pria tampan yang menuntun seorang anak perempuan yang sangat imut sekali. Entah kenapa Jenny langsung jatuh cinta pada anak kecil itu.

Dia sangat menggemaskan seperti Gevin.

Memang sejatinya Jenny adalah penyuka anak kecil. Gevin adalah anak ari sahabatnya yang dia anggap sebagai saudaranya sendiri. Gevin juga sangat dekat dengan Jenny sehingga dia begitu menyayangi anak itu.

"Hildan, kesini Nak. Ini adalah Varelia. semoga dia akan menjadi Ibu untuk Zaina"

Jenny tersenyum kikuk ketika dia melihat senyuman pria tampan berkaca mata itu. Jenny mengangguk pelan dan mengulurkan tangannya pada Hildan.

"Varelia Jenny"

Hildan tersenyum, dia menerima uluran tangan Jenny. "Hildan, panggil saja aku sesuka hatimu"

Jenny mengangguk, dia langsung berjongkok dan menoel pipi anak kecil yang berdiri di samping Hildan itu. "Hai, nama kamu siapa? Mau berkenalan denga Tante?"

Awalnya Zaina terlihat takut, tapi saat Jenny tersenyum dan mengelus kepalanya dia langsung luluh dan mau dia gendong oleh Jenny.

"Namaku Zaina Tante"

Jenny tersenyum sambil mengelus kepala Zaina dengan lembut. Dia merasa sangat menyukai gadis kecil yang di kuncir dua ini. "Gemesin banget kamu ini, Tante jadi pengen bawa kamu pulang deh. Tante kantongin boleh ya"

Zaina tertawa mendengar ucapan Jenny, dan hal itu membuat Mama dan Hildan saling pandang. Zaina adalah sosok anak yang sulit sekali untuk di dekati oleh orang-orang yang asing baginya. Tapi entah kenapa sekarang anak itu bahkan lebih terlihat santai saat bercanda dengan Jenny. Orang yang baru sekali dia kenal.

"Maaf ya Bu, anak saya ini memang sangat menyukai anak kecil. Anak temannya saja selalu dia bawa pergi jalan-jalan. Sudah seperti anaknya sendiri saja"

Mama tersenyum mendengar itu, seolah saat ini dia sudah menemukan pengganti menantunya yang sangat tepat. Sifat cantik dan keibuan Jenny, sudah pasti sangat cocok dengan Jenny.

######

Duduk di kursi yang berada di teras belakang, menghadap pada taman kecil yang di terangi lampu taman membuat suasana malam terasa semakin indah.

Jenny hanya duduk diam di samping Hildan. Mama dan Ibu sengaja menyuruh mereka untuk mempunyai ngobrol berdua. Mungkin untuk membuat Jenny dan Hildan dekat.

"Jadi, kenapa kamu mau menerima perjodohan ini?"

Jenny menoleh dan tersenyum sekilas pada Hildan sebelum dia kembali menatap lurus ke depan, ke arah taman. "Sebenarnya si, aku juga tidak mau menerima perjodohan ini. Tapi kasihan sama Ibu yang terus menjodohkan aku dengan beberapa orang, dan aku selalu menolak. Tapi saat ini sepertinya aku tidak menyesal karena bisa bertemu dengan Zaina yang begitu menggemaskan"

"Varelia.."

Jenny terdiam saat tangannya di genggam oleh tangan Hildan. Jenny menatap Hildan yang juga sedang menatapnya dengan lekat.

"Mungkin aku bukan yang terbaik buat kamu, aku juga sudah pernah menikah dan sekarang mempunyai seorang anak. Aku harap kamu tidak keberatan dengan hal itu. Dan mari kita coba untuk memulai hidup baru"

Untuk pertama kalinya Jenny merasa begitu tersentuh. Ucapan Hildan begitu menyentuh hatinya. Jennya merasa jika hatinya mulai terbuka kembali untuk Hildan.

"Aku akan mencobanya, meski aku juga tidak tahu apa aku akan cocok bersamamu atau tidak"

Hildan tersenyum, dia mengecup punggung tangan Jenny dengan lembut. Membuat jantung Jenny berdebar kencang mendengar itu. Jenny merasa ada sebuah debaran aneh di hatinya.

"Kita mulai dengan pengenalan dan pendekatan dulu. Takutnya kamu tidak benar-benar yakin dengan keputusanmu ini"

Jenny mengangguk, dia akan mencoba mengikuti apa yang disarankan oleh Hildan. Berharap jika kali ini adalah pria yang telah di takdirkan oleh Tuhan untuk dirinya yang mengalami trauma masa lalu akan sebuah cinta.

Semoga dia adalah jodohku yang terbaik, Tuhan.

Rasanya Jenny juga sudah lelah saat Ibunya terus menekan dia untuk menikah.Semoga saja keputusan Jenny kali ini tidak salah.Semoga Hildan adalah pria yang baik untuknya.

"Kalau begitu, aku masuk dulu ya"

Hildan mengangguk dan membiarkan Jenny masuk ke dalam rumah. Dia menatap rumput taman dengan senyuman yang sulit di artikan.

Bersambung

Menerima Lamaran Hildan

Hari pendekatan di mulai, hari ini Hildan sengaja datang menjemput Jenny untuk membawanya pergi jalan bersama putrinya. Zaina yang sudah sangat senang ketika Ayahnya mengatakan akan membawanya pergi jalan bersama dengan Jenny. Sepertinya Zaina sudah langsung merasa cocok dengan Jenny.

"Hai, nunggu lama ya? Maaf aku abis telepon pegawai aku dulu" Jenny masuk ke dalam mobil dengan tersenyum manis pada Hildan. Jenny menoleh dan melihat Zaina yang sedang duduk di kursi belakang.

"Zaina, mau pindah ke depan duduk sama Tante"

Zaina langsung mengangguk, dia pindah ke kursi depan dan duduk diatas pangkuan Jenny dengan nyaman. Mobil mulai melaju, dia merasa cukup cocok dengan sosok Hildan yang baik dan hangat. Sepertinya Jenny benar-benar sudah mulai bisa membuka kembali hatinya.

"Kita mau kemana?" tanya Jenny

Hildan tersenyum dan menoleh sekilas pada Jenny, sebelum dia kembali menatap lurus ke jalanan di depannya. "Aku ingin pergi ke suatu tempat dulu sebelum kita pergi jalan-jalan"

Jenny menganguk, dia tidak merasa kebertan. Hingga mobil berhenti di depan sebuah pemakaman umum. Jenny sedikit bingung, hingga dia ingat perkataan Ibu jika Hildan ini adalah seorang single parent yang di tinggal mati oleh istrinya.

Mungkin dia ingin mengunjungi makam istrinya dan mengenalkan aku sebagai calon istrinya.

Jenny ikut turun dari mobil, menuntun Zaina dan mengikuti langkah Hildan. Jenny menatap ke arah pemakaman, teringat jika Ayahnya juga di makamkan di pemakaman ini.

Sepertinya nanti mampir sebentar ke makam Ayah.

Jenny berhenti saat Hildan juga berhenti melangkah. Di menatap sebuah gundukan tanah di depannya. Jenny menatap Hildan yang sepertinya begitu bersedih ketika dia sampai di makam istrinya.

"Ini makam istriku, Mommy nya Zaina. Dia meningga satu hari setelah melahirkan Zaina karena mengalami pendarahan hebat"

Jenny terdiam, dia menatap batu nisan dengan tulisan Zaina itu. Dia menatap Hildan dengan tanda tanya. Kenapa nama anaknya dan istrinya sama.

"Ya, setelah istriku meninggal. Aku sengaja memberi nama anak kita dengan nama yang sama. Setidaknya aku masih bisa memanggil nama itu, meski dia sudah tidak ada di dunia ini"

Jenny menatap Hildan yang membuka kacamatanya dan mengusap ujung matanya yang berair. Disini Jenny menatap bagaimana besar dan tulusnya cinta Hildan pada mendiang istrinya.

Jenny berjongkok di dekat batu nisan, mengelus batu nisah itu dan menyingkirkan daun kering yang jatuh diatasnya. "Hallo Mbak, meski aku tidak tahu dan belum pernah bertemu dengan Mbak Zaina.Tapi aku yakin jika Mbak sangat cantik dan baik. Secantik putri Mbak ini. Emm. Mbak do'akan ya jika memang kami berjodoh, tolong do'akan yang terbaik untuk kami"

Hildan ikut berjongkok di samping Jenny, dia merangkul bahu Jenny dan mengecup kepalanya. "Dia pasti setuju sekali jika kamu yang menjadi pengganti dia untuk merawat Zaina"

"Aku janji akan merawat Zaina dengan baik, Mas. Aku akan menyayangi dia seperti anakku sendiri" Jenny meraih tangan mungil Zaina dengan tersenyum.

"Sepertinya kita tidak perlu menunggu lagi, aku akan segera membawa kedua orang tuaku ke rumahmu dan melamar kamu dengan segera"

Mendengar itu Jenny tersenyum, sepertinya penantian dia selama ini akan berakhir bersama Hildan. Pria yang di jodohkan oleh Ibunya, yang ternyata berhasil meluluhkan hati Jenny yang sudah lama beku sejak pengkhianatan cinta yang dia alami.

Pulang dari tempat pemakaman umum, mereka melanjutkan jalan-jalan. Tadi, Jenny sempat membawa Hildan ke makam mendiang Ayahnya untuk memint restu.

"Tante, lihat aku loncatnya tinggi sekali" teriak Zaina dari dalam permainan, Jenny yang menunggunya di luar hanya tersenyum melihat anak itu begitu bahagia.

"Iya Zaina, hati-hati ya. Loncatnya pelan-pelan, nanti jatuh"

Jenny sedikit terlonjak kaget ketik sesuatu yang dingin menempel di pipinya, saat dia menoleh ternyata itu adalah Hildan yang memberinya minuman kaleng yang dingin.

"Minum dulu, dari tadi kamu bahkan belum minum. Sebentar lagi kita makan"

Jenny mengangguk, dia menatap lengannya yang di genggam oleh Hildan yang membawanya untuk duduk di sebuah bangku yang ada disana. Entah kenapa jantung Jenny langsung berdebar begitu kencang. Dia tidak pernah merasakan di perlakukan begitu lembut seperti ini oleh seorang pria

######

Hampir satu minggu mengenal Hildan, Jenny benar-benar tersentuh dengan segala perhatian yang diberikan oleh Hildan padanya. Hal itu membuat dia begitu bahagia dan senang.

Jenny tidak bisa lagi membohongi hatinya jika dia telah jatuh cinta pada Hildan. Jenny telah jatuh cinta pada seorang pria untuk kedua kalinya setelah pengkhiatan cinta yang dia lalui dan berhasil membuat Jenny trauma selama bertahun-tahun dan hampir tidak mau membuka hatinya kembali untuk pria mana pun.

Tapi akhirnya ada juga seorang pria yang datang dan mau melamarnya dan menikahinya. Pria yang berhasil membuat Jenny kembali jatuh cinta setelah sekian lama dia menutup hatinya untuk pria mana pun.

Hari ini Jenny dan Ibu sedang di sibukan menyiapkan makanan untuk kedatangan keluarga Hildan yang akan melamar Jenny. Terlihat wajah Ibu yang begitu bahagia dengan semua ini. Merasa sangat bahagia karena pada akhirnya anaknya ini akan segera menikah juga.

"Akhirnya ya Jen, kamu menikah juga. Ibu sangat senang"

Jenny mengangguk, dia sendiri tidak pernah menyangka jika pria yang di jodohkan oleh Ibunya ternyata adalah pria yang berhasil membuat Jenny jatuh cinta kembali.

"Iya Bu, aku juga merasa sangat tidak menyangka. Tapi terima kasih ya karena Ibu selalu sabar mencarikan jodoh yang tepat untuk Jennya, hingga sekarang pada akhirnya Jenny bisa menemukan jodoh yang baik untuk aku"

"Iya Nak, Ibu juga tidak menyangka jika kamu akan merasa cocok dengan Nak Hildan"

"Dia baik dan hangat Bu, aku suka dengan semua perhatiannya juga"

Ibu tersenyum mendengar itu, dia mengelus kepala anaknya dengan lembut. Pada akhirnya anak semata wayangnya ini akan menikah juga. Putri kecilnya telah dewasa sekarang.

"Oh ya, apa Vania akan datang?"

"TIdak Bu, anaknya sedang sakit dan rewel dia hanya menitipkan salam saja untuk Ibu dan mendo'akan jika acara hari ini lancar"

Vania adalah teman Jenny yang usianya di bawah Jenny 2 tahun. Dia sudah Jenny anggap seperti adiknya sendiri.

Akhrnya tamu yang di tunggu datang juga, Jenny sudah cantik dengan gaun sederhana namun terlihat indah di tubuhnya itu. Duduk di samping Ibu dengan kepala menunguk. Dia merasa malu saat Hildan terus menatapnya dengan lekat dan senyuman yang tidak bisa diartikan.

Kedua orang tua Hildan langsung membicarakan tujuan mereka datang kesini memang untuk melamar Jenny untuk putra mereka.

"Jadi apa Nak Valeria Jenny bersedia menikah dengan anak Papa dengan segala kekuranganny?"

Jenny menghela nafas pelan, dia memantapkan hatinya jika memang dia siap menikah dengan Hildan.

"Iya, saya mau menikah dengan Mas Hildan"

Bersambung

Ternyata Hanya Sandiwara

Hari pernikahan di gelar, Pernikahan yang cukup sederhana namun tetap terkesan mewah. Pernikahan ini diadakan di sebuah gedung. Jenny melangkah menapaki karpet merah yang tergelar dengan Ibu dan Vania yang berada di sampingnya.

Di ujung sana sudah ada Hildan yang terlihat begitu tampan dengan balutan jas di tubuhnya. Rasanya Jenny tidak pernah menyangka jika dia akan sampai juga pada titik ini. Ujung semua cita-cita dan karier yang wanita kejar adalah saat ini. Menikah dengan pria yang tepat dan hidup bahagia bersama.

"Kak, aku tidak menyangka jika yang akan menikah dengan Kakak adalah Kak Hildan"

"Kamu kenal dia?"

Vania mengangguk. "Dia pelanggan setia toko bunga Kakak pas aku yang sering tunggu toko"

"Oh gitu, tapi kamu jangan bilang kalau toko bunga itu punya aku ya. Dia belum tahu pekerjaan aku soalnya"

Vania mengangguk, mereka telah sampai di depan Hildan yang sudah siap untuk menerima Jenny sebagai istrinya. Ibu sudah menahan diri untuk tidak menangis saat dia harus melepas anak satu-satunya ini pada pria yang akan menjadi suami anaknya. Apalagi ketika dia mengingat jika suaminya sudah tidak ada dan tidak bisa menyaksikan putrinya menikah.

"Nak Hildan, anak Ibu sudah tidak mempunyai Ayah sejak dia remaja. Jadi, tolong jangan menyakitinya. Cintai dan sayangi dia seperti Ayahnya yang begitu tulus menyayanginya"

Hati Jenny tersayat mendengar itu, bagaimana dia yang harus menjalani hidup berdua dengan Ibu ketika Ayahnya sudah meninggal dunia. Selintas bayangan Ayah terlihat dalam ingatan Jenny. Ayah yang baik dan begitu penyayang.

"Saya berjanji akan menjaga putri Ibu dengan baik. Sayang juga tidak akan pernah mengecewakannya"

Dan akhirnya Ibu menyerahkan tangan Jenny pada Hildan. Berharap jika kehidupan anaknya akan semakin baik setelah ini.

Acara di lanjutkan dengan resepsi pernikahan. Jenny terlihat begitu bahagia ketika dia pada akhirnya telah mencapai puncak dari mimpinya. Menikah dengan pria baik yang mencintainya dan yang dia cintai. Satu minggu sering bertemu, tidak bisa membohongi jika Jenny sudah jatuh cinta pada sosok Hildan yang hangat dan sangat perhatian itu. Bagaimana Hildan yang benar-benar telah berhasil membuka hati Jenny yang tertutup dan membuat jenny kembali jatuh cinta.

"Selamat ya Kak, aahh akhirnya Kakak nikah juga. Gak akan terus kena omelan Ibu deh karena belum menikah"

Jenny tertawa pelan mendengar ucapan Vania, sahabatnya ini memang tahu apapun dalam kehidupan Jenny. "Makasih ya Va, semoga kamu juga tetap bahagia dengan suami kamu"

"Selamat juga Kak HIldan" ketika Vania akan menyalami HIldan, tangannya langsung ditahan oleh suaminya.

"Biar aku saja"

Vania menggeleng pelan dengan sikap posesif suaminya ini.

######

Acara selesai dan Jenny kembali ke rumah HIldan. Ini sudah menjadi keputusan jika setelah menikah, maka Jenny akan tinggal di rumah Hildan. Hildan keluar dari dalam mobil  dan menutup pintu dengan kasar membuat Jenny terkejut.

"Dia kenapa? Apa mungkin dia capek ya"

Jenny segera turun dari dalam mobil dan menyusul suaminya yang sudah masuk lebih dulu ke dalam rumah minimalis ini. Ketika kaki Jenny masuk ke dalam rumah ini, dia ruang tengah dia sudah di sambut dengan sebuah foto pernikahan yang begitu besar. Dimana pengantin dalam foto itu sedang berciuman dengan mesra.

Tubuh Jenny mematung melihat foto itu, lalu dia melihat ke sekelilingnya dan benar hampir setiap penjuru ruangan ini di penuhi dengan foto wanita yang sama.

Dia pasti mantan istrinya, tapi kenapa masih di pajang di rumahnya.

"Sini kau, ngapain berdiri terus disana"

Jenny benar-benar terkejut mendengar suara suaminya yang begitu kerasa dan penuh dengan penekanan. Dia berjalan ke arah Hildan yang sedang duduk diatas sofa. Tatapan pria itu benar-benar berubah. Bagaimana dia yang menatap Jenny dengan begitu dingin.Berbeda sekali dengan tatapan Hilda beberapa hari lalu. Yang selalu hangat dan menenangkan.

Hildan berdiri di depan Jenny, dia meraih dagu Jenny dan mencengkramnya dengan kuat hingga Jenny meringis kesakitan. Tatapan Hildan kali ini benar-benar menakutkan. Jenny tidak bisa lagi menemukan Hildan yang dia kenal beberapa hari yang lalu.

"Kau bahagia menikah denganku Hah? Tentu kau pasti bahagia karena kau hanya orang miskin yang menginginkan hartaku"

Jenny tidak bisa bicara karena cengkramn kuat tangan Hildan di dagunya. Sebenarnya dia juga tidak mampu berkata-kata saat melihat suaminya yang saat ini begitu menakutkan.

"Aku menikahimu hanya karena aku membutuhkan sosok Ibu pengganti untuk anakku. Jadi, jangan harap aku melakukan lebih dari itu. Kau hanya seorang pengasuh yang berkedok sebagai istriku"

Hati Jenny benar-benar terluka mendengar itu, air matanya menetes begitu saja di pipinya. Jadi selama ini yang Hildan lakukan padanya hanya sebuah sandiwara agarJenny mau menikah dengannya.

Hildan menghempaskan wajah Jenny, dia memang tidak pernah berniat untuk menikah lagi selain bersama mendiang istrinya. Tapi orang tuanya yang teurs menjodohkan dia dan Zaina juga yang selalu menginginkan mempuanyai Ibu, membuat Hildan langsung membuat rencana baru untuk menyudahi drama perjodohan ini.

Jenny mengusap air mata yang terus mengalir begitu saja di pipinya. Kenyataan yang tidak pernah dia pikirkan akan seperti ini.

"Kalau memang kamu tidak menginginkan pernikahan ini, kenapa harus menerima perjodohan ini?" teriak Jenny dengan tangisan yang pecah

Hildan kembali mencengkram dagu Jenny dengan kuat. Menatapnya tajam. "Karena kau yang lebih dulu menerima perjodohan ini. Jadi aku akan mengikuti cerita perjodohan ini"

Salah, ternyata Jenny telah memilih keputusan yang salah. Dia awalnya ingin memutuskan untuk menerima perjodohan ini karena memang dia ingin membuat Ibunya bahagia dan berharap jika dia akan bisa hidup bahagia dengan pria pilihan Ibunya ini. Tapi ternyata semua sikap hangat dan baik Hildan hanya sebuah kebohongan semata. Semuanya hanya sandiwara.

"Kalau begitu, pulangkan aku kembali pada Ibu. Aku tidak mau jika harus menikah dengan pria yang sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini"

"Heh, kau jangan berharap itu akan terjadi. Kau lupa jika aku menikahimu hanya untuk menjadi pengasuh putriku. Kau faham!"

Hildan menarik tangan Jenny dan membawanya ke sebuah kamar. Mendorong tubuh itu hingga jatuh ke lantai. Jenny meringis pelan saat tangan dan kakinya terasa sakit terbentur lantai.

"Ini adalah kamarmu dan putriku. Kau harus menjaganya dengan baik"

Brakk..

Hildan menutup pintu dengan keras, membuat Jenny terkejut. Jenny menatap ke sekelilingnya, dia beringsut ke dekat tempat tidur dan duduk dengan lutut di tekuk diantara kedua lipatan tangannya. Menangis sejadi-jadinya. Jenny tidak pernah menyangka jika pernikahan yang dia harapkan akan bahagia. Ternyata malah membawa luka.

Apa salahku Tuhan, hingga suamiku begitu membenci aku dan tega memperlakukan aku seperti ini.

Sudah terlanjur masuk dan terjerumus paa pernikahan ini. Maka Jenny tidak bisa melakukan apapun lagi.

Bersambung

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!