NovelToon NovelToon

Darah Pembantaian

Ch. 1 Universitas X

Bercerita tentang hantu, dan hal-hal mistik lainnya sudah bukan hal yang biasa lagi, hampir setiap sekolah ataupun gedung-gedung apapun pasti memiliki cerita atau sejarah mistik tersendiri.

Universitas X merupakan kampus terbaik dikota B. Dengan jumlah mahasiswa hampir mencapai sembilan ratusan mahasiswa.

Suasana kampus itu tampak hidup dengan banyaknya mahasiswa yang berkeliaran bebas, ada yang belajar dibawah pohon, olahraga dan beberapa yang asik menjahili teman mereka. Beberapa mahasiswa terlihat berkumpul dan berdiskusi di gazebo dan dibawah pohon, berbicara tentang organisasi atau kegiatan-kegiatan kampus lainnya.

Gedung-gedung dikampus itu sebagian besar terlihat tua dan beberapa masih tampak baru. Sangat jelas bahwa kampus itu sudah berdiri sejak lama.

Pada sebuah gedung dengan cat berwarna coklat susu yang sudah pudar dan tampak lumut disudut dengan interior yang juga terkesan agak sedikit kuno banyak mahasiswa mondar-mandir dengan memakai jas putih bersih. Gedung ini merupakan gedung utama dari Universitas kesehatan X, mungkin tampak tua namun alat-alat didalamnya jelas teknologi tinggi mulai dari alat diagnosis, scan dan alat-alat bedah dan barang-barang elektronik kedokterannya cukup bagus dan maju.

Tidak jauh dari sana, tepatnya dibelakang gedung utama fakultas kesehatan terdapat tanda garis polisi yang mengelilingi sebuah gedung tua Jika dilihat dengan seksama garis polisi itu sudah tampak kusut dan warnanya sudah memudar, mungkin memang sudah ada disana sejak lama. Area sekitar gedung itu sunyi dan sepi. beberapa tumbuhan merambat menghiasi gedung, karena tidak terurus sehingga tanaman tumbuh dengan subur disana. tidak seperti bangunan dan gedung lainnya yang ramai dan lebih hidup.

Mahasiswa tampak menjaga jarak dari gedung sekolah itu, seakan takut hanya dengan melihatnya saja akan membuat mereka mengalami sesuatu yang mengerikan.

Tanpa ada yang menyadari, digedung tua itu terjadi sesuatu yang diluar nalar manusia, saat tiba-tiba sebuah bayangan muncul. Tubuhnya tidak berbentuk, seakan itu hanya kumpulan asap hitam, dengan wajah yang tidak jelas. Selain matanya yang merah darah semua tidak tampak jelas. Sosok itu menatap kepada mahasiswa dalam diam beberapa saat, sebelum angin bertiup dan sosok itu ikut menghilang seperti tertiup angin.

***

Penerimaan mahasiswa baru angkatan 2019 Bulan ke-8...

"Bukankah itu si anak iblis itu?"

"Dia anak pembawa petaka"

"Jangan pernah mendekatinya atau nyawamu akan melayang"

"Hei pelangkan suara kalian, dia bisa mendengarmu"

Suara bisikan-bisikan terdengar sepanjang koridor kampus X, baik itu dari wanita maupun pria. tidak jauh dari sana ada seorang pemuda tampan yang seolah tidak terusik dengan semua suara-suara itu.

Sean Kingston pria tampan dengan wajah sehalus giok, hidung mancung dengan rambut hitam halus kontras dengan mata merah darah dengan pupil hitam pekat yang seakan mengandung kegelapan tanpa ujung, membuat orang tidak akan bertahan lama menatapnya. karena itu pula dia dijauhi oleh banyak orang disekitarnya namun Sean seolah tidak peduli dan menganggapnya sebagai angin lalu.

Hal ini terjadi bukan tanpa alasan. Sean memiliki mata merah darah yang langka dan kulitnya sangat pucat. Sehingga banyak orang yang takut untuk menatapnya dan menjauhinya. Namun tidak sedikit juga orang yang menganggapnya keren.

Jika ada kejadian yang buruk juga dia sering disalahkan, mereka mengatakan bahwa 'itu karena anak iblis itu ada disekolah kita' setiap kali mereka memiliki masalah. bahkan walaupun itu masalah kecil dan tidak ada hubungannya dengan Sean, yah walaupun semuanya memang tidak ada hubungannya dengannya. tapi Sean seperti sudah terbiasa dengan hal itu, dan menghiraukannya.

Pada awal dia masuk kekampus X banyak orang yang menyukainya tapi karena kepribadian Sean yang dingin dan cuek tidak ada yang berani mendekatinya dan hanya berbicara jika mereka memang memiliki urusan penting dengannya. dia sampai memiliki julukan karena sikapnya itu, si 'pangeran es', namun julukan itu hanya diakui oleh para wanita sedangkan para pria malah memanggilnya 'kulkas berjalan'.

Hari itu sekitar bulan kedelapan sejak Sean memasuki universitas X Fakultas kesehatan.

"Sean Kingston!" sahut seorang pemuda tinggi dan terlihat segar dan cerdas yang sedang berdiri dipanggung aula menyebutkan nama mahasiswa tertentu. Dia adalah ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas kesehatan X.

Hari itu adalah penyelenggaraan pemilihan ketua angkatan pada periode angkatan 2019.

Sean mengangkat tangannya menandakan dirinya hadir namun tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya.

"Dia bahkan tidak menjawab senior?, sangat tidak sopan"

"Sombong sekali dia"

Orang-orang mulai lagi mengejek dan melontarkan pendapat mereka, sementara Sean tidak bergeming.

Orang-orang seperti ini hanya terlihat manis didepan dan busuk dibelakang, Sean sudah tahu kebiasaan sebagian besar dari teman-temannya. Mungkin sekarang mereka mematuhi senior tapi itu tidak akan bertahan lama dan saat itu mulut mereka akan penuh dengan kotoran busuk...

"Itulah calon ketua angkatan pada periode ini. Louis Pasteur, Laura Kiehl dan Sean Kingston persiapkan pidato kalian dan bersiaplah untuk naik kepodium. Kepada calon pertama saudara Louis Pasteur harap naik keatas panggung" ketua BEM berseru diikuti dengan tepuk tangan meriah.

Louis Pasteur pemuda keturunan campuran Indonesia Inggris berjalan menaiki panggung. rambutnya pirang, kulit putih, matanya tajam berwarna biru saphire dan bibir tipis yang selalu dihiasi dengan senyuman. entah itu tulus atau tidak hanya dia yang tahu.

"Saya mengucapkan terima kasih banyak kepada ketua Badan Eksekutif Mahasiswa karena telah memberi saya waktu untuk menyampaikan sepatah kata kepada rekan-rekan mahasiswa sekalian. Perkenalkan saya Louis Pasteur, sebagai calon ketua angkatan........" Louis berbicara panjang lebar tentang apa saja yang akan dia lakukan apabila dia menjadi ketua angkatan dan beberapa hal-hal yang harus diperhatikan sebagai ketua angkatan.

"sekian dari saya, saya ucapkan terima kasih banyak" Louis melangkah turun dari panggung sambil tersenyum bangga disertasi dengan tepuk tangan meriah dari para peserta. tidak sulit untuk melihat jumlah orang yang mendukungnya dengan suara riuh sekeras itu. Dia pasti akan naik sebagai ketua.

Gadis keturunan Rusia Laura Kiehl berjalan keatas panggung setelah ketua BEM memanggil namanya. gadis itu memiliki rambut hitam dan mata keabu-abuan serta kulit putih halus dan bersih. bibirnya merah ranum dan selalu tersenyum hangat.

"saya ucapkan terima kasih banyak kepada ketua Badan Eksekutif Mahasiswa dan jajarannya karena telah memberikan saya kesempatan untuk menyampaikan pidato ini. sebagai perwakilan mahasiswa baru saya sangat...." Laura berkata dengan lancar dan kata-katanya penuh dengan kebijakan dan masukan-masukan yang susah untuk orang menolak untuk tidak mengaguminya.

"terima kasih banyak atas kesempatan ini, saya serahkan kepada ketua Badan Eksekutif Mahasiswa untuk Melanjutkan" Laura sedikit membungkuk kepada ketua BEM sebelum mempersilahkannya melanjutkan acara.

"Calon terakhir dari kelas B atas nama Sean Kingston, dipersilahkan naik ke podium”

Berbeda dengan dua calon lainnya, tidak ada suara-suara yang mengiringi Sean naik keatas panggung, melainkan bisikan-bisikan tentang dirinya yang tidak pantas menjadi ketua angkatan dan semacamnya.

Sean berdiri tegak diatas panggung dan menatap pada seluruh siswa. mata merahnya membuat sebagian besar orang memilih mengalihkan pandangan mereka darinya. takut terkena sial dari anak itu walaupun hanya sekedar memandang mata anehnya. entah darimana ajaran seperti ini muncul. menatap mata orang membuat sial??

"Saya Sean Kingston hari ini mengatakan untuk seluruh mahasiswa agar memilih saya sebagai ketua angkatan. saya akan membuat universitas ini menjadi universitas terbaik di negara X........" pidato Sean singkat dan tidak bertele-tele hanya berisi tentang hal-hal yang menurutnya dibutuhkan dalam pidatonya. Wajahnya serius seakan dia benar-benar bisa melakukannya....

_____________

Dukung author dengan memberikan vote, like dan share ke teman-teman kalian agar semakin banyak yang bisa menikmati ceritanya.

Ch. 2 Ketua angkatan 1

Reaksi yang didapatnya berbeda-beda ada yang menganggapnya bodoh dan ada yang menganggapnya keren, dan tidak sedikit yang merasa jengkel dengan sikap percaya diri Sean, seolah- olah Sean sudah dipastikan dia yang akan menjadi Ketua angkatan.

“Dia terlalu percaya diri”

“Siapa yang ingin memilih ketua seperti itu?”

"menjadi Universitas terbaik? apa dia bermimpi?"

Beberapa orang mencibir dan segera Susana menjadi riuh, namun segera tenang kembali saat diambil alih oleh ketua Badan Eksekutif Mahasiswa dan memulai pemungutan suara.

Proses pemilihan berlangsung hingga sore hari karena banyaknya mahasiswa di universitas X Fakultas kesehatan.

Pemungutan suara dan pengumuman berlangsung hingga malam hari dan pada akhirnya Sean keluar sebagai suara terbanyak menjadikannya menduduki posisi ketua angkatan, Laura Kiehl sebagai wakil ketua angkatan dan Louis Pasteur sebagai bendahara.

Semua mahasiswa yang melihat hasilnya terkejut sampai mulut mereka membentuk huruf O.

Banyak orang yang tidak percaya dengan hal itu mereka berfikir Laura sebagai mahasiswa terpintar lebih cocok menjadi Ketua angkatan, namun mereka tidak bisa membantah.

Mereka hanya bisa mengeluh dalam hati 'kampus ini akan menjadi 'kulkas berjalan' berikutnya!!

“kenapa begini? Apa kalian sedang membuat lolucon? Dia menjadi ketua angkatan? Apa kalian menjadi buta sekarang?” seorang pemuda mencibir karena ketidaksetujuannya dengan hasil pemilihan.

“aku juga merasa itu aneh, siapa yang akan memilihnya?” beberapa orang mengangguk setuju dan mengatakan bahwa pemilihan ini sudah diatur sebelumnya.

“tidak ada yang mengatur hal seperti ini” ketua Badan Eksekutif Mahasiswa mengambil alih dan membantah hal tersebut. “mungkin sebagian besar dari kalian menyukainya dan menyembunyikannya. Bagaimanapun Sean sudah terpilih sekarang dan dia akan menjadi ketua Angkatan selama satu semester kedepan. Jika kinerjanya terbukti buruk maka aku sendiri yang akan mencopotnya dan membuat rapat pemilihan ulang lagi. Namun jika dia memang terbukti berkualitas maka dia secara resmi menjadi ketua angkatan kalian sampai akhir. Jadi, karena hari ini dia sudah terpilih maka untuk satu semester kedepan Sean Kingston akan menjalani uji coba sebagai ketua angkatan kalian” Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa menjelaskan panjang lebar dan menutup pertemuan itu tepat pada pukul setengah delapan.

Semua mahasiswa segera kembali kerumah masing-masing dan segera lingkungan kampus menjadi sepi. Dikampus X tidak terdapat asrama karena sebagian besar mahasiswa merupakan orang-orang kelas elit mengingat universitas X merupakan universitas terbaik. Hanya ada gedung tambahan untuk para mahasiswa jalur beasiswa yang hidup diasrama dan itupun berada diluar lingkungan kampus.

Sean tidak langsung kembali melaingkan berbincang dengan senior dan mengawasi setiap mahasiswa memastikan tidak ada yang tertinggal.

Tidak jauh dari sana Louis memandang tidak senang pada Sean sementara Laura hanya tersenyum kecut. mereka sama-sama tidak menyangka Sean akan keluar sebagai pemenang mengingat reputasinya yang sangat buruk.

***

Pagi berikutnya diuniversitas kesehatan X

Sean tampak berjalan dikoridor kampus sambil membaca sebuah buku kecil ditangannya.

Bukhhh!

Sean menghentikan langkahnya saat seseorang menabrak pundaknya, dia menoleh kebelakang dan mendapati Louis bersama tiga rekannya, Angela Merkel, Adolf Dassler, dan Billy Davidson. Mereka berempat merupakan rekan sekolah menengah atas jadi tidak heran mereka tampak akrab dan menjadi geng. Adolf dan Billy adalah seorang pria dan Angela adalah wanita yang tidak lain adalah sepupu Louis sendiri. Adolf termasuk pria yang tampan dan terkesan playboy namun dia memiliki kebiasaan membaca buku dan agak sedikit acuh. Sedangkan billy malah berlawanan dengannya, Billy adalah pria yang bersemangat dan ceria, namun dia sangat takut akan kegelapan dan hantu. Hanya saja karena mereka bergaul dengan Louis sehingga mereka terkesan jahat dan kasar. Angela sendiri merupakan wanita yang terlihat lembut dan cantik, tapi sama seperti sepupunya Louis dia juga suka semena-mena.

"Awww!~~" keluh Louis sambil memegang bahunya yang sempat bertabrakan dengan Sean.

"Baby sean~" Angela yang berada didekat Louis menatap Sean sambil berkedip dan segera di tatap marah oleh Louis. namun Angela tidak menggubrisnya, namun Louis langsung menariknya menjauh dari Sean membuat Angela mendengus kesal.

"Hei lihat tuan Kingston ini menabrak orang lain dan tidak mengucapkan kata maaf?" Louis berkata sambil memegang pundak Sean.

Sean menutup bukunya, kemudian berbalik dan menatap Louis. "menabrak? apa kau tidak salah ucap?" Sean mengangkat alisnya menatap Louis heran.

"Wah! wah! wah!" Louis bertepuk tangan sambil menatap rekan-rekannya yang tertawa mengejek pada Sean.

"Dia menjadi sangat sombong karena menjadi ketua angkatan" ucap Adolf.

"Si muka datar ini berani menjawab" Billy merangkul bahu Sean bersama dengan Adolf.

Mereka berempat memiliki tinggi yang hampir sama, namun Sean lebih tinggi diantara keempatnya disusul Adolf, Louis dan terakhir Billy. Mereka semua memiliki tinggi sekitar 180-an keatas.

"ayo kita lihat apa kau masih bisa menjawab setelah ini?" Louis mengepalkan tangannya dan memukul perut Sean berkali-kali hingga Sean batuk-batuk. Sean ingin melawan namun Billy dan Adolf menahan tangannya dengan erat, jadi Sean hanya bisa menerimanya.

"Hei sudahlah, dia sudah cukup kesakitan kau terlalu berlebihan" Angela memperingatkan Louis sambil menatap Sean dengan tatapan memelas.

"Kau masih menaruh perasaan padanya setelah ditolak mentah-mentah?" Louis menunjuk Sean yang kini terbaring lemas di lantai koridor.

"Jangan mengungkitnya itu bukan urusanmu!" Angela mengumpat kesal pada Louis karena mengingatkannya dengan hal yang paling dia tidak sukai.

"Hei sepupuku yang cantik, apa kau sadar? dia hanya pemuda biasa yang tidak jelas asal-usulnya. lihat matanya yang berwarna aneh itu, benar-benar menakutkan" Louis menunjuk pada kedua mata Sean yang berwarna merah darah dan bergidik ngeri.

"apa yang aneh dengan itu? itu sangat keren terlihat seperti pemeran anime-anime yang tampan" Angela menatap Sean yang sudah duduk sambil memegangi perutnya. Angela memang penggemar wibu tingkat dewa dan sejak pertama kali melihat Sean dia sudah menyukai mata merahnya. Dia beralasan itu sangat mirip dengan karakter vampire favoritnya ditambah wajah Sean yang tampan dan rambut hitam pekatnya dengan kulit lebih pucat dari orang biasanya membuat Angela semakin fanatic dan menyatakan cintanya pada Sean, hanya saja dia tidak mengira Sean akan begitu dingin dan menolak cintanya tanpa mengedipkan mata. Dia sempat kecewa namun dia tidak bisa menghapus perasaanya pada Sean dan tetap mendekati pria itu walaupun tahu Sean tidak akan merespon.

"Minta maaflah dan aku tidak akan memperpanjang masalah ini" ucap Louis ketus, moodnya sedikit terganggu karena Angela mulai mempelototinya, untuk berhenti mengganggu Sean-nya.

Sean menatap Louis dengan tatapan tajam sebelum mendengus ringan.

"Maaf"

"Lakukan dengan lebih baik" Louis menginjak pergelangan kaki Sean dengan keras, membuat Sean meringis dan menatapnya dengan mata melotot.

Sean mengertakkan giginya dan berkata "Aku minta maaf"

Louis tertawa keras saat mendengar ucapan Sean.

"Sudah kubilang untuk tidak mencoba mencari masalah denganku, kau mendapatkan akibatnya sekarang" Louis melangkah menjauhi Sean sambil menarik tangan Angela yang masih terpaku dengan wajah Sean.

Sean bangkit ketika rombongan Louis cukup jauh, menepuk pakaiannya ringan dan melangkah pergi, sambil tersenyum sinis.

***

Laura berjalan santai didalam perpustakaan sambil menatap buku-buku yang menarik baginya, tangannya terhenti pada sebuah buku bersampul hitam pekat dengan tulisan merah darah dengan gaya yang aneh 'I Am Scary'.

"Hm... I amScary? judul yang menarik. Apa yang di takutkan oleh MC?" Laura menarik buku itu dan menatapnya.

Buku itu berwarna hitam polos dengan tulisan merah darah, terkesan horror. Tidak ada karakter lain dibuku itu selain satu kalimat yang merupakan judulnya bahkan tidak ada sinopsis atau nama penulisnya.

"Jangan menyentuhnya" suara rendah terdengar dari belakangnya, membuat Laura terkejut dan langsung berbalik.

__________

Dukung author dengan memberikan vote, like dan share ke teman-teman kalian agar semakin banyak yang bisa menikmati ceritanya.

Ch. 3 Ketua angkatan 2

"Sean? kau mengagetkanku" Laura mengelus dadanya merasa lega. Dia sempat kaget dengan suara dibelakangnya dan langsung lega saat melihat itu hanya salah satu temannya.

"Letakkan buku itu kembali" ucap Sean dengan wajah datar.

"aku hanya ingin membacanya sebentar, kau tidak perlu sedingin itu kita rekan sekarang" Laura tidak mengambil hati sikap Sean karena sudah mengetahui sikapnya yang dingin dan cuek sehingga tidak terlalu menganggapnya. Saat tangan Laura hendak membuka sampul buku ditangannya, sebuah jari panjang dan langsing menahan tangannya.

Laura menatap pemilik tangan itu yang tidak lain adalah Sean dengan tatapan heran.

"Ada apa? kau juga ingin membacanya juga?" Laura menaikkan alisnya heran.

“aku tidak berpikir untuk membacanya, itu bukan seleraku. Dan itu juga sama untukmu” jawab Sean masih dengan wajah kaku.

Laura agak bingung dan mencoba mengacuhkan Sean. “itu hanya membaca bukan? Lagi pula buku diperpustakaan tidak mungkin berisi konten tidak senonoh kan?” Laura masih bersikeras ingin membaca saat suara Sean tiba-tiba menjadi terdengar lebih dingin. Laura mendongak dan menatapnya.

Sean tersenyum hingga matanya berbentuk bulan sabit "Akan lebih baik jika kau tidak membacanya, aku yakin kau tidak akan menyukainya dan itu juga tidak akan baik untukmu" Ucap Sean dengan suara manis, Laura merasa suasana disekitarnya menjadi lebih dingin dan dia sedikit merinding. Sean tersenyum seperti itu dan hanya membuat Laura semakin tidak nyaman.

"Ba-baiklah" Laura meletakkan buku itu pada tempatnya dan meninggalkan Sean yang masih tersenyum dengan perasaan aneh. Gugup dan ketakutan? entahlah Laura hanya merasa itu aneh. Laura memikirkan ini dan tanpa sadar keringat dingin menetes dari pelipisnya.

***

Didalam Bus terlihat gadis manis yang menatap keluar jendela dengan tatapan heran terlihat dari wajahnya yang dipenuhi pertanyaan.

Laura mengingat-ingat sikap Sean tadi dan bertanya-tanya.

"Sean terlihat aneh, apa dia memang sedingin itu?" Laura mengusap dagunya terlihat berpikir. Dia tahu Sean merupakan orang yang tertutup dan cuek. Tapi apakah separah itu? Laura hanya ingin membaca buku tadi dan Laura merasa sikap Sean aneh, dia terlihat menegurnya tentang buku itu, tapi entah kenapa Laura merasa itu lebih seperti peringatan daripada teguran ringan.

“aku merasa Sean menyembunyikan sesuatu. Tapi apa?” Laura menggaruk kepalanya penuh tanda tanya.

***

Malam hari di kampus F sangat gelap, terlihat beberapa cahaya bergerak-gerak disekitar lantai tiga.

"Apa yang kita lakukan disini?" Angela menatap pada Louis dengan heran.

"Diamlah, jangan banyak bicara" Louis menutup mulut Angela yang berniat terus mengoceh.

Tiba-tiba Louis mematikan senter smartphonenya, dan menatap pada Angela memberi isyarat untuk diam.

Dikegelapan malam dan sunyi itu semua hal terdengar lebih jelas. suara langkah kaki terdengar mendekat kearah mereka.

Terdengar ringan dan hati-hati, itu terdengar lebih dari satu orang. Satu melangkah dengan tenang sementara lainnya agak terburu-buru. Louis menempelkan tubuhnya pada tembok hampir menjadi cicak. Dia dan Angela menahan nafas dan mereka berkeringat dingin.

Angela menatap Louis dan mendesaknya untuk mengecek karena posisinya yang membuat Louis bisa melihat orang itu dengan jelas karena dia tepat berada di samping koridor dimana suara itu berasal. Louis menatap marah sekejap sebelum memantapkan hatinya. Dia menyiapkan diri untuk melayangkan pukulan saat suara itu semakin dekat sementara Angela berkeringat dingin dan takut.

"hiyaaa!!" Luois mengerahkan pukulan pada sosok yang baru muncul disertai dengan teriakan dari sosok itu.

"Ampun! Ampuni aku!! jangan makan aku tuan hantu! Ampun!!" Louis menatap sosok yang sekarang berjongkok dan menutupi kepalanya dengan kedua tangannya.

“Billy?” tanya Louis heran. Dia sudah berfikir bahwa yang mendekat kearahnya mungkin hantu atau lebih buruk penjaga sekolah. Dia tidak pernah berfikir bahwa itu adalah teman cerewetnya yang cengeng dan penakut.

"Kalian? apa yang kalian lakukan disini? jangan berteriak!" Angela yang sejak tadi berkeringat dingin menjadi heran dengan keadaan didepannya, ingin mengumpat tapi situasinya tidak mendukung.

Billy yang melihat keduanya menghentikan teriakannya dan menatap pada Louis dan Angela dengan heran bercampur lega.

Tiba-tiba saja matanya menjadi cerah dan penuh semangat saat berikutnya dia langsung meraih Louis.

"Louis sahabatku yang paling dermawan, kau sungguh mengagetkanku~" Billy berkata sambil memeluk Louis, sementara Adolf dan Angela hanya menggelengkan kepala heran dengan tingkah anak yang penakut itu.

"kau itu sebenarnya laki-laki atau perempuan? penakut sekali" Angela menatap Billy dengan ekspresi mengejek.

"Kenapa dengan itu? laki-laki juga bisa takut tahu" Billy menatap Angela marah karena membandingkannya dengan wanita.

"Hmph! perempuan dalam cangkang laki-laki" ucap Angela ketus, dia tidak percaya bahkan dia yang notabenenya perempuan lebih berani dari Louis yang jelas-jelas pria.

"jadi, apa yang kalian lakukan disini?" Adolf yang sejak tadi menonton pertengkaran Billy dan Angela akhirnya angkat suara.

"Seharusnya kami yang mengatakan itu, apa yang kalian berdua lakukan disini?" Louis bertanya dengan wajah heran penuh tanya.

"Ah... itu.. Billy mengatakan dia kehilangan Ponselnya, dan hingga sekarang belum ketemu. Jadi dia berpikir mungkin itu terjatuh dikampus atau mungkin saat kita memukul Sean tadi" Adolf menjelaskan sambil diikuti anggukan dari Billy.

"Louis sahabatku yang pemberani, aku tidak bisa hidup tanpa ponselku. kau harus membantuku mendapatkannya" Billy merengek sambil terus memeluk Louis yang hanya bisa terus mengumpat meladeni Billy.

"Kalian sendiri sedang apa disini?, kau tidak kehilangan ponselmu juga bukan?" Tanya Adolf sambil menyipitkan matanya, dia tidak memiliki alasan yang tepat dalam pikirannya yang bisa membuat Louis ataupun Angela untuk kekampus ditengah malam. Secara mereka keluarga kelas sultan dan tidak akan sampai kekampus hanya demi materi saja.

Mendengar pertanyaan itu wajah Louis agak tidak baik, dia berkata "aku tidak tahu bagaimana menceritakannya. sebelumnya aku pergi kerumah Sean bersama Angela untuk membahas masalah Angkatan, namun Ibu kosnya mengatakan Sean belum kembali selama beberapa hari terakhir. Jadi aku dan Angela berniat kembali kerumah. tapi... saat aku melintasi Universitas aku tidak sengaja melihat Sean, aku sudah memanggilnya tapi dia tidak merespon makanya kami masuk kemari untuk mencarinya sekarang, tapi kami malah kehilangan jejak. Aku heran apa yang dia lakukan disini?" Louis tampak berfikir.

"Kau tidak berfikir dia benar-benar iblis bukan? aku benar-benar takut dengan matanya itu" Billy berkata sambil gemetar.

"Iblis? apa kau masih anak-anak? Itu hanya ada dicerita fantasi dan kau percaya? Berapa usiamu tuan Davidson?" Angela mencibir dan memandang Billy dengan ekspresi merendahkan.

“Sudahlah jangan bertengkar. Jadi apa kau sudah mendapatkan smartphonemu kembali?” tanya Louis pada Billy yang masih meladeni Angela.

“Kami tidak menemukannya dikelas dan seharusnya itu ada ditempat kita memukul Sean sebelumnya. Jadi…ayo kita memeriksanya” ucap Billy sambil menatap Louis dengan tatapan penuh harap seakan tatapannya sedang melihat kepada dewanya.

“kau membuatku merasa jijik” Adolf membuang muka melihat tingkah inpulsif Billy. Dia selalu seperti itu, mengandalkan orang lain. Kapan dia akan berhenti bersikap seperti tuan muda? Dia sudah hampir berkepala dua!

_____________

Dukung author dengan memberikan vote, like dan share ke teman-teman kalian agar semakin banyak yang bisa menikmati ceritanya 😇

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!