NovelToon NovelToon

Jingga Istri Kedua

Nasib Malang

Tidak ada pasangan manapun yang menginginkan hadirnya orang ketiga dalam rumah tangga. Tapi, Lidia Angelica, 33 tahun menginginkan suaminya menikah lagi.

"Apa? Kamu sudah gila, Lidia?" Fabian tak bisa berpikir jernih ketika sang istri meminta dirinya menikahi Jingga, sepupu Lidia. Permintaan yang sangat konyol menurut Fabian.

"Mas, kita sudah menikah tujuh tahun lebih tapi kita belum juga dikarunia momongan. Aku merasa ini kesalahanku, Mas. Tolong menikahlah dengan Jingga. Aku hanya percaya padanya karena aku mengenal dia dari kecil. Dia wanita yang baik aku yakin Mas Fabian tidak akan menyesal menikahi dia." Lidia meyakinkan suaminya kalau apa yang dia inginkan sudah dia pikirkan matang-matang.

Tujuh tahun menikah dengan Fabian tapi Lidia belum juga hamil, membuat Lidia frustasi. Dia merasa bersalah karena tidak bisa melahirkan seorang anak yang diharapkan oleh sang suami. Lidia pun malu pada keluarga suaminya. Wanita itu memaksa Fabian menikah lagi agar kelak dia bisa memiliki keturunan.

"Tidak, jangan konyol kamu! Aku tidak akan menikahi wanita mana pun. Aku hanya mencintai kamu, Lidia," tolak Fabian dengan tegas. Dadanya bergemuruh karena emosi.

Lidia menitikkan air mata. "Aku tahu, Mas. Aku tahu. Tapi, kalau kamu benar-benar mencintai aku nikahi Jingga, karena aku ingin kamu bisa memiliki keturunan dari dia. Kita bisa merawat anak itu sama-sama. Kamu mau kan, Mas?"

Lidia merangkul tangan Fabian. Fabian menepis tangan sang istri. "Aku tidak bisa." Fabian keluar dari kamarnya. Setelah itu dia pergi menggunakan mobilnya.

Lidia mengatur strategi agar Fabian terpaksa menikahi sepupunya. Lidia tahu kebiasaan Fabian jika dia sedang frustasi maka dia akan mengajak Axel minum-minum.

"Kenapa, Bro? Kelihatannya elo banyak masalah?" tanya Axel. Mereka sedang berada di sebuah club malam yang biasa mereka datangi.

"Lidia maksa gue buat nikah lagi," jawab Fabian setelah itu meneguk minuman beralkohol yang ada di tangannya.

Axel tertawa. "Enak dong punya dua istri. Kalau gue jadi elo, gue akan turuti kemauannya Lidia."

Axel mendapatkan tatapan tajam dari Fabian. Fabian mencengkeram kerah kemeja Axel. "Gue bukan cowok breng*sek kaya elo yang suka mainin cewek." Fabian begitu emosi apalagi dia sedang mabuk.

Ya, Axel adalah seorang cassanova. Dia sering diajak oleh sepupunya yang dulu pernah menjadi lelaki bayaran Wanda, ibunya Fabian.

Axel menepis tangan Fabian perlahan. "Tenang, Bro. Elo ambil sisi positifnya aja. Bagaimana kalau setelah elo nikah lagi, elo bisa langsung punya anak? Bukankah selama ini elo pengen banget punya anak. April sama Dafi aja udah punya dua anak dari pernikahan mereka, masa elo udah nikah tujuh tahun belum punya anak sama sekali. Jangan-jangan elo mandul lagi?" ledek Axel diiringi tawa mengejek.

Bug

Fabian tidak tahan lagi. Mulut Axel terlalu banyak bicara. "Jaga omongan lo! Gue nggak mandul." Axel mengusap bibirnya yang berdarah.

Setelah memukul Axel, Fabian keluar dari bar itu. Dia mengendarai mobilnya menuju ke rumah.

Sesampainya di rumah, Fabian masuk dengan kunci cadangan yang selalu dia bawa. Dia mencari keberadaan Lidia. "Akan aku buktikan kalau aku tidak mandul," racau Fabian yang masih dalam pengaruh alkohol.

"Lidia, Lidia," teriak Fabian memanggil sang istri.

Fabian mencari ke seluruh sudut rumahnya. Ketika dia di dapur, samar-samar dia melihat seorang wanita tengah memasak. Jingga tak mendengar suara teriakan Fabian karena dia sedang mendengarkan musik sambil memakai headset di telinganya.

Waktu itu Lidia sengaja memanggil Jingga ke rumahnya untuk membantu membuat kue. Lidia beralasan hari ini adalah ulang tahun Fabian, jadi Lidia ingin membuat kue dengan meminta bantuan Jingga. Jingga tidak keberatan datang ke rumah Lidia. Namun, dia tidak tahu kalau Lidia merencanakan ini semua.

Lidia pergi keluar dengan alasan membeli bahan kue yang kurang. Padahal dia sebenarnya sengaja meninggalkan Jingga seorang diri di rumah. Jingga sama sekali tak menaruh curiga.

Setelah kepergian Lidia, Fabian datang dalam keadaan mabuk. Fabian tiba-tiba memeluk Jingga dari belakang. Dia mengira Jingga adalah istrinya.

Jingga tersentak kaget ketika mengetahui bahwa seseorang memeluknya secara tiba-tiba. "Tidak sopan."

Jingga terkejut ketika Fabianlah orang yang memeluk dirinya dengan sengaja. "Mas Fabian, tolong lepaskan aku!" pinta Jingga.

Dia berusaha melepas tangan kekar Fabian tapi tak berhasil. Tenaganya kalah kuat dengan Fabian. Laki-laki itu malah semakin mengeratkan pelukannya.

"Aku menginginkanmu, Lidia," bisik Fabian di telinga Jingga.

Jingga melotot tak percaya. Dia berusaha mendorong Fabian. Namun, lagi-lagi usahanya gagal. Fabian menangkup kedua pipi Jingga kemudian menciumnya.

Air mata Jingga lolos begitu saja membasahi pipi. Jingga tak kehilangan akal. Dia menggigit bibir Fabian agar laki-laki itu melepas pagutannya.

Jingga hendak lari tapi kakinya malah tersandung meja dapur. Dia terjatuh, Fabian tersenyum menyeringai. "Sayang, jangan melarikan diri. Bukankah kita sudah sering melakukannya?"

"Tidak, jangan lakukan itu, Mas Fabian. Aku bukan Kak Lidia. Kak Lidia sedang pergi." Jingga tak mampu berdiri karena lututnya terluka akibat benturan keras dengan lantai.

Fabian dengan mudahnya menggagahi Jingga. Jingga tak mamu melawan. Dia sudah berusaha tapi dia kalah tenaga. Jingga menangis meraung-raung. Namun, suara tangisannya malah terdengar merdu di telinga Fabian.

Gemuruh petir menyambar diiringi hujan yang turun dengan derasnya malam itu. Akan tetapi walau hawa dingin menusuk hingga ke tulang, Fabian malah merasa kegerahan.

Laki-laki yang dalam kondisi mabuk itu gelap mata. Dia melakukannya dengan kasar. Kehormatan yang Jingga jaga untuk calon suaminya kelak malah terenggut oleh kakak iparnya sendiri.

Setelah puas melakukan itu pada Jingga, Fabian bangkit lalu dia pindah ke kamarnya. Jingga masih terkapar di lantai. Sesaat kemudian gadis yang sekarang tidak perawan lagi itu memunguti pakaiannya yang berserakan. Dia memakai pakaiannya lagi lalu membersihkan dapur meski tubuhnya gemetar.

Jingga tidak mau Lidia melihat kekacauan yang diakibatkan suaminya. "Semoga Kak Lidia pulang nanti saja," gumam Jingga.

Usai membersihkan dapur, Jingga keluar dari rumah Lidia. Dia menggunakan sisa tenaganya untuk berjalan ke depan. Jingga berharap akan segera menemukan taksi. Sayangnya hanya ada ojek malam itu.

Langit masih gerimis. Namun, tak sederas tadi. Jingga menaiki ojek menuju ke rumah kontrakannya. Ya, Jingga tinggal di rumah kontrakan sendirian. Ibunya menikah lagi dengan laki-laki lain, sedangkan ayahnya tidak tahu ke mana dia pergi.

Awalnya setelah perpisahan orang tua Jingga, gadis itu menumpang hidup di rumah Lidia. Namun, Jingga tak mau merepotkan keluarga Lidia lagi sehingga Jingga mengontrak rumah setelah dia mendapat pekerjaan.

Jingga bekerja menjadi menjadi seorang pengajar di sekolah internasional. Gajinya lumayan besar karena sekolah itu milik yayasan. Pemilik yayasan itu tak lain adalah April.

... ♥️♥️♥️...

Jingga sakit

Lidia pergi ke sebuah restoran untuk menyendiri. Dia memesan kopi panas karena malam itu hujan begitu lebat sehingga hawa malam ini sangat dingin.

Lidia mengeluarkan ponselnya. Dia mengecek CCTV yang terhubung dengan ponsel yang saat ini sedang dia pegang. "Come on Lidia, kamu harus kuat."

Dia meyakinkan dirinya mengenai hal buruk yang akan terjadi. Lidia telah mempersiapkan hatinya jika Fabian melakukan sesuatu pada Jingga karena Lidia sendiri yang merencanakan semua ini.

Lidia melotot kemudian memejamkan matanya ketika sang suami menyentuh Jingga malam itu. Dia melihat suami yang dicintai tengah memper*kosa sepupunya. "Maafkan aku, Jingga. Aku hanya ingin Mas Fabian memiliki keturunan dari kamu," gumam Lidia sambil menangis.

Tak hanya merasa bersalah, tapi Lidia merasakan dadanya begitu sakit melihat suami yang sangat dicintainya menyentuh wanita lain walaupun itu atas kemauannya sendiri. "Jangan menangis, Lidia. Ini yang terbaik untuk semua orang."

Lidia menghapus jejak air matanya dengan tangan. Setelah cukup lama, Lidia pulang ke rumahnya.

Di tempat lain, Jingga sampai di rumah kontrakannya. Dia agak kesulitan berjalan karena merasakan perih di bagian pangkal paha. Gadis itu segera masuk dan mengunci pintu.

Usai mengunci pintu, tubuh Jingga merosot ke lantai. "Aaaa ... Kenapa nasibku seburuk ini?" Dia menangis di rumah kontrakannya.

Di saat seperti ini tidak ada seorang pun yang bisa dijadikan sandaran olehnya. Jingga benar-benar gadis malang. Sejak belia dia sudah banyak menderita. Kini di usianya yang hampir menginjak 24 tahun, dia mengalami kekerasan sek*sual. Naasnya, perbuatan be*jat itu dilakukan oleh orang yang sangat dia kenal.

Setelah lelah menangis dia pergi ke kamar mandi. "Aku tidak boleh lemah. Anggap saja kejadian tadi tidak pernah terjadi. Semoga Kak Lidia tidak mengetahuinya," gumam Jingga seraya menghapus air matanya.

Keesokan harinya, Jingga tetap mengajar. Dia adalah guru di sekolah dasar Internasional yang dikelola oleh April.

April adalah adik Fabian dari ibu yang berbeda. April telah mendirikan sekolah itu cukup lama. Jingga masuk ke sekolah itu atas rekomendasi dari Lidia sehingga usai lulus kuliah Jingga bisa langsung bekerja.

"Jingga," panggil April.

"Iya, Mbak April," jawab Jingga.

"Kamu kenapa jalannya begitu?" April menatap aneh pada gadis yang mengenakan rok selutut itu.

"Kaki saya sedang sakit, Mbak." Jingga memperlihatkan lututnya yang diperban.

"Ya ampun, Jingga. Lutut kamu kenapa sampai begitu? Seharusnya kamu izin saja kalau lagi sakit," tegur April. Dia merasa kasian pada Jingga.

"Jatuh, Mbak. Kemaren pas jalan kurang hati-hati jadi kaya gini deh," jawab Jingga setengah berbohong. Dia memang jatuh tapi bukan karena jalan yang tidak hati-hati melainkan saat ingin kabur dari Fabian.

"Lain kali hati-hati ya. Sebaiknya nanti kamu periksa ke dokter takutnya infeksi dan bertambah parah." April memberikan saran.

"Baik, Mbak. Saya masuk ke kelas dulu," pamit Jingga.

April melihat aneh pada diri Jingga. Selain lututnya yang sakit, kelopak mata Jingga juga lebam seperti habis menangis. "Semoga hanya perasaanku saja," gumam April seraya melihat punggung Jingga yang semakin menjauh.

"Selamat pagi anak-anak," sapa Jingga pada murid-murid kelas satu di sekolah itu.

Jingga menjadi wali kelas satu di sekolah tempat dia mengajar. Setiap hari, dia harus dihadapkan pada kelakuan anak-anak yang masih belum bisa dikontrol. April sengaja menempatkan Jingga di kelas satu karena dia tahu Jingga wanita yang lemah lembut. April percaya menghadapi anak-anak bukanlah dengan cara kasar melainkan dengan cara halus.

"Bu Jingga, kenapa hari ini datangnya telat?" tanya salah satu muridnya.

"Oh maaf ya sayang, ibu kena macet," jawab Jingga. Dia memberikan jawaban yang tidak membuat anak-anak bertanya lagi.

"Besok aku akan bilang pada papa untuk membelikan Bu Jingga mobil," kata Elia.

Jingga tersenyum. "Terima kasih, Elia. Tapi sebaiknya uang itu ditabung saja untuk membayar sekolah Elia ketika di perguruan tinggi nanti," kata Jingga.

"No, ayahku seorang konglomerat." Elia menyombongkan kekayaan orang tuanya.

"Huuu..." Anak-anak lain menyoraki sikap Elia yang dianggap kampungan itu.

Elia menangis. Jingga pun memeluk Elia. "Teman-teman, jangan ejek Elia ya. Elia, kamu juga tidak boleh sombong. Meskipun kita kaya kita harus tetap rendah hati ya, sayang," ucap Jingga dengan lembut saat menasehati anak kecil itu.

Elia mengangguk. Jingga kesulitan berdiri setelah dia berjongkok ketika memeluk Elia. Tapi Jingga menahan rasa sakit agar anak-anak yang ada di kelas itu tidak khawatir padanya.

"Sekarang kita mulai belajar ya."

Ketika jam istirahat Jingga minta izin pulang. Kakinya benar-benar sakit. "Tidak apa-apa, Jingga. Kamu pulang saja. Biar Pak Rizky yang menggantikan kamu," kata April.

"Terima kasih banyak, Mbak." April mengangguk.

"Apa kamu bisa pulang sendiri? Kalau mau saya antar." April menawarkan tumpangan.

"Tidak usah, Mbak. Saya bisa naik taksi," tolak Jingga yang merasa tidak enak.

Setelah itu dia keluar dari ruangan April. Ketika dia berjalan di koridor sekolah, Jingga bertemu dengan Rizky, salah satu pengajar di sana. "Mas Rizky tolong gantikan saya mengajar di kelas satu. Saya tidak enak badan."

"Oh iya, tadi saya mendapatkan pesan dari Bu April. Jangan khawatir, Jingga. Saya akan menggantikan kamu."

"Terima kasih, Mas. Saya pamit pulang." Rizky mengangguk. Dia melihat Jingga jalan tertatih seraya memegangi kakinya.

"Sebenarnya dia kenapa?" gumam Rizky.

Jingga langsung pulang ke rumah. Badannya sungguh tidak bisa diajak kompromi. Dia merebahkan diri di atas kasur.

Di tempat lain, Lidia sedang mencoba menghubungi Jingga. Dia merasa bersalah setelah kejadian semalam. Lidia yakin Jingga sedang tidak baik-baik saja. Namun, ponsel Jingga rupanya tertinggal di dapur. Dia melihat ponsel Jingga terjatuh di kolong meja.

"Pantas saja tidak bisa dihubungi rupanya ponselnya terjatuh semalam," gumam Lidia.

Setelah itu, dia pun berpikir untuk menemui Jingga dengan alasan mengembalikan ponselnya. Lidia menghubungi April tapi adik iparnya bilang Jingga sudah pulang ke rumahnya. Lidia pun menuju ke rumah Jingga.

Tiga puluh menit perjalanan dari rumahnya, Lidia kini sampai di depan rumah kontrakan sepupunya itu. Lidia memanggil Jingga tapi tidak ada balasan. Lidia pun mencoba membuka engsel pintu rumah tersebut. Dia mencari keberadaan Jingga.

Lidia terkejut ketika mendapati gadis yang dia cari meringkuk di atas kasur. "Jingga, Kakak ke sini ingin mengembalikan ponsel kamu. Kamu kenapa selimutan begini?" tanya Lidia cemas.

Lidia melihat bibir Jingga yang memucat. "Jingga apa kamu sakit?" tanya Lidia. Jingga menggelengkan kepalanya.

Lidia memeriksa kening Jingga. "Kamu demam."

Lidia merasa perlu membawa Jingga ke rumah sakit. Wanita itu pun menghubungi suaminya. "Mas, tolong Jingga. Dia sedang sakit datanglah ke rumah kontrakannya sekarang!" perintah Lidia pada Fabian melalui sambungan telepon.

Apakah Fabian akan datang sesuai permintaan Lidia? Apakah dia ingat kejadian malam itu?

Menolong Jingga

Fabian memainkan pulpennya ketika dia sedang berada di kantor. Dia merasa aneh dengan kejadian semalam. "Sebenarnya semalam aku tidur dengan siapa? Kenapa aku malah mengingat wajah Jingga? Ah tidak mungkin. Sewaktu aku bangun tadi pagi Lidia ada di kamar. Berarti aku melakukannya dengan Lidia," gumam Fabian yang bergelut dengan pikirannya sendiri.

"Bos, tanda tangan nih. Kita dapat tender besar," seru Imam, sahabat yang sekarang membangun perusahaan bersama Fabian.

Fabian membaca berkas itu kemudian menandatanganinya. "Sepertinya ada sesuatu yang sedang dipikirkan, Bos?" tanya Imam. Sikapnya memang santai pada Fabian meski Fabian adalah atasannya.

"Sesuatu yang nggak penting," jawab Fabian. Sesaat kemudian Fabian menerima telepon dari istrinya, Lidia.

"Kamu boleh keluar, aku dapat telepon dari Lidia." Imam mengangguk patuh.

"Mas, tolong Jingga. Dia sedang sakit datanglah ke rumah kontrakannya sekarang!"

"Ck, aku tidak bisa sayang," tolak Fabian. Jujur dia sangat malas jika berurusan dengan Jingga. Terlebih setelah istrinya menjodoh-jodohkan dia dengan sepupunya itu.

"Mas, kamu tega ya. Tidak ada yang bisa aku andalkan. Apa perlu aku telepon papa?" ancam Lidia.

"Baiklah. Tunggu di sana!" perintah Fabian. Laki-laki itu menyambar jas dan kunci mobil yang tergeletak di atas meja.

"Mau ke mana, Bos?" tanya Imam.

"Tugas kemanusiaan," jawab Fabian asal. Imam mengerutkan keningnya.

Tak sampai tiga puluh menit Fabian sampai di rumah kontrakan Jingga. Ketika Lidia mendengar suara mobil suaminya, dia segera menghampiri. "Mas, ayo masuk! Bawa Jingga ke rumah sakit. Badannya menggigil."

Fabian malas menggerakkan kakinya. Lidia menyeret suaminya masuk ke dalam. "Ayo, Mas! Gendong dia!" perintah Lidia.

Fabian pun terpaksa mengangkat tubuh Jingga. Tapi Jingga tiba-tiba beringsut ketika suami Lidia itu akan menggendongnya. "Tidak, tidak usah," kata Jingga.

"Tuh, Yang. Nggak usah katanya."

"Jingga, ayo kita ke dokter. Kamu perlu diperiksa," bujuk Lidia.

"Nggak usah, Kak." Jingga memeluk kakinya di atas kasur. Dia seperti orang ketakutan. Lidia bukannya tidak menyadari ketakutan yang dialami Jingga. Tapi dia harus pura-pura tidak tahu agar rencananya berhasil.

Fabian merasa sia-sia datang ke rumah itu. Waktunya terbuang percuma hanya untuk membujuk Jingga.

"Jingga, aku menyayangimu seperti adikku sendiri. Jadi percayalah kalau aku tidak akan menyakiti kamu."

Jingga akhirnya mau diajak ke dokter. Lidia menuntunnya berjalan dengan perlahan. Kakinya masih sakit jadi jalan Jingga menjadi pincang.

Sesampainya di rumah sakit, perawat mengobati luka di bagian lutut Jingga. "Kenapa luka separah ini dibiarkan saja. Pantas saja infeksi," omel perawat yang mengobati lutut Jingga yang terluka.

"Sus, apa dia harus dirawat?" tanya Lidia.

"Nanti kita tanya dokter ya, Bu."

Namun, setelah ditanyakan pada dokter umum di sana, Jingga tidak perlu dirawat. "Syukurlah kamu boleh pulang." Lidia merasa lega karena Jingga tidak apa-apa.

Fabian sedari tadi diam saja. Dia merasa tidak nyaman ketika berdekatan dengan Jingga. "Perasaan apa ini?" tanya Fabian pada dirinya sendiri.

Usai mengantar Jingga, Lidia dan Fabian pamit pulang. "Maaf, Jingga aku tidak bisa menemani kamu. Jika kamu butuh apa-apa jangan sungkan untuk menghubungi aku." Lidia berpesan pada Jingga sebelum dia pergi.

Fabian kasian melihat Jingga, tapi dia tidak bisa berbuat banyak untuknya. Tentu saja karena dia tidak mau kalau Lidia salah paham padanya.

Sejenak mata Fabian bertemu dengan Jingga. Dia bisa melihat kesedihan di mata gadis itu. Tapi Jingga terlihat ketakutan setiap kali melihat Fabian. "Sebenarnya dia kenapa?" Fabian tak bisa mengartikan tatapan mata Jingga.

Setelah kepergian Lidia dan Fabian. Jingga menangis sejadi-jadinya. Dia kembali mengingat kejadian pahit yang ditorehkan oleh Fabian padanya. Jingga merasa jijik pada dirinya sendiri.

Lidia merasa bersalah pada Jingga. Dia terus memikirkan Jingga. "Mas, kamu lihat sendiri bukan? Jingga tidak ada yang jaga. Setidaknya jika kamu menikahinya, kita bisa menjaga Jingga sama-sama," bujuk Lidia.

"Lidia, aku bosan kamu terus memaksaku menikahi Jingga. Aku tidak akan pernah menikahi wanita manapun selain kamu. Aku hanya mencintai kamu Lid." Fabian meyakinkan istrinya.

"Aku tahu, Mas. Tapi pernikahan kita ini tidak sempurna. Setiap pasangan pasti menginginkan buah hati. Aku tidak bisa memberikannya padamu untuk itu aku ingin kamu bisa memiliki keturunan dari wanita lain."

Walau mulutnya berkata tegar tapi dalam hati Lidia begitu hancur ketika menyuruh suaminya menikah lagi. Tidak ada satu wanita di dunia ini yang ingin dimadu.

"Sebaiknya kamu pikirkan lagi permintaan kamu itu. Jangan sampai kamu menyesal nanti."

Fabian masuk ke ruang kerjanya. Dia malas berdebat dengan Lidia. "Aku sangat membencimu Jingga. Apa yang membuat Lidia begitu menyayangi kamu hingga dia merelakan suaminya sendiri untuk dinikahkan denganmu?" gumam Fabian seraya mengusap wajahnya frustasi.

Fabian pun memutuskan untuk tidur di kamar lain. Kemudian keesokan harinya Fabian mendatangi rumah ayahnya. Dia malas berdebat lagi atau membahas tentang pernikahan keduanya.

"Tumben kamu pagi-pagi ke sini?" tanya Erik.

"Lagi suntuk di rumah, Pa," jawab Fabian.

"Kenapa, Fab? Kalau kamu ada masalah kamu bisa bilang sama papa."

"Nggak, Pa. Aku sudah dewasa. Aku bisa menyelesaikan urusanku sendiri," tolak Fabian.

"Fab, sudah tujuh tahun kamu menikah tapi kalian belum punya anak. Apa kamu tidak ingin menjalani program hamil?" tanya Erik.

"Bukankah itu urusan Lidia sebagai seorang perempuan?" Fabian bertanya balik.

"Betul, tapi kamu sebagai suaminya sudah seharusnya mendukung. Apa kalian tidak pernah memeriksakan kondisi kandungan Lidia?" tanya Erik.

Fabian menggeleng. "Aku tidak mau memaksa Lidia. Aku takut menyakiti hatinya, Pa."

"Kamu salah, Fab. Jika kamu tidak usaha mana bisa kalian memiliki keturunan. Aku curiga Lidia mandul."

Prank

Fabian meletakkan sendok dan garpunya dengan kasar. "Jangan bicara seperti itu, Pa. Meskipun kami tidak punya anak. Aku tetap mencintai istriku apa adanya." Fabian tidak terima dengan perkataan ayahnya ketika dia menghina Lidia.

"Maafkan papa, Fab. Papa hanya menduga saja. Kalau kamu ingin buktikan dia subur atau tidak periksalah ke dokter. Aku akan buatkan janji dengan Om David kalau perlu."

"Aku akan bicarakan pada Lidia."

"Fab, pernahkah kamu berpikir untuk menikah lagi?"

Uhuk

Fabian tersedak ketika mendengar perkataan ayahnya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!