NovelToon NovelToon

My Beautiful Police

Bab 1 - Kesempatan Hidup Sekali Lagi

"Jadi kamu anaknya Mario? cantik sekali," ucap seorang pria berusia 50 tahunan. Menatap penuh minat pada gadis bellia di hadapannya ini.

Ariana tahu pria itu bernama Faisal Basri, seorang pengusaha yang juga bandar narkoba pelanggan ayahnya, Mario yang seorang mucikari.

Bagi Mario, Faisal adalah boss besar.

Ariana adalah anak satu-satunya Mario dan telah dipersiapkan jauh-jauh hari untuk melayani pria tersebut.

Di usianya yang genap 18 tahun, Ariana dibawa masuk ke dalam kamar ini. Kamar pelayanan untuk semua langganan sang ayah. Ibu Ariana telah meninggal ketika dia kecil.

"Saya hanya akan membuat 1 kali permohonan, saya mohon, jangan sentuh saya," ucap Ariana dengan suaranya yang terdengar dingin, sungguh tak ada sedikitpun ketakutan dalam hati gadis itu.

Kehidupan kejam begini sudah dia lahap sehari-hari.

Kini dia telah menggunakan sebuah gaun malam yang begitu indah, namun Ariana begitu jijjik menggunakannya.

Seumur hidup Ariana dia selalu melihat bejatnya sang ayah, bagaimana pria itu menjebak para wanita untuk dia jual, tak menyangka juga jika akhirnya dia pun dijadikan tumbal.

Ariana mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.

Malam ini adalah titik balik dari semua hal yang Ariana alami selama hidupnya. Menempatkan sang ayah jadi satu-satunya musuh di dunia ini.

Dalam hati gadis itu dia bersumpah akan membunuh sang ayah.

Faisal langsung tertawa terbahak-bahak ketika mendengar ucapan Ariana tersebut.

Bagaimana disaat seperti ini, dia diminta untuk tidak menyentuh?

"Jangan sentuh? Astaga, kamu salah permintaan sayang, harusnya kamu minta aku untuk pelan-pelan saat melakukannya," balas Faisal.

Dan ucapan pria itu terdengar begitu menjijjikkan ditelinga Ariana.

Faisal mulai mendekat, berjalan dengan kedua matanya yang nampak sayu. Sementara Ariana menatap lurus dan terus mengamati.

Semakin dekat pria itu, Ariana pun tersenyum miring.

Dengan gerakan yang begitu cepat, bahkan sampai tak terbaca oleh Faisal, Ariana mengayunkan kakinya dengan begitu kuat dan langsung menendang inti tubuh pria tua tersebut.

BUGH!!

"AHK!!" pekik Faisal, dalam sekejap saja Dia merasakan sakit yang luar biasa. Faisal bahkan langsung merunduk dan memegangi inti tubuhnya yang begitu sakit.

Dia tidak melihat saat Ariana memutar tubuhnya dan kembali melayangkan sebuah tendangan yang sangat kuat di wajah sisi kiri pria itu.

BUGH!

BRAK!! Faisal jatuh terjerembab di atas lantai dan tidak berdaya.

Keributan di dalam ruangan itu terpantau oleh penjaga di luar sana dan sangat terkejut ketika melihat Ariana telah berhasil melumpuhkan sang boss.

"Kurang ajjar! tangkap gadis itu!!" satu perintah yang akhirnya membuat Ariana tak berkutik.

Saat itu dia hanyalah gadis kecil dan harus melawan entah berapa banyak pria dewasa.

Melihat Faisal yang sudah tidak berdaya beberapa orang itu pun tidak segan untuk memukul Ariana, hingga keluar darrah di sudut bibir gadis malang itu.

Brugh! Ariana yang sudah setengah sadar dilempar langsung di bawah kaki Mario.

"Shiit! apa-apaan ini?!" bentak Mario tidak terima, harusnya malam ini yang dia dapatkan adalah uang dalam jumlah besar. Tapi ternyata malah anaknya yang sudah babak belur.

"Jika sesuatu terjadi pada Boss Faisal, bukan hanya Gadis itu yang akan kami habisi tapi kamu juga!" ancam pria bertubuh kekar itu.

Dan mendengar ucapan itu, seketika isi kepala Mario dipenuhi dengan amarah.

Tanpa perlu dijelaskan secara rinci dia sudah tahu bahwa anak kurang ajjar ini telah membuat masalah.

"Kurang ajjar!" Bugh! Mario bahkan tanpa hati menendang pula tubuh sang anak.

Ariana yang saat itu masih setengah sadar, hanya terus memohon kepada Tuhan untuk diberi kesempatan hidup sekali lagi.

Dengan begitu dia bisa membalaskan semua dendam ini kepada sang ayah.

Hatinya bak teriiris ribuan sembilu, tubuhnya ditarik seperti hewan untuk keluar dari tempat hiburan tersebut.

Ma. Panggil Ariana, lirih di dalam hati, memanggil ibunya yang telah tiada.

Ariana adalah gadis yang pintar, dia ahli dalam bela diri, sejak kecil dia ingin jadi seorang polisi untuk menegakkan keadilan, untuk mempenjarakan ayahnya sendiri.

Namun belum sempat semua cita-cita terwujud, Ariana sudah tiba di ujung hidupnya.

Dengan tubuh tidak berdaya itu, Mario membawanya ke sungai besar di pinggir kota.

"Matilah kau!!" geram Mario, dengan Ariana yang mati dia tak akan mendapatkan kemarahan bos Faisal.

Hanya dengan satu kali gerakan, Mario mengangkat tubuh Ariana dan dilemparnya ke sungai tersebut.

BYAR!!

Melihat Ariana yang tenggelam, Mario pun tersenyum miring.

Anak sial. Geram Mario.

Di dalam sungai sana, Ariana tidak bisa melakukan apa-apa, selain menikmati sakit yang bertubi-tubi.

Pagi datang.

Ariana membuka kedua matanya dan langsung melihat cahaya matahari, tepat di atas kepalanya.

Surga. Batin gadis itu.

Sayup-sayup dia mendengar suara air sungai. Lalu merasakan tubuhnya yang diterpa air dengan lembut.

Deg! jantung Ariana berdegup, degup yang membuatnya sadar bahwa dia masih hidup.

Kedua matanya sontak terbuka dengan lebar, dia buru-buru bangkit.

Sontak berteriak dengan sangat kuat ketika melihat tubuhnya sendiri tergeletak kaku di sampingnya.

"AHK!!" pekik Ariana.

Dia meraba tubuhnya dan mendapati jika ini tubuh milik orang lain.

Deg deg! deg deg! Ariana begitu terkejut.

"Apa yang terjadi," gumam gadis itu dengan cemas.

Bab 2 - Sherina Foster

Jantung Ariana berdegup dengan kuat, diantara kebingungan yang dia rasakan, tiba-tiba sebuah kenangan yang asing memenuhi isi kepalanya.

Ahk! pekik Ariana, menyentuh kepalanya yang berdenyut.

Namun kemudian satu per satu dia mendapatkan ingatan asing.

Sherina, papa tidak mau tau. Kamu harus jadi polisi, semua keluarga kita adalah polisi, jadi jangan pernah berpikir untuk mencari profesi lain.

Dasar gadis cupu, kamu itu hanya beban di tim 1!

Kalau bukan karena ayahmu, kamu tidak akan bisa jadi polisi!

Menjjijikan, terus berlindung dibalik nama ayahnya.

Tangkap boddoh!! kamu membiarkan penjahat itu kabur!!

Boddoh! benar-benar boddoh!

Mati saja kau!!

Hahahaha.

Ahk! Ariana makin memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri, sampai terasa mau pecah. Tapi tawa beberapa orang itu benar-benar terngiang jelas diingatannya.

Ariana mendapatkan semua kenangan Sherina semasa hidup, sampai akhirnya berujung mati karena dibuang ke sungai ini.

Deg!

Dadda Ariana seketika sesak. Seperti menahan dua kepedihan sekaligus dalam hatinya. Tentang betapa malangnya dia dan tentang betapa malangnya Sherina.

Kedua mata Ariana jadi memudar, dengan pandangannya yang berubah rabun dia melihat tubuhnya sendiri yang sudah mati.

"Aku sudah mati, lalu aku hidup di tubuh wanita ini," gumam Ariana. Dengan susah payah dia coba bangun, merangkak menghampiri tubuhnya.

Tanpa sadar Ariana menangis, dia dan Sherina seperti sudah terikat oleh takdir.

"Aku bukan Ariana lagi, aku adalah Sherina, aku adalah Sherina," gumam gadis itu dengan air mata yang mengalir semakin deras. Bahkan sampai jatuh mengenai mayat Ariana yang terdampar di tepi sungai.

Daddanya terasa sangat sesak, seperti ada yang memerasnya dengan kuat.

"Tidak, aku tidak boleh hanya diam di sini, aku harus bangkit, aku harus hidup untuk membalas dendam kami berdua. Kak Sherina, aku akan hidup sebagai kamu, kita tidak benar-benar mati," ucap Ariana dengan wajah yang nampak cemas dan bingung.

Ariana tahu, sekarang ini usia kak Sherina memasuki umur 28 tahun, berbeda 10 tahun dengannya.

Semua ingatan Sherina dia pun mengingatnya dengan jelas. Namun hanya tentang kesedihan yang paling banyak dia ingat.

Sherina trauma dengan gelap gulita, ketika kecil dia pernah diculik dan di kurung dalam gudang yang sangat gelap.

Traumanya itu seakan membunuhnya perlahan, sungguh Sherina tak ingin sekalipun menjadi seorang polisi, dia hanya ingin menjadi guru taman kanak-kanak.

Tapi sang ayah terus memaksanya, dan tiap kali bertugas ketakutan itu membuatnya tak berkutik.

Sampai Sherina dianggap sebagai beban di Tim 1.

Karena ayahnya adalah kepala polisi di kota ini, Sherina selalu aman dan tak pernah mendapatkan hukuman. Hal itulah yang membuat semua orang menatapnya benci.

Hingga akhirnya, 1 tim sepakat membuang Sherina di sungai malam itu, lalu mengubahnya sebagai kecelakaan dalam tugas.

Ariana masih menangis, dengan tertatih dia mengangkat tubuhnya sendiri untuk lebih menepi. Untuk benar-benar terlepas dari air sungai tersebut.

"Sekarang, aku adalah Sherina, Sherina Foster," gumam Ariana.

Tenaganya yang belum pulih, membuatnya bernafas terengah-engah meski hanya bergerak beberapa langkah.

Setelah mengamankan tubuhnya sendiri, Ariana pun terduduk di salah satu batu. Coba berpikir sebagai Sherina dan mencari bantuan.

Sampai akhirnya dia teringat sebuah nama yang pasti bisa membantunya.

"Sean, Sean Aditama," gumam Ariana. Bibirnya mulai terukir senyum kecil. Tanpa banyak kata dia berlari dari sana mencari jalan keluar.

Kemampuan tubuh Ariana berpadu dengan kemampuan analisa milik Sherina, membuat gadis itu jadi begitu tangguh.

Hingga tak butuh waktu lama, Ariana menemukan jalan keluar. Keluar dari semak belukar dan melihat jalan raya.

"TOLONG!!" pekik Ariana dengan begitu kuat, bahkan ketika ada sebuah mobil melintas dia langsung berlari ke tengah-tengah jalanan dan menghadang.

Ariana bersimpuh dan mengatupkan kedua tangannya. Dia lupa jika saat ini di saku celananya ada lencana polisi sebagai identitas, pikirnya dia masihlah gadis kecil seorang mucikari.

Perasaan Ariana lebih menguasai dibandingkan ingatannya tentang Sherina.

"Tolong aku," mohon Ariana ketika pemilik mobil itu keluar.

Bab 3 - Sean Aditama

Untunglah pemilik mobil itu bersedia membantu Ariana. Sepasang suami istri itu bahkan bantu menghentikan pegendara yang lain untuk ikut turun ke bawah jurang menuju sungai.

Dimana jenazah Ariana berada.

Ariana menghubungi kepolisian menggunakan ponsel orang yang membantunya, untuk meminta bantuan dan juga menghubungi Sean untuk minta pendampingan.

Jenazahnya butuh penanggung jawab dan Ariana akan buat pria itu yang mengurus semuanya.

Kini Ariana telah berada di rumah sakit, baju basah yang dia gunakan sudah kering di badan.

Beberapa perawat memberinya penanganan untuk semua luka di sekujur tubuh.

Tapi Ariana tidak bersedia ketika diminta untuk berbaring di atas ranjang, dia tetap duduk dan membiarkan dua perawat menangani semua luka di tubuhnya.

Sesekali Ariana meringis saat merasakan pedih.

Ariana tidak sadar ketika ada seorang pria baru saja masuk ke dalam ruang IGD tersebut dan langsung menatap ke arahnya dengan tatapan yang begitu cemas.

Sean Aditama, sang sahabat.

Pria itu melangkahkan kakinya dengan lebar hingga berdiri tepat di hadapan gadis tersebut.

Astaghfirullahaladzim, batin Sean.

"Apa yang terjadi?" tanya pria itu langsung, suaranya mungkin terdengar acuh, Tapi percayalah Dia begitu khawatir dengan keadaan wanita ini.

Sherina yang sejak kecil telah jadi temannya, mereka tumbuh bersama hingga usia 28 tahun.

Melihat pria ini berdiri di hadapannya, Ariana tidak bisa langsung mengenali. Dia mengingat-ingat dulu, hingga menemukan sebuah nama.

Oh ini Sean, dia adalah temannya kak Sherina, berarti dia sahabatku. Dia lah yang akan mengurus jenazah ku. Batin Ariana.

"Aku jatuh ke sungai saat tugas, lalu menemukan mayat seorang wanita. Bisakah kamu mengurusnya untuk pemakaman? aku tidak punya uang," tanya Ariana langsung.

Hingga membuat pria berwajah tampan itu tercengang, dia berlari kesini dengan sangat cemas, ternyata Sherina memintanya untuk mengurus hal lain.

Tunggu, batin Sean. Semakin dia lihat sang sahabat, entah kenapa dia merasa ada yang berbeda.

Cara bicaranya pun lain, Sherina selama ini tak pernah bicara dengan suara yang cukup tinggi seperti itu. Sherina begitu lembut.

Apa jatuh ke sungai membuat otaknya bergeser? batin Sean lagi.

"Mayat itu sangat berharga untukku, dia adalah seseorang yang dikirim oleh Tuhan hingga membuat ku sekarang masih hidup, jadi aku mohon, buat makamnya jadi indah," mohon Ariana pula, kini raut wajahnya berubah jadi sedih.

Bagaimana pun itu akan jadi pemakamannya sendiri.

"Apa kamu mengalami luka yang parah? ada cedera?" tanya Sean pula, dia mulai memeriksa tubuh Sherina hingga membuat salah seorang perawat menyingkir memberinya ruang.

Sungguh, dibanding apapun Sean sangat mencemaskan Sherina.

Namun baru hendak menyentuh, tangannya sudah lebih dulu dipukul oleh gadis tersebut.

Ariana yang tak biasa dengan sentuhan orang lain.

Plak!

"Aw! apa yang kamu lakukan Sher?" ucap Sean, sontak membuat Ariana sadar bahwa saat ini dia adalah Sherina.

Dalam kenangannya, dia memang memiliki banyak waktu bersama pria ini. Bahkan bukan hanya saling menyentuh, mereka juga sering berpelukan.

Hii. Ariana merinding.

"Aku baik-baik saja, tolong urus dulu mayat itu," balas Ariana pula.

Sean tak bisa membantah, dia terbiasa menuruti gadis ini. Jadi tanpa banyak tanya dia pun segera melaksanakan apa yang Sherina minta.

Kabar tentang Sherina yang hanyut di sungai pinggir kota telah terdengar hingga di kantor polisi pusat. Kabar berhembus bahwa Sherina selamat dalam tragedi tersebut.

Sang ayah William Foster hanya diam, tidak mengambil langkah untuk menemui sang anak. Sherina telah selamat dan itu baginya cukup.

Namun bagi Tim 1 polisi rahasia, kabar itu benar-benar mencengangkan. Deasy dan Brandon menghajar Sherina hingga babak belur sebelum membuang gadis manja itu ke sungai.

Harusnya gadis tidak berguna itu telah meninggal tenggelam dalam air yang dingin.

Tapi apa yang terjadi sekarang?

Gadis itu justru selamat.

"Brandon, bagaimana ini?" tanya Deasy dengan cemas.

"Tenang lah, apa yang bisa dia lakukan?" balas Brandon dengan santainya, bahkan tersenyum penuh hinaan.

Selamanya, Sherina hanya akan jadi gadis yang lemah.

Sherina selamat dalam percobaan pembunuhan mereka yang pertama.

Itu artinya mereka harus melakukan percobaan pembunuhan yang kedua.

Senyum Brandon terlihat semakin mengerikan. Dia adalah ketua tim 1, orang yang paling banyak menaruh benci pada gadis cupu itu.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!