NovelToon NovelToon

Syahdunya Cinta Pertama

AWAL MULA

🌼Jika kalian membayangkan cerita ini adalah cerita yang murni membahas dunia keromantisan. Kalian salah besar. Jika kalian menginginkan cerita ini seperti cerita CEO, CRAZY RICH, SUGGAR DADDY dan konglomerat sebagainya, kalian semakin nyasar. Ini hanya cerita sederhana dari anak, ayah, keluarga yang amat sederhana. Berlatar tahun 2010 jadi jangan disamakan kecanggihan dunia media sosialnya dengan di tahun kita sekarang (2023) begitu juga dengan transformasi dan yang lainnya. Bukan hanya tahun, cerita ini juga berlatar sebuah perkampungan terpencil. Jadi, kalau kalian masih komplen karena bukan cerita yang sesuai dengan kalian cari, itu salah kalian sendiri bukan salah penulis. Penulis dari deskripsi dan genre sudah menjabarkan cerita dengan baik. Terima kasih, selamat membaca. Kunjungi Ig: Melaheyko untuk semua info karyanya 🌼

******

TAK ada yang mau hidupnya susah dan tak ada orang tua yang mau memberikan kesusahan kepada anak-anaknya, jika itu terjadi, itu takdir yang harus diterima dan dijalani. Mau protes kepada siapa ketika seorang anak tak punya barang-barang bagus seperti teman-temannya, pakaian yang baik seperti kerabatnya, makanan yang layak seperti tetangganya. Apa mereka perlu protes kepada orang tua mereka yang sebenarnya juga tak mau hidup seperti itu, lantas apa harus berseru pada Tuhan untuk menuntut keadilan? Padahal Tuhan jelas lebih tahu yang baik untuk hamba-Nya dan mengukur seberapa mampu hamba-Nya dia berikan kehidupan di dunia yang sementara.

Semua manusia berhak dan wajib memiliki keinginan dan mimpi, begitu juga dengan Kani yang selalu berharap bisa terbang dengan bebas untuk mencari kehidupan yang luas dan lebih baik. Sekali pun dia terpaksa meninggalkan bilik yang menjadi tempatnya lahir dan tinggal bertahun-tahun. Kani anak remaja yang seperti teman-temannya, ingin bergaya, ingin ini itu, tapi bedanya yang lain merengek pada orang tuanya, sementara dia diam menelan semua keinginannya. Mengukir janji dalam hati, akan dia cari sendiri tanpa perlu mengemis pada Ayahnya yang tegas dan Ibunya yang galak itu, dan tak perlu juga menunjukkan pada Dahlia yang selalu iri, atau pada Kenanga yang selalu mau, atau pada adik bungsunya Syamsir yang selalu merengek penasaran pada barang-barang di kamarnya setiap waktu.

Kani dan ketiga adiknya bersekolah di sekolah yang sama, tahun ini Kani akan menyelesaikan pendidikannya di sekolah menengah pertama, dia sudah tak tahan dengan satu keinginan untuk pindah dari sekolah tersebut. Dia sudah malas menjadi kuncen di sana bertahun-tahun.

Duduk menyendiri dengan buku yang menemani, tak ada uang untuk membeli makanan seperti teman-temannya, berbagai macam alasan dia lontarkan untuk membungkam teman-temannya yang sebatas mengajak, mendesak, tak ada niat mentraktir atau berpikir bahwa ia tak punya uang. Gadis dengan rambut diikat tinggi itu selalu setia di sana, beranjak hanya untuk ke toilet, sampai selalu menjadi bahan perbincangan para guru dan teman-temannya. Kani hanya bisa menelan ludah ketika meminta uang jajan dan Ibunya menghardiknya sambil mengatakan “Anak paling besar tak perlu memikirkan jajan, lihat adik-adik kamu” itu yang selalu dia dengar. Hanya bisa menahan sesak sambil meremas tangannya sendiri.

Beberapa menit lagi jam istirahat berakhir, Kani memutuskan berdiri, dia kebelet dan melangkah cepat sambil menunduk. Temannya Reva, Teti, dan Citra bertanya. Dia hanya menunjuk toilet yang bersebelahan dengan Aula dan Musholla dengan mata bulatnya. Kani terus melangkah, dia terkesiap saat dari belakang punggungnya tertabrak punggung besar dan keras, lapangan memang sedang ramai dengan anak-anak SMA yang sedang mengisi waktu istirahat dengan bermain bola.

“Aduh, maaf.” Laki-laki yang menabraknya berbalik badan, memastikan yang dia tabrak tak apa-apa, dia tak mau membuat masalah di hari pertama kepindahannya ke sekolah tersebut. Terpaku memandang Kani yang menyentuh punggungnya dengan tangan kiri. Kani juga terpaku melihat wajah yang baru dia lihat. Laki-laki dengan rambut ikal tebal, wajah simetris dan rahang yang begitu kokoh, dia belum pernah melihat lekukan wajah seperti itu dan kenapa, seorang laki-laki memiliki bulu mata berbaris cantik lentik begitu? Dia perempuan saja tak punya apalagi alis tebal hitam legam menyambung. “Kanir...” Pemuda itu berucap sambil menatap nama Kani di seragam dan Kani buru-buru menutupi namanya. Dia melengos begitu saja, tak menjawab walaupun pemuda itu sempat meminta maaf, Kani sudah tak tahan ingin ke toilet dan dia tidak sadar ada sepasang mata  memperhatikannya dengan murid baru itu. Tatapan tak menerima.

Setelah masuk ke dalam kelas, Kani menoleh saat teman-teman sekelasnya membicarakan murid baru kelas 12 A bernama Amarendra, baru masuk hari ini, bikin heboh katanya. Kani hanya mengangkat alis tak terlalu peduli apalagi heboh seperti gadis lain, dia ingat dengan laki-laki tadi yang menabraknya sangat keras. Pasti yang itu dan hal tersebut dibenarkan kedua temannya, Reva dan Teti.

Jam pulang sekolah, Kani menyumbat telinganya dengan Headset. Sebuah benda bernama Walkman yang dibelikan Bapaknya sebulan lalu selalu dia bawa ke mana-mana. Benda selebar tiga jari itu muat di saku seragam atau dia sembunyikan di balik jaketnya.  Walkman yang selalu menghadiahkannya lagu penghibur di waktu tertentu, sebuah radio, ada saluran yang bagus, ada yang sebaliknya, benda itu sedang heboh dibicarakan beberapa bulan ini. Banyak anak-anak remaja yang menginginkannya.  

Kani mendelik berkali-kali karena murid SMA bernama Heri kini mendekat, Heri sudah menunggunya. Keduanya berjalan bersama. Kani mengangguk, melambai ketika Reva pamit begitu juga dengan Teti. Sementara Citra, ada di depan jauh di sana, menghindarinya karena ada Heri.

“Kau juga memuja murid baru itu?” tandas Heri dan Kani menoleh, tak paham. “Kau jelas sama dengan para gadis yang lain, tergila-gila dengannya.” Ia mendelik tajam.

Kani melepas satu Headset dari telinganya. “Apa yang kamu maksud, Her? Cemburu lagi? Memangnya aku ngapain?” Kani kesal dan Heri menyeringai, laki-laki itu yakin dengan sangkaannya.

“Jangan samakkan aku dengan gadis lain, beda kelas!!!” bentak Kani sengit, dia pergi, mempercepat langkah saat Heri mengejar dan Kani berlari kemudian merangkul bahu Citra. Heri mengeram dongkol dan berbelok karena beda arah. Gadis itu selalu saja menghindarinya.

Di sisi lain ada Amarendra, dia terus menatap kepergian Kani dan kepindahannya ke sekolah tersebut tak terlalu buruk. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya sekaligus membuat penasaran.

“Dia manis,” gumamnya sambil mengayunkan kaki mengayuh sepeda.

***

Kani terdiam melihat Reva hari ini membawa sebuah ponsel berwarna Pink, ukurannya besar. Citra dan Teti menyentuh saja tak boleh. Reva mengatakan itu hadiah ulang tahun dari ayahnya yang juga sudah tiga bulan tak pulang. Gadis cantik itu terus menggembar-gemborkan kegembiraannya menghabiskan waktu bersama dengan ayah dan ibunya kemarin, dengan ponsel baru itu. Reva seperti ketua geng di dalam pertemanan mereka, tak ada yang berani membantah ucapannya, apalagi menolak apa yang dia mau. Reva bisa dibilang paling menonjol untuk soal penampilan, barang-barangnya bagus dan mahal, dia selalu membeli barang-barang yang bahkan tak pernah dilihat teman-temannya di kelas. Kemudian Teti dan Citra selalu meminjam kecuali Kani yang merasa tak pantas memakai barang-barang bagus, apalagi jika itu milik orang lain.

“Kayak Hp Blueberry itu loh!” Citra menyeletuk, pujiannya berhasil membuat hidung Reva kembang-kempis.

“Black bukan Blue.” Teti menyembur membenarkan dan mereka tertawa. Kani hanya diam, meremas Walkman di saku jaketnya. Terlihat kecemburuan yang tersimpan dalam sorot matanya.

Mendadak Reva menoleh kepadanya, Kani menggeleng saat Reva mempersilakannya untuk melihat ponsel barunya. Reva dan Teti memang sudah membawa ponsel beberapa bulan ini, itu bukan hal yang aneh lagi di sekolah tersebut. Citra juga punya tapi orang tuanya tak memberi izin untuk dibawa ke sekolah.

“Apa kau punya ponsel? Aku lupa menanyakan ini. Mana nomornya, aku simpan sekarang.” Reva tersenyum dan siap menekan keyboard HP-nya. Kani menelan ludah, wajahnya memucat tegang apalagi Teti ikut-ikutan ingin menyimpan nomornya.

“Aku tak hafal nomornya, sama kayak Citra, aku juga dilarang bawa Hp. Hp aku di rumah mereknya sama kayak punya Teti cuman beda model.” Dengan mudah kebohongan itu meluncur dari bibir Kani. Reva dan Teti menurunkan kedua tangan mereka yang siap sedia dari tadi.

“Oke.” Reva percaya begitu juga dengan Teti.

Mereka berempat menoleh saat adik kelas lewat.

“Eh, Dahlia! Ada Kakakmu tak kau sapa?” seru Teti dan melirik Kani.

“Kebelet, Kak.” Dahlia beralasan dan masuk ke toilet.

“Bertengkar lagi?” bisik Citra dan Kani menggeleng. Kani dengan ketiga adiknya berangkat bersama dan pulang di jam berbeda, selama di sekolah, Kani hanya menatap singkat saat kebetulan adiknya muncul atau berpapasan dengannya. Di rumah, dia selalu berpesan agar semua adiknya tidak bersikap sok akrab dengannya apalagi berbuat aneh-aneh, jika bisa, bersikap saja tak kenal padanya. Dia tidak mau dipersulit.

Waktu masuk masih beberapa menit lagi, Reva mengeluarkan keripik pisang, mereka menikmatinya dan Kani menatap adiknya yang lewat lagi sambil berlari.

“Kalian mau masuk SMA di mana? Aku sudah ada rencana mau tetap di sekolah ini,” kata Reva dan semuanya tertarik untuk membahas itu.

“Aku mau pindah ke sekolah lain, malas jadi kuncen sejak SD di sini,” jawab Kani dan Citra mangut-mangut.

“Aku juga butuh suasana baru.” Citra manyun dan Teti yang terakhir mengemukakan keinginannya untuk pindah sekolah juga. Sama seperti Kani, dia sudah bosan dengan sekolah tersebut dan akhirnya mereka harus mengakhiri obrolan, sudah waktunya masuk.

Di kelas Dahlia berada, adik yang paling sering bertengkar dengan kakaknya itu terdiam memperhatikan teman-temannya memakai tas baru, dia tatap tas bekas milik Kakaknya yang sudah butut. Matanya kini mendelik karena semua barang yang dia pakai hampir semua milik Kani. Entah kapan dia memiliki barang baru, hanya untuknya, dia juga mau dan berniat untuk meminta kepada Ibunya dengan risiko kena marah.

Sore-sore sedikit gerimis, Dahlia mengemukakan keinginannya ingin alat-alat sekolah yang baru, sontak hal tersebut membuat Kenanga yang mendengar ikut-ikutan ingin juga. Sementara Kani yang sedari tadi sibuk mengupas kentang hanya diam mendengarkan adik-adiknya merengek. Ditambah Syamsir yang datang meminta jajan. Wajah Ibu mereka memerah karena marah, Bu Ismi namanya.

“Ibu pusing kalau kalian begini dan kamu, Dahlia! Tak ada yang salah memakai barang bekas punya Tetehmu.” Mata Bu Ismi melirik anak sulungnya. “Masih bagus dan bisa dipakai, jangan banyak mau, kalian tak lahir dari keluarga berada. Jangan samakkan kemampuan orang tua kalian dengan orang tua teman-teman kalian yang memiliki pekerjaan enak dan gaji besar. Setidaknya pikirkan bapak kalian. Berhenti merengek atau Ibu hukum. Sana! Bantu Teteh kalian memasak.”

Suara Bu Ismi masih rendah walaupun tegas, bibir Kani mencebik saat kedua adiknya mendekat.

“Jangan banyak gaya, kita orang nggak punya,” kata Kani sambil mengusap anak rambut ke belakang. Dahlia dan Kenanga Manyun, menahan tangis juga menelan semua keinginan mereka.

Ketiga anak perempuan di rumah bilik panggung sederhana itu sibuk memasak, Ibu mereka sedang menumbuk biji kopi yang sudah dijemur berhari-hari, Syamsir juga turun tangan membantu pekerjaan rumah. Dia diminta mengayak bubuk kopi yang sudah ditumbuk agar terpisah mana yang kasar dan lembut untuk diseduh.

Kenyamanan tidak didapat semua keluarga, bukan hanya keluarga Kani, masih banyak keluarga di luar sana yang hidupnya bahkan jauh lebih sulit.

Menu makan malam di rumah Kani hari ini terbilang agak mewah, kentang satu mangkuk yang dicampur satu biji telur, tak bisa dibulatkan untuk menjadi makanan bernama Perkedel dalam bentuk sempurna. Tapi mereka menikmatinya dengan guyuran sambal terasi goreng dan nasi pulen.

Kani sebagai anak tertua harus bisa memandu dan mencontohkan yang baik kepada ketiga adiknya, apalagi untuk urusan rumah pun dia mengerjakannya lebih banyak. Tak ada yang berleha-leha di rumah tersebut, semuanya harus kerja dan disiplin apalagi untuk bangun yang tak boleh kesiangan, jika tidak, akan seperti Kani yang sekarang sudah diguyur air satu gayung karena sudah berkali-kali dibangunkan dia tak bangun, telat salat subuh, membantu pekerjaan rumah, dan memasak.

Kani terperanjat sambil mengusap wajah dan rambut kusutnya yang basah. Ibunya sudah menatap dengan mata nyaris akan mencelos keluar saking murkanya.

“Jam berapa ini, Kani?” Berteriak galak sambil berkacak pinggang. Kani menunduk dan bahunya merosot saat Ibunya mendekat, dia takut kena pukul. Tapi ternyata tidak, Ibunya sedikit baik, hanya menyiramnya dan dia lekas keluar. Terbelalak melihat jam di bilik, adik-adiknya sudah sarapan semua, sedang memakai sepatu, sementara dia? Dia lekas menyambar handuk dari jemuran, masuk ke kamar kecil terburu-buru.

“Mau menunggu teh Kani?” Wajah Kenanga mengeluh kepada Dahlia. Dahlia menggeleng, mengusulkan untuk pergi duluan saja apalagi Syamsir yang suka berjalan lambat akan membuat mereka semua telat. Mereka bertiga pun pamit, Kani yang mendengar lekas-lekas membasuh tubuhnya. Dalam panik, matanya berair, pelajaran pertama Matematika, guru paruh baya akan menghukumnya jika begini.

DISINGGAHI

Di tempat lain, di sebuah kota dengan udara teramat panas menyengat kulit, sama sekali tak membuat gentar para pekerja bangunan yang sedang membangun sebuah ruko. Salah satu di antara pekerja itu Pak Muji. Pria berumur 36 tahun yang berjuang keras mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya di kampung. Pria yang terkenal ramah di tempat bekerja, dalam pergaulan, apalagi di kampungnya. Sosok sederhana, alim, tak pernah meninggalkan kewajibannya saat sibuk ataupun lelah. Walaupun terkadang, mandor selalu memakinya, disangka berleha-leha.

“Pak, yang perawan sudah menikah belum?” seru temannya Jarwo yang mendengar bahwa Pak Muji memiliki anak perawan yang jelita.  

Sambil tertawa kecil ia menyahut. “Masih sekolah, SMP.”

“Kirain sudah selesai sekolahnya, mau saya jodohkan dengan anak saya.” Jarwo  terkekeh sambil melirik anaknya yang ikut bekerja dengannya. Pak Muji terdiam, tetap memasang senyuman walaupun terlihat sedikit terpaksa. “Tak perlu ke SMA, Pak. Anak gadis tak perlu sekolah tinggi-tinggi, yang paling penting dia paham setelah menikah mengenai kewajibannya di kasur, di sumur, di dapur.” Dia melanjutkan kemudian tertawa dan Pak Muji menggeleng sambil memasang senyuman hangat.

“Saya dan istri saya bodoh, tak sekolah tinggi, hanya sampai SD. Kalau anak-anak, saya maunya semua sekolah tinggi. Kehidupan semakin maju, penting walaupun ujung-ujungnya perempuan di rumah. Jadi seorang istri dan seorang ibu, kan, harus pintar, Pak.” Pak Muji membalas dengan hati-hati, takut temannya sakit hati. Benar saja, temannya itu mendelik kasar.

“Ah, Pak Muji. Kita ini cuman kuli, harus banyak-banyak sadar diri. Realistis saja, Pak,” ungkapnya kemudian membuang muka, menjauh sambil bergumam memaki.

Pak Muji hanya tertawa-tawa hambar, berusaha baik-baik saja walaupun semangatnya berhasil dipatahkan ucapan temannya itu.

Dalam hati, Pak Muji mana rela membiarkan anak paling besar dan jelita kepada anak temannya. Dia tak mau kehidupan yang begini juga untuk anak cucunya, tak ada yang salah dalam keinginan Pak Muji. Semua orang tua ingin yang terbaik.

****

“Kenapa kamu bisa telat?” ujar Teti dengan Kani yang baru keluar dari kelas.

“Aku telat bangun,” balas Kani sambil memegang buku yang harus segera dia kembalikan ke Perpustakaan.

“WOY! Ayo jajan!” teriak Reva dan Teti mengangguk.

“Ayo..,” kata Teti tapi Kani menyela.

“Aku harus ke Perpustakaan.” Kani melangkah pergi dan Teti menghela napas.

Kani terus melangkah bahkan menutupi kepalanya dengan Hoodie jaketnya yang berwarna abu sudah luntur itu. Setelah dia masuk ke Perpustakaan, dia menjelajah, mencari buku selanjutnya untuk dia baca. Kani terdiam sejenak saat melihat sebuah buku berjudul Animal Farm Novel George Orwell yang menarik perhatiannya. Tangannya terangkat untuk meraih tapi orang lain lebih dulu mengambilnya. Kani diam saat melihat murid baru itu dengan teman-temannya. Dia bahkan tak sengaja menyentuh punggung tangan laki-laki itu.

“Kani, sayang sekali, teman kami lebih dulu mengambilnya.” Murid SMA bernama Raihan sedikit mengejek sambil merangkul bahu Amarendra. Kani mendelik dan berlalu.

“Tunggu,” kata pemuda yang dirangkul Raihan tadi mengejar. Kani berbalik dan menatapnya. “Ambil.” Dia mengulurkan buku itu dan Kani menggeleng.

“Aku sudah membacanya, hanya melihat.” Dia tersenyum lebar dan menggerakkan tangannya, Kani tak kunjung menerima. “Amarendra.” Pemuda itu memperkenalkan diri, menunjuk nama di seragamnya dan Kani menerima buku itu. Wajahnya perlahan menunduk saat mendapati kedua mata Amarendra menatap kedua matanya lekat, Amarendra tersenyum halus melihat kedua mata itu berpaling darinya.

“Terima kasih,” kata Kani datar kemudian dia melengos. Amarendra mengangguk dan menoleh saat Raihan merangkul bahunya.

“Kau kenal dia, Rai?” Amarendra bertanya sambil terus memperhatikan gadis itu.

“Kami berasal dari kampung yang sama, ya, aku kenal. Dia pendiam,” jawab Raihan dan Amarendra melirik pucuk kepala gadis itu tenggelam di balik anak tangga.

Hari-hari berikutnya, Amarendra selalu memperhatikan Kani setiap ada kesempatan, gadis itu berbeda, masam tapi manis, jutek tapi lugu, pendiam tapi tegas, belum pernah dia temukan gadis macam itu. Selalu menyendiri, berkutat dengan berbagai macam buku sampai dia tahu bahwa Kani salah satu murid yang berprestasi.

Ketika jam pulang sekolah.

Amarendra terdiam saat Kani melewatinya, gadis itu selalu lewat di hadapannya tapi tak pernah sedikit pun menoleh ke arahnya. Amarendra tak tahu bahwa Kani mulai menyadari tatapan yang selalu dia berikan dan Kani tak suka itu. Semakin diperhatikan, dia semakin menghindar.

“Dia ganteng, beda, lah. Dia pasti orang kaya,” kata Reva berbisik. Terus memandang Amarendra.

Teti mengernyit. “Orang kaya ngapain ke sekolah ini? Sekolah itu banyak yang bagus, dia juga pakai sepeda, anak SMA yang biasa kita lihat keren bawa motor. Lah, dia?” cibir Teti dan Reva terkekeh.

“Ya mungkin dia sederhana banget orangnya, Tet.”

“Ah diam kamu, kalau pacarmu si Arif mendengar, putus nanti nangis.” Teti mencibir karena hubungan Reva dan Arif memang putus nyambung.

Keduanya saling menyenggol dan tertawa, kemudian berpisah.  

***

Hari Senin adalah hari menyebalkan. Kani dijemur dengan tujuh murid lain, ada murid SMP dan SMA. Kani telat lima menit, guru BK sudah menariknya ke tengah lapangan karena telat, padahal upacara saja belum di mulai. Kani menunduk, dia merasa silau dengan cahaya matahari yang menyiramnya. Murid yang berbaris rapi berbisik-bisik, mengolok-olok mereka yang dihukum.

“Telat terus dia,” bisik Rara kepada adiknya Rere. Keduanya saudara kembar.

Reva dan Teti mendelikan mata, walaupun ucapan Rara tak menyudutkan Kani.

“Sama adik kelas, sih, nggak malu. Yang malunya itu dilihati kakak-kakak SMA. Ish, ish!” kata Rosi.

“Ah kamu juga sering terlambat.” Citra terkekeh dan Rosi tak bisa menimpalinya, hanya mendelik dan Yana ketua kelas mereka di sebelah melirik agar para perempuan itu bungkam.

Setelah upacara selesai, semuanya bubar, mengobrol sebentar, bel sudah berbunyi. Amarendra dan Raihan berjalan di tengah lapangan. Sepulang dari Aula. Yang di kelas para gadis berdiri, mengintip, toh guru belum memasuki jam mengajar mereka. Termasuk juga di kelas 3 SMP B. Reva sampai berjinjit untuk melihat Amarendra.

“Duduk.” Dari depan Kani menarik lengannya dan Reva terkesiap melihat guru masuk.

“Dia ganteng banget, loh, Tet.” Reva berbicara pada Teti di sebelahnya. Di belakang mereka Kani dan Citra saling menatap. Citra memperlihatkan ketidaksukaan pada sikap Reva yang memang genit pada setiap lelaki sementara Arif adalah kakaknya.

“Sabar,” bisik Kani dan Citra membuang napas kasar. Dia sangat ingin menegur Reva, dia tak tega dengan kakaknya yang begitu memuja Reva tapi Reva selalu begitu. Hanya keinginan tak pernah bisa melakukannya, Citra tak berani.

Saat jam istirahat seperti biasa, Amarendra masih memperhatikan Kani. Gadis itu benar-benar cuek dan tak tertarik padanya, semakin membuatnya ingin mendekat.  Kani yang selalu diam, kadang kabur saat Heri hendak menghalau jalannya, jelas Amarendra sadar bahwa Kani tak nyaman didekati Heri yang memang menyebalkan dan suka sekali membicarakan hal-hal tolol di kelas. Amarendra bahkan heran, mengapa bisa gadis seperti itu memiliki hubungan dengan Heri, apa didesak? Dia sangat menyayangkan. Sebagai laki-laki, dia tahu liar dan kotornya pikiran dan tingkah laku Heri walaupun baru melihat bocah itu. Amarendra merasa takut Heri memanfaatkan Kani yang sangat polos.

Sementara Heri selalu kesal ketika Kani menjauh, dia bahkan berulang kali mendesak Teti agar memberikan nomor ponsel Kani dan Teti tidak bisa, dia juga tak punya. Selama berpacaran, Heri dan Kani tak pernah berdekatan lama apalagi saling berkirim pesan. Heri merasa Kani benar-benar tak sungguh-sungguh mau dengannya.

Pulang sekolah, Reva dan Teti mengajak Kani dan Citra bertemu pacar mereka masing-masing di belakang sekolah. Tak sukarela seperti teman-temannya, Kani selalu terlihat terpaksa, dia berhubungan dengan Heri karena di jodohkan oleh Reva dan Teti. Heri tahu hanya dia yang memiliki rasa tapi dia tak akan menyerah.

Sekarang saja, Kani sibuk dengan buku dan menyumbat telinganya dengan lagu. Ketimbang berbincang dengannya. Reva, Teti, dan Citra entah di sebelah mana, mungkin di bawah pohon pisang, di bawah sana tepi sungai, atau di semak-semak bernegosiasi. Kani tak polos, dia tahu teman-temannya sejorok apa ketika pacaran.

Sementara ia, membayangkan berciuman dengan Heri saja merasa mual. Bibirnya masih perawan seperti mahkotanya. Bapaknya bilang, setiap jengkal tubuhnya harus dijaga dengan baik dan hanya pantas diberikan kepada suaminya kelak, dan Kani jelas tak sudi jika Heri yang akan menjadi suaminya. Dia lebih baik jomblo. Sejujurnya Heri tak jelek-jelek amat, cukup populer, tapi hati Kani tak semudah itu untuk diketuk apalagi disinggahi.

PUTUS

“Kani, kalau aku sudah lulus, aku mau langsung cari kerja. Nggak mau kerja di peternakan ayam milik bapakku lagi, ah.” Heri nyengir, menatap langit biru, indah seperti keindahan di sebelahnya yang tak pernah bisa dia dekati apalagi dia nikmati. Kani mahal, dia tahu. Kani bukan perempuan yang seperti sebelum-sebelumnya, tak gampang dia rayu apalagi digerayangi.

“Ya terserah, itu urusan kamu,” kata Kani walaupun lagu berputar mengisi telinganya, dia tetap bisa mendengar ocehan Heri.

Kedua mata Heri membulat. “Loh, kok cuman urusan aku? Kan kamu pacar aku. Dukung, dong, biar aku semangat tahu! Kan kalau aku dapat kerjaan enak, gaji gede, makin gampang menabung buat nikahin kamu.” Heri mengedipkan matanya genit dan Kani menimpuknya dengan buku yang dia tatap tapi tak bisa fokus dia baca. Kani sedari tadi cemas, takut tiba-tiba Heri mendekat dan macam-macam.

“Aku nggak mau nikah sama kamu, kita ada hubungan karena paksaan, ya! Ingat itu. Aku mau putus, males!” Kani emosi, mendadak di tempat sunyi sepi begini Heri membicarakan pernikahan, dia merasa ngeri. Dia saja masih SMP. Heri panik karena Kani pergi, dia menyusul dan Teti dengan pacarnya yang sedang bercumbu di tepi sungai kaget mendengar suara Heri.

“Aduh, apa ada warga yang melihat kita pacaran, ya?” kata pacar Teti, Aldi. “Sudah, ayo pulang.” Ia menarik tangan Teti dan Teti juga panik sambil celingak-celinguk mencari Reva dan Citra entah di sebelah mana.

Kani terus berjalan, memasukkan buku ke tas, Heri merengek tak mau putus sampai Aldi yang melihat sahabatnya merendahkan diri begitu merasa kesal.

“Putus? Loh, kenapa? Baru juga seminggu.” Teti mengotot kepada Kani dan Kani mendelik tajam.

“Iya aku putus sama Heri, aku duluan, jangan bawa-bawa aku lagi kalau kalian mau pacaran.” Kani membalas dengan tegas, Teti kesal dan ia berlalu pergi.

“Sok cakep, najis!” teriak Aldi dan Kani yang mendengar tak peduli.

“Kani sama Kak Heri putus?” tanya Citra sambil mengempit tangan Teti. Teti mengangguk dan Reva sibuk memeriksa riasannya kemudian dia mendekat.

“Ya sudah, sih. Cewek banyak, Her. Jangan kayak begitu, ah. Kamu ganteng, kok, masih banyak yang mau sama kamu.” Reva tak terlalu ambil pusing, dia sudah memprediksi ini, Kani tak akan pernah tertarik dengan laki-laki dari sekolah mereka.

Heri membelakangi semuanya, tetap tak terima. Diputuskan oleh perempuan sangat menodai harga dirinya sebagai playboy yang tadinya akan Insaf karena dia benar-benar menyayangi Kani.

Keputusan Kani untuk mengakhiri hubungan membuat Heri marah tapi tak patah semangat untuk kembali mendapatkannya dengan cara yang lebih baik. Tapi Kani, lagi-lagi dia menjauh dan Heri selalu memergoki tatapan Amarendra kepada gadis yang dia sukai itu.

Pulang sekolah, Kani mengajak kedua adiknya ke sungai untuk mencuci pakaian, itu tugasnya, dua adiknya mencuci perabotan rumah yang hitam legam. Memasak di tungku berisiko meninggalkan noda hitam di pantat wajan atau panci, susah bilang dan perlu banyak air untuk mencucinya. Tak ada banyak air di Sumur mereka, hanya cukup untuk mandi. Mencuci harus dilakukan di Sungai.

“Teh, bapak masih lama pulangnya?” celetuk Kenanga.

Kani menggeleng tak tahu.

“Sudah dua Minggu bapak pergi, pasti pulang malam ini.” Dahlia ikut berbincang dengan riang. “Aku mau minta tas baru.”

“Bukannya sudah ibu jelaskan padamu, jangan banyak mau ini, itu.” Kani menegur dengan sewot. Dahlia langsung murung dan kembali memulas pantat panci dengan sabun colek dan bubuk abu yang dibawa dari dalam Tungku di rumah mereka.

“Kapan, ya, bapak naik pangkat? Jadi pemborong. Lebih banyak uangnya, setidaknya kita bisa makan dengan telur murni satu biji, bukan telur dadar dicampur tepung...lebih banyak tepungnya.” Kenanga menunduk, anak perempuan kelas lima SD itu takut kena sembur kakak-kakaknya.

“Bapak temanku juga di bangunan tapi pemborong, rumahnya besar dan mewah, rumah kita?” Dahlia menyambung keluhan Kenanga.

“Apa yang bisa kita harapkan dari bapak? Bapak orangnya jujur, lebih baik hidup biasa daripada harus korupsi,” sahut Kani dan kening kedua adiknya mengerut tak paham. “Para pemborong tak semuanya jujur, mereka sering memakan uang para kuli. Dunia itu menipu jika kita tak tahan. Tak selamanya juga kita bisa mengandalkan bapak, kita sudah beranjak dewasa, sekolah yang baik, jadi orang hebat, setidaknya punya pekerjaan yang menjamin. Mengangkat derajat keluarga, apa itu tak terlintas di pikiran kalian? Bapak sudah tua, jangan terlalu berharap.” Kani menyentak di akhir ucapannya, kedua adiknya mengulum bibir, tak berani lagi berkata-kata.

Mereka bertiga bekerja tanpa bicara lagi sampai selesai dan pulang. Di rumah, Ibu mereka dengan wajah cerah sedang memasak, kemudian bilang bahwa Bapak mereka akan pulang. Semuanya senang, beres-beres rumah walaupun lelah, kemudian pergi mengaji bersama. Sampai malam akhirnya menerpa, sudah pukul sembilan mereka semua masih terjaga. Hanya bisa menunggu dan berdoa semoga kepala keluarga baik-baik saja di perjalanan.

Syamsir sudah berkali-kali bertanya, sampai kena omel dan semua Kakaknya diam daripada bertanya juga dan kena omel lebih parah.

Pukul sembilan lewat, suara ketukan sepatu membuat bibir Kani mengembang senyuman manis. Syamsir memburu pintu, membuka, dan terlihatlah sosok Bapak mereka. Semuanya menjawab salam, satu-persatu menyalami tangan kasar itu.

Di wajah ceria Bapak mereka, Pak Muji. Tersimpan lelah yang teramat dahsyat tapi dia tenggelamkan dalam-dalam ketika berhadapan dengan istri dan anak-anaknya. Siap sedia saat si Bungsu ingin duduk di pangkuan walaupun lututnya pegal dan betisnya kebas. Tiga jam perjalanan, naik turun Bus, bosan saat macet, tetap menyempatkan diri untuk membeli oleh-oleh. Makanan favorit dari kedai langganan yaitu Bakso yang harumnya merangsang hidung. Anak keduanya bahkan sudah semangat ke dapur mengambil mangkuk dan sendok. Kakaknya membuat kopi dan satu gelas air putih, Ibunya memindahkan goreng singkong yang masih hangat ke atas piring.

Pak Muji meneguk empat kali air putih sampai habis, meraih dua potong singkong yang dipotong kecil-kecil, rasanya gurih dan lezat apalagi ketika ditambah menyeruput kopi hitam.

“Ini kopi yang waktu Bapak panen, Bu?” tanyanya dan Bu Ismi mengangguk sopan. “Pantas, beda, lebih enak dan harum.” Dia tersenyum dan mencobanya lagi dan Syamsir sudah merosot untuk menyantap Baksonya.

Pak Muji menatap semua wajah bahagia anaknya, satu-persatu, lama pada Kani. Anak sulungnya yang sudah besar dan cantik. Ia selalu merasa pangling melihat anak pertamanya itu.

Pak Muji selalu mengatakan “Anak saya masih sekolah” ketika banyak kawan-kawannya yang menyinggung Kani untuk dipersunting sebagai menantu. Pak Muji tak mau anak-anaknya putus sekolah, minimal SMA, dia akan berjuang untuk itu.

Setelah semuanya kenyang, mereka mengobrol, satu-persatu menguap dan mengantuk. Akhirnya mereka bubar, bersih-bersih dan siap tidur. Kani yang satu kamar dengan Dahlia dan Kenanga terus diam, tak kunjung mengantuk setelah membasuh muka dan menyikat gigi.

Kani menatap langit-langit kamarnya, seketika kaget saat tangan Dahlia jatuh menimpa hidungnya, dia singkirkan kasar, adiknya terlelap dan tangannya sibuk memukul atau mencari-cari bantal dan selimut. Kani hanya bisa mendesis dan diam lagi. Berhari-hari dia tak bisa tidur, sampai kesiangan, sampai bermimpi pula memiliki ponsel. Apa dia harus memberanikan diri mengungkapkan keinginannya itu pada Bapaknya dan harus ketika Ibunya tak ada. Dia takut kena amuk.

Kani menggeleng, memejamkan mata, mungkin lebih baik dia cepat-cepat tidur karena memiliki ponsel di dalam mimpi tak perlu uang untuk membelinya.

Mimpi hanya bunga tidur, dia tak akan bisa lebih lama lagi melakukannya.

Paginya, semua sarapan bersama. Kalau ada Bapak suka beda, itu yang dibisikkan Kenanga pada Dahlia dan Dahlia tersenyum sepakat. Bagaimana tidak, mereka sarapan cukup mewah pagi ini, telur dadar dan mie goreng dengan campuran sawi hijau. Semuanya makan dengan lahap, Pak Muji memperhatikan mereka satu-persatu sambil tersenyum.

“Belajar yang benar,” katanya lembut dan semua anaknya mengangguk.

“Pak, boleh bawa uang jajan hari ini?” tanya Dahlia dan Kani mendelik. Dia yang seharusnya bertanya begitu.

Pak Muji mengeluarkan uang recehan, membagi anak-anaknya dan semuanya senang. Kani tersenyum, lima belas ribu yang dia dapat, jika Bapaknya pulang selalu begini, mungkin dia akan segera punya ponsel walaupun harus menabung cukup lama.

Setelah sarapan, semuanya berangkat, Ibu dan Bapak mereka pergi ke kebun untuk memetik kangkung dan memeriksa pohon jagung. Juga berharap dapat sayuran yang lain.

***

Di sekolah, Amarendra melihat keceriaan di wajah Kani, tak seperti biasanya. Gadis itu sedang duduk menonton mereka yang sedang bermain Voli mengisi waktu istirahat, kemudian Yana menariknya agar ikut bermain. Kani bersedia, mengencangkan ikat rambutnya.

Amarendra meraba ponselnya di saku yang bergetar, dia meninggalkan tempatnya karena itu panggilan dari Bundanya. Amarendra masuk ke dalam kelas, di pojok, dan sudah mengangkat telepon.

“Kamu baik di sana, Maren?” tanya Bundanya dan ia mengiyakan. “Bagaimana kabar Abahmu?”

“Baik. Bunda sehat?” tanyanya dengan suara amat serak. Tak lama matanya memupuk buliran bening, jelas sekali bahwa dia merindukan Bundanya. “Bund...kangen.” Amarendra tercekat.

“Bunda baik di sini, kangen juga sama kamu. Jaga diri, jaga perilaku, jaga Abah. Bunda pulang pekan besok,” balas Bundanya sambil terisak dan Amarendra diam sambil menatap kosong. “Betah di sekolah baru? Sudah hampir satu bulan. Ada yang mau berteman denganmu di sana?” sambung Bundanya serius.

“Betah, Bund. Banyak yang mau berteman, mereka tak tahu siapa aku. Tapi, aku kadang capek mengayuh sepeda, di sini tak ada kantin, setiap pagi mejanya penuh debu, dan toiletnya sangat jorok.” Amarendra sedikit mengeluh dan Bundanya terkekeh.

“Sabar, Nak, itu tak seburuk yang kamu pikirkan, bukan? Sekolah itu lumayan.”

Amarendra menyimpul senyum. “Hmm, iya. Tak seburuk yang aku pikirkan.” Ada intonasi suara yang berbeda, membuat Bundanya hening beberapa detik.

“Ada gadis cantik di sana? Ibu merasa ada sesuatu yang aneh di balik ucapan kamu, Maren.” Bundanya menggoda dan Amarendra menggeleng cepat, takut ketahuan. “Siapa namanya, Nak? Kelas berapa? Atau jangan-jangan guru muda yang kamu suka itu.”

Amarendra mendesis. “Hanya kagum karena dia berbeda, dia bukan hanya cantik, dia manis tapi sedikit masam, dia juga jutek dan pintar.”

“Oo... istimewa sekali, terdengar jelas itu, Nak.” Bundanya menggoda lagi dan Amarendra cengar-cengir. “Selesaikan sekolahmu, jangan dulu pacaran, Bunda tak pernah izinkan. Ingat?”

“Hmmm.” Amarendra merajuk, cemberut. Tak lama Bundanya lekas mengakhiri panggilan karena harus kembali bekerja. Amarendra hanya bisa mengiyakan tak bisa menahan. Dia sangat rindu pada Bundanya.

Amarendra yang baru ingat sesuatu lekas berdiri, dia sangat ingin melihat Kani bermain Voli tapi baru kakinya keluar, bel sudah berbunyi. Amarendra hanya bisa melihat Kani sedang dirangkul pemuda tadi yang menariknya. Keduanya berjalan bersama dan Kani mengusap lehernya yang penuh peluh. Amarendra tersenyum tipis.

“Amarendra,” sapa Bela gadis cantik di kelas 12 tersebut yang sudah mencari celah untuk mendekati Amarendra tapi tak bisa. Amarendra menoleh dan masuk, mengabaikannya, membuat gadis itu kesal dan melihat siapa yang sedang dilihat Amarendra sampai senyum-senyum begitu. “Apa? Kani? Yang benar saja.” Dia mendelik kemudian mengibaskan rambutnya, merasa paling pantas untuk dilihat daripada gadis yang lusuh itu baginya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!