NovelToon NovelToon

GADIS TARUHAN ALVARO

Untuk Yang Kesekian Kalinya

“Nurul please, ini untuk yang nggak kehitung kesekian kalinya gue nyatain perasaan ke elu. Masa lu nggak kasihan sama gue yang lu tolak melulu sih?”

Alvaro menggenggam kedua tangan Nurul dengan tatapan penuh harap agar gadis itu mau menerimanya menjadi kekasih.

“Maaf Ro. Dan untuk yang entah nggak kehitung kesekian kalinya gue juga nggak bisa nerima lu. Lu pun sudah tahu alasannya,” balas Nurul.

Alvaro melepaskan genggamannya dengan lemas. Ia menghela napas frustrasi. Menatap menghiba agar gadis yang ia cintai dan sudah ia kejar-kejar sejak tiga bulan belakangan ini mau membalas perasaannya.

Masa iya pesona Alvaro Genta Prayoga luntur di depan seorang Nurul Aina?

Alvaro bertanya dalam hatinya, mengapa bisa Nurul menolaknya sedangkan hampir semua mahasiswi di kampus mereka ditolaknya.

“Nurul Aina, lu nggak bisa gitu meraba hati gue? Hati gue udah full sama cinta buat lu,” ucap Alvaro yang tak menimbulkan ekspresi apapun di wajah Nurul.

“Alvaro, gue masih sibuk dan belum sempat memikirkan perkara cinta. Masih banyak gadis lain selain gue. Gue harus menyelesaikan skripsi dulu agar beban perkuliahan selesai. Lu tahu sendiri gue bisa kuliah di sini karena beasiswa jadi gue memang fokus kuliah.

“Kesempatan yang langka untuk anak panti seperti gue yang nggak punya orang tua bisa merasakan bangku kuliah hingga menjadi sarjana. Gue nggak mau menyia-nyiakan ini semua dengan melakukan hal yang nggak penting,” ucap Nurul panjang lebar.

Nggak penting?! Bahkan ini penting banget buat gue Nurul.

Nurul Aina, gadis mungil dengan tinggi 150 cm memiliki paras cantik alami dengan kulit berwarna kuning Langsat. Khas orang Indonesia. Dengan kecerdasan yang ia miliki, sejak menempuh pendidikan SMA ia sudah mendapat beasiswa dan saat lulus pun ia diterima di universitas yang kini menjadi tempatnya menimba ilmu melalui jalur bea siswa.

Wajahnya begitu imut apalagi dengan dua lesung pipi di wajahnya yang menambah manis senyumannya. Rambutnya panjang sebahu yang selalu ia kuncir satu. Pakaiannya biasa saja, sangat sederhana karena ia pun hidup di kota ini dengan biaya seadanya pemberian kampus.

Malam harinya ia bekerja part time di mini market untuk menambah biaya hidupnya. Jadi sampai detik ini Nurul sama sekali belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta atau berpacaran. Ia memilih menepikan perasaannya demi cita-cita yang ia gantung setinggi langit.

Sedangkan Alvaro Genta Prayoga, cowok populer yang bisa dikatakan mahasiswa most wanted di kampusnya. Bahkan ia sangat famous di luar lingkungan kampus.

Siapa yang tidak mengenal keluarga Genta Prayoga itu. Ayahnya seorang pengusaha sukses di berbagai bidang seperti konstruksi, properti hingga memiliki beberapa pabrik tekstil sekaligus garmen turun temurun dari keluarganya.

Sedangkan ibunya merupakan desainer terkenal serta memiliki banyak butik yang tersebar di beberapa kota besar dalam negeri hingga di luar negeri.

Tak ada yang tidak ingin dekat dengan pria kaya itu kecuali Nurul. Nurul bukan menolak karena sadar diri melainkan karena ia memang belum berpikir hingga ke arah sana.

Belum lagi Alvaro akan menjadi penerus usaha keluarganya karena ia hanya anak lelaki sendiri di keluarganya. Kakaknya Aleesha Handayani Prayoga sudah menikah dengan pengusaha batu bara dan menetap di Kalimantan. Ia juga berprofesi sebagai dokter sehingga semua aset keluarga Alvaro lah yang akan mengelolanya.

“Gue tahu Nurul, gue paham bahkan. Tapi kita ‘kan udah sampai di penghujung semester. Lu juga tinggal ngurus skripsi, nggak ada salahnya kita menjalin hubungan. Gue bakalan tunggu jawaban lu. Gue bakalan tagih setelah hari sidang skripsi lo selesai. Gimana? Deal?” ucap Alvaro dengan intonasi yang tegas dan tak ingin dibantah.

Nurul terdiam. Ia menatap lekat kedua mata Alvaro dengan tatapan yang sangat sulit diartikan. Alvaro bahkan sampai dibuat keki oleh tatapan Nurul.

“Baik, tiga bulan dari sekarang lu bakalan dapat jawabannya,” ucap Nurul kemudian ia meninggalkan Alvaro yang masih mematung karena jawaban Nurul barusan.

Nurul menuju ke kelasnya, di sana sudah ada Flora, sahabatnya.

“Lagi?” tanya Flora saat Nurul baru saja duduk di kursinya.

“Hah?”

“Alvaro lagi-lagi nembak lu?” tanya Flora.

Nurul menjawab dengan senyuman singkat dan terlihat seperti terpaksa juga tertekan.

“Sebagai sahabat lu nih ya, gue saranin deh lu jangan mau pacaran sama Alvaro. Ya gue akuin dia itu cowok yang perfect banget. Tapi lu udah tahu nggak sepak terjangnya dalam dunia percintaan?”

Nurul menatap Flora dengan sebelah alisnya terangkat.

“Jadi lu benar-benar nggak tahu kalau si Alvaro Genta Prayoga  itu adalah cowok play boy? Udah banyak kok cewek yang jadi mainannya. Nggak kehitung berapa cewek yang udah dia tidurin dan yang lebih gue khawatirin lagi, gue takut lu cuma dijadikan bahan taruhan doang!”

Ucapan tegas dan menggebu-gebu Flora membuat Nurul terkejut. Ia memang tidak begitu peduli dengan berita-berita di kampus karena tujuannya hanya untuk belajar dan mendapatkan gelar Sarjana Hukum.

“Ma-maksud lu?” tanya Nurul yang seolah menolak apa yang dikatakan Flora barusan.

“Gue yakin lu paham benar deh sama yang tadi gue ceritain. Dan gue berharap lu jangan sampai jatuh cinta sama dia. Please Nurul, demi kebaikan elu juga,” ucap Flora dengan menatap lekat sahabatnya itu.

“Gue--gue nggak suka kok sama Alvaro. Lu tahu ‘kan kalau selama beberapa bulan ini gue aja selalu nolak dia. Gue nggak mikir ke arah sana. Dan makasih karena cerita lu, gue jadi semakin yakin kalau gue tetap harus menolaknya jika datang lagi,” ucap Nurul dengan sedikit tergagap.

Ada yang aneh dengan hatinya ketika mendengar cerita buruk tentang Alvaro. Ia menjadi murung mendadak karena jujur saja, sebenarnya ia sudah mulai merasakan getaran aneh saat Alvaro datang menggodanya.

Apa iya Alvaro kayak gitu? Tapi selama tiga bulan gue dekat sama dia, orangnya baik kok nggak macam-macam. Apa itu cuma rumor doang atau dia sengaja berwajah lugu ke gue?

Melihat Nurul yang termenung, sebuah senyuman terbit di bibir Flora. Sebuah seringai yang jika seandainya Nurul melihat maka ia akan bergidik ngeri.

“Udah ih, lu nggak usah galau gitu. Mending lu fokus sama skripsi daripada sama play boy itu. Oh iya, bantuin gue juga ya Nurul sahabatku yang super duper cerdas,” ucap Flora sambil mengedip-kedipkan matanya dengan manja.

Nurul memutar bola matanya jengah kemudian ia mengangguk. Ia sudah sangat bersyukur memiliki Flora dalam hidupnya yang selalu menemaninya sejak ia masuk ke kampus hingga di penghujung kuliah mereka.

“Yesss!! Gimana kalau kita ke perpustakaan dan nyari bahan,” ajak Flora.

Nurul menatap Flora dengan tajam sedangkan yang ditatap hanya menampilkan deretan gigi putihnya.

“Lu pasti mau bilang gue kok mendadak jadi rajin? Gue bakalan kasih tahu, gue udah kena ultimatum dari kedua orang tua gue supaya gue bisa wisuda tahun ini. Huhh ....”

Nurul sudah yakin ini adalah alasan dibalik mendadak rajinnya sang sahabat. Berteman dengan Flora sudah hampir empat tahun tentu saja Nurul sudah cukup akrab dengan keluarga Flora Damayanti Setiawan yang juga merupakan salah satu keluarga terpandang karena memiliki usaha yang maju dalam bidang percetakan.

Kedua gadis itu berjalan sambil beriringan menuju ke perpustakaan yang agak jauh dari kelas mereka. Sambil asyik membahas tentang skripsi, mereka tidak sadar bahwa ada Alvaro yang sudah berdiri di depan mereka bersama tiga temannya yang selalu setia berada di samping sang idola kampus.

“Kita ketemu lagi Nurul. Emang ya, kalau jodoh itu nggak kemana-mana.”

Irana

Ucapan tersebut sukses menghentikan langkah Nurul yang akan berbelok begitupun dengan Flora.

“Alvaro,” gumam Nurul.

Flora diam-diam menatap ekspresi wajah Nurul bergantian dengan wajah Alvaro.

Gue nggak mau mengakui ini tapi kelihatannya dari yang gue lihat, si Nurul ini udah punya rasa sama Alvaro dan kenapa gue lihat Alvaro ini serius banget sama Nurul? Tapi nggak mungkin, jangan sampai mereka jadian.

“Mau kemana? Nyari gue?” tanya Alvaro yang langsung disoraki oleh ketiga temannya.

"Nggak. Kita mau ke perpustakaan. Ngapain juga nyariin elu. Kayak nggak ada kerjaan lain aja," sambar Flora dengan nada begitu ketus.

"Ciee ... ada yang marah. Lu kenapa Flor, nggak suka kalau Alvaro sama Nurul jadian? Lu cemburu atau gimana?"

Pertanyaan Ikram, sahabat Alvaro langsung membuat wajah Flora merah padam.

"Nggak gitu ya!" bentak Flora.

"Terus gimana?"

Melihat wajah Flora yang sudah begitu kesal, Nurul langsung berinisiatif menarik tangan Flora dan lekas meninggalkan Alvaro tanpa memberi jawaban apapun.

"Itu si Nurul nggak ada luluhnya gitu sama lu, Ro?" tanya Nandi.

Alvaro hanya menjawab dengan mengangkat kedua bahunya.

"Lu kurang apa coba? Nurul kali yang buta, nggak bisa lihat lu yang lahir dengan sendok emas," timpal Kriss.

"Kita lihat aja nanti. Cepat atau lambat dia bakalan nerima gue. Kalian bakalan jadi saksinya," ujar Alvaro seraya berjalan meninggalkan ketiga temannya.

Lu boleh cuekin gue. Puas-puasin aja Nur. Tapi nggak lama lagi gue yakin lu sendiri yang nantinya bakalan nyari gue bahkan sampai ke lubang semut pun lu bakalan nyari gue. Semua ada waktunya.

"Kalian mau disitu aja atau mau ke kantin?" teriak Alvaro yang langsung disusul oleh ketiga temannya.

Dasar!

Sementara itu, di perpustakaan Flora tidak berhenti bergumam tak jelas. Wajahnya masih terlihat kesal. Sesekali terdengar umpatan dari mulutnya untuk Ikram. Nurul hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Mau belajar atau nggak sih Flor?" tanya Nurul yang akhirnya mengalihkan atensinya dari buku tebal yang sedang ia baca.

"Huhh ... gue kesal aja gitu sama si Ikram. Kenapa coba dia sampai ngomong kayak gitu. Gue? Cemburu? Sama Alvaro? ya nggak mungkin lah! Mata dan otak gue masih berfungsi untuk bisa melihat dan mengetahui kalau Alvaro itu bukan cowok baik!"

Nurul menghela napas, ia sudah terbiasa dengan kejadian seperti ini semenjak Alvaro mulai mendekatinya beberapa bulan yang lalu. Flora selalu bersikap ketus jika mereka bertemu dengan Alvaro dan kawan-kawannya. Entah apa alasannya, Nurul enggan untuk menanyakan.

Mendadak Nurul ingin mengerjai Flora dengan menambahkan kekesalan sahabatnya ini. Jujur saja Nurul begitu gemas dengan wajah Flora ketika ia sedang marah, menggemaskan.

"Ekhmm ... tapi emang lu beneran nggak cemburu? Atau emang benar kali, kalau lu suka sama Alvaro jadi lu bawaannya kesal mulu kalau Alvaro ngedeketin gue," ucap Nurul dengan kepayahan menahan tawanya.

Mata Flora membulat sempurna. Ia melayangkan tatapan mematikan kepada Nurul.

"Sampai lu ngomong kayak gitu lagi, yakin deh sepatu gue bakalan masuk ke dalam mulut mungil lu itu. Serius gue. Lu mau nyoba nggak?" ucap Flora dengan penuh penekanan.

Nurul tertawa kecil namun air matanya terus mengalir karena ia berusaha menahan tawanya agar tidak pecah sebab mereka berada di dalam perpustakaan.

"Lu kenapa hah?"

"Gue nggak kenapa-napa. Gue suka aja lihat lu marah. Lucu tahu," jawab Nurul sambil menyeka air matanya.

"Lu ngerjain gue?" tanya Flora. "Nggak lucu ih."

Bibir Flora mengerucut. Tanpa mengajak Nurul ia segera melaporkan buku yang ia pinjam pada petugas perpustakaan. Nurul pun segera mengikutinya.

"Masih marah lu? Gue minta maaf ya Flora sayang," ucap Nurul ketika mereka sudah berada di luar perpustakaan.

"Au ah. Gue malas. Lagian gue berani sumpah deh kalau gue itu nggak ada hati sama si Alvaro. Potong kuku gue kalau gue sampai suka sama cowok itu," sungutnya.

"Ya ampun ampe segitunya. Lagian kok beraninya cuma potong kuku doang, gue kira lu bakal bilang potong jari. Kuku doang mah bukan apa-apa," kekeh Nurul.

Tawa Flora pecah begitupun dengan Nurul. Keduanya memang tidak pernah terlibat perdebatan panjang selama hampir empat tahun kebersamaan mereka.

"Lu yang namanya Nurul, anak Hukum?"

Nurul dan Flora terpaksa menghentikan tawa mereka dan langsung menatap pada seseorang yang sudah mencegatnya.

Irana, itu nama gadis yang sedang berdiri di depan mereka. Tentu saja ia bersama dua teman atau bisa disebut sebagai asisten pribadinya yang selalu mengikutinya kemanapun dan siap memberikan pelayanan kepadanya.

Nurul mengangguk, "Iya saya. Kena--"

Plakkk ...

Sebuah tamparan langsung mendarat di pipi Nurul. Refleks tangan Nurul langsung memegangi pipinya yang terasa panas dan perih.

"Irana, kenapa lu nampar Nurul hah?!" teriak Flora.

"Halaah ... lu nggak usah sok belain dia. Bukannya kita ini sama, sama-sama nggak suka lihat ada cewek yang didekati Alvaro. Nggak usah muna deh lu, Flor," cibir Irana.

Wajah Flora merah padam, tangannya terkepal kuat.

"Lu kira itu lucu?! Nurul, demi apapun omongan dia jangan lu dengerin. Please lu percaya sama gue," pinta Flora namun tanpa menatap ke arah Nurul melainkan tetap mengunci Irana dalam pandangannya.

Irana bergidik ngeri melihat tatapan membunuh dari Flora.

"Hahaha ... heh Nurul, gue kasih tahu ya ke elu, nggak selamanya apa yang lu kira baik itu benar adanya. Lagian kita itu berada di lingkaran yang sama. Jadi gue tahun sepak terjang lu, Flor."

Tak henti sampai disitu, Irana terus saja membuat api semakin menyala. Sedangkan Nurul, ia diam menyimak. Jujur saja, ada sedikit rasa perih yang timbul di hati Nurul mendengar fakta tentang sahabatnya.

Nggak, gue nggak boleh langsung percaya gitu aja. Gue udah kenal Flora sejak lama dan dia itu asli baik banget. Walau kini gue meragu, tapi gue nggak bakalan mikir negatif ke dia. Emang kenapa juga kalau ternyata Flora suka sama Alvaro. Wajar kok.

"Nurul gue--"

"Udah, nggak usah di dengerin. Yuk kita balik," ajak Nurul yang langsung menarik tangan Flora.

Flora hanya pasrah ditarik oleh Nurul meninggalkan Irana. Dalam benaknya diliputi banyak pertanyaan tentang tanggapan Nurul dari pernyataan Irana barusan.

"Oh ya satu hal ...."

Nurul menghentikan langkahnya, tanpa berbalik badan ia berbicara kepada Irana.

"Kalaupun Flora suka sama Alvaro itu bukan hal yang salah. Semua berhak menyukai siapapun. Tidak ada aturan untuk perasaan. Yang nggak wajar itu kalau Flora suka sama lu."

Setelah mengatakan itu, Nurul tersenyum puas lalu menarik Flora agar segera menjauh.

Gue nggak nyangka reaksi Nurul bakalan kayak gini. Anak ini benar-benar baik. Untung dia teman gue.

Merasa geram, dengan cepat Irana menarik rambut Nurul hingga kepalanya mendongak.

"Berani lu ngomong gitu ke gue!"

Blesshhh ....

Wajah Irana berubah menjadi pias begitu melihat siapa yang mendapat siraman dari air mineral yang hendak ia siramkan kepada Nurul.

"Al-va-ro?"

Jessy, Bela dan Flora terkejut melihat kejadian barusan dimana sang idola kampus tersiram air.

"Lu nggak apa-apa Nurul?" tanya Alvaro sambil menyeka wajahnya yang sudah basah dan sialnya itu justru membuat semua yang ada di sana terpana.

Wajah tampan dengan ditetes-tetesi air dari rambut itu terlihat makin tampan dan segar. Banyak mahasiswi yang histeris dan tak sedikit yang mengabadikan dengan ponsel mereka.

"Gu-gue nggak apa-apa kok. Kenapa lu bisa disini?" jawab Nurul yang kini sedang membersihkan wajah Alvaro dengan sapu tangannya. "Lu harusnya nggak ngelakuin ini. Lihat! Kita jadi bahan tontonan," ucap Nurul masih santai mengelapi wajah Alvaro yang tanpa ia sadari semua mata tertuju pada tindakannya apalagi Alvaro.

"Gue rela kok kesiram air asal lu yang ngelapin kayak gini. Setiap hari pun gue nggak masalah, sumpah!"

Mendengar ucapan Alvaro, Nurul menjadi keki. Ia buru-buru menarik tangannya dari wajah Alvaro dan membuang muka merasa malu.

Kenapa gue bisa kayak gini sih. Duh malu gue. Ini juga tangan kenapa refleks banget sih?!

Alvaro tersenyum jahil namun mengingat mereka sedang menjadi bahan tontonan ia pun langsung mengendalikan diri.

"Bubar nggak lu pada! Gue dan Nurul bukan bahan konsumsi publik!"

Tanpa ba-bi-bu para kerumunan langsung melenggang pergi.

"Makasih lu udah bantuin gue tapi lain kali jangan. Nggak usah. Gue yakin setelah ini bakalan ada Irana yang lain lagi yang nggak suka ke gue karena lu. Gue pamit."

Nurul menarik tangan Flora agar bergegas meninggalkan tempat itu. Alvaro dan yang lainnya hanya bisa menatap punggung mereka yang semakin menjauh.

"Lu-" Alvaro menatap Irana- "Jangan sampai gue lihat lu berada di sekitaran Nurul kalau lu masih mau lihat mentari pagi," ucap Alvaro kemudian meninggalkan Irana dan teman-temannya.

Irana menghembuskan napas lega begitu Alvaro Cs sudah menjauh.

"Guys, kalian duluan aja. Gue mau ke toilet bentar," ucap Irana.

Irana berjalan cepat ke arah Toilet. Ia tersenyum lebar mendapati pria yang sudah berdiri tegak membelakanginya.

"Gue udah ngelakuin yang lu mau. Gimana sama gue?" tanya Irana sambil memeluk pria tersebut dari belakang.

"Sesuai keinginan lu. Lu mau kita main di toilet ini atau gimana?" tanya pria itu.

Irana menyeringai. "Asal sama lu, disini juga gue siap. Tapi kampus masih ramai. Kita ke apartemen gue sekarang," ujar Irana.

"Oke."

Gue nggak nyangka cuma ngelakuin ini doang gue bisa jadi teman kencan dan berolah ranjang dengan lu. Ini sih gue yang untung. Bisa ngelabrak si Nurul sialan itu eh sekalian dapat bonus kehangatan. Ck, ck, ck ... Irana lu emang keren.

Tiga Bulan

"Lu nggak mikir kalau ucapan Irana tadi benar adanya, 'kan Nur?" tanya Flora saat mereka sudah berada di parkiran.

Nurul mengangkat kedua bahunya.

"Nggak ada yang salah juga kalau lu emang suka sama Alvaro. Hal wajar. Gue juga nggak bakalan ngehakimin lu cuma karena hal seperti ini. Santai aja," jawab Nurul.

"Jawaban lu ini bikin gue ngerasa kalau lu emang percaya kalau gue suka sama si Alvaro. Demi apapun Nur, gue nggak suka sama dia. Emang sih garis hidupnya si Alvaro itu nyaris sempurna, tapi gue nggak tertarik."

Ada rasa kesal di hati Flora mendengar jawaban Nurul. Bukan seperti ini yang ia harapkan.

"Lu nggak usah khawatir. Gue percaya kok sama lu. Lu nggak suka sama Alvaro Genta Prayoga dan tadi gue hanya mengemukakan pendapat gue. Jadi ... lebih baik kita nggak usah bahas si Alvaro. Kita pulang aja dan lanjutin ngerjain skripsi. Oh iya, minggu ini gue belum ada jadwal bimbingan. Gue harap lu serius mau ngurus skripsi biar gue bisa bantuin lu bikin proposal. Gue harap kita bisa ujian skripsi sama," ucap Nurul tulus membantu Flora.

Mata Flora berbinar. Ia dengan cepat mendekap tubuh mungil Nurul hingga gadis itu mengeluh susah bernapas.

"Hehe ... sorry lah. Gue kelewat senang soalnya. Mendadak gue langsung semangat. Gimana kalau kita mulai aja hari ini. Kita ke rumah gue aja. Bantuin gue ya. Biar nyokap bokap lihat juga kalau gue beneran serius mau ngerjain skripsi," ucap Flora antusias.

"Baik nyonya." Nurul menjawab dengan pose memberi hormat.

"Ya nggak gitu juga kali. Yuk masuk mobil, kita jalan sekarang."

...***...

Di ruangan yang berukuran sekitar 5 x 5 meter, di dalamnya terdapat beberapa lemari dan juga seperangkat sofa yang terlihat usang serta satu meja besar yang dilengkapi dengan tiga kursi yang saling berhadap-hadapan.

Ruangan yang terlihat rapih dan tenang itu kini menunjukkan atmosfer sebaliknya. Di sofa sedang duduk beberapa tamu dan di balik meja besar itu seorang wanita paruh baya tengah menatap tegang kepada tamunya.

"Sekali lagi kami minta Bu Uswa segera mengambil keputusan. Ibu tenang saja, kami tidak akan melepaskan kalian begitu saja. Setelah panti ini kami ambil alih, kalian akan diberikan sejumlah uang dan modal untuk membangun panti asuhan yang baru. Kami sudah lelah dengan kebungkaman Anda selama ini. Kami butuh kepastian.

"Lagi pula bangunan ini berdiri di atas tanah milik keluarga Waluyo. Mereka memiliki bukti surat kepemilikan tanah dan jika pun dibawa ke persidangan maka Anda jelas akan kalah. Dan ini pun beliau sudah berbaik hati ingin membeli dan mengganti rugi pada Anda. Beliau akan membangun pusat perbelanjaan di daerah ini. Para warga yang lainnya sudah setuju dan menerima bayarannya, tinggal panti ini saja," ucap salah satu pria berjas hitam dengan setelan begitu rapih.

"Bukannya saya menolak atau bersikap mengulur waktu, Pak. Saya hanya sedang menunggu anak saya menyelesaikan kuliahnya. Tiga bulan lagi, Pak. Bisa kah?" tanya Bu Uswa.

"Itu terlalu lama!"

"Saya juga butuh waktu Pak. Anak-anak di panti ini banyak yang bersekolah. Saya harus mengurus surat pindah dan juga harus mencarikan sekolah baru untuk mereka. Saya harus menginformasikan pada para donatur tetap di panti ini. Saya mohon Pak, tiga bulan lagi. Saya juga masih harus mencari tempat yang baru. Tolonglah Pak," pinta Bu Uswa.

Tiga orang berjas hitam itu pun saling berbisik.

"Baik. Tiga bulan dari sekarang kami akan datang lagi dan saya ingin saat kami kembali, tempat ini sudah di kosongkan. Paham?!

"Paham Pak. Terima kasih banyak," ucap Bu Uswa dengan perasaan lega.

"Baiklah kami permisi."

Sepeninggalan para pria itu, Bu Uswa tetap tinggal di dalam ruangannya. Ia ingin menenangkan diri sambil memikirkan langkah apa yang akan ia ambil kedepannya.

Panti ini sudah ia kelola sejak tiga puluh tahun lamanya. Dahulu, ia dan suaminya memiliki usaha yang terbilang maju. Mereka memiliki kehidupan yang berkecukupan namun tidak memiliki anak. Pak Budi, suami Bu Uswa membangun rumah panti ini karena merasa kasihan pada istrinya yang selalu dirundung kesedihan karena tidak memiliki anak.

Niatan pak Budi ini disambut riang oleh Bu Uswa. Mereka menampung anak-anak jalanan hingga ada anak-anak balita yang kehilangan orang tua atau anak yang tak diinginkan oleh orang tuanya karena hasil hubungan yang tidak sah seperti contohnya Nurul Aina. Entah siapa orang tua dari gadis itu.

Rumah mereka yang dulunya hanya memiliki tiga kamar direnovasi dan juga diperluas karena lahan kosong memang masih cukup luas. Rumah menjadi ramai dan Bu Uswa tidak lagi merasa kesepian.

Satu ketika, pak Budi jatuh sakit dan usahanya pun perlahan-lahan mulai mengalami kebangkrutan hingga ia akhirnya tutup usia, usahanya pun tutup. Untung saja Bu Uswa bisa mengatasi ekonomi keluarga dengan membuat kue yang akan dijual oleh para anak asuhnya juga sumbangan dari donatur.

"Ibu nggak nyangka, harus meninggalkan tempat yang penuh kenangan ini," lirih Bu Uswa sambil memandangi bingkai foto dirinya dan sang suami.

Air mata Bu Uswa menetes melihat foto pak Budi yang sedang tersenyum hangat di sampingnya.

"Waluyo sungguh licik. Jelas-jelas tanah ini milik Mas Budi. Tapi aku bisa apa, surat tanah ini ada padanya. Salahku juga karena sempat meminjamkan sertifikat tanah padanya dan dengan liciknya ia mengganti atas namanya."

Bu Uswa menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan.

"Aku akan menunggu Nurul pulang dan akan membahas ini dengannya. Lebih baik aku memikirkan tempat tinggal baru untuk anak-anak daripada nanti mereka datang merusuh. Aku bicarakan ini dulu dengan Nurul. Nanti, jika sudah menemukan tempat baru maka anak-anak baru akan diberitahukan. Biarlah mereka menikmati waktu-waktu mereka. Pikiran mereka masih belum saatnya untuk diminta memikirkan hal-hal seperti ini."

...***...

Irana tersenyum puas setelah pertempuran panasnya di atas ranjang yang menghabiskan waktu berjam-jam. Dugaannya tidak salah, pria ini sangat kuat dan dirinya dibuat kelelahan hingga dirinya begitu lemas. Setelah pria itu pergi, ia baru beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

Irana menatap penampilan dirinya yang polos tanpa sehelai benangpun di depan cermin. Ia nampak takjub dengan banyaknya jejak hasil percintaannya tadi.

"Luar biasa, hahaha."

Irana memutuskan untuk berendam air hangat. Sambil bersiul-siul ia mengingat kejadian panas yang baru beberapa menit lalu berakhir. Sesaat kemudian ia teringat akan kejadian beberapa jam sebelumnya di kampus.

"Hmm ... andai Alvaro bisa jadi milik gue. Gue pasti bakalan jadi wanita terbahagia di dunia. Alvaro ... lu nggak mau gitu nengok gue yang jelas-jelas ada di depan lu. Gue cinta sama lu Alvaro. Kalau saja lu mau jadi milik gue, gue siap ngelakuin apapun buat lu. Bahkan lu ajak gue bercinta pun gue pasrah-pasrah aja. Lu mau apa pasti gue turutin. Alvaro Genta Prayoga,I love you."

Kini wajah tampan Alvaro berubah menjadi wajah Nurul.

"Brengsek! Cewek itu kenapa harus hadir ditengah-tengah gue dan Alvaro?! Gue nggak suka lihat cara Alvaro natap dia. Lihat aja lu Nurul, gue bakalan bikin hari-hari lu kayak di neraka. Jangan coba-coba lu bermimpi buat dapatin Alvaro!"

Mata Irana terpejam, ia mencoba menepis wajah Nurul yang terlihat lugu namun baginya itu wajah yang begitu menjengkelkan.

"Oh Alvaro ... gue harap kita bisa mengulanginya lagi."

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!