NovelToon NovelToon

Tujuh Tahun Pernikahan

Bab 1 : Mertua dan menantu.

Tujuh tahun pernikahan.

...🍀🍀🍀...

PLAK!

''Dasar menantu nggak tau di untung! Sengaja kamu permalukan saya, iya!'' Bentak wanita paruh baya dengan marah, sambil menampar menantunya.

''Nggak Bu, Dira nggak bermaksud seperti itu.''

''Terus kenapa kamu belum hamil juga sampai hari ini hah! Kamu senang Ibu jadi bahan tertawaan oleh teman-teman Ibu!'' Bentaknya, sambil menjambak rambut Nadira.

''Aahh ... Bu, Dira nggak sengaja ketemu Ibu sama teman-teman Ibu. Ampun Bu ...''

''Eehh! Dasar menantu nggak guna! Kenapa kamu nggak cerai saja sama anakku hah!''

''Bu, Dira mohon lepaskan Bu ... ini sakit.''

BRUG!

Bu Mumun langsung mendorong Nadira ke lantai dengan kasar, ia marah karna sampai hari ini menantunya belum kunjung hamil. Terlebih tadi ia bersama teman-teman tengah arisan dan Nadira tiba-tiba datang yang mana membuat ia jadi bahan tertawaan oleh teman-teman arisan nya karna sampai hari ini Nadira belum kunjung hamil.

''Denger ya Dira, saya nggak mau tau! Pokonya kalau kamu belum hamil juga. Biarkan Edgar menikah lagi, atau ceraikan saja Edgar! Aahhh ... sialan.''

BUGH!

Teriaknya dengan marah sambil menendang Nadira sebelum pergi keluar dari rumah, sementara Nadira menangis dalam diamnya ... ia sudah biasa dengan perlakuan mertuanya yang selalu mendiskriminasi dan menyiksa dirinya dari fisik mau pun batin.

Hisk ... Hanya sebuah tangisan yang bisa ia keluarkan, karna ia tidak bisa melawan mertuanya.

''Mang, Ini bawang merah beli lima ribu saja. Trus ini kangkungnya satu iket, jadi berapa?'' tanya Bu Mumun dengan ketus, karna masih sangat kesal pada menantunya.

''Delapan ribu, ceu.''

''Bu Mumun, kemana aja?'' Panggil seseorang dari belakang.

Bu Mumun menoleh dan langsung tersenyum. ''Eh, Bu Ai ... kemana aja?'' Tanya Bu Mumun dengan ramah, sampai-sampai ia lupa jika dirinya sedang kesal.

''Nggak kemana mana, Bu. Baru pulang dari Jakarta.'' Jawabnya dengan senyuman tak kalah ramah.

Bu Mumun berbalik tersenyum pada Bu Ai, lalu melirik gadis cantik di sebelah Bu Ai. ''Oh ... trus ini siapa Bu?''

Bu Ai melihat gadis di sebelahnya dan tersenyum. ''Bu Mumun itu gimana sih ... ini kan putri saya yang kerja di Jakarta, masa udah lupa.''

''Oalah ... cantiknya anak gadis mu, Bu Ai.'' puji Bu Mumun.

''He he he ... tentu saja dong Bu, dia ini 'kan kerja di Jakarta jadi model majalah ternama. Tentu harus cantik dong yaa.'' Terlihat jika Bu Ai membanggakan anak gadis nya.

''Apa kabar anak mu, Edgar? Udah punya anak sekarang ... sudah kali ya, soalnya setau saya pernikahan putra mu sudah tujuh tahun. Masa belum punya anak sih.''

Terlihat Bu Mumun langsung cemberut, mengingat tentang seorang cucu yang belum hadir di hidupnya.

''Belum Bu, kayanya mereka masih program deh.'' Bohongnya.

''Oalah, udah tujuh tahun masih program toh? nggak kelamaan itu, He he ... coba anak Ibu mau sama anak saya waktu dulu. Pasti sekarang Ibu Mumun udah gendong cucu,'' ujar Bu Ai dengan kekehan, mengingat jika dulu Edgar menolak anaknya secara terang-terangan.

''Yaa ... mau bagaimana lagi Bu, si Edgar kekeh pengen nikah sama si Nadira. Dari pada anak saya gila, ya mending saya setuju aja. Ribet urusannya jika menyangkut kebahagiaan anak.''

''Iya juga sih Bu, kita selalu mikirin kebahagiaan anak. Tapi anak belum tentu mikirin apa yang kita mau.'' Ucap Bu Ai, terselip ejekan di setiap kata katanya.

Bu Mumun hanya tersenyum getir seolah kemarahan yang baru saja meluap kini siap untuk menyembur kembali.

Mereka pun berbincang bincang, hingga Bu Mumun berpamitan karna sebentar lagi menantu keduanya Rima dan anak bungsunya Sandi akan datang. Dari tempat kang sayur hingga ke arah rumahnya, terlihat jika Ibu Mumun sedang menggerutu dengan hati yang sangat kesal. Hingga ia tidak menyadari sudah sampai di rumahnya dan langsung menaruh sayuran itu di meja dapur dengan kasar.

''Nadira ...'' Teriak Bu Mumun dari arah dapur, sambil berkacak pinggang.

''Iya, Bu.'' Jawab Nadira dari kamar, lalu menghampiri mertuanya.

''Ngapain aja sih! Di kamar ... melulu, mau Ibu tampar lagi kamu!''

Nadira langsung menggeleng.

''Udah beres kamu nyuci baju nya? jangan harap kamu bisa leha leha di rumahku!''

Nadira menunduk, ''Sudah Bu ... semua pekerjaan rumah sudah beres, tadi Dira di kamar solat dulu.''

Terlihat Bu Mumun berdecih tak suka ketika mendengar penjelasan menantunya. ''Solat apa udah siang begini! Alesan aja kamu, bilang aja kalau kamu itu leha leha di kamar sambil tidur tiduran.'' Sentaknya.

''Nggak kok Bu, tadi Nadira beneran solat.''

''Alah, bohong aja kamu bisanya! Kamu tau, gara gara kamu belum hamil hamil juga! Aku jadi bahan gunjingan para teman temanku yang sudah punya cucu!'' Sentaknya bersungut sungut.

''Maaf Bu.''

''Maaf, maaf! Itu saja yang keluar dari mulut busuk mu! Kupas semua itu dan langsung cuci! Setelah ini selesai, goreng ayam untuk makan Rima yang ada di dalam kulkas. Sebentar lagi Sandi dan Rima akan datang.'' Cetus Bu Mumun, lalu pergi dengan kesal.

''Baik, Bu.''

Nadira menuruti perkataan mertuanya, ia dengan cepat menggoreng ayam sambil mengupas sayuran. Ia tidak pernah mengeluh dengan sikap mertuanya yang selalu menyulitkan dirinya selama tujuh tahun pernikahan dirinya dan Mas Edgar.

Karna Nadira sadar diri akan kekurangan dirinya yang tidak bisa memberikan seorang anak sekaligus cucu untuk keluarga suaminya, untuk itu ... Nadira berpikir ia cukup beruntung karna suaminya tidak menceraikan dirinya karna tidak bisa mengandung.

Tak lama ketika Nadira bergelut dengan sayuran nya ... ketukan pintu membuat Nadira menghentikan kegiatan nya dan langsung berdiri untuk membuka pintu. Namun Bu Mumun dengan terburu buru melewatinya dari arah belakang hingga dengan sengaja menubruk Nadira sampai jatuh di lantai.

BRUUGH!

''Kalau jalan itu pakai mata! Buta kamu hah! Dasar wanita nggak punya rahim.'' Bentak Bu Mumun yang tidak memperdulikan Nadira, ia dengan semangat membuka pintu dengan cepat untuk menyambut menantu kesayangannya.

''Kalian sudah datang, Nak.''

''Asalamualaikum, Bu.''

''Walaikum'salam.'' Jawab Bu Mumun, memeluk menantu dan anaknya secara bergantian.

Nadira yang masih duduk di lantai lagi dan lagi hanya tersenyum, lalu berdiri sambil mengibaskan bajunya.

''Mbak Dira apa kabar?'' Rima menyapa Nadira dengan ramah.

''Baik, Rim.''

''Ini, ada oleh-oleh buat semua orang yang ada di rumah.'' Rima memberikan beberapa kantong di tangannya.

''Makasih Rim, udah repot-repot.''

''Sudah, biarkan itu di kerjakan oleh Dira. Kamu pasti capek 'kan Nak? Ayo ... ayo duduk dulu di kursi.'' Ajak Ibu Mumun dengan penuh kasih sayang.

''Dira, ambilkan minum untuk Rima dan Sandi.'' cetus sang mertua, sambil menubruk bahu Nadira.

Nadira mengangguk. ''Baik, Bu.''

''Mbak, sekalian cuciin buah yang baru aku bawa itu yaa. Sekalian sama apelnya juga.''

Nadira tersenyum getir namun mengangguk.

...🍀🍀🍀...

...LIKE.KOMEN.VOTE...

Bab 2 : Tidak adil.

Tujuh tahun pernikahan.

...🍀🍀🍀...

PRAAANGG.

Nadira tidak sengaja menjatuhkan makanan yang akan di bawa untuk sang mertua dan Rima.

''Nadira ...! Kamu itu becus nggak sih bawanya, Hah!'' bentak sang mertua merasa tidak suka, saat barang-barang miliknya pecah.

''Maaf Bu, akan Nadira bersihkan.''

''Bukan masalah bersihinnya, bodoh! Ini piring mahal, lebih mahal di bandingkan harga dirimu! Astaga ... malangnya nasib anakku karna menikahi wanita tidak berguna dan mandul seperti mu!''

Nadira menghela nafas sambil menggertakkan giginya dalam diam. ''Maaf? Bu.''

''Aaahh ...''

Nadira terkejut dan sakit secara bersamaan saat rambutnya di jambak kebelakang dengan kecang oleh mertuanya.

''Nggak bosan apa kamu minta maaf terus, hah! Ibu bosan setiap hari kamu hanya bisa berkata maaf, maaf, maaf ... terus!''

''Bu, sakit.''

''Sakit iyaa! Rasakan ini.'' Bu Mumun dengan tidak berpesaraan menginjak tangan Nadira dengan kencang, hingga tangan Nadira terluka terkena pecahan kaca piring di lantai.

''Ahkk, Ibu ampun ... ini sakit.'' keluh Nadira, saat telapak tangannya berdarah dan perih.

''Dasar menantu pembawa sial!'' sentak Bu Mumun mendorong kepala Nadira hingga terhiyung, lalu duduk kembali bersama Rima tanpa rasa bersalah.

Sedangkan Nadira hanya bisa terisak menahan sakit di tangannya karna banyak pecahan kaca piring yang menancab di telapak tangannya.

'Ya Allah ... sampai kapan aku harus seperti ini terus.' Keluh Nadira dalam hati.

Sore hari.

Sudah sejak pagi hingga sore, Nadira terus bergelut di dapur layaknya seorang pembantu, namun tidak sekali pun mertuanya menyuruh dirinya untuk duduk mengobrol bersama atau pun istirahat.

''Dira ...'' Teriak Ibu mertua, dari ruang keluarga.

''Dira ...''

''Iya, Bu.'' Nadira menghampiri mertua dan adik iparnya, yang berada di ruang keluarga.

''Kenapa Bu?''

''Dari mana aja sih! Lelet banget kamu. Tuh, Rima nggak sengaja numpahin Jus di karpet, cepat bersihkan sebelum jus itu menempel di karpet mahal Ibu.''

Nadira terdiam menghela nafas, lalu mengangguk dan melangkah untuk mengambil lap dan air di dapur. Taklama, Nadira membungkuk membersihkan karpet agar tidak basah dan meninggalkan bau.

Nadira hanya bisa bekerja dengan satu tangan, karna tangan kirinya ia balut perban akibat luka tadi siang. Sementara Rima dan mertuanya duduk di atas sofa sambil berbincang ria ... solah mereka tidak memperdulikan keberadaan Nadira sedikit pun. Bahkan malangnya, sang mertua sengaja membuang sisa makanan di lantai agar Nadira membersihkan nya.

'Astagfirullah hal azim ..." Gumam Nadira sesekali melirik ke arah mereka, ada sedikit rasa sakit dalam hatinya melihat keakraban mereka ... di mana Nadira tidak pernah di perlakukan baik seperti itu oleh mertuanya. Mungkin karna Rima masih tergolong menantu baru di keluarga ini, karna Rima dan Sandi baru menikah kurang dari satu tahun. Sementara dirinya dan Mas Edgar sudah menikah selama tujuh tahun lamanya.

Setelah Nadira merasa karpetnya sudah bersih dan kering ... Nadira berdiri untuk pergi, namun Rima memanggilnya.

''Mbak Dira.''

''Iya.''

''Sekalian bawa ini, aku mau istirahat dulu.'' Rima memberikan gelas bekasnya minum, ''Oh iya Mbak ... tadi aku bawa baju bekas buat kamu, soalnya baju aku banyak yang nggak ke pake di lemari. Dari pada sayang di buang, mending kamu pakai saja Mbak, lumayan masih pada bagus.''

Rima menunjuk ke arah koper yang sengaja ia bawa.

Terlihat Ibu Mumun tersenyum lalu mengelus kepala Rima dengan sayang. ''Kamu itu baik banget sih Rim ... Rim, beruntungnya anak ku dapetin kamu. Ibu do'akan supaya kamu cepet hamil yaa.''

''Amin ...'' Rima merasa bahagia.

''Heh, wanita nggak berguna! Tuh liat, Rima kurang baik apa sama kamu Dira ... dari pada kamu terus beli baju online, mending pake bekas Rima saja. Baju Rima 'kan pada mahal semua, jadi mulai bulan depan sampai lebaran nanti kamu nggak usah beli baju.''

''Iya, Ibu.'' Dira hanya pasrah, percuma ia melawan yang akhirnya akan ada perdebatan dan perbandingan antara dirinya dan Rima.

''Baguslah, menantu yang tidak punya rahim sepertimu seharusnya banyak bersyukur. Masih mending Edgar masih mau menampung kamu.''

Nadira hanya menunduk.

''Yasudah pergi sana, sudah siapin makan malam belum? Sebentar lagi Edgar datang.''

''Sudah siap semuanya Bu.''

''Bagus, cepat mandi sana! Tubuh mu bau busuk.'' Hina Ibu Mumun, sambil menutup hidungnya dan pergi.

Malam hari•

Semua keluarga sedang berkumpul di ruang makan, termasuk sang suami yang sudah pulang dari kantornya. Edgar adalah pria yang berusia dua puluh delapan tahun dan bekerja menjadi sekretaris bupati di desa mereka.

''Makan yang banyak, kau bekerja seharian di kantor.'' Ibu Mumun mengambilkan satu potong daging ayam pada Edgar.

''Ini ...'' Ibu Mumun memberikan satu daging ayam pada Rima, padahal itu bagian Nadira. ''Kau perlu nutrisi agar rahim mu sehat, Ibu yakin sebentar lagi kamu hamil.''

Nadira melihat ayam bagiannya yang sudah ada di piring Rima, ia menelan ludahnya karna ingin merasakan ayam itu juga. Sedangkan Rima yang tidak sengaja melihat raut wajah Nadira yang berubah, ia pun berinisiatif akan memberikan ayam itu pada Nadira dengan niat tertentu ... namun sang mertua dengan cepat mencegahnya.

''Nadira tidak suka daging ayam, dia hanya suka sayur sayuran! Kata nya dia sedang diet.'' Cetus nya sambil melotot pada Nadira.

Nadira hanya tersenyum dan mengangguk, lalu ia menyuapkan nasi yang banyak kedalam mulutnya. Namun ia terdiam saat sang suami menaruh ayam di atas piringnya.

''Makanlah yang banyak, sayang.'' Edgar tersenyum dan mengusap kepala Nadira dengan sayang, sementara Ibu mertuanya mendecih.

''Makasih, Mas.'' Ucapnya dengan senyum bahagia.

Inilah yang membuat Nadira tidak bisa pergi jauh dari suaminya, karna sang suami selalu memperhatikan dirinya dari hal hal kecil. Walau terkadang ia suka berpikir tentang kelakuan aneh sang suami akhir akhir ini.

Bagaimana tidak. Ia pernah menemukan potongan kuku palsu wanita di dalam tas kerjanya, bahkan pernah mencium kemeja kerja suaminya namun ada bau parfum wanita.

Tapi Nadira menepis kecurigaan nya, karna dia yakin jika Mas Edgar tipe orang yang setia padanya. Mungkin saja kuku itu tidak sengaja jatuh dan masuk kedalam tas suaminya, begitu pun masalah parfum.

Setelah selesai makan. Semua orang pergi mengobrol di ruang keluarga, namun lagi dan lagi Nadira harus membereskan bekas makan semua orang bahkan cucian piring di wastafel masih banyak.

''Haaahh ...'' Nadira menghela nafasnya dengan berat, jujur dalam lubuk hatinya paling dalam ... ia muak melakukan pekerjaan rumah.

''Dira ... bikin teh untuk semua orang.'' Teriak sang mertua, membuat Nadira geram.

''Astagfirullah ...''

...🍀🍀🍀...

...LIKE.KOMEN.VOTE...

Bab 3 : Merasa curiga.

Tujuh tahun pernikahan.

...🍀🍀🍀...

''Ini si Dira kemana sih? bikin teh aja lama nya minta ampun! Bikin teh aja lama, gimana ngurus anak.''

''Diraaaaaa ...''

''I-Iya bu.'' Nadira segera membawa teh yang ibu mertuanya inginkan.

Terlihat Bu Mumun sudah berkacak pinggang menunggu Dira, yang lama sekali membuat teh untuk semua orang.

''Ini Bu, teh nya.'' Dira memberikan teh pada semua orang, namun Ibu Mumun merasa tidak suka.

''Bikin Teh aja lama banget sih! Pantes aja Tuhan angkat rahim mu, kalau bikin teh aja nggak becus.''

''Bu ...'' Edgar mencoba untuk menghentikan omelan sang Ibu.

''Kenapa? apa Ibu salah ngomong, kayanya nggak deh! Si Dira ini 'kan emang wanita mandul, kalau dia nggak mandul pasti dalam tujuh tahun pernikahan kalian sudah di kasih anak. Tapi ini apa? udah lama nikah kok nggak hamil hamil, pasti ada yang ngajak beres sama dia.'' Tunjuk Ibu Mumun pada Nadira.

''Bu, cukup yaa ... apa ibu nggak kasian sama Nadira? Dia seharian nemenin ibu di rumah.'' Ucap Edgar tidak habis pikir.

''Nggak! Ibu sama sekali nggak kasian sama dia, sekarang Ibu tanya sama kamu. Apa kamu nggak kasian sama Ibu yang udah tua belum juga gendong cucu.''

''Bu, kaya nya ibu udah keterlaluan deh sama Mbak Nadira. Ibu nggak kasian apa setiap hari ibu selalu menghina Mbak.'' Ucap Sandi, yang merasa jika ibunya sudah keterlaluan terhadap Kakak iparnya yang baik.

''Mas.'' Rima mencoba menghentikan suaminya, yang ingin berdebat dengan Ibunya.

''Kamu jangan ikut campur San!''

''Bukannya Sandi mau ikut campur Bu, tapi bagaimana Mbak Nadira mau hamil jika Ibu selalu mendiskriminasi Mbak Nadira yang mana aku yakin jika kelakuan Ibu pasti membuat Mbak Nadira stres.''

''Durhaka kamu yaa! Jadi kamu nyalahin Ibu? iyaa.''

''Bukan seperti it--''

''Asal kamu tau yaa! Ibu dari dulu sudah tidak merestui Kakak mu nikah dengan wanita mandul itu, tapi Kakak mu keras kepala dan mengancam akan bunuhdiri kalau tidak menikahinya.'' Tunjuk ibu Mumun terhadap Nadira.

PLAK.

Ibu Mumun menampar pipi Nadira, membuat semua orang berdiri terkejut. Nadira yang sudah tidak tahan, lalu pegi ke kamar dan langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang.

''Kenapa Ibu selalu berkata jahat seperti itu, selama ini aku sudah baik dan menuruti perkataan Ibu ... tapi kenapa Ibu jahat.'' Ucap Nadira? di sela isak tangisnya.

Malam hari. Nadira terbangun karna ia haus, namun saat ia menoleh ia tidak menemukan suami di sampingnya. Nadira pun bangun dan bersender di belakang ranajang.

''Kemana, Mas Edgar?'' Gumamnya dalam hati.

Nadira yang teringat ia haus, ia turun dari ranjang dan berjalan ke luar kamar. Namun saat ia menutup pintu, ia di kejutkan oleh suaminya yang tiba-tiba ada di hadapannya.

''Nadira.''

''YaAllah, Mas! Ngagetin aja.'' Nadira mengelus dadanya.

''Kamu mau kemana, sayang?'' Tanya Edgar, dengan nafas sedikit tidak teratur.

''Kedapur Mas, aku haus mau ambil minum. Mas dari mana?''

''Oh, itu anu ... aku dari teras ngerokok.''

''Ouh, ya sudah sana istirahat Mas, besok harus kerja.''

''Ah, iya.''

Edgar pun masuk kedalam kamar, namun baru saja Edgar menutup pintu kamar. Nadira tidak sengaja melihat Rima yang baru saja masuk kedalam kamarnya.

'Eh, habis dari mana di Rima.'

Nadira menoleh ke arah kamarnya dan ke arah kamar Rima secara bergantian, ada sedikit rasa curiga dalam hatinya namun Nadira menepis kecurigaan tersebut dan mengira mungkin Rima dari kamar mandi. Nadira pun bergegas pergi ke dapur untuk mengambil air minum.

Ketika Nadira duduk untuk meneguk minuman, ia tidak sengaja melihat ke arah lantai, di mana ada sebuah benda yang tidak asing ia lihat.

''Kenapa ada kon do m tergeletak di lantai?'' cicit Nadira yang jijik melihat benda itu.

DEG.

Entah kenapa, hati Nadira tiba-tiba tidak enak saat memikirkan suaminya dan adik iparnya yang barusan bersamaan masuk kedalam kamar.

''Astagfirullah, kok aku jadi soudzon yaa.'' Nadira menggelengkan kepalanya, lalu bergegas membuang ko do m itu dengan sapu walau ia merasa jijik.

Setelah selesai, Nadira mencuci kedua tangannya dan bergegas masuk kedalam kamar. Di mana suaminya sudah terlelap tidur. Nadira berbaring di sebelah suaminya sambil menatap wajah Edgar yang lumayan tampan, lalu netra matanya melihat ponsel suaminya yang menyala tanpa suara.

Rasa penasaran membuat Nadira ingin memeriksa ponsel suaminya, namun ia urungkan karna bagi Dira itu tidak sopan. Tapi, hatinya tidak tenang ... dengan penuh tekad akhirnya Nadira mengambil ponsel suaminya.

Nadira menyalakan ponsel suaminya, namun sayangnya terkunci. Nadira pun tidak tau password nya apa. Nadira tidak sengaja melihat notifikasi di atas layar ponsel dan mengusapnya.

Nadira melihat pesan dari seseorang yang bertuliskan.

'Terimakasih untuk malam ini, kau sangat hebat Edgar. Aku sangat mencintaimu.'

DEG.

Jantung Nadira terasa di tusuk oleh sebuah belah pisau tajam yang langsung menembus ulu hatinya. Bahkan Nadira tidak bisa menelan ludahnya sendiri karna shock mendapati kenyataan jika suami yang dia banggakan ternyata memiliki kekasih lain di luar sana.

'Tenang Dira ... Kau belum tau kebenarannya, siapa tau ini hanya salah kirim.' Nadira berperang dalam hatinya, untuk menepis segala pikiran buruk tentang suaminya.

Nadira bergegas menaruh kembali ponsel suaminya lalu bergegas tidur. Ia akan menanyakan kembali masalah ini langsung pada Mas Edgar di bandingkan ia memiliki prasangka buruk terhadap suaminya.

Esok pagi ... Seperti biasa, Nadira bangun jam lima subuh dan bergegas untuk menunaikan kewajibannya. Setelah selesai, Nadira bergegas untuk membuat makanan untuk semua orang dan bersih bersih rumah seperti biasa.

Nadira pun menyiapkan baju dinas suaminya, dan membuat teh kesukaan Mas Edgar lalu membangunkannya.

''Mas, bangun udah siang.'' Nadira menepuk pundak suaminya.

''Hmm ...''

''Bangun Mas, Dira udah siapin sarapan dan baju Mas.''

Edgar bangun sambil mengucek kedua matanya, lalu tersenyum melihat Nadira dan menarik tangannya. ''Istriku pagi-pagi gini udah cantik aja.''

CUP.

Edgar mengecup pipi Nadira, yang mana membuat Nadira tersenyum senang. Membuat Nadira mengurungkan pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada suaminya, karna melihat Mas Edgar yang masih memperlakukannya dengan baik.

''Kau ini Mas, Dira belum mandi loh.''

Edgar memeluk Nadira dengan erat, ''Jangan tinggalin aku, aku nggak bisa hidup tanpa mu Dira.''

''Ih, Mas ini ngaco! Dira nggak bakalan ninggalin Mas kok, terkecuali kalau Mas yang meminta Dira pergi.''

Kedua orang itu saling tersenyum menatap satu sama lain, hingga pandangan mereka buyar saat Bu Mumun memanggil Dira dan masuk begitu saja ke dalam kamar.

''Dira!''

''Ibu.'' Dira terkejut dan langsung berdiri.

Inilah yang Nadira tidak suka, mertuanya ini tidak tau sopan santun. Yang mana datang ke kamarnya tanpa mengetuk pintu dan main selonong saja.

''Kamu itu bisa nggak sih bersihin rumah! Lihat tuh masih banyak debu. Masih pagi udah masuk kamar aja.'' cetus Bu Mumun, mendelik tidak suka.

''Bu ... Nadira baru saja membangunkan aku.''

''Yasudah! cepat kamu mandi Ed, nanti telat masuk kantor. Dan kamu Dira, cepat ikut ibu.

Nadira mengangguk lalu mengikuti mertuanya, sedangkan Edgar turun dari ranjang dan bergegas ke kamar mandi.

...🍀🍀🍀...

...LIKE.KOMEN.VOTE...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!