NovelToon NovelToon

Peluit dikala senja

Terdampar

Pada suatu pagi nampak lima orang muda mudi tengah asik bercengkrama dengan alam. Sedari kemarin mereka menginap pada salah satu penginapan di sekitar pantai. Mereka berasal dari kota, kedatangan mereka sekedar bersenang senang setelah kelulusan. Berbekalkan keberanian, akhirnya kelima muda mudi itu memutuskan merayakan hari kelulusan setelah tiga tahun duduk di bangku Sma. Tanpa sepengetahuan kedua orang tua, mereka menempuh perjalanan dari kota hingga ke plosok desa. Sengaja mereka datang jauh sebab mendengar cerita di sosial media kalau pantai di pulau jawa begiti indah dan memikat. Dengan antusiasme tinggi mereka datang sembari membawa teman dan pacar masing masing. Mereka nampak asik bermain air di kala mentari baru menampakkan wajahnya. Suara riuh ombak dan angin berhembus mesra di iringi canda tawa mereka. "Benar kata kamu pantai di sini sangat indah...." Salah seorang gadis berbaju kining menelentangkan tangan sembari menikmati hembusan angin. Perlahan ombak menyentih kakinya "Aaaaaaa....akhirnya gie lulus juga" Teriak sekencang mungkin sebab baru saja terlepas dari belenggu soal soal ujian nasional.

Tiba tiba saja sebuah tangan melingkar pada pinggang ramping gadis itu, nampak seorang pemuda tengah memeluknya erat "Sesuai janji kamu sayang setelah kelulusan ini kamu akan memberikan apa yang aku mau...." Desir nafas menyapu leher janjang si gadia muda. Bisikan bisikan lembut membuatnya terbenam dalam keindahan dunia.

"Hey.....sabar dulu" Si gadis menghentikan tangan pemuda tersebut ketika hendak bermain sedikit.

Pemuda tadi lantas membisikkan sesuatu hingga si gadis terlihat tersipu malu "Apaan sih...." melepas pelukan sang kekasih lalu berlarian kecil. Pemuda tadi lantas mengejar sang pacar hingga suara air terpijak terdengar riuh menyapa.

Dari kejauhan tiga orang tengah duduk terpaku sembari melihat mentari terbit "Enak banget mereka bisa mesra mesraan begitu" Ujar salah satu dari mereka.

"Makanya kan kemarin aku sudah bilang bawa pacarnya"

"Mau gimana lagi dia kan masih sekolah, mana bisa ikut sama kita" Seorang pemuda terlihat putus asa saat mengingat kekasihnya tidak bisa ikut serta.

Teman laki laki memukul pundaknya "Makanya kalau punya cewek itu yang semumuran, biar bisa kaya kita ya beb?" Melempar pandang pada seorang gadis muda di sebelahnya.

"Rese lo mentang mentang pada bawa ceweknya masing masing gue di jadiin obat nyamuk, sialan" Bangkit lalu menuju tepi pantai. Tak lama setelah itu mereka mengikuti si pemuda tadi.

Hingga suatu ketika tanpa mereka sadari ada ombak besar menuju ke arah mereka, dari jauh sudah terlihat gelombang besar datang dengan sangat cepat, sampai mereka belum sempat menyelamatkan diri.

Berberapa jam mereka mengapung di laut lepas, sampai pada akhirnya tmereka tidak saarkan diri. Sebelumnya mereka sudah di peringati oleh warga sekitar bahwa hari ini bertepatan selasa Kliwon, para wisatawan di larang memasuki area pantai. Warag sekiar percaya setiap hari selasa kliwon roh halus sering kali muncul dan mencari korban. Meski sudah di peringati tapi mereka masih nekat pergi ke pantai tersebut.

Ombak menyeret mereka hingga ke suatu tempat terpencil. Anehnya mereka berlima masih hidup meski tergulung ombak besar lautan. Tempat itu nampak sepi tidak ada orang lain di dalam pulau tersebut, kecuali mereka. Suara peluit samar samar terdengar, perlahan satu dari mereka bersadar dengan melihat sekeliling, keempat temannya masih tegeletak belum sadarkan diri. Ia pun berusaha membangunkan salah satu dari mereka, yang tidak lain adalah kekasihnya.

"Surya bangun kita di mana sekarang....?" Menghuyung tubuh laki laki kekar sembari melihat sekeliling. Meski sebuah pulau kecil nampaknya begitu terawat seperti ada sosok penghuni lain di dalamnya. "Surya ayolah bangun aku takut" Kondisi hari semakin larut membuatnya ketakutan. Suara peluit terdengar semakin pelan dan menghilang.

"Siapa orang yang meniup Peluit dikala Senja seperti ini?" Melihat sekeliling nampak sepi membuatnya bergigik ngeri. Berulang kali menoleh kiri kanan seperti apa seseorang mengintai.

Zrasss....

Suara sebuah sapu terdengar sepintas, membuat gadis tersebut kembali menvhuyung sang kekasih dengan keras "Sayang bangun aku takut, ayolah bangun"

Tidak berselang lama Surya pun terbangun.

Uhuk, uhuk....

Sembari mengusap mata perlahan ia terbangun, di lihatnya wajah cantik sang kekasih.

"Surya bangun lihat kita ada di mana? Aku mendsnagr suara orang tengah menyapu" Wajah cantik gadis berusia kisaran sembilan belas tahun itu nampak pucat ketika mengeksperikan ketakutannya.

Surya lalu bangun. Melihat sekujur tubuh hampir dipenuh dengan pasir dan melihat tiga orang lainnya masih belum sadarkan diri "Kenapa kita bisa ada di tempat ini? Sayang bukankah tadi kita bermain air terus tiba tiba....." surya mengingat ada gelombang besar bagikan sunami menggulung mereka berlima.

"Seingatku begitu sayang, terus sekarang kita ada di mana..." Tanya Fani.

Surya bangit dan langsung melihat hamparan laut juga sekitarnya. Nampak tidak ada satu perahu melintas di kekitar sana, bahkan langit perlahan mulai menghitam "Tolong......" Suaranya seperti kembali terpantul oleh deru ombak. Sekali lagi Surya berteriak meminta bantuan, namun usahanya sia sia. Di pulau kecil itu tidak akan ada orang datang bahkan menyebut nama pulau itu saja tidak berani.

Fani memeluk Surya "Aku takut, aku mau pulang...." Fani memangis tersedu sedu sampai membangunkan ketiga temannya. Mereka nampak bingung melihat sekeliling yang nampak asing. "Kita di mana sekarang?" tanya Aji.

Rendi dan Erika saling menatap "Kita terdampar" Ucapnya serentak. Bukannya sedih justru mereka nampak senang. "Yes....kita terdampar" Dua orang pasangan sejoli itu memutar badan seolah senang dengan situasi sekarang.

Ketiga orang tadi melihat mereka penuh heran "Kalian ini kenapa sih bukannya sedih malah bersenang senang seperti itu? gila kali ya" Ketus Aji.

Dengan santai Rendi berkata "Udahlah kita nikatin aja, anggap saja kita sedang berpetualang di sini" sembari memeluk Erika selaku pacar Rendi.

Fani menghampiri mereka "Jangan gila kamu bagaimana kalau di sini banyak hantunya? Pokoknya aku mau pulang"

"Kalau gitu silahkan kamu pulang kalau bisa" Percuma saja mereka tidak akan bisa kembali sebelum ada yang menyelamatkan mereka. Bahkan mereka tidak punya alat untuk mengarungi lautan, jadi tidak mungkin mereka bisa pulang.

Fani terus menangis ketakuran sampai terdengar kembali suara peluit berulang ulang.

"Eh kalian dengar tidak? Suara peluit, artinya ada orang di sekitar sini. Ayo kita cari sumber suara peluit itu...." Ajak Aji sembari melangkah lebih dulu, di ikuti Erika dan juga Rendi.

Surya menghampiri sang kekasih "Ayo sayang kita ikuti mereka, kamu tidak perlu takut ada aku di sampingmu." Melingkarkan tangan di bahu Fani lalu mereka mengikuti ketiga orang di depan mereka.

"Bagaimana kalau itu bukan manusia?" Lirih Fani sembari melihat sekeliling yang sudah nempak gelap dan begitu banyak gua gua kecil sekitar mereka. Pepohonan nempak lebat juga di kelilingi semak belukar.

"Kamu tidak usah takut mana ada hantu berani sama aku, mereka iru kecil di kencingin langsung kabur terbitit birit" celetuk Surya.

Tanpa di sadari ada sosok tak kasat mata memperhatikan gerak gerik dan tingkah laku mereka. Sosok tak terlihat itu mulai terusik atas kedatangan mereka.

Sosok Hitam Besar

Mereka sudah masuk jauh ke dalam, menjelajahi pulau terpencil itu, di mana tidak nampak ada satu orangpun. Tiba tiba saja mereka menckum bau sesuatu "Eh....kalian nyium bau bunga mawar nggak sih?" Tanya Erika sembari mengendus aroma mawar yang begitu pekat. Semakin lama aroma wangi khas bunga berduri itu semakin semerbak.

"Mungkin sekitar sini ada bunganya kali" Sambung Surya dengan melihat kiri kanan.

"Mana ada di pulau mati kaya gini ada tumbuhan bunga mawar, yang ada ranting kering tuh" Sambung Rendi. Tatapan mereka melihat hampir seluruh penjuru, sampai atas bawan, depan belakang, kiri dan kanan.

Fani menghentikan langkah kaki sejenak ketika merasa ada hawa mistis menyentuh tangannya.

"Kamu kenapa sayang?" Tanya Surya.

Terdiam sesaat seperti ada sesuatu yang dia tau "Kenapa perasaanku jadi nggak enak gini ya, lebih baik kita balik ke tempat tadi aja yuk" Pinta Fani. Ia merasa semakin masuk lebih dalam hawa mistis semakin terasa mencekam, bulu roma berdiri sejak memasuki pulau tersebut.

Merangkul sang kekasih "Sudahlah sayang jangan percaya hal goib mana ada setan jaman sekarang, mending kita....." Membisikkan sesuatu hingga membuat Fani tersenyum malu.

"Kita lanjut jalan yuk siapa tau di dalam sana nanti kita bisa temuin gua buat kita neduh, langit mulai gelap nih kita nggak ada bawa senter sama sekali" Rendi mengajak mereka melanjutkan perjalanan. Dengan penuh kewaspadaan mereka kembali berjalan perlahan.

Aroma bunga mawar menyeruak hampir setiap langkah mereka. Aneh memeng tapi ini nyata, di sekitar mereka nampak tidak ada sebatang pohon mawar, lalu aroma berasal dari mana? Entahlah yang jelas kejanggalan mulai terasa. Menjelang senja membuat pendangan mereka sedikit kabur, karena mereka tidak punya penerangan sama sekali.

"Sayang aku takut..." Lirih Fani sembari terus menggandeng lengan Surya. Sejauh mata memandang terdapat banyak pepohonan rindang yang usianya mungkin sudah puluhan tahun labih, beberapa di antaranya nampak telah mati tanpa sehelai daunpun. Tinggal batang kayunya saja masih berdiri kokoh, menambah hawa mistis di sekitar tempat tersebut. Suara peluit perlahan semakin terdengar menjauh.

"Aaaaaaa.....hantu" Aji berteriak keras ketika ada sesuatu menyentuh kakinya. Ia melompat lompat seperti seekor kelinci. Setelah di lihat lebih jelas ternyata hanya akar pohon.

Erika yeng berada di belakangnya langsung tersentak ketakutan "Apaan sih Ji kaya akar pohon saja Lo takut, cowok kok lemah. Nggak punya nyali bilang dong jangan sok sokan jadi pemandu"

Menggaruk kepala sembari meringis "Hehe....gue bukan takut tapi cuma kaget aja"

"Ngagetin cewek gue aja lo Ji, kasihan nih dia sampe ketakutan" Sambung Surya sambil terus merangkul sang pacar. Badan Fani teras panas dingin, sedari tadi dia sudah merasa ada unsur magic di sekitarnya. Meski tidak terlihat tapi perasaan Fani peka, di tambah lagi cerita dari para warga sekitar yang melarang mereka memasuki pantai pada hari selasa kliwon. Konon katanya setiap hari selasa kliwon para roh sekitar pantai berkrliaran. Warga bilang jika ada sesosok wanita cantik berpakaian kebaya butih kerap muncul di area pantai. Ada pula warga bilang jika mendengar suara suara aneh jangan sesekali mendekat itu pertanda kedatangan sesosok wanita tersebut.

"Sorry deh gue nggak maksud begitu. Lagian Cewek Lo ngapain takut sama setan mending takut tuh sama lo" Celetuk Aji dengan nada bercanda. Aji terbilang suka cengengesan di banding keempat temannya. Namun, siapa sangka di balik kecerobohan mereka banyak mengusik para makhluk halus.

Reflek Fani meraih sebilah batang kayu lalu melemparnya pada Aji "Rese lo Ji yang namanya takut ya takut aja, nanti kalau di temui hantu beneran baru tau rasa deh lo"

Dengan sombong Aji menepuk dada seraya berkata "Setan di sini nggak ngaruh sama gue, palingan mereka yang takut ketemu gue." Suara cekikikan Aji membuat penghuni semakin terusik, sesok bayangan hitam tiba tiba sekelebat mata melintas di depan mereka. Seperti gumpalan awan hitam tapi berbentuk oval lalu bergerak begitu cepat.

"Woy....apaan tuh?" Tidak hanya satu dua orang saja yang melihat kelebatan hitam itu, tapi semua orang melihat.

Rendi mendorong tubuh Aji "Tuh mulut bisa di jaga nggak sih, kita ini lagi terdampar kalau ngomong di jaga napa Ji bisa kan?"

"Maaf deh maaf gue nggak sengaja. Maaf ya tan setan gue tadi cuma bercanda kok" ucap Aji sambil mengatupkan kedua tangan melihat atas. Sesekali ia cengengesan sendiri sesukanya sendiri, tanpa tau jika dunia bukan milik manusia saja, banyak makhluk lagi juga tinggal di dalamnya, hanya saja ada beberapa makhluk yang tidak kasat mata.

Fani tau kedatangan mereka banyak mengusik roh halus penguhuni pulau, sontak saja Fani menenggelamkan wajah di pelukan Surya.

Melihat suasana semakin tidak kondusif membuat mereka harus mencari tempat berteduh sementara "Bro mending kita cari tempat teduh deh malam semakin larut kasihan cewek cewek pasti capek" Ucap Aji.

Mereka sutuju untuk mencari tempat teduh. Tak lama kemudian terdengar lagi suara peluit dengan nyaring "Suara berasal dari sebalah sana..." Aji selaku pemandu paling depan lalu berbelok arah. Terlihat ada jalan setapak yang nampak sering di jamah, membuat mereka saling melempar pandang "Kita ikuti jalan ini"

Mereka mengikuti jalan sampai suatu ketika terlihat ada sebuah gubuk berdiri tegak. Sesampainya di sana suara peluit tadi langsung menghilang "Sayang...." Ketiga temannya sudah berdiri depan pintu kayu yang usang di makan usia. Namun, Fani meraih tangan Surya.

"Kamu tenang saja sayang ada aku di sini" Ucap Surya.

Tak lama kemudian Aji membuka pintu, suara derit pintu seakan membuat buku kudu berdiri. Ketika mereka masuk ke dalam gubuk terlihat ruangan gelap gulita, salah satu dari mereka mengeluarkan pemantik. Kebetulan Rendi membawa pemantik sehabis merokok pagi tadi.

"Coba deh cari siapa tau ada kayu yang bisa kita buat penerangan" Ujar Aji.

Rendi dan Surya mulai mencari hingga mereka menemukai sebuah lencana di dekat pintu. Mereka lalu menyalakan lencana tersebut.

(Kok aneh banget sih di luar nampak usang tapi di dalamnya terasa hangat seperti di huni oleh seseorang. Lagi pula di dalam masih terlihat bersih, meski lantai beralaskan tahan. Di ujung ruangan ada sebuah tikar kecil dan juga bantal terbuat dari daun pandan kering yang di rakit memanjang seperti layaknya sebuah bantal.

"Nak kita tidur pake ini...." tanpa permisi Aji mengambil tikar dan bantal itu.

Mereka berlima lalu duduk di atasnya. Erika terlihat mengusap tangan merasa kedinginan, begitu pula dengan Fani.

Rendi dan Surya memeluk pacar mereka sampai membuat Aji gigit jari "Sialan lo pada gue di jadiin obat nyamuk"

Surya melempar sepatu yang tadi ia kenakan "Berisik lo cumi"

Zrasssss....

Terdengar suara seseorang menyapu "Beb apaan tuh?" Erika menatap Rendi.

"Tenang paling suara ombak" Meski ada rasa takut tapi Mereka berusaha berpikir positif.

Sejak masuk ke dalam rumah Fani banyak diam dan tatapan terlihat kosong, keberaniannya seolah runtuh begitu saja. Ketika melihat Erika tiba tiba saja Fani melihat ada sosok bayangan hitam besar berdiri di belakang Fani. Ia pun menundukkan kepala (Astaga makhluk apa itu?) Meski ia tau sosok hitam bukanlah bayangan melainkan makhluk halus.

"Wah, malam malam gini enaknya main jalangkung pasti seru" Celetuk Aji.

"Wah boleh juga tuh" Sambung Rendi.

"Apaan sih nggak lucu tau" Erika mencubit lengan sang pacar.

"Aduh, duh, sakit beb. Lagian cuma bercanda kali" mencoel dagu gadis cantik di sampingnya.

Zrasssss....

Lagi lagi suara itu terdengar dari dalam. Aji melihat teman temannya ketakutan membuat jiwa sok beraninya langsung bangkit "Nggak usah takut ada gue, biar gue hadapin tuh setan. Kecil kalau cuma ngadepin setan" Menjentikkan jari lalu berjalan ke arah pintu. Dengan ragu ragu ia mulai menyentuh gagang pintu tersebut.

"Loh kan nggak ada, apa gue bilang juga apa, setan itu nggak ada di dunia ini" Sombongnya sembari hendak berbalik.

"Aaaaaaa......" Aji terkejut ketika Rendi berdiri di belakangnya dengan menyorot wajah menggunakan pemantik "Woy....gila lo untung gue nggak jantungan"

Rendi tertawa terbahak bahak "Katanya berani gitu aja kaget"

Draft

Ketika malam tiba, Fani ingin buang air kecil, ia mencoba membangunkan Surya untuk menemaninya akan tetapi Surya tidak mau bangun, suara suara aneh membuatnya merinding . Malam mulai larut diluar nampak begitu hening, terkadang pula terdengar suara langkah kaki, dan berbarapa kali siulan. Meski begitu yang namanya ingin buang air rasa takutpun ia kesampingkan dari pada harus ngompol. "Paling itu suara burung" Berusaha menenangkan diri sendiri atas rasa takut berlebih.

Saking tidak tahan akhirnya Fani menghampiri Erika lalu menghuyung tubuhnya perlahan "Er....bangun temenin gue buang air kecil yuk" Melihat sekeliling ruangan nampak begitu seram dengan cahaya remang remang dari lentera membuat buku kudu berdiri. Terkadang pula tercium bau orang memasak, seperti bau bawang. Namun, mana mungkin ada orang masak di tengah malam seperti ini, bahkan di pulau terpencil seperti ini.

"Aduh gimana ini aku nggak tahan lagi...." Menghuyung kencang tubuh sahabatnya supaya dia lekas membuka mata. Tatapan tak lepas dari setiap sudut ruangan, ia merasa ada sosok tengaj mengintainya sedari tadi.

"Erika, please bangun...."

Perlahan Erika membuka mata, cahya lentera membuatnya harus berulang kali mengerjapkan mata. Antara mimpi atau nyata, nyawa seolah belum terkumpul hingga ia menepuk kedua pipinye sendiri "Apaan sih gue masih ngantuk, Fani" Dengan nada malas lalu hendak memejamkan mata lagi.

Fani yang sudah tidak tahan lagi lalu menyeret paksa Erika sehingga mata yang tadinya sepat menjadi terbelalak "Aduh nggak usah pake narik narik gitu napa sih, sabar bisa nggak?" Kesal Erika.

Fani langsung membuka pintu lalu berlari kecil lebih dulu "Gue udah nggak tahan lagi...." Di sekitar gubuk tidak jauh ada semak belukar, Fani langsung saja menuju ke tempat tersebut.

Erika menunggu "Buruan woy gue ngantuk berat"

"Iya, bentar" Usai buang air kecil, Fani lalu kembali. Namun, langkahnya terhenti ketika tanpa sengaja ia melihat dibelakang Erika ada bayangan hitam tadi "Erika si belakang lo ada...." Fani bergerak mundur sembil gemetaran.

Erika berbalik dan dia tidak mendapati apapun "Nggak ada apa apa kok, sudahlah jangan nakut nakutin gue, mending kita masuk yuk udah ngantuk berat nih" Sambil menguap Erika meminta Fani kembali ke dalam gubuk tersebut.

Fani merasa heran kenapa bayangan tadi sudah tidak ada dibelakang Erika (Ya Tuhan tadi itu apa? Atau hanya perasaanku saja) Fani menampik rasa takutnya lalu buru buru masuk ke dalam gubuk.

"Erika....lo jangan tidur dulu gue nggak bisa merem nih, temenin gue ya"

(Dasar Fani penakut) Gerutu Erika.

Melihat Erika hanya terdiam dengan wajah kesal, Fani segera melingkarkan tangan si lengan Sahabatnya "Kita kan sahabatan dari kecil masa sih lo tega lihat gue ketakutan"

Suara Fani sontak membangunkan Surya yang saat itu terbangun "Sayang, ada apa?"

Fani langsung berpindah posisi dengan menggelendot pada pacarnya "Aku takut besok kita pulang ya" Manja si gadis kecil nan cantik itu.

Sejak dulu Surya sudah tau jika pacarnya memanglah seorang penakut, meski tau begitu yang namanya takut bisa apa. Kalau maslaah takut sudah nggak ada lawan, mau di apain aja tetap masih takut.

"Tuh uruain cewek lo gue mau tidur, temenin dia sampai pagi juga boleh kok" Memposisikan badan tidur dekat Rendi.

Kini tinggal mereka berdua. Surya mulai terpikir sesuatu, ia berbisik pada Fani "Mumpung mereka tidur bagaimana kalau kita...." Dari senyum Surya jelas ada maksud di balik itu. Benerapa bulan lalu Fani menjanjikan hal kepada Surya atas mahkotanya. Saat itu Fani belum berani karena masih sekolah dan menjanjikan ketika lulus sekolah ia akan menyerahkan mahkotanya kepada Surya sebagai tanda cinta.

Terkadang para remaja lupa apa yang di sebut cinta justru akan membawanya menuju jurang derita. Cinta tidak dilandasi hawa hafsu, kalaupun begitu artinya kalian tertipu, karena sejatinya Cinta itu mindungi bukan merusak. Contannya saja kita memiliki tanaman dan setiap hari kita merawatnya dengan baik, bukan malah membiarkannya rusak perlahan.

"Tapi...." Fani masih ragu harus memenuhi janjinya dulu "Aku takut nanti...." Belum sempat melanjutkan ucapan tiba tiba saja Surya membungkam mulutnya menggunakan jari telunjuk "Sstttt....pelankan suaramu. Ingat janji di bawa mati harus ditepati" Antara memaksa dan terpaksa, akhirnya Fani mau menuruti permintaan Surya.

"Kalau gitu kita main di luar takut mereka melihat" Mereka keluar dengan sangat berhati hati. Tak jauh dari sana mereka duduk di bawah pohon besar. "Aku sudah menantikan ini sejak lama sayang...." Menciumi tiap inci tangan sang kekasih sampai kecupan menjalar ke leher jenjang Fani. Sapuan lidah Surya membuat Fani menggelinjang tidak karuan. Deru nafas mulai tak beraturan di iringi dengan pergerakan Surya.

"Janji tidak akan sakit kok sayang...." Merebahkan badan Fani di atas semak semak.

Dengan terpaksa Fani menuruti hasrat bercinta Surya. Mereka berpacu dengan nafas menderu dan keringat mengucur deras. Di bawah angin malam kedua insan saling berpacu dalam asmara.

"Terima kasih sayangku..." Ucap Surya sembari kembali memakai baju. Entah berapa kali mereka malakukan ritual malam yang pasti membuat Fani kesulitan berjalan, di tambah lagi bari kali pertama ia melakukan hal itu.

Fani tersenyum tipis dengan menahan perih pada pangkal pahanya. (Kata Erika nggak sakit tapi kok aku ngerasa sakit banget ya) Pikir Fani.

"Yuk kita balik ke tempat tadi..." Ajak Surya sembari mengulurkan tangan.

Mereka lalu kembali kedalam gubuk, namun ketika sampai depan gubuk tersebut nampak ada sesosok wanita berkebaya putih tengah berdiri membelakangi mereka.

Sontak saja Fani ketakutan dan langsung bersembunyi di balik badan Surya "Sayang jangan takut ada aku di sini" Sembari menelan salivanya sendiri, perlahan langkah kaki Surya mendekat. Fani mengcengkeram baju belakang Surya saking takutnya. Setelah tinggal beberapa langkah Surya memutuskan bertanya terlebih dahulu "Woy....siapa lo jangan nakut nakutin kita nggak takut sama lo"

Click...

Suara seperti orang menginjak renting pohon, membuat Surya dan Fani menoleh kebelakang "Aku takut....." Jerit Fani mulai membuat jantung berdebar debar. Dan ketika mereka meliaht pada sosok wanita tadi ternyata sudah tidak ada.

"Sayang ayo kita masuk" Surya berlari masuk sembari menggandeng tangan sang pacar. Mereka kemudian menutup pintu dengan nafas tersengal sengal.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!