NovelToon NovelToon

Ketika Bos Dingin Jatuh Cinta (Devano Hanoraga)

Episode 01

“Tuan muda, tolong maafkan saya. Saya tahu saya salah telah menggelapkan uang perusahaan, saya khilaf.” Seorang pria paruh baya berlutut di bawah kaki pria yang sangat berkuasa di negaranya yang tak pernah kenal ampun pada setiap musuhnya yang telah mengusik dirinya.

“Kau tahu betul dengan jelas kalau aku tak pernah menerima permintaan maaf dan juga mengampuni orang yang telah melakukan kesalahan terhadapku, baik itu besar maupun kecil, aku selalu memberi mereka hukuman yang setimpal. Apalagi untuk seseorang yang sudah sangat membuatku rugi besar,” ucap Devano tanpa ada belas kasihan sedikit pun diraut wajah tampannya.

Pria tersebut sudah gemetar hebat dan berkeringat karena ketakutan yang teramat terhadap bos besarnya. Ia sudah yakin jika dirinya akan mendapat hukuman yang setimpal dengan apa yang telah ia lakukan, pasalnya uang yang telah ia gelapkan bukan dalam jumlah yang sedikit, melainkan dalam jumlah yang sangat fantastis nominalnya.

“Tolong Tuan muda, beri saya kesempatan satu kali lagi untuk memperbaiki semuanya dan saya pastikan tak akan melakukan kesalahan seperti ini lagi,” mohonnya kembali masih mencoba untuk menyelamatkan dirinya dari kematian yang sedang menunggunya, tubuhnya sudah penuh dengan luka akibat dihajar oleh orang kepercayaan dari Devano.

“Bagian mana yang ingin kau berikan padaku? Aku memang tak akan membunuhmu, tapi aku menginginkan kompensasi atas apa yang telah kau lakukan pada perusahaanku,” tanya Devano dengan tenangnya yang sedang duduk di kursi kebesarannya.

“Jangan Tuan muda, saya mohon. Saya akan bekerja keras tanpa menerima gaji sepeser pun asalkan Anda mau mengampuni saya,” mohonnya lagi dengan tubuh yang bergetar hebat karena ketakutan, ia tahu kalau pria yang sedang duduk di hadapannya bukanlah pria yang memiliki belas kasihan yang akan mengampuni seseorang begitu saja.

“Apakah saat akan melakukan penggelapan dana kamu berpikir tentang nyawamu? Banyak orang yang dengan susah payah mencari pekerjaan dan mensyukuri pendapatannya yang tak seberapa asalkan bisa membuat keluarganya makan dan memiliki tempat tinggal. Namun, kamu malah melakukan penggelapan dana padahal gajimu sudah cukup tinggi hanya untuk sekedar mencukupi kebutuhan keluargamu, dan yang paling membuatku sangat marah adalah kamu melakukan penggelapan dana hanya untuk bersenang-senang dengan banyak wanita juga untuk jalan-jalan dengan mereka dan bukannya untuk menyenangkan anak-anak dan istrimu. Mungkin jika kamu menggelapkan dana perusahaan untuk demi membahagiakan keluargamu aku masih bisa mentolerirnya, tapi sayang sekali ternyata perbuatanmu tak bisa kutolerir. Kris, bawa dia dan aku menginginkan tangan kanannya agar setiap dia melihat tangan tersebut dia akan ingat untuk menghargai apa yang dia miliki, mati akan terasa lebih nikmat dibanding dengan aku meminta tangannya. Jangan lupa beri pesangon besar untuknya, tapi berikan pada istri dan anak-anaknya, suruh mereka pergi yang jauh dan meninggalkan kota ini tanpa mengajak si kurang ajar ini.” Devano memanggil Kris, sang orang kepercayaannya untuk membawa pria tersebut setelah dengan panjang lebar dia mengoceh, ia juga menyuruh Kris untuk memberi anak dan istri pria itu uang sebagai pesangon dirinya dipecat.

“Baik, Tuan muda.” Kris datang dan langsung menyuruh anak buahnya membawa pria itu untuk menjalankan tugasnya.

“Jangan Tuan muda, ampuni saya, saya mohon tolong ampuni saya,” teriak pria itu tapi tak membuat Devano luluh.

Devano menjalani kehidupan yang keras di negeri paman Sam dengan bergabung bersama kelompok mafia terkuat dan terhebat serta disegani dinegara tersebut. Kedua orang tuanya tak mengetahui seperti apa kehidupan putranya itu di sana, yang mereka tahu Devano bersekolah untuk meraih cita-citanya menjadi seorang pengusaha yang sukses melebihi Daddynya, Bram Hanoraga.

Kris dan kedua anak buahnya membawa pria itu menuju ruang yang biasa mereka gunakan untuk meminta kompensasi pada para pengkhianat yang mengkhianati bos besarnya. Devano memang tak akan membunuh musuhnya, tapi dengan membuat musuhnya cacat menurut Devano akan membuat orang tersebut merasakan tersiksa seumur hidupnya.

Devano juga bukanlah orang yang pelit, setelah ia meminta kompensasi pada korban yang mengkhianati dirinya, ia akan memberikan pesangon yang cukup pada keluarga korbannya itu dan mengatakan pada keluarganya agar tak membalas apa yang telah Devano lakukan jika hidup mereka ingin tenang.

Di saat Kris sedang menjalankan tugas yang diberikan oleh bos besarnya, Devano malah pergi menunggu di mobil, Kris segera menyelesaikan tugasnya karena ia tak ingin bos besarnya menunggu terlalu lama. Suara teriakan menggema di seluruh penjuru ruangan tersebut karena apa yang dilakukan oleh anak buah Kris.

“Berikan ini pada anak dan istrinya dan antar mereka menuju tempat baru yang akan mereka tinggali, bawa pula orang ini dan katakan pada keluarganya mengapa dia mendapatkan hukuman seperti ini. Jika keluarganya ingin menerimanya biarkan saja, tapi jika keluarganya tak ingin menerima kembali setelah mendengar apa yang kalian ceritakan, maka antar keluarganya ke tempat yang sudah kusiapkan, kerjakan dengan cepat.” Kris memberikan selembar cek berisikan nominal yang lumayan banyak dan juga sebuah kunci rumah yang kemungkinan untuk keluarga si pengkhianat.

“Baik, Tuan Kris.” Anak buah Kris langsung pergi membawa pria yang masih meng*rang kesakitan tersebut karena tangan kanannya yang diamputasi oleh kedua anak buah Devano.

Kris segera keluar dari markasnya dan menuju di mana mobil terparkir karena Devano sudah menunggu. Ia langsung masuk ke dalam mobil tersebut, terlihat Devano sedang bersandar dan memejamkan matanya. Kris hanya diam tak mengeluarkan suaranya, ia menunggu perintah dari bosnya untuk dibawa ke mana tujuannya.

“Malam langit, Kris,” ucap Devano tak lama memintanya untuk diantar kesalah satu bar terkenal dan terbesar di kotanya.

“Baik, Tuan muda.” Kris langsung menjalankan mobilnya menuju malam langit.

Sekitar dua puluh menit mobil sudah berhenti di area parkir bar, Kris keluar dan membukakan pintu mobil untuk tuannya keluar. Devano keluar dan langsung berjalan memasuki bar menuju ruang VVIP tempat biasanya ia menghabiskan malam ditemani dengan pemilik bar yang tak lain sahabatnya.

“Kusut banget? Kenapa? Ada masalah?” tanya seorang pria yang datang membawa minuman kesukaan dirinya dan menuangkannya ke dalam gelas lalu memberikannya pada Devano.

“Biasalah, Cas. Para lintah darat tak pernah kenyang hanya dengan penghasilan mereka dan menginginkan lebih dari apa yang bukan haknya,” sahut Devano sambil menikmati minumannya.

“Lempar ke markas Elang Imperial saja biar ditangani sama anak-anak,” saran sahabatnya untuk menyerahkan orang yang dimaksud pada sebuah geng yang didirikan oleh Devano, geng mafia yang disegani oleh mafia lainnya karena sangat terkenal kejam dalam menangani musuh dan pengkhianat.

“Sudah kuserahkan sama Kris,” sahut Devano yang masih menyesap minumannya.

“Mau ditemani oleh seseorang? ada pelayan baru, cantik tapi penampilannya sederhana,” ucap sahabatnya memberitahu kalau ada karyawan baru di bar miliknya.

Episode 02

“Mau ditemani oleh seseorang? ada pelayan baru, cantik tapi penampilannya sederhana, dia bekerja sebagai pengantar minuman untuk membiayai kuliahnya dan memenuhi kebutuhan Ibu tirinya yang pemalas dan Kakaknya yang juga sangat suka sekali berjudi,” tanya Lucas memberitahu kalau ada karyawan baru di bar miliknya, ia juga menjelaskan sedikit tentang gadis itu.

“Coba kamu tanya Kris, dia mau ditemani tidak.” Devano malah melempar tawaran sahabatnya itu pada orang kepercayaannya.

Devano bukanlah pria yang suka bergonta ganti wanita, ia akan ditemani oleh wanita hanya sebatas dilayani minum saja. Tidak ada one night stand atau permainan ranjang lainnya bersama dengan banyak wanita. Ia menyadari kalau dirinya mempunyai adik dan sepupu perempuan, jadi ia tak ingin bermain wanita.

Perusahaan Emerald Jewelry yang diwariskan pada dirinya oleh Bram sang Daddy kini menjadi lebih berkembang dan lebih maju lagi. Jika dulu perusahaan tersebut hanya perusahaan nomor satu di kotanya, kini perusahaan tersebut menjadi nomor satu terbesar dinegaranya. Devano menjalankan perusahaannya dengan tegas dan menghukum para koruptor dan juga lintah darat lainnya dengan setimpal dengan apa yang mereka nikmati.

“Maaf, Tuan Vano dan Tuan Lucas, saya tak berniat ditemani oleh seorang wanita, saya cukup ditemani oleh beberapa botol minuman saja,” belum juga pria bernama Lucas bertanya, Kris sudah membuka suara terlebih dulu.

“Cih, seperti biasa, kau selalu kaku dan selalu saja senang menyendiri,” sinis Lucas berkomentar pada pengawal setia Devano tersebut.

“Biarkan saja dia, dia memang seperti itu tapi aku sangat menyukai gayanya.” Devano terkekeh melihat tingkah Lucas yang selalu saja tak bisa menggedor Kris untuk dekat dengan wanita.

“Jadi?” tanya Lucas beralih pada Devano.

“Suruh saja dia melayaniku minum di sini, aku akan membayarnya mahal,” sahut Devano meminta Lucas untuk menyuruh gadis yang dimaksud untuk melayaninya minum.

“Oke.”

Lucas berjalan keluar untuk memanggil gadis yang dimaksud olehnya untuk menemani sahabatnya itu minum. Lucas sengaja menawari gadis tersebut pada Devano karena ingin membantu gadis itu untuk menghasilkan uang tambahan lebih. Sebab ia sudah mendengar tentang kehidupan gadis itu dari teman gadis itu yang tak lain juga seorang pelayan di bar miliknya.

Tak lama Lucas datang bersama dengan gadis yang dimaksudnya, ia sebelumnya sudah mengatakan pada gadis itu jika yang memintanya untuk menemani minum adalah sahabatnya yang dijamin tak akan berbuat lebih dari sekedar melayaninya minum.

“Yesica, ini sahabat baik saya namanya Tuan muda Devano, saya yakin kamu pernah mendengar namanya. Saya minta kamu untuk melayaninya minum, kamu tenang saja, dia bukan pria hidung belang yang akan berbuat kurang ajar padamu, saya bisa menjamin hal itu,” ucap Lucas memperkenalkan sahabatnya pada gadis bernama Yesica.

Yesica Anastasya, gadis cantik yang harus terpaksa bekerja di bar milik Lucas karena untuk membiayai kuliahnya dan juga untuk memenuhi gaya hidup Ibu dan Kakak tirinya yang malas dan tak pernah mau bekerja mencari uang. Ibu dan Kakak tirinya selalu saja merongrong tentang masalah uang pada Yesica. Jika Yesica tak memberinya uang, maka Ibu tirinya akan mengancam untuk menjual dirinya ke rumah bordil untuk dijadikan wanita malam yang menghibur pria hidung belang.

“Baik, Tuan Lucas,” jawab Yesica sopan, meski ia masih berkuliah tapi ia sangat tegas dalam menjalankan pekerjaannya. Yesica bukanlah gadis yang lemah seperti gadis-gadis manja pada umumnya.

“Baiklah kalau begitu, saya tinggal yah. Nanti saya akan kembali jika dia akan pulang,” pamit Lucas meninggalkan Yesica bersama dengan dua pria asing yang belum ia kenal.

“Duduklah, tuangkan saya minum. Kamu tak perlu takut karena saya bukanlah pria hidung belang yang selalu melakukan one night stand,” pinta Devano menyuruh Yesica untuk duduk dan melayaninya minum.

“Baik, Tuan Vano.” Yesica duduk di samping Devano dan langsung mengisi gelas Devano yang memang sudah kosong, kemudian ia menyerahkannya pada Devano tanpa rasa takut.

“Kau lihat pria yang duduk di sana sendirian itu,” tunjuk Devano pada Kris yang sedang duduk berada tak jauh dari dirinya duduk, Yesica langsung melihat ke arah ke mana Devano menunjuk.

“Iya, Tuan,” sahut Yesica menganggukkan kepalanya.

“Dia adalah orang kepercayaan saya, namanya Kris. Tidakkah kamu tertarik padanya?” tanya Devano ingin mengetahui apakah Yesica tertarik pada Kris.

“Saya belum memikirkan untuk mencari pasangan, Tuan Vano. Saya masih fokus dengan kuliah saya,” sahut Yesica dengan mantap dan tegas membuat Devano terkekeh, sedangkan Kris hanya melirik sinis pada Bosnya tersebut dan berdecih.

“Kau sungguh gadis yang tegas, saya suka dengan gaya kamu. Jadilah pelayan khususku jika saya berkunjung kesini, nanti saya akan mengatakannya pada Lucas,” ucap Devano, jarang-jarang ia bersikap baik dan hangat pada orang yang baru dikenalnya.

“Jika Tuan Lucas mengizinkan, maka saya akan menjalankan pekerjaan saya dengan sangat baik,” sahutnya masih dengan nada tegas dan terkesan profesional.

“Oke, apa jurusan yang kau ambil?” tanya Lucas.

“Desainer perhiasan, Tuan,” sahut Yesica memberitahu.

“Maganglah di tempatku nanti, kau bisa mengatakannya padaku kapan kau akan magang,” ucap Devano memberikan kesempatan pada Yesica untuk bergabung dengan perusahaannya.

“Terima kasih banyak, Tuan Vano. Saya akan mengingatnya nanti,” sahut Yesica berterima kasih.

Entah mengapa Devano merasa wellcome pada gadis bau kencur yang baru ia kenal itu. Biasanya ia akan bersikap dingin pada wanita yang datang padanya yang hanya untuk sekedar mengganggu dirinya. Namun, perasaan itu berbeda kala bertemu dengan Yesica.

Devano minum hingga larut tengah malah sambil mengobrol ditemani oleh Yesica. Sedangkan Kris hanya mengamati saja dari tempatnya duduk. Sekitar pukul satu malam, Devano memutuskan untuk pulang, tapi ia tak lupa memberikan tips pada Yesica karena sudah melayaninya minum dan menemaninya untuk mengobrol. Namun, Yesica enggan menerimanya karena jumlah yang tertulis dalam cek yang diberikan oleh Devano sangatlah banyak menurutnya.

“Ambillah untuk kau tabung, siapa tahu uang itu bisa kau gunakan untuk kebutuhan mendesak kelak. Jangan kau beri pada Ibu dan Kakak tirimu,” ucap Lucas menyuruh Yesica untuk menerima cek yang diberikan oleh Devano melalui Kris karena Devano sudah masuk ke dalam mobil terlebih dulu dan sudah klenger karena kebanyakan minum.

“Terima kasih, Tuan Kris. Tolong ucapkan terima kasih saya juga pada Tuan muda Vano.” Yesica mengambil cek tersebut dengan perlahan karena tangannya yang gemetar melihat nominal yang tak sedikit, mungkin satu tahun gajinya bekerja di bar milik Lucas total jumlahnya, atau mungkin bisa lebih dari satu tahun.

Kris pergi setelah berpamitan pada Lucas, ia tak menjawab apa yang Yesica ucapkan karena dirinya hanya menjalankan tugas dari Bosnya saja. Mobil meninggalkan bar dan juga Lucas dan Yesica yang masih berdiri mengatar kepulangan Devano.

Episode 03

Pagi hari yang kebetulan weekend, Devano baru saja bangun dari tidurnya sekitar pukul delapan pagi. Kris sudah berada dikamarnya untuk memenuhi kebutuhan Tuan besarnya tersebut. Ia sudah menyiapkan sarapan dan juga pakaian ganti untuk Devano.

“Siang ini atur pertemuanku dengan Mamah dan Daddyku, aku ingin menghabiskan waktu bersama dengan mereka. Apalagi Davina dan juga suaminya datang berkunjung, aku ingin menemui keponakan kecilku. Sebelum kita pergi, tamaniku untuk mencari hadiah untuk jagoan kecil itu,” titah Devano yang ingin menghabiskan waktu liburnya untuk berkumpul bersama dengan keluarganya.

Devano memang tipe pria yang dingin pada orang lain, tapi ia akan bersikap hangat dengan keluarganya, apalagi dengan keponakan jagoannya. Devano sangat menyayangi keponakannya itu sehingga terkadang apa pun yang diminta olehnya maka Devano akan menurutinya.

“Baik, Tuan muda. Apakah Anda akan mencari sendiri hadiah tersebut atau saya yang menyiapkan?” tanya Kris ingin memastikan.

“Aku yang akan mencarinya sendiri kali ini, kau cukup temani saja aku,” sahut Devano, setelahnya ia beranjak dan berjalan menuju kamar mandi.

Setelah sarapan, Kris membawa bos besarnya itu menuju mall terbesar di kotanya untuk mencari oleh-oleh untuk bertemu dengan keponakan jagoan kecilnya. Devano turun tangan sendiri dalam mencari oleh-oleh tersebut, Kris dan dua anak buah lainnya hanya mengawal dari belakang saja.

“Kris, aku menginginkan mobil-mobilan itu, bayar untukku.” Devano menunjuk pada sebuah mobil-mobilan yang dapat berjalan menggunakan aki tersebut.

Kris langsung menjalankan apa yang diperintah oleh bos besarnya. Dengan diikuti oleh seorang anak buahnya, ia mendatangi toko yang khusus menjual mainan anak tersebut.

“Apakah ada yang ingin Anda beli lagi, Tuan?” tanya Kris ketika selesai mendapatkan apa yang diminta oleh tuannya.

“Tidak ada, ayu kita pergi ke mansion Daddy,” sahutnya kemudian berjalan menuju area parkir.

Mobil berjalan menuju mansion milik Bram untuk berkumpul bersama dengan kedua orang tuanya dan juga adik kembar perempuannya. Sudah satu bulan lamanya, Devano tak mengunjungi mansion orang tuanya karena sibuk dengan pekerjaannya sebagai pengusaha dan juga sebagai bos besar dari geng mafia terbesar, Elang Imperial.

Mobil memasuki area pelataran mansion milik orang tuanya, Devano turun setelah Kris membukakan pintu mobilnya. Ia berjalan masuk ke dalam mansion dengan gagahnya diikuti oleh Kris dan juga dua pengawalnya yang membawa oleh-oleh mainan untuk keponakannya.

“Om Vano,” teriak anak laki-laki sekitar berumur lima tahun menghampirinya dan berlari berhambur ke dalam pelukan Devano.

“Hai jagoan, how are you?” tanya Devano menggendong keponakannya itu.

“I’m oke, Om. Bagaimana dengan kabar, Om Vano?” tanya anak kecil tersebut.

“Om sangat-sangat baik, Om merindukan jagoan kecil Om ini. Apa kamu merindukan, Om?” tanya Devano yang masih menggendong anak laki-laki tersebut berjalan menghampiri kedua orang tuanya dan juga adiknya.

“Of course, Milan juga merindukan Om Vano,” sahut anak bernama Milan itu dengan mata yang berbinar.

“Kalau begitu, sun dulu dong Om Vanonya, nanti Om kasih hadiah,” ucap Vano meminta Milan untuk menciumnya.

“Emuah, emuah, emuah,” tiga kecupan mendarat di pipi kanan dan kiri serta di kening Devano membuat Bram dan Aberlie terkekeh.

“Sekarang, mana hadiahku,” ucapnya menagih hadiah yang dijanjikan oleh Devano jika ia menciumnya.

"Mintalah pada, Om Kris.” Devano menurunkan jagoan kecil itu untuk meminta hadiah yang telah ia siapkan pada Kris, dengan segera Milan berlari menghampiri Kris untuk meminta hadiahnya.

“Kakak, kamu selalu saja memanjakannya, dia jadi sering sekali merengek meminta bertemu denganmu setiap akhir pekan,” seru Davina, adik kembar perempuan Devano.

“Untuknya aku akan selalu memberikan apa yang ia inginkan. Jika ada yang kau inginkan pun mintalah padaku maka aku akan mengabulkannya,” sahut Devano menawarkan sesuatu, ia memang sangat menyayangi adiknya itu.

“Tak ada yang kuinginkan, Kak. Aku hanya menginginkan kau secepatnya menikah saja agar ada yang mengurusimu,” sahut Davina meminta sang kakak untuk segera menikah.

“Sudah ada Kris yang mengurusku, untuk apa aku membutuhkan seorang istri, Kris sudah lebih dari seorang istri,” ucap Devano yang selalu saja membawa Kris saat adiknya itu mengungkit tentang pernikahan.

“Jangan Anda melibatkan saya dalam mencari alasan, Tuan,” seru Kris menyela obrolan kakak beradik kembar tersebut membuat yang lainnya terkekeh geli.

“Cih, dasar es batu,” dengus Devano kesal.

“Anda gunung esnya,” sahut Kris yang selalu saja bisa membalikkan ucapan tuannya.

“Hai, Ronggo. Apa kabarmu?” Devano beralih menghampiri Ronggo, suami dari Davina yang sedang berada di dapur untuk menghindari topik yang tak ingin ia bicarakan yang menurutnya sangat membosankan.

“Saya baik, Kak Vano. Ada yang Kakak butuh kan?” tanya Ronggo yang sedang membuat kudapan untuk camilan.

“Ah tidak, aku hanya tidak ingin berkumpul dengan mereka saja,” sahutnya jujur membuat Ronggo terkekeh.

“Ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh Vina, Kak. Menikahlah, maka akan ada yang mengurus keperluanmu setiap harinya, akan ada yang menghangatkan ranjangmu pula saat kau sedang kedinginan. Apa yang salah sebenarnya dengan kata pernikahan hingga membuatmu begitu enggan untuk melakukannya?” tanya Ronggo yang sebenarnya setuju dengan ucapan istrinya.

“Sebuah pernikahan tidaklah salah, Ronggo. Aku hanya sedang menunggu seorang wanita yang cocok denganku saja, wanita yang melihatku apa adanya aku, bukan ada apanya aku. Mereka yang mendekatiku selalu saja karena apa yang kumiliki bukan karena mereka memang benar-benar mencintaiku apa adanya. Nanti, suatu saat, jika aku menemukan wanita yang mencintaiku karena apa adanya aku, maka aku akan merubah statusku yang lajang menjadi beristri,” sahut Devano membuat adik iparnya mengerti.

“Bagaimana caranya mereka akan menerimamu apa adanya jika memang kamu pada kenyataannya sangatlah bergelimang harta. Di kota ini, siapa yang tak mengenal dirimu, sang pengusaha sukses yang sangat tampan. Semua wanita pasti akan berlomba untuk mendapatkanmu, Kak. Mereka ingin merubah derajatnya dengan cara menikah denganmu,” ucap Ronggo benar adanya.

“Aku tak ingin menikahi wanita yang datang padaku, Ronggo. Tapi aku ingin menikahi wanita yang bisa menggetarkan hatiku dengan kepolosannya tanpa dia berniat ingin bersama denganku sedikit pun, saat aku menemukan wanita itu maka aku tak akan melepaskannya,” ucap Devano sambil membayangkan wajah seorang gadis yang sebenarnya menjadi bayangan dalam pikirannya saat ini.

“Adakah gadis yang seperti itu didunia ini? Jika dipikirkan kembali, sepertinya sangatlah tak mungkin akan ada seorang wanita yang tak ingin bersama denganmu, semua wanita yang melihatmu pasti akan langsung memiliki pikiran untuk mendapatkanmu karena ingin kehidupan yang mewah dan terjamin,” tutur Ronggo benar adanya.

“Yah, kau sangatlah benar, Ronggo. Maka dari itu aku belum memutuskan untuk menambatkan hatiku pada seorang wanita yang berada di sekitarku, karena mereka menginginkan apa yang ada dalam kehidupanku bukan apa yang ada dalam hatiku,” sahut Devano membenarkan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!