NovelToon NovelToon

Transmigrasi Dewi Pembunuh

BAB 1

Di sebuah rumah mewah nan megah, seorang wanita muda yang berparas cantik berjalan menuruni anak tangga sambil melirik arloji di tangan kirinya. Dengan anggunnya ia berjalan keluar dari rumah dan menuju mobil yang terparkir di halaman rumah. Para bawahannya berbaris rapi untuk menyambutnya.

Hari ini di mana ia harus pergi keluar negeri untuk memenuhi panggilan dari salah satu ajang kompetisi internasional untuk menjadi juri, ia sudah bersiap-siap dan para bawahannya memasukkan koper ke dalam mobil.

"Selamat jalan Master," ucap para bawahannya menundukkan kepala memberi hormat.

"Baik aku pergi dulu." Dewi masuk ke dalam mobilnya lalu menginjak pedal gas mobilnya dan melaju di jalanan.

Tak! Tak! Tak!

Dewi mendengar detik jam, ia melihat ke tempat duduk belakang, Dewi sangat terkejut karena itu adalah jam pengatur waktu untuk sebuah bom, saat ingin berhenti, remnya malah blong dan terjadilah ledakan.

DUAAAARRRRRRRRR!

Sebuah bom meledak mengagetkan seluruh warga yang ada di sana. Ledakan hebat terjadi, seketika mobil terbang ke atas karena ledakan dahsyat itu membuat Dewi di dalam mobil terperangkap.

Dan terjadi lagi ledakkan kedua yang lebih kuat membuat tubuh Dewi ikut hangus terbakar beserta mobilnya, kejadian yang menegangkan itu menjadi pusat perhatian para warga dan orang yang sedang berlalu lalang.

Orang-orang di sana sangat panik dan berusaha untuk memadamkan api dengan peralatan yang ada sebelum pemadam kebakaran datang.

Tak lama dari itu, berita tersebut cepat tersebar ke seluruh dunia, bahwa sang Dewi pembunuh meninggal dalam perjalanan keluar negerinya. Seluruh dunia bersedih atas meninggalnya Dewi terkenal itu. Tidak akan ada Dewi sepertinya lagi.

Sebuah jiwa di tengah kegelapan melayang-layang dan jiwa itu pun masuk ke salah satu tubuh gadis malang yang sudah meninggal di dalam toilet.

Perlahan-lahan matanya terbuka, ia melihat darah berceceran di tangan dan di lantai, ia memegang wajahnya yang juga ada darah yang mengalir.

"Di mana aku?" tanya Dewi melihat sekeliling ruangan itu, ia memakai pakaian yang tidak sama dengan waktu saat ia pergi. Dewi merasa ada yang aneh dengan tubuhnya, ia pun berdiri meskipun merasa sakit di bagian tubuhnya. Ia melihat wajahnya di cermin dan mendapati jika wajahnya sudah berubah.

Dewi memejamkan matanya dan mencari ingatan yang tertinggal. Dewi pun mendapati ingat itu. Ia bernama Dewi Larasati, mahasiswi semester 3, gadis yang lemah dan cupu. Ia sangat dibenci banyak orang karena keculunannya. Penyebab ia mati akibat di bully habis-habisan oleh mahasiswi yang tidak menyukai keberadaanya hingga ia meregang nyawa. kepalanya di bentur ke tembok beberapa kali dan ia di pukul.

Namun, tidak ada yang menyadari jika gadis malang itu mati, mereka para perundung berpikir jika dirinya hanya pingsan dan berharap jika ia bangun menjadi idiot.

Bukan hanya itu, ia kerap kali menjadi bulan-bulanan oleh adik tirinya karena ia sangat gampang di bodohi.

Tubuh asli itu memiliki seorang ayah kandung yang tidak peduli dengannya, ibu sambung yang gila harta dan adik tiri yang kejam.

"Baiklah Dewi, karena aku tinggal di tubuhmu maka aku akan baik-baik menjaga tubuhmu dan tidak akan di tindas lagi, aku akan membalas semua orang yang sudah membuatmu seperti ini, membalas mereka berkali lipat. Kamu sangat beruntung bertemu denganku, aku akan mengubah hidupmu menjadi orang nomor satu di dunia, aku akan kembalikan masa kejayaan ku lagi, dan menghancurkan semua rintangan yang menghalangiku," ucap Dewi tersenyum lebar di depan cermin.

Dewi membasuh wajahnya dan membersihkan seluruh darah di wajah dan tangannya, ia juga merapikan kembali baju yang kusut. Rok yang di pakainya robek hingga terlihat paha Dewi yang mulus itu.

Dewi membuka ikat rambut kuncir kuda itu lalu membuka kacamata yang sungguh tidak enak di pakai dan menggerai rambutnya, barulah terlihat jika ia sangat cantik.

"Gadis ini, pantas saja di ejek, jangankan berdandan, mengikat rambut saja tidak bisa, dia bisa kuliah itu sungguh di luar dugaan," ucap Dewi menggeleng kepala sambil melihat wajahnya di cermin. Dewi pun lalu berjalan keluar toilet.

Dewi menyadari jika ia masih berada dalam kampus, akan tetapi sangat sepi dan mendapati anak kampus sudah pulang semua. Dewi pun melangkah kaki keluar dari kampus.

Apalah daya, ia harus pulang dengan jalan kaki. Pemilik tubuh asli ini bahkan tak punya uang jajan, padahal di kehidupan sebelumnya, Dewi adalah wanita yang bukan hanya berkuasa, ia juga bergelimang harta dan kekayaan yang melimpah ruah.

"Jika di ingat-ingat lagi, aku mati akibat bom di mobil, lalu siapa yang memasukkan bom itu ke dalam mobilku? Siapa yang sangat membenciku sehingga menginginkan aku mati? Aku harus baik-baik menyelidikinya dan menghancurkannya dengan tanganku sendiri!" ucap Dewi geram menggenggam erat tangannya.

Jiwa itu adalah seorang wanita bernama Dewi Maha Putri. Seorang gadis yang jago bela diri, kuat, tangguh dan dingin. Ia mendapati ilmu bela diri yang di ajarkan oleh leluhurnya. Berlatih dengan keras, berbagai rintangan yang ia lewati, bahkan latihan hidup dan mati pun ia lalui.

Ia sering mengikuti kompetisi ajang internasional dan belum pernah mengalami kekalahan sekalipun hingga ia di angkat menjadi master bela diri dan menjadi orang nomor satu di dunia.

Ia mempunyai pengikut yang sangat banyak bukan karena ia memintanya, melainkan mereka sendiri ingin menjadi pengikutnya. Baik itu preman jalanan, geng maupun mafia besar menjulukinya sebagai Dewi pembunuh karena ia sangat kejam pada musuhnya. Ia bahkan pernah mengusir tero ris dari suatu negara di pukul mundur di buatnya dan juga pernah membantai bos mafia terbesar di Asia hanya dengan dirinya sendiri. Sejak saat itulah ia di juluki Dewi pembunuh.

Sayangnya Dewi yang terkenal itu malah mati di jebak oleh seseorang yang sangat membencinya dan menaruh sebuah bom waktu di bangku belakang lalu merusak rem mobilnya hingga ia mati dengan tragis. Akan tetapi ia di beri kesempatan kedua dan masuk ke dalam tubuh gadis lemah yang malang seperti di alami saat ini.

Anita melihat Dewi baik-baik saja setelah ia dan teman-temannya menghajarnya di toilet tadi, ia merasa sangat tidak puas hati. Lalu ia menghampiri preman yang sedang nyantai di pinggir jalan.

"Kalian mau uang?" tanya Anita kepada preman itu tanpa basa-basi.

"Tentu saja mau," jawab mereka bersemangat.

"Habisi wanita yang lewat itu, buat dia trauma dan kehilangan harga dirinya!" perintah Anita melempar uang di dalam amplop berwarna coklat di kaki mereka. Mereka tersenyum saat melihat amplop tebal itu.

"Bagus, aku hanya perlu membuat cerita jika dia bermain dengan anak nakal kepada Ayah," ucap Anita tersenyum sinis lalu pergi meninggalkan para preman itu masuk ke mobilnya dan pulang.

Saat Dewi melintasi perjalanan yang sedikit sepi, sekelompok preman yang di suruh Anita tadi tiba-tiba menghadang Dewi, mereka berjumlah 10 orang, pria itu tersenyum mesum melihat Dewi. Di tambah para pria itu melihat sobekan rok di paha Dewi.

"Berikan kami uangmu dan layani kami, maka kau akan kami biarkan pergi dengan selamat," ucap salah satu pria itu mendekati Dewi.

"Heh! Dasar sekelompok sampah! Kalian ini ingin cari mati? Kalau begitu majulah," tantang Dewi tegas.

"Kami sangat menyukai wanita bersemangat sepertimu, kalau begitu kami tidak sungkan lagi," ucap pria itu tersenyum mesum. Mereka maju bersama untuk menangkap Dewi.

Tanpa pikir panjang lagi, Dewi langsung melancarkan serangannya. Ia menendang kepala dua orang pria sekaligus lalu meninju wajah pria yang di belakangnya lalu menendangnya kebelakang. Dewi melompat dan memukul salah satu perampok itu di kepala bagian belakangnya hingga pria itu pingsan. Tak habis di situ, Dewi menarik kedua perampok yang lain menghempaskan ke tanah lalu membantingnya, kemudian ia menarik kakinya dan mematahkannya kebelakang membuat para pria itu menjerit kesakitan yang luar bisa. Sisanya lagi, Dewi menarik kepala perampok itu, mengangkatnya ke atas lalu menghantamnya dengan lututnya.

Yang tadi hanya ia tendang, Dewi naik ke atas tubuh pria itu lalu memukul wajah pria itu berulang kali hingga darah dari hidung dan mulut bermunceratan.

Seketika semua sudah tak bisa bergerak, jangankan untuk berdiri, menggerakkan satu jari saja mereka sudah tak sanggup. Semuanya babak belur di buat Dewi hanya dalam hitungan beberapa detik.

"Ingin melecehkan ku? Kalian sungguh tak punya kemampuan itu, kalau perlu panggil bos kalian berhadapan langsung denganku," ucap Dewi tersenyum sinis. Ia pun pergi meninggalkan mereka yang sedang mengerang kesakitan.

BAB 2

Sesampainya di rumah, Dewi melihat keluarga bahagia itu sedang berkumpul di ruang tamu sambil menonton televisi.

"Dewi, kemari!" panggil Ayahnya. Dewi mendekat layaknya anak penurut.

"Tadi kamu pulang dengan siapa?" tanya Ayahnya saat Dewi masuk ke dalam rumah. Dewi diam tidak menjawab pertanyaan Surya, ia hanya menatap ayahnya dengan tatapan tak biasa.

"Jawab! Kamu pulang dengan siapa!" Bentak Surya dengan suara keras.

"Sendiri," jawab Dewi singkat.

"Kamu jangan bohong! Anita tadi melihat kamu sedang bersama pria nakal, lihatlah bajumu yang kusut dan rok mu yang robek itu, biasanya kau pulang dengan pakaian yang tidak pernah kusut seperti ini, sejak kapan kau berubah menjadi anak nakal!" sungut Surya marah-marah.

Dewi melihat ke arah Anita yang melihatnya tidak suka. 'Anak ini, lihat saja nanti, aku akan membuatmu kapok karena berani mengusik ku,' ucap Dewi dalam hati. Ia menatap Anita dengan tatapan membunuh.

"Anda di hasut olehnya sehingga Anda buta tidak bisa melihat kebenarannya," ucap Dewi enteng.

Surya sangat terkejut dengan ucapan Dewi. Ia sangat heran sejak kapan anak yang terkenal penurut dan pendiam itu pandai berbicara.

"Kamu … sejak kapan pandai melawan begini?" tanya Surya datar, ia mengerutkan dahinya.

"Sejak kapan? Tidakkah kau pernah menyadarinya jika tubuh ini sering di tindas, di aniaya dan di siksa?" ucap Dewi mendalami perannya.

"Tidak ada yang menindas mu, itu hanya perasaanmu saja," jawab Surya yakin.

"Begitukah? Hanya perasaan ku? Tapi pada kenyataannya tidak seperti itu, aku harap kau membuka matamu lebar-lebar agar tidak terpedaya oleh siluman," ucap Dewi tegas

"Kurang ajar! Beraninya kau bilang aku siluman!" teriak ibu sambung dengan mata terbelalak dan ia terlihat sangat marah dan tidak terima atas ucapan Dewi.

"Aku tidak mengatakan mu, kenapa kau yang tersinggung? Karena kau merasa, jadi memang kau lah silumannya," ucap Dewi menaikkan alisnya.

"Jaga ucapan mu Dewi!" bentak Surya geram.

'Jika dia bukan orang tua Dewi, sudah ku patahkan lehernya,' batin Dewi sambil melipat kedua tangannya di dada dengan wajah kesal.

"Sekarang kau sudah pandai melawan! Aku tidak menyangka sifat ibumu yang kurang ajar itu benar-benar menurun kepadamu! Kembali ke kamarmu! Renungkan perbuatan mu! Sebagai hukuman, sebulan ini kau tidak boleh kemanapun kecuali ke kampus, apa kamu mengerti!" ucap Surya mengintimidasi.

"Hey! Kau jangan mengatai orang yang sudah meninggal, seharusnya kau menyalahkan dirimu yang payah itu karena menjadi Ayah yang tidak becus! Cih! Sungguh menyebalkan!" ucap Dewi langsung nyelonong pergi naik ke anak tangga menuju kamarnya tanpa peduli perasaan mereka saat ini.

"Kamu…!" ucapan Surya terhenti, ia tak bisa berkata-kata.

"Apa! Kau ingin memukulku? Tunggu kau sudah menjadi kuat, baru kita akan one by one," tantang Dewi menuju masuk ke dalam kamarnya.

"Aku benar-benar di buat kesal oleh anak yang tak tau di untung itu!" ucap Lena mendengus kesal.

"Dia sudah mendapat hukuman, dia akan merenungi kesalahannya," ucap Surya menenangkan Lena.

"Bagaimana jika melakukannya lagi!" ucap Lena tak terima.

"Aku yakin dia tidak melakukannya lagi, jika dia melakukannya lagi maka aku sendiri yang akan menghukumnya," jawab Surya mengelus punggung istrinya agar ia tidak marah lagi.

"Huh! Semoga saja begitu!" Lena benar-benar kesal di buatnya.

"Kenapa dia terlihat seperti biasa dan tidak mengalami trauma? Heh! Kalau begitu, besok aku akan mengajak teman-teman ku untuk menghajarnya lagi," ucap Anita mengengam erat tangannya.

"Heh! Siapa yang peduli dengan larangan mu itu, aku bisa pergi kemanapun aku mau, di dunia itu tidak ada yang bisa membuat ku terikat, karena aku punya 1000 cara untuk membuat diriku bebas, termasuk membuat kalian menyesal seumur hidup." Dewi tersenyum sinis lalu membuka pintu kamar milik Dewi Larasati.

Dewi melihat sekeliling kamar itu penuh dengan warna pink, Dewi memeriksa semua yang ada di kamar itu, termasuk laci dan lemari.

"Astaga! Dia sangat feminim, bahkan bajunya semua dress dan rok, apa dia tidak suka pakai celana?" tanya Dewi berpikir. Dewi pun memilih baring di kamar dan melepaskan lelahnya dan tidur.

Beberapa jam kemudian, Dewi bangun dari tidurnya. Ia melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 19:20 menit.

"Hm … aku rasa tidurku sudah cukup, sebentar lagi Bik Inah pasti mengantar makanannya dan setelah itu aku pergi keluar untuk mencari udara segar, di rumah ini hanya penuh hawa sumpek, akan menjadi penyakit bila menghirupnya," ucap Dewi duduk di sisi ranjangnya. Dewi berdiri dan mengambil handuknya lalu ia pun mandi.

"Nona, Nona!" panggil pembantu rumah itu mengetuk pintu kamar Dewi, karena tidak ada jawaban, pembantu rumah itu pun masuk, lagian pintu juga tidak terkunci.

"Di mana Nona ya?" tanya Bik Inah melihat kamar itu kosong. Dewi keluar dari kamar mandi dengan handuk menggantung di tubuhnya.

"Eh Nona, rupanya mandi, saya pikir entah kemana, ini makan malam untuk Nona," ucap Bi Inah meletakkan makanan di atas.

"Baik Bi, terima kasih," ucap Dewi. Bibi mengundurkan diri dan keluar dari kamar Dewi. Dewi mengganti pakaiannya dan ia pun segera melahap makanannya dengan cepat.

"Saatnya mencari udara segar," ucap Dewi berjalan mendekati jendela yang terlihat sayup kebawah karena kamarnya ada di lantai 2.

Hanya lantai 2 itu tidak akan menghalanginya, ia bahkan pernah melompat dari lantai 10 asalkan tau tekniknya itu tidak masalah. Dewi mengunci pintu kamar dari dalam lalu melompat dari lantai 2.

Dewi mendarat dengan anggun dan berjalan meninggalkan rumah tersebut.

"Aku harus mencari penyebab kematian ku, lihat saja nanti, jika aku tau siapa orangnya maka aku akan menyiksanya seumur hidup dengan sadis," ucap Dewi geram.

Pada saat Dewi berjalan menyusuri tepi jalan, ada sebuah mobil yang terparkir, tapi tidak ada orangnya. Saat Dewi berjalan maju sedikit, Dewi melihat seorang pria yang terluka di kelilingi oleh 20 orang di sebuah gang kecil dengan membawa senjata api.

"Hey! Berhenti kalian!" teriak Dewi. Para pria itu melihat ke arah Dewi. Wajah mereka tertutup dengan penutup kepala agar tidak ada yang mengenalinya.

"Siapa kamu!" ucap salah satu pria itu berbalik badan menatap Dewi.

"Tidak perlu tau siapa aku, lepaskan dia sekarang juga sebelum aku menghabisi kalian semua!" perintah Dewi dengan suara keras.

"Dasar penganggu kecil, mati saja kamu sana," ucap salah satu pembunuh bayaran itu mengarahkan senjata apinya ke arah Dewi.

Dor!

Sebuah peluru melayang, dengan sigap Dewi menghindarinya, ia berlari cepat ke arah para pembunuh bayaran itu lalu menghajar mereka.

Pria itu bernama Zeiro yang memperhatikan Dewi dari jarak jauh, ia bukan hanya melihat wanita itu menghajarnya dengan kejam, Zeiro juga memperhatikan raut wajah yang tak kenal takut itu sambil tersenyum.

Dewi menarik tangan pria yang ingin mendekatinya itu lalu menghantam dengan lututnya. Dewi melompat lalu menendang kepala teman pria itu lalu menarik tangannya dan menghempas ke tanah lalu meninjunya dengan kuat sehingga tulang pipi pria itu patah.

Yang lain juga ingin menyerang menendang ke arah Dewi, dengan sigap Dewi menarik kakinya memuatnya kebelakang lalu mematahkannya.

Krak!

Suara patahan tulang yang membuat ngilu bagi yang mendengarkannya. Pria itu menjerit kesakitan yang teramat sakit. Yang lain juga datang dan ingin menembak Dewi, Dewi melompat lalu menendang pergelangan tangan pembunuh itu hingga senjata apinya terlepas, Dewi mengambilnya dan ia salto belakang lalu menembak ke arah mereka

Dor! Dor! Dor!

Beberapa orang mati di tembak Dewi tepat di bagian kepala mereka karena Dewi adalah penembak jitu. Masih tersisa 3 orang, mereka terlihat ketakutan dan ingin melarikan diri.

"Aku … aku tidak ikut-ikutan," ucap salah satu pria yang ketakutan dan ia berusaha lari, tapi Dewi menangkap bajunya lalu membantingnya ke tembok, ia menarik kembali pria itu lalu melemparnya menumpuk dengan temannya yang lain, sedangkan duanya lagi, Dewi menghempaskan lalu menarik kaki dan tangannya lalu mematahkan tulangnya.

Krak! Krak! Krak!

Dewi berdiri melihat apa mereka masih ada yang bergerak, karena ia akan menghabisinya.

Dewi mendekati pria yang terluka itu dan menghampirinya. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Dewi melihat keadaan pria itu.

"Aku baik-baik saja, terima kasih sudah membantuku," ucap Zeiro itu mengangguk. Dewi membantunya berdiri meninggalkan tempat itu dan membawanya ke dalam mobil.

"Kamu," lirih Dewi mengenalinya. Ia ingat jika pria itu adalah CEO besar yang terkenal. Semua orang juga tau jika pria itu terkenal dalam sepak terjangnya di dalam dunia bisnis, ia tak mudah tertipu oleh iming-iming kerja sama yang tidak menguntungkan, perusahaannya tersebar di berbagai wilayah, ia juga membangun perusahaan terbesar di Asia, pria yang sangat di dambakan para wanita, dia adalah pria sempurna, di usianya muda ia bisa menaklukkan dunia bisnis, semua ada di genggamannya. Namanya adalah Zeiro Alfero.

Zeiro menekuk alisnya. "Kamu mengenalku?" Tanya Zeiro.

"Eh, siapa yang tidak mengenali pria hebat seperti Anda, bahkan semut di dalam tanah juga mengenali Anda," jawab Dewi. Zeiro tersenyum.

"Lalu kenapa Anda bisa ada di sini? Ini bukan tempat seharusnya Anda berada," ucap Dewi memeriksa luka Zeiro.

"Itu karena aku mendapat sebuah pesan singkat dan datang ke sini, ternyata aku di jebak oleh musuh bisnisku," jawab Zeiro.

"Di jebak? Ngomong-ngomong aku juga di jebak, alasan aku keluar untuk mencari tahu masalah ini," ucap Dewi dalam hati.

"Ini luka mu tidak terlalu parah, pelurunya masuk ke dalam daging namun tidak mengenai daerah vital, kau cepatlah telpon pengawal mu suruh mereka menjemputmu," ucap Dewi berdiri di samping mobil mengamati sekitar.

Para pengawal Zeiro datang setelah mendapat telpon dari Zeiro.

"Pengawal mu sudah datang, aku pergi dulu," ucap Dewi meninggalkan Zeiro yang masih penasaran dengannya.

"Siapa namamu!" teriak Zeiro.

"Dewi Larasati," jawab Dewi dan ia terus berjalan.

"Tolong selidiki wanita itu untuk ku," perintah Zeiro.

"Baik Tuan," angguk pengawalnya dan mereka meninggalkan tempat tersebut.

Tak sengaja ia melewati sebuah toko yang di dalamnya ada tv, ia mendekat dan melihat berita tentang kematiannya. Ia menyadari sesuatu. Saat sebelum pergi, ada beberapa anak buahnya yang mengantar kepergiannya sebelum naik mobil. Di saat itu ada puluhan orang yang datang, akan tetapi ia memang melihat wajah yang asing, ia berpikir jika pria itu adalah pengikut barunya dan tidak mempermasalahkannya.

"Sial! Ternyata benar! Ada seseorang yang menjebak ku, aku sudah mengingat wajahnya dan akan aku cari dia sampai dapat," ucap Dewi geram.

Dewi memilih pulang setelah mendapat petunjuk itu karena ia yakin, masih ada orang lain di balik itu semua, pria itu tidak mungkin asal membunuhnya jika tidak ada masalah lain.

Setelah sampai di rumah, Dewi memanjat rumah itu, karena ia terbiasa panjat tebing, baginya rumah itu bukan apa-apa baginya, ia naik ke atas dengan mulus tanpa kesulitan.

"Apa anak nakal itu sudah tidur?" tanya Surya kepada pembantunya.

"Sepertinya sudah Tuan, karena tidak terdengar suaranya," jawab pembantu itu.

"Baguslah jika begitu, jika dia masih membuat kekacauan itu lagi, aku harus baik-baik memberi dia pelajaran," ucap Surya. Ia melakukan itu agar bisa membuat hati istrinya tenang.

"Cih! Ingin mengajariku? Aku yang akan baik-baik menghajar mu," ucap Dewi kesal sambil mengerucutkan bibirnya.

Percakapan itu terdengar karena tepat di depan pintu kamarnya. Dewi menarik selimut dan memilih untuk tidur lagi, ia harus punya tenaga untuk menghadapi keluarga yang menyebalkan itu.

BAB 3

Keesokkan harinya, Dewi sudah bersiap-siap ingin berangkat ke kampus seperti biasanya, ia duduk di meja makan dan tanpa memperdulikan mereka dan melahap makanannya.

"Dewi, sejak kapan kamu tidak sopan begini?" tanya Surya datar.

"Aku sedang makan, diamlah!" ucap Dewi menancapkan garpunya di meja dengan tatapan membunuh membuat mereka semua yang ada di meja terdiam dan melongo.

"Ada apa dengannya? Kenapa dia tiba-tiba berubah menjadi menakutkan seperti ini?" tanya Anita dalam hati menatap setiap gerak gerik Dewi. Anita mengirim pesan kepada temannya untuk menunggu di persimpangan.

"Lihat saja kamu Dewi, keangkuhan mu akan berakhir nanti," ucap Anita dalam hati tersenyum sinis.

Tiba-tiba saja Dewi berdiri dan berkata. "Aku sudah selesai makan." Ia pun langsung nyelonong pergi.

Anita juga buru-buru pergi. Ia kembali mengirim pesan menyuruh para temannya untuk bersiap-siap menghajar Dewi, kali ini ia tak mau gagal lagi untuk membuat Dewi babak belur dan kembali menyiksanya.

Sesampainya di persimpangan, 6 orang pria menghadang jalannya. Ia menatap para pria itu dengan saksama tanpa rasa takut.

"Minggir," ucap Dewi datar.

"Tidak bisa, kami di mintai seseorang untuk menghajar mu," jawab salah satu pria itu maju ke depan.

"Heh! Datang lagi seonggok sampah menyebalkan. Majulah jika kalian sangat ingin merasakan pukulan ku," tantang Dewi.

"Dasar gadis cupu, terimalah tinju ku!" teriak salah satu pria itu yang langsung mengarahkan tinjunya di arah muka Dewi

"Gerakan sangat lambat," ucap Dewi yang langsung memegang tinju pria itu dan menendang perutnya lalu dan menerjang tulang keringnya dengan kakinya, Dewi menarik kepalanya lalu membenturkan wajah pria itu ke aspal membuat tulang hidung pria itu patah.

"Sial! Dia benar-benar kuat, ayo kita hajar dia bersama-sama," ajak temannya.

Mereka semua maju ke depan mengarahkan pukulannya ke arah Dewi dan dari mereka berusaha meninju Dewi dari belakang, dengan sigapnya Dewi menangkisnya dan mendaratkan tinjunya pas di wajahnya hingga tulang pipinya bergeser. Yang lainnya berusaha menendang di bagian perut Dewi, namun Dewi menangkap kakinya dan memutar lalu membanting ke arah temannya hingga mereka terkapar. Tak habis di situ, Dewi menginjak perut mereka satu persatu dan menghentakkan dengan kuat dan meninju wajah mereka hingga mereka babak belur.

"Katakan kepada orang yang menyuruh kalian, suruh dia melawanku, kalau perlu bawa pasukannya lagi, hanya dengan kalian begini tidak cukup untuk membuat tanganku gatal," ucap Dewi pergi meninggalkan mereka yang sudah terkapar.

"Apa! Sejak kapan dia bisa bela diri?" tanya Anita yang bersembunyi itu terkejut dan tidak menyangka, gadis yang dianggap lemah selama ini ternyata sangat jago dan kejam. Anita langsung menghampiri para teman-temannya yang terluka parah.

Anita mendekati mereka semua lalu dan melihat mereka dengan geram.

"Sial! Kalian yang ada 6 orang ini saja tidak becus hanya melawan 1 orang perempuan, emangnya kalian layak di sebut laki-laki! Menghabisi wanita saja tidak bisa!" omel Anita kesal.

"Dia sangat kuat, dia lebih kuat dari 100 orang," ucap pria yang tangannya patah itu.

"Sial! Benar-benar sial! Awas saja kamu Dewi, aku akan membuat hidupmu tidak tenang!" teriak Anita menghentakkan kakinya ke tanah, dia benar-benar sangat kesal. Ia pun berangkat ke kampus dengan mobilnya, sedangkan Dewi berjalan kaki.

Sesampainya Dewi di kampus, Anita dan teman-temannya mendekati Dewi yang sedang menonton video kematiannya di ponselnya.

"Sepertinya kau baik-baik saja setelah kami menghabisi mu," bisik salah satu wanita yang bernama Ananda dekat di telinga Dewi.

"Kenapa? Apa kalian senang melihatku baik-baik saja?" tanya Dewi dengan senyum mengembang menaikkan sudut bibirnya bagian kiri.

Mereka semua menekuk alisnya, merasa heran dengan jawaban Dewi, biasanya jika mereka mendekat saja, Dewi sudah gemetaran. Tapi kali ini Dewi terlihat berbeda, ia sama sekali tidak terlihat ketakutan. Ia terlihat berani di tambah senyumnya yang mengerikan.

"Kau … kau, apa maksudmu?" tanya Ananda berdelik ngeri.

"Lalu kalian mau apa ke sini? Ingin bermain-main lagi?" tanya Dewi menyengir menampakkan giginya yang putih itu.

"Sepertinya kau sudah berani sekarang, dari mana keberanian itu datang?" tanya Karisa membelalakkan matanya.

"Kamu nanya? Kamu bertanya-tanya," ucap Dewi mengejeknya setengah tertawa.

"Cih, lihat saja pulang nanti, berdoalah agar kau selamat," ucap Luna menatap Dewi tajam.

Dewi berdiri lalu menepuk bahu Luna lalu berkata. "Kalian yakin ingin menghabisi ku? Baiklah jika begitu, aku tunggu kalian pulang kuliah nanti," ucap Dewi merapikan baju Luna sambil tersenyum menyengir.

***

Saat pembagian materi selesai, para mahasiswa berhamburan keluar dari ruangan, terlihat Dewi baru saja bangun mengucek-kucekkan matanya.

"Cih! Materi yang membosankan, aku sudah beberapa kali mempelajari materi ini," ucap Dewi meraih tasnya lalu membawanya ke luar.

Tiba-tiba saja tangan Dewi di tarik, saat itu bisa saja saat itu ia memukul mereka, akan tetapi ikut saja kemana mereka bawa.

Mereka kembali membawa ke toilet yang sudah tidak di gunakan itu lagi, itu adalah tempat aman yang di gunakan untuk membuli, tempat itu juga tidak ada CCTV-nya.

Mereka pun langsung mendorong Dewi ke dalam toilet itu lalu mengunci pintu. Mereka mendekati Dewi dengan tatapan tajam.

"Kamu sekarang makin berani ya! Kamu kira kamu siapa! Sepertinya pukulan kemaren itu membuat kamu berubah, bagaimana jika aku memukulmu lagi dan membuat kamu menjadi idiot," ucap Karisa menatap dengan mata berapi.

Karisa membuka tangannya dan Ananda memberikan sebuah alat sentrum. Sambil menyeringai, Karisa mendekati Dewi lalu menghidupkan alat itu dan mengarahkan ke arah Dewi.

Dewi menangkap pergelangan tangan Karisa dan menatapnya dan terlihat senyum seulas di bibirnya lalu ia menariknya kebelakang menekannya dengan kuat.

"Aduuuhhh!" teriak Karisa kesakitan, Dewi merampas alat sentrum itu.

"Terima kasih, atas alatnya," ucap Dewi tersenyum, lalu menunjang bokong Karisa dengan kakinya.

Karisa terjatuh dan kesakitan. "Kalian … kalian cepat pukul dia, aku tidak percaya jika kalian semua maju dia akan menang," ucap Karisa memegang bokongnya yang sakit.

"Baiklah, kalian majulah, aku tidak akan memakai alat ini dan aku simpan buat kenang-kenangan dari kalian," ucap Dewi menyimpan alat itu ke dalam tasnya.

Meskipun mereka sedikit ada rasa takut, tapi mereka tetap maju menyerang Dewi.

Dewi menarik tangan Ananda lalu menendang kaki kirinya membuat Ananda terhempas ke lantai dan bokongnya terlebih dahulu mendarat di lantai keramik itu membuah itu meringis kesakitan.

"Heh! Dengan begini kalian ingin membuli orang, benar-benar payah," ucap Dewi menendang perut Luna membuat ia tersudut.

Anita melihat teman-temannya terkapar kesakitan, ia sangat panik dan ketakutan karena hanya tinggal dia sendiri yang belum di hajar Dewi.

"Kenapa kamu melihatku seperti itu? Ayo, bagaimana jika kita main Jambak-jambakan, itu adalah permainan yang biasa kalian mainkan?" tanya Dewi mendekati adik tirinya itu.

"Aku … aku tidak takut padamu! Aku … aku … akan …." Anita langsung balik badan ke arah pintu dan berusaha membuka pintu toilet itu untuk kabur.

"He-he-he, mau kemana adikku tersayang, ayo sini dulu main sama kakak," ucap Dewi dengan tatapan membunuh menarik baju Anita kebelakng lalu mendorongnya hingga ia terduduk di dekat toilet.

Dewi mendekati Anita, meletakkan kedua tangannya di samping toilet dan menahannya, ia mendekatkan wajahnya ke wajah Anita membuat Anita tak bisa berkutik. "Kamu kan mengirim para pria berandal itu kan? Aku sudah menebaknya. Kenapa kau sangat membenci pemilik tubuh ini padahal dia sama sekali tidak pernah menganggu mu? Dia selama ini baik padamu, bahkan kasih sayang ayahnya saja ia rela berbagi dengan anak tiri sepertimu, lalu apa lagi yang kau inginkan?" tanya Dewi dengan membelalakkan matanya.

"Aku … aku …."

"Aku aku, katakan!" teriak Dewi dengan suara keras membuat Anita terkejut. Ia menangis hinggap mengompol saking ketakutannya.

"Hu-hu-hu, aku hanya takut Ayah hanya sayang padamu, aku nggak mau kasih sayang Ayah terbagi, karena kau anak tiri, aku takut jika Ayah hanya perhatian padamu dan tidak menyayangiku lagi hu-hu-hu." tangis Anita meledak.

"Cih, mental ikan tri gini mau membuli ku, baru saja ku gertak udah ngompol dan menangkis, mana keberanian mu tadi? dasar pengecut! Oh iya, sebagai tanda kebaikan hatiku, aku akan memberi cap kepada adikku tersayang ini," ucap Dewi dengan menyeringai.

Plak!

Tamparan yang sangat keras mendarat di wajah wajah Anita meninggalkan bekas 5 jari di pipinya.

"Wah wah ... cap ini sangat enak di lihat, apa aku sangat cocok memberi cap kepada wajah orang Ha-ha-ha," Dewi tertawa terbahak-bahak sambil bercekak pinggang.

Dewi melihat ke arah 3 orang teman Anita menatapnya dengan tajam kemudian ia tersenyum.

Plak!

Plak!

Plak!

Wajah Luna, Karisa dan Ananda semua Dewi beri cap, setelah merasa puas, ia pun pergi membuka kunci pintu toilet dan pergi meninggalkan mereka yang mengerang kesakitan.

"Dasar anak-anak nakal, sungguh membuang tenagaku saja," omel Dewi meninggalkan kampus itu.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!